"Trouble Makers"

by: lavenderviolletta

Naruto by : Masashi Kishimoto

[Hinata H. x Sasuke U. ]

Romance,Hurt,comfor,

.

.

.

WARNING

(OOC, Miss TYPO)

.

.

Happy Reading

.

.

.

Sasuke hanya bisa terdiam melihat Hinata yang kini berjalan semakin menjauh sampai kedua onyx nya tak bisa lagi melihat wanita bersurai indigo yang sebelumnya berdiri cukup lama di hadapannya, pandangan Sasuke terus menatap kosong tempat dimana Hinata sebelumnya berdiri.

"Uchiha Sasuke, aku telah menanamkan benih dalam rahimnya, siapakah sekarang yang lebih pantas di sampingnya eh?"

Sasori berkata seraya berdiri teringsut, darah segar masih terus keluar di dahinya, namun seolah menahan sakit Sasori terus memanasi Sasuke.

"tch.. semua yang keluar dari mulutmu hanya sampah."

Sasori terkekeh, "kau bisa saja meragukan perkataanku, tapi kau tak mungkin meragukan apa yang tengah di sampaikan oleh kekasihmu, bukankah dia bilang dia terlalu kotor untukmu Uchiha-sama."

"Buugghhhhh !"

"tch."

"Brengsek ! bajingan seperti kau lebih pantas di neraka."

kembali Sasuke memukuli Sasori, tangannya berhenti ketika Gaara mencengkram tangan Sasuke kasar dan menghempaskan tubuh Sasuke hingga Sasuke tersungkur menjauh dari Sasori.

"mendapat bantuan eh?" Sasuke berdecih, melihat dua mahluk berambut merah yang kini tengah berada di hadapannya. Gaara hanya menatap Sasuke datar, Sasori bangkit dan berdiri di samping Gaara.

"kau menghajarnya, itu sama halnya kau menghajarku." Ucap Gaara datar.

Sasuke tertawa mentah, "kau sama brengsek dengannya Gaara."

"pukul saja jika kau bisa." ujar Gaara kembali.

Sasuke berdecih, ia bersiap melayangkan tinjunya tepat di wajah Gaara, namun tangannya terhenti ketika Gaara menodongkan pistol tepat di keningnya.

Mata Sasuke membulat, Gaara menyeringai evil.

"tch. kau curang."

"aku bisa saja, menembuskan peluru untuk menghancurkan otak jeniusmu Uchiha Sasuke."

Sasori tertawa mentah, Sasuke kembali berdecih sebal dalam diamnya.

"menunduk dan bersujud padaku dan Sasori, jika kau masih ingin melihat dunia."

"..."

"Heh.. kau tuli eh?" Sasori kembali bersuara.

"dalam hitungan ketiga, jika kau masih tak mau melakukannya, bersiaplah untuk pergi ke neraka." Gaara mulai menghitung mundur.

"three"

"..."

"two"

Sasori tertawa mentah sementara Sasuke belum menunjukan reaksi apa-apa.

"one."

"..."

"Zero."

"cklek."

"eh?'

"berani kau menembak Sasuke, ku pasikan kedua kepala merah kalian akan hancur."

"Naruto." Sasuke membulatkan matanya, tak percaya dengan kehadiran Naruto yang kini tengah datang menyelamatkannya, Naruto menodongkan dua pistol tepat di belakang kepala Gaara dan juga Sasori.

"Tch. Sial." Gerutu Gaara dalam hati.

dengan berat Gaara melepaskan todongannya pada Sasuke. Naruto melepaskan todongan di kepala Gaara dan Sasori ketika Gaara melepaskan todongannya.

Gaara berdecih, ia kemudian pergi meninggalkan koridor sekolah yang sepi bersama Sasori.

"arigatou Naruto." Ucap Sasuke pelan.

Naruto terkekeh, ia merangkul pundak Sasuke. "Hei Teme, telinga ku geli mendengar kau beterimakasih padaku dan menyebutkan namaku Hahaahaaa..."

Sasuke berdecih kesal, ia melepaskan rangkulan Naruto kasar. "lepaskan tanganmu Dobe."

Naruto kembali terkekeh, Sasuke mendecih kesal, "Gomene Sasuke, ku harap kita bisa berteman baik."

"Hn."

"hei.. jawaban apa itu? selalu saja." gerutu Naruto kesal, sambil mengikuti Sasuke.

"kau berisik Baka !"

Naruto kembali tertawa mentah, ia berjalan di samping Sasuke, berjalan bersama lagi setelah sekian lama perang dingin melanda keduanya.

.

..

.

"Hinata? ada apa? tumben sekali menghubungi tousaan." ucap penerima telepon di sebrang sana.

"Otousaan, boleh aku ikut bersamamu?"

"eh? apa maksudmu? kau tau Tousan sekarang berada dimana?"

"Tousaan, aku ingin kembali ke belanda bersamamu, aku tau tentang kebangkrutan perusahaan kita, dan untuk itu Tousaan mengembalikanku ke jepang, tapi aku juga tau sekarang bisnis Tousaan berkembang pesat, aku ingin kembali ke sana saja."

"tapi Hina,-"

"ku mohon Otousaan, sekali ini saja."

"..." Hiashi terdiam, tak tahu jawaban apa yang harus ia katakan pada Hinata, kemajuan perusahaannya tak lain adalah karena bantuan dari Uchiha yang menanamkan sahamnya disana, dan Uchiha melakukan ini semata-mata hanya karena Sasuke mencintai Hinata.

"Otousaan?" rengek Hinata kembali.

"Gomene Hime, Tousaan tidak bisa membawamu ke sini, jika kau disini keamananmu dalam bahaya, karena para pesaing bisnis Tousaan sedang berusaha untuk membuat Tousaan hancur, mereka akan melakukan apa saja termasuk dengan menggunakanmu untuk menghancurkan Tousaan jika kamu berada disini, apa kau mengerti Hinata?"

"..."

"Gomene Hinata, ini semua untuk kebaikanmu."

"Hai wakarimasta Otousaan."

Hiashi tersenyum mendengar jawaban Hinata meskipun Hinata tak bisa melihat senyumannya.

.

..

.

..

"Sasuke, aku tidak mengerti kenapa Gaara jadi berubah seperti itu? Di tambah dengan kedatangan Sasori, membuatnya semakin brutal"

Sasuke terus melangkahkan kakinya, tak merespon perkataan Naruto.

"dan lagi, aku tidak percaya dia tega melakukan hal seperti tadi terhadapmu Sasuke, dia nyaris membunuhmu."

Naruto duduk di samping Sasuke, ketika Sasuke menghentikan langkahnya di taman belakang KHS, tempat dimana ia menghabiskan waktu berdua bersama Hinata.

"disini adalah tempat ku biasa menghabiskan waktu dengannya." Sasuke tersenyum hambar, membuat Naruto menatapnya heran.

"eh teme? Kau merindukan Hime mu itu ya? Kenapa tidak kau datangi ke rumahnya saja."

Sasuke berdecih, membuat Naruto menautkan kedua alisnya.

"dobe, sepertinya keberadaanku di Jepang hanya sampai ujian akhir nanti."

"eh? Apa maksudmu?"

"kejeniusan ku mampu menyaingi murid kelas tiga, dan ujian akhir nanti aku akan mengikuti ujian mereka, jika aku lolos Otousaan akan langsung mengirimku ke Amerika untuk melanjutkan perguruan tinggi disana."

"jadi keberadaanmu disini hanya tinggal 30 hari lagi?"

"Hn."

"apa Hinata mengetahuinya?"

"..."

"kau tidak memberitaunya teme?"

"itu lah masalahnya dobe, aku tidak sanggup meninggalkannya sendiri."

"lalu? Apa yang akan kau lakukan?"

"awalnya aku ingin mengajaknya ke Amerika bersama, namun itu tidak mungkin karena dia harus menyelesaikan sekolahnya disini, dan lagi suatu insident membuatku semakin jauh dengannya, aku tidak tau apakah aku masih bisa melihatnya lagi."

"Insident? Apa maksudmu Sasuke?"

"untuk yang satu ini, aku tidak bisa menceritakannya padamu karena ini menyangkut nama baiknya."

"eh?" Naruto semakin bingung, tapi ia juga tidak bisa memaksa Sasuke untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi diantara keduanya.

...

.

..

Hiashi tidak bisa berkata apa-apa ketika Hinata meminta Home Schooling, Hinata merasa takut dengan apa yang akan dilakukan Sasori terhadapnya jika ia masih menginjakan kakinya di KHS, belum lagi, pengakuanya terhadap Sasuke, membuatnya sangat tidak ingin menampakan wajahnya di depan Sasuke, malu atas dirinya sendiri.

Seminggu sudah Hinata melakukan kegiatan belajar di rumahnya, seminggu juga ia tidak melihat kedua onyx Sasuke, seminggu ia tidak melihat dan mendengar suara teman-temannya, ia sangat merindukan suasana sekolah, namun, keselamatannya lebih penting pikirnya, Hinata sangat mengetahui Sasori, ia jelas tidak ingin terus diancam dan di bayang-bayangi pria berwajah baby face itu.

"Hinata, kau tidak menyimak." Kakashi membuyarkan lamunan Hinata. "Gomene Sensei." Ucap Hinata dengan meundukan wajahnya, Kakashi menatap Hinata dalam, ia merasa ada yang tidak beres dengan muridnya yang satu ini.

"Hinata, kenapa kau lebih memilih Home Schooling?"

"mmhh.. itu karena Otousan menyuruhku, persaingan bisnisnya sedang maju pesat, dan beberapa pesaing bisnisnya mencoba untuk menjatuhkannya lewat ku, karena itu Otousaan merasa keadaanku sedang tidak aman jika aku berada diluar sana." Hinata terpaksa berbohong, ia jelas-jelas menginginkan sendiri belajar seperti ini untuk menghindari Sasori dan Sasuke.

"hmm., begitu yaa... aku pikir kau sedang ada masalah dengan teman-temanmu."

"tidak Sensei, aku bahkan sangat merindukan mereka."

Kakashi tersenyum, ia mengacak kepala Hinata lembut. "kau bisa mengajak teman-temanmu untuk bermain di rumah kan? Jadi kau tak usah bersedih lagi, sekarang kembalikan konsentrasimu, ujian sebentar lagi, dan kau harus fokus Hinata."

"Hai Wakarimasta Sensei."

.

...

..

Sasuke memandang Itachi bosan ketika Itachi memasuki kamarnya, tak menghiraukan kedatangan Itachi, Sasuke kembali memfokuskan pandangannya pada layar televisi berukuran besar yang kini sedang di pakainya bermain video game.

"tch."

Sasuke berdecih sebal saat Itachi menekan tombol power hingga mematikan layar yang ada di hadapannya. "ujian tinggal beberapa hari lagi, dan kau masih sempat-sempatnya bermain video game baka !"

Sasuke melangkahkan kakinya keluar, bermaksud meninggalkan kamarnya.

"mau kemana lagi Sasuke? Kau tau jika kau gagal,-"

"aku tidak akan gagal, dan aku bisa lulus dengan mudah tanpa harus belajar keras seperti kebanyakan orang, kau meragukan kejeniusanku eh?"

"..."

Itachi hanya bisa diam mendengar perkataan Sasuke, memang benar, adiknya itu memiliki IQ diatas rata-rata sama sepertinya, dan mungkin apa yang di katakan Sasuke benar, dia bisa lolos dengan nila 100 meskipun ia tidak belajar seperti kebanyakan anak-anak yang lainnya.

..

.

..

Kedua onyx itu mengamati Manshion Hyuuga dari kejauhan, Sasuke sengaja menghentikan mobilnya beberapa meter dari kediaman Hinata, kerinduan yang sangat dalam membuatnya ingin melihat sosok berambut Indigo itu walau hanya dari kejauhan. Sasuke mengernyitkan dahinya ketika ia melihat Hinata keluar bersama Kakashi, ia dapat melihat Kakashi dan Hinata berbicara di depan manshion Hyuuga, Hinata melambaikan tangannya ketika Kakashi melajukan mobilnya, ia kemudian kembali ke dalam rumahnya ketika mobil senseinya sudah tak terlihat, Sasuke tersenyum tipis melihat wanita bersurai indigo itu dari kejauhan, seringai evil muncul ketika kedua petugas keamanan manshion itu menutup kembali gerbang kediaman Hyuuga.

...

..

.

"apa? Kau ingin menyamar sebagai guru Fisika menggantikan Kakashi sensei mengajar Hinata?"

"Hn."

"tapi Sasuke,-"

"tidak hanya untuk menggantikan Kakashi sensei, tapi juga semua sensei yang di tugaskan untuk mengajar Home schooling Hinata."

"apa? Jadi kau ingin mengajar semua pelajaran itu sendirian? Tapi bagaiman dengan sekolahmu Sasuke?"

"aku mengajar siang hari, selepas pulang sekolah,dan harusnya kau berterimakasih padaku karena pihak sekolah tidak harus membayar double para sensei yang di tugaskan untuk mengajar Hinata di rumahnya kan? Bukankah itu keuntungan tersendiri untuk sekolah ini."

Tsunade hanya bisa diam, ia tidak bisa membantah keinginan Sasuke yang merupakan pewaris KHS.

"kau meragukan ku Tsunade-sensei?"

"..."

"kau bisa mengujiku untuk beradu kepintaran dengan para Sensei lainnya jika kau mau."

"Sasuke, aku tau kejeniusanmu, tapi kau tidak mempunyai basic untuk mengajar, dan itu sangat penting Sasuke, mengajari seseorang itu sulit, kau harus paham."

"Braaakkkkk !" Sasuke menggebrak meja kerja Tsunade kesal.

"kau membantahku eh?"

"ba-baiklah Sasuke, jika itu yang kau inginkan mulai nanti siang kau akan menggantikan Kakashi untuk mengajar di rumah Hinata."

Sasuke menyeringai, ia kemudian pergi meninggalkan ruangan kepala sekolah itu dan membanting pintunya kasar.

"jika kau bukan anak pemilik sekolah ini, sudah ku banting dengan judo ku." Tsunade hanya bisa menggertu dalam hati.

..

.

...

"Konichiwa Hinata-sama."

"Konichiwa, Gomene anda siapa?" Hinata heran dengan kehadiran pria berambut coklat dan berkumis tebal yang datang menemuinya di ruang belajar.

"Saya menggantikan Kakashi untuk membantumu belajar, karena beliau mendapat tugas untuk mengajar pelajaran tambahan di sekolah."

"..." Hinata kembali mengernyitkan alisnya, ia seperti mengenal pria yang kini berada di hadapannya, begitu juga dengan suaranya yang sudah tak asing. Sasuke sadar akan Hinata yang mulai mencurigainya, ia terus menundukan kepalanya, takut jika Hinata mengetahui penyamarannya.

"Sensei? Kenapa menundukan kepala terus?"

Sasuke berdehem, ia kemudian mennegakan badannya dan memberanikan diri menatap Irish lavender yang sangat ia rindukan.

"duduklah sensei." Ujarnya kembali, Sasuke menuruti perkataan Hinata.

"Sensei, izinkkan aku memperkenalkan diriku, nama saya Hinata Hyuuga." Hinata tersenyum manis, membuat Sasuke terus menatapnya, ia teringat akan hari pertama Hinata di KHS mengajaknya berkennalan baik, namun ia mencuekannya. Sasuke menerima uluran tangan Hinata hingga keduanya bersalaman. "sensei sendiri? Boleh aku tau namamu?"

Sasuke celingukan, "tch sial.. kenapa tidak aku persiapkan nama palsuku, baka !" umpatnya dalam hati, "Shinichi-kudo." Balasnya sambil mengeja nama penerbit dari buku yang di pegangi Hinata."

"Shinichi sensei?"

"Hn."

"Hn?" Hinata mengulang dua konsonan yang di uacpakan Sasuke. Membuat Sasuke menautkan alisnya Heran.

"Sensei, kau mirip seseorang." Hinata tertawa geli.

"benarkah?siapa?"

"dia seseorang yang sangat egois,keras kepala,dan pemaksa, dia juga sangat dingin dan cuek, dan dia sangat sering menggunakan kedua huruf konsonan itu."

Sasuke memberntuk bibirnya menjadi sebuah garis, entah itu ungkapan senang atau kesal.

"dia temanmu?"

"dia,..." Hinata terdiam, Sasuke dapat melihat raut wajah Hinata menunjukan kesedihan yang mendalam.

"kekasihmu?" tanya Sasuke kembali

"Sensei, bagaimana jika kita mulai belajarnya." Hinata mencoba mengalihkan pembicaraan, dengan sibuk membuka buku-buku pelajarannya, "Kau masih mencintaiku Hime, aku yakin itu." Sasuke tersenyum tipis.

..

.

..

.

Sakura melempar botol minumannya kasar, dan tanpa sengaja lemparan botolnya itu mengenai kepala Ayame. "Sakura-chan, hentikan kebiasaan burukmu." Naruto menasehati, membuat Sakura menerucutkan bibirnya.

"Brengsekk !" Ayame melempar kembali botol minuman itu pada Sakura, namun dengan cepat Naruto menangkapnya, Sakura hanya membulatkan matanya tak percaya saat botol yang ia lempar kembali padanya.

"kau lihat kan? Sakura-chan? Apa yang terjadi padamu jika aku tak menangkapnya."

Naruto memasukan botol itu pada tempat sampah, pandangannya masih tertuju pada Ayame yang kini tengah berjalan ke arah keduanya.

"kau bisa menyekolahkan tanganmu dengan sopan kan?"

"Gomene Ayame, Sakura,-"

"Diam ! aku bicara padanya, hei ! kau tidak tuli kan? Baka !"

Sakura mendecih, ia bangkit dari tempatnya duduk.

"jika aku sengaja? Kau mau apa eh?" Sakura menantang.

"eh Sakura, apa yang,-"

"DIAM !" bentak keduanya, membuat Naruto bergidik ngeri.

"Brengsek jadi kau sengaja melakukannya eh?"

Ayame menjambak rambut Sakura kasar, begitupun dengan Sakura.

"Heeeiii hentikaaannnnn !" teriak Naruto prustasi dengan kedua wanita yang kini telah berkelahi di hadapannya. Naruto mencoba memisahkan mereka namun keduanya mendorong tubuh Naruto hingga Naruto tersungkur.

"teeenggg.. teenggg... teengggg..." bunyi bel sekolah membuat Sakura dan juga Ayame menghentikan aksi cakar mencakar dan jambak menjambaknya.

"urusan kita belum selesai, kau akan mati karena berani membuat masalah denganku."

Ayame bergegas meninggalkan Sakura.

"Tch.. mati katanya? Dia pikir dia siapa? Justru kau yang akan mati jika merasakan tinju ku" gerutu Sakura.

"sudahlah Sakura-chan kau ini kenapa sih?"

"diaaammmmmmm..."

Sakura kesal, ia meninggalkan Naruto sendirian, sedangkan Naruto kembali mengikuti Sakura menuju kelasnya, namun langkahnya terhenti ketika ia menginjak sesuatu.

"apa ini?" ujarnya, apa ini milik Ayame? Ini terlihat seperti rekaman." tanya nya pada diri sendiri.

Penasaran akan benda itu, Naruto menekan tombol play dan mendengarkan apa isi rekaman yang ada di dalamnya.

Sakura berbalik. Melihat Naruto yang hanya diam dengan memperhatikan benda yang ada di tangannya.

"Narutoooooo..." teriaknya kesal.

"eh? Sakura, kau ke kelas duluan, ada urusan yang harus aku selesaikan." Naruto berlari, membuat Sakura semakin kesal.

.

..

...

"Brengseekkk ! mereka menjebak Hinata, Sasuke, dia harus tau tentang rekaman ini secepatnya." Naruto menggerutu. Ia menjalankan ferrarinya dengan kecepatan maksimum menuju kediaman Uchiha.

..

..

..

..

"Gomene Sensei, kau mengajariku terlau cepat."

Sasuke berdecih, ia mendekati Hinata, tatapannya menatap Hinata tajam.

"ini sudah sangat pelan Hinata, kau tidak fokus."

"Gomene."

"..."

"sensei, boleh aku bertanya sesuatu?"

"?"

"kau sensei baru di KHS? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya."

.Glek.. Sasuke menelan ludah, namun dengan ekspresi wajah yang tetap datar.

"Hn."

"Sensei, jangan ucpkan lagi."

"Hm?'

"Hn, Hm, kata-kata seperti itu."

"kenapa?"

"kau membuatku mengingatnya lagi." Hinata menundukan kepalanya.

"kau merindukan kekasihmu eh?"

"dulu, tapi tidak sekarang."

Sasuke membulatkan matanya, "Hinata, apa kau benar-benar mengakhiri hubungan kita?" ujarnya dalam hati.

"jadi kau mengakhiri hubunganmu dengannya?"

"ini untuk kebaikanku dan dia Sensei, dia terlalu sempurna untukku yang tak sempurna.."

"dia mencintaimu, seperti apapun kondisimu, dia akan menerimamu dan jangan katakan kalau kau mengakhiri hubunganmu dengannya lagi karena dia sangat merindukanmu sama sepertimu yang juga merindukannya."

"eh?" Hinata tertegun. "Sensei- bagaimana bisa kau begitu paham,-"

"tch," Sasuke kembali berdecih dalam hatinya, "Sasuke, jangan katakan apa-apa lagi baka !"

"ekheemmm.." Sasuke berdehem, layaknya seorang bapa-bapa, "aku lebih pengalaman dari pada kau anak muda." Ujarnya kembali pada suara beratnya yang di buat-buat.

Hinata tersenyum. "sensei Arigatou."

.

..

...

"Sasuke tidak disini Naruto, bukankah ini seharusnya masih jam sekolah?"

Naruto terdiam, tak menghiraukan perkataan Itachi ia mencoba menghubungi Sasuke.

"ponselnya juga tidak aktif." Itachi menautkan alisnya heran

"ada apa sebenarnya? Kenapa kalian heiiiii,-" Itachi hanya bisa bergeleng tidak mengerti dengan sikap Naruto yang tiba-tiba datang dan pergi begitu saja.

..

.

..

"dddrrrttt.. dddrrrttt... dddrrttt..." (suara ponsel Hinata bergetar)

"Hinata, matikan ponselmu, kau tidak akan fokus."

"Hai." Ucapnya, "eh? Naruto-kun?" katanya kembali, membuat Sasuke menatapnya heran.

"Sensei boleh aku menerima panggilan ini? Sepertinya ada sesuatu yang penting."

Sasuke terdiam, ia membenarkan letak kacamatanya, "dengan satu syarat."

"eh?" Hinata mengernyitkan dahinya, "apa?"tanyanya kembali.

"kau harus menloadspeak ponselmu."

"apa?"

"keberatan?"

Hinata menggelengkan kepalanya, mengikuti perkataan Sasuke, ia menjawab panggilan Naruto dan menloadspekernya sehingga Sasuke dapat mendengar.

"Moshi-moshi."

"Hinata? Kau bersama si teme?" tanya penelepon di sebrang sana to the point.

"Si baka dobe, ada apa dia mencariku." Ujar Sasuke dalam hatinya.

"tidak Naruto-kun, dia tidak bersamaku."

"aarrrgghhhh... siaalll dimana sih dia, ponselnya juga tidak aktif."

"Gomene tidak bisa membantu."

Sasuke merogoh sakunya, ia melihat ponselnya mati kehabisan batrei.

"Hinata, boleh aku ke rumahmu sekarang? Ada hal penting yang harus aku sampaikan."

"eh?"

"tidak bisa, ini adalah jam belajar Hinata, baka !"

"woiii temeeeee ! kau disanaaa?"

Naruto mengenali suara Sasuke meskipun Sasuke mengubah suaranya, "tch, siall" umpat Sasuke, ia mematikan ponsel Hinata, dan menaruhnya kembali di meja.

"kenapa Naruto-kun menganggap sensei adalah Sasuke?" tanya Hinata pada dirinya sendiri.

"siapa sebenarnya orang ini? Apa jangan-jangan dia adalah,-"

.

...

...

..

.

"TIDAK MUNGKIN !"

Sasori membentak Shion kasar, membuat nyali Shion menciut di buatnya.

"tapi ini anakmu Sasori-kun, kau harus bertanggung jawab ."

"aku tidak ingat kejadian malam itu, dan aku tidak sudi menikahi wanita sepertimu, cari saja laki-laki lain yang mau menjadi ayah dari bayi yang kau kandung."

Sasori melangkkahkan kakinya meninggalkan Shion, namun Shion mengejar Sasori dan menarik tangannya kasar.

"PLAkkkkkkkkk !"

"tch..."

"kau brengsek Sasori !"

Sasori mengambil dagu Shion kasar, "aku sudah memperingatimu dari awal kalo aku hanya memperlakukan wanita seperti permen karet, dan jangan salahkan aku jika sekarang aku memperlakukanmu sama seperti itu mengerti !"

"brengseekkkkk ! aargghhhhh...! " Shion merintih saat Sasori mencengkram tangannya kasar karena ia hendak menamparnya kembali.

"jangan paksa aku untuk belaku kasar padamu."

Sasori menghempaskan tubuh Shion kasar, hingga ia tersungkur di lantai koridor, Shion meringis, tetesan air mata mulai membasahi pipinya.

Sasori hanya menyeringai evil, ia melemparkan permen karet tepat di hadapan Shion.

"makanlah, santei saja okey,, kau cantik, kau bisa tidur dengan pria lain dan meminta tanggung jawab pada pria itu, dengan begitu urusan kita selesai kan? Atau kau ingin aku kenalkan pada seorang yang lebih tampan dariku eh?" Sasori tertawa evil seraya meninggalkan Shion.

"Kau akan menyesal Sasori." Teriak Shion, membuat Sasori semakin tertawa mentah.

"kau tau hukum karma itu ada?", kami-sama akan membalas setiap perbuatanmu."

Sasori menghentikan langkahnya, "dan kau? Apa kau pikir kau itu suci eh?"

"..."

"wanita sampah sepertimu pantas mendapatkan perlakuan seperti ini."

"Sasori, kau adalah orang pertama yang tidur denganku, kau orang pertama yang merenggut kehormatanku, kau terus menyebutkan nama Hinata ketika kau meniduriku paksa, kau tau hatiku menangis, aku mencintaimu tulus, tapi kau menganggapku sampah."

Sasori hanya terkekeh mendengar ucapan Shion. Shion menangis sejadi-jadinya, ia perlahan berdiri, memandang Sasori sendu.

"bunuhlah aku, jika kau tidak menginginkan kehadiran bayi ini."

"aku tidak ingin mengotori tanganku untuk membunuhmu, jika kau ingin mati, matilah secepatnya."

..

...

.

"Arigatou Sensei." Hinata mengantarkan Sasuke sampai di depan gerbang, Sasuke meminjam mobil Itachi agar penyamarannya tidak di ketahui Hinata.

.

..

"tch.. sungguh hari yang sial, hampir saja." Umpatnya, ia merogoh saku celananya dan mengganti bateri nya yang mati dengan yang baru, sederetan pesan dari Naruto ia dapatkan ketika ia menekan tombol power, dengan cepat tangannya mencari kontak Naruto dan menghubunginya balik.

Sasuke menemui Naruto di sebuah cafe tempatnya biasa menghabiskan waktu luang bersama Naruto dan Gaara dulu, mata Naruto membulat saat ia melihat orang asing yang kini datang menghampiri mejanya.

Naruto tertawa mentah saat Sasuke melepaskan rambut dan kumis palsunya di depan Naruto, ia hanya berdecih kesal saat Naruto terus menertawakannya.

"kau kenapa teme?hahahhaaaaahaaaa...

"tch.. bakaa ! aku menyamar sebagai pengajar Hinata."

"eh? Benarkah?'

"Hm, jika tidak seperti ini, aku tidak bisa menemuinnya."

"Haahhaaaahaaaa..."

"dan penyamaranku nyaris terbongkar karena kau memanggilku seperti itu di telepon tadi bakaa !"

"kau aneh teme hahahaahaaaa... tapi ku akui ide mu bagus."

"apa yang ingin kau katakan dobe?"

"ini, kau harus mendengarnya Sasuke." Naruto memberikan Sasuke rekaman yang di temukannya tadi pagi, tanpa pikir panjang Sasuke menekn tombol play untuk mendengar isi rekamannya.

..

..

...

..

"kau brengsek Sasori." Gaara terkekeh.

"itu bukan salahku, jika saja Ayame tidak mengancam kita, mungkin aku tidak akan pernah kencan dengan Shion dan tidak akan terjadi seperti ini.

"ini lah yang namanya penyerangan balik, kau hebar Sasori."

"apa maksudmu Gaara?"

"kita bisa gunakan kesempatan ini untuk mengancam Ayame dan Shion, jika Ayame berani macam-macam untuk menyebarkan rekaman itu, kau bisa berbalik mengancam untuk tidak akan bertanggung jawab terhadapnya."

Sasori menyeringai.

"kita lihat saja, dalam itungan jam Ayame akan berada disini untuk memohon dan berlutut."

Sasori tertawa evil

Krriiinggggg... kriiiinngggg.. kriiingggg... (ponsel Sasori berbunyi)

"Okasaan?" ujarnya heran, "tidak biasanya dia menghubungiku."

Gaara terkekeh, "dasar bayi." Timpalnya, dan hanya di balas seringai oleh Sasori.

"Moshi-mosi."

"Sasori-kun hiks.."

"eh? Okasaan? Ada apa? Kenapa menangis?"

"Karin, meninggal."

"apaaaaaaaaa?""

"dia bunuh diri, kau harus kembali sekarang Sasori hiks.. hiks.."

Sasori terkulai lemas, tetesan air mata mulai membasahi pipinya.

Gaara yang melihat Sasori terpuruk segera menghampirinya.

"ada apa Sasori?"

"Nee-chan, meninggal Gaara."

"apa?"

"KARIN... dia bunuh diri Gaara Aaaaaarrgggghhhhhhhhhhhh..."

"prraaankkkkk !"

Sasori melempar ponselnya kesal, ia menangis histeris, Gaara hanya bisa diam, tidak bisa berkata apa-apa yang mampu menangkan Sasori.

Sasori mengambil dompet dan jaket kulitnya, ia berlari meninggalkan Gaara, Gaara yang takut terjadi apa-apa pada Sasori segera mengikutinya.

"biar ku antar kau ke bandara."

..

...

..

.

..

TBC

Arigatou semuanyaaaa... sudah sampai chap sepuluh yahh sesuatu sekali hhehehee... Gomene telat terus update nya, cerita ini akan segera berakhir, so review terus yaaa mina-san...

Arigatougozaimasta ... kalian penyemangatkuu...