Sehun terduduk di sebuah kursi kayu bercat putih dibawah pohon rindang tengah merontokkan daunnya mengotori jalan setapak yang mana begitu sepi. Ia menengok ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan seseorang yang mungkin saja melintas di area ini. Samar-samar ia mendengar suara perempuan dari arah belakang, dan ia menoleh.

"Baekhyun" katanya.

Sehun segera menyusul keberadaan Baekhyun yang tengah berjalan membelakanginya, terdengar suara Baekhyun tengah menyenandungkan sebuah lagu. Sehun yang mendengarnya tersenyum tipis, ia berinisiatif untuk mengagetkan Baekhyun dari belakang. Sehun mengikuti arah langkah Baekhyun dengan pelan sampai ada seseorang lagi jauh di depan sana. Sehun menyipitkan mata, tidak terlalu jelas karena orang itu juga membelakanginya.

Baekhyun berhenti, otomatis Sehun juga berhenti. Maksud hati Sehun ingin menyentuh pundak Baekhyun namun gapaiannya terbalas hampa. Baekhyun tiba-tiba berlari kearah orang itu berdiri. Sehun mengikutinya dan terpaksa berhenti ketika Baekhyun melingkarkan lengannya pada pinggang orang itu dari belakang.

"Baekhyun! Hah hah hah" Sehun terbangun dengan nafas ngos-ngosan, tangannya meraih gelas berisi air putih disamping tempat tidurnya. Ia teguk sampai habis air itu dan menggeleng-gelengkan kepalanya yang dipenuhi dengan keringat

"Mimpi apa tadi?" Sehun bertanya pada dirinya sendiri. Ia mengingat kepingan mimpi yang baru saja membangunkannya di tengah malam

"Orang itu" Sehun memikirkan seseorang yang tengah dipeluk oleh Baekhyun. Lelaki mana yang dipeluk dengan begitu sayangnya oleh kekasihnya.

Ia bangkit menuju wastafel berniat membasuh wajahnya

"Baekhyun, ada apa denganmu?" Sehun berbicara dengan dirinya sendiri yang dipantulkan oleh cermin.

.

Chanyeol masih terjaga. Ia tak bisa menutup matanya dengan mudah malam ini. Pikirannya berkecamuk mengingat apa yang dilakukan Baekhyun beberapa jam yang lalu. Baekhyun memeluknya sebentar dan langsung berlari menuju kamarnya tanpa sepatah kata apapun membiarkan Chanyeol yang bersimpuh dengan wajah bodohnya.

"Iam so confused" Chanyeol menatap langit-langit kamarnya. Pikirannya penuh dengan sikap anaknya yang seolah kejadian kemarin adalah hal yang biasa saja. Ia bingung. Sungguh.

"Apa yang harus aku lakukan setelah ini?" Chanyeol mengusak rambutnya frustasi. Ia berpikir bahwa Baekhyun akan marah besar padanya, namun ekspektasinya meleset. Ia semakin merasa bersalah pada anak satu-satunya itu.

.

Baekhyun melangkahkan kakinya menuju koridor kelas dimana hari ini ia menempuh mata kuliah. Di ujung sana ada Kyungsoo dengan Kai tengah berbincang serius

"Hai" sapa Baekhyun

"Hai Bae" sapa Kai. Kai sudah biasa memanggil Baekhyun seperti itu dan Kyungsoo tidak mempermasalahkan

"Baek kau kemana saja? Kemarin kau tidak masuk kelas. Kau tidak menjawab semua panggilanku, aku khawatir tau"

Baekhyun tersenyum mendengar kata-kata Kyungsoo dan mengelus pundak Kyungsoo

"Aku dirumah. Maaf aku sedang tidak enak badan Soo" Kyungsoo mengela napasnya pelan

"Kemarin Sehun mencarimu kemari"

"Iya aku tau"

"Ladies, aku pamit dulu okay" keduanya mengangguk

"Chagi jangan lupa besok kita ke Lotte World" Kai mengedipkan sebelah matanya pada Kyungsoo dan berlari keluar kelas

"Kekasihmu lucu" Baekhyun tertawa melihat kedipan Kai pada Kyungsoo tadi

"Dia selalu begitu, centil"

"Aigoo" Baekhyun menyenggol bahu Kyungsoo dan malah tertawa terbahak-bahak

"Yak tidak lucu" Kyungsoo mendelik kearah Baekhyun.

Keduanya kini tengah duduk bersebelahan dengan Baekhyun yang sibuk mengecek ponselnya membalas pesan dari Sehun. Kyungsoo memperhatikan jari Baekhyun berniat mengintip teks yang diketik Baekhyun namun setelahnya ia dibuat heran dengan sesuatu yang berada di leher bawah telinga Baekhyun. Karena baru saja Baekhyun menyelipkan rambut panjangnya di telinga.

"Baek kau?"

"Apa?" Baekhyun masih sibuk dengan ponselnya. Kyungsoo mendekati leher Baekhyun dan memperjelaskan pandangannya bahwa yang ia lihat pada leher Baekhyun adalah kissmark. Sepertinya Baekhyun tidak menyadarinya, pikir Kyungsoo.

"Kau ini kenapa?" Baekhyun yang didekati merasa risih dan menggeser tubuhnya kesamping

"Kau sudah melakukannya ya?"

"Melakukan apa?" tanya Baekhyun

"Itu"

"Itu apa?"

"Having sex" bisik Kyungsoo pelan.

Deg

Jantung Baekhyun langsung merespon kata-kata kyungsoo dengan degupan kencang

"Tidak"

"Yang benar?" Kyungsoo mengejek

"I-iya" Baekhyun tidak bisa menutupi suaranya yang gugup

"Hmm kau gugup begitu, jujur saja Baek. Itu di lehermu hihi"

"Apa?"

Kyungsoo menyentil leher Baekhyun nakal

"Ah ini" kenapa bisa kelewatan, seharusnya aku menutupinya dengan foundation tadi ish ish. Kata Baekhyun dalam hati sembari memegang lehernya

"Sudah jujur saja, aku saja jujur denganmu masa kau tidak"

"Bukan begitu. Aku tidak melakukannya"

"Lalu cuma ciuman saja?"

"Menurutmu?" Baekhyun bertanya balik

"Apa perlu aku mengecek seluruh tubuhmu? Aku penasaran ada kissmark disana apa tidak" Kyungsoo tertawa menyeringai

"Jangan" Baekhyun sontak menyilangkan kedua tangannya di dada

"Ah kau tidak seru Baek. Coba ku lihat" Kyungsoo sebenarnya tidak benar-benar ingin mengecek, ia hanya ingin tau bagaimana reaksi Baekhyun

"Tidak Kyung" Baekhyun bangkit berdiri dengan wajah merona karena malu

"Haha tidak-tidak. Begitu saja kau takut"

"Kau sih" Baekhyun cemberut.

.

Chanyeol termenung di meja kerjanya yang luas. Matanya memandang pada objek persegi yang bertengger manis di sudut meja. Benda itu selalu berada disana, menampilkan kedua orang berbeda usia tengah tersenyum bahagia menghadap kamera yang kala itu memotret keduanya yang tengah berada di taman bunga. Keduanya duduk dikursi panjang dengan sang wanita menyenderkan kepalanya pada bahu sang lelaki. Foto itu diambil ketika mereka berlibur di Belanda. Sang wanita memegang setangkai bunga tulip merah dengan senangnya. Sungguh indah. Benda itu selalu menjadi obat dikala Chanyeol dihajar dengan pekerjaan kantor, melihatnya sebentar akan menjadi kekuatan tersendiri baginya.

Chanyeol mengalihkan atensinya pada ponselnya yang berkedip

"Halo"

"Halo Chanyeol"

"Iya eomma ada apa?"

"Eomma dan appa akan ke Korea besok"

"Kenapa mendadak sekali"

"Kau ini, kami merindukan Baekhyun" Chanyeol tersenyum tipis dibalik ponselnya

"Baiklah. Besok aku yang menjemput"

"Jangan lupa ajak Baekhyun"

"Arasseo eomma"

"Eomma tutup dulu"

Chanyeol mengetuk ponselnya menunjukkan lockscreen sebuah foto milik Baekhyun yang sedang berdiri membelakangi ribuan gembok berwarna-warni yang dikunci. Chanyeol ingat ia dan Baekhyun pernah kesana berdua dan menuliskan sesuatu pada gembok seperti kebanyakan orang yang mengunjungi destinasi wisata Korea yang terkenal itu.

"Ayah aku akan menuliskan sesuatu" Baekhyun fokus pada satu gembok berwarna pink dan satu spidol di tanganya

"Kau mau menulis apa hmm?"

"Sesuatu. Ayah jangan melihatnya sebelum aku selesai menulis okay"

"Okay siap" Chanyeol berdiri disamping Baekhyun tanpa melihat apa yang sedang ditulis oleh anaknya

"Yeay selesai"

"Coba ayah lihat" Chanyeol mengambil gembok yang sudah dihiasi dengan tulisan tangan Baekhyun

So Happy To Have You

Baekhyun & Ayah

Dengan di hiasi love sign yang Baekhyun gambar di sisi-sisi gembok

"Bagaimana?" Baekhyun mendongak keatas dengan wajah puppy nya berharap ayahnya akan senang melihat tulisanya. Dan Chanyeol tidak bisa tidak bahagia membacanya, simple namun sangat berarti.

"Ayah suka" Chanyeol melihat Baekhyun sayang

"Benarkah?" mata Baekhyun berbinar senang

"Iya sayang"

"Terimakasih ayah" Baekhyun melompat kegirangan dengan senyumnya yang mengembang seperti tak lekang oleh waktu

"Biar ayah yang memasangnya" Baekhyun mengangguk antusias. Chanyeol memasang gembok itu di sudut dan menguncinya

"Aku akan mengingatnya jika kita menaruhnya disini. Kapan-kapan kita lihat lagi ya"

"Baik. Kau ingin membuang kuncinya?"

"Iya aku saja" lalu Baekhyun melempar jauh kunci itu di sungai.

.

Malam telah menjemput dan Baekhyun masih sendiri dirumah. Ayahnya belum pulang sedari tadi. Biasanya Baekhyun akan menelfon ayahnya dan akan menjadi cerewet jika ayahnya belum makan. Namun saat ini terasa sangat berbeda. Rasanya ada tembok besar yang menghalangi Baekhyun untuk menggapai sang ayah. Kejadian tempo hari tak bisa ia lupakan begitu saja, sulit sekali bersikap seperti biasa ketika bayangan-bayangan itu masih saja bermunculan. Baekhyun berinisiatif untuk membuat susu hangat, ia langkahkan kaki mungilnya menuju dapur yang sepi.

Tak disangka oleh Baekhyun ternyata ayahnya sudah sampai di depan rumah mereka, namun satu hal membuat Chanyeol kaku di tempat. Ia berfikir keras harus bersikap bagaimana ketika ia membuka pintu rumahnya sendiri disaat Baekhyun tiba-tiba muncul. Chanyeol mengusak rambutnya yang sudah berantakan sebelumnya. Sebenarnya Chanyeol hanya ingin mengatakan jika besok ia akan mengajak Baekhyun ke bandara tapi entah tubuhnya begitu berat.

"aku tidak bisa seperti ini. Sikapku seperti pengecut jika dibiarkan seperti ini terus" Chanyeol berkata pada dirinya sendiri sembari membuka knop pintu yang tidak terkunci seperti biasa jika ia belum pulang. Yang dipandang Chanyeol saat ini hanyalah keheningan, waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam dan tidak ada sambutan seperti biasanya. Baekhyun yang memeluknya dengan riang.

Chanyeol menyusuri rumahnya tanpa suara, mungkin anaknya telah tidur pikirnya. Namun suara denting sendok dengan gelas kaca membuat dirinya membelokkan kakinya ke sudut ruangan. Dapur.

Chanyeol berada tepat di belakang Baekhyun dan pada waktu yang sama Baekhyun menoleh

"Baek"

"Ayah"

Mereka memanggil secara bersamaan dengan gelagat tubuh yang sedikit canggung. Entah apa hanya Baekhyun yang merasa jantungnya berdentum keras, gelas hangat di tangannya tidak bisa mengalahkan suhu tubuhnya yang tiba-tiba mendingin.

"Diamlah jantung brengsek" kata Chanyeol dalam hati

"Iya ayah ada apa?" Baekhyun harus berani, ia tidak mau atmosphere dirumah ini menjadi kaku sejak saat itu

"Besok kakek dan nenek tiba di korea"

"Woah apa kita harus menjemput mereka di bandara"

"Iya"

"Baiklah"

"Kau tidak tidur?" Chanyeol masih mencoba bersikap se tenang mungkin

"Aku baru saja membuat susu hangat, ayah mau?"

"Boleh"

"Ini untuk ayah, aku akan membuat lagi untukku sendiri" Chanyeol tak mau berkata lagi, ia langsung saja menerima gelas dari Baekhyun dan mendudukkan dirinya di kursi. Chanyeol menatap punggung anaknya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan oleh siapapun. Ingin rasanya ia marah pada dirinya sendiri.

Baekhyun ikut duduk di kursi di hadapan Chanyeol. Hanya meja makan yang menghalangi mereka berdua namun rasa aneh tetap melingkupi keduanya. Baekhyun memandang Chanyeol yang sedang memandangnya juga. Keduanya bertahan hanya beberapa detik dan kembali menyibukkan dengan gelas di tangan masing-masing.

"Baek"

"Hmm"

"Kau tidak apa-apa?"

"Aku baik"

Chanyeol merasa dipukul dengan benda tak kasat mata. Mata Baekhyun tidak memandangnya ketika ia berbicara. Berbeda sekali dengan anaknya yang dulu selalu antusias ketika mereka membicarakan sesuatu.

"Katakan pada ayah jika ada masalah" Baekhyun tau kearah mana pembicaraan ini, ayahnya pasti was-was dengan keadaanya

"Ayah tidak usah khawatir, aku akan baik-baik saja"

"Ayah tidak mau kau menanggung semua ini sendirian Baek" Chanyeol meraih tangan Baekhyun untuk ia pegang. Baekhyun menghangat dengan perlakuan sekecil itu

"Aku tidak pernah sendirian ayah, bukannya ayah selalu di sisiku?" Baekhyun tersenyum tipis sembari mengusap punggung tangan Chanyeol

Sayang kenapa kau begitu sabar. Di depanmu ini seorang bajingan, kenapa kau bersikap seperti tidak ada apa-apa di hari yang lalu

"Ayah selalu disini" Chanyeol mengangguk dengan hati yang seperti ditekan melihat anaknya begitu tabah.

.

Chanyeol mengambil cuti hari ini. Ia tidak mau repot kesana kemari, urusan kantor ia sudah serahkan kepada orang-orang kepercayaanya. Chanyeol berpakaian kasual hari ini, kaus hitam longgar dan jeans denim membungkus tubuh tinggi tegapnya dan tak lupa sneakers berwarna putih polosnya yang sering ia pakai di hari-hari santai. Ia tampak jauh lebih muda jika sedang seperti ini, rambut hitam legamnya ia biarkan sedikit acak-acakan toh ia membawa topi hitam favoritnya untuk ia pakai nanti. Chanyeol sedang menunggu Baekhyun di sofa sembari mengecek ponselnya.

Di dalam kamar Baekhyun sedang mengikat rambut panjangnya dengan menyisakan poninya yang menutupi dahi, tak lupa eyeliner selalu menghiasi matanya yang sipit. Makeup flawless tipis selalu menjadi andalanya. Lalu kegiatan terakhirnya yaitu menghadap ke jendela, kaus putih yang sangat cocok dengan kulit putihnya dengan di hiasi celana denim yang mirip dengan milik ayahnya. Serta sepatu balenciaga hitam yang waktu lalu dibelikan oleh ayahnya sedang ia tenteng untuk ia pakai nanti. Baekhyun ingin tampil berbeda, selama ini ia lebih sering terlihat feminim.

"Aku siap" Baekhyun menginterupsi kegiatan Chanyeol. Melamun.

"Oh ayo kita berangkat" Baekhyun mengangguk dan mendahului Chanyeol kedepan. Keduanya saat ini telah berada di dalam mobil, tidak begitu banyak suara yang mereka keluarkan selama perjalanan. Ponsel Baekhyun berbunyi tanda panggilan masuk memecah keheningan yang menyesakkan

"Iya Hun ada apa?"

"Kau ada acara hari ini?" Chanyeol bisa mendengar suara Sehun disana

"Aku sedang dijalan. Kakek dan nenekku tiba hari ini jadi aku dan ayah menjemput mereka sekarang"

"Ah begitu. Kapan kau ada waktu?"

"Belum tau. Memangnya ada apa?"

"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat"

"Yak dimana itu?" Baekhyun tersenyum sembari memainkan suaranya agar terdengar lucu

"Kasih tau tidak ya hmm" Sehun malah menggoda kekasihnya

"Kasih dong"

"Rahasia, nanti saja okay"

"Aku tunggu"

"Oya salam untuk paman Chanyeol ya sayang"

"Okay akan ku sampaikan"

"Mana sayangnya?"

"Ish apa?"

"Sayang sehunnn" Sehun terkikik geli di seberang sana

"Yak kau ini" Baekhyun mempoutkan bibirnya kesal

"Haha sudah aku tutup ya telfonya"

"Hmm"

"Dah sayang"

"Dahh" Baekhyun menaruh lagi ponselnya di dalam tas nya.

"Ayah ada salam dari Sehun"

"Iya. Bagaimana keadaanya?"

"Dia baik" Chanyeol tidak bersuara lagi. Chanyeol merasa menjadi pengrusak hubungan anaknya dan Sehun. Lelaki mana yang tetap baik jika tau kekasihnya sudah dinikmati oleh lelaki lain. Jika Sehun adalah dirinya, ia pasti akan marah dan sangat kecewa.

.

"Baekhyunieeeee" Baekhyun segera dipeluk oleh neneknya di bandara sedangkan sang kakek memeluk singkat ayahnya

"Bagaimana kabarmu nak?" tanya tuan Park

"Selalu baik" Chanyeol menjawabnya setengah hati. Siapapun tau jika keadaanya tidak terlalu baik saat ini. Mereka berempat terlihat sama-sama merindukan satu sama lain, maklum tuan dan nyonya Park jarang kembali ke Korea akhir-akhir ini. Nyonya Park memandang keduanya penuh dengan rasa senang

"Cucuku makin cantik" Nyonya Park mengelus pipi Baekhyun sayang

"Ah nenek bisa aja" Baekhyun tersenyum malu sambil melirik ayahnya sekilas

"Kalian benar-benar ya"

"Ada apa eomma?" tanya Chanyeol

"Aku senang sekali kalian sangat kompak. Lihat penampilan kalian berdua sangat cocok" nyonya Park memuji tampilan keduanya dan yang dilihat hanya memandangi satu sama lain. Baru saja mereka sadar jika saat ini keduanya berpenampilan santai namun berpadu sangat pas.

"Nenekmu ini tidak pernah berubah" tuan Park tertawa dan disusul dengan yang lain.

.

Dan di sinilah mereka berempat berada, di ruang tamu rumah besar Chanyeol

"Aku buatkan minum dulu nek" Baekhyun melangkahkan kakinya menuju dapur sedangkan yang lain tetap berada di ruang tamu

"Chan bagaimana perusahaanmu apa tidak ada masalah?"

"Tidak appa semua baik-baik saja"

"Jika ada masalah jangan sungkan untuk bertanya pada appa"

"Pasti. Perusahaan tetap berjalan baik seperti sedia kala, aku memiliki sekretaris yang selalu membantuku appa"

"Syukurlah"

"Sekretarismu yang cantik itu kan?" nyonya Park menimpali

"Iya Luhan noona"

"Kau masih ingat jika perempuan itu dulu menyukaimu?"

"Aku tau eomma"

"Dan kau masih tetap biasa saja?" nyonya Park kembali membahas masalah ini. Pernah sekali eomma nya ingin Chanyeol membuka hati untuk Luhan. Eomma nya tertarik pada Luhan saat pertama kali mereka bertemu pada acara perusahaan. Luhan yang santun membuat hati nyonya Park merindukan seorang menantu

"Sudahlah eomma" Chanyeol menghembuskan nafasnya pelan

"Aku ingin kau menikah lagi Chan" tepat pada saat itu Baekhyun muncul membawa nampan penuh dengan gelas berisi minuman segar. Sontak mendengar hal itu langkah Baekhyun menjadi sedikit berat, ia mencoba tetap tenang dan menyajikan minuman itu di meja lalu ikut duduk di sofa yang sama dengan Chanyeol yang menghadap kedua orang tuanya.

"Eomma jangan membahas ini dulu" jawab Chanyeol tenang

"Sudahlah yeobo" tuan Park ikut berbicara

"Aku sudah lama tidak membahas ini, aku pikir sekarang adalah saat yang tepat untuk membahasnya lagi"

"Eomma" Chanyeol menahan eomma nya untuk membahas lebih jauh

"Kenapa Chan apa kau tidak meyukainya? Bukanya perasaan akan datang seiring kalian bersama?"

"Selama ini aku sudah bersamanya eomma"

"Hanya sebatas bos dan sekretarisnya tidak akan mengubah apapun. Eomma tau hatimu sangat sulit ditaklukan"

"Aku tidak bisa eomma"

"Apa kau menyukai orang lain? Tidak apa-apa jika itu baik untuk Baekhyun dan kau. Aku menyukai Luhan bukan berarti membatasi perasaanmu untuk wanita lain" nyonya Park memandang anak dan cucunya bergantian sedangkan Baekhyun hanya bisa terdiam menundukkan kepalanya memandangi kuku-kukunya, entah hatinya sedikit tercubit sekarang

"Tidak, aku tidak menyukai siapapun saat ini"

"Chanyeol" nyonya Park terdengar frustasi membujuk Chanyeol

"Tidak apa-apa saat ini aku sendirian"

"Yeol kau masih pantas untuk menikah lagi, bukankah suatu saat nanti kau membutuhkan wanita yang selalu berada di sisimu untuk merawatmu"

"Aku punya Baekhyun" yang disebut namanya otomatis memandang kesamping tepat dimana mata ayahnya memandangnya juga

"Eomma tau Yeol dia anakmu, tapi suatu saat Baekhyun akan menikah juga dan ikut bersama suaminya. Lantas siapa yang akan menemanimu?"

"Aku tau itu" jawab Chanyeol tenang

"Sudah sudah jangan membahas ini lagi, yeobo jangan memaksa anakmu" lerai tuan Park

"Aku hanya ingin memperhatikanmu Chanyeol" nyona Park bangkit dan pergi ke kamarnya

"Maafkan eomma mu, dia selalu memikirkanmu"

"Tidak apa-apa appa" tuan Park ikut bangkit dan meninggalkan dua orang yang tengah duduk bersisian tapi jaraknya begitu kentara. Chanyeol menepis jarak itu dan memandang Baekhyun intens

"Baek ayah tidak akan menikah" Baekhyun menilai mata bulat itu penuh dengan kejujuran di tiap perkataan yang muncul dari bibir ayahnya

"Kenapa?"

"Ayah tidak pantas untuk menikah lagi. Ayah akan menebus dosa ayah padamu"

"Apa maksud ayah?"

"Ayah akan selalu menjagamu walau kau akan bersuami nanti, ayah akan bertanggung jawab atas dirimu"

"Menikahlah" Baekhyun kembali menunduk dan meremat ujung kausnya. Chanyeol yang mendengarnya tampak kaget

"Baek"

"Aku tidak apa-apa jika ayah menikah lagi"

"Baekhyun"

"Aku ingin ayah tidak kesepian lagi"

"Ayah memilikimu ayah tidak akan kesepian"

"Untuk saat ini"

"Tidak apa-apa jika nanti kau hidup dengan masa depanmu, ayah sudah terbiasa"

"Aku tidak mau ayah kesepian"

"Baek, kau masih milik ayah"

"Iya aku hanya anakmu" Chanyeol mengerutkan alisnya

"Iya kau anakku satu-satunya" Chanyeol memegang pundak Baekhyun dan mengarahkan pandangan anaknya menghadap dirinya.

.

Satu bulan kemudian..

Baekhyun jatuh sakit sejak kemarin, ia hanya dirawat dirumah dan meminum obat yang dibeli ayahnya di apotek. Baekhyun paling sukar dirawat dirumah sakit, ia tidak suka dokter dan seluruh perangkatnya. Ia pikir merekalah yang tidak bisa membuatnya bertemu dengan ibu kandungnya. Baekhyun lebih suka istirahat total di kamarnya yang nyaman dan satu hal. Satu hal itu adalah ayahnya yang sangat telaten merawatnya, Chanyeol selalu menyempatkan waktunya untuk Baekhyun dirumah. Kakek dan nenek Baekhyun sedang berada diluar kota untuk menemui keluarga besar Yejin.

"Masih pusing?" Chanyeol sedari tadi duduk di pinggir kasur menemani Baekhyun

"Sedikit" Baekhyun menjawabnya lemah

"Ayah akan mengambil obat dulu" Chanyeol bangkit, belum sampai ia diambang pintu sudah dikejutkan dengan Baekhyun yang berlari kearah wastafel tengah mengeluarkan seluruh isi dalam perutnya. Sontak Chanyeol berbalik dan membantu memijat punggung Baekhyun. Baekhyun yang lemas sehabis memuntahkan seluruh isi perutnya merasa kakinya seperti jelly untung saja Chanyeol siap siaga dan membopongnya menuju kasur. Chanyeol sangat berhati-hati menempatkan Baekhyun pada posisi ternyaman dan menyelimutinya. Chanyeol mengelus dahi Baekhyun pelan bermaksud membuat Baekhyun nyaman

"Tidurlah"

"Ayah"

"Hmm"

"Jangan kemana-mana"

"Ayah disini Baek"

"Baguslah"

"Perutmu masih sakit?"

"Masih"

"Dimana?" Baekhyun menyentuh perutnya dibagian yang terasa sakit, lalu Chanyeol ikut memegang bagian itu juga dengan sedikit mengelusnya

"Kau harus istirahat yang cukup"

"Asal ayah tetap disini"

"Ayah janji" Baekhyun tersenyum dan memegang tangan ayahnya yang masih berada diatas perutnya

"Aku akan segera sembuh ayah"

"Baiklah cepatlah tidur" Baekhyun mengangguk dan memiringkan tubuhnya menghadap Chanyeol yang duduk disampingnya

"Sudah malam, ayah tidak tidur?"

"Tidurlah dulu"

"Aku ingin menjadi kecil lagi seperti dulu"

"Kenapa?"

"Agar ayah bisa menemaniku tidur jika aku sakit" Chanyeol tau jika Baekhyun akan sangat manja jika ia tengah sakit

"Kau menginginkanya?"

"Hanya ingin tapi sudahlah" Baekhyun hendak menuntup matanya namun gerakan ayahnya membuat ia menggeser tubuhnya untuk memberi ruang untuk Chanyeol berbaring

"Ayah akan tidur disini, tidak apa-apa? Yang ditawari tiba-tiba memerahkan pipinya dan mengangguk malu. Chanyeol menyempitkan jarak dan memeluk tubuh anaknya. Sama seperti dulu ketika Baekhyun kecil, dan ketika mereka belum tertimpa masalah

"Tidak apa-apa" Baekhyun menjawabnya dengan senyuman tipis tanpa disadari oleh Chanyeol

"Tidurlah Baek" Baekhyun hanya mengangguk dibalik dekapan hangat Chanyeol dan menutup matanya dengan damai.

Aku merindukan ini ayah, sangat. Jika hidup adalah kehendakku aku ingin selalu menjadi anak kecil ayah yang tidak tau apa-apa. Yang ku tau hanya ayah dan bermain. Tapi saat ini aku sudah dewasa, semua telah berbeda. Semua interaksi di masa kecil seolah berkurang karena usia. Aku rindu dekapan hangat ayah, aku rindu menyambut ayah sepulang kerja, aku rindu dimana kita tidak canggung melalukan interaksi apapun. Walau masih sebulan yang lalu kita berteman dengan canggung dan rasa bersalah aku sudah sangat merindukanmu. Selama itu aku seperti bukan diriku, membatasi keinginanku atas dirimu. Jujur aku tidak mau terbatasi. Apa semua harus berubah karena aku kehilangan keperawananku? Apa semua harus berubah karena ayahku lah pelakunya? Tidak! Aku tidak mau. Aku egois, iya.

Entah sudah berapa lama aku menjadi anak kurangajar. Memiliki perasaan terlarang pada ayahku sendiri. Aku tidak akan sebegitu tabahnya menerima kenyataan aku sudah tidak gadis lagi jika aku tidak memiliki perasaan kurangajar ini. Dosaku lah yang paling besar disini, ayah tidak akan masuk pada jurang dosa jika aku saat itu tidak pasrah. Biarlah, aku juga menikmatinya.

Aku juga tidak takut jika perasaanku tidak terbalas, yang penting ayah di sisiku sudah cukup. Katakan aku jahat karena tidak menyinggung nama Sehun, maafkan aku sayang wanitamu ini sudah kotor. Aku akan mengakhiri hubungan kami di waktu yang tepat. Untuk ayah, biarkan perasaanku ini untukmu. Jangan menghentikan aku, biarkan aku sendirian memiliki rasa dosa ini. Aku tidak menuntutmu membalasku karena aku sangat sadar itu tidak pantas. Namun jika waktu akan benar indah pada waktunya, aku tidak akan menolaknya. Jika saja waktu indah itu berarti ayah membalas perasaanku, aku akan sangat bahagia.

.

.

.

Hai terimakasih sudah memberi respon di chap kemarin, untuk itu aku mempercepat update kali ini. Chap kemarin memang pendek sama dengan chap ini, sengaja ya biar gak molor update nya. Sebenernya aku baru mau up ketika review udah mencapai 300 tapi kayanya gabisa deh u,u maklum ff abal2. Pokonya silahkan tebak sendiri kemana arah cerita ff ini, aku udah ada plot nya sih tapi eng ing eng hahaha. Udah deh ikutin aja dan review ya biar makin semangat.

CU