CWTCH
Chapter 10
Typos, OOC, and blah blah blah.
HoMin
Enjoy!
Dering alarm dari ponsel tak mampu membuat Changmin segera meninggalkan ranjang. Getarnya yang tak jua berhenti pun tak dapat mengusik tidur Changmin yang memeluk bantal, seperti bayi yang kelelahan, Changmin tak bergerak dibawah selimut tebal, kendati sebenarnya ia tak lagi pejam.
"Kutunggu kau ditempat biasa untuk makan malam. Cepat bangun, Changminie! Jangan terlambat. Aku pergi sekarang."
Rasanya membuat Changmin ingin semakin terpejam, bisikan Yunho di ujung daun telingannya bukan membuat ia membuka mata, melaikan kian merapat dua netra. Itu pun bukan sebab dari udara hangat yang menerpa sebagian wajah, bukan juga karena suara rendah yang menderam gendang teilnga, namun karena hatinya yang tetiba berubah kelabu bak gulangan awan dengan hujan yang siap untuk runtuh.
Changmin telah terbangun, ia hanya tetap ditempatnya sebab terlalu membosankan untuk meningalkan ranjang lantas menadapati Yunho yang sudah terlihat cakap dengan setelan baju untuk keluar rumah.
Pintu menderam meninggalkan gema, menandakan Yunho telah benar-benar meninggalkan rumah. Sesaat setalah hanya ada detikkan jarum jam yang mengisi senyap ruangan, Changmin mengangkat tubuhnya untuk terduduk diatas ranjang. Diamatinya pintu kamar yang ditinggalkan Yunho dalam keadaan tebuka lebar, pintu kaca balkon yang tampak setengahpun dibiarkannya menganga mempersilahkan angin pagi memasuki rumah.
Masih pukul sembilan lebih empat puluh enam menit, saat Changmin melirik pada lingkar jam diatas meja, didekat tempat tidurnya. Changmin berdecak, ia mengacak rambutnya, kakinya menendang selimut, tangannya melempar bantal, jatuh cukup jauh dari ranjang. Tubuhnya membuat gerakan aneh nan tak wajar, Changmin meremas-remas selimut, sarung bantal, bahkan seprei ranjang dengan sesekali menggeram dan membuat gerakan menendang. Akhir dari tingkahnya, Changmin menarik rambut dan mencabik wajahnya sendiri, lantas kembali membuang tubuhnya diatas membal ranjang. Entah tidur lagi kah dia, atau hanya menutupi seluruh bandannya dengan selimut tebal.
Bukan hal baru untuk makan ditempat biasa, namun yang membuat Changmin geram ialah Yunho yang kerap meninggalkan rumah bahkan sebelum Changmin membuka mata. Entah apa yang dikerjakan Yunho diluar ruangan, ia yang biasanya akan bangun paling siang, akhir-akhir ini selalu meninggalkan rumah pagi-pagi sekali dengan meninggalkan bisikan kecil pada telinga Changmin untuk sekedar pamitan, berujung dengan mengajaknya makan malam. Pesannya akan selalu sama tiap harinya, 'cepat bangun dan jangan terlambat', entah apapun tujuannya, bisikan-bisikan Yunho serta kelakuannya yang tak tak wajar selalu berakhir membuat Changmin menggeram panjang.
Masih amat pagi menurutnya untuk Yunho dapat mengatakan makan malam, apa lagi menuntutnya untuk tidak terlambat datang. Changmin tak hirau, ia kembali menutup mata, kali ini untuk waktu lama sampai datangnya siang ia lewatkan, terik hingga menunduknya matahari pun Changmin tak perhatikan. Dia kembali tertidur pulas memeluk sebuah bantal.
"Yoboseyou?" Pukul empat sore hari, saat ponsel diatas meja tak berhenti membuat getaran, Changmin baru kembali membuka mata. "oh, kau Kyu. Wae-yo?" Changmin menguap, ia menggeliat. "ah, kau cerewet sekali, kita sudah mengatur waktunya pukul dua siang, kan. Ini masih terlalu pagi." Changmin menekuk dua lututnya, ia membungkus badan menyisahkan ujung kepala. "oh, benarkah?" pekiknya lantang kemudian. Changmin berjingkat, ia menyingkirkan selimut dari atas tubuhnya, kepalanya memutar cepat pada jam kecil melingkar diatas meja. "oh, shit!" umpatnya. "mianh, aku akan sampai sana setengah jam lagi."
Lincah seperi lompatan seekor rusa, Changmin meninggalkan ranjang untuk melesat kedalam kamar mandi membersihkan dirinya. Terlalu lelap dan menenangkan tidur siangnya hingga sore menjelang Changmin tak sadar.
Selesai dengan kegiataaan singkatnya didalam kamar mandi, Changmin menarik jacket sederhana dari dalam almari. Menyabet kunci mobil, jam tangan, serta dompet diatas meja, Changmin lantas kilat berlari keluar rumah.
Tak mau Kyuhyun semakin murka, Changmin mengendarai mobilnya cepat-cepat. Setelah beberapa persimpangan dan lampu merah, Changmin menepikan mobilnya dipelataran sebuah rumah makan.
"Hissh! Kau bisa bangun juga?" Kyuhyun mendesis, melebarkan matanya. "pukul empat lebih empat puluh tujuh menit. Ah, kau sangat tidak masuk akal!" Kyuhyun menggeleng-gelengkan kepala.
"Haiish! Kau ini!" Desisan Changmin tak kalah sinis. "aku kan sudah minta maaf." Dengusnya.
"Seharusnya disini aku yang marah!" Kyuhyun meruncingkan mata. "semua sudah pulang, tidak ada lagi yang bisa kita kerjakan. Janji untuk makan siang bersama malah kau tiduran sampai lupa jam, teman-teman kita yang lain juga memiliki kesibukkan."
"Aku tahu aku salah, nanti akan kuhubungi mereka." Changmin menarik minuman dingin milik Kyuhyun kehadapannya. "kita makan saja berdua."ucapnya, disela ia menyesap soda dari dalam gelas.
"Aku sudah kenyang!" Kyuhyun membuang mata. "kau makan sendiri saja, aku mau pulang."
Changmin membuang nafas, menopang dagunya dengan telapak tangan. "bagaimana kalau kita main bowling saja?" usulnya kemudian.
"Ide bagus. Ayo jalan!" Kyuhyun mengangguk cepat, segera memberdirikan badan.
Menghadapai Kyuhyun yang merajuk sebal, tak begitu susah bagi Changmin. Cukup ajak dia mengerjakan hal yang dia suka, semuanya akan kembali normal seperti sedia kala.
Salah Changmin memang, ia yang mengatakan akan datang pukul dua untuk makan siang bersama dengan flock-nya, justru Changmin yang tak hadir ditengah-tengah. Keterlambatannya pun lumayan lama, sampai matahari sayup meredupkan cahyanya.
Hampir pukul setengah enam sore, Kyuhyun juga Changmin meroda ketempat favorit mereka untuk bermain bowling. Kyuhyun duduk memainkan ponsel, sementara Changmin mengendalikan kemudi.
"Kau akan makan malam lagi dengan Yunho-Hyung?" tanya Kyuhyun memecah hening langit jingga.
Changmin samar menggelengkan kepala, disertai gerakan kecil menggedikkan bahunya. "Belum tahu. Aku bosan makan disana terus. Hampir satu mingguan lebih ini Yunho-Hyung selalu melarangku untuk memasak sendiri sebab dia mengajakku untuk makan disana. Padahal disana makanannya juga biasa saja. Dia itu aneh sekali."
"Mungkin ada sesuatu yang ingin dia katakan padamu disana." Kyuhyun menaruh perhatian, ia mematikan layar ponsel lantas menggenggamnya.
"Tidak ada." Changmin menggeleng. "kami hanya makan, dan saat makanan telah habis, lalu kami pulang. Jika memang dia ingin mengatakan sesuatu kenapa tidak dia katakan saja sewaktu-waktu. Kita selalu bersama, anyway!"
Kyuhyun mengeratkan bibirnya, ia tak lagi mengeluarkan kata, kembali dua netranya ia pusatkan pada datar layar ponselnya. Sementara Changmin samar mengangguk-anggukan kepala mendengar suara dari dalam stereo mobil. Mereka berdua hening dengan diri mereka masing-masing, sampai kemudian mobil Changmin kembali menepi dipelataran sebuah gedung tinggi.
"Yang kalah, traktir makan selama satu minggu penuh." Tantang Kyuhyun seraya mengulurkan kaki, keluar dari mobil.
"Deal! Tidak boleh curang, dan tidak ada pengecualian." Changmin mengangkat dagu, menggerakkan dua pasang alisnya.
Keduanya menyambung langkah beriringan meninggalkan lokasi mobil terhenti, menuju kedalam gedung, tempat mereka akan beradu bowling. Changmin terlihat amat antusias, sedang Kyuhyun tampak menunjukkan wajah tak akan kalah.
Tepat di tempat mereka akan berlomba, Changmin dan Kyuhyun terlebih dulu saling mengadu tinju. Tatapan percaya diri serta tak mau kalah terpancar jelas dari masing-masing mata, saat hitungan ketiga telah terbaca, mereka hampir bersamaan melempar bola.
Sementara itu Yunho, didepan meja kosong dengan daftar menu ditangannya. "Kau bisa pulang sekarang." katanya pada Ho Joon di hadapan.
"Aku akan, jika dia sudah datang."
"Kau kepala batu sekali." Yunho menggeleng ringan.
"Aku juga belum menyelesaikan minumanku, hitung saja aku duduk menemanimu." kata Ho Joon, menyesap hangat cokelat dari dalam cangkirnya. "jam berapa sekarang?" tanyanya kemudian saat mendapati Yunho menopang dagu menatap keluar pintu.
"Um, hampir pukul sepuluh malam." Jawab Yunho setelah sekilas memperhatikan lingkar jam dipergelangan tangan.
"Kau yakin belum mau memulai makan malammu?"
"Nanti. Aku belum lapar." Yunho menggeleng lagi.
"Kalau begitu kita pulang saja, apa yang kau lakukan didalam rumah makan sementara makan atau lapar saja kau tidak." Ho Joon meruncingkan bibirnya, sedikit mendesis, ia melebarkan mata.
Yunho menatap, namun tak lantas membuat ucap, ia bersandar pada punggung kursi, meraup wajahnya dengan dua tangan. "Sudah kubilang, kau boleh pulang sekarang kalau kau sudah lelah. Aku tidak perlu kau temani." Katanya.
"Bukan begitu." Ho Joon menegakkan punggungnya. "maksudku, dia tidak akan datang, Yunho-ah. Kalau memang dia akan datang, sudah pasti dari sebelum pukul delapan tadi dia sudah akan ada disini."
"Bisa kau hubungi dia untukku?"
"Huh?" tak tanggap, Ho Joon mengerutkan keningnya.
"Soo Jin, cepatlah Ho Joon-ah!" pinta Yunho, mengeratkan tangan diatas meja.
"Ponselmu sendiri kau kemanakan?" Ho Joon masih belum mengerjakan, ia justru mengejar kejelasan.
"Kau mau melakukannya atau tidak?" Yunho menegapkan cara duduknya, ia memandang, menyudutkan.
"Ah, iya-iya! Aku hubungi dia sekarang." Ho Joon menyerah setelah berdecak lidah.
Dihubunginya nomor wanita dengan nama Soo Jin didalam ponselnya, saat tanda memanggil telah tampak, Ho Joon seketika mengulurkan ponselnya pada Yunho untuk berbicara.
"Soo Jin-ah, ini aku," kata Yunho saat panggilan telah tersambung.
"Ah, Yunho-Oppa. Kenapa aku begitu mengenali suaramu," kikiknya tertawa lucu. "syukur kau menghubungiku lebih dulu, apa kau tidak sadar kau meninggalkan benda jelek milikmu ini didalam tasku?"
Yunho tersenyum masam, menunduk memperhatikan buku menu makanan. "Maaf merepotkanmu..." katanya, terputus sebab suara Soo Jin menyela. ".. baiklah, akan kutunggu." Lanjutnya, membuat Ho Joon dihadapan yang turut mendengar, lantas memutar mata.
Setelah terdengar sahutan Soo Jin dari seberang yang berakhir dengan salam, nada kecil tanda terputusnya panggilan kemudian terdengar, lantas semua seketika kembali jenjam. Menampakkan Yunho yang tetap menunduk menggenggam ponsel Ho Joon, erat.
"Pukul sepuluh lebih tiga puluh tujuh menit," seru Ho Joon tiba-tiba, membuat Yunho seketika mengangkat kepala. "aku menyerah, aku akan pulang sekarang." ujarnya seraya mengulurkan tangan, menunggu ponselnya untuk Yunho kembalikan.
"Oh," Yunho menangguk, tersenyum samar. "hati-hati dijalan. Jangan meroda terlalu cepat." Pesannya, sembari mengulurkan ponsel, kembali pada pemiliknya.
"Hati-hati kau disini. Jangan tertidur, atau kau akan berakhir dipinggir jalan. Kau tahu, ditempat seperti ini akan banyak sekali orang berandalan." Ho Joon tak kalah bertutur panjang, bahkan ia berakhir dengan tatapan mengerikan. "aku pulang dulu. Sebaiknya kau cepat pulang juga, lupakan saja dia. Dia tidak akan datang."
"Sudahlah. Jangan pedulikan aku, cepat pergi dan tidur saja!"
Yunho mengangkat tangannya keudara memberi lambaian cepat pada Ho Joon yang berjalan mundur kebelakang, meninggalkan restoran. Juga meninggalkan Yunho sendirian didalam restoran yang mulai sepi pelanggan.
Sementara itu, Changmin dengan Kyuhyun yang telah selesai dengan permainan mereka. Pada sebuah restoran lesehan ala Jepang, mereka menghabisakan malam. Wajah Changmin memerah sebab sudah terlalu banyak ia menelan cairan memabukkan, namun dibandingkan dengan Kyuhyun yang sudah tak dapat menegakkan lehernya, Changmin masih tampak jauh lebih sadar dan dapat bergerak secara normal.
Permainan melempar bola yang Changmin yakini akan ia menangkan, nyatanya ia kalah telak dari Kyuhyun yang asal melempar tanpa ancang-ancang, alhasil Changmin tak dapat menolak saat Kyuhyun menunjuk sebuah rumah makan untuk mengisi perutnya yang telah kembali lapar. Tak tanggung-tanggung apa yang Kyuhyun minta, ia memesan semua jenis makanan yang ingin ia makan, hingga berakhir ia dengan mabuk sampai tak dapat lagi memberdirikan badan.
Pukul dua belas lebih, Changmin baru meninggalkan restoran beriringan dengan Kyuhyun yang ia rangkul agar tak jatuh lantas tertidur dijalan. Selanjutnya hampir pukul dua pagi Changmin baru kembali memasuki rumahnya, saat telah selesai ia mengantar Kyuhyun kembali pada tempat tinggalnya.
Saat kenop pintu rumah ia putar perlahan, hitam sertamerta menyergap pandangan. Sama sekali tak ada cahaya didalam rumah, senyap dan gelap, barang pasti Yunho telah terlelap. Setidaknya seperti itu yang Changmin pikirkan saat melangkahkan kaki untuk pertama kali.
Setelah memastikan pintu telah tertutup rapat, Changmin berjalan menuju tempatnya beradu dengan malam. Ia telah jarang menyusul Yunho untuk tidur diranjangnya. Entah telah berapa malam dan berapa lama, Changmin sudah mulai terbiasa untuk kembali tidur didalam kamarnya sendiri. Ia berjalan melewati pintu kamar Yunho yang terbuka, hanya memberi pandangan sekilas, Changmin melesat tak niat berhenti dan berbelok arah. Namun saat pintu kamar Yunho telah terlewati dua langkah dibelakang badannya, kaki Changmin tetiba bercokol diatas lantai rumah. Ia berhenti.
"Hyung?" panggilnya rendah. Changmin memutar tubuhnya, ia merasa Yunho tak berada ditempatnya. Satu langkah maju Changmin ciptakan, lelampuan didalam kamar Yunho ia nyalakan, saat semua telah terang, darah Changmin mendadak menggelenyar membuat gebuan jantungnya tak tenang.
Yunho tak ada dikamarnya.
"Yoboseyou.." jawab sebuah suara dari panggilan yang Changmin buat. "hallo, kau bisa mendengarku?" ucap suara itu lagi. Sementara Changmin bungkam, ia menggenggam. Suara yang ia dengar, bukan suara dari seseorang yang sedang dia khawatirkan. "Changmin-shi.. kau bisa mendengarku bukan? Kau masih disana?" dia, suara seorang wanita yang membuat Changmin hendak membantik asbak kaca dihadapanannya.
"Yu.. Yunho-Hyungie, uh.." Changmin terbata.
"Oh, Yunho-Oppa. Apa dia tidak dirumah bersamamu sekarang?"
"Huh?" Changmin tak paham.
"Dia sudah berpamitan pulang dari sore hari tadi. Katanya dia ada janji dengan seseorang, tapi ponselnya tertinggal didalam tasku."
"Dia tidak membawa mobil sendiri?"
"Tentu tidak! Pagi tadi aku yang menjemputnya dibawah rumah kalian. Kami hanya melakukan beberapa diskusi kecil, bersamaan dengan sarapan yang sekaligus dirangkap dengan makan siang. Setelahnya ia berpamitan pulang."
Jenjam. Panggilan dari dalam sambungan telephone tidak lagi Changmin perhatikan. Bahkan selajutnya ia tinggalkan ponsel tipisnya menggelepar diatas tempat duduk yang ia tinggalkan.
Tak lagi memperhatikan apakah pintu rumahnya kembali tertutup dengan benar, Changmin berlarian kembali pada letak mobilnya terdiam. Saat telah kembali ia berada dididepan kemudi, disentaknya mesin mobil dan meroda kilat kembali meninggalkan rumah yang belum lama dimasukinya.
Telah tahu pasti ia akan berhenti dimana, Changmin membelah udara malam, menatap lurus pada jalan memanjang. Karena malam yang telah larut, bahkan hampir menuju pagi, membuat jalanan semakin sepi, tak berselang lama setelah Changmin memacu cepat ke empat rodanya mobilnya serta sempat melanggar beberapa peraturan jalanan, Changmin tanpa aturan menghentikan mobilnya dipelataran sebuah restoran. Ia berlari, membuka pintu kaca kuat-kuat sampai-sampai menimbulkan derik hingar hingga semua mata yang masih menyala menyorot ke arahnya.
Tampak Yunho berdiri didekat sebuah meja melingkar, menundukkan kepala pada seorang wanita tua, setelah sekilas ia memperhatikan Changmin yang masih berdiri di bibir pintu restoran.
"Hyung?" panggil Changmin, saat telah dekat ia dengan tubuh Yunho berada. Changmin membasahi bibirnya, ia samar mengatur nafas, gugup, bingung, serta was-was beradu memenuhi wajahnya.
"Kau terlambat tujuh jam dua belas menit." kata Yunho datar.
"Aku.. maafkan aku," suara Changmin bergetar, matanya berpendar menatap Yunho yang diam. "kenapa menungguku sampai selarut ini, kukira kau sudah akan pulang. Kau bodoh sekali, kau terlalu lama duduk disini, bagaimana kalau kau sakit! Kalau aku lama tidak datang, seharusnya kau sudah pulang." Alih-alih bernada rendah sebab merasa salah, Changmin justru berteriak didepan wajah Yunho yang tak banyak berucap kata.
"Terima kasih, Bu. Saya permisi dulu." Tak acuh. Yunho memilih berucap lembut pada ibu pemilik restoran. Ia menganggukkan kepala dan setengah dari badannya, lantas membuat langkah mundur lalu berbalik untuk berjalan keluar.
"Hey.. Hyung?" Changmin memanggil, ia mengikut, kali ia bersuara lembut. "Hyung, maafkan aku! Aku bukan bermaksud untuk melupakan ajakkanmu, aku tadi bermain dengan Kyuhyun, dan dia berakhir mabuk, lantas aku.."
"Kau tidak datang." Yunho memutus, ia berdiri dibibir trotoar menatap ujung jalan.
"Bukan begitu, aku hanya harus menurutinya saja sebab aku kalah taruhan." Changmin memberi penjelasan, ia menghadang pandangan Yunho menatap jalanan, namun tetap samasekali ia tak mendapat perhatian. Yunho datar, melirikpun ia tidak. "Hyung?" panggil Changmin lagi, kali ini ia turut menarik tangan Yunho dan menggenggamnya erat dengan dua tangan. "maafkan aku!" mohonnya.
"Kau sengaja tidak datang." ucap Yunho, memberi tatapan, dalam dan menikam. Tangan dingin dalam genggaman Changmin pun turut menghilang, satu hentakan yang Yunho buat serta merta membuat genggaman dua telapak tangan Changmin padanya terlepas. "aku tidak memintamu masak dirumah sebab aku tahu kau pasti lelah setelah bekerja sepanjang siang, aku hanya meminta waktumu untuk makan malam denganku disini, itupun tidak akan lama tapi kau tak datang. Aku tahu kau tidak pernah menyukainya, kenapa tidak katakan saja agar aku tak selalu meminta kau datang!" Yunho menggeram, rahangnya mengeras, matanya berkilat terbenam air mata, namun ia membuang wajah sebelum mereka tumpah.
"Aku menyukainya. Aku sangat suka! Bahkan aku selalu suka kau selalu mengajakku setiap pagi sebelum kau pergi. Aku suka. Aku hanya.."
"Berhenti membuat omong kosong!" Yunho membentak. "terus bermain saja dengan Kyuhyun, tak ada yang perlu kau pedulikan disini." Yunho menarik ujung poni, tangannya terayun menghentikan sebuah bus. Tak ada lagi kata yang tertinggal, Yunho melesat tanpa lagi menoleh kebelakang.
"Bagaimana kau bisa sekasar itu kepadaku, Hyungie?" ucap Changmin lirih, menatap bus yang perlahan menghilang di ujung jalan.
.
.
To Be Continued
Next Chap, datang segera.
With love
Ino.
