Kei tiba-tiba mengingat kalimat yang sempat Akiteru ucapkan tempo hari lalu. Bertanya-tanya pada apa yang telah mereka bicarakan sehingga Akiteru mengucapkan kalimat tersebut.
Kalimat tersebut begitu saja terngiang di kepala Kei yang tengah mengalami error di beberapa sirkuit.
Hal itu terjadi karena kepalanya telah menerima pukulan keras bola voli yang dipukul oleh entah siapa - Kei belum sempat memastikannya. Membuat kacamata minusnya terjatuh, untung belum terinjak.
Namun sepertinya bukan hanya itu alasan dari error di kepalanya. Juga bukan alasan kenapa kalimat tersebut tiba-tiba muncul kembali.
Kacamata miliknya yang terjatuh segera diambil oleh sahabatnya, Yamaguchi. Datang entah dari arah mana Kei tak tahu karena seingatnya Yamaguchi tak berada di dekatnya saat itu.
Tsukishima mendengar suaranya yang memanggil dengan nada khawatir. Tapi denyut di kepalanya membuat Tsukishima mengabaikan panggilan itu.
Lalu sebuah tangan menyentuh pipinya. Mengangkat wajahnya yang menunduk agar sedikit terangkat. Matanya yang saat itu terpejam karena menahan sakit pun perlahan terbuka.
Sayang, semuanya terlihat kabur.
"Tsukki?" panggilnya lagi.
Kemudian secara ajaib dunia kembali terlihat jelas. Pandangannya yang buram pun menjernih.
Rupanya Yamaguchi memakaikannya kacamata yang tadi terjatuh.
Dalam jarak ini, dengan Yamaguchi yang belum menarik diri untuk menjauh dan memilih untuk menatapnya lekat-lekat seolah ingin memastikan apakah Kei baik-baik saja. Dalam jarak ini, Kei dapat melihat gugusan bintang yang tersebar di dekat matanya. Alis yang tertekuk ke bawah, membingkai kristal coklat kehijauan tersebut yang bagaikan layar kaca.
Dan di dalam mata itu ada dirinya.
"Jangan lihat matanya. Nanti kau jatuh cinta."
Kei tertegun. Dia jatuh cinta.
"Tsukki, kau tidak apa-apa?" ucapnya yang juga tak melepaskan pandangan khawatir pada Tsukishima. Kedua telapak tangan yang berada di kedua sisi telinga Kei sehabis memakaikannya kacamata bergerak ke belakang kepalanya. Membelai halus rambutnya hingga ke tempat dimana rasa sakitnya berasal.
"Sakit?" tanyanya.
Kei tak mampu menjawabnya. Sirkuit di kepalanya masih berusaha membenarkan diri dan tangan yang membelainya pun bukannya membantu, malah memperparah kerusakan dengan mengacaukan konsentrasi.
Meski begitu, hanya satu yang Tsukishima sadari.
Mata itu mendekat. Menandakan jarak mereka yang menipis. Entah siapa yang sebenarnya melangkah maju.
Sistem kesadaran Kei tiba-tiba dikejutkan dengan suara bisik-bisik. "Cium! Cium! Cium! Cium!"
Lalu di saat itu sistem kepalanya selesai melakukan reboot dan dia pun sadar.
Pertama, jarak mereka. Lalu tangannya yang berada di pinggang dan punggung Yamaguchi. Juga sadar akan kehadiran Sugawara yang rupanya adalah pelaku bisikan tadi berdiri persis di sampingnya.
