Chapter 10
warn: typos/ gaje/woman rape man/ rate: M for language and lemon/ mohon maaf apabila cerita agak melenceng dari summary-nya(maybe). Newbie author/NOT FOR UNDER 21 YEARS OLD, and etc
Summary: "Kehidupan bahagia Naruto bersama 7 istrinya yang sudah berlangsung selama 13 tahun harus berantakan karena sebuah masalah baru yang menimpa Naruto. Kali ini masalah tersebut jauh lebih ekstrem dari sebelumnya. Kira-kira apa masalah baru yang menimpa Naruto kali ini?"
Perubahan usia chara:
Naruto: 20 tahun
Konan: 22 tahun
Yugao: 23 tahun
Tayuya: 20 tahun
Shizuka: 20 tahun
Guren: 22 tahun
Hinata: 20 tahun
Hanabi: 18 tahun
Kaguya: 22 tahun
Sara: 20 tahun
The owner of Naruto is Masashi Kishimoto
Sebelumnya saya minta maaf karena tidak memberitahu jika saya akan repost cahpter 10. Dan juga saya berharap di chapter ini alurnya tidak terlalu lambat atau rumit seperti sebelumnya. Dan satu hal lagi Phoenix minta maaf jika nanti Phoenix akan sering mengalami keterlambatan update. Itu semua dikarenakan tekanan dari pihak keluarga Phoenix yang meminta Phoenix mesti seperti ini, seperti itu dan sebagainya.
Dan Phoenix ucapkan terima kasih banyak untuk kalian semua yang sudah mendukung fic WHMB kedua ini. Dan Phoenix berharap kalian mau bersabar untuk menunggu kelanjutan fic WHMB 2 ini jika nanti Phoenix terlambat update.
Ok, itu sedikit pemberitahuan dari Akuma no Phoenix, minna.
Please enjoy the chapter and don't forget to leave the review. So I can update this story faster :D.
Let the story begin...
Pagi hari di desa Konoha...
Pagi ini desa Konoha tidak secerah hari-hari sebelumnya. Hal itu dikarenakan awan mendung menggelayuti langit Konoha yang sejak dini hari tadi tidak kunjung pergi meninggalkan desa tersebut.
Seorang perempuan cantik yang terlihat berbaring di atas kasur di dalam sebuah kamar rumah sakit desa Konoha mulai membuka kelopak matanya dan memperlihatkan iris birunya yang indah. Setelah membuka matanya dan mengerjapkannya beberapa kali, perempuan tersebut mulai merubah posisi berbaringnya menjadi duduk.
Setelah duduk perempuan berparas cantik tersebut mengalihkan pandangannya ke arah luar untuk melihat langit mendung yang menggelayuti desa Konoha.
'Sepertinya hari ini akan turun hujan.' Ucap perempuan tersebut dalam hatinya saat melihat keadaan langit desa Konoha saat itu. Setelah berucap dalam hati, perempuan tersebut mulai meregangkan tubuhnya yang terasa sedikit kaku.
'Naruto, masuklah ke mindscapemu sekarang.' Ucap sebuah suara yang terdengar dari dalam hati perempuan berparas cantik tersebut. 'Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu.' Lanjut suara tersebut dengan nada yang lebih berkesan memerintah.
'Nanti saja lah Kurama.' Jawab perempuan cantik tersebut yang tidak lain adalah Naruto dalam hatinya dengan nada malas dan tidak bersemangat sedikitpun. Sepertinya perempuan cantik bersurai kuning tersebut sedang malas untuk membicarakan sesuatu.
'Sudahlah temui aku saja dulu.' Ucap suara dalam hati Naruto yang berasal dari Kurama yang tidak lain adalah Kyuubi dengan nada yang terdengar membujuk perempuan bersurai kuning selutut tersebut.
'Memang ada apa sih?' Balas Naruto dengan nada yang terdengar mulai kesal bercampur risih.
'Jika kau ingin mengetahui jawabannya, segera temui aku di mindscapemu.' Jawab Kurama.
Dan setelah menjawab pertanyaan Naruto, Kurama langsung menutup jalur mindscape Naruto. Naruto yang sudah terlanjur penasaran, hanya bisa menghela nafas panjang. Setelah itu perempuan cantik tersebut mulai duduk bersila dan menutup kedua kelopak matanya.
Di dalam mindscape Naruto...
Naruto terlihat berjalan menyusuri lorong-lorong yang ada di dalam mindscapenya dengan langkah yang terlihat malas. Entah apa alasan perempuan tersebut tidak langsung muncul di atas kepala sang Kyuubi seperti biasanya.
Suara percikan air yang menjadi lantai ruangan tersebut terdengar menggema di dalam ruangan tersebut saat perempuan cantik bersurai selutut itu melangkahkan kakinya menyusuri lorong tersebut.
Beberapa saat berjalan, akhirnya perempuan cantik bersurai kuning selutut tersebut sampai di sebuah ruangan yang sangat besar. Di dalam ruangan tersebut terlihat seekor rubah besar berwarna orange sedang duduk di atas genangan air sambil melambai-lambaikan sembilan ekornya kesana-kemari.
"Ada apa Kurama?" Tanya Naruto pada rubah besar yang sedang duduk di depannya dengan nada malas. Sepertinya perempuan tersebut sedang enggan untuk membahas sesuatu sejak ia mengetahui jika salah satu sahabatnya yang berasal dari Suna mengalami luka parah.
"Naruto, saat kau berada di dalam kamar Gaara, apa kau tidak merasakan ada sesuatu yang aneh?" Tanya sang rubah besar tersebut dengan nada suara yang serius.
"Tidak." Jawab Naruto dengan nada yang langsung berubah serius saat mendengar sahabatnya disebutkan oleh rubah besar yang ada di depannya. "Memangnya keanehan seperti apa itu, Kurama?" Lanjut Naruto bertanya kepada rubah besar tersebut. Sepertinya Naruto mulai tertarik dengan topik pembicaraan yang akan dia bahas dengan partnernya tersebut.
Kurama terlihat mengambil nafas panjang sebelum ia menjelaskan tentang apa yang ia rasakan saat ia berada di dekat lelaki bersurai merah semalam.
"Begini Naruto..." Ucap Kurama menggantung. "... Semalam, saat kau berada di dalam kamar bocah bernama Gaara itu, aku merasakan ada sebuah chakra aneh yang menyelimuti bocah tersebut." Lanjut Kurama memberitahu apa yang ia rasakan saat Naruto berada di dalam kamar Gaara.
"Benarkah?" Tanya Naruto sambil mengangkat sebelah alisnya. "Tapi mengapa aku tidak merasakannya juga?" Lanjut Naruto bertanya pada partner rubahnya.
"Kau tidak merasakan tekanan chakra tersebut mungkin dikarenakan kau terlalu shok saat melihat keadaan temanmu yang bersurai merah itu." Jawab Kurama membuat sebuah opini.
"Hm... Mungkin juga." Jawab Naruto sambil manggut-manggut. "Lalu tentang chakra yang kau maksud, apa yang kau ketahui tentang chakra tersebut?" Lanjut Naruto bertanya pada rubah besar yang sedang duduk di depannya.
"Itulah inti masalah yang aku ingin bicarakan denganmu, Naruto." Jawab Kurama. "Aku merasakan chakra tersebut memang sangat tipis dan tidak begitu terasa. Akan tetapi chakra tersebut terasa sangat pekat dengan kekuatan kebencian dan juga dendam yang sangat besar. Siapapun pemilik chakra tersebut pasti memiliki sebuah dendam kesumat yang sangat ingin ia lampiaskan." Lanjut Kurama panjang lebar menjelaskan tentang apa yang ia ketahui.
"Kekuatan kebencian dan dendam?" Ucap Naruto yang mengulang dua kata dari kalimat panjang yang di ucapkan partnernya barusan.
"Benar." Ucap Kurama yang membenarkan ucapan Naruto barusan. "Dan lagi, kekuatan tersebut terasa sangat tidak normal. Kekuatan tersebut seolah bukan milik manusia biasa." Lanjut Kurama menjelaskan.
"Apa maksudmu dengan bukan milik manusia biasa, Kurama?" Buru Naruto pada rubah besar yang ada di depannya.
"Sisa chakra yang aku rasakan semalam, itu hampir setara dengan kekuatan seorang jinchuriki Juubi. Bahkan jauh lebih kuat." Jawab Kurama dengan nada serius.
DEG
Iris biru, Naruto langsung membelalak terkejut saat mendengar ucapan Kurama barusan. Ia tidak pernah menyangka jika ada pemilik kekuatan sebesar itu. Saking terkejutnya, perempuan berparas cantik tersebut sampai tidak bisa merasakan detak jantungnya sendiri.
"Jika benar seperti itu, berarti pemilik kekuatan tersebut telah melampaui kekuatan yang pernah dimiliki Kaguya chan dulu kan?" Tanya Naruto pada rubah besar di depannya.
"Hm." Gumam Kurama sambil menganggukkan kepalanya.
Setelah mendengar gumaman Kurama dan melihat anggukan rubah besar tersebut, Naruto langsung kembali shok bukan main.
Setelah itu mereka berdua terdiam di dalam tempat tersebut. Tidak ada yang membuka suara untuk membuka topik pembicaraan yang baru. Sepertinya kedua makhluk berbeda jenis tersebut terlalu shok dengan apa yang mereka bicarakan barusan.
Bahkan Kurama yang mengajak pembahasan tersebut juga terlihat shok.
"Ap-apa hanya itu saja yang-yang ingin kau bicarakan denganku?" Tanya Naruto sedikit tergagap.
"Hm." Gumam Kurama sambil mengangguk seperti tadi.
"Baiklah, aku mau kembali dulu." Ucap Naruto pada rubah besar tersebut. Dan tidak lama kemudian, perempuan tersebut langsung menghilang dari hadapan rubah besar tersebut dalam sekejap mata.
"Yang aku takutkan, itu adalah chakra milik Messiah, Naruto." Ucap Kurama pada kekosongan tepat setelah Naruto menghilang dari hadapannya.
Setelah berucap, rubah besar tersebut menghela nafas panjang bercampur lelah. Sepertinya ada sesuatu yang lain yang menganggu pikiran rubah besar tersebut.
"Entah mengapa aku merasa tidak asing dengan chakra tersebut. Aku seolah pernah merasakan chakra itu entah dimana..." Ucap Kurama pada dirinya sendiri.
Setelah berucap demikian, rubah besar tersebut memposisikan dirinya untuk tidur. Sepertinya rubah besar tersebut sedang malas untuk mengingat.
Sementara itu di kamar lain yang masih berada di dalam rumah sakit Konoha...
Terlihat kelopak mata seorang perempuan cantik bersurai biru sebahu mulai bergetar lalu terbuka secara perlahan. Perempuan cantik tersebut terlihat mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum ia mengalihkan pandangannya ke arah tangan kanannya.
Di atas tangan kanan perempuan cantik tersebut terlihat seorang remaja tampan bersurai biru jabrik sedang tertidur pulas. Jika dilihat dari wajahnya, pemuda tersebut sepertinya sedang dalam keadaan lelah.
"Shin..." Ucap perempuan tersebut sambil terus memandangi remaja laki-laki yang masih tertidur sambil memeluk tangan kanannya. Sebuah senyuman langsung terukir di wajah cantik perempuan bersurai biru tersebut. Sepertinya ia sangat senang dengan kedatangan remaja tersebut.
Tidak lama berselang, kelopak mata pemuda yang sedang tertidur tersebut terlihat bergetar sebelum akhirnya terbuka dan menampilkan irisnya yang indah.
"Kaa chan sudah bangun?" Tanya pemuda tersebut saat iris kuningnya melihat perempuan sebahu yang sudah membuka matanya. "Bagaimana keadaan kaa chan sekarang? Apa masih ada yang sakit? Atau perlu kupanggilkan dokter untuk memeriksa keadaan Kaa chan?" Lanjut pemuda tersebut bertanya secara beruntun pada perempuan yang ia panggil kaa chan tersebut.
"Tidak perlu, Shin." Jawab perempuan tersebut dengan nada kalem. "Kaa chan sudah baik-baik saja kog." Lanjut perempuan tersebut memberitahu tentang keadaannya.
"Lalu, apa yang bisa aku lakukan untuk kaa chan?" Tanya pemuda tersebut yang tidak lain adalah Shin aka anak dari Naruto dan Konan. Sepertinya ia benar-benar khawatir pada keadaan perempuan tersebut.
"Tidak perlu repot-repot begitu, Shin." Ucap perempuan tersebut yang tidak lain adalah Konan dengan nada lembut khas seorang ibu pada anaknya. "Tapi siapa yang memberitahumu jika kaa chan ada di rumah sakit? Dan darimana kau tahu kamar kaa chan disini? Lalu kemana anak-anak yang lain?" Lanjut Konan yang melontarkan pertanyaan balik secara beruntun.
Pemuda tersebut terlihat menarik nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan beruntun yang dilontarkan perempuan yang ia panggil kaa chan tersebut.
"Secara kebetulan, kemarin sore kami semua pulang dari misi di waktu yang sama. Lalu saat kami sampai di rumah, kami sempat terkejut saat melihat garis dilarang melintas terpasang di sekitar rumah dan beberapa anbu serta shinobi sekelas jounin terlihat mondar mandir di sekitar rumah." Jawab pemuda tersebut panjang lebar menceritakan apa yang ia lihat bersama para saudaranya.
"Hm... Lalu?" Tanya Konan yang ingin mengetahui lebih jauh setelah ia bergumam sambil manggut-manggut.
"Karena kami penasaran dengan apa yang telah terjadi, akhirnya Ryuuki memutuskan untuk bertanya pada salah satu jounin yang kebetulan saat itu berada di luar rumah. Setelah itu kami baru tahu jika kaa chan dan tou san ada di rumah sakit." Jawab Shin panjang lebar. "Dan soal kami tahu dimana kamar kaa chan berada, kami tahu dari Sakura baa chan." Lanjut Shin sebelum Konan mengulang pertanyaannya.
"Oh... Jadi begitu..." Ucap Konan setelah mendengar cerita anak semata wayangnya. "Lalu apa kalian sudah melihat bagaimana keadaan tou san?" Lanjut perempuan cantik bersurai biru tersebut bertanya.
Sang anak yang ditanya hanya menjawab pertanyaan tersebut dengan gelengan saja.
Sementara Konan yang melihat gelengan anaknya tersebut langsung mengangkat sebelah alisnya.
"Mengapa kalian tidak melihat bagaimana keadaan tou san?" Tanya Konan kepada pemuda bersurai biru tersebut.
"Itu karena waktu kami ke kamar tou san kemarin, tou san tidak ada di dalam kamarnya." Jawab Shin.
"Apa kalian tahu tou san pergi kemana?" Tanya Konan lagi.
"Kalau tidak salah, waktu itu seorang perawat bilang kepadaku bahwa beliau sedang berada di dalam kamar seseorang yang menyandar gelar Godaime Kazekage." Jawab Shin setelah mencoba mengingat kejadian semalam.
'Godaime Kazekage?' Tanya Konan dalam hati. 'Jangan-jangan itu, Gaara kun?' Lanjut perempuan berparas cantik tersebut masih dalam hati.
"Apa kaa chan mengenal siapa orang itu?" Tanya Shin saat melihat Konan yang hanya diam saja dan terlihat sedang memikirkan sesuatu.
'Jangan-jangan yang membuat Naruto lepas kendali kemarin adalah karena dia mendengar kabar ini?' Ucap Konan masih dalam hati. Bukannya menjawab pertanyaan anaknya, Konan malah semakin terjebak dengan pikirannya sendiri.
"Kaa chan?" Panggil pemuda bersurai biru tersebut sambil menggoyangkan tangan kanan perempuan bersurai biru tersebut yang sempat ia peluk saat ia tidur tadi.
"Ah... Iya?" Jawab Konan sembari tersentak karena terkejut saat tangan kanannya digerakkan oleh anaknya. "Ada apa Shin?" Lanjut perempuan tersebut bertanya pada pemuda bersurai biru jabrik tersebut.
"Kaa chan baik-baik saja kan?" Tanya balik Shin saat iris kuningnya melihat ibunya tersentak barusan.
"Hai', kaa chan baik-baik saja kog." Ucap Konan sambil mengukir sebuah senyuman manis di wajah cantiknya.
Wajah tampan Shin seketika berubah memerah saat ia iris kuningnya melihat senyuman manis yang terukir di wajah Konan. Setelah itu pemuda tersebut memalingkan wajahnya ke arah lain saat ia merasakan wajahnya terasa memanas.
'Kenapa aku jadi malu-malu begini saat melihat kaa chan tersenyum?' Tanya pemuda tersebut dalam hatinya sendiri sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.
Iris kuning Konan yang melihat wajah anaknya berubah memerah hanya bisa terkikik geli. Setelah terkikik geli beberapa saat, sebuah ide jahil untuk mengerjai anaknya terlintas di pikirannya.
"Ada apa Shin? Kenapa kau memalingkan wajahmu ke arah lain?" Tanya Konan yang pura-pura tidak tahu dengan keadaan anaknya saat ini. Kini senyuman manis di wajah cantiknya sudah berubah menjadi senyuman nakal.
"Ak-aku tidak-glek... Tidak apa apa, Kaa chan." Jawab pemuda bersurai biru tersebut dengan nada tergagap sambil mengalihkan wajahnya kesana kemari untuk menghindari wajah ibunya yang sedang memasang senyuman jahil.
Wajah Konan yang saat ini sedang memasang senyuman jahil terlihat lebih cantik dan manis. Sepertinya perempuan tersebut sangat senang menggoda anaknya yang terkenal suka menggoda gadis ini.
"Kalau tidak apa-apa, kenapa kau memalingkan wajahmu dari kaa chan?" Tanya perempuan bersurai biru tersebut dengan nada jahil.
"Sepertinya cuaca di luar sedang cerah, aku mau cari sesuatu untuk sarapan kita berdua dulu kaa chan." Ucap Shin sambil melihat langit mendung di luar atas desa Konoha melalui jendela kamar tempat ibunya dirawat saat ini. Setelah berucap demikian pemuda tersebut langsung menggunakan jutsu langkah seribunya untuk pergi dari sana sebelum ibunya menjahilinya lebih jauh. Mungkin karena saking gugupnya pemuda tersebut sampai tidak sadar jika cuaca diluar sedang mendung dan tidak cerah sama sekali.
Konan yang mendengar ucapan anaknya barusan hanya bisa terkikik geli. Setelah terkikik selama beberapa saat, perempuan berparas cantik tersebut terlihat menggelengkan kepalanya beberapa kali sebelum ia mengalihkan pandangannya pada jendela kamar tempatnya dirawat.
Iris kuning perempuan tersebut terlihat memandang jauh langit yang sedang menggelayuti desa tempatnya tinggal selama beberapa tahun tersebut. Tiba-tiba senyuman jahilnya seketika menghilang saat pikirannya mengingat ucapan anaknya yang membahas tentang sang Kazekage.
"Apa yang sebenarnya telah terjadi?" Tanya perempuan tersebut pada dirinya sendiri sambil terus memandang langit mendung yang menggelayuti desa Konoha. "Kami sama, aku mohon lindungilah desa ini beserta semua penduduknya dari ancaman yang besar maupun kecil." Lanjut perempuan tersebut berdo'a.
Sementara itu di kamar yang lain...
Terlihat seorang perempuan cantik bersurai hitam panjang dan beriris hijau sedang duduk di atas kasurnya sambil berbicara dengan seorang perempuan bersurai merah sepunggung dan beriris senada dengan perempuan pertama.
"Ryuuki chan, sudah melihat bagaimana keadaan tou san?" Tanya perempuan bersurai hitam tersebut pada perempuan bersurai merah yang sedang duduk di dekat kasurnya.
"Um... Belum." Ucap perempuan tersebut dengan nada pelan sambil menundukkan kepalanya.
"Kenapa belum, Ryuuki chan?" Tanya perempuan bersurai hitam yang sedang duduk diatas kasur itu. Sepertinya perempuan tersebut kurang senang dengan jawaban perempuan bersurai merah tersebut.
"Sebenarnya waktu kami datang, kami sudah dalam keadaan lelah dan kami terlalu mengkhawatirkan keadaan kaa chan. Lagipula kemarin, Sakura baa chan bilang bahwa keadaan tou san baik-baik saja." Jawab perempuan tersebut panjang lebar dengan wajah yang masih menduduk. Sepertinya perempuan cantik bersurai merah tersebut merasa sangat bersalah kepada perempuan yang duduk di atas kasur.
"Hah..." Perempuan cantik bersurai hitam tersebut hanya bisa menghela nafas panjang setelah mendengar pertanyaan perempuan yang ia panggil Ryuuki barusan. Ia menghembuskan nafas panjang karena ia merasa lega jika orang yang bicarakan ternyata baik-baik saja.
"Apa kaa chan akan marah pada Ryuuki?" Tanya perempuan bersurai merah tersebut sambil terus menundukkan kepalanya.
"Tentu saja tidak, Ryuuki chan." Ucap perempuan cantik bersurai hitam tersebut sambil mengukir sebuah senyuman yang manis di wajah cantiknya. "Kaa chan menghela nafas karena lega saat mendengar jika tou chan kalian baik-baik saja." Lanjut perempuan tersebut dengan senyuman manis di wajah cantiknya.
"Oh... Ryuuki kira, kaa chan akan marah karena Ryuuki belum menjenguk keadaan tou chan." Ucap perempuan bersurai merah tersebut dengan nada lega.
Dan setelah itu kedua perempuan tersebut hanyut dalam pembicaraan mereka yang diselingi candaan.
Ternyata hal serupa juga terjadi pada para istri Naruto yang lain. Mereka terlihat mengobrol membicarakan hal yang sama dengan apa yang dibicarakan Konan dan Shizuka tadi.
Sementara itu di sebuah tempat yang terlihat seperti sebuah tanah lapang yang masih berada di wilayah Konoha...
Terlihat dua orang perempuan berparas cantik sedang berjalan menyusuri jalan di depan mereka dengan langkah yang terlihat tenang.
Perempuan pertama memiliki paras yang cantik dengan usia sekitar 20 tahunan. Dia memiliki surai indah berwarna putih panjang yang tergerai indah di belakang tubuhnya dan iris berwarna senada dengan surainya. Perempuan tersebut terlihat berjalan beberapa langkah di depan seorang perempuan cantik.
Sementara perempuan kedua juga memiliki paras yang tidak kalah cantik dengan perempuan yang berjalan beberapa langkah di depannya. Usia perempuan kedua ini terlihat memiliki usia yang tidak terpantau jauh dengan perempuan pertama. Perempuan kedua ini memiliki surai indah berwarna merah dan iris berwarna coklat yang indah.
Keheningan menyelimuti perjalanan kedua perempuan cantik yang berusia tidak terlalu jauh tersebut. Sepertinya kedua perempuan cantik tersebut sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Kaguya san, apakah desa Konoha masih jauh?" Tanya perempuan yang memiliki surai merah kepada perempuan yang berada di depannya setelah keheningan menyelimuti perjalanan mereka cukup lama.
"Tidak, Sara chan." Jawab perempuan cantik bersurai putih tersebut yang tidak lain adalah Kaguya tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan yang ada di depannya. "Sebentar lagi kita pasti sampai di desa Konoha." Lanjut perempuan tersebut memberitahu.
Setelah pembicaraan singkat tersebut, keheningan kembali menyelimuti mereka berdua. Mereka tidak tahu lagi harus membuka topik pembicaraan apa untuk membunuh waktu.
Setelah beberapa saat berjalan, tiba-tiba Kaguya yang berjalan beberapa langkah di depan menghentikan langkah kakinya. Sara yang melihat perempuan di depannya menghentikan langkahnya, mau tidak mau ikut menghentikan langkahnya.
"Ada apa Kaguya san? Mengapa kau tiba-tiba berhenti?" Tanya Sara pada Kaguya yang saat ini sedang memandang jauh ke depan.
"Kita sudah sampai, Sara chan." Jawab Kaguya singkat sambil menolehkan kepalanya ke arah perempuan yang ada di belakangnya.
"Benarkah?" Tanya Sara dengan nada yang terdengar tidak percaya. Setelah itu dia melangkahkan kaki jenjangnya untuk mensejajarkan dirinya dengan Kaguya. "Wah jadi ini desa Konoha tempat Naruto menjadi Hokage?" Lanjut perempuan tersebut dengan nada kagum.
Saat ini mereka berdua berdiri di atas tebing tempat pahatan wajah para Hokage terdahulu. Di depan mereka terpampang jelas desa Konoha yang sudah banyak mengalami kemajuan setelah masa kepemimpinan Naruto selama beberapa tahun.
"Wah desa Konoha tempat Naruto memimpin ternyata berbeda jauh dengan yang ada dimensiku ya, Kaguya san?" Tanya Sara dengan nada kagum sambil terus memandangi desa yang ada dibawahnya.
Kaguya yang mendengar pertanyaan Sara barusan hanya bisa mengukir sebuah senyuman manis di wajah cantiknya. Akan tetapi senyuman manis yang terukir di wajah Kaguya tidak bertahan lama saat iris putihnya melihat langit Konoha yang mendung.
'Aneh...' Ucap Kaguya dalam hati sambil memalingkan wajahnya untuk melihat keadaan di belakangnya.
Setelah melihat kebelakang, Kaguya mengalihkan pandangannya kembali ke langit yang menyelimuti desa Konoha. Perempuan berparas cantik tersebut melakukan hal tersebut sampai beberapa kali seolah memastikan bahwa apa yang ia lihat tidaklah salah.
"Ada apa, Kaguya san?" Tanya Sara saat iris coklatnya melihat perempuan bersurai putih tersebut mengalihkan pandangannya ke depan lalu kebelakang secara berulang-ulang. "Apakah ada yang mengganggu pikiranmu?" Lanjut Sara bertanya pada perempuan cantik bersurai putih tersebut.
"Ini aneh..." Jawab Kaguya sambil terus melakukan aktifitasnya.
Sara yang mendengar jawaban Kaguya barusan hanya bisa mengangkat sebelah alisnya sambil memandang perempuan cantik bersurai putih tersebut dengan tanda tanya besar di kepalanya.
Akhirnya karena rasa penasaran, ia pun mengikuti apa yang dilakukan perempuan cantik bersurai putih tersebut. Setelah mengikuti apa yang dilakukan Kaguya beberapa kali, iris coklat Sara langsung membelalak.
"Apa kau melihat apa yang sedang kulihat, Sara chan?" Tanya Kaguya pada perempuan yang baru saja mengikuti apa yang ia lakukan.
"Aku ingin menanyakan hal yang serupa kepadamu, Kaguya san." Jawab Sara seolah mengiyakan pertanyaan dari Kaguya barusan.
"Bagaimana bisa cuaca bisa terlihat seaneh ini..." Ucap Kaguya saat ia sudah menghentikan aktifitasnya yang menolehkan kepalanya ke depan dan kebelakang.
"Entahlah, Kaguya san." Ucap Sara yang sepertinya juga bingung saat melihat keadaan langit Konoha yang terlihat mendung dan terlihat sangat gelap. Bahkan setitik dari sinar mataharipun, tidak mampu menembus gelapnya mendung langit yang ada di atas desa Konoha saat ini.
Akan tetapi keadaan langit yang ada di belakang kedua perempuan tersebut terlihat sangat cerah dan tidak ada awan mendung sama sekali. Bahkan sinar matahari terasa sangat menyengat kulit saat mereka berdua melakukan perjalanan tadi.
"Lebih baik kita segera menemui Naruto dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, Sara chan." Ucap Kaguya sambil melakukan rentetan handseal yang rumit.
"Hai'." Jawab Sara yang mengiyakan pernyataan perempuan bersurai putih tersebut.
Setelah Kaguya menyelesaikan handseal yang rumit barusan, tiba-tiba tempat kosong yang berada di sebelah Kaguya langsung terbelah secara horizontal dan semakin membesar. Setelah cukup besar, Kaguya dan Sara langsung masuk ke dalam.
Setelah kedua perempuan cantik tersebut masuk, tiba-tiba pintu yang barusan terbuka langsung menghilang seperti kemunculannya.
Sementara itu dengan Naruto...
Terlihat seorang perempuan cantik bersurai kuning selutut dan memiliki iris biru yang indah, terlihat sedang berjalan di lorong rumah sakit desa Konoha dengan langkah tenang.
Sesekali perempuan tersebut menebar senyuman kepada orang yang berpapasan dengannya atau membalas senyuman orang-orang yang tersenyum padanya.
Beberapa laki-laki atau perempuan yang sempat melihat perempuan tersebut tersenyum langsung terkagum-kagum dengan kecantikan yang dimiliki perempuan bersurai kuning selutut tersebut.
Bahkan ada beberapa laki-laki yang tergila-gila karena melihat senyuman Naruto barusan. Bukan hanya laki-laki saja yang tergila-gila, bahkan ada seorang perawat bergender perempuan yang sempat tersipu malu saat perempuan bersurai kuning itu melontarkan senyuman manis kepadanya.
"Siapa nona cantik itu ya?" Tanya seorang perawat bergender perempuan kepada temannya yang kebetulan sedang bekerja dengannya.
"Entahlah, aku juga baru tahu jika desa Konoha memiliki perempuan secantik itu." Jawab perawat kedua yang memiliki gender yang sama.
"Aku iri sekali dengan perempuan cantik tersebut. Coba lihat dia memiliki kulit tan eksotis yang terkesan sexy dan juga tubuh langsingnya itu benar-benar proporsional." Ucap perawat pertama menjelaskan tentang fisik perempuan bersurai kuning itu yang tidak lain adalah Naruto.
"Ya kau benar." Ucap perawat kedua yang menyetujui apa yang di ucapkan perawat pertama.
"Ehem..." Tiba-tiba sebuah suara deheman membuat kedua perawat yang sedang mengobrol tersebut langsung terkejut. "Bukankah ini masih jam kerja ya?" Tanya sesosok perempuan yang baru saja berdehem barusan.
"Eh... ter-ternyata anda Sakura san..." Ucap perawat pertama dengan anda yang terdengar gugup sambil mengukir senyuman nerves.
"Apa sih yang sedang kalian bicarakan?" Tanya perempuan yang berdehem tadi aka Sakura kepada dua perawat yang saat ini sedang salting akibat ketahuan lalai dalam melakukan pekerjaan mereka.
"Ano... Etto..." Ucap kedua perempuan tersebut yang sepertinya mengalami kebingungan untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan Sakura pada mereka.
"Sudahlah, bilang saja yang sebenarnya." Ucap Sakura sambil menggelengkan kepalanya.
"Eh... Sebenarnya kami tadi sedang membicarakan perempuan cantik bersurai kuning selutut yang baru saja tersenyum pada kami." Ucap perawat kedua jujur sambil menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya.
"Hah... Yare-yare..." Ucap Sakura sambil menepuk dahinya dan menggelengkan kepalanya lagi. Sepertinya wanita berparas cantik tersebut benar-benar tidak habis pikir saat mendengar topik yang dibicarakan kedua perawat yang sedang berdiri di depannya saat ini.
Kedua perawat yang berada di depan Sakura langsung semakin menundukkan kepala mereka karena rasa bersalah yang menggelayuti perasaan mereka.
'Sepertinya aku harus memperingatkan Naruto untuk tidak terlalu sering berkeliaran di dalam rumah sakit.' Ucap Sakura dalam hatinya setelah ia berhenti menggelengkan kepalanya.
"Baiklah kalian berdua cepat kembali ke pekerjaan kalian masing-masing." Ucap Sakura mempersilahkan kedua perawat yang ada di depannya untuk kembali bekerja. "Tolong lain kali jangan diulangi lagi." Lanjut Sakura dengan nada yang berubah menjadi tegas.
"Ha-hai', Sakura san." Ucap kedua perawat tersebut dengan nada gugup sambil kembali melakukan pekerjaan mereka yang sempat tertunda karena membahas tentang Naruto tadi.
Setelah melihat kedua perawat tersebut kembali melakukan pekerjaan mereka, Sakura hanya bisa menggelengkan kepalanya lagi sebelu akhirnya melangkahkan kakinya untuk mencari keberadaan perempuan cantik bersurai kuning selutut aka Naruto.
Kembali lagi dengan Naruto...
Terlihat perempuan cantik bersurai kuning selutut tersebut sedang berdiri di depan sebuah pintu kamar seorang pasien. Paras cantik perempuan tersebut terlihat ragu untuk membuka pintu di depannya saat tangan lentiknya sudah memegang gagang pintu tersebut.
Beberapa saat berlalu dan perempuan tersebut masih belum membuka pintu yang sudah ia pegang gagangnya tersebut. Setelah itu, terlihat perempuan tersebut menarik nafas dalam-dalam untuk menguatkan niatnya dan akhirnya dia benar-benar membuka pintu yang ada di depannya.
Sretttt
"Permisi..." Ucap Naruto sambil membuka pintu geser yang ada di depannya.
Srettt tap tap tap tap
Tanpa menunggu jawaban dari pasien yang ada di dalam kamar, perempuan tersebut langsung menutup pintu di belakangnya kembali lalu melangkahkan kakinya untuk memasuki bagian dalam kamar pasien tersebut dengan langkah pelan.
"Oh... Ternyata kau Naruto kun..." Ucap Seorang perempuan cantik biru sebahu yang terlihat sedang duduk di atas kasur tempat pasien dirawat. "Apakah kau baik-baik saja, Naruto kun?" Tanya perempuan tersebut dengan nada khawatir dan sekedar berbasa-basi.
"Aku baik-baik saja, Konan chan." Ucap perempuan cantik bersurai kuning selutut tersebut yang tidak lain adalah Naruto. Setelah menjawab pertanyaan tersebut Naruto langsung mendudukkan dirinya di sebuah kursi yang ada di salah satu sisi kasur tempat perempuan yang ia panggil Konan barusan.
"Bagaimana keadaanmu, Konan chan?" Tanya balik Naruto saat ia sudah duduk di samping kasur Konan.
"Aku sudah jauh lebih baik." Jawab Konan sambil mengulas sebuah senyuman. "Lalu apakah kau sudah melihat bagaimana keadaan yang lain?" Lanjut perempuan berparas cantik tersebut bertanya.
"Belum." Jawab Naruto singkat. "Tapi setelah dari sini, aku akan melihat keadaan mereka satu persatu." Lanjut Naruto menjelaskan.
"Apakah... Kau... Sudah melihat keadaan... Eh... Gaara kun, Naruto kun?" Tanya Konan terputus-pututs karena ia merasa ragu saat akan mentanyakan tentang hal tersebut.
Naruto langsung diam membeku saat mendnegar pertanyaan yang dilontarkan Konan padanya barusan. Ia tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut.
Akhirnya keadaan berubah menjadi canggung dan keheningan menyelimuti kamar tempat perempuan cantik bersurai biru tersebut dirawat. Kedua perempuan disana tidak ada yang membuka suara untuk mengucapkan sesuatu atau sekedar mengalihkan topik pembicaraan yang sempat terputus tadi.
"Gomen Naruto kun, jika pertanyaanku-" "Semalam aku sudah melihat keadaannya, Konan chan." Ucapan Konan yang hendak meminta maaf kepada perempuan cantik bersurai kuning tersebut langsung berhenti saat ia mendengar pernyataan Konan barusan.
"Saat aku datang, dia masih belum sadar dari pingsannya. Dan sepertinya dia mengalami luka yang cukup serius." Lanjut Naruto menjelaskan tentang keadaan Gaara saat semalam ia melihatnya.
"Owh... Begitu ya..." Ucap Konan sambil menundukkan kepalanya saat mendengar kabar kurang menyenangkan tersebut keluar dari mulut suaminya.
Konan memang tidak memiliki hubungan yang akrab dengan lelaki bersurai merah bergelar kazekage tersebut. Akan tetapi ia tahu jika lelaki bersurai merah tersebut merupakan teman dekat dari seseorang yang saat ini ada di dekatnya.
Setelah pembicaraan singkat tersebut keadaan di dalam kamar tersebut kembali hening. Sepertinya kedua perempuan yang ada disana kehabisan topik pembicaraan atau bingung hendak membicarakan apalagi.
"Baiklah Konan chan, aku mau melihat keadaan yang lain dulu." Ucap Naruto sambil berdiri dari kursi yang ia duduki sejak beberapa saat yang lalu.
"Baiklah Naruto kun." Ucap Konan dengan nada lesu. "Tolong jangan terlalu capek ya." Lanjut Konan disertai dengan seulas senyuman indah di wajah cantiknya.
"Hai'." Jawab Naruto sambil mengelus puncak kepala perempuan cantik bersurai biru tersebut.
Konan yang merasakan keberadaan tangan Naruto di kepalanya, langsung memejamkan matanya untuk menikmati sentuhan tersebut. Mungkin hal tersebut adalah hal yang sepele buat kita, akan tetapi sentuhan tersebut terasa sangat nyaman untuk perempuan cantik bersurai biru tersebut.
Srettt
"Kaa chan, kaa chan..." Saat Naruto hendak melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar tersebut, tiba-tiba terdengar pintu tempat kamar Konan dibuka oleh seseorang. Dan orang tersebut langsung memanggil-manggil orang yang ada di dalam dengan suara yang terdengar panik dan sepertinya ada sesuatu yang genting.
"Sssstttttt... Shin, jangan keras-keras begitu..." Ucap Konan saat melihat seorang remaja laki-laki bersurai biru jabrik yang berlari masuk sambil berteriak-teriak. "Ini di rumah sakit, Shin. Jangan berteriak-teriak seperti itu." Lanjut Konan mengingatkan pemuda berusia belasan tahun tersebut.
"Hosh... Hosh..." Pemuda tersebut terlihat terengah-engah sambil memegang kedua lututnya menggunakan kedua tangannya. Sepertinya pemuda tersebut habis berlari.
"Ada apa, Shin?" Tanya Naruto yang melihat salah satu anaknya yang sedang terengah-engah. "Apa ada sesuatu hingga kau terlihat tergesa-gesa seperti itu?" Lanjut perempuan cantik bersurai kuning tersebut bertanya.
"Ah... Kebetulan tou san ada disini..." Ucap pemuda tersebut saat iris kuningnya melihat keberadaan Naruto yang ada di dalam kamar tersebut. "Itu Mi-Mizukage sama-hosh-hosh... Ditemukan pingsan di depan rumah sakit dengan keadaan-hosh-hosh terluka parah..." Lanjut pemuda tersebut sambil terengah-engah.
DEG
Jantung Naruto serasa berhenti saat mendengar kabar buruk yang diucapkan anaknya barusan. Dia benar-benar terkejut dengan kabar tersebut. Iris birunya yang awalnya terlihat tenang, langsung membelalak seketika itu juga.
"Siapa yang memberitahumu tentang kabar ini, Shin?" Tanya Naruto yang terlihat berusaha tetap tenang.
"Ta-tadi aku melihat beliau di depan rumah sakit hosh-hosh... Da-dan beliau memanggil-manggil nama tou san." Jawab lelaki tersebut yang sedikit banyak sudah mulai tenang.
"Apakah beliau sudah mendapatkan perawatan?" Tanya Naruto lebih jauh.
"Saat ini beliau sedang ditangani oleh Sakura baa chan. Dan sekarang beliau ada di ruang gawat darurat." Jawab pemuda bersurai biru jabrik tersebut.
"Hm... Baiklah." Ucap Naruto sambil manggut-manggut. "Shin, tolong jaga ibumu. Tou san akan pergi untuk melihat keadaan Chojuro san." Lanjut Naruto sebelum menghilang dari tempat itu menggunakan hiraishin miliknya.
Sebelum sempat menjawab pertanyaan dari ayahnya, perempuan bersurai kuning yang tadi ada disana langsung menghilang begitu saja.
"Shin, apa yang kau lihat tadi benar-benar Chojuro sama sang Rokudaime Mizukage?" Tanya Konan yang merasa bahwa ia salah dengar tentang kabar yang dibawakan anaknya barusan.
"Benar kaa chan." Ucap remaja bergender lelaki tersebut dengan suara yang terdengar ngotot. "Tadi aku melihatnya di depan rumah sakit dalam keadaan terluka parah dan dalam kondisi setengah sadar. Setelah itu aku langsung memanggil beberapa perawat yang ada di dalam rumah sakit untuk membantu beliau. Saat perjalanan menuju ruang gawat darurat aku sempat mengikuti beliau saat beliau dibawa oleh para perawat menuju ruang gawat darurat. Saat itu beliau terus berucap Hokage dono... Dimana Hokage dono..., maka dari itu aku mencari tou san." Lanjut Shin menjelaskan apa yang ia lihat barusan.
"Lalu mengapa kau malah datang kemari, bukannya seharusnya kau ke kamar tempat tou san dirawat?" Tanya Konan.
"Tadi aku sudah pergi ke kamar tempat tou san dirawat dan aku tidak menemukan tou san disana." Jawab pemuda bersurai biru jabrik tersebut. "Jadi aku memutuskan untuk memberitahu kaa chan tentang kabar ini, eh... Kebetulan tou san malah ada di dalam. Jadi aku sekalian saja memberitahu tou san." Lanjut Shin menjelaskan mengapa ia malah masuk ke ruang tempat Konan dirawat.
"Owh..." Jawab Konan singkat jelas dan padat. "Lalu apakah kau sudah sarapan?" Lanjut Konan bertanya pada pemuda bersurai biru jabrik tersebut.
"Hm..." Gumam Shin sambil menganggukkan kepalanya.
"Lalu apakah kau tidak membawakan sarapan untuk kaa chan juga?" Tanya Konan lagi.
"Eh..." Pemuda tersebut langsung tersentak karena terkejut saat mendengar pertanyaan Konan barusan. Dia langsung gelagapan dan salah tingkah saat itu juga.
"Eh... Ettoo..." Ucap pemuda tersebut tidak jelas sambil menolehkan kepalanya kesana kemari.
"Hihihi... Kaa chan hanya bercanda Shin..." Ucap Konan sambil terkikik geli.
"Arrggghhh... Kaa chan..." Ucap Shin dengan wajah memerah malu karena digoda terus oleh ibunya yang berwajah cantik tersebut.
Sementara itu di ruang gawat darurat...
Terlihat beberapa perawat yang mondar mandir di dekat sebuah kasur tempat seorang lelaki bersurai biru terlihat berbaring dengan kondisi yang memprihatinkan. Lelaki tersebut terlihat mengalami luka di sekujur tubuhnya.
"Hokage dono... Di-dimana Hokage dono..." Ucap Lelaki bersurai biru tersebut dengan nada lemah.
Seorang wanita bersurai merah muda terlihat berusaha keras untuk melakukan pertolongan pada lelaki tersebut dibantu dengan beberapa perawat yang mengambilkan barang-barang yang ia sebutkan.
"Tenanglah Chojuro sama..." Ucap seorang perawat yang berada di dekat kasur tempat lelaki bersurai biru tempat lelaki tersebut berbaring. Entah sudah untuk keberapa kalinya sejak proses penanganan dimulai, perawat tersebut terus mengucapkan hal yang sama.
"Aku harus me-menemui Ho-Hokage sama..." Ucap lelaki tersebut yang tidak lain adalah Chojuro sang Rokudaime Mizukage dengan nada yang terdengar lemah.
"Tenanglah Chojuro san." Ucap seorang wanita bersurai merah jambu yang akhirnya membuka suara. "Jika aku sudah selesai menangani lukamu, aku berjanji akan bilang kepada Naruto untuk segera menemuimu." Lanjut wanita berparas cantik tersebut membuat janji.
Setelah mendengar ucapan wanita tersebut, lelaki bersurai biru tersebut langsung terlihat lebih tenang dan tidak memanggil-manggil sang pemimpin desa tempatnya dirawat saat ini.
Setelah melihat keadaan pasien cukup tenang, para perawat disana langsung bisa bekerja dengan lebih leluasa dan lebih tenang.
'Sebenarnya apa yang telah terjadi padamu, Chojuro san? Mengapa kau bisa mengalami luka separah ini?' Tanya wanita bersurai merah jambu yang tidak lain adalah Sakura dalam hatinya.
'Kemarin Gaara, sekarang kau. Sebenarnya siapa lawan kalian hingga bisa membuat kalian terluka separah ini?' Lanjut Sakura bertanya dalam hati. Sepertinya wanita berusia 30 tahunan tersebut tidak habis pikir dengan apa yang menimpa dua pemimpin desa tersebut.
Tiba-tiba fokus Sakura langsung pecah saat ia merasakan hawa keberadaan seseorang yang sangat ia kenali berasal dari depan ruang gawat darurat.
'Naruto?' Ucap Sakura dalam hati saat fokusnya teralihkan untuk sesaat. Wanita cantik tersebut juga sempat melihat ke arah pintu ruang gawat darurat.
"Ada apa Sakura san?" Tanya seorang perawat yang melihat gelagat aneh dari wanita bermarga Uchiha tersebut.
"Bukan apa-apa..." Jawab Sakura tenang sambil kembali fokus untuk menyembuhkan luka lelaki yang ada di depannya.
"Sakura san, kau Uchiha Sakura san kan?" Ucap Chojuro yang keadaannya perlahan mulai membaik.
"Hai', ini aku Chojuro san." Ucap Sakura dengan nada tenang.
"Bi-bisakah kau memberikan gulungan i-ini kepada Na-Naruto dono..." Ucap lelaki tersebut sambil berusaha meraih sesuatu yang ia selipkan di dalam bajunya.
Lelaki tersebut terlihat kesulitan saat akan mengeluarkan sesuatu yang terlihat sudah ia pegang.
Setelah beberapa saat menunggu sambil terus memfokuskan dirinya untuk mengobati lelaki tersebut, akhirnya Sakura bisa melihat dengan jelas sebuah gulungan yang terlihat terikat dengan rapi sedang dipegang oleh pasien yang sedang mendapat perawatannya saat ini.
"Baiklah, Chojuro san." Ucap Sakura tanpa pikir panjang dan lebih memilih langsung menyanggupi permintaan dari pasiennya tersebut. "Ada lagi yang ingin kau sampaikan?" Lanjut Sakura bertanya pada lelaki berusia 30 tahunan tersebut.
"Tolong bilang pa-pada Naruto dono..." Ucap Chojuro dengan nada yang lemah. "Di-dia menitipkan sa-salamnya untuk be-beliau." Lanjut lelaki tersebut dengan nada lemah bercampur ketakutan yang kental.
"Dia?" Ucap Sakura sambil mengangkat sebelah alisnya. "Siapa maksudmu dengan dia Chojuro san?" Lanjut Sakura bertanya.
Akan tetapi lelaki yang terlihat sudah jauh lebih baik tersebut sudah pingsan terlebih dahulu sebelum ia sempat menjawab pertanyaan wanita cantik bermarga Uchiha tersebut. Akan tetapi ada keanehan dari ekspresi lelaki yang baru saja pingsan tersebut.
Lelaki tersebut terlihat menunjukkan ekspresi ketakutan yang sangat kentara dan tercetak jelas di wajahnya yang kini dalam keadaan pingsan. Sungguh sesuatu yang tidak wajar.
Rasa penasaran yang merayapi hati semakin menjadi-jadi, saat wanita berparas cantik tersebut melihat eskpresi takut yang tercetak jelas diwajah Chojuro.
'Siapakah sebenarnya dia yang dimaksud oleh Chojuro san?' Tanya Sakura dalam hati dengan iris hijaunya yang tak lepas dari wajah takut Chojuro.
Para perawat yang saat itu sedang membantu Sakura juga terlihat saling berbisik satu sama lain. Mereka terlihat membicarakan ekspresi takut yang tercetak di wajah Chojuro.
"Siapa ya kira-kira dia yang dimaksud beliau?" Bisik seorang perawat pada perawat lainnya.
"Entahlah, tapi lihatlah wajah beliau sampai ketakutan seperti itu. Padahal kan beliau dalam keadaan pingsan. Apa jangan-jangan dia yang dimaksud Chojuro sama adalah musuh yang membuatnya terluka hingga separah ini?" Ucap perawat yang lain panjang lebar. Terdengar nada merinding bercampur takut saat perawat tersebut mengucapkan kalimatnya yang terakhir.
"Hei, jangan sembarangan bicara kau!" Ucap perawat yang lain yang menegur perawat kedua yang barusan berucap.
"Cukup kalian semua." Ucap Sakura dengan nada tegas. "Tugas kalian disini adalah untuk merawat semua pasien yang ada di dalam rumah sakit desa Konoha dengan sepenuh hati. Bukan bergosip tidak jelas seperti sekarang ini!" Lanjut Sakura dengan nada tegas.
"Go-gomen, Sakura san." Ucap seorang perawat dengan nada ketakutan. Sementara para perawat yang lain hanya bisa menundukkan kepala masing-masing karena merasa bersalah.
"Baiklah, sekarang cepat kembali ke tugas masing-masing." Ucap Sakura sambil berlalu dari ruang gawat darurat tersebut sambil memasukkan gulungan yang diberikan Chojuro padanya kedalam saku bajunya.
Setelah berucap demikian, beberapa perawat langsung meninggalkan ruang gawat darurat tersebut seperti Sakura. Sementara sisanya terlihat mendorong kasur Chojuro untuk dipindahkan ke ruang rawat bagi para pasien.
Cklek
Saat Sakura sudah berada di luar, ia tidak menemukan keberadaan Naruto disana. Wanita tersebut terlihat celingukan kesana kemari untuk mencari keberadaan perempuan cantik bersurai kuning tersebut.
'Kemana perginya Naruto?' Ucap Sakura dalam hati sambil menghentikan aktifitas celingukannya. 'Perasaan tadi aku merasakan aura keberadaannya disini.' Lanjut perempuan tersebut sambil memegang dagunya.
'Atau hanya perasaanku saja ya?' Lanjut Sakura dalam hati sambil mulai melangkahkan kakinya untuk menuju kantornya.
Sementara itu di tempat Kaguya dan Sara...
Terlihat dua perempuan berparas cantik dengan usia sekitar dua puluh tahunan tersebut keluar dari sebuah pintu dimensi. Kini mereka berdua berada di dalam kamar tempat Naruto beristirahat.
"Apakah kau yakin ini kamar tempat Naruto kun dirawat Kaguya san?" Tanya Sara kepada perempuan cantik bersurai putih panjang yang saat ini sedang berdiri di sampingnya.
"Iya, Sara chan." Jawab Kaguya singkat, jelas, dan padat.
"Darimana kau tahu jika Naruto kun dirawat disini, Kaguya san?" Tanya Sara lebih jauh. "Bukankah kau meninggalkannya begitu saja setelah kau membuatnya pingsan?" Lanjut perempuan bersurai merah tersebut dengan nada kurang suka.
"Tekanan chakra Naruto terasa sangat kuat di ruangan ini, Sara chan." Jawab Kaguya setelah menghembuskan nafas panjang. "Dan jika kau tidak suka dengan caraku saat menghentikan Naruto kun, lain kali jika Naruto kun lepas kendali, kau yang harus menanganinya." Lanjut perempuan cantik bersurai putih tersebut dengan nada setengah mengancam.
"Tidak, aku sangat suka dengan caramu menghentikan Naruto kun." Ucap Sara yang terdengar ketakutan dengan ancaman yang dilontarkan Kaguya barusan. "Tapi ngomong-ngomong, kemana perginya Naruto kun ya?" Lanjut Sara bertanya sambil celingukan sekaligus mengalihkan topik pembicaraan.
"Mungkin dia sedang melihat keadaan para istrinya." Jawab Kaguya sekenanya sambil mendudukkan dirinya di sebuah kursi yang berada di dekat kasur tempat Naruto dirawat.
"Hm..." Gumam Sara sambil manggut-manggut.
'Kenapa perasaanku terasa seperti terbakar saat aku mendengar ucapan Kaguya san barusan?' Ucap Sara dalam hati. 'Ayolah Sara chan, Kaguya san membawamu kemari bukan untuk membahas hal pribadi seperti ini...' Lanjut perempuan bersurai merah tersebut dalam hati berusaha menenangkan perasaannya yang entah kenapa terasa mencelos saat mendengar kalimat yang dilontarkan Kaguya barusan.
Sreettt
Setelah kedua perempuan tersebut menunggu cukup lama, tiba-tiba terdengar suara pintu kamar tempat Naruto dirawat dan menampilkan sesuatu yang sangat mengejutkan.
Dan sesuatu itu adalah tulisan dibawah...
TBC
Kira-kira masalah apa yang akan dibicarakan Kurama kepada Naruto? Lalu bagaimana reaksi Naruto saat mengetahui kedatangan Sara?
Simak terus kelanjutannya minna...
