*Nomor di dalam kurung untuk menandai kata asing yang dipakai, dan pengertiannya ada di foot note

:::

Terinspirasi dari salah satu VCR di Catch Me Tour in Seoul 2012

:::

OFUTARI NO JIEI (THE TWO BODYGUARDS)

Chapter 10: Kyoto no aki (Side Story)

A TVXQ FANFICTION

DISCLAIMER: THE CHARACTERS BELONGS TO GOD AND THEMSELVES

SPECIAL YUNJAE IN KYOTO!

ROMANCE/FLUFF

WARNING FOR MATURE CONTENTS

(Apa saya boleh sebut NC-18? Atau NC-21?)

OOC, FULL OF TYPO(s), CERITA SUKA-SUKA, DIKSI NGACO

DON'T LIKE DON'T READ!

BUKAN EPILOG (mungkin)

:::

Jaejoong membuka ikatan furoshiki pembungkus sekotak bekal yang ia bawa, lalu ia buka juga tutup kotak itu. Terlihatlah berbagai macam nasi kepal yang dibentuk bulat-bulat, telur gulung, sosis goreng, dan lauk makan lainnya. Yunho tertawa kecil karena merasa isi bekal itu seperti bekal untuk anak-anak.

Hari itu mereka pergi ke Kyoto dengan menaiki kereta untuk sekedar berlibur, beristirahat sejenak untuk penghiburan. Ini juga kesempatan bagi mereka untuk melepas rindu setelah satu bulan terpisah oleh jarak, yang satu di Jepang dan yang satu di Korea. Selama satu bulan itu Yunho mengurusi segala keperluannya di negeri ginseng itu. Urusan bisnis dan lain-lain yang tidak bisa ia tinggalkan begitu saja. Hampir setahun ia tinggalkan semua itu dan ia harus memperbaiki apa yang tak sesuai selama tak ada dirinya. Setelah ia urus semuanya, ia berkeputusan untuk tinggal dan menetap di Jepang bersama Jaejoong dan Changmin.

Mereka hanya pergi berdua karena Changmin tidak boleh ikut oleh nenek Yoko. Nenek yang dengan cepat menjadi akrab dengan anaknya itu melarang Changmin ke Kyoto dan malah memintanya pergi berziarah ke makam suaminya. Ia ingin ditemani, tak mau pergi sendirian. Nanti ia akan mengatakan pada suaminya kalau ia dapat cucu baru, katanya. Changmin hanya bisa pasrah, dan dibiarkanlah orang tuanya pergi bedua saja.

Jaejoong dan Yunho hanya akan pergi dua hari. Semalam menginap dan esoknya sudah kembali. Jaejoong tak mau berlama-lama jauh dari sang anak. Yunho maklum. Ia pun tak bisa hanya memikirkan dirinya sendiri. Berlama-lama liburan juga tidak baik, banyak pekerjaan yang tertinggal.

"Kapan kau membuatnya?"

"Ketika kau sedang tidur. Aku membuatnya bersama Changmin." senyum Jaejoong. "Aku sangat senang karena ternyata dia pandai memasak. Dia dengan cekatan membantuku di dapur."

"Mungkin ia mendapatkan bakat itu darimu."

"Kamoshirenai wa ne…" (Mungkin begitu…)

Guncangan kecil pada gerbong kereta itu membuat Jaejoong mengeratkan pegangannya di kedua sisi kotak bekal itu. Untunglah isinya tidak jatuh berhamburan.

Ia memegang sumpitnya, lalu menyapit sekepal nasi yang dicampur dengan jagung.

"Buka mulutmu." Jaejoong berniat menyuapi Yunho.

"Kau terlalu jauh, nasi itu bisa jatuh sebelum sempat masuk ke dalam mulutku. Kenapa kau tidak pindah saja ke sini? Di sampingku?" Yunho menepuk-nepuk bagian kursi yang masih kosong. Ia meminta Jaejoong untuk pindah. Rasanya akan sulit jika harus mencondongkan tubuh ketika ia ingin makan.

"Wakatta, wakatta…" (Aku tahu, aku tahu…)

Yunho memegang pinggang Jaejoong agar ia tak terjatuh karena kereta yang berguncang. Akhirnya namja itu duduk di sebelahnya dengan kotak bekal yang ia pangku.

"Sekarang mana nasiku?" pinta Yunho.

"Kau lucu sekali." Jaejoong terkekeh. Ia memiringkan tubuhnya menghadap Yunho agar lebih nyaman untuk menyuapi namja itu. Yunho terlihat lucu dengan kedua matanya yang tertutup dan mulutnya yang terbuka menunggu sekepal nasi. "Ini."

Nasi itu masuk ke mulut Yunho, lalu ia kunyahlah dengan nikmat. Rasa nasi yang sudah diberi sedikit garam bercampur dengan rasa jagung yang manis. Gigi-giginya mengapit bulir-bulir jagung yang masih renyah itu. Perpaduan yang pas. Tidak terlalu asin dan tidak hambar.

"Shogakusei mitai ni natta naa…" (Aku merasa jadi seperti anak sekolah dasar…)

"Ja, boku wa ano shogakusei no haha da." (Ya, dan aku ibu dari anak sekolah dasar itu…)

"Hehehe. Ibuku…"

"Ya, aku ibumu, bayi besar."

"Aku terlalu tua untuk kau sebut bayi."

"Kau memang sudah tua, siapa yang bilang kau masih muda?"

"Ahh… kau menyakiti hatiku."

"Uuuhh, kau ini membuatku gemas sekali! Sudah, makan lagi!" Jaejoong memasukkan sekepal nasi lagi ke dalam mulut Yunho yang dengan senang hati menerima suapan-demi suapan penuh sayang dari kekasihnya itu. Ia tertawa.

"Kau juga harus makan…" ucap Yunho yang masih mengunyah makanannya. Namja itu merebut kotak bekal yang Jaejoong pegang, juga dengan sumpitnya. Lalu ia pilih apa yang akan ia berikan pada Jaejoong. Pilihannya jatuh pada bola nasi dengan cincangan kani(1). "Aaaa…"

"Aku tidak mau yang itu, aku mau yang ada nori-nya!" tolak Jaejoong mentah-mentah.

"Kau ini pemilih sekali!" Yunho mencebilkan bibirnya lalu menaruh kembali nasi yang ditolak Jaejoong itu dan menggantinya dengan yang lain. "Ini!"

Mulut Jaejoong penuh dengan nasi. Sebentuk gumpalan itu nampak pada pipinya yang menggembung lucu. Seperti hamster. Yunho tak tahan untuk menertawakannya karena geli.

"Apa ada yang lucu?" komentar Jaejoong sinis.

"Tidak ada, Kim-dono."

"Jangan memanggilku seperti itu!"

"Baiklah, sayang."

Jaejoong yang sedang dalam mode marah mendadak tersenyum menahan tawa mendengar ujung kalimat Yunho. Ada yang menggelitik hatinya ketika sejurus panggilan itu ditujukan padanya. Ia tak pernah mendengar Yunho memanggilnya 'sayang' satu kali pun selama mereka hidup bersama.

"Apa? Kau memanggilku apa? Katakan sekali lagi."

"Sa… Sayang." tak dinyana ternyata panggilan itu keluar dari mulut Yunho tanpa sengaja dan sekarang ketika Jaejoong memintanya mengucapkan kata itu sekali lagi ia merasa gugup. Lidahnya geli. Ia hanya bisa tersenyum kaku menunggu respon Jaejoong. Ahh, jangan sampai namja itu marah padanya.

"Ini menggelikan!" Jaejoong tertawa puas hingga ia menundukkan badannya dan menaruh kepalanya di lutut Yunho. Yunho bingung mengapa Jaejoong menganggap ini begitu lucu. Bukankah orang biasanya akan tersipu-sipu jika dipanggil 'sayang' ? Mengapa Jaejoong malah tertawa?

Beberapa orang yang sama-sama duduk di gerbong itu melirik ke arah mereka karena mendengar tawa Jaejoong yang sedikit keras.

"Sudah, berhentilah tertawa… Kau membuatku malu." bisik Yunho sembari mengacak pelan rambut pirang Jaejoong.

"Hiks…" namja itu bangun dengan sebelah tangan yang menghapus kasar air matanya. Jangan-jangan ia tertawa sampai menangis? Ia tersenyum dengan mata tertutup, yang helai bulu matanya beberapa ada yang merapat karena basah.

"Kau sudah puas menertawaiku?" tanya Yunho sarkastik.

Jaejoong hanya menunduk lalu mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Rambutmu sampai berantakan begini…" sebelah tangan Yunho yang tak memegang kotak bekal dipakainya untuk menyentuh rambut Jaejoong dan merapikan rambutnya yang berantakan. Jari-jari itu menyisir helai-helai rambut pirang pucatnya. Pandangan mata Jaejoong mengikuti gerakan tangan Yunho di hadapan wajahnya. Bagi Yunho, tatapan Jaejoong membuatnya terlihat seperti seekor kucing. Begitu menggemaskan.

"Kenapa?"

Mungkin ia sadar Yunho menatapnya agak lain.

"Tidak…" senyum Yunho sembari menggelengkan kepalanya. "Mau makan lagi?"

"Harusnya aku yang bertanya seperti itu, aku 'kan membuat bento(2) ini untukmu."

"Aku tidak mau menghabiskannya sendiri. Kita makan berdua."

"Yunho, apa ada yang salah denganku?"

"Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?"

"Oyaji(3) di sana melirik-lirik padaku terus sejak tadi."

"Tabun, kimi wa kirei na kao wo motte kara. Naa, ano oyaji no igai wa, kono sharyou no naka ni daibun kimi wo miru sou da." (Mungkin karena kau memiliki wajah yang cantik. Ah, selain pak tua itu semua orang di gerbong ini kelihatannya memerhatikanmu.)

Jaejoong menoleh ke samping, lalu ke belakang, dan kembali pada Yunho dengan wajahnya yang kebingungan.

"Jangan pedulikan mereka…"

"Aku takut."

"Sudahlah…" Yunho terkekeh. "Ayo kita habiskan makanan ini."

Kereta itu terus melaju di atas rel besi. Guncangan-guncangan kecil membuat gerbong-gerbongnya bergoyang ke kanan dan ke kiri. Daun-daun kemerahan yang berserakan di tanah beterbangan tersapu angin ketika kereta lewat. Sepanjang jalan, pohon-pohon yang tinggi menjulang berpayung daun-daunnya yang mulai berubah warna menjadi kecokelatan. Ada beberapa yang bahkan semua daunnya telah rontok. Cabang-cabang ranting pohon itu tak terlindungi apa pun.

Sudah dua jam berlalu semenjak kereta itu berangkat dari stasiun.

Jaejoong nampak nyaman tidur bersandar pada bahu Yunho. Mantel tebal yang tadinya Yunho kenakan kini jadi selimut yang membungkus tubuh Jaejoong, agar ia tetap hangat dan tidak kedinginan. Kerah mantel itu berada di atas lehernya hingga sedikit menutupi wajah tidurnya yang damai.

Yunho sesekali melirik malaikatnya itu dan kembali memandang deretan pohon momiji(4) di sisi jalan lewat jendela yang tak dibuka. Ia menopang dagu, tangannya bertumpu pada bingkai jendela. Lalu satu tangannya yang lain digenggam oleh dua tangan Jaejoong yang mengapitnya, ikut bersembunyi di dalam selimut mantel yang hangat itu.

Walau pun perjalanan jadi terasa lama karena ia tak punya teman bicara, tapi ia merasa tenang karena Jaejoong ada di sisinya. Ia bahkan berharap stasiun tempat kereta itu berhenti lebih jauh jaraknya…

:::

OFUTARI NO JIEI

KYOTO NO AKI

:::

"Waahhh dingiin!"

Pekik Jaejoong sembari merapatkan mantelnya. Ia disapa udara dingin musim gugur di Kyoto. Daun-daun kering yang diinjaknya di jalanan menimbulkan bunyi yang khas. Khas musim gugur. Tak ada jalanan yang bersih dari guguran daun. Jaejoong merapatkan diri pada Yunho dan mengaitkan tangannya di lengan namja itu.

"Bagiku ini tidak terlalu dingin."

"Aku tinggal lama di daerah yang lembab…"

"Ahh ya, Okinawa memang lembab. Mungkin musim gugur pun masih tetap hangat 'kan?"

"Iya. Bahkan di musim dingin jarang turun salju…"

Dari stasiun tempat kereta itu berhenti, mereka harus berjalan lagi untuk sampai ke penginapan yang telah dipesan. Agak jauh memang, tapi tak masalah karena sepanjang jalan mereka disuguhkan pemandangan musim gugur Kyoto yang indah. Daun-daun merah yang bergerak mengikuti air yang mengalir dengan lembut membuat sungai di bawah jembatan terlihat lebih cantik.

Setelah lima belas menit berjalan, akhirnya mereka sampai di sebuah penginapan tradisional. Seorang pria tua menyambut mereka di genkan penginapan itu. Sehabis mengurus administrasi, mereka diijinkan masuk ke kamar. Pria yang sama jugalah yang mengantarkan mereka sampai ke kamar itu. Ia begitu ramah dan sopan. Sepertinya ryokan ini juga adalah milik keluarganya hingga tak banyak orang yang bekerja di sana. Mungkin pekerjanya hanya pria tua itu juga istri dan anak-anaknya.

"Arigatou gozaimashita, Oji-san…" (Terima kasih, paman.) ucap Yunho sembari membungkuk berterima kasih.

"Iie, iie." pria tua itu membungkuk sedikit sambil mengibas-ibaskan tangannya. "Silakan beristirahat. Panggil saja saya kalau ada apa-apa." ucapnya.

"Wakarimashita." (Aku mengerti.)

Pria tua itu tersenyum lebar. Ketika pandangannya beralih pada Jaejoong, senyuman itu jauh lebih lebar lagi. Jaejoong hanya tersenyum kikuk. Ia merasa aneh.

"Maaf, istri anda terlalu cantik hingga saya jadi gugup. Ahh, maaf, saya harus kembali. Kalau begitu saya permisi." ucap pria tua itu pada Yunho sebelum ia kembali ke tempatnya menerima tamu. Setelah pria itu tak terlihat lagi, Yunho menoleh pada Jaejoong yang berdiri di belakangnya. Ia tertawa.

"Nani?" (Apa?) tanya Jaejoong yang cemberut.

"Pria tua seperti dia saja terpikat olehmu." sindirnya.

"Aah, aku tidak peduli! Sudahlah, aku mau masuk!" kata Jaejoong kesal. Ia menggeser fusuma dengan kasar.

Yunho ikut masuk dan menutup kembali pintu geser itu. Ia menaruh tasnya di lantai, lalu membuka mantel yang ia pakai. Setelah itu ia mendekati Jaejoong untuk melepaskan mantelnya. Namja itu sepertinya telalu sibuk memerhatikan seisi kamar.

"Kemari."

Yunho menarik mantel yang Jaejoong pakai dari ujung kerahnya. Jaejoong sedikit menoleh ke balakang ketika mantelnya terasa ditarik turun. Ia pun selangkah maju untuk memudahkan Yunho melepaskan mantelnya.

"Kau mau mandi?"

"Nanti saja, aku ingin duduk-duduk dulu sebentar."

"Apa kakimu sakit karena berjalan jauh?"

"Tidak juga. Hanya saja aku sedikit lelah."

"Kalau begitu istirahatlah dulu. Nanti kita mandi di onsen(5), lalu malam harinya kita keluar."

"Ke mana?"

"Ya… Jalan-jalan saja di sekitar sini."

"Shitsureishimasu, haitte mo ii deshouka? Ocha o motte kimasu…" (Permisi, apa saya boleh masuk? Saya membawakan teh untuk anda…)

Mereka mendengar suara seorang gadis. Yunho menggeser fusuma, dan di depan pintu ada seorang anak perempuan berambut hitam. Wajahnya sedikit mirip dengan pria yang menerima mereka di ryokan ini, mungkin dia adalah anak dari pria itu. Atau cucunya barangkali.

"Arigatou."

Yunho menerima senampan teko dan dua gelas keramik itu di depan pintu. Ia tak ingin anak itu masuk dan melayaninya dengan menuangkan teh untuknya dan Jaejoong. Tidak perlu. Ia merasa tidak enak dilayani oleh anak-anak. Sepertinya gadis kecil itu malah lebih muda dari Changmin. Mungkin usianya baru 15 tahun.

Setelah gadis itu pergi, Yunho menutup pintu dan menaruh nampan itu di lantai.

"Kau mau minum teh?"

"Tuangkan untukku segelas."

Tak sengaja Yunho terkekeh. Ia tiba-tiba ingat kebiasaan Jaejoong yang suka memperlakukannya seperti pelayan.

"Ini tehmu Kim-dono…"

"Hei, aku risih mendengar panggilan itu…"

"Maafkan aku Kim-dono…"

"Hentikan, Yunho! Kau mau kusiram teh, ya? Ini panas, tahu!" ancam Jaejoong geram.

"Sekarang aku mengerti mengapa kau suka sekali menggodaku. Ini menyenangkan."

"Tunggu saja pembalasanku…"

"Minum saja dulu tehmu…"

Udara dingin yang juga terasa di dalam kamar sedikit terusir oleh uap yang mengepul di atas segelas teh panas. Juga ketika air kehijauan itu dituangkan dari tekonya, dari mata yang melihatnya, kehangatan itu menjalar ke seluruh tubuh, terutama ketika diminum.

Sesesai minum teh dan beristirahat sejenak, Yunho mengajak Jaejoong untuk pergi mandi. Tadinya Jaejoong menolak karena ia merasa belum butuh mandi –selain karena merasa tubuhnya tidak bau dia juga malas untuk masuk ke dalam air. Jaejoong tidak mau mandi di onsen. Akhirnya, daripada pergi sendirian Yunho memutuskan untuk mandi di ofuro saja. Kebetulan di samping kamar itu disediakan satu ruangan untuk mandi, yang sudah satu paket dengan kamar yang dipesan. Jaejoong tak menolak kalau mandi di ofuro. Ia tidak perlu melangkahkan kakinya jauh ke luar ryokan.

Yunho menemui pelayan untuk meminta disiapkan air, setelah menunggu, tak berapa lama pelayan itu memanggil. Air sudah siap. Mereka bisa mandi.

Jaejoong membuka pakaiannya lebih dahulu daripada Yunho. Entah namja itu menunggu apa, tapi selama Jaejoong melepas pakaiannya satu persatu, Yunho hanya duduk di bangku kecil sambil memandanginya dengan bertopang dagu.

"Kau tidak mandi?"

"Aku akan mandi." akhirnya ia beranjak untuk melepas pakaiannya yang kemudian ia taruh dalam keranjang. "Aku akan menggosok punggungmu."

Mereka terlebih dahulu membersihkan diri dengan sabun, lalu mengguyurkan air mulai dari ujung kepala hingga air itu jatuh dan mengalir dengan sendirinya membasahi setiap bagian tubuh. Mereka duduk di atas dua buah bangku kecil dengan saling berpunggung-punggungan. Pertama Yunho yang menggosok punggung Jaejoong dengan handuk kecil. Jaejoong yang merasa kegelian sesekali membungkuk untuk menghindar. Giliran ia ingin menggosok punggung Yunho, namja itu malah menolak, sampai akhirnya dipaksa dengan ancaman Jaejoong akan menjambaki rambutnya sepanjang malam.

Setelahnya mereka masuk ke dalam ofuro yang penuh terisi air hangat. Ketika dua orang itu masuk secara bersamaan, sebagian airnya tumpah, mengalir pada sisi-sisi ofuro yang terbuat dari kayu. Bak mandi itu cukup untuk dua orang, meski pun mereka harus sama-sama menekuk kaki. Keduanya duduk berhadapan. Mereka diam sesaat, larut dalam pandang dan khayal masing-masing. Tapi kemudian sama-sama tertawa entah karena alasan apa.

Jaejoong membasuh bahu dan lehernya dengan air hangat itu. Ia memejamkan mata sembari sedikit meneleng ke kiri, membiarkan airnya meresap. Sensasi kehangatannya membuat otot-ototnya berangsur rileks.

"Jae."

"Hm?"

"Kemarilah, aku ingin memelukmu."

Jaejoong menggeser tubuhnya maju, lalu berbalik memunggungi Yunho. Ia pun menyamankan diri dengan bersandar di dada namja itu. Tahu-tahu ia sudah didekap dengan erat. Tubuhnya diapit dua kaki Yunho yang terbuka.

"Kau hangat."

"Hm?" Yunho tampaknya tak mendengar jelas perkataan Jaejoong karena dia terlalu asyik menikmati aroma tubuh Jaejoong yang menguar seperti uap air. Hidung dan bibirnya tak lepas dari belakang kepala Jaejoong yang ia baui.

"Changmin sedang apa ya, sekarang?"

"Mungkin ia sedang makan besar bersama Yoko-baasan."

"Aku tidak ingin meninggalkannya lama-lama."

"Kemarin ia tidur denganmu, nanti malam saat ia tidur ia pasti mencarimu, Jae. Tapi besok 'kan kita pulang, jangan khawatir."

"Aku merindukannya."

"Aku juga."

"Kadang aku merasa waktu begitu cepat berlalu, dulu dia ada dalam perutku, kecil dan rapuh. Sekarang ia sudah besar." ujar Jaejoong mengingat masa lalu. Tangannya ia taruh di perutnya sendiri. Ia ingat ketika ada bayi dalam kandungannya yang setiap hari makan bersamanya, merasakan apa yang ia rasakan. Kini bayi itu sudah tumbuh menjadi anak laki-laki yang tampan.

"Ya, dia sudah besar." Yunho mengecup pelipis Jaejoong, lalu menyandarkan kepalanya di bahu namja itu.

"Lain kali Changmin harus ikut…"

"Iya, dia pasti senang bisa jalan-jalan. Tapi anggaplah kali ini adalah kesempatan kita untuk menghabiskan waktu berdua, Jae. Aku juga ingin berduaan denganmu…"

"Kau ini egois sekali. Kau pasti iri aku lebih banyak menghabiskan waktuku bersama anakku?"

"Iya aku iri pada anakmu."

"Dia anakmu juga."

"Ya, ya dia anak kita…"

Mereka sama-sama menikmati berendam di air hangat yang nyaman. Yunho sesekali mengecupi kepala, leher dan bahu Jaejoong tanpa takut namja itu terusik. Buktinya Jaejoong hanya diam saja.

"Hei, jangan tidur…" usik Yunho.

"Kau tahu saja aku mengantuk."

"Habis ini aku masih ingin pergi ke luar…"

"Jalan-jalan?"

"Un. Sebentar saja."

:::

OFUTARI NO JIEI

KYOTO NO AKI

:::

Para geisha(6) berjalan dengan anggun, mengenakan kimono berwarna cerah yang kerahnya turun mempertontonkan lehernya yang mulus. Wajah mereka putih terpoles bedak tebal, dengan bibir merah mengkilap, mereka tersenyum pada pria-pria yang lewat dan berpapasan, atau pada orang yang kebetulan bertemu pandang. Cara jalannya yang melangkah kecil-kecil membuat bentuk bawah kimono mereka tak berubah. Seperti di dalam kimono itu ada tali yang mengikat kedua tungkai kakinya. Zori(7) yang mereka gunakan bersuara khas.

Suasana malam di Kyoto memang ramai oleh wisatawan yang berjalan-jalan, apalagi di musim gugur seperti ini, meski pun cuacanya dingin, orang tetap saja ingin pergi ke luar. Lampu-lampu yang dipasang di sepanjang jalan berwarna kekuningan, cahayanya berpendar dan membuat daun-daun momiji di dekatnya terlihat, sama warnanya. Para pedagang yang membuka lapak mereka di depan benteng penginapan juga memasang lentera. Beberapa kedai terlihat ramai oleh orang-orang yang datang untuk makan atau sekedar menikmati sake.

"Apa mereka tidak kedinginan?"

"Mungkin karena mereka senang jadi dingin pun tak terasa."

Yunho merangkul Jaejoong. Namja cantik itu nampaknya kurang nyaman dengan udara malam yang dingin. Padahal ada mantel yang menutupi kimono biru tua bermotif awan dan burung bangau yang ia kenakan. Juga sebuah syal ia kalungkan di lehernya. Tak seperti Yunho yang nampak nyaman-nyaman saja, ia hanya mengenakan luaran tipis yang melapisi kimono kelabunya. Warna mendung kimono dan obi(8) hitamnya begitu serasi, senada dengan luaran pakaiannya yang juga berwarna gelap.

Mereka berjalan pelan-pelan sembari menikmati jalanan yang ramai namun tak penuh sesak. Jelaslah karena hari itu tak ada festival yang berlangsung. Jika saja ada, mungkin orang-orang akan tumpah ruah memenuhi jalan.

"Kau mau bubur kacang merah? Kelihatannya enak."

"Ya, kau belilah juga untukku. Aku mau melihat-lihat omamori(9) di sana." Jaejoong menunjuk sebuah lapak yang menjajakan omamori di sebelah kanan jalan, tak jauh dari tempatnya berdiri.

"Baiklah, aku akan ke sana setelah membeli bubur."

Mereka berjalan ke arah yang berlawanan. Jaejoong ke tempat omamori, sementara Yunho ke tempat bubur kacang merah. Rupanya aroma manis dan asap yang mengepul dari panci besar yang digunakan untuk menghangatkan bubur itu membuat seleranya tergugah. Makanan manis di malam hari yang dingin memang terbaik. Ia tak terlalu suka minum sake untuk menghangatkan diri di saat seperti ini.

"Niisan, neesan, baba, jiji, omamori douzo!" (Kakak-kakak, nenek, kakek, silakan omamori-nya!)

Penjual omamori itu berseru dengan keras untuk menarik perhatian para pejalan kaki yang lewat. Jaejoong berhenti di depan lapak dagangannya yang penuh oleh omamori dan boneka-boneka daruma. Benda-benda itu tersusun rapi.

"Nee-san douzo, omamori! Dochira ga suki desuka?" (Silakan nona, omamori-nya! Yang mana yang kau sukai?)

Jaejoong tertawa karena ia disangka perempuan oleh penjual itu. Tapi ia tak mengatakan kalau ia sebenarnya adalah seorang namja. Ah, ia tidak mau membuat si penjual malu karenanya. Sudahlah, biar saja.

"Kawaii…" (Lucunya…)

"Silakan pilih mana yang nona suka, ada omamori jodoh, kesehatan, rejeki, omamori untuk anak sekolah, dan masih banyak lagi. Silakan dipilih, silakan dipilih…"

"Ah, aku ingin omamori untuk sukses belajar. Ada?"

"Ada, ada. Tentu ada nona! Ini, ini. Ini omamori-nya." tunjuk si penjual dengan sopan. Telapak tangannya ia perlihatkan, lima jarinya searah menunjuk pada sebarisan omamori. "Adik anda pasti akan sukses belajar dengan omamori ini."

"Oh, ini untuk anakku! Hehe."

"Waaah tak kusangka Anda sudah punya anak! Saya kira Anda masih belia! Wajah Anda begitu segar dan muda!" puji si penjual. Jaejoong sedikit tersipu, ia menangkup wajahnya sambil tertawa.

"Aku juga ingin omamori untuk suamiku, tapi aku bingung omamori apa yang harus kuberi."

"Doakanlah agar dia selalu sehat dengan omamori ini." si penjual mengambil sebuah omamori berwarna hijau.

"Ahh, betul juga."

"Supaya lengkap, Nona juga belilah omamori jodoh ini. Saya doakan supaya Anda bisa selalu bersama dengan orang yang Anda cintai…" ujarnya sembari menyodorkan omamori lain yang berwarna merah muda.

"Kalau begitu aku ambil ketiganya. "

"Yaa terima kasih nona cantik!"

"Kau bisa saja, Oji-san! Sekali mengail, tiga barang terjual!"

"Ahahaha. Saya bukan hanya menjual tapi juga berdoa untuk siapa saja yang membeli dagangan saya!"

Jaejoong membayar tiga omamori yang ia beli, lalu membawanya pada sekantung kecil kain yang ia jinjing. Pas sekali, ketika ia berjalan beberapa langkah untuk menghampiri Yunho, namja itu juga sedang berjalan menuju ke arahnya.

"Sudah? Kau beli omamori?"

"Ya. Aku beli untukmu dan untuk Changmin juga."

"Untukku?"

"Yaa, lihatlah ini. Aku membelikanmu omamori kesehatan. Supaya kau selalu sehat." Jaejoong membuka kaitan kantung itu dan mengeluarkan omamori hijau untuk ditunjukkan pada Yunho.

"Aaah, terima kasih…"

"Tapi aku tidak ingin kau memegangnya sekarang."

"Ha? Kenapa?"

"Nanti hilang. Sampai di ryokan saja baru kuikatkan pada tasmu."

"Begitu…" Yunho mengangguk. "Ini, bubur kacangmu. Makanlah selagi masih panas…"

"Waaa… oishi sou na kore!" (Wah, kelihatannya enak!)

"Ayo kita cari tempat untuk duduk."

Mereka berjalan sedikit melewati beberapa lapak pedagang. Sampai di ujung jalan, jejeran lapak itu habis. Terlihatlah bangku-bangku besi di tepian, sebagian sudah diduduki orang, tapi untunglah mereka menemukan sebuah bangku yang masih kosong.

Kemudian duduklah mereka di bangku itu. Bubur kacang merahnya tak sepanas saat tadi dibeli. Tapi hangatnya cukup, hingga tak perlu ditiup lagi sebelum dimakan. Teksturnya yang kental dan rasanya yang manis membuat rongga mulut menghangat ketika gigi mengunyah. Jaejoong tersenyum ketika merasakan bubur itu di dalam mulutnya. Pipinya memerah. Ia telihat begitu manis, bahkan mungkin melebihi manisnya bubur kacang merah itu. Yunho tak mengerti mengapa pesona Jaejoong malah kian memikat meski pun usianya sudah matang. Jaejoong dahulu begitu memesona dengan kecantikannya yang segar dan polos. Sekarang kecantikan itu tergambar lewat kedewasaan dan gestur keibuan yang ia miliki.

"Enak?"

"Iya. Mungkin aku akan mencoba membuatnya sepulang nanti. Changmin pasti suka. Aku akan bertanya pada Yoko-baba bagaimana cara membuatnya."

"Aku juga mau kalau kau yang membuat."

"Kau harus membantuku membuatnya, jangan mau makannya saja…"

"Kau tahu 'kan kalau aku tidak bisa memasak?"

"Hanya bubur kacang meraah!"

Jaejoong mencubit pipi Yunho gemas.

"Aku takut kau masuk angin gara-gara terlalu lama di luar. Setelah ini kita pulang."

"Pulang ke Gunma?"

"Pulang ke ryokan, sayang…"

"Kau memanggilku sayang lagi? Itu membuatku geli!"

"Kau tidak mau, ya? Ya sudah…" Yunho mengaduk-aduk bubur di cup yang ia genggam, lalu memasukkan sesendok ke dalam mulutnya.

"Kau marah?"

"Tidak…" gelengnya.

"Kau marah padaku ya?" goda Jaejoong.

"Tidak, Kim-dono…"

"Makan yang benar!"

Yunho tak sempat menoleh, dan Jaejoong tanpa aba-aba sudah mengecup ujung bibirnya. Dengan gerakan menyesap yang singkat, ia kembali duduk seperti semula. Lidahnya bergerak menjilat bibirnya sendiri. Yunho melirik tanpa bicara.

Ia lalu mendaratkan bibirnya pada bibir Jaejoong sebagai balasan. Kepala Jaejoong naik turun seiring bibirnya yang bergerak searah. Tak lama ia mundur dan menutup mulutnya. Yunho juga sadar mereka telah bermesraan di tempat umum.

Jaejoong berdehem sambil memalingkan muka.

"Aku ingin kembali ke ryokan sekarang."

Nampaknya dadanya berdesir, sentuhannya pada Yunho tadi membuat ia merasakan sesuatu yang menjalar sampai ke ujung kakinya. Padahal ia yang memulai, tapi ia yang terpancing sendiri.

"Baiklah."

Yunho menggandeng tangan itu dan membuat Jaejoong harus berdiri dan langsung berjalan mengikutinya. Seperti terburu-buru Yunho membawanya melangkah tak tenang. Apa Yunho juga merasakan hal yang sama?

Mereka tiba di ryokan. Fusuma digeser, Jaejoong masuk duluan ke dalam kamar disusul oleh Yunho yang kemudian menutup kembali pintu itu. Jaejoong menubruknya dari belakang sebelum ia sempat berbalik. Terdengar kekehan kecil yang meluncur dari bibir namja itu sementara ia bersandar di punggung Yunho dengan tangan yang melingkar di pinggangnya.

Mungkin Jaejoong sedang ingin bermesraan dengannya. Namun hasratnya jadi menggebu ketika ia menyentuh lengan Jaejoong yang tersembunyi di balik kimono-nya. Lengan yang begitu hangat dan lembut.

"Aku akan menggelar futon dulu." kata Jaejoong sembari berlari kecil membuka pintu lemari yang digeser. Di dalamnya ada dua lembar futon juga sepasang selimutnya. Tapi yang ia ambil hanya satu. "Ohh hangat sekali."

Yunho tertawa melihat Jaejoong mengerudungkan selimut itu hingga menutupi badannya. Ketika Jaejoong hendak menaruh selimut itu dan membenarkan letak futon-nya, Yunho menangkapnya dari belakang dan membuat namja cantik itu berdiri tegak lagi, tertarik oleh dua lengan yang mengunci pinggangnya.

"Lepaskan dulu mantel dan syalmu. Di dalam sini tak sedingin di luar."

"Kalau begitu lakukanlah."

Yunho berjalan sedikit ke depan, Jaejoong berdiri dengan wajah menengadah. Ia menyerahkan dirinya pada namja itu, dengan kedua mata terpejam dan bibirnya yang menyunggingkan senyum. Akhirnya tangan Yunho bergerak untuk menarik syal itu dari leher Jaejoong. Dikecupnyalah selingkar leher yang telah menghangat karena dibalut syal itu. Setelah itu mantelnya yang dilepas. Tersisalah kimono-nya yang utuh terlihat.

Yunho menyelipkan tangannya di antara kedua tangan Jaejoong yang terbuka, melingkar di pinggang yang terikat obi itu. Wajahnya ia dekatkan dan benturan kecil mengadukan kepalanya dan kepala Jaejoong. Yunho perlu menunduk untuk memberi kecupan pada kening namja itu. Jaejoong membalas dengan mencium bibirnya mesra, tangannya bermain-main mengusap pipi dan rahangnya yang mulai menghangat karena disentuh.

Bibir semerah plum itu bagai candu. Seperti madu. Sangat lezat untuk dihisap dan dikulum.

Perlahan Jaejoong semakin mundur ke belakang, sampai kemudian ia jatuh. Entah karena ia tak tahan lagi berdiri atau Yunho yang memang mendorongnya. Tapi yang jelas tangan besar itu tetap menumpunya meskipun ia sudah menyatu dengan lantai.

"Kenapa kau memandangku seperti itu?" tanya Yunho melihat pandangan Jaejoong serta tawanya yang aneh.

"Aku tahu kau tidak bisa menahan berahimu." sindirnya.

"Kau yang meminta. Jangan salahkan aku."

"Ternyata kau mengerti apa maksudku."

"Aku tahu ketika kau berkata ingin pulang."

"Hahahaha."

Kimono itu sekali ditarik obi-nya saja sudah terbuka hingga ke bawah, mempertontonkan lekuk tubuh Jaejoong yang sempurna walau masih berbalut kaus tipis dan celana panjang. Yunho merasa heran mengapa Jaejoong masih mengenakan pakaian tambahan dibalik kimono-nya. Mungkin karena ia tak terbiasa dengan udara dingin musim gugur di sini.

"Apa pakaian itu membuatmu hangat?"

"Ya. Apa ini terlihat lucu bagimu?"

"Tidak, hanya sedikit aneh. Apa kalau kulepaskan akan membuatmu kedinginan?"

"Kalau begitu peluklah aku supaya aku tidak kedinginan…"

Yunho mendapat lampu hijau untuk melucuti seluruh pakaian yang Jaejoong kenakan. Tapi ia tak menyingkirkan kimono biru tua yang tertindih punggung namja itu. Mungkin Jaejoong akan merasa lebih nyaman berbaring di atas kain kimono ketimbang berbaring di atas tatami secara langsung. Tekstur tatami bisa menimbulkan bekas berupa garis-garis di punggungnya.

Tanpa sadar keduanya lupan akan futon yang tergelar di sana.

"Kulitmu masih seputih salju walau tinggal di daerah seperti Okinawa." puji Yunho sembari mengecup rahang Jaejoong.

"Apa kau suka kalau kulitku kecokelatan?"

"Tidak, aku lebih suka kulit putihmu yang akan memerah dengan begitu mudahnya."

"Hihihi." Jaejoong terkekeh geli saat Yunho menjilat telinganya dan menggigit cupingnya gemas. Benar apa yang diucapkan namja itu, kulit Jaejoong memerah dengan mudahnya.

Bibir itu beralih pada wajah Jaejoong, menjelajahinya tanpa melepas sentuhan daging kenyal itu dengan kulit wajah Jaejoong yang licin. Namja itu sesekali tertawa jika ia merasa geli. Biarlah ia puas tertawa, Yunho akan memberikan permulaan yang menyenangkan baginya.

"Apa yang kau lakukan?" Yunho menggesek-gesekkan hidung bangirnya pada hidung Jaejoong. Jelas Jaejoong bertanya karena merasa namja itu seperti kucing yang sedang merajuk.

"Hidungmu tidak akan patah kalau aku melakukan ini 'kan?"

"Tentu saja tidak!" Jaejoong tertawa lagi. Kemudian ia mendongakkan kepalanya untuk mencuri ciuman Yunho. Ia kembali bersandar di lantai setelah ia dapatkan apa yang ia mau. Tangannya mengusap-usap rambut Yunho dengan sayang. Ciuman itu tak terlalu cepat dan tak terlalu lambat, tapi dinamis. Berkali-kali Jaejoong harus meneguk saliva yang memenuhi mulutnya. Entah saliva siapa itu, miliknya sendiri atau milik Yunho yang bercampur dalam mulutnya. Sementara lidah mereka saling membelit dan membuat sebagian saliva meleleh dan mengalir melewati dagu dan lehernya. Ciuman yang begitu nikmat.

"Sepertinya kau mulai lihai, belum kudengar suaramu sejak tadi." kata Yunho saat Jaejoong menarik napas. Jaejoong hanya tersenyum, menyeka saliva dari mulutnya. "Jangan."

Yunho menarik tangan itu, lalu dikuncinya dalam genggaman. Ia tak mau Jaejoong menyeka salivanya sendiri, leher yang basah itu terlihat menggairahkan, Yunho ingin memagutnya. Karena itulah ia menghentikan Jaejoong.

"Aduh!" pekik Jaejoong. Yunho menggigit lehernya dengan keras. "Sakiit…"

Yunho mengecup singkat pipi Jaejoong untuk meminta maaf. Tapi tangan yang ditahannya itu bergerak naik untuk menjambak rambutnya.

"Sakit, Jae!"

Tangan itu ditangkapnya kembali. Yunho lagi menguasai tangan Jaejoong. Ia tak membiarkan tangan itu turun kembali untuk terkulai di lantai, ia memegangnya agar tetap terangkat, lalu ia menyesap daging pada bagian dalam lengan atas Jaejoong.

"Aww! Aahh!" Jaejoong memekik kesakitan saat gigi-gigi itu mengigit lengannya. Ia hanya mengepalkan tangan menahan sakit sambil menggeliat tak nyaman. Yunho sepertinya tak cukup menyesap dan menggigit bagian itu satu kali, ia mengulanginya berkali-kali hingga ia puas, dan setelahnya ia memandangi bekas gigitannya yang tercetak jelas di kulit putih itu. Lama-lama pasti membiru. "Kau menyakitiku!"

Jaejoong menarik kembali tangannya dan kini gilirannya untuk membalas Yunho.

"Aakh!"

Ia menggigit lengan bawah Yunho dan dengan sengaja menggerak-gerakkan gigi-giginya agar namja itu kesakitan. Lengan bawah yang tak setebal bagian atasnya itu memudahkan Jaejoong untuk menggigitnya.

"Ini pasti akan berbekas."

"Tapi tidak seperti lenganku, lihat, sekarang saja sudah seperti ini, mungkin besok akan menghitam!"

Dimarahi seperti itu Yunho malah tertawa.

"Aku akan membuat yang lainnya. Aku suka pinggangmu."

"Tunggu!"

Jaejoong menangkup wajah itu dan menghetikannya untuk mundur.

"Apa?"

Ia hanya diam dengan wajahnya yang memerah, seperti sedang malu-malu. Tahu-tahu kepala Yunho sudah diarahkan pada dadanya. Bibir namja itu berada tepat di atas puting susunya.

"Uuhhh…" entah apa yang Jaejoong rasakan hingga ia mendesah pelan padahal Yunho belum melakukan apa-apa. Mungkin ia hanya butuh sentuhan di bagian itu.

Mendengar desahan Jaejoong, Yunho memainkan lidahnya untuk menjilat bagian kecil yang menonjol di puncak dada itu. Seiring mulutnya bergerak untuk mengulum dan menghisap, tangannya bermain di dada Jaejoong yang satunya. Jari-jarinya menekan-nekan lemak berlapis kulit itu, perlahan meremasnya. Bentuk dada Jaejoong begitu pas di tangan Yunho untuk ia sentuh.

"Aahhhhh… Jangan digigit…" pinta Jaejoong lembut. Yunho jelas menurut. Lagipula ia ingin menggigit bagian lain dari tubuh Jaejoong. Ia ingin menggigit pinggangnya yang ramping. Mungkin akan ia lakukan setelah ini.

Lalu dada itu ia hirup aromanya, ia baui. Yang sebelah tak ketinggalan untuk ia jelajahi dengan lidahnya. Jaejoong bergerak menggeliat dengan punggung yang terangkat sedikit-sedikit, menikmati friksi yang mulai menjalar dari titik sensitifnya. Tangannya tak ia lepaskan dari kepala dan bahu Yunho, seperti takut namja itu akan berhenti tiba-tiba.

"Mmmhhhhh…" Jaejoong menggigit bibirnya sendiri. Ia membuka mata. Mungkin telah habis khayalnya pada kenikmatan kuluman itu. "Aahh!"

Ia memekik sedikit keras saat tangan Yunho menyelip di belakang punggungnya. Kain kimono yang halus itu terhalang lima jari yang hangat, sentuhannya menggelitik lekuk punggungnya. Sementara itu Yunho mundur sedikit untuk mencapai perut Jaejoong. Dihujanilah perut itu dengan ciumannya. Perut Jaejoong nampak masih kencang walau ia sudah pernah melahirkan. Yunho suka bagian tubuh itu, di mana ia pernah menitipkan Changmin selama sembilan bulan di dalam sana.

Bergeserlah ia ke samping, berhenti di lekuk pinggang Jaejoong. Ia gigit kulitnya dengan gemas. Tidak ia gigit dengan keras satu kali, tapi seperti kelinci yang menggigiti wortel, gigitan-gigitannya kecil namun terus-menerus.

"Ahh! Ahhhh!" Jaejoong hanya bisa memekik menahan sakit. Rasanya seperti dicubit namun dengan sesuatu yang keras, bukan dengan jari tapi dengan gigi. Entah mengapa ia mulai menangis. "Huuu…"

"Jae, apa itu sakit?" tanya Yunho mendengar suara Jaejoong yang mulai tenggelam.

"Tentu sakit!" keluhnya. Tapi ia tak menghentikan air matanya yang jatuh.

"Apa kau ingin aku berhenti sekarang?"

"Kau bercanda?!"

BRUKK!

Jaejoong tiba-tiba bangun dan mendorong Yunho hingga ia jatuh membentur lantai. Dua tangannya ada di atas bahu Yunho, begitu pun tubuhnya yang berada di atas namja itu, duduk menindih perutnya. Ia lantas membungkuk dan mendekatkan wajahnya pada wajah Yunho.

Setetes air jatuh ketika matanya berkedip, jatuhnya tepat pada mata Yunho yang reflek menutup ketika merasakan ada sesuatu yang masuk ke dalamnya.

"Aduh, perih!"

Tangan Yunho terangkat untuk menyentuh matanya sendiri, tapi dicegah Jaejoong dengan memegangnya dan berhentilah tangan itu di udara.

"Jangan." ucapnya.

Tangan itu Jaejoong taruh kembali di lantai, dilepaskannya. Lalu ia beralih menangkup wajah Yunho dan merasakan keras rahangnya dengan jari-jarinya yang bergerak naik turun.

"Giliranku."

Bibirnya bergerak mengulum bibir bawah Yunho yang lebih tebal dari bagian atasnya. Yunho sengaja membuka mulutnya agar Jaejoong bisa bermain-main dengan lidah dan rongga mulutnya. Ia merasakan ujung lidah yang bergerak-gerak itu menyapu gigi-gigi depannya, mencari di mana ia bisa membelit sesuatu. Berbanding terbalik dengan Yunho yang menikmati ciuman itu tanpa bersuara, Jaejoong malah terus bersuara dengan mendesah kecil dan pendek. Seperti kucing yang mengeong-ngeong ketika menikmati makanannya yang lezat.

Yunho tentu tak menyia-nyiakan kesempatan untuk menjelajahi bahu, punggung, pinggang, dan paha Jaejoong yang begitu bergerilya mengelus paha Jaejoong yang mulus.

"Fuahhh…" Jaejoong mendongakkan kepalanya dan melepaskan ciuman itu. Napasnya terengah seperti habis berlari. Ia mungkin lelah, kepalanya terkulai di bahu Yunho. Rasanya begitu panas ketika kulit wajah itu menyentuh bahunya. Jaejoong berkeringat.

Ini saat yang tepat untuk membalikkan posisi mereka seperti semula. Yunho tak tahan lama-lama berbaring di atas tatami.

HUP

Dengan satu gerakan ia bangun dan menjatuhkan Jaejoong dengan lembut. Tak terdengar suara benturan atau apa pun, hanya suara anak rambutnya yang bergesekan dengan tatami. Wajah Jaejoong yang memerah, berkeringat, dan berantakan dengan matanya yang berkedip lambat terlihat begitu erotis, apalagi dengan bekas-bekas gigitan dan ciuman yang mulai menunjukkan bentuknya di sekitar leher dan dadanya. Ada yang memerah ada juga yang membiru.

Yunho membungkukkan tubuhnya lebih rendah hingga Jaejoong harus membuka kakinya lebar-lebar, menyediakan ruang bagi namja itu untuk menindihnya, bersentuhan dengan kulitnya yang licin. Yunho mendorong kaki Jaejoong agar tertekuk.

"AKKKHHH!" Jaejoong menjerit saat merasakan sesuatu memasukinya. Yunho telah memasukkan dua jarinya tanpa permisi.

"Sakitkah?"

"Iiiihhh…" lirih Jaejoong. Rupanya Yunho telah menemukan titik yang sempurna setelah ia menggerakkan jarinya sedikit.

"Apa di sana?"

"Ooohhh! Ngghhh!" lenguhnya tertahan. "AWWHHH! AHHH!" Jaejoong menjerit lebih keras lagi ketika jari-jari itu ditarik keluar oleh pemiliknya.

Rasanya begitu perih hingga air matanya keluar tanpa sengaja. Jaejoong melirik Yunho dengan pandangannya yang mulai mengabur.

"Haruskah aku berhenti sekarang?"

"Jangan…" jawabnya. Ia mengalungkan tangannya di leher Yunho, meminta namja itu memeluknya.

"Lantas mengapa kau melulu menangis seperti ini?" Yunho mengecup pelupuk mata Jaejoong dan merasakan air asin yang membasahi bulu mata lentik itu.

"Jangan… Kumohon…" pintanya. Ia dengan sengaja menggesek-gesekkan kulit pahanya di pinggang namja itu. Yunho tak boleh menghentikan ini begitu saja. Yunho tak boleh berhenti hanya karena Jaejoong menangis.

"Lakukan apa pun sesukamu… Aku milikmu."

Entah seberapa banyak ia akan menangis malam ini. Ia tak lagi peduli. Ia betul-betul telah menyerahkan diri seutuhnya pada namja yang ia cintai itu.

:::

OFUTARI NO JIEI

KYOTO NO AKI

:::

Jaejoong memegang satu cup bubur kacang merah. Ia duduk di kursi di taman yang ramai oleh para pelancong yang berjalan-jalan menikmati malam. Di sampingnya tak ada siapa pun, tapi ada satu lagi cup bubur kacang merah yang nampaknya belum tersentuh, belum dimakan sama sekali. Sendoknya hanya separuh terlihat, gagangnya saja. Isinya masih penuh. Ia tak tahu milik siapa itu. Tak mungkin miliknya karena ia sendiri memegang satu cup bubur kacang merah di tangannya. Ia juga tak ingat mengapa ia bisa duduk di sana. Apa yang ia lakukan, duduk sendirian di antara orang-orang itu? Siapa yang ia tunggu?

Khayalnya bercampur dengan ingatannya akan Yunho, omamori, dan obrolan mereka di bangku taman itu. Ia berpikir bahwa yang barusan hanyalah mimpi. Sekelebat mimpi. Hal itu membuatnya sadar dan kemudian berangsur gelaplah film yang diputar dalam kepalanya itu.

"Ngghhh…"

Ia mengusap-usap kedua matanya yang terasa berat untuk dibuka. Ah, jangankan matanya, tubuhnya pun terasa sakit di mana-mana.

Rupanya ia bangun lebih dulu dari pada Yunho. Namja di sampingnya nampak masih nyenyak tidur. Ia tak mau mengusik. Ia lebih memilih untuk mengenakan pakaiannya kembali –atau setidaknya menutupi tubuhnya dengan kimono yang semalam ia lepas– dan setelahnya duduk untuk menikmati wajah tidur Yunho yang masih saja memesona. Sekilas garis mata dan alisnya nampak serupa dengan Changmin.

"Selamat pagi, tukang tidur."

Sapanya saat Yunho membuka mata. Namja itu tersenyum dengan matanya yang masih menyesuaikan cahaya pagi. Jaejoong menyambutnya dengan belaian sayang di kening namja itu, menyapu surai kecokelatannya ke belakang agar wajahnya tak terhalangi.

Jaejoong sedikit merangkak untuk mengambil selembar selimut. Lucu rasanya mengingat semalam seharusnya mereka melakukan seks di atas futon dan bergelung dalam selimut, tapi futon dan selimut itu malah mereka biarkan begitu saja.

Ia menutupi tubuh Yunho dengan selimut itu. Dengan iseng ia naikkan selimutnya sampai menutupi seluruh tubuh Yunho, termasuk ubun-ubunnya. Namja itu bergumam, terdengar seperti protes karena ia tidak bisa bernapas. Setelah puas mengerjai kekasihnya, Jaejoong menurunkan selimut itu kembali.

"Iseng, ya?" sindir Yunho.

"Hihihi."

Selimut itu membungkus tubuhnya sebagian, sebatas dada. Dua tangannya keluar dari balik selimut itu untuk ia regangkan. Ketika ia sedang menikmati otot-ototnya yang tertarik, tahu-tahu Jaejoong naik ke atas tubuhnya dan berbaring begitu saja.

"Kau berat."

"Ya seperti itulah kalau kau menindihku, badanmu besar pula."

"Tapi kau suka 'kan? Kau menarikku untuk menindihmu semalam."

"Sudah hentikan, Yunho! Kau membuatku malu! Berhenti bicara atau akan kugigit kau!"

"Jangan menggigitku lagi, yang semalam saja sudah membiru. Ahh, apa kata Changmin kalau dia melihat ini?" tunjuk Yunho dengan mengangkat tangannya dan memperlihatkan bekas gigitan Jaejoong.

"Dibanding satu gigitan itu kau menggigitku lebih banyak, tahu. Tubuhku lebam-lebam seperti habis dikeroyok."

"Tapi kau juga mencakar punggungku berkali-kali."

"Haruskah aku pergi menemui pelayan dan meminta obat merah untukmu? Kalau kau mau aku bisa pergi sekarang." Jaejoong menaruh sebelah tangannya di atas tatami sebagai tumpuan. Ia sedikit mengangkat tubuhnya, tak lagi benar menempel pada Yunho. Rasanya sebal juga disindir begitu.

"Dengan bertelanjang badan seperti itu?"

"Tentu saja akan kupakai bajuku dulu!"

"Kukira kau mau keluar tanpa mengenakan apa pun."

"Kau pikir aku orang mabuk yang tidak tahu malu?"

"Hahahaha."

Yunho tertawa. Jaejoong kembali menyamankan diri di dada Yunho.

"Kapan kita akan pulang?"

"Kau mau pulang sekarang?"

"Mmm… Mungkin setelah mandi dan sarapan? Kurasa aku butuh mandi lagi."

Agaknya sedikit aneh meminta pelayan menyiapkan air mandi pagi-pagi seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi, Jaejoong ingin mandi dan Yunho tahu kalau dirinya juga butuh mandi. Ia merasa tak nyaman dengan bau tubuhnya. Rasa pegal-pegal sehabis menguras tenaga semalam juga mungkin akan sirna jika ia kembali merendam diri di dalam ofuro dengan air hangat.

Jaejoong ia tinggal sebentar di dalam kamar. Ia pergi menemui pelayan. Untunglah penampilannya tak seberantakan Jaejoong. Hanya dengan mengenakan kembali kimono-nya dengan benar, dan menyisir rambutnya dengan jari, Yunho terlihat biasa-biasa saja, tidak seperti orang yang habis melakukan seks semalaman. Andai Jaejoong yang keluar, mungkin semua orang yang melihatnya akan tahu kalau ia habis jadi korban terkaman beruang gunung yang ganas.

"Jae, sebentar lagi airnya akan siap. Setelah mandi kita bisa langsung sarapan di ruang makan." ujar Yunho ketika ia kembali.

Mereka pun mandi dan membersihkan diri. Tak lama-lama berendam dalam ofuro mengingat ini bukan waktu yang lazim untuk mandi. Lagi pula sarapan mungkin sudah tersaji di meja makan saat mereka terlalu asyik menikmati air hangat.

Selesai mandi dan berpakaian mereka mengemas kembali barang-barangnya. Supaya setelah sarapan mereka bisa langsung pulang tanpa perlu sibuk membereskan ini-itu. Karena kadang jika terburu-buru, bisa saja ada sesuatu yang terlupakan.

Makan pagi yang disediakan tersaji dalam berbagai lauk pendamping nasi. Semuanya enak. Katanya yang memasak adalah seorang nenek. Orang bilang masakan nenek-nenek itu pasti akan selalu enak. Ya, itu karena pengalaman. Yunho dan Jaejoong menikmati makan pagi mereka sambil bercengkrama.

Mereka keluar dari ryokan itu sekitar pukul sepuluh pagi. Pelayanan yang baik membuat mereka berpikir mungkin akan menginap di sana lagi jika suatu hari nanti mereka datang lagi ke Kyoto.

Saat pulang pun, mereka melewati jalan yang sama dengan jalan sewaktu mereka datang. Pemandangannya tak jauh beda dengan kemarin, hanya saja sedikit lebih dingin dan basah, barangkali turun hujan semalam. Hujan ringan mungkin.

Yunho dan Jaejoong berjalan berdampingan. Namun kedua tangan Jaejoong tak melingkar di lengan namja itu, malah tenggelam dalam saku mantelnya sendiri. Ia berjalan dengan ringan, senyum tersungging di bibirnya ketika mengingat liburan singkatnya yang menyenangkan. Sampai-sampai ia tak sadar Yunho tak berjalan di sampingnya. Ia baru tahu Yunho ada di belakangnya ketika ia menoleh.

"Shhh tunggu, aku kedinginan!"

"Hee, tumben sekali? Kukira kau tak masalah dengan cuaca di sini."

"Dinginnya tak seperti kemarin, sudah begitu anginnya kencang pula."

"Padahal baru kemarin kau bilang padaku yang begini tidak ada apa-apanya." sindir Jaejoong.

"Jae, ada sesuatu yang ingin kukatakan."

"Hm?"

Jaejoong berbalik dan menghentikan langkahnya.

"Fuuhhh…"

Yunho menghela napas panjang, hembusan napasnya yang hangat bercampur dengan dinginnya udara membuat sekepulan uap. Jaejoong nampak menunggu sembari memerhatikan tangan Yunho yang bergerak masuk ke dalam kantung mantelnya, merogoh sesuatu.

"Pejamkan matamu." ucapnya.

Jaejoong menutup matanya dengan wajah menantang, sedikit terangkat ke atas. Ia sudah menebak kalau Yunho punya sesuatu, ia pasti akan memberinya kejutan. Tapi sebenarnya Jaejoong tidak berharap banyak.

"Aww! Apa ini? DIngin!"

Ia memekik merasakan sesuatu yang kecil namun dinginnya menusuk ke kulit diantara dua belah tulang selangkanya. Ia membuka mata dan menemukan sebuah kalung melingkar di lehernya dengan liontin berupa cincin perak.

"Apa ini?"

"Untukmu."

"Aahh… cantiknya… Terima kasih." Jaejoong mengagumi selingkar perak dengan ukiran-ukiran kecil di sisi-sisinya. Cincin yang sederhana namun manis. "Kenapa kau mengalungkannya? Bolehkah kupakai di jariku?"

"Lebih baik seperti itu saja. Kalau kau pakai di jarimu nanti bisa hilang."

"Hilang bagaimana?"

"Hilang kalau kau mencuci piring."

"Hahahaha! Mengapa kau berpikiran seperti itu?"

"Aku sering melihat orang melepaskan cincinnya ketika mereka hendak mencuci. Lalu mereka lupa cincinnya ditaruh di mana. Kemungkinan ebsar masuk ke saluran air."

"Ahahahaha!"

Jaejoong masih menertawakannya. Yunho serius, tapi entah mengapa ucapannya terdengar lucu bagi Jaejoong. Entah dari cara penuturannya atau dari cara ia berpikir sejauh itu.

"Tapi aku ingin memakainya!" Jaejoong menunjukkan punggung tangannya.

"Kalungkan saja, kalau hilang sulit mencari yang seperti itu lagi…"

"Ngomong-ngomong kapan kau membeli cincin ini?"

"Saat aku ke Korea."

"Aaah… sou ka?" (Ahh begitukah?) ia mengangguk. "Katakan sesuatu dengan bahasa Korea."

"Apa yang harus kukatakan?"

"Umm… Yaa.. Terserah padamu."

"Contohnya?"

"Aku mencintaimu?"

"Nado." Yunho tersenyum simpul.

"Ne?" tanya Jaejoong. Ia tak tahu bahwa Yunho sedang menggodanya dengan menganggap pertanyaan Jaejoong sebagai sebuah pernyataan yang harus ia balas, dan balasan itu terucap dalam bahasa Korea yang namja itu gunakan.

"Nado saranghae yo, Jaejoongie…"

"Nani wo ittanda? Jae-joong-i? Boku no namae, sore? 'i' no ato wa nan no suru tame?" (Apa yang kau katakan? Jae-joongie? Itu namaku? 'i' dibelakangnya itu apa?)

"Nde, saranghae, jeongmal saranghae, Jaejoongie…"

"Aduh! Kau ini kenapa 'sih? Aku tidak mengerti kau bicara apa!" protes Jaejoong karena tiba-tibas aja tubuhnya ditubruk oleh Yunho, dan sekarang ia tidak bisa bergerak karena ia dipeluk kuat-kuat. Ia hanya bisa pasrah dengan kedua tangan terlipat di depan dada, terhimpit.

"Ahahaha!" Yunho masih tertawa. Ia menggoyang-goyangkan tubuh Jaejoong dan tubuhnya sendiri ke kanan dan ke kiri.

"Kau mulai aneh, Yunho!"

"Hihihi!"

"Sepertinya kau senang sekali?"

"Entahlah."

Ia tak mau melepaskan pelukan itu untuk beberapa saat, sampai sehembusan angin kencang menerpa, menimbulkan suara gemerisik dari daun-daun yang masih memayungi mereka, lalu membuat sebagiannya jatuh, yang kecil-kecil terbang. Mereka sama-sama menengadah mengarahkan pandangannya pada langit Kyoto yang biru berawan. Setelah itu keduanya kembali saling memandang.

"Lantas apa yang ingin kau katakan?" tanyanya serius.

"Saat di Korea aku berpikir, bagaimana kalau kita… Mendaftarkan pernikahan kita?"

"Ah?"

"Yaa… Sebelumnya memang aku berpikir bahwa dapat hidup bersamamu saja sudah cukup. Tapi aku jadi terpikirkan untuk hidup bersamamu bukan dengan begini adanya saja… Aku ingin… Kita hidup dalam suatu ikatan yang namanya pernikahan." Yunho mengangkat kepalanya yang tadi tertunduk, lalu menatap Jaejoong malu-malu. Ahh, ia tak terlatih untuk mengatakan hal seperti ini. "Intinya aku ingin kau jadi istriku secara resmi." tukasnya.

Jaejoong hanya terdiam tanpa kata. Mata besarnya membulat sempurna seperti mata kucing.

"M-maksudmu?" tanyanya kikuk, mencoba memastikan apa yang baru saja ia dengar dengan telinganya sendiri. Matanya berkedip-kedip lucu.

"Kekkon shiyou!" (Ayo kita menikah!)

Jaejoong menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Ia benar-benar terkejut.

"Boku no tsuma ni natte kudasaimasenka, Kim-dono?" (Apa kau mau jadi istriku, Tuan Kim?)

"Boku ni kyuukon shiteru ka, omae wa?" (Kau sedang melamarku?)

"Tentu!"

"Hontou ni?" (Serius?)

"Hontou, hontou!" (Sungguh!)

"Aaahhh Yunhoo! Hahahahaha!"

"Berhentilah tertawa atau aku akan menggigitmu! Aku serius!" ancam Yunho frustrasi.

"Oohhh astaga! Aku tak menyangka! Hihihihi!" Jaejoong tak hentinya tertawa, sembari membalik badan dan berjalan meninggalkan Yunho tanpa peduli pada namja itu yang ditinggal dengan wajah kebingungan.

"Jadi bagaimanaa? Kau belum memberiku jawaban!"

"Ya ampuuun, mimpi apa aku semalam?" gumamnya pada diri sendiri.

"Hei, Jaejoong! Kim Jaejoong! Ah tidak, Jung Jaejoong! Jawab aku duluu!"

Sepertinya Yunho harus mengejar Jaejoong untuk menuntut jawaban darinya.

Kereta yang baru saja sampai di stasiun terdengar decitannya sampai ke luar. Gerbang stasiun tanahnya dipenuhi daun-daun merah yang berserakan, jatuh dari pohon-pohon yang berdiri di sekitarnya.

Musim gugur masih akan berlangsung mungkin sampai satu bulan ke depan. Daun-daun itu akan terus berubah warna sampai rontok dan habis. Kyoto masih akan tetap sama dengan segala hiruk pikuknya. Juga stasiun yang akan terus disinggahi para pelancong dari luar kota.

Petugas stasiun melambai-lambaikan tangannya untuk menarik perhatian, meminta para penumpang kereta segera naik jika tidak ingin ketinggalan. Sebentar lagi kereta akan pergi.

Sepasang kaki berbalut sepatu boots suede cokelat naik lebih dulu ke tangga antara peron dan pintu gerbong. Lalu sepasang lainnya menyusul dengan langkah tergesa. Pintu gerbong ditutup otomatis tak lama setelah mereka naik. Rupanya di gerbong itu tak begitu banyak orang yang duduk. Hanya ada beberapa kursi terisi. Masih banyak yang kosong.

Dua orang terakhir yang naik di gerbong itu masih berdiri di depan pintu.

Kereta melaju lambat, goncangannya kecil, namun jika tidak berpegangan pada sesuatu mungkin orang bisa jatuh.

"Jadi bagaimana?" Yunho menahan tubunya dengan berpegangan pada sela-sela besi tempat peyimpanan barang di sampingnya, agak ke atas. Sementara Jaejoong berpegangan padanya, menyelipkan tangan diantara jari-jarinya yang panjang.

Jaejoong mengulum seyum. Pipinya yang memerah karena udara dingin terlihat seperti apel ranum yang baru dipetik dari kebun. Matanya berbinar gemerlapan seperti bintang fajar. Alisnya sedikit naik hingga tercetak sebuah ekspresi yang lucu. Entah dia mencoba menahan tawa atau memang wajahnya seperti itu tanpa ada maksud apa pun.

Cincin yang dikalungkan dilehernya ia lirik sekilas, lalu pandangan itu kembali hinggap pada seraut wajah di hadapannya yang menunggu dengan penuh harap.

"Tentu saja aku akan menjawab iya, Oyaji."

Dikecuplah mesra bibir berbentuk hati itu.

"Kalau begitu terima kasih… Baa-chan."

"Heh, apa katamu?! Aku bukan nenek-nenek! Dasar pak tua kurang ajar!" Jaejoong mencapit hidung bangir Yunho dengan sekuat tenaga, tak rela dirinya disebut nenek oleh namja itu.

"Aduh! Sakit!"

Mungkin Changmin akan bertanya-tanya mengapa dua manusia yang mulai menua itu jadi suka bertengkar sepulang dari Kyoto.

:::

OFUTARI NO JIEI

KYOTO NO AKI

END

:::

Kani adalah kepiting

Bento adalah bekal makanan, biasanya untuk di makan di siang hari

Oyaji adalah sebutan untuk pria tua

Momiji adalah mapple

Onsen adalah pemandian air panas, untuk umum. Biasanya dipisah antara laki-laki dan perempuan, tapi juga ada yang campuran untuk pasangan suami istri

Geisha adalah wanita penghibur, pada awalnya maknanya berbeda dengan sekarang, dulu geisha adalah wanita-wanita kelas atas yang terhitung sebagai seniman

Zori adalah alas kaki yang terbuat dari kayu, biasanya dipernis hingga mengkilap

Obi adalah pengikat kimono

Omamori adalah jimat keberuntungan

Ada-ada aja nih tingkahnya si aki sama si nini, hahahaha. Yaa... semoga mereka bisa hidup bahagia selamanya. Changmin nagih oleh-oleh 'nih pasti *toel aki sama nini*

Makasih buat semuanya yang sudah mendukung! Saya amat seneng chapter bonus ini bisa saya tulis dalam mood yang baik. Setelah sekian chapter berurusan sama cerita yang njelimet dan serius, akhirnya saya bisa menikmati nulis bagian yang ringan tanpa konflik yang kompleks hehehehe.

Akhir-akhir ini saya jadi makin sering baca novel terjemahan dan essai-essai kesusastraan lainnya, jadi sedikit banyak gaya penceritaan saya kena pengaruh dari buku-buku yang saya baca. Lumayan, saya jadi belajar banyak dari penceritaan hasil terjemahan pada buku cetakan lama yang gayanya unik-unik.

Saya berharap kedepannya saya bisa nulis cerita yang lebih baik lagi dan bisa diterima sama temen-temen semua ^^

THANKS FOR READ!

MIND TO REVIEW?