Cast :
Mark Lee as Raja Viering
Na Jaemin as Putri Johnny of Hielfinberg
Other Cast :
Moon Taeil as Grand Duke/Duke of Krievickie
Johnny Seo as Johnny of Hielfinberg
Huang Renjun as Renjun Krievickie
Park Jisung as Jisung Krievickie
Jungwoo as Duke of Binkley
Somi as Duchess of Binkley
"Tidak, Jaemin," Mark berkata tegas, "Aku punya rapat penting besok pagi."
"Ayolah," rengek Jaemin manja, "Kau telah membuat aku tidur sepanjang hari. Sekarang kau harus menemaniku."
"Kau membutuhkan banyak istirahat. Demikian pula aku saat ini," Mark kembali menegaskan, "Atau aku harus memperpanjang kurunganmu di sini."
"Kau telah mengurungku sepanjang hari di sini," Jaemin menyilangkan tangan di depan dada dan memasang wajah cemberut, "Kau telah berjanji untuk segera melepaskanku tetapi kau terus mengurungku."
"Dengar, istriku tercinta," Mark bangkit. Ia merangkum wajah Jaemin dan berbicara dengan lembut seolah-olah sedang membujuk anak kecil, "Aku tidak mau mengambil resiko apa pun. Tindakan heroikmu yang berbahaya itu telah membuat lukamu kembali terbuka. Untungnya, kau tidak memperparah lukamu. Kau masih belum sepenuhnya pulih. Sejujurnya, bila ada yang harus marah, itu adalah aku. Kau telah membuat jantungnya berhenti berdetak ketika melihatmu melompat ke dalam laut dengan kondisi yang seperti itu. Lalu kau terus membuat ulah. Terakhir, kau hampir jatuh dari beranda. Aku tidak tahu berapa nyawa yang harus kumiliki untuk tetap bisa berada di sini."
Jaemin membuang wajah cemberutnya.
"Aku berjanji begitu kau membaik, aku akan membiarkanmu melakukan segala yang kauinginkan."
Jaemin sama sekali tidak mau melihat Mark.
Mark mengeluh panjang. "Aku lelah. Aku ingin tidur." Mark kembali membaringkan diri di atas tempat tidur dan menutup matanya.
"HEI!" protes Jaemin, "Aku belum selesai!"
Mark pura-pura tidur.
"Mark!" panggil Jaemin.
Mark sengaja mengeluarkan dengkurannya.
Jaemin kesal.
Wajah tidur Mark tampak begitu damai.
Mata Jaemin menatap lekat-lekat wajah tampan pria yang menjadi suaminya itu dan senyum manis merekah di bibirnya. Tangan Jaemin menelusuri setiap lekukan wajah tampan itu dan mengukirnya dalam-dalam di lubuk hatinya. Jaemin menyukai setiap lekukan di wajah pria yang dicintainya itu. Ketika jari-jemarinya menyentuh bibir Mark, kenangan-kenangan akan cumbuan Mark mengalir deras di dalam benaknya. Jaemin menyukai cara Mark mencumbunya. Jaemin menikmati setiap sentuhan bibir Mark. Mark sungguh pandai dalam hal ini, Jaemin harus mengakui itu dan ia pun menyukainya. Mark benar-benar tahu bagaimana mencumbunya.
Jaemin menyukai segala yang berhubungan dengan Mark.
Jaemin suka mendengar pria itu berbicara baik ketika ia sedang gembira, marah ataupun kesal.
Jaemin suka melihat pria itu berjalan mendekatinya.
Jaemin suka melihat pria itu kewalahan menghadapi sikap keras kepalanya.
Jaemin suka cara pria itu menatapnya.
Jaemin menyukai pelukan pria itu yang hangat.
Jaemin tersenyum bahagia. Tidak pernah ia membayangkan kebahagian seperti ini. Ia merasa dadanya sesak oleh kebahagiaan hingga ia tidak yakin ia akan sanggup menampungnya.
Jaemin membaringkan diri di atas Mark. Ia mencintai pria ini dengan segenap jiwa raganya.
Mark melingkarkan tangan di atas punggung Jaemin. "Begini lebih baik," katanya lembut.
"Kau belum tidur?" tanya Jaemin.
"Aku harus meyakinkan kau tidur nyenyak Lucaselum aku tidur. Aku tidak mau kecurian lagi."
"Mark…," Jaemin bertanya, "Bagaimana kabar Jungwoo dan Somi?"
Mark terdiam. Ia tahu cepat atau lambat Jaemin pasti menanyakan nasib orang-orang yang berusaha membunuhnya dan ia tidak berniat menutupinya.
"Mereka sudah diserahkan ke pengadilan. Sekarang pihak pengadilan sedang memeriksa berkas-berkas yang telah disiapkan pihak Istana."
Jaemin sudah dapat menduga akhir dari nasib mereka. Percobaan membunuh seorang Ratu bukanlah kejahatan kecil.
Sering dalam hari-hari belakangan ini ia memikirkan nasib keduanya. Sering ia mengetahui bagaimana keadaan dua orang yang telah mencoba membunuhnya. Namun Nicci maupun Renjun bukanlah orang tepat untuk ditanyai. Jisung juga tidak bersedia memberitahunya. Sekarang Mark menjawab pertanyaan yang sering menghantuinya dan ia merasa tidak seharusnya ia bertanya.
Jaemin bersedih untuk mereka. Andai saja Somi dapat menyesuaikan dirinya dengan baik… Andai saja Jungwoo dapat berpikir jernih…
Mark mendengar Jaemin mendesah.
"Kau kasihan pada mereka?"
"Apakah itu aneh?"
Mark tersenyum menatap wajah tanpa dosa Jaemin. "Tidak. Itu membuktikan betapa pemurahnya kau. Sejujurnya, aku juga sering memikirkan nasib Jungwoo. Ketika kami masih kecil, aku tidak pernah berpikir ia akan menjadi seperti saat ini. Ia adalah seorang kakak yang penyayang dan penuh tanggung jawab."
"Setiap orang bisa berubah," Jaeminpun tersenyum, "Sekarang tidurlah. Jangan memikirkan Jungwoo lagi. Ia adalah seorang pria dewasa yang mampu bertanggung jawab atas segala tindakannya. Aku tidak akan membiarkanmu tidur sendirian." Dan Jaemin mengingatkan, "Besok kau harus bangun pagi."
"Aku tidak bisa tidur ketika tahu kau masih terjaga."
"Aku telah tidur sepanjang hari. Sekarang aku tidak mengantuk."
"Aku tahu cara yang paling ampuh untuk membuatmu tidur nyenyak," Mark membalik badan dan menindih Jaemin. Gadis satu ini memang gadis yang selalu merepotkan. Namun ia juga adalah gadis yang telah memberi warna dalam hidupnya yang monoton.
-0-
Mark menghempaskan diri di kursi – memperhatikan tumpukan kertas di meja.
Hari ini ia bekerja seperti prajurit tempur. Pagi ini, setelah meninggalkan Jaemin yang masih tidur pulas, ia disibukkan oleh rapat rutin dengan para menteri kemudian disusul oleh pertemuan dengan Jisung dan Jancer. Kemudian ia memberi pengarahan kepada Jeno Yarichiv Lucasagai satu-satunya penerus Jungwoo. Siang hari ia mengurung diri di dalam ruang kerjanya menyelesaikan tugas-tugas kerajaan. Sorenya ia masih harus mengatur tugas-tugas yang akan diwakilkannya pada para menteri dan Taeil.
Mark lega baik hari ini maupun kemarin Jaemin tidak membuat ulah. Gadis itu telah menepati janjinya dan kini saatnya ia melaksanakan janjinya. Karena itulah ia harus segera menyelesaikan semua tugasnya sehingga besok ia bisa pergi dengan tenang.
Mark memeriksa tumpukan kertas di mejanya untuk terakhir kali dan beranjak menemui Jaemin.
Seharian ini ia terus menahan keinginan menemui Jaemin. Sekarang ia sudah tidak sabar lagi untuk merasakan gadis itu di pelukannya. Ia ingin mengubur semua keletihannya dalam kehangatan Jaemin. Namun ketika ia melihat raut wajah Lawrence, ia sadar keinginannya bukanlah sesuatu yang mudah untuk didapatkan. Tidak dari seorang Jaemin.
"Aku tidak mengharapkan berita bagus darimu," Mark menyapa sang dokter yang bertanggung jawab atas Jaemin.
"Anda terlalu memahami Paduka Ratu," Lawrence tersenyum penuh arti.
"Apa kau pikir Jaemin bisa bertahan lebih dari 2 hari?"
Lawrence tertawa. Sejak ulah terakhirnya yang membuat seisi Istana panik, Jaemin berubah menjadi seorang gadis manis yang penurut. Kemarin Lawrence merasa heran melihat kelakuan Jaemin yang berubah total itu. Hari ini ketika melihat wajah cemberutnya, Lawrence sadar pasti Mark yang membuatnya menjadi penurut.
"Bagaimana keadaan Jaemin?"
"Paduka Ratu pulih lebih cepat dari yang saya perkirakan. Luka-lukanya sudah hampir menutup sempurna. Namun Paduka Ratu masih perlu mewaspadai kesehatannya sampai ia benar-benar pulih."
"Siapkan obat-obatan yang diperlukan Jaemin untuk jangka waktu yang tak terbatas. Mulai besok kau tidak perlu datang lagi."
Mark membuat Lawrence khawatir ia telah melakukan kesalahan hingga Mark perlu melarangnya mendekati Jaemin lagi.
"Aku harus memikirkan cara menyenangkan hati Jaemin Lucaselum ia mencabut nyawaku."
Lawrence tersenyum mendengarnya.
Melihat langkah-langkah gembira Mark, ia tahu pemuda itu telah menemukan kebahagiaan sejatinya. Ia turut gembira karenanya. Ia yakin masa depan kerajaan ini cerah di tangan pasangan itu.
Jaemin melihat ke pintu ketika mendengar pintu terbuka.
Mark tersenyum.
Jaemin memalingkan wajah. Ia mengacuhkan Mark dengan pura-pura tidur.
"Aku mendengar akhir-akhir ini kau dalam suasana hati muram," Mark melangkah masuk. "Lawrence memarahiku karena aku tidak bisa membuat pasien istimewanya tersenyum," Mark duduk di sisi Jaemin.
Jaemin segera membalik badan memunggungi Mark.
Mark membungkuk, mengurung Jaemin di antara kedua tangannya. "Apakah kau ingin bermain kucing-kucingan denganku?"
"Kau penipu!" Jaemin menatap tajam pria itu.
"Penipu? Aku?"
"Kau telah berjanji untuk tidak mengurungku di sini."
"Lukamu belum sembuh total, Jaemin, dan suhu badanmu masih belum turun. Aku tidak mau mengambil resiko."
Jaemin membuang wajah.
"Dengarlah, Jaemin, istriku tercinta," Mark mengulurkan tangan meraih wajah Jaemin. "Aku juga tidak ingin mengurungmu di sini tetapi aku tidak dapat membahayakan dirimu." Mata Mark menatap lembut wajah kesal itu. "Aku berjanji padamu. Aku janji akan membawamu ke tempat yang menyenangkan setelah lukamu benar-benar kering dan kau sudah cukup sehat untuk berpergian."
"Kau pasti akan mengingkari janjimu lagi," gerutu Jaemin.
"Tidak," Mark meyakinkan, "Aku tidak pernah mengingkari janjiku terutama janjiku padamu." Mark menarik Jaemin ke dalam pelukannya. "Katakan, sayangku, ke mana kau ingin melewatkan bulan madu kedua kita?"
"Bulan madu?"
"Apakah kau ingin mengulangi bulan madu pertama kita?"
"Tidak," Jaemin segera menyahut, "Aku tidak mau ke sana lagi."
"Kau harus mengatasi ketakutanmu, Jaemin."
"Tidak sekarang," Jaemin cemberut.
"Baiklah," Mark mengalah, "Apakah kau mempunyai tempat yang ingin kau kunjungi?"
"Apa kau serius?" Jaemin masih tidak percaya.
"Kau tidak mempercayaiku?" Mark tidak senang. "Setelah semua kejadian yang menguras tenagaku ini, aku ingin melewatkan waktu bersamamu seorang."
Jaemin diam memperhatikan Mark baik-baik. "Hanya kita berdua?"
"Hanya kau dan aku."
"Kau akan selalu bersamaku?"
"Aku tidak akan meninggalkanmu."
Jaemin semakin tidak mempercayai Mark. "Tidak ada tugas kerajaan?"
"Tidak akan ada," Mark menjawab mantap, "Aku berjanji padamu, istriku tercinta. Aku tidak akan meninggalkan sisimu barang sedetik pun walau pun itu demi Viering. Bulan madu ini hanyalah untuk kita berdua. Aku ingin menikmati saat-saat bahagia bersamamu tanpa gangguan apa pun."
Jaemin tersenyum bahagia.
"Jadi, ke mana kau ingin melewatkan bulan madu kedua kita?"
"Aku menyerahkannya padamu," Jaemin bergelayut manja, "Boleh ke mana pun asal tidak ke Corogeanu."
"Ya, Paduka Ratu," Mark tersenyum. "Hamba akan melaksanakan perintah Anda Lucasaik-baiknya."
-0-
"Kami sudah mendapat kepastian dari pengadilan," lapor Grand Duke, "Dalam waktu dekat mereka akan dihadapkan pada pengadilan."
"Terima kasih, Taeil," Mark tersenyum puas. "Aku masih punya satu tugas lagi untukmu."
"Apakah itu, Paduka?" tanya Grand Duke.
"Aku sudah meminta Jisung untuk membantuku menjalankan tugas-tugasku untuk beberapa waktu selama aku meninggalkan Loudline. Kuharap kau mau mengawasinya."
Grand Duke dan Jisung terperanjat.
"Taeil, kau adalah orang yang paling kupercaya dan Jisung adalah orang yang paling tepat untuk melanjutkan tugasmu menjadi penasehat Kerajaan yang utama."
Grand Duke Taeil terperangah.
Mark berdiri dan berjalan menghampiri mereka.
"Jaemin percayamu, Jisung. Dan aku percaya pada Jaemin."
Jisung tidak dapat berkata-kata. Tugas ini terlalu tiba-tiba. Mark sama sekali tidak mengatakan apa-apa ketika memanggilnya menghadap.
"Mulai saat ini sampai beberapa waktu mendatang, kuserahkan Viering pada kalian," ia menepuk pundak Taeil dan berjalan ke pintu.
"Anda mau ke mana?" Jisung langsung bertanya.
"Membawa Jaemin pergi Lucaselum ia membuat ulah," jawab Mark tanpa menghentikan langkah kakinya, "Kali ini aku bisa benar-benar tamat kalau aku tidak segera membawa Jaemin pergi."
Mark membuka pintu.
"Satu hal lagi," Mark menoleh, "Aku tidak tahu kapan aku akan pulang."
Keduanya terkejut.
"Kalian tidak ingin aku kehilangan nyawaku Lucaselum kembali ke Fyzool, bukan?" tanyanya sambil tersenyum.
Keduanya memperhatikan Mark menutup pintu rapat-rapat diiringi suara tawanya.
"Tugas ini tidak akan mudah, Jisung," Grand Duke berkata serius, "Apakah kau sudah siap?"
"Aku selalu siap kapanpun juga, Papa," Jisung pun menjawab dengan serius.
-0-
Mark mengulurkan tangan memegang dahi Jaemin. "Panasmu sudah mulai turun."
Jaemin yang duduk bersandar di bantal-bantal memasang wajah masam.
"Kau tidak senang mendengarnya?" Mark heran.
"Kau bohong!" Jaemin kesal, "Katamu tidak akan mengurungku. Kau ingkar janji!"
"Jaemin," Mark meraih gadis itu dalam pelukannya, "Ketahuilah aku pun tidak suka mengurungmu, tapi aku harus yakin kau cukup sehat dan lukamu cukup kering. Aku tidak mau melihatmu berbaring di sini berhari-hari tanpa reaksi."
Wajah masam Jaemin tidak berubah.
"Percayalah padaku, sayang."
"Aku," Mark menutup mulut Jaemin dengan tangannya.
"Jangan katakan aku membencimu karena aku tidak suka mendengarnya."
Jaemin membuang wajah.
Mark mendesah. "Aku selalu kalah darimu."
Jaemin melihat Mark dengan senyum manisnya.
"Aku akan menyuruh pelayan membantumu berganti baju. Kita akan pergi ke rumah musim semiku. Aku yakin kau akan menyukainya."
Jaemin tersenyum gembira. Ia melingkarkan tangan di leher Mark. "Aku suka sekali," Jaemin bergelayut manja.
"Tidak ada hadiah untukku?" Mark bertanya heran.
"Hadiah?" Jaemin ikut-ikutan heran tapi matanya bersinar nakal.
"Kau ini," Mark mendorong Jaemin ke tempat tidur dan mencium bibirnya dengan lembut.
Jaemin memeluk badan Mark yang menindihnya. Jaemin kecewa ketika Mark langsung melepaskan diri.
"Kalau aku terus menerus di sini, aku khawatir kita tidak akan segera berangkat. Kau ingin segera ke sana, bukan?"
Senyum ceria langsung menghiasi wajah manis Jaemin.
"Jangan bertindak gegabah atau itu hanya akan membuatku menahanmu di sini lagi!" Mark memperingati Jaemin ketika melihat gadis itu siap meloncat dari tempat tidurnya.
Lagi-lagi Jaemin memasang wajah cemberut.
Mark tidak dapat lagi menahan tawa gelinya. Gadis ini memang sungguh mudah ditebak.
"Kau…."
Mark melihat Jaemin dengan tajam.
Jaemin ingat Mark tidak suka mendengar kata 'benci'. Saat ini ia juga tidak berani mengambil resiko memilih kata itu.
"Kau menyebalkan!" akhirnya ia memilih kata ini.
"Menyebalkan?" Mark termenung, "Bagus. Aku sudah setingkat lebih maju."
Jaemin ingin sekali memaki Mark namun ia sadar saat ini hal itu terlalu beresiko. Belakangan ini ia sadar ada saatnya kemarahan Mark tidak boleh dilawan.
Mark tertawa geli melihat raut wajah Jaemin. "Tunggulah di sini. Aku akan segera memanggil Nicci." Ia menyematkan ciuman di kening Jaemin Lucaselum meninggalkan kamar Jaemin.
Tak sampai semenit setelah kepergian Mark, Nicci datang dengan tergesa-gesa. "Anda harus bergegas, Paduka Ratu," Nicci dengan cepat merapikan rambut Jaemin, "Semua sudah siap kecuali Anda. Baju-baju Anda dan obat-obatan sudah dikirim ke Pinhiero pagi ini."
"Pagi ini?"
"Kemarin malam Paduka Raja menyuruh kami mempersiapkan segalanya agar pagi ini Anda bisa segera ke Pinhiero."
Mark telah mempersiapkan semua ini untuknya!
Pengetahuan itu membuat Jaemin semakin bahagia. Jaemin makin mencintai pria itu.
"Jaemin sudah siap?" Mark melangkah masuk.
Jaemin melihat Mark dengan senyum termanisnya. Pria itu telah menanggalkan pakaian dinasnya. Lucasagai gantinya, ia mengenakan kemeja putih dipadu celana hitam. Ia tampak begitu santai dan elegant.
Nicci menyematkan hiasan terakhir di rambut Jaemin. "Sudah, Yang Mulia," katanya kemudian.
Jaemin mengulurkan tangan.
Mark menyambutnya dengan membopong Jaemin. "Segeralah bersiap-siap, Nicci," katanya pada pelayan pribadi Jaemin, "Segera susul kami begitu kalian siap."
"Baik, Paduka."
Mark membopong Jaemin keluar.
Jaemin meletakkan kepala di pundak Mark. Tangannya melingkari leher Mark dengan mesra.
Di dalam kereta, Jaemin duduk merapat di sisi Mark. Ia menyandarkan kepala di pundak Mark dengan mesra.
"Apa-apaan kau ini?"
"Rasanya aku makin mencintaimu."
"Tentu saja kau harus. Kalau tidak, aku akan mengurungmu," goda Mark.
Raut wajah Jaemin menjadi masam.
Mark tertawa geli. "Aku akan menyukai liburanku ini."
Sadar telah dipermainkan, Jaemin kesal. Jaemin bergerak menjauh.
"Kau tidak akan bisa menjauh dariku," Mark menarik gadis itu merapat.
Jaemin menjulurkan lidahnya.
"Hidup bersamamu memang menyenangkan," desis Mark tersenyum bahagia, "Selalu dipenuhi hal-hal baru yang tidak pernah terpikirkan olehku."
Jaemin bergelayut manja.
Mark menunduk mencium Jaemin.
-000-
"LUCASS!"
Lucas melihat ke arah datangnya panggilan itu.
Seorang gadis berlari mendekat. Tubuh rampingnya terbungkus gaun katun coklat. Rambut panjang yang bersinar keemasannya di bawah sinar matahari siang membingkai wajah ada yang berbeda dari gadis itu namun sesuatu membuat setiap orang yang mendengar suaranya, melihat ke arahnya.
"Selamat siang, semuanya!" Jaemin melambaikan tangan dengan penuh semangat.
"Hi, Jaemin! Bagaimana kabar Anda?"
"Di mana Anda bersembunyi selama ini?"
"Anda masih tetap saja cantik."
"Lama tidak bertemu."
"Hi, Jaemin. Apa hari ini Anda mencari daging?"
"Kenapa Anda tidak mampir?"
"Ke mana saja Anda, Jaemin?"
Setiap pedagang kenalan Jaemin menyapa gadis itu dan Jaemin pun dengan gembira menjawab setiap panggilan itu.
"P-Pa…," lirikan tajam orang-orang di sekelilingnya langsung menyadarkannya, "Dristol… Jaemin, apa yang Anda lakukan di sini?" Sejak ia menyadari siapakah sebenarnya Jaemin yang dikenalnya, ia tidak pernah bertemu dengannya. Ia hanya mendengar Jaemin berulang kali hampir kehilangan nyawanya dan tiga bulan lalu Paduka Raja membawanya pergi ke Pinhiero. Ia sama sekali tidak menyangka setelah berbulan-bulan tidak mendengar kabar Jaemin, gadis itu tiba-tiba muncul di tengah kota seorang diri!
"Tentu saja menemui kalian," Jaemin tersenyum lebar, "Aku merindukan kalian. Apa kau tidak merindukanku?"
"T-tentu saja saya merindukan Anda!" Lucas menyahut. Tiba-tiba ia tidak tahu bagaimana ia harus bersikap di depan sang Ratu. Lirikan tajam orang-orang mengingatkannya akan pesan Raja Mark untuk tetap berpura-pura tidak tahu siapa jati diri Jaemin yang sebenarnya. Namun kepalanya terus mengingatkan gadis ini bukan lagi Jaemin sang pelayan Johnny Hielfinberg. Kepalanya dengan cepat mencari topik pembicaraan. "K-kapan Anda tiba? Mengapa saya tidak mendengar kabar kepulangan Anda?"
Jaemin keheranan mendengar Lucas kalimat sopan itu. Pemuda itu tidak pernah bertanya padanya dengan nada seperti ini. "Apa yang terjadi padamu? Mengapa kau tiba-tiba menjadi terpelajar?"
"Ia jatuh cinta pada seorang gadis kaya," Mrs. Lee memberitahu, "Karena itu ia belajar menjadi seorang yang terpelajar."
"Benarkah itu?" Jaemin tertarik, "Siapakah dia?" Jaemin mendesak, "Katakan padaku. Siapa tahu aku bisa membantu."
Lucas benar-benar tidak tahu harus bersikap bagaimana.
"Percuma, Jaemin. Lucas tidak akan memberitahumu."
"Sejak kapan kau bermain rahasia-rahasiaan denganku?" Jaemin cemberut.
Mrs. Lee tertawa melihatnya. Tidak akan ada yang percaya gadis ini adalah ratu kerajaan ini. "Katakan Jaemin, mengapa kau di sini sendirian. Apa suamimu mengijinkanmu ke sini?"
Jaemin langsung memasang wajah cemberut. "Jangan menyebut namanya di depanku. Pagi ini dia pergi tanpa membangunkanku."
"Kau tidak boleh berkata seperti itu tentang suamimu," Mrs. Lee menasehati, "Aku lihat ia sangat mencintaimu. Ia tentu tidak ingin mengganggu tidurmu sehingga pergi tanpa berpamitan padamu." Mrs. Lee bukan sekedar berkata. Ia telah melihat sendiri cinta raja yang begitu besar. Ia telah mendengar cintanya yang begitu dalam. Mereka yang dulu digunjingkan sekarang menjadi contoh pasangan ideal tiap orang.
"Huh!" Jaemin mendengus, "Apa yang percaya pada alasannya. Ia pasti pergi ke tempat yang menyenangkan seorang diri. Setan seperti dia memang suka melihatku menderita."
Mrs. Lee mendesah. Ia mengenal Jaemin bukan sehari dua hari. Gadis ini bisa menjadi sangat keras kepala bila ia sedang marah dan saat ini adalah salah satunya.
"Dia pasti sedang bersenang-senang!" Jaemin memberitahu Mrs. Lee dengan mantap.
Tentu saja hal itu salah besar. Mark jauh dari senang mendengar perbuatan Jaemin.
"M-maafkan kami, Paduka," Nicci tidak berani melihat wajah tegang pemuda itu, "Kami sudah mencegah Paduka Ratu tetapi beliau terlalu cepat untuk kami. Begitu Ratu memerintahkan kusir kuda berhenti, ia langsung menghilang ke keramaian."
"Seharusnya kau sudah menduganya semenjak ia meninggalkan Pinhiero."
Nicci melihat Mark dengan tidak mengerti.
"Jaemin tidak terlalu bodoh untuk berkeliaran di kota dengan baju mewah."
Nicci makin menyadari kebodohan dirinya. Seharusnya ia curiga ketika Jaemin menolak gaun yang telah dipersiapkannya. Seharusnya ia sudah tahu apa yang akan dilakukan Jaemin ketika gadis itu bersikeras mengenakan gaun katun usang yang ditemukannya di antara baju-baju bekas di gudang Pinhiero.
"Seharusnya aku sudah tahu akan begini akhirnya," Mark mendesah panjang. Seharusnya ia sudah menduga Jaemin pasti akan langsung melesat ke pusat kota Loudline, kepada teman-temannya setelah hampir setengah tahun tidak bertemu mereka.
Bila diruntut ke belakang, semua ini adalah tanggung jawabnya. Kemarin ia telah memberitahu Jaemin pagi ini mereka akan kembali ke Fyzool. Namun ia membuat gadis itu tidak dapat tidur nyenyak semalaman. Akibatnya, Jaemin belum bangun ketika rombongan siap meninggalkan Pinhiero. Ia sendiri juga hampir ketiduran bila ia tidak mendengar ketukan di pintu.
Selama musim dingin ini mereka tinggal di Pinhiero. Selama itu pula ia melewatkan hari-harinya bersama Jaemin, jauh dari tugas-tugas kerajaan. Mark sadar tiga bulan bukanlah waktu yang singkat. Walaupun ia telah mewakilkan wewenangnya pada Grand Duke, jiwanya sebagai seorang Raja masih tidak bisa tutup mata tutup telinga pada urusan kerajaan. Setiap pagi ketika Jaemin masih tidur, ia menyempatkan diri untuk membaca laporan Grand Duke. Bahkan dalam beberapa kesempatan ketika Jaemin pergi, ia memanggil pejabat kerajaan untuk memberikan pengarahan. Namun itu semua belum cukup. Masih banyak urusan yang harus ia tangani sendiri. Sudah sejak dua minggu lalu Mark ingin kembali ke Fyzool namun ia tidak tega merusak wajah bahagia Jaemin. Keinginannya itu baru terkabul beberapa hari lalu ketika Jaemin mengkhawatirkan keabsenannya di puncak pemerintahan Viering. Dan hari inilah mereka memutuskan untuk kembali ke Fyzool. Teringat banyaknya tugas yang menantinya dan juga Jaemin sebagai Ratu Viering, Mark tidak sanggup melepas saat-saat damai ini. Semalam ia memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk memadu kasih dengan Jaemin.
"A…apakah saya perlu meminta prajurit untuk menjemput Paduka Ratu?" Nicci memberanikan diri untuk bertanya.
"Tidak perlu," Mark berdiri. "Selesaikan tugasmu dan Taeil, urusan ini bisa menunggu sampai aku kembali."
"Anda akan pergi ke mana?" sang Grand Duke keheranan.
"Ke tempat seharusnya aku pergi," jawab Mark sambil meninggalkan Ruang Kerjanya.
"Kalau Anda ingin menjemput Ratu, Anda tidak perlu turun tangan. Saya bisa meminta Jancer mengatur prajurit untuk menemukan Ratu."
"Menurutmu itu berguna?" Mark bertanya.
"Percuma melarangnya, Papa," komentar Jisung, "Mark benar. Selain dia, tidak ada yang bisa membawa Jaemin pulang."
"Tapi… membiarkan mereka seorang diri di Loudline tanpa seorang pengawalpun?"
Jisung tersenyum. "Papa perlu merubah pandangan terhadap hal satu ini."
"Membiarkan Raja dan Ratu seorang diri di luar Istana tanpa pengawalan adalah hal tergila yang tidak bisa aku bayangkan!"
"Mereka jauh lebih aman tanpa pengawal," Jisung meyakinkan ayahnya dan ia menekankan, "Apalagi setelah peristiwa Pittler."
Jisung tahu Jaemin mempunyai banyak kawan baik di Loudline. Setelah percobaan pembunuhan Jaemin oleh Somi, tak mungkin teman-teman Jaemin itu tidak mengetahui siapa sang Ratu Viering. Mark, tentu saja, tidak mungkin membiarkan mereka berterus terang. Kini teman-teman Jaemin itu bukan hanya menjadi sumber informasi Jaemin tetapi juga pengawalnya yang paling tangguh di pusat kota Loudline.
Dan memang itulah yang terjadi. Setiap orang menyapa Jaemin dengan ramah. Mereka tetap bersenda gurau dengannya seperti biasa. Di saat bersamaan mereka juga meyakinkan diri peristiwa yang lalu tidak terulang.
"Benarkah itu?" Jaemin tidak percaya.
"Semua orang membicarakannya. Duke Binkley dan Lady Renjun sering terlihat bersamaan."
"Anda sebagai pelayan Johnny Hielfinberg, mengapa tidak mengetahui gosip ini?" seorang di antara mereka sengaja menyinggung.
Jaemin tertawa panik. "Itu semua salah Mark," kepalanya dengan cepat mencari alasan, "Dia mengurungku."
Tentu saja mereka tahu penyebab yang sebenarnya.
"Benarkah?" Mrs. Lee mendesak, "Bukannya kau paling suka mendengar gossip."
"Mengapa kalian semua hari ini tidak mempercayaiku?"
Semua orang langsung gugup.
"Aku merasa hari ini kalian semua bertambah aneh. Apakah ini hanya perasaanku saja?" Jaemin bergumam, "Namun kalian terasa menjaga sikap dan tutur kata."
"Ya. Ya itu pasti hanya perasaan Anda saja," Lucas panik.
Jaemin melihat pemuda itu dengan curiga. Ia tidak pernah bertanya pada Mark bagaimana hari itu ia menemukannya. Ia tidak pernah memikirkannya hingga detik ini. Hari itu ia berada di antara mereka. Hari itu pula di hadapan mereka ia diculik. Apakah mungkin Mark menemukannya tanpa menginterogasi mereka? Apakah mungkin Yuta dan para pengawal yang mengikutinya tidak melihatnya bersama mereka? Tidak itu tidak mungkin!
Sesuatu! Mark pasti telah melakukan sesuatu terhadap mereka sehingga mereka bersikap seaneh ini padanya. Tetapi apakah itu?
Jaemin mengerang geram. Ia tidak dapat memikirkan jawabannya.
Erangannya itu membuat tiap orang yang mengerumuninya kaget.
"Aku pasti akan membuatnya mengatakan…," tiba-tiba Jaemin merasa perutnya mual.
"Anda tidak apa-apa?" Mrs. Lee bertanya cemas melihat wajah Jaemin yang tiba-tiba pucat.
"Tidak. A…," Jaemin merasa mual di perutnya naik ke tenggorokannya. Ia tidak dapat memuntahkan isi perutnya di sini. Baru saja Jaemin berdiri ketika pandangannya kabur.
"Paduka Ratu, Anda tidak apa-apa?" Lucas benar-benar panik melihat tubuh Jaemin yang limbung.
Jaemin memelototi pemuda itu.
Mrs. Lee segera bertindak dengan menangkap tubuh Jaemin. "Paduka Ratu!"
"Paduka Ratu! Paduka Ratu!"
"Mengapa? Mengapa kalian tahu?" Jaemin ingin mengutarakan pertanyaan itu pada orang-orang yang panik namun pandangannya kian kabur.
Ketika ia membuka matanya kembali, Mark tengah memelotot tajam padanya.
"Apakah hari ini kau sudah cukup membuat keributan?" tanyanya geram.
Jaemin melihat sekelilingnya dengan bingung. Ayahnya duduk di sisi kanannya sambil menggenggam tangannya erat-erat dengan sepasang mata terharu. Mark berdiri di belakang Johnny dengan wajah geramnya namun ia tidak dapat menutupi senyum bahagianya. Di sisinya tampak pula Duke yang tak mampu menahan senyum bahagianya. Nicci berdiri di kaki ranjang dengan wajah gembiranya. Jisung berdiri di sisinya dengan senyum nakalnya yang khas. Di sampingnya, Renjun yang cemas didampingi Jeno.
Duke Binkley!? Jaemin langsung teringat gosip yang didengarnya dari kota.
"Renjun! Apakah benar kau dan Jeno akan segera menikah?" tanyanya bersemangat.
Wajah Renjun langsung memerah.
"Apakah itu satu-satunya hal yang bisa kaulakukan setelah membuat kami semua cemas!?" bentak Mark murka.
"Memangnya apa yang telah aku lakukan?" Jaemin melihat mereka dengan penuh tanda tanya. Ia mulai mengulang kembali kejadian yang baru saja berlalu. Ia ingat ia berada di Loudline di antara Mrs. Lee dan kemudian…
"Mark!" Jaemin teringat kecurigaannya, "Katakan apa yang kau lakukan pada mereka!? Mengapa mereka tahu aku adalah Ratu!?"
"Kalau kau sadar kau memang seorang Ratu, bersikaplah semestinya!" senyum di wajah Mark menghilang.
Jisung tidak dapat lagi menahan tawa gelinya. "Kau benar-benar Jaemin, Yang Mulia Paduka Ratu." Lalu ia melihat pada Mark. "Sudahlah, Mark, jangan kau marahi dia. Engkau tidak benar-benar ingin memarahinya, bukan?"
"Aku sangat ingin melakukannya," Mark membantah. Mereka tidak tahu betapa paniknya ia ketika penduduk Loudline menyambut kedatangannya. Ia tahu sesuatu telah terjadi pada Jaemin ketika serombongan orang dengan wajah panik melesat ke arah Istana.
"Aku benar-benar kaget ketika mendengar kabar itu. Berita kedatangan Jaemin belum sampai tetapi berita Jaemin pingsan di Loudline sudah menyebar. Aku benar-benar tidak menduga," Renjun melihat Jaemin dengan perasaan bangga dan haru yang tidak dapat diungkapkannya.
"Bagaimana pun juga Jaemin seorang wanita," Duke Taeil menegaskan.
"Wanita liar yang tidak mau diam dan suka membuat keributan," Mark membenarkan.
"Berkat itu Jaemin menjadi satu-satunya Ratu Viering yang begitu dekat dengan rakyat," timpal Jisung, "Tidak akan ada seorang Ratu yang pingsan di Loudline dan pulang dengan segerobak penuh sayur-mayur yang cukup untuk Lucasulan."
Jaemin tidak mengerti apa yang tengah mereka bicarakan.
"Aku tidak sabar menanti kehadirannya di antara kita," Johnny meremas tangan Jaemin.
Ia kian tidak mengerti.
"Countess Hansol pasti turut gembira di alam sana," Nicci terharu.
Mark mendesah panjang. "Kurasa mulai detik ini aku harus berdoa setiap hari untuk keselamatan mereka sampai dia benar-benar muncul di dunia ini."
Mereka langsung tertawa lepas.
"Apa yang kalian tertawakan?" Jaemin menuntut jawaban, "Apa yang kalian bicarakan?"
Mark duduk di sisi istrinya dan tersenyum lembut padanya. "Aku akan memberitahukannya padamu, istriku," ia meraih Jaemin ke dalam pelukannya, "Aku akan memberitahumu pelan-pelan."
Mereka langsung sadar sudah saatnya mereka meninggalkan Ivory Room.
"Aku percaya seluruh penduduk Viering sudah mengetahui kehamilan sang Ratu," Jisung tersenyum geli membayangkan kembali kepulangan Jaemin yang masih belum sadar diantar penduduk Loudline yang gembira dan raut wajah cemas namun bahagia Mark yang tidak dapat digambarkan dengan lukisan maupun kata-kata.
"Kita masih perlu membuat pengumuman resmi," Grand Duke menegaskan.
"Aku sungguh tidak percaya Jaemin akan menjadi seorang ibu!" Renjun menyatakan ketakjubannya ketika mereka melangkah di sepanjang koridor.
Jisung berbicara serius, "Sekarang yang perlu dikhawatirkan adalah tingkah laku Jaemin. Kita harus menjaganya dengan ketat setidaknya sampai bayi itu lahir. Untuk itu," ia beralih pada sang Duke Binkley dan kakaknya, "Kalian harus segera melangsungkan pernikahan kalian."
"Jisung benar," Johnny sependapat. "Kalian harus bertindak cepat."
"A-apa yang kau bicarakan, Jisung?" Renjun panik karena malu, "I-itu itu…"
"Kau tidak ingin Jaemin melahirkan di pesta pernikahanmu, bukan?" Duke Taeil tersenyum pada Renjun kemudian pada Jeno, sang calon menantunya.
Renjun terperanjat, "I-itu… itu tidak mungkin terjadi. Jaemin… Jaemin… dia…."
"Mungkin saja," Jisung membenarkan, "Kau juga tahu Jaemin. Aku tidak akan kaget bila Jaemin melahirkan di Loudline."
Ucapan Jisung yang sekedar basa-basi itu menjadi kenyataan tujuh bulan berikutnya. Seisi Loudline dan Fyzool kalang kabut mengetahui Jaemin melahirkan. Bila penduduk Loudline sibuk membantu kelahirkan sang Putra Mahkota, Fyzool sibuk mempersiapkan penyambutan sang Ratu dan sang Putra Mahkota.
Mark, lagi-lagi tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaannya. Ia panik, marah, cemas namun ia juga bahagia.
Jaemin memang suka membuatnya panik. Jaemin suka membuatnya marah. Namun Jaemin juga yang membuat hidupnya penuh sensasi. Jaemin membuatnya bahagia.
"Jaemin memang ratu pilihan," gumamnya melihat Jaemin berbaring di ranjang sambil menggendong putra mereka yang baru saja lahir.
END…
Mianhae saya update sekarang karena berbagai halangan untuk menyelesaikan story ini. Setelah ini saya akan pindah ke blog pribadi untuk membuat cerita original milik saya sendiri. Terima kasih buat readers yang sudah setia menunggu updatenya story ini..
Salam hangat dari saya^^ *bow
