Anyonghaseyo

Chapter 10 update, mian jika tulisan yang author hasilkan sama sekali jauh dari apa yang diharapkan, ooc bahkan gaje.

Bagi yang bertanya Zaiphone itu apa? Zaiphone sejenis mantra penghancur. Hehehe

Gomawo yang sudah mau review chapter sebelumya. Author benar-benar berterimakasih bagi para reader yang telah me-review fic ini, bungkuk sembilanpuluh derajat.

Warning : Chapter ini tidak ada romance sama sekali.

Langsung saja, Harakiri production mempersembahkan.

FnC Academy

Chapter 10

Pemuda itu berjalan menyusuri koridor yang sepi, bayangan kejadian tadi terbayang jelas bagai slide-slide yang membuat dirinya merona. Hari ini adalah puncak segalanya dan hari ini pula dia mendapatkan apa yang selama ini dia inginkan. Dia menutup mulutnya ketika menguap lebar. Dia agak mengantuk ketika dia menghabiskan malam bersama pemuda yang dia sukai, hanya sekedar meluapkan rasa cinta dengan pelukan, kecupan dan sedikit sentuhan ringan .

Menyenangkan dan dia sangat yakin akan sosok pemuda itu

Malam ini dia ingin sekali berbicara kepada ayahnya, memperbaiki hubungan keduanya dan menceritakan tentang apa yang dia alami. Walaupun hubungan keduanya nampak kaku namun pemuda itu ingin memperbaikinya. Yah… mungkin semua adalah kesalahannya, dia yang tidak pernah menceritakan masalah-masalah pribadinya dengan ayahnya, dia yang tidak pernah mengucapkan selamat pagi kepada ayahnya dan dia yang tidak pernah sekedar tertawa bersama ayahnya.

Mungkin ini adalah malam yang tepat untuk memperbaiki semua, menceritakan rahasia kecil mengenai dirinya.

Jonghun mengambil langkah menuju tangga bergerak dan memasuki ruangan ruangan mewah yang berjajar. Sepi, namun tidak menutupi keindahan dan estetika seni yang menyokong bangunan itu. lampu menyala penuh, membuat bayangan dirinya terbentuk sempurna akibat pantulan cahaya. Pelan, pemuda itu menatap ruangan dimana ayahnya berada, dia tersenyum sejenak kemudian mengulurkan tangannya hendak membuka pintu ruangan. Namun, tangannya berhenti ketika melihat pintu ruangan sedikit terbuka .

Kemudian Pemuda itu mendengar sesuatu di dalam ruangan itu, sayup-sayup suara terdengar meski tidak jelas. Namun, Jonghun mengenal suara itu dan tahu siapa yang ada di dalamnya. Dua kali, cukup membuat Jonghun curiga dengan pemuda itu, untuk apa seseorang yang berstatus hanya sebagai siswa menemui pemilik Academy di ruangan pribadinya pada waktu seperti ini. Bahkan seorang Choi Jonghun saja tidak akan berani untuk menemui ayahnya pada waku selarut ini .

Jonghun merapatkan tubuhnya, mencoba menguping apa yang mereka bicarakan. Jonghun tidak mampu menebak lagi apa yang akan terjadi, kepalanya sudah dipenuhi dengan berbagai dugaan, namun dia mencoba berfikir positif. Ya…dia berharap semua akan baik-baik saja.

Percakapan samar itu mendadak menjadi jelas.

"Sepertinya semua berjalan seperti yang aku harapkan, kau semakin dekat dengan Jonghun," sahut sebuah suara samar, namun Jonghun tahu jika itu adalah suara ayahnya sendiri. Dia semakin tidak tahu kenapa namanya disebut-sebut. Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Beribu-ribu pertanyaan berputar di kepalanya.

"Iya, aku sangat senang akhirnya aku bisa dekat dengan Jonghun-hyung. Dia benar-benar pantas menjadi hyung, aku sangat menyayanginya." balas suara lainnya.

Minan?

Ya, seperti dugaannya, pemuda itu adalah Minan. Jonghun kembali menajamkan pendengarannya, mencerna satu demi satu kata yang akan di dengar.

"ya, aku harap dia benar-benar bisa menjadi hyung bagimu?"

Lagi-pemuda itu menahan nafas, berharap apa yang di dengarnya tidak benar. Jantungnya sudah berdetak tidak normal.

"Iya, tenang saja. Dia sudah menjadi hyung yang baik. Bahkan dia akan melindungiku ketika ada orang yang akan melukaiku. Dia memang pantas menjadi hyung. "

"Syukurlah, dan sebentar lagi kebenaran akan terkuak,"

"Maksudnya?"

Minan bertanya persis dengan apa yang dipikirkan Jonghun, apa maksud dari semua ini? apakah maksud dari kebenaran akan terkuak?

"Minan, bukankah ini yang kita inginkan. Ayah akan mengatkan pada Jonghun kalau kau adalah anak ayah."

Dan ucapan terakhir membuat dirinya benar-benar membeku. Berdiri dengan tubuh bergetar. Jonghun benar-benar merasa ketakutan yang luar biasa. Dia tidak mampu lagi untuk sekedar menarik nafas, seekan-akan tercekik kenyataan. Apakah yang dia dengar itu benar? Bagaimana mungkin?

Kenyataan ini bagai sebuah duri yang menancap tapat di hatinya, kenyataan yang hampir membuat dirinya mengeluarkan tetesan-tetesan air bening dari matanya. Dia tidak mampu menggerakkan sedikitpun kakinya untuk meninggalkan tempat ini, meninggalkan tempat yang menjadi saksi atas kenyataan yang telah terkuak lebar. Namun, semuanya harus jelas sebelum Jonghun mengecap ayahnya sebagai seseorang yang tidak pantas untuk dia contoh.

Jonghun memejamkan matanya, membuka keras pintu yang tadinya tertutup itu.

"Apa maksud dari semua ini?"

Dan suara pemuda itu sukses membuat kedua lelaki di dalam ruangan itu membelalakkan mata. Minan menggigit bibir bawahnya ketika melihat hyung-nya datang dengan kilatan kemarahan di matanya. Minan dapat melihat itu dan apakah Hyung-nya mendengar semua? Pasti, ya pasti.

"Jonghun, bisakah kau menggunakan sopan santunmu. Ayah tidak mengajarimu untuk masuk tanpa meminta izin terlebih dulu." Tuan Choi menatap anaknya, namun ada sedikit nada gusar dari ucapnnya.

"Aku tidak peduli, tolong jelaskan semunya. Aku mendengar semuanya?" Jonghun berteriak, mengeluarkan kemarahan yang dia simpan. Cukup sudah, sekarang pemuda itu harus menyelesaikannya.

Minan yang mendengar ucapan hyung-nya menunduk , menghindari apa yang dia lihat. Semua mendadak menjadi jelas. Semuanya pasti akan terbongkar, membuat hubungan mereka akan semakin rumit. Kini ia benar-benar berada dalam situasi yang tidak dia inginkan, dia ingin menyelesaikan ini semuan namun sepertinya tidak bisa. Hanya mampu berdiri di belakang ayahnya. dia merasa dirinya begitu bodoh, begitu….tidak bisa melakukan apapun untuk menghadapi ini semua.

"Apa maksudmu Choi Jonghun?" Tuan Choi mulai bicara.

"Anda bertanya seperti itu, apakah ayah tidak bisa berkata jujur pada anakmu sendiri."sekedar untuk berkata saja Jonghun tidak mampu, dia hanya melihat kedua lelaki di depannya dengan tatapan nanar.

"Jadi kau sudah mendengar semuanya Jonghun, baiklah mungkin ini saatnya kau mengetahui kenyataan sesungguhnya."

"Ayah….,"Minan berbisik pelan seakan-akan menanyakan keputusan ayahnya itu.

"Dengar Jonghun, Minan adalah dongsaeng-mu. Dia adalah anak ayah, jadi ayah berharap kau menerimanya." Tuan choi berkata lantang.

Dan penegasan itu kembali membuat pemuda berumur tujuhbelas tahun itu bergetar, matanya merah bahkan dia sudah tidak mampu lagi bergerak . Dia ingin marah, ya marah! Choi Jonghun ingin melampiaskan gemuruh yang ada di benaknya, mengeluarkan kekecewaan yang hampir mengerupsi perasaannya dan mengeluarkan betapa putus asa-nya dia dengan kenyataan yang ditulis untuknya.

"Bagaimanamungkin kau menghianati ibuku?" bisiknya lemah.

"Itu sudah lama terjadi Jonghun, jadi tolong jangan pernah mengungkit itu lagi. Dan sekarang kenyataannya bahwa Choi Minhwan adalah anak syah dari Ayah dan dia merupakan adik kandungmu." Lelaki itu masih memasang wajah stoic-nya, arogan.

"Gampang sekali mengatakan itu, tapi aku tidak akan memaafkan orang yang telah menyakiti ibuku. Ayah tidak tahu ibuku begitu menghormati-mu, mendoktrin anak yang tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ayah bahwa ayahnya adalah sosok sempurna yang patut untuk dicontoh. Apakah pantas ibuku disakiti?" Jonghun mencengkeram tangannya, membuat kukunya menancap di kulit putihnya. Bahkan Tuan Choi sanggup merasakan cakra yang sangat berantakan yang dikeluarkan oleh anaknya.

Minan semakin menenggelamkan diri pada pikirannya, dia merasa sangat bersalah. Karena kehadirannya, karena keberadaannya dan karena darahnya Ayah dan Jonghun-hyung bertengkar seperti ini.

"Jonghun, aku tidak ingin membahasnya. Bisakah kita membahasnya lain kali." Tuan Choi menghela nafas, suaranya agak bergetar.

"Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran ayah." Teriak Jonghun. Emosi-nya benar benar meluap sekarang, dia merasakan beban yang sangat berat setiap kali matanya harus bertemu pandang dengan mata hitam ayah-nya.

"Ini adalah kenyataan Jonghun, ayah tidak perlu menjelaskan lagi."

"Tolong berikan alasan agar aku tidak membencimu, tolong berikan satu saja alasan agar aku mampu menghormatimu lagi."

Ketiga pemuda itu bergetar dengan setiap kata yang diucapkan Jonghun, tiga pikiran yang berbeda dengan masaah yang sama. Dan ketiganya menyimpan setetes air mata yang tidak mungkin untuk di perlihatkan kepada yang lain.

"Alasannya karena aku ayahmu."

Dan lenyap sudah semua hal mengenai ayah-nya. Dengan pelan, perasaan kecewa dan kemarahan mendominasi hatinya. Jonghun hanya menatap tajam ayah-nya. Hanya keheningan yang terjadi diantara ketiganya. Sampai ketukan pintu dan suara berisik mengusik mereka.

"Tuan Choi, bisakah aku masuk?" Suara seseorang menggema di ruangan luas itu.

"Ayah kita selesaikan semuanya sekarang."ucap Jonghun.

"Seseorang tidak akan mengetuk ruangan ini jika tidak penting Jonghun, Jangan egois."ucapnya sarkastik, "Masuklah."

Seorang pria berumur empatpuluh tahun masuk bersama dua petinggi FnC lainnya, wajahnya terlihat gusar. Jonghun menatap lelah ke arah ayahnya, ini belum selesai dan masih perlu untuk diselesaikan. Tapi, tidak bisa. Sepertinya FnC memang lebih penting bagi ayah-nya dibanding dirinya.

"Ada apa?"

"Salah satu Dokumen FnC dicuri."

Dan itu adalah kejutan selanjutnya yang diterima pemuda itu

000000)(000000

FnC di gegerkan dengan hilangnya salah satu dokumen. Dokumen yang menjadi pegangan proyek mereka, rencana mereka dan semua hal yang berhubungan dengan masa depan FnC. Ketika semuanya telah terjadi, tidak ada yang sanggup mengembalikan sesuatu yang telah di rampas. Mereka kembali berkumpul, di ruangan kecil yang hanya memuat segelintir orang. Hanya rapat intern yang membahas mengenai rencana ke depan. Hanya ada enam lelaki, dan semuanya hanya mampu terdiam ketika dokumen-dokumen yang mereka bawa tidak sempurna, Tuan Choi dan Tuan Jong membolak-balikan dokumen sambil menatap kedua putra mereka dengan tatapan yang sulit di artikan, seolah-olah ini semua memang pertanda buruk yang harus diterima pihak FnC.

Jonghun yang sebenarnya malas untuk mengikuti rapat ini terpaksa harus turun akibat tanggung jawab yang dia pikul, dia merasa lelah dan merasa muak dengan keadaan yang dia alami. Satu ruangan dengan ayahnya, membuat dia mengingat kembali kejadian yang beberapa jam baru terjadi. bahkan pemuda itu belum memejamkan matanya untuk sekedar mengistirahatkan tubuhnya. Kejadian beberapa jam lalu yang merubah interaksi keduanya menjadi lebih buruk

"Bagaimana, benar dokumen itu yang dicuri." Tuan Jong merapikan kertas-kertas yang tercecer di meja, sementara Tuan Choi membanting lembaran-lembaran dokumen yang dia bawa. Dia melonggarkan dasi yang dia pakai, mencari pasokan udara lebih banyak untuk mengurangi ketegangan yang melanda dirinya.

Pelan, pria berumur empatpuluh tahunan itu menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Iya, dokumen itu yang dicuri. Dokumen rahasia kita dan dokumen yang memuat rencana-rencana kita?"

"Sebenarnya itu dokumen apa?" jonghun berkata akhirnya meski tidak sepenuhnya memandang ke arah ayahnya.

"Dokumen rahasia yang selama ini telah dilakukan FnC."ucap Tuan Jung pelan.

"Dokumen rahasia?" Jonghun mengerutkan dahi.

"Apa maksudnya?"Yonghwa bertanya.

"Itu adalah Dokumen FnC, dokumen rencana FnC dan rencana serangan besar-besaran yang akan dilakukan FnC."

Jonghun mengerutkan dahi, mencoba mencerna apa yang terjadi. apa maksud dari semua ini?

"Apa maksud dari serangan besar-besaran yang dilakukan FnC?"

"FnC akan melakukan penyerangan pada Academy lain sebelum FnC benar-benar di serang

Brakkkk

Jonghun menggebrak meja, dia menatap ayahnya marah. Berita ini bagai sebuah Tamparan yang begitu keras sampai Jonghun benar-benar merasa terjatuh dalam ketidakpercayaa . Dia tidak percaya FnC akan melakukan ini, terlalu sulit untuk menjalar sampai ke otaknya. Dia tak tahu harus berbuat apa setelah mengetahui apa yang terjadi, bahkan tidak pernah mengikuti rapat yang membahas mengenai hal itu. peperangan bahkan tidak pernah terlintas di kepalanya, apalagi penyerangan terhadap Academy lain. Dia tak tahu harus merasakan apa sekarang, terombang-ambing dalan sebuah permainan yang telah disusun ayahnya tanpa tahu peran apa yang akan dia pegang, sebagai iblis pembunuh atau malaikat pembunuh-sama saja. Marah. Sesal. Takut.

"Ada apa Choi Jonghun."

"Kenapa harus menyerang Academy lain, lagipula kita tidak tahu siapa musuh kita sebenarnya. Bagaimana kalau kita salah menyerang, mereka yang tidak tahu apa-apa akan merasakan dampaknya."Jonghun berkata pelan.

"Ini namanya pencegahan Choi Jongun dan lagipula ini merupakan salah satu perluasan wilayah FnC. Bukankah kau memang ditugaskan untuk memperluas FnC," Tuan Choi berkata lantang.

"kalau begitu kita sama dengan mereka." Jonghun berteriak.

"Memang seperti itu,"

Ucapan ayahnya membuat Jonghun benar-benar tidak mampu lagi berfikir normal. penyerangan dan peperangan, pertempuran dan pertumpahan darah akan segera terjadi. dan FnC-lah salah satu pemulainya, sulit untuk dipercaya. Dan yang lebih tidak dipercaya adalah dia sebagai pemimpin penghancuran tersebut. Yah….Jonghun memang menginginkan kemakmuran FnC, perkembangan FnC dan Kemajuan FnC. Namun bukan dengan cara seperti ini. FnC dan mereka ternyata sama saja.

"Jika buku itu memang jatuh di tangan mereka, berarti pertempuran memang tidak bisa dihindari lagi."

"Tapi siapa yang mencuri buku ini, bukankah perwakilan masing-masing Academy patut dicurigai."Yonghwa bebicara.

"Memang sangat wajar untuk dicurigai, namun mereka tidak bodoh untuk mencuri sesuatu tanpa menggunakan topeng. Jika mereka yang melakukannya sekarang, pasti mereka akan menjadi tersangka utama-nya. Jadi kemungkinan bukan mereka yang melakukan pencurian."

"Lantas siapa?" Yonghwa bertanya lebih lanjut.

"Seperti yang dikatakan Jonghun sebelumnya bahwa di dalam FnC ini ada seorang penghianat." Tuan Jung berbicara, dia menatap pemuda-pemuda itu bergantian, "Aku sudah mengirim mata-mata dalam setiap Academy dan besok mata-mata itu akan memberi informasi mengenai itu semua, dan aku sangat yakin di dalam Academy ini ada penghianat."

Mereka terdiam, mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Tuan Jung. Penghianat? Siapa?

"Yonghwa, bagaimana perkembangan pasukan blue yang engkau pimpin?"Tuan Choi bertanya.

"Mereka siap untuk melakukan pertempuran."ucapnya.

"Baiklah, bersiap-siaplah. Dalam dua minggu ini siapkan amunisi untuk pertempuran. Setelah perwakilan Academy kembali, kita akan menyerang mereka."Tuan Choi menutup dokumen, memberi titah kepada mereka yang hanya bisa melakukan tanpa bisa menolak.

000)(0000

"Fire"

Pemuda itu mengeluarkan api yang menyala berkobar membumi hanguskan sekitarnya. Tidak ada tanda-tanda kalau dia akan menghentikan ini semua. Pertempuran dan peperangan terjadi, menakutkan dan darah.

Pemuda itu berjalan mencari lawan yang sebanding dengannya, dia melihat sesosok pria bertopeng yang sama dengannya. Di sekitarnya banyak sekali mayat yang berjejer penuh dengan luka bakar dan luka mengerikan lainnya, ini bukanlah perang sembarangan dan ini adalah final dari semua peperangan, penyerangan dan pertarungan. Semuanya dipertaruhkan dalam final ini, dimana kekuasaan akan menjadi milik siapapun yang dapat memenangkan pertempuran ini.

Pemuda itu berjalan pelan,menyiapkan cakra yang sudah terkumpul di tangannya. Api berkobar, berkumpul membentuk pusara di tangannya. Tanah yang dia pijak berubah menjadi hitam kecoklatan akibat panas yang ditimbulkan dari tubuhnya.

Kedua pemuda bertopeng itu berlari dan menyiapkan cakra masing-masing, angin menyelimuti keduanya saat dua kekuatan bertemu. Awan hitam dan debu yang berterbangan, angin yang semakin membuat keduanya tidak mampu melihat lawan masing-masing dalam jarak dekat dan lautan darah yang menggenang menghiasi luapan hamparan tanah merah.

Keduanya berlari, saling menghujamkan kekuatan masing-masing

Dan…

Dhuarrrrrrr

Ledakan hebat muncul dengan gumpalan asap yang menutup jarak pandang, asap hitam berkobar menutupi seluruh dimensi yang diciptakan. Tidak ada yang tahu apa yang terjadi sesungguhnya.

Kabut lenyap secara mendadak. Semuanya telah berganti, tidak ada pertempuran dan hanya tersisa dirinya sendiri dalam bentangan lautan darah. Dirinya jelas berada di sana, tanpa ada lagi pertempuran hebat tadi dan dua manusia misterius itu. Kini pemuda itu berjalan lunglai menyelusuri tanah merah yang dihiasi aliran darah, dan detik itu pula dia melihat semuanya. Wajah orang-orang yang disayanginya tergeletak tidak berdaya bergabung bersama tumpukan mayat itu, darah yang mengalir, lebam dan hitam, berbagai goresan di tubuh mereka, hidung yang mulai mengucurkan darah tanpa henti dan mata yang membelalak.

Dia bergetar hebat, hanya mampu berdiri menyaksikan itu semua.

Dia merasakan seseorang seseorang memegang kakinya, pelan pemuda itu menunduk melihat tangan siapa yang menggapai dirinya.

Dan matanya membulat ketika dia melihat seorang pemuda memuntahkan darah dari mulutnya, mengotori kaki pemuda itu. Tangannya terulur ….

"Jaejin…."

…..

….

"TIDAAAAAAAAKKK!"

Jaejin terbangun, dia menghela nafas terengah-engah, keringat sudah membanjiri tubuhnya. Matanya membelalak masih tidak mampu lepas dari alam bawah sadarnya. Mimpi itu, mimpi yang benar-benar membuatnya membeku, apakah kenyataan besok akan sama dengan apa yang ada di mimpinya. Dia mengedarkan wajahnya ke sekeliling kamar, dia meraba ranjang sebelahnya, Tidak ada Wonbin-hyung. Kemana Wonbin-hyung.

"Wonbin-hyung!"

Pemuda berumur enambelas tahun itu bangkit dari tempat tidurnya, dia menyambar jaket kemudian keluar dari kamarnya. Dia berlari menuruni tangga yang, sempat dia hampir terjatuh akibat salah memijakan kaki. Dia sangat khawatir tentang hyung-nya itu, dia ingin melihat hyung-nya dan memastikan jika hyung-nya baik-baik saja. Tidak ada luka, tidak ada darah yang menyembur dari mulutnya dan tidak ada suara lemah yang memanggil namanya.

Belum pernah dia merasa sekhawatir ini, dia benar-benar takut jika mimpinya akan menjadi kenyataan.

Pelan, satu langkah, dua langkah dia menyelusuri seluruh seluruh pelosok asrama. Dia tidak peduli jika kakinya meronta untuk segera berhenti, bagaimanapun lelah menghampiri dirinya namun tidak lebih kuat dengan kemauan untuk menemui pemuda itu.

Dia terengah-engah, dia seka keringat yang mengucur lembut membasahi pelipisnya. Setiap tetes terhapus akan muncul tetesan-tetesan lain yang membasahi wajahnya. Ketakutan, kekhawatiran dan kegelisahan benar-benar menguar jelas di wajahnya. Dia berlari mengelilingi taman FnC dan ketika dia melewati tikungan, tanpa sengaja dia menabrak seseorang. Seorang pemuda yang sama sekali belum dia kenal, salah satu perwakilan Dorness Academy.

"Mian." Jaejin menunduk.

Pemuda itu tersenyum, kemudian pergi meninggalkan Jaejin yang hanya menatap ke arah pemuda itu. Dia menggelengkan kepala, meneruskan perjalanan yang sempat tertunda itu. Dia pijakan kakinya menuju tempat pesta tadi malam, aula yang sempat diubah menjadi tempat mewah. Dia buka pintu ruangan, dan betapa terkejutnya dia ketika dia malah menemukan Hongki-hyung bersama dengan Wonbin-hyung berbincang-bincang dengan akrab.

"Hyung…?" Jaejin masuk, nafasnya terengah-engah. Hongki dan Wonbin hanya bisa menatap Jaejin dengan pandangan yang sulit diartikan. Pelan, pemuda itu masuk bergabung bersama kedua pemuda itu.

"Ada apa?"Wonbin menatap pemuda itu.

"Tidak ada apa-apa, aku hanya tidak menemukanmu ketika aku bangun. Kau seenaknya saja menyuruhku pulang ke asrama, menyuruhku untuk tidur dan setelah itu kau pergi. Sebenarnya apa maumu hyung!" Jaejin mencari alasan, tidak mungkin-kan jika pemuda itu mengatakan bahwa di dalam mimpinya dia melihat Wonbin mengeluarkan darah dan hampir mati.

"Mian, tapi aku harus menemui ayahku sekarang. Kita bicara lain kali saja"

Wonbin menatap Jejin, kemudian dia alihkan matanya ke arah Hongki. Pelan pemuda itu menepuk pundak Jaejin, memberikan senyuman kepada pemuda itu.

"Percaya padaku,"

Dan setelah itu, hanya ada suara pijakan kaki yang semakin samar. Bayangan Wonbin yang tadinya jelas semakin pudar, punggung-nya juga semakin menjauh, membuat Jaejin hanya bisa melihat punggung pemuda itu. Jaejin mendesah ketika dia tidak mampu lagi melihat pemuda itu, dia pejamkan matanya semoga apa yang ada dalam mimpinya tidak akan pernah terjadi. Dia tidak ingin kehilangan semua, mayat-mayat yang tergeletak itu, dia tahu mereka dan siapa mereka.

"Ada apa, kau sangat mengkhawatirkan Wonbin ya?"

"Entahlah hyung, aku bermimpi buruk dan itu mengenai kalian semua."Jaejin menunduk, dia mencengkeram erat jaket putih yang dia kenakan.

"Tenang saja, hanya mimpi buruk. Aku yakin semua akan baik-baik saja." Hongki menepuk pundak Jaejin.

"Ya, aku harap seperti itu." dia seperti tidak yakin dengan ucapannya kali ini, matanya menerawang membayangkan sesuatu yang mungkin saja terjadi. DIa menepis bayangan-bayangan itu, membuang jauh-jauh mimpi yang baru saja dia alami, "Hyung, apa yang kalian lakukan di sini?"

"Tidak, hanya bertemu tanpa di sengaja. Aku melihat Wonbin sendiri di sini, jadi kami mengobrol sebentar. Katanya dia ingin menemui ayahnya, Wonbin sangat merindukan ayahnya, dan kau tahu dia dulu adalah anak yang tidak bisa berfikir dewasa, selalu mengandalkan ayahnya dan suka menangis."

"Seperti itukah, hyung kau tahu jika Wonbin-hyung menyukaimu?"

"Mwo…..,"hongki tertawa menatap Jaejin,"Aku tahu, dan itu hanya masa lalu."

"Masa lalu bagaimana, sekarang saja dia masih menyukaimu?"

Jaejin menggerutu, Hongki yang melihat kejadian itu hanya bisa tersenyum. Mengacak-ngacak rambut pemuda yang lebih muda itu.

"Kau sangat lucu, aku mengenal Wonbin. Jadi aku tahu betul apa yang ada di hatinya sekarang."

"Aku tidak peduli."Jaejin melotot.

Hongki tertawa, belum pernah dia melihat setan kecil seimut ini.

Dan setelah ini, mereka terdiam ketika mendengar keributan di luar sana. Keributan yang membuat kedua pemuda itu meninggalkan aula dan mencari sumber keributan itu.

00000)(00000

Setelah semua insiden yang terjadi membuat FnC kalang kabut, mereka memperketat penjagaan, membuat pagar dari kekai untuk melindungi dokumen-dokumen rahasia milik FnC. Dan sekarang Tuan Jong berjalan melewati lorog-lorong gelap hendak menemui seseorang yang selama ini dia tunggu, informan yang dia perintahkan untuk mencari pelbagai informasi mengenai pihak musuh, pelan lelaki berumur empat puluh tahun itu berjalan menuruni tangga yang dia pijak.

Di tempat itu mereka berjanji untuk bertemu, dalam ruangan kecil dimana mereka sering melakukan rapat rahasia.

Dan ketika pria itu sampai, tidak ada siapapun yang ada di dalam ruangan. Hanya kegelapan yang nampak menyelimuti ruangan, dia melangkah pelan, namun langkahnya terhenti ketika tanpa sengaja kakinya terantuk sesuatu. Sesuatu yang tidak keras dan tidak lunak, ada cairan yang nampak membasahi sedikit kakinya.

Dengan pelan, lelaki itu menunduk mengalihkan padangannya.

Dan sebuah mayat tergeletak dengan kubangan darah yang mengucur dari tubuhnya.

Tuan Jung membelalakkan mata ketika dia tahu siapa yang tergeletak tanpa nyawa itu, informan yang dia perintahkan untuk mencari informasi. Tangannya bergetar, dia jongkok mengamati mayat yang tergeletak itu, sayatan sayatan nampak di sekujur tubuhnya. Sayatan kecil dan sayatan besar tergambar dan menghasilkan lelehan darah yang luar biasa banyaknya.

Bagaimana mungkin dia terbunuh di FnC? Bukankah kemanan telah diperketat?

Beribu-ribu pertanyaan terus memenuhi pikirannya, dan ketika lelaki itu melihat-lihat luka yang menewaskan pemuda itu. Sebuah jarum berputar meluncur deras mengarah ke arah jantungnya. Tuan Jong melompat menghindar hingga jarum itu menancap tepat di dinding.

"Keluarlah Tuan Lee, aku tahu kau yang melakukan itu semua?" Tuan Jong berteriak.

Hanya suara ketukan sepatu yang menggema memenuhi ruangan, pelan namun pasti sesosok pria berumur empat puluh tahun muncul dengan seringainya, seringai memuakkan yang membuat Tuan Jung membelalak.

Angin yang bertiup di sekitarnya berubah menjadi pusara yang membentuk tornado kecil di tangan dan sekitarnya.

"Kau memang hebat Tuan Jung, aku tahu kau memiliki pengamatan yang baik."Tuan Lee terkekeh.

"Luka yang kau buat dalam tubuh mayat itu adalah luka khas kekuatanmu, siapapun tahu itu?"

"Begitukah, sayangnya kalian terlalu lama untuk menyadari semuanya."Tuan Lee memperbesar cakranya membuat aliran angin berubah lebih cepat.

"Ya, kami terlambat mengetahui jika kau adalah penghianat. Namun, aku tidak akan membiarkanmu lepas begitu saja, aku akan menyereretmu ke hadapan Tuan Choi."

"Begitukah, atau kau akan menemui ajalmu terlebih dulu. Dan sepertinya sia-sia saja menyeretku sekarang, karena semuanya akan dimulai ?"

"Apa maksudmu?"

"kau akan tahu."

Tuan Lee berlari mengeluarkan cakra terbesarnya, jubah yang dia kenakan melambai akibat tekanan angin yang dia timbulkan. Tuan Jung ikut mengeluarkan cakranya, membuat pusaran es di tangannya. mereka saling menerjang menimbulkan efek gelap di sekitarnya.

Setelah hitungan ketiga, Tuan Lee mengeluarkan pusara angin dengan jarum-jarum kecil yang siap menembus kulitnya , Angin bertiup mengepung Tuan Jung dari segala arah, angin yang berbentuk seperti putaran tornado menyerang bertubi-tubi tubuh tuan Jung, berkali-kali lelaki itu meloncat menghindar dari tiupan angin yang berubah, pelan namun tajam dan terkadang cepat dan tidak bisa ditebak kapan angin itu menyerang beserta dengan ratusan jarum.

"Frozzen Ice."

Tuan Jung membekukan jarum dan membentuk perisai dari es, Tuan Lee mundur beberapa meter kemudian berkonsentrasi mengatur cakranya membuat angin kembali bertiup menerbangkan jarum-jarum kecil yang sempat teronggok di lantai. Jarum-jarum itu menembus perisai es, membuat perisai yang dibentuk hancur lebur.

Tuan Jung langsung terlempar menubruk dinding. Bahunya sedikit terluka akibat hujaman jarum yang menembus dan tertanam di bahunya. Darah langsung mengucur membasahi pakaian yang dia kenakan. Dia segera bangkit kemudian menyerang Tuan Lee dengan es nya, Tuan Lee melompat ketika es runcing yang tajam tiba-tiba saja muncul dari tanah sehingga menggores sedikit bahunya.

Lagi, mereka menyerang satu sama lain, membuat goresan pada masing-masing tubuh mereka. Dan ketika sebuah angin mengepung Tuan Jung, dia tidak mampu berbuat apa-apa lagi setelah racun yang ada dalam jarum mulai menyebar kesekujur tubuhnya. Racun yang sanggup menetralisir kekai hingga tidak mampu dibentuk lagi.

Tubuhnya mati rasa, bahkan dia tidak mampu menggerakkan jari-jarinya.

Tubuhnya limbuh dan berpuluh-puluh jarum tepat mengenai tubuhnya.

Tuan Lee menyeringai, dia mengeluarkan pedang angin dari tangannya. Pelan, dia melangkah menuju tubuh yang sudah tidak mampu lagi untuk digerakkan.

"Selamat tinggal Tuan Jung terhormat."

Ctarrrrrrr

Pedang melayang dari tangan Tuan Lee dan hujaman es runcing menghujaninya, melindungi Tuan Jong membentuk perisai tebal.

Yonghwa muncul, menenteng pedang berbentuk ular dari es.

"Tuan Lee, kau menghianati kami."

Matanya menyala merah, sejenak dia menatap ayahnya yang tergeletak tidak sadarkan diri, nafasnya bahkan sudah lemah.

"Jung Yonghwa, kau datang. Namun semuanya sudah terlambat."

"Apa maksudmu?"

"Selamat tinggal, kita bertemu dalam peperangan final."

…..

…..

Dhuaaaaaarrrrrr

Suara ledakan hebat terdengar memekakan telinga, pusara angin membuat sekitar gelap, tidak ada lagi Tuan Lee di dalam ruangan ini.

Dan di luar sana, api besar membakar kantor, aula dan ruang dokumen FnC.

Gerakan besar-besaran musuh telah dilakukan.

Hilangnya dokumen FnC, Tidak sadarnya salah satu petinggi FnC dan ledakan hebat yang menyerang FnC.

Semuanya semakin nyata dan peperangan tinggal menunggu hari untuk terjadi.

**tbc**

Yosh….akhirnya selesai juga

Chapter tersulit yang aku buat, dan chapter terkilat yang aku buat.

Mian jika semuanya aneh, karena author mencuri-curi waktu untuk menulis dalam tumpukan jadwal ujian.

Gomawo sudah membaca

Please Review