BASED ON MASASHI KISHIMOTO'S CHARACTERS

WARNING: AU,TYPOS,OOC,Etc….

Don't LIKE Don't READ!

.

.

.

Hinata mengerjapkan kedua matanya yang memiliki manik berwarna bulan. Ini pagi yang kesekian kalinya dia terbangun di dalam pelukan posesif nan hangat sang suami. Wanita itu menyamankan posisinya untuk melihat lebih dekat wajah rupawan Naruto, dan tanpa disadarinya semburat merah dikedua pipinya perlahan muncul. Terkadang dia tersenyum kecil lalu menatap dengan penuh cinta wajah sang suami.

"Aku mencintaimu, Naruto-kun," ucapnya yang terdengar seperti bisikan. Tangannya membelai rahang tegas milik sang suami dengan lembut. Takut apa yang dilakukannya akan membangunkan tidur nyenyak Naruto.

Naruto mendekap erat sang istri dan kembali memenjarakannya dalam pelukan. "Kau menggodaku pagi-pagi begini, Sayang. Apakah yang tadi malam tidak cukup?" .

Pertanyaan dengan suara khas bangun tidur milik Naruto menyentak Hinata yang berada dalam pelukan sang suami. Mukanya memerah sempurna dan dia kembali membenamkan wajahnya ke dada kokoh milik Naruto.

"Aku rasa kau masih menginginkannya, baiklah jika itu maumu,". Naruto sudah bersiap untuk mengubah posisinya mengurung Hinata.

"Tidak! A-aku tidak menginginkannya," cicit Hinata. Dia berusaha bangun dari tidurnya sebelum Naruto melakukan tindakannya. Tapi apa daya, pelukan Naruto yang erat tidak bisa membuatnya duduk. "Lepaskan, Naruto-kun. Aku harus menyiapkan sarapan kita,".

Naruto hanya mengedikkan bahunya. "Aku rasa kamu cukup untuk sarapanku, Sayang."

Naruto mulai mengeksekusi jarak dan melumat rakus bibir ranum sang istri. Hinata sendiri terjebak dalam kungkungan Naruto. Ditambah lagi lumatan yang diberikan Naruto ke bibirnya membuat Hinata tidak bertenaga untuk berusaha melepaskan diri. Wanita Indigo itu hanya bisa menikmati. Terlihat dari bibir peachnya yang mulai terbuka membiarkan lidah Naruto berkelana dalam rongga mulutnya.

Setelah dirasa Hinata memerlukan oksigen, disitulah Naruto menghentikan ciumannya dan berganti mengecapi leher dan dada polos tanpa sehelai benang milik Hinata. Hinata memekik tertahan. Netra bulannya terlihat sayu. "Ngghhh..Nnnaa-ru," erangnya.

Saat seperti inilah Hinata tidak dapat berpikir jernih. Pikiran dan raganya seakan hanyut dalam setiap tindakan yang dilakukan Naruto pada tubuhnya. Hinata menjerit kecil tak kuasa menahan api hasratnya yang menggelora atas tindakan Naruto. Pria berkulit tan itu mengeram tertahan. Berharap gairahnya tidak terbangun dan menginginkan lebih.

"Enggghhh..Na-ru..hmmm," erangan Hinata semakin menggila disaat bibir sang suami menjelajah bagian bawahnya. Naruto paling tau membuat Hinata panas dan bergerak seperti ulat diatas ranjang. Namun...

Erangannya terhenti disaat Naruto menghentikan aktivitasnya. Mata sayunya membulat. Terlihat dari mata bulan itu masih menginginkan lebih dari sekedar ciuman dan sentuhan yang diberi Naruto. Yahh..Hinata ingin Naruto menerkamnya saat itu juga. Hanya saja dia begitu malu untuk mengungkapkan.

Naruto menyeringai. Memberikan kecupan kecil di dahi Hinata. "Bukankah kau harus menyiapkan sarapan untukku, Hime?". Dan beranjak dari tempat tidur king size menuju kamar mandi yang berada di kamar mereka. Hinata terdiam dengan selimut yang sudah tidak menutupi tubuhnya lagi. Berpikir lama melihat kepergian Naruto yang meninggalkannya seorang diri di atas tempat tidur.

"AKU MEMBENCIMU, NARUTO-KUN," teriakan Hinata menggema di rumah berlantai dua yang mereka huni setelah tersadar bahwa dia dikerjai untuk kesekian kalinya oleh Naruto. Naruto yang mendengar teriakan sang istri tertawa sembari menenangkan gairahnya. "Akan menjadi hari yang panjang jika aku menjamahmu di pagi hari, Hime."gumamnya.

.

.

.

Hinata mendiamkan Naruto sepanjang hari ini. Dia masih tidak melupakan prilaku Naruto yang sering mempermainkannya di atas ranjang. Naruto meneliti ekspresi Hinata dengan safirnya. Dipandangnya lekat kekasih hati dihadapannya yang kini mengaduk-aduk sup tanpa berniat memakannya. Naruto memindahkan mangkuk sup yang sedari tadi tidak terjamah oleh sang istri kehadapannya, lalu memindahkan isinya ke dalam perut Naruto sendiri.

Hinata yang menyaksikan tindakan Naruto menatap tidak suka dan beranjak dari meja makan mereka. Wanita indigo mengangkat semua piring kotor dan memulai aktivitasnya menyuci piring. Tanpa bersuara. Naruto cengok melihat tingkah sang istri yang masih dalam mode merajuk.

'Akan lebih baik jika ibu memukulku, daripada Hinata mendiamkanku seharian ini'

Melihat sang istri kewalahan mengeringkan piring, Naruto beranjak dari kursinya dan menghampiri Hinata. Lap dan piring yang berada ditangan Hinata berpindah ke tangan tannya dalam hitungan detik. Hinata menoleh tak suka ke arah Naruto, sambil mendengus Hinata membiarkan Naruto mengambil alih tugasnya dan dia beredar dari dapur dan meninggalkan Naruto yang terpaku menyaksikan tingkahnya.

.

"Kau masih marah, Hime?" tanya Naruto kepada sang istri yang kini duduk di sofa panjang yang terletak di kamar mereka. Netra bulannya hanya menatap sang pemilik suara sekilas lalu melanjutkan permainan yang ada di smartphonenya.

Naruto mengusap kasar wajahnya. Baru kali ini dia mendapati sikap langka sang istri yang mendiamkannya selama seharian. Yah... walau pernah Hinata mendiamkannya selama berhari-hari disaat masa-masa kelam dahulu. Naruto menggelengkan kepalanya berulang kali. 'Itu masa lalu. Kami sudah berjanji tidak akan pernah membahas hal-hal yang menyakitkan lagi.'

Naruto mendekati sang istri yang masih asyik dengan game di smartphonenya. Didudukkannya dirinya disebelah sang istri lalu menyandarkan dagunya dibahu kecil milik Hinata. "Kau masih marah, Hime?". Pertanyaan yang sama namun kali ini Naruto dengan ekspresi mata kucing yang berbinar-binar.

Sayangnya aksi Naruto itu tidak mendapatkan perhatian sedikitpun dari Hinata. Sang istri malah menggeserkan duduknya dan mencari posisi nyamannya kembali. Netra bulannya tidak berniat beranjak dari smartphonenya. Naruto yang kesal mengambil paksa smartphone yang berada di genggaman Hinata. Dan itu sukses membuat Hinata menoleh kearahnya dan kali ini dengan geraman tidak suka.

Dan aksi ganjil Hinata yang lainnya adalah memukul kepala Naruto dengan tangan lembutnya, yang sontak membuat Naruto terkejut. Tanpa sempat menangkap pukulan yang didaratkan Hinata ke kepala bersurai blonde itu. "Hi-me..." ucapnya terbata dan mengusap kepalanya yang sebenarnya tidak sakit. Pukulan Hinata itu tidak ada sakitnya untuk Naruto yang terbiasa dibully oleh sang ibu. Hanya saja pukulan Hinata memiliki arti tersendiri untuk Naruto.

Naruto menatap Hinata tak percaya. Sedangkan objek yang ditatap mengerjapkan matanya berulang kali. Dan melirik tangan yang digunakannya untuk memukul kepala sang suami dan Naruto bergantian. Terlihat wajahnya sudah diselimuti rona merah. Entah itu rona marah atau malu Naruto sendiri tidak mengerti. Dan beberapa detik kemudian air mata membanjiri netra bulan Hinata. Disertai raungan dia menangis sejadi-jadinya sambil memukul dada bidang milik Naruto.

"Hiks..hiks..Ma-af. ..." isaknya masih setia memukul-mukulkan tangan kanannya ke dada bidang Naruto. Sedangkan tangan kirinya menutup setengah wajahnya, persis seperti anak kecil yang tidak diberi ice cream. Naruto tidak berniat menghentikan aksi Hinata, dia hanya menatap sang istri dengan tatapan geli disertai senyum yang dikulum.

"Hiks..pasti sakit. Kepala Naruto-kun pasti sakit hiks..." ucapnya terbata disela-sela isakannya yang tidak kunjung henti. Naruto menangkap tangan Hinata yang sedari tadi memukul dadanya. Lalu dikecupnya tangan lentik milik sang istri.

"Apa kau masih marah dengan tingkah lakuku tadi pagi?".Pertanyaan Naruto dijawab dengan gelengan pelan dari Hinata. "Lalu kenapa memukulku?".

"Hiks..itu karena Naruto-kun. Padahal aku akan mendapat top score jika Naruto-kun tidak merampas smartphonenya..Hiks..". Jawaban Hinata sukses membuat Naruto cengok. Dan ini juga peristiwa langka. Hinata memukulnya hanya karena top score? Ternyata game lebih penting dari Naruto.

"Kau aneh, Hime. Sejak kapan kau menjadi maniak game?"

Pertanyaan Naruto dijawab dengan isak tangis yang tak kunjung berhenti dari sang istri.

Beberapa menit kemudian..

Naruto menggenggam tangan yang sedari tadi digunakan Hinata untuk menutup wajahnya. Manik bulan Hinata kelihatan membengkak. Terkadang air matanya jatuh satu per satu tanpa sempat dia cegah. Wanita indigo itu sendiri juga tidak mengerti kenapa dia selabil ini. Hanya karena peristiwa tadi pagi dia mendiamkan suami yang sangat dicintainya seharian. Bahkan dia tidak menjawab telepon dari suaminya. Dan karena ingin memecahkan rekor game Hinata tega memukul suaminya. Padahal kebohongan Naruto padanya dulu lebih layak diberi tamparan daripada Naruto yang merampas smartphone dan mengacaukan keinginannya untuk mendapatkan top score.

Bibir peach sang indigo terus menerus mengeluarkan kata maaf untuk sang suami yang tak tau harus berbuat apa untuk menenangkan sang istri. Malu dan rasa khawatirnya menyatu. Hinata semakin menundukkan wajahnya tanpa ingin memperlihatkannya pada Naruto. Sejujurnya Hinata sangat ingin Naruto memeluknya, tapi dia tidak berani meminta. Malahan air mata yang terus jatuh karena ketidakpekaan sang suami.

Di pihak Naruto, dia hanya terdiam tak tau harus berbuat apa. Genggamannya pada kedua tangan Hinata semakin mengerat. Pikirannya masih mengulang pukulan Hinata pada dirinya. Ada rasa kesal sebenarnya. Naruto tidak menyangka Sakura memberi pengaruh buruk pada sang istri yang kini masih senggugukan menangis dihadapannya.

Naruto mendesah pelan, dielusnya sayang pucuk kepala dengan surai indigo dihadapannya. "Berhentilah menangis, Hinata. Seakan disini aku yang jadi penjahatnya. Seharusnya aku yang menangis karena dipukul olehmu," ucap Naruto lembut.

Hinata menggembungkan pipinya yang dipenuhi jejak air mata."Hiks..aku menggantikan Naruto-kun ..". Jawaban dari bibir Hinata membuat Naruto tertawa.

"Apa itu sebagai permintaan maafmu untukku, Hime?". Hinata terdiam sejenak lalu mengangguk. Naruto berpikir sejenak kemudian kembali berujar,"Permintaan maaf seperti itu tidak kuterima, Hime. Tatap aku,". Sebenarnya Naruto sangat ingin melihat manik bulan yang menghangatkan hatinya itu. Dia merindukan tatapan cinta Hinata untuknya. Bukannya menuruti permintaan sang suami, Hinata semakin menundukkan kepalanya.

Naruto menghela napas pelan melihat tingkah istrinya. Saat ini dia seperti berhadapan dengan anak kecil. Biasanya posisi Hinata itu yang selalu diperankan olehnya. Dia lebih suka dibujuk daripada membujuk.

"Tatap aku, Hime."pintanya lagi yang dijawab dengan gelengan dari Hinata. "Aku tidak akan memaafkanmu jika kau tidak mau menatapku," dan kali ini dengan ancaman.

Dengan perlahan Hinata mendongakkan kepalanya. Manik bulannya terlihat memerah dan membengkak. Entah sudah berapa banyak air mata yang keluar karena game ^^. Jujur ada rasa malu dan bersalah di hatinya sehingga dia tidak berani menatap wajah tampan sang suami. Ada juga rasa kecewa karena ketidakpekaan Naruto. Seharusnya dari awal dia membawa tubuh mungil istrinya kedalam pelukan, bukan menggenggam tangan Hinata saja.

Naruto tersenyum begitu Hinata menatap matanya. Naruto menangkup wajah sang istri sembari menghapus sisa-sisa airmata dengan jempolnya. Didekatkannya wajahnya ke wajah yang sudah bersemu merah dan mengecup lembut bibir peach yang sedari tadi mengeluarkan kata maaf dia membawa tubuh mungil itu kepelukannya dan dikecupnya lembut surai indigo dengan aroma shampo yang sangat Naruto suka.

"Maafkan aku,Naruto-kun," ucap wanita indigo ini lagi dipelukan Naruto. Dan kini Hinata kembali menangis di dada bidang milik pria yang dia cintai. Naruto membiarkan Hinata mengeluarkan air matanya dan menepuk-nepuk lembut punggung Hinata. Dia bersyukur di dalam hati karena bisa menyaksikan Hinata yang cengeng dalam hidupnya. Biasanya Hinata hanya merajuk sebentar dan akan kembali seperti Hinata yang biasanya. Ini salah satu pengalaman langka bagi Naruto melihat Hinata yang berlaku seperti anak kecil. Menangis tanpa berhenti dan menggembungkan pipinya jika merasa terintimidasi.

Setelah lelah menangis, Naruto membawa tubuh mungil sang istri untuk direbahkan ke ranjangking size milik mereka. Hinata masih setia menenggelamkan wajahnya ke dada bidang milik Naruto. Wanita ini masih malu sendiri dengan tindakan anehnya. Naruto ikut berbaring disamping sang istri dan membawa Hinata ke pelukannya. Dikecupnya sayang pucuk kepala Hinata.

"Masih ingin menangis, Hime?" tanya Naruto dan dijawab dengan gelengan kepala Hinata yang berada nyaman di dada bidang Naruto.

"Apa kau malu, Hime?" tanya Naruto lagi dan kini dijawab dengan anggukan pelan di dada bidangnya.

"Apa aku harus menghukummu?" tanya Naruto lagi dan kini Hinata mendongakkan kepalanya dan menatap safir sang suami dengan netra yang membengkak akibat tangisan panjangnya. Tangisan terpanjang mengalahkan rekor tangisannya dikala dikhianati Naruto waktu itu. 45 menit saudara-saudara.

Hinata terdiam. Lalu melepaskan dirinya dari pelukan Naruto dan membalikkan tubuhnya membelakangi Naruto. "Kau yakin, Hime? Bukankah kau tidak bisa tidur tanpa kupeluk?" tanya Naruto lagi tak percaya. Karena selama tiga minggu ini Hinata selalu tidur didalam pelukannya. Pernah suatu hari Naruto pulang larut, dan mendapati istrinya yang terduduk di sofa ruang tamu menunggu kepulangannya. Hinata mengaku tidak bisa tidur. Tapi setelah beberapa menit tidur dipeluk Naruto, wanita indigo itu sudah masuk ke alam mimpi.

Dan satu kejadian lagi mengapa Naruto sangat yakin bahwa Hinata sangat memerlukan Naruto untuk menemaninya tidur adalah sang istri mendatangi hotel tempat dirinya menginap di Hokkaido. Padahal Naruto sudah memberitahu bahwa dia akan menginap semalam di Hokkaido. Namun selesai meeting yang panjang, Naruto mendapati sang istri sudah berada di kamar hotel tempat dia menginap.

"Bukankah Naruto-kun ingin menghukumku? Aku rasa hukuman untuk tidak tidur malam ini cukup agar Naruto-kun memaafkanku,"ucap Hinata bergetar. Dan Naruto yakin sang istri berusaha menahan tangis.

Naruto tersenyum dan mendekatkan tubuhnya ke Hinata. Dipeluknya tubuh mungil itu dari belakang, Hinata terkejut kemudian tersenyum kecil dan menghapus air mata yang tadi sempat turun dari netranya.

"Dasar cengeng!" bisik Naruto di telinga Hinata dan disambut dengan cubitan kecil dilengannya yang berada di pinggang ramping sang istri.

.

.

.

Tujuh hari kemudian..

"Hoeekk..Hoeek,". Suara muntah di kamar mandi mengawali pagi Hinata. Hinata menulikan pendengarannya dari suara yang mengganggu tidurnya dan mencari kehangatan kekasih hatinya. Dia meraba-raba keberadaan sang suami dengan mata yang masih tertutup rapat. Seketika mata yang sedari tadi enggan terbuka menampakkan maniknya dan mencari-cari keberadaan sang suami.

"Naruto-kun,"panggil Hinata dengan suara khas bangun tidur. Hinata mengedarkan maniknya ke seluruh kamar dan tidak mendapati keberadaan sang suami. Bahkan Naruto juga tidak berada di ruang kerja yang hanya dibatasi dengan sekat kayu mahogani.

Hinata bangkit dari tidurnya dan mengambil gaun tidur untuk menutupi tubuhnya yang memakai lingerie sutra. Dia berniat mencari keberadaan sang suami di ruang makan. Ketika Hinata bersiap memutar knop pintu kamar, saat itu pula Naruto dengan wajah pucat keluar dari kamar mandi yang berada di kamar mereka. Hinata segera menghampiri sang suami yang terduduk di ranjang king size dengan wajah khawatir.

"Apa kau sakit, Anata?" tanyanya dan duduk disebelah Naruto. Naruto tersenyum lemah sembari mengusap lembut surai indigo wanita yang dia cintai. Naruto sangat mengerti Hinata khawatir dengan keadaannya. Dia tidak ingin membuat wanita ini menangis di pagi hari. Entah mengapa wanitanya menjadi sangat cengeng dan sensitif akhir-akhir ini.

"Bisakah kau membuatkan sup untukku, Hime. Sepertinya aku masuk angin," jawab Naruto pada sang istri yang sudah menunjukkan wajah khawatir disertai mata berkaca-kaca.

Naruto meringis pelan dan langsung membawa sang istri ke dalam pelukannya. "Bisakah kau berjanji satu hal, Hime?" pinta Naruto pada Hinata yang kini menahan tangisnya di dalam pelukan Naruto.

"Apapun," jawab Hinata.

"Jangan menangis..," ucap Naruto lantang dan melepaskan Hinata dari pelukannya. Tangannya kini sudah berpindah menangkup kedua pipi gembil milik Hinata yang telah bersemu merah dan mendekatkan kepala mereka agar menyatu. "Untuk hari ini saja aku hanya ingin melihat senyum Hinataku," sambungnya lagi.

Bukannya Naruto lelah melihat tangis Hinata. Hanya saja saat ini ia sangat butuh istirahat. Naruto takut mengacuhkan Hinata jika dirinya sendiri berada dalam kondisi tidak fit. Naruto sendiri bingung mengapa dia bisa mual di pagi hari. Kemarin tidak sedikitpun ia melewatkan waktu makannya mengingat sang istri yang sangat bawel akhir-akhir ini, mana berani Naruto melakukan itu. Bahkan siang kemarin Hinata datang ke kantornya dengan bento cantik yang sangat sayang untuk dimakan.

Naruto kembali mengingat-ingat makanan apa yang masuk ke tubuhnya dari kemarin. Sialnya semua makanan yang dia cerna adalah makanan yang sehat untuknya. Bahkan dia tidak memakan ramen yang dibuat Hinata. Hinata akhir-akhir ini sangat bawel. Dia menjatah ramen untuk Naruto tapi tidak untuk dirinya sendiri. Dengan alasan Naruto harus menjaga kesehatan karena sudah menjadi tulang punggung keluarga, jadi tidak baik memakan makanan instan seperti ramen karena akan membuat Naruto tidak fit. Sebenarnya itu alasan konyol bagi Naruto, karena ia ingin menyenangkan hati sang istri yang labil akhir-akhir ini Naruto mengikuti keinginan Hinata.

Hinata tersenyum dan berusaha menahan air matanya jatuh. Dilepaskannya tangan hangat yang menangkup kedua pipinya dan mendaratkan kecupan lembut di dahi Naruto. Dia beranjak dari posisinya dan melangkahkan kaki mungilnya ke arah pintu kamar.

Sebelum knop pintu diputar, Hinata menoleh sejenak dan mendapati sang suami menatapnya dengan penuh cinta. "Sup penuh cinta dariku akan segera siap, Naruto-kun," ucapnya lembut dan menghilang di balik pintu kamar mereka.

TBC

CUAP-CUAP:

Niatnya pengen bikin fic ini end. Namun apa daya, saya lagi good mood dan memiliki byk khayalan untuk membuat cerita ini manis.

Byk kalian yang menanyakan mengapa ingatan Hinata tidak dapat kembali. Itu dikarenakan kelemahan saya untuk membuat alur cerita seperti apa jika ingatannya kembali. Bukankah dengan ingatan yang hilang Hinata sudah mengetahui hubungan Naruto dan Sakura?

Jadi meskipun ingatannya kembali, tidak ada perubahan yang berarti bagi Hinata karena saat ini dan seterusnya Naruto akan selalu mencintainya. Atau apakah harus kita masukkan orang ketiga yang lain?

Hanya saja saya tidak ingin cerita ini seperti sinetron. Saya suka yang manis-manis. Jadi biarkanlah cerita ini mengalir dengan manis.

Jika ada masukan ide dari teman2 untuk cerita selanjutnya akan saya terima, dan akan saya pikirkan untuk dijadikan alur cerita untuk chapter selanjutnya. Maaf juga jika banyak penulisan yang salah.

Terima kasih buat semua yang masih mau membaca fic abal2 ini. Salam sayang dari saya untuk teman-teman semua *bighug *kiss