#09
.
.
.
xxx
.
WARNING!
R-18
.
DLDR
.
"A-aw, gigiku!" Atushi mengeluh saat giginya teratuk dengan gigi Dazai. Kemudian dia tersenyum canggung, "Maaf, aku masih pemula." Dia memalingkan wajahnya yang sewarna buah pulm. Kemudian menggigit bibir bawahnya dengan pelan, dan tangannya yang berada di dada Dazai meremat pelan kaus yang dikenakan Dazai.
Dazai terkekeh pelan mendengar kata maaf itu. "Aku juga masih pemula," namun Dazai menghentikannya setelah itu. Menempelkan dahinya dengan dahi Atsushi, tak memungkiri bahwa warna wajah mereka sama. "Atsushi-kun," tak berapa lama Dazai berbisik pelan, "bolehkah aku melanjutkannya? Kalau tidak juga—"
Pemuda yang lebih kecil itu mengangguk kecil, memotong dialog Dazai. Membuat Dazai menurunkan kepalanya; mengecup, menjilat, dan menggigit kecil leher Atsushi. Kemudian menghirup aroma Atsushi dalam-dalam. Degub jantungnya begitu hebat, namun dia tetap melanjutkannya.
"Dazai-san …."
Tangan Dazai menurunkan kemeja Atsushi, membuka pundak Atsushi. Kemudian matanya fokus menatap dada Atsushi dengan mata terpesona. "Pink!" dia tidak tahu kalau dia akan begitu tertarik dengan warna nipple Atsushi.
"Dazai-san, jangan dilihat saja. Aku malu." Atsushi menyembunyikan wajahnya ke dada Dazai yang entah sejak kapan sudah terbuka. Namun di saat itu juga Atsushi tahu kalau Dazai sama malunya dengan dia. Atsushi dapat mendengar degub jantung Dazai dengan jelas.
Dazai melempar tubuh Atsushi ke atas ranjang, kemudian menindihnya. Kemudian dua jarinya menjepit nipple kanan Atsushi, sementara lidahnya pergi ke sebelah kiri. Malam ini, Dazai benar-benar mencicipi seluruh tubuh Atsuhi.
"Gyah! Dazai-san! N-ahn."
"Caramu memanggil namaku itu sangat seksi, Atsushi-kun." Dazai berkata pelan, lalu menjilat daun telinga Atsushi. Membuat tubuh Atsushi bergetar, dan bibirnya mengelukan nama Dazai sekali lagi.
Mereka bertukar posisi lagi, Atsushi berada di atas Dazai. Giliran Atsushi yang melakukan pekerjaannya. Tangannya mulai membuka celana Dazai, dan mengeluarkan adik kecil Dazai. "Whoa," Atsushi tak menutupi rasa terpesonanya.
Pemuda itu menunduk, melakukan apa yang harus dilakukannya. Lidahnya bergerak lebih dulu, kemudian bibirnya. Atsushi memainkan penis Dazai dengan lidahnya, kemudian mengulumnya seperti memakan es krim. Di tengah kegiatannya, dia membuat suara lenguhan yang di telinga Dazai terdengar sangat seksi.
"Ah, Atsushi-kun. Yaahh … kau pintar sekali." Dazai mengelus kepala Atsushi, dan tersenyum nakal. Tentu, yang mereka lakukan bukan sekedar pemanasan.
Atsushi terus melakukan kegiatannya, dan berlanjut ke tingkat yang lebih jauh. Dia menggunakan giginya untuk memberikan sensasi yang lain, dan Dazai memanggil namanya. Atsushi menurunkan celananya sendiri dan celana dalamnya, memegangi penisnya sendiri.
"Dazai-san," kepalanya mendongak dan melihat Dazai dengan tatapan sayu. Atsushi kembali memasukkan penis Dazai lagi ke dalam mulutnya, matanya sesekali melirik pada Dazai. Lidahnya bermain nakal dengan dua bola kembar Dazai. Sementara tangannya sibuk memegang penisnya sendiri; meremasnya, lalu mengocoknya. Kegiatan Atsushi diselingi lenguhan-lenguhan halus yang membuat Dazai terpesona.
Suara yang didengar Dazai itu merdu sekali, melodinya mengayun lembut bersamaan rasa hangat yang menjalari tubuhnya. Dazai memegang rambut Atsushi, menarik kepala itu menjauh dari penisnya. "Kau membuatku tak sabaran," bisiknya pelan.
Dazai tak dapat menahan dirinya untuk tidak menjilat sudut bibir Atsushi yang dari tadi terus mengeluarkan saliva. Dazai mendudukkan Atsushi di depannya, membuka kaki Atsushi lebar-lebar. Lalu gilirannya mencicipi penis Atsushi, membalas perbuatan Atsushi yang sudah membuat libidonya naik.
"A-ah … Dazai-san …."
Tentu saja hal paling menyenangkan menurut Dazai adalah ketika Atsushi terus menyebut namanya.
"Ngghhhh … Da-za-i … saanghh …"
Dazai mempersiapkan jarinya, setelah meminta Atsushi untuk membasahi dua jari itu dengan salivanya. Pertama, jari tengah Dazai menembus pertahanan terakhir Atsushi, membuat pemuda yang lebih kecil itu mengerang lebih keras.
"KYAH! Ahn … hwah!"
Banyak jenis suara yang Atsushi keluarkan, dan itu terdengar seperti pujian bagi Dazai. Pemuda itu tersenyum nakal, kemudian menambahkan jari telunjuknya untuk masuk. Setelah terus bergerak dengan tempo sedang, Dazai membuka dua jarinya untuk melebarkan lubang Atsushi.
"HWAH AH!" Atsushi berteriak, padahal itu belum seberapa. "A-ano … Dazai-san," napasnya terengah dan wajahnya merah, "yamette kudasai …. Aku mohon, etto … ano—"
Dazai meletakkan jari telunjuk dari tangan yang satunya untuk membungkam mulut Atsushi. "Shiteiru yo," dia tersenyum. "Tatap mataku, Atsushi-kun. Aku ingin kita terus bertatapan."
Atsushi mengangguk, mengerti.
Kakinya bergerak mendekati tubuh itu, dan kaki-kaki lainnya sudah mengerti untuk membuka lebih lebar lagi. Dazai memasukkan penisnya perlahan, membuat Atsushi harus menggigit bibir bawahnya. Namun mata mereka masih bertatapan.
Aku jatuh cinta pada Dazai-san.
Atsuhi-kun membuatku jatuh cinta padanya.
Mereka membisikkan kata dalam hati, dan Dazai masih berusaha mendorong pinggulnya agar penisnya masuk semakin dalam. "Kuso, kau ketat sekali." Dia mengumpat. Tapi tak dapat dipungkiri bahwa lubang Atsushi membawa sensasi yang memuaskan.
Atsushi sendiri meremat sprei di bawah mereka. Dia ingin berteriak tapi suaranya tercekat di tenggorokan. "Da-za-i-san yang … kyaah … besar … hah!" dia tak dapat mengontrol dialognya sendiri. Sampai pada sentakan terakhir, Dazai memasukkan seluruh penisnya ke dalam tubuh Atsushi. "HWAAAHH!" Atsushi membalasnya dengan sebuah teriakan hebat, dan cakaran di punggung Dazai.
Dia meringis. Namun dibanding perih, sensasi yang datang padanya adalah … nikmat. Dazai menarik dagu Atsushi, membawa mata Atsushi menyelam ke dalam dirinya, kemudian mendekatkan wajah mereka. Sebelum bergerak lebih lagi, Dazai melumat bibir Atsushi. Lidahnya bergulat dengan gigi Atsushi. Kemudian mengabsen setiap insisivus, kaninus, premolar, dan molar milik Atsushi. Menyentuh langit-langit mulut, melepaskannya, kemudian mengulanginya lagi.
Jemari Dazai sibuk meraba dada Atsushi. Menjepit nipple merah jambu itu dengan jarinya; menekan, menarik, memutarnya. Lagi, dan lagi. Bergantian antara kanan dan kiri.
Atsushi mendorong dada Dazai, melepas ciuman mereka dan menyisakan benang saliva. Namun Dazai tak melepaskan jarinya dari nipple Atsushi, sehingga pemuda kecil itu masih terus melenguh.
"Onegaishimasu." Atsushi meminta, dan Dazai mengerti permintaan erotis itu. Wajahnya membuat seringaian, dan dengan iseng dia menarik nipple Atsushi keras-keras. "DAZAI-SAN!" sebuah teriakan keras dengan menyebut namanya itu, telah menyanjung Dazai lebih dari apapun.
Dazai menggerakkan pinggulnya, bergerak maju-mundur dengan tempo yang lambat. Kemudian tempo itu bertambah sedikit demi sedikit. Dari gerakan yang halus, lalu berubah menjadi semakin kasar. Menggila seiring jarum jam berdetak.
"A-hah … Atsushi-kun …."
"Daza-i … sanghn!"
Belum pernah Atsushi merasakan sensasi seperti itu. Tersentak-sentak di atas ranjang, merasakan tubuhnya penuh dan hangat oleh sesuatu dengan kenikmatan yang tak dapat dilukiskan.
Jemarinya yang terselip di antara helaian rambut Dazai itu menggenggam kuat. Menarik rambut Dazai dengan keras. "A … aaa … aaahhh …." Setiap desahan dan lenguhan yang dikeluarkannya memiliki nada tersendiri.
"Apa kau sudah mencapainya?"
Atsushi mengangguk, dia menggigit bibir bawahnya yang bergetar hebat.
"Kalau begitu, ayo kita keluarkan bersama."
Sekali lagi dia mengangguk, menurut pada Dazai.
Selagi pinggulnya terus bergerak, Dazai menarik dagu Atsushi dan membuat mata mereka saling menatap. Bukan main Dazai menyukai wajah merona yang di sudut bibirnya mengalir saliva. Dazai mendekatkan kembali wajah mereka; dia menjilat bibir bawah Atsushi, kemudian mengulum bibir manis itu.
Mereka berhenti pada satu titik di mana kehangatan membanjiri tubuh masing-masing. Atsushi tersenyum kecil dengan wajah yang merona hebat, dan Dazai mengecup kening berpeluh itu.
Selimut ditarik untuk menutupi tubuh mereka. Dazai memeluk tubuh Atsushi yang sama berpeluhnya, dia menyembunyikan wajahnya yang merah dari Atsushi. Meskipun, dia tahu konsekuensinya adalah Atsushi mengetahui degub jantungnya yang tak normal.
"Dazai-san?"
"Hmm?" Dazai menjawab dengan gumaman asal. Dia tak sanggup bicara setelah kegiatan mereka selesai.
"Kau hebat—"
Entah mengapa wajah Dazai bersemu lebih merah lagi demi mendengar kata hebat itu.
"Maksudku, di luar sana hujan. Selain itu, ada petir, dan seharusnya aku sekarang ketakutan karena traumaku. Tapi kau membuatku lupa semua itu. Terima kasih," Atsushi membenamkan wajahnya pada dada Dazai. Dia mendengar degub jantung Dazai yang kian lama kian abnormal, begitu halnya dengan dia.
.
.
.
.
.
Aku bisa gila karena mencintai bocah ini.
.
.
.
.
.
To be continued
Author's note:
/lap keringet/ asli aku panas :'v ternyata aku udah gede ya bisa nulis ginian :(
Maaf lho ya aku beneran gak balesin review. Mau sih, tapi ya tau sendiri masalahnya ituuuu :(
Chapter 10 aku gantung dulu yaaaa xD see ya/
Sign,
Khairunnisa Han
