Wah...! Semakin lama semakin bikin enek aja nih. Don't Like Don't Read
Disclaimer :Masashi Kishimoto
Dengan malu-malu kutatap wajah manis di samping ranjangku. Mata kami saling bertatapan. Emerald-nya sangat indah.
"Mau donat ?" Kataku padanya. Matanya terbelalak, senyum mulai terlukis diwajah cantiknya
"Tentu saja" Katanya senang
"Tuh. Dilemari" Kataku
Dia langsung melongok kearah lemari dan membawa kardus putih.
"Kau juga mau ?" Tawarnya
"Asal kau suapi" Jawabku. Sejak kapan aku jadi berani seperti ini. Sejak aku mencintai Sakura. Hehe
"Baiklah. Sini" Aku menerima suapan Sakura dengan senang hati. Senang rasanya bisa bertemu dan bercanda bersama orang yang kita cintai.
"Ehm.. Kak Naruto" Katanya
"Apa ?"
"Kapan kakak akan pulang ?" Tanyanya
"Aku belum bertamu dokternya. Mungkin besok aku sudah boleh pulang" Tak kuduga dia memelukku. Pelukan yang menenangkan hatiku
"Aku merindukanmu, Kak Naruto" Katanya
"Eh. Putraku, ada dokter nich. Kenapa berpelukkan" Kata Kaa-san yang baru masuk. Sontak aku dan Sakura merapikan posisiku. Terlihat semburat merah dipipi lembutnya.
"Maaf, Kaa-san" Kurasakan pipiku memanas. Pasti sama merahnya dengan Sakura.
Kaa-san hanya tersenyum nakal padaku.
"Suster Shizune. Tolong rawat luka jahitan" Kata dokter tersebut.
Suster tersebut membuka perban dikakiku. Setelah selesai, terlihat luka jahitanya. Sakura terlihat jijik melihatnya. Aku merangkul punggungnya, menenangkannya. Dia melihatku, lalu tersenyum.
"Eh. Masih sempat-sempatnya" Kata Kaa-san. Aku hanya tersenyum. Suster Shizune memijit-mijit kakiku. Disana keluar darah. Menurut artikel yang kubaca, darah yang keluar akan membusuk jika tidak dikeluarkan.
Rasanya perih ketika suster Shizune mengusap lukaku dengan kapas yang telah dibasahi alkohol. Ini untuk membunuh kuman penyakit.
"Besok, setelah rawat luka sudah boleh pulang" Kata dokter
"Seminggu lagi kontrol" Katanya setelah suster mengembalikan perban di kakiku
"Nah. Ibu mau mandi dulu" Kata Kaa-san sambil membawa peralatan mandi keluar kamar
"Tadi sakit kak ?" Tanya Sakura setelah Kaa-san keluar. Sepertinya dia ingin menyuapiku lagi. Aku menyambut suapannya dengan senang hati.
"Enggak kok. Kan ada kau disini" Kataku sambil cekikikan
"Ih. Kak Naruto nich"
"Kenapa ? Gak suka ?" Tanyaku agak was was. Aku takut sekali kehilangan dia.
"Bukan begitu. Aku suka, tapi..." Katanya menggantung
"Kau men...cintaiku kan, Sakura" Tanyaku ragu-ragu
"Kenapa kau bertanya begitu ?" Tanyanya
"A...aku hanya..." Kataku menggantung
"Apa ?" Tanyanya lembut
"Aku takut kau lebih memilih Sasuke daripada aku. Aku takut kehilangan dirimu" Kataku sambil memegang tangannya
"Hm. Aku..." Dia melepaskan genggaman tanganku. Oh, tidak. Jangan katakan itu didepanku.
"Aku mencintaimu Naruto" Katanya sambil memelukku.
"Sungguh ?" Kataku
"Aku cinta Naruto. Cinta cinta cinta" Kutempelkan telunjukku di mulutnya.
"Cukup. Aku percaya" Kataku
"Wah...! Kalian mesra juga ya" Kata seseorang yang baru saja masuk. Sasuke dan juga pacarnya Karin. Kuharap dia tidak mendengar kata Sakura tadi. Sakura masih tetap merangkulku, tidak terpengaruh oleh Sasuke.
"Kapan kau pulang ? Para guru selalu menanyakan keadaanmu padaku. Aku sebal jika harus menjawabnya" Kata Sasuke
"Besok mungkin"
Kulihat Sakura sudah siap dengan suapan terakhirnya. Aku menyambutnya dengan senang hati.
"Ih. Mesranya" Kata Karin gemas
"Iya dong" Kataku mengedipkan sebelah mata pada Karin
"Sakura...!" Kata seseorang yang baru masuk
"Sasori-nii"
"Pulang yuk" Katanya
"Aku pulang dulu ya" Kata Sakura sambil mencium pipiku. Aku terbengong melihat Sakura dan Sasori-nii yang pulang. Sambil kuusap pipiku aku mulai melukis senyum diwajahku
Hari yang kutunggu telah tiba. Aku muak dirumah sakit. Masakannya tidak seenak masakan Kaa-san.
Aku hanya perlu menunggu suster Shizune untuk membersihkan lukaku dan. Aku pulang
Sampai tengah siang suster yang kutunggu-tunggu tidak datang. Apa dia lupa ya ?
Kudengar derit pintu terbuka. Dan gadis cantik itu masuk kekamarku
"Sakura. Kenapa tidak menungguku dirumah" Kataku
"Sudah kutunggu. Tapi kau tak kunjung datang" Katanya. Wajahnya terlihat bosan.
"Maaf sudah membuatmu menunggu" Kataku sambil merangkulnya. Terdengar romantis dan begitu menyentuh
"Gak papa kok" Katanya sembari tersenyum padaku Seorang berbaju putih datang memasuki kamarku.
"Rawat luka" Katanya sembari melakukan apa yang dilakukanya kemarin
"Habis ini pulang ya" Tanyaku
"Iya. Nunggu orangtuamu dulu"
Tak lama kemudian Kaa-san datang dengan Too-san.
"Sudah baikan" Kata Too-san. Aku mengangguk semangat. Too-san sangat lemah lembut. Mungkin aku mewarisi sifat dan rambut kuning Too-san. Tapi aku mewarisi wajah Kaa-san.
"Suster, saya bawa dia" Kata Too-san. Suster mencabut infus ditangan kananku. Rasa sakitnya hanya sebentar. Aku masih harus di bawa dengan kursi roda
"Dirumah nanti ada kruk. Kau bisa jalan tanpa kursi roda" Kata Too-san sambil membelai rambut kuningku
Kaa-san menggendongku menuju mobil. Aku duduk di belakang dengan Sakura. Sedangkan Too-san dan Kaa-san didepan. Aku menyelonjorkan kaki kiriku sementara Sakura mengelus-ngelus kakiku.
"Sakit gak kak" Katanya lembut
"Gak papa kok" Kataku. Perbannya memang tebal sekali jadi gak terasa.
Gimana ? Merasa makin enek dengan cerita saya. Yang enek gak usah dibaca
Review...!
