Chapter 9
Maaf tidak menggunakan EYD, maaf typo.
MENGANDUNG UNSUR GAJENESS
Boboiboy © Animonsta Studio
Warning! Shounen-ai, Yaoi
Fang x Boboiboy pairing, OC, OOC parah.
Untuk chapter ini, ada kata-kata yang sedikit tidak baik dan tidak boleh ditiru untuk adik-adik dirumah.
DLDR!
Enjoy~
"Apa maksudmu?"
Boboiboy bingung dengan apa yang dikatakan Li Na.
.
"Karena kau, aku bisa menjadi kekasih Fang walau cuma sesaat. Kemarin itu kencan terakhirku loh! Walau bisa dihitung hari, tapi rasanya senang sekali.. Aku beruntung punya pacar, ah maksudku mantan pacar seorang Fang.."
.
Li Na menghela nafas berat. Matanya yang sipit terlihat berkaca-kaca. "Aku.. Mulai besok, sudah tak disini lagi.."
Boboiboy tercengang. Ia memiringkan kepalanya karena bingung. "Ke-kenapa?!"
Li Na mendengus pelan. "Yah, nanti malam, aku akan pindah ke Kuala Lumpur."
Boboiboy merengut bingung. "Kenapa harus pindah ke KL? Kau tak betah disini?"
"Leukimia.."
.
Jleb.
Jantung Boboiboy berdegup kencang. Dengan pupil semakin mengecil karena terkejut, Boboiboy menelan ludahnya.
"Kau pernah dengar penyakit itu? Itulah yang tengah menggerogoti tubuhku" Senyum tipis tergaris di paras Li Na yang cantik.
"A-apa? Benarkah?" Pundak Boboiboy gemetar.
"Hehe.. Iyalah. Nah, aku ke KL untuk melakukan pengobatan. Penyakitku kambuh lagi.. Dan juga, agensi memintaku untuk pindah kesana karena ada tawaran modeling. Yah.. Sebenarnya aku masih mau disini. Tapi, aku harus menuruti agensi dan tuntutan dari penyakit ini. Aku tak bisa egois, he he.." Li Na mengambil nafas. Dadanya sedikit sesak karena harus meninggalkan Pulau Rintis. "Ohiya, ada hal yang harus kau ketahui... Ini tentang hari itu, hari dimana aku mengungkapkan perasaanku, kau ingat?"
Boboiboy tersentak. Ia mengangguk pelan. Sebenarnya, ia ingin melupakan hari itu.
Li Na mulai menjelaskan. "Jadi, pada hari itu..."
.
- Flashback -
"Aku suka Fang."
Fang terdiam. Dibalik lensa cekungnya, pupilnya mengecil. "Eh?" Tangannya yang tengah memegang sendok melemas. Ia menatap lekat-lekat gadis yang terlihat malu-malu dihadapannya.
Sorot mata Li Na kini menjadi mantap. Bahunya tegap. Ia menghadapkan wajahnya ke arah lelaki yang menjadi pujaan hatinya. Ia melanjutkan pernyataannya. "Iya Fang.. Aku menyukaimu. Kau mau tidak menjadi pacarku?"
Fang terlihat menelan ludahnya. Wajahnya terlihat bingung. Tetapi, mendadak sorot matanya menjadi tegas. "Maaf, aku menyukai orang lain.. Aku tak bisa menyukaimu, atau bahkan menjadikan kau sebagai pacar." Dengan senyumnya, ia menolak Li Na mentah-mentah, tetapi tetap sopan.
Li Na terbelalak. Ia kaget bahwa ada lelaki yang menolak dirinya. Ini merupakan kali pertama dia ditolak. Biasanya, para kaum Adam-lah yang mengejar-ngejar dirinya. Tetapi Li Na menghormati perasaan Fang. Li Na justru suka dengan Fang yang seperti ini. Li Na lega mengungkapkan hal ini, dia pun menjelaskan kepada Fang kalau ia akan pindah dari Pulau Rintis. Ia meminta Fang agar mau menjadi pacarnya walau hanya beberapa hari hingga hari yang telah ditentukan.
Fang tercengang. Matanya sedikit berembun. Tentu Fang tak tega, ia pun akhirnya mengangguk dan menyetujuinya. "Baiklah.."
"Ehe, Terima Kasih, Fang! Maafkan keegoisanku, ya.."
Fang hanya tersenyum pelan. Ia terlihat pedih mengetahui kenyaatanpahit yang diderita perempuan di hadapannya. Lalu, terjalinlah kisah singkat diantara mereka berdua.
.
.
"Hehe.. Begitulah, Boboiboy. Fang itu baik sekali, ya.. Ia mau menuruti permintaan egoisku ini. Aku bersyukur menyukainya.. Maaf ya, ternyata bantuanmu malah terbuang sia-sia. Aku tak pernah bisa mengambil hatinya." Senyum paksaan terpancar di wajah gadis model ini. "Loh, Boboiboy?"
Tanpa ia sadari, embun membendung di mata Boboiboy. Ia menyadari, betapa memalukannya dirinya karena terlalu dengki dengan gadis yang hanya ingin mendapat cinta dari orang yang ia suka. "Ah.. Aku.. Maaf, ya Lina.. Maaf!" Boboiboy terus menerus meminta maaf.
Li Na yang bingung berusaha menenangkan lelaki yang tengah membendung kesedihan yang berada di sampingnya. "Apa maksudmu? Kau tak perlu minta maaf.. Ini bukan salah kau lah.."
Boboiboy terus merasa tak enak. Rasa tidak suka – atau lebih tepatnya benci – nya terhadap Li Na berubah menjadi rasa simpati yang amat mendalam. Kalau dia berkedip sekali saja, sudah dipastikan air matanya mengalir. "Aku sungguh minta maaf.." Boboiboy sebenarnya meminta maaf perasaan dengki dan kesal yang selalu ia rasakan kepada Li Na yang tak bersalah. Sedangkan Li Na berpikir kalau Boboiboy meminta maaf karena tak bisa membuat Li Na dan Fang menjadi langgeng.
Li Na hanya menghela nafas berat, mencoba tidak ikut menangis. Jujur saja, Li Na sangat ingin tetap disini. Ingin tetap bisa melihat iris violet milik Fang, melihat Fang mencetak angka pada olahraga bola basket, menatap Fang yang kesal karena kehabisan donat lobak merah kesukaannya, dan melihat senyum bahagia Fang karena berhasil menandingi kepopuleran Boboiboy. Tetapi, ia sadar, seindah apapun Fang tersenyum padanya, ia pasti tak akan bisa menandingi senyum Fang yang dibuat untuk seseorang yang spesial dihati Fang. Ia sadar, ada orang yang jauh bisa membuat Fang lebih bahagia dari dirinya..
.
Setelah suasana menenang, Li Na membayar pesanannya. "Boboiboy, aku pulang dulu ya. Aku harus segera berkemas-kemas lagi.. Sampai jumpa!" Pamit Li Na seraya pergi meninggalkan Boboiboy.
"Li Na!" Panggil Boboiboy yang membuat Li Na menoleh ke arahnya.
"Ya?"
Senyum mengembang di wajahnya. "Semangat yaa! Aku selalu mendukungmu! Jangan lupa untuk mengabari kami yaaaa!" Teriak Boboiboy seraya melambaikan tangannya pelan.
Perasaan terharu memendungi hati Li Na. Pemandangan luar biasa bisa melihat Boboiboy tersenyum begitu tulus kepadanya pertama kali sejak bertemu di stasiun kereta saat itu. Ia menghela nafas lega. "Iya! Terima kasih, Boboiboy!" Li Na membalas lambaian tangan Boboiboy seraya pergi menjauhi kedai. Lama makin lama, sosok Li Na menjauh dan tak terlihat lagi.
.
Sang kakek bingung ada apa dengan gadis itu. "Oi, Boboiboy. Siapa gadis itu? Cantiknyaa.." Desis Tok Aba seraya menggoda Boboiboy.
"Oh.. Dia Li Na. Pacar- ah sudah bukan.. Dia itu mantan pacar Fang.." Sahut Boboiboy.
Tok Aba dan Ochobot tersentak kaget dengan mulut menganga seolah tak percaya. "Eeeeeeh?"
"Ah iya.. Tok, aku pergi bentar ya. Ingin mendinginkan kepala.." Ucap Boboiboy.
Tok Aba dan Ochobot menatap Boboiboy yang menjauh dari kedai. "Gadis cantik itu mantan pacarnya Fang?" Ujar Ochobot tak percaya.
"Eleh.. Anak muda zaman sekarang." Cela Tok Aba seraya kembali mengeringkan gelas yang baru dicuci dengan kain lap.
.
.
.: :.
Boboiboy duduk di ayunan kosong taman. Disitu cukup sepi dan tenang, sehingga cocok untuk dia berpikir. Ia menatap langit senja yang berwarna jingga keemasan.
Entah kenapa, Boboiboy merasa lega dengan penjelasan Li Na. Segala kabut yang berada dihatinya mendadak sirna. Ia merasa amat tenang sekarang. Ia mencoba mendinginkan kepala dari segala kesalahpahaman yang telah ia lalui.
Tiba-tiba ada segerombolan – atau lebih tepatnya 3 orang – pria yang memakai baju punk serba hitam mendatangi Boboiboy. "Heh, bocah! Serahkan uangmu.."
Boboiboy tak bergeming, ia sedang melamun dan menenangkan pikirannya sembari menatap langit. Ia tengah menaruh nama Fang di pikirannya. Fang, Fang dan Fang.. Para pemeras yang merasa kesal karena tak di lirik sama sekali pun oleh Boboiboy, seolah sedang di acuhkan.
"HOI BOCAH! KAU INGIN DIHAJAR, HAH!?" Lamunan Boboiboy pecah karena lehernya dicekik oleh salah satu lelaki besar itu dengan tato bergambar tengkorak di lengan kirinya. Sepertinya itu merupakan bosnya. Raga Boboiboy diangkat hingga ia tak dapat menapakkan kakinya ke tanah.
Boboiboy gelagapan panik. "Eh?! A-apa?! Uhuk.." Ia meronta-ronta. Kedua tangannya yang mungil sibuk menggenggam tangan besar pemeras itu sebagai upaya melepaskan cekikannya. Topi jingga dinosaurusnya pun terjatuh dan mendarat mulus di rerumputan.
"SERAHKAN UANG KAU!" Bentak lelaki yang lain yang sedikit lebih kurus.
Boboiboy terlalu panik, hingga lupa menggunakan kekuatannya. "Kh.."
Tiba-tiba..
"Harimau Bayang! Serangg!"
Sesosok harimau bermata merah dengan tubuh berwarna hitam menyerang lelaki yang tengah mengangkat kerah Boboiboy tinggi-tinggi. Boboiboy lalu terjatuh ke rerumputan taman karena lelaki itu melepaskan remasan tangannya dari leher Boboiboy. Boboiboy terbatuk-batuk, mencoba menyesuaikan nafasnya kembali setelah merasakan kehabisan nafas sesaat. Pengelihatannya terasa kabur akibat kurangnya pasokan oksigen mendadak.
"Huh, rasakan." Decak Fang dengan sombongnya.
Dukk
Tiba-tiba dari belakang tengkorak belakang Fang dihantam oleh sebalok kayu yang cukup tebal. "Argh!" Lutut Fang menapak di tanah. Fang tersentak dan meringis sembari memegang kepala belakangnya yang terasa amat sakit. Lalu, lelaki dengan postur tubuh kurus tinggi dan lelaki bertubuh pendek menahan tubuh Fang dari belakang dengan cara menahan kuat kedua lengan kekar Fang.
Tiba-tiba, harimau bayang milik Fang menghilang. Sang pemimpin kelompok yang habis dihajar oleh harimau hitam tersebut pun bangkit. "Huh, bocah sombong.."
Bhug.
Sebuah jontosan mantap dari ketua penjahat mendarat di rahang kiri Fang. "Uhk!" Fang meringis.
Fang mencoba untuk tetap berdiri. Ia mendadak tidak fokus untuk menggunakan kekuasaannya karena rasa sakit di rahang dan tengkorak belakangnya. "Ho, masih bisa berdiri? Kuat juga.."
Bhug. Duk. Bhug..
Berkali-kali, tinju dan tendangan mendarat mantap ke raga milik lelaki pengendali bayangan itu. Fang merasa tak kuasa untuk mengeluarkan harimau atau elang bayang kesayangannya. Nafas Fang menjadi semakin tidak teratur. Memar-memar mulai mewarnai wajahnya.
"Huh, dasar bocah bodoh.. Begini saja tak bisa melawan." Decak bos penjahat itu.
"Ish.." Boboiboy meringis pelan. Belum pernah ia merasa selemah ini. Baru kali ini ia merasa tenggorokannya terasa begitu sakit saat dicekik. Pengelihatan Boboiboy mulai kembali jelas. Terekam jelas setiap hantaman yang diberikan oleh habis-habisan oleh gerombolan lelaki tak berperi kemanusiaan. "FANG!"
Fang terlihat sangat lemas dengan nafas terengah-engah. "Hah, dasar membosankan!" Sang pemimpin lalu melirik dan mendekati pemuda yang tengah terduduk lemas sembari memegang lehernya. "Ho? Kau temannya, ya? Sama-sama belagu juga?" Dengan nada sok berkuasa, ia meremas rambut Boboiboy, lalu menendang Boboiboy.
Dengan samar-samar, bola mata Fang menangkap sosok pemuda yang ia kenal sejak sekolah dasar tengah disakiti oleh pemimpin penjahat. Sebuah perasaan tak terima menjalar di selubung dadanya. Mendadak, rasa lemas dan remuk yang tengah menggerogoti tubuhnya segera sirna.
Fang mengepalkan tangannya, lalu menyikut dengan amat kuat perut kedua lelaki yang tengah menahannya. "Uagh.." ringis lelaki bertubuh kurus. Refleks, tangan yang semula menahan lengan dan tubuh Fang segera berganti tempat ke perut mereka masing-masing yang terasa cukup sakit.
"SERANGAN BAYANG!"
Manipulasi bayangan Fang menyerang lelaki yang tengah menyakiti Boboiboy, lalu dilemparkannya jauh-jauh. Lelaki itu mendarat dengan (tidak) mulus di tanah taman. "Ugh! Kurang ajar.." hardik lelaki atau pemimpin itu.
"Kalau kau berani menyakiti dia, kubunuh kalian!" Gertak Fang dengan nada marah yang belum pernah Boboiboy lihat sebelumnya.
Iris almond cucu Tok Aba terlihat berbinar-binar. Boboiboy sedikit takjub dengan kejantanan Fang. Fang terlihat begitu berkilau dari belakang karena backlight dari sinar matahari senja. Dadanya terasa begitu hangat dan nyaman. Boboiboy lalu tertegun. Wajahnya cukup merah karena kagum. "Terbaik kau, Fang.." Gumamnya pelan.
"Huh, awas kau nanti!" Kutuk sang pemimpin seraya berlari menjauhi Fang dan Boboiboy. Para preman yang lain melihat sang bos pergi menjauh, memutuskan untuk kabur dan menghilang dari lensa mata Fang.
.
.
.
Fang segera mendekati Boboiboy yang tengah terduduk di rumput taman. "Boboiboy! Kau tak apa?" Seru Fang cemas seraya mengangkat tubuh Boboiboy dengan menarik tangan milik lelaki berompi jingga.
Boboiboy berhasil berdiri. Fang lalu mengambilkan dan memberikan topi berbentuk seperti reptil jingga milik Boboiboy. "Eh.. I-iya. Tadi itu– " Sebelum Boboiboy yang tengah menerima topi miliknya menyelesaikan kalimatnya, Fang memotong.
"BODOH! Kenapa kau tidak menggunakan kekuatanmu!?" Bentak Fang. Wajahnya terlihat marah, amat marah.
Boboiboy makin bingung. "A-aku... Aku tidak kepikiran.." Jawaban konyol terlontar dari bibir Boboiboy.
Fang makin membentak. "Kenapa bisa tak kepikiran!? Apa yang tengah kau pikirkan tadi?!"
Aku memikirkanmu.. Jerit Boboiboy dalam hati. "Ti-tidak.. A-aku.." Boboiboy mencoba membela diri.
Fang melanjutkan omelannya. "Bodoh! Kau tadi dalam bahaya! Beruntung tadi aku segera datang. Kalau uangmu dirampas bagaimana?! Masih untung kalau hanya uang yang dirampas, kalau kau sampai kenapa-napa bagaimana?! Kalau ternyata nyawamu sampai ikut dirampas bagaimana?! Aku–"
Tiba-tiba, omelan Fang terhenti setelah melihat bulir air mata mengalir dari mata milik lelaki dihadapannya. Boboiboy menundukan kepalanya dengan rasa tak nyaman.
Rasa bersalah dan menyesal hinggap dihati Fang. "A-aku.. Maafkan aku. Aku terlalu khawatir. Aku tak mau kau kenapa-napa.. Jangan menangis lagi." Ucap Fang dengan nada cemas. Fang lalu mendekap Boboiboy di dada bidangnya. Menuangkan segala rasa bersalah dan lega karena Boboiboy tidak baik-baik saja. Ia semakin memeluk erat lelaki yang baru ia selamatkan. "Yang penting kau selamat.."
Lagi-lagi, Fang menyelamatkan Boboiboy. Tak disangka, Boboiboy membalas dekapan Fang dengan memeluk punggung Fang yang cukup besar. "Maaf, Fang.. Maafkan aku.." Isak Boboiboy pelan. Boboiboy makin membenamkan dirinya di dekapan erat Fang.
Fang yang bingung pun berkata " Apa maksudmu? Harusnya aku yang minta maaf.."
"Aku yang bodoh! Aku bodoh selalu menghindarimu.. Maafkan aku, selalu memaki-makimu, selalu kabur darimu, selalu menghindar darimu.. Aku, maafkan aku.." Isak Boboiboy. Boboiboy merasa lega, karena ada Fang yang berhasil menyelamatkannya. Dalam tangisannya, Boboiboy juga mengeluarkan rasa bersalahnya karena selalu menghindari Fang. Ia sadar, Fang yang selama ini terlihat sombong dan ketus merupakan lelaki yang baik, hingga menuruti permintaan Li Na yang tak akan lama tinggal di Pulau Rintis. Lelaki yang sangat diluar perkiraannya bisa menjadi orang yang begitu berharga dihidupnya.
Fang mematung. Ternyata itu yang membuat Boboiboy menangis. Fang pun semakin mendekap erat Boboiboy dibawah langit yang berwarna keemasan karena pantulan mentari yang mulai lelah menyinar. "Iya.."
.
Beberapa detik kemudian, Boboiboy tersadar. "Em.. Eh?! Sedang apa kita!?" Boboiboy dengan spontan mendorong dada bidang Fang. Wajahnya memerah.
"Alah.. Aku masih ingin memelukmu," Goda Fang dengan seringainya.
Blush.. Rona merah segera menyelimuti wajahnya. "A-apa.." Balas Boboiboy dengan muka tak percaya.
"Haha.. Ish, Aduh!" Fang mulai meringis kesakitan.
"Eh? Kau tak apa, Fang?" Wajah Boboiboy mulai panik
Fang memegangi rahangnya. "Ah, tidak.. Rahangku sedikit sakit karena tadi.." Balasnya dengan nada meringis.
"Bodoh! Kau terluka! Duduk disini!" Perintah lelaki berompi jingga sembari menunjukan ayunan taman yang kosong. Fang lalu menurutinya. Iris almond Boboiboy mencari-cari keran air agar bisa membasahi sapu tangannya. "Ah!" Setelah menemukannya, ia segera berlari ke arah keran yang cukup dekat dengannya. Ia membasahi sapu tangannya, lalu Ia peras. Setelah merasa cukup, ia segera berbalik dan menuju Fang yang tengah terduduk di ayunan seraya memegang rahangnya yang terluka.
"Ini! Biar aku bersihkan dulu lukamu dengan sapu tanganku.." Ucap Boboiboy dengan terengah-engah pelan karena baru berlari dari sumber air ke bangku taman.
Fang mengerutkan dahinya. "Ah, tak mau! Pedih.."
"Ish.. Kalau tidak nanti kumannya masuk!" Kelit Boboiboy.
Fang menggelengkan kepalanya. "Tak mau.. Sini aku saja yang bersihkan. Aku bisa sendiri." Fang masih saja bersikap ketus. Telapak tangannya di atas seolah meminta sapu tangan itu.
Boboiboy merasa tak yakin dengan Fang. Ia tak yakin kalau Fang bisa membersihkan lukanya. "Maaf, ya.." gumam Boboiboy. Boboiboy lalu menempelkan sapu tangan itu ke kulit yang sedikit terkoyak di wajah Fang.
Fang tersentak kaget. "Aduh! Apa yang kau lakukan?!" Fang meringis seraya membuang mukanya.
"Alah.. Aku hanya ingin membalas budi. Kau sudah mau menjagaku saat aku pingsan. Kalau kau yang membersihkan, aku tak yakin akan bersih." Jelas Boboiboy.
"Ugh.." Fang mengalihkan tatapannya. Fang melihat mata Boboiboy yang begitu tajam. "Baiklah, kau yang memaksa." Rona merah muda mulai mewarnai pipi Fang.
Boboiboy menghela nafasnya. Ia segera berlutut di hadapan Fang untuk menyamai tinggi. Ia lalu membersihkan luka yang mulai mengering di pipi Fang. Jarak mereka cukup dekat, Boboiboy hanya membersihkan perlahan karena takut Fang akan meringis kesakitan. Mata Boboiboy mulai tertuju ke sudut mulut Fang yang sedikit sobek. Ia menyeka sudut mulut Fang itu dengan sapu tangannya yang basah.
"Kenapa kau kemari?" Tanya Boboiboy sembari membersihkan luka di wajah lelaki bersurai ungu gelap.
"Aku diberitahu Tok Aba kau kemari.. Yah, sebenarnya aku disuruh mendatangimu, memastikan kau baik-baik saja.." Balas Fang.
Boboiboy lalu bermangut-mangut. Mata Boboiboy lalu tertuju di bibir merah muda Fang. Bibir yang begitu kenyal dan sedikit tipis. Ia kembali teringat kejadian di UKS. Tiba-tiba wajah Boboiboy memerah. Rasa malu mulai menjalar mengingat kejadian di UKS.
Ia lalu menatap iris violet Fang yang tertutup lensa cekung bening. Kedua iris pemuda itu saling bertemu. Anehnya, kedua bola mata itu tak berupaya mengalihkan pandangannya. Keduanya menatap lekat-lekat pupil hitam pemuda dihadapannya. Tanpa disadari, tangan Boboiboy yang memegang sapu tangan lembab itu terhenti. Perasaan aneh kembali terbisik di hati Boboiboy. Seperti sebuah sengatan listrik yang membuat mereka saling diam didalam keheningan. Kedua jantung pemuda itu berdegup cukup kencang hingga mereka saling bisa mendengar pelan degup jantung lelaki dihadapannya. Jarak bibir mereka hanya tinggal beberapa inchi, dan semakin dekat. Lagi-lagi, matanya terhipnotis oleh bola mata Fang yang begitu indah laksana langit galaksi hingga Boboiboy merasa tertarik untuk memperdekat bibir merah muda milik orang yang berada dihadapannya itu dengan bibir mungil miliknya. Terdapat perasaan ingin mempertemukan bibirnya dengan bibir kenyal milik Fang. Tapi, Boboiboy langsung sadar dan memecah keheningan.
"Ah.. Maaf!" Boboiboy membuang mukanya dengan wajah yang cukup merah.
Lamunan Fang pun pecah juga. "Eh? Oh.. Iya, makasih. Aku rasa lukaku sudah bersih.." Balas Fang dengan sedikit tersipu.
"Eh, benarkah?" Boboiboy lalu segera memperhatikan segala kulit yang terbuka di wajah Fang. Ia memastikan luka-luka Fang sudah bersih, sehingga bisa diberi obat kulit. "Iya.. Syukurlah.." Ucap Boboiboy lega.
Melihat paras Boboiboy yang terlihat amat lega, Fang merasa sedikit senang. Entah kenapa, ia merasa ada gunanya dia datang kemari. "Iya.."
.
Wajah mereka kembali memerah. Suasana kembali hening. Atmosfer terasa begitu berat dan canggung.
"Eh, em.. A-aku harus pulang!" Boboiboy terbata-bata untuk mengalihkan perhatian dan segera berdiri sembari membersihkan lututnya yang sedikit kotor.
"Eh.. Iya, aku juga.." Balas Fang pelan sembari berdiri dari ayunan. Sebenarnya, Fang belum merasa rela melepaskan Boboiboy untuk pulang.
"Em.. Fang, makasih ya udah datang. Entah bagaimana kalau kau tak ada.."
"Eh? Tak apa.. Berarti, kau tak akan menghindariku lagi 'kan?" Tanya Fang pelan untuk memastikan.
"Kurasa.." Jawab Boboiboy singkat dengan nada tak yakin. "Eh, baiklah.. Em, dadah!" Boboiboy langsung berlari pulang.
Fang dapat memastikan telinga Boboiboy memerah dari belakang. Fang hanya menyeringai senang. Tetapi ia tak bisa tersenyum terlalu lebar, karena rahangnya akan terasa perih kalau ia tersenyum. Lalu bersenandung kecil dan pulang karena matahari sudah nyaris menenggelamkan diri. Beruntung para pemeras itu menyerang saat matahari belum terlalu terbenam, karena kuasa Fang tak begitu kuat bila matahari sudah berganti dengan rembulan.
.: :.
Malam harinya, lagi-lagi Boboiboy tidak nafsu makan.
"Tok, Boboiboy masih mengurung diri?" Tanya Ochobot memastikan.
"Iya, tuh.. Duh dasar remaja. Maunya mengurung diri di kamar, tak mau makan malam. Biarkan saja dia, Ochobot!" Omel pemilik Kedai Kopitiam.
"Hh.. Iyalah.." Balas Ochobot menuruti.
.
Dikamarnya, Boboiboy menyelimuti dirinya dengan kain tebal seraya menenggelamkan wajahnya dalam bantal empuk. Ia kembali memikirkan kejadian petang ini.
Ugh.. Aku ini kenapa?
Lagi-lagi, aku ditolong oleh Fang menyebalkan itu.
Tapi kalau dipikir-pikir, aku harus berterima kasih kepadanya. Kalau tak ada dia, entah bagaimana aku tadi. Ukh, lemah sekali aku, hanya melawan gerombolan lelaki jahat itu tak bisa.
Ohiya, aku penasaran bagaimana dengan Li Na saat ini. Aku turut prihatin padanya. Aku merasa sangat bersalah. Selama ini aku begitu salah menilainya. Dia gadis yang baik, sangat , dia sangat cantik. Wajahnya putih bersih, rambutnya teruntai panjang berwarna hitam legam. Wajahnya seperti Ying sedikit. Yah, namanya juga orang chinese. Wajarlah kalau Fang mau menerimanya juga. Itu bukan hal buruk.
Eh, Li Na bilang, Fang sebelumnya menolak Li Na? Fang katanya menyukai seseorang..
Eh!? Siapaaa?! Seorang Fang yang ketus dan menyebalkan menyukai seseorang?!. Hm, apakah orang yang ia suka itu merupakan sahabatnya, atau penggemarnya?
Cih, lagi-lagi Fang! Sudahlah, aku mau menghilangkan namanya dari kepalaku!
.
Boboiboy akhirnya tertidur cukup pulas dengan wajah terlihat lega. Petang ini merupakan petang yang bermakna bagi dirinya.
.
Lalu, Fang?
Kini, Fang tengah menenggelamkan diri di ranjang empuknya. Ia kembali memikirkan wajah Boboiboy yang tengah menyeka lukanya. Ia kembali membayangkan wajah Boboiboy yang bulat nan chubby begitu dekat dengan wajahnya. Begitu imut dan lucu, hingga kalau saja Fang tak menyadari jati diri, mungkin saja Fang melahap bibir Boboiboy lagi.
Ia lalu kembali mengingat saat ia mendekap Boboiboy dengan makna menenangkan Boboiboy yang tengah dalam isak tangis. Ia dapat kembali merasakan hangatnya tubuh Boboiboy, pundaknya yang gemetar, dan terutama aromanya yang khas.
Untung saja tadi aku ada disana.. Mungkin dia sudah diapa-apakan oleh berandalan bejat seperti mereka..
Ia lalu melihat ke arah guling empuk yang bersarung motif sama dengan sarung bantal dan sprei ranjang miliknya. Ia meraih guling itu dan memeluknya. "Unh, Boboiboy.." gumamnya. Ia mendekap nyaman guling tersebut.
Beberapa detik kemudian, ia terdiam. Ia kembali berpikir apa yang baru saja ia lakukan. Ia lalu menatap guling tersebut. Selang beberapa detik, ia baru mendapat koneksi dari otaknya.
"Argh! Ada apa denganku!?" Jerit Fang terbelalak.
Fang segera membuang guling itu jauh-jauh. Lalu memungutnya lagi karena ia merasa tak nyaman bila tidur tanpa memeluk guling empuknya.
.
.
Kini, kedua pemuda dari SMA Pulau Rintis itu tengah menyelami perasaan mereka masing-masing. Lalu akan ada saatnya, mereka membuka harta karun terpendam di dalam hati mereka.
TBC.
Chapter 10 yeyy~
Yey rasanya udah nyampe chapter 10 lega gimana gitu /?
Sebenernya aku ga ngerti cara bikin fict berantem. Makanya agak garing gimanceee gitoeh /plak
Maaf ya kalau fict ini makin lama makin gaje.. Tungguin aja sampe mereka in de hoy~
Eh iya, Btw nilai sejarahku cukup bagus diatas rata-rata karena contekanku berhasil (yeeey) /mohon jangan ditiru
Ohiya bentar lagi Fang ulang tahun ya? JANGAN LUPA YA TANGGAL 13 APRIL, PAS BANGET SM KAKAK KELAS 12 UJIAN!
Ehiya, buat kakak kelas 12 yang bakalan UN, SEMANGAT YAAA! SEMOGA SOALNYA GAMPANG TRUS BISA MASUK PTN ATAU PTS YANG DIINGINKAN AAMIEEEEN~
rasanya tubuh remuk sekali gara-gara jadi 4 panitia acara, BAYANGIN COBA BAYANGIIIN! /gausah dibayangin juga gapapa sih
Ohiya, kritik dan saran diperlukan untuk membangun chapter yang lebih baik..
Makasih semuanyaaa~ Baca terus fict ini yaa! Njaaaaa =w=)~
