DOCTOR (FOR LIFE)

HUNSOO VERSION

.

.

.

Original story by CHANSEYUU

.

.

CAST : OH SEHUN

DO KYUNGSOO

Other cast

.

.

GENRE : MEDICAL, ROMANCE, FAMILY, HURT

RATE : M

.

.

AWAS TYPO

.

.

HAPPY READING

.

.

Warning: ini panjang bingit jadi jangan lupa sediakan camilan untuk teman berkhayal biar gak bosan kekeke. Capcuss chiiiiiiiiiiinnnnnnnn!

Ruangan dokter tersebut masih bertahan dengan keheningan setelah ucapan —yang dilontarkan oleh laki-laki albino— yang tak lain adalah Sehun. Begitupun juga dengan Kyungsoo, wanita mungil tersebut masih diam membeku. Tidak kalah terkejutnya dengan para dokter dan juga perawat yang saat ini tengah menonton mereka. Layaknya adegan di sebuah drama —dimana sepasang kekasih sedang bertengkar— dan mereka layaknya background di sekitar pasangan kekasih tersebut.

Kyungsoo terperanjat saat sebuah tepukan mendarat dibahu kanannya, matanya mengerjap untuk bersikap normal. Lalu menoleh ke arah seseorang yang menepuknya tadi. Terlihatlah Mingyu dengan wajah —antara takut juga enggan— berdiri di sampingnya.

"maaf menganggu, tapi ada pasien darurat di UGD." Tuturnya dengan keraguan tercetak jelas diwajah manisnya tersebut. Oh bagaimana tidak, membutuhkan keberanian yang sangat kuat bagi Mingyu untuk menganggu moment antara dua dokter killer tersebut. Jika bukan karena paksaan dokter Wonho mungkin Mingyu tidak akan pernah mau menjerumuskan atau hadir ditengah-tengah pertikaian antara dua serigala tersebut.

"aku akan segera kesana." Jawab Kyungsoo dengan nada datar, lalu mendekat ke arah mejanya untuk mengambil stethoscope, dan juga senter kecil.

Tepat saat Kyungsoo berjalan didepan Sehun, dengan cekatan laki-laki itu menahan pergelangan tangan Kyungsoo yang membuat wanita tersebut memandangnya tidak suka.

"kita belum selesai bicara Do Kyungsoo" Sehun berucap tegas.

Kyungso melepas genggaman tangan Sehun. "apa kau tidak dengar jika aku ada pasien," ucap Kyungsoo tak kalah tegas dari Sehun. Lalu melanjutkan langkahnya sebelum Sehun sempat membuka suara kembali.

Sehun hanya bisa mengerang frustasi sambil melangkah masuk kedalam ruangannya, menutup pintu dengan bantingan hingga menghasilkan suara dentuman yang cukup keras. Ia mendudukkan diri di kursi, memejamkan matanya untuk meredakan emosi yang tenggah menguasainya. Apa yang harus Ia lakukan sekarang, pikirannya benar-benar buntu. Tidak dapat berpikir dengan jernih. Seberapa keraspun Ia mencoba pasti hasilnya tetap akan sama. Kyungsoo tidak akan pernah mau berbicara padanya meski itu menyangkut tentang perjodohan mereka yang di lakukan oleh kedua orang tua mereka.

Haruskah Sehun senang dengan hal itu? Disisi lain Ia bisa mendapatkan kembali Kyungsoo dengan bantuan kedua orang tuanya juga orang tua Kyungsoo atau mungkin hanya Ibu Kyungsoo, karena pada nyatanya Ayah Kyungsoo belum terlibat dalam perjodohan tersebut. Disisi lainnya juga Ia merasa jika dirinya layaknya pecundang yang mengharapkan wanita yang telah dicampakkannya kembali padanya hanya karena Ia masih begitu mencitai wanitanya. Keegoisan yang Ia tanam membuatnya tidak peduli dengan perasaan orang lain. Yang Ia tahu hanya ingin memperbaiki semuanya dengan cepat. Mengesampingkan fakta bahwa mungkin Kyungsoo tidak mencintainya lagi, dan menginginkannya kembali padanya. Juga sebuah fakta jika Ia mungkin sudah tidak pantas lagi untuk Kyungsoo bahkan tidak akan pernah pantas.

.

.

Kyungsoo berjalan menyusuri koridor dengan jalan tergesa di ikuti Mingyu di sampingnya.

"nuna, maaf.." ucap Mingyu lirih.

Kyungsoo menoleh sekilas kearah Mingyu yang tengah menunduk tidak berani melihat kearahnya. "untuk apa?"

"emmm... itu tadi... mengganggu pembicaraan nuna" jawabnya.

Kyungsoo berdecih lalu menghentikan langkahnya secara tiba-tiba membuat Mingyu ikut menghentikan langkahnya. Lalu menatap Kyungsoo dengan bingung. "harusnya aku berterima kasih karena kau sudah menyelamatkanku hitam." Tutur Kyungsoo dengan senyuman simpul di bibirnya.

Mingyu memanyunkan bibirnya beberapa senti kedepan. "jangan memanggilku hitam, aku ini coklat dan sexy yang hitam itu Jongin Hyung.." protesnya layaknya anak kecil yang tidak terima diejek oleh teman-teman sebayanya.

Kyungsoo menepuk bahu Mingyu dengan diiringi sebuah kekehan. "sama-sama hitam jangan saling mengatai" ia lalu meninggalkan Mingyu yang semakin kesal.

Ya Mingyu adalah sepupu Jongin yang bekerja sebagai salah satu perawat dirumah sakit. Laki-laki itu seumuran dengan Wonho, bedanya Mingyu memiliki kulit tan seperti Jongin. Karena itulah Kyungsoo sering mengatainya hitam yang berujung merajuknya Mingyu.

.

.

Disinilah Sehun sekarang didepan pintu ruang pemilik rumah sakit, atau lebih tepatnya ayah Kyungsoo. Setelah beberapa saat lalu sebuah panggilan memintanya untuk datang ke ruangan tersebut. Sehun menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan pelan, kemudian tangannya mengetuk pintu kayu tersebut sacara pelan. Tak butuh waktu yang lama untuk mendapatkan respon dari sang pemilik ruangan. Tangan Sehunpun memutar knop pintu secara pelan, begitupun juga saat menutupnya.

"duduklah Sehun." Sambut laki-laki berbadan tegap —terbalut oleh setelan jas berwarna marun— menunjuk kursi tamu yang ada di ruangan tersebut.

Sehunpun dengan patuh duduk di kursi tersebut, sambil berdeham untuk menghilangkan perasaan gugupnya.

Tak lama terdengar pintu terketuk kembali, Joong Kipun mempersilahkan untuk masuk. Pintupun terbuka, seorang wanita —yang diketahui adalah pegawai pentri di gedung atas— masuk dengan membawa nampan yang berisikan dua cangkir kopi di tangannya. Wanita tersebut menunduk sekilas untuk memberi hormat sang petinggi, lalu dengan sangat sopan menaruh cangkir-cangkir tersebut di depan Joong Ki dan juga Sehun. Setelah tugasnya selesai, wanita itu kembali menunduk untuk undur diri.

Joong Ki menghirup aroma kopi yang menguar dari asap yang masih mengepul sebelum menyeruputnya, sambil melihat Sehun lewat ujung matanya dari balik cangkir. Di depannya terlihat jika Sehun saat ini tengah menyembunyikan kegugupan, tak pelak hal itu membuat Joong Ki menaikkan sudut bibirnya.

"kau pasti sudah mendengar rencana yang dilakukan oleh istriku dan juga orang tuamu, benar?" Joong Ki meletakkan cangkirnya dengan pelan kemudian meletakkan kedua tangannya diatas lutut yang saling bertumpu (tahu kan maksudnya :P ), matanya menatap Sehun dengan penuh ketegasan.

Sehun menegakkan tubuhnya, "ya, kedua orang tua saya sudah memberi tahu saya" jawabnya dengan bahasa formal yang lugas.

Joong Ki mengangguk-anggukkan kepalanya. "jadi, apa kau setuju dengan rencana itu?" Joong Ki memperhatikan Sehun dengan sangat intens.

"jujur saja saya tidak tahu Ahjussi, saya belum membicarakannya dengan Kyungsoo. Karena Kyungsoo..."

"karena Kyungsoo tidak mau bicara dengamu, benar?" sela Joong Ki dengan tepat.

Sehun hanya bisa mengangguk kecil sebagai sebuah jawaban.

Joong Ki mengangguk lagi. "Sehun-na"

"ya..."

Laki-laki paruh baya tersebut menghela nafas secara pelan. "jujur saja aku begitu kecewa padamu, dulu aku kira kau adalah laki-laki yang bisa dipercaya, (Sehun semakin menundukkan kepalanya) laki-laki yang bisa menjaga dan melindungi Kyungsoo ketika aku dan Chanyeol tidak berada bersamanya. Tapi ternyata penilaianku sangat salah, kau begitu berani menyakiti hati anakku yang akupun tidak pernah melakukannya. (Sehun menggumamkan kata maaf) jadi tidak bisakah kau menolak rencana mereka?"

Reflek Sehun langsung mengangkat kepalanya dan menatap ayah Kyungsoo dengan pandangan terkejut. "Ahjussi aku..."

"kenapa? apa kau tidak bisa?" lagi-lagi Joong Ki menyela ucapa Sehun yang belum selesai. "katakanlah Kyungsoo menyetujui rencana ini, lalu apakah itu bisa menjamin jika hidup kalian akan bahagia? (Joong Ki berdiri lalu memandang gedung-gedung dari kaca jendela membelakangi Sehun yang masih duduk di tempatnya.) Ahhh ya, tentu saja kau bahagia selain bisa mendapatkan Kyungsoo kembali kau juga mendapatkan anakmu benar? (Joong Ki menoleh melihat reaksi apa yang diberikan oleh Sehun, namun nyatanya Sehun hanya diam.) lalu bagaimana dengan Kyungsoo? pasti anakku akan menjalaninya dengan terpaksa bukan? jikapun tidak, apa kau dapat menjamin hal yang serupa tidak terjadi lagi di kemudian hari? Kyungsoo memergokimu bersama wanita lain mungkin." Tutupnya dengan penuh penekanan di kalimat terakhir.

Tubuh Sehun menegang, jadi ayah Kyungsoo sudah mengetahuinya pikirnya.

Ya... Joong Ki mengetahui hal tersebut semalam setelah mengintrogasi Chanyeol. Karena merasa ada yang janggal, kenapa Kyungsoo sangat benci sekali dengan Sehun dan bohong pada dirinya dan juga sang istri tentang anak yang dikandungnya beberapa tahun yang lalu. Jika sebenarnnya anaknya tersebut sangat tahu jika dirinya tengah mengandung anak Sehun. Disisi lain bahkan dulu Kyungsoo sangat mencintai, bahkan selalu memuji Sehun setiap kali Ia menanyakan bagaimana hubungannya bersama sang kekasih. Oleh karena itu Ia mendesak Chanyeol untuk menceritakan semuanya, meski pada awalnya anak laki-lakinya tersebut juga tidak ingin buka suara tentang rahasia yang disembunyikannya bersama sang adik bahkan sang menantunyapun juga ikut bungkam. Pada akhirnya Chanyeolpun menyerah dan menceritakan semuanya padanya. Marah? Jelas, bahkan Ia ingin sekali menguliti laki-laki berkulit pucat yang saat ini sedang berada di ruangannya. Namun Ia tidak ingin bertindak gegabah dan main hakim sendiri, walau harga diri sebagai seorang ayah telah diinjak oleh laki-laki yang dulu sangat dielu-elukan oleh sang anak.

"sebenarnya aku ingin sekali menghajarmu, tapi aku tidak bisa" Joong Ki memutar tubuhnya.

"kalau begitu hajar saja, jika itu bisa memaafkan kesalahanku." Sehun berkata dengan tegas dan penuh dengan keyakinan.

Joong Ki terkekeh pelan. "apa dengan menghajarmu semua akan kembali seperti semula dan selesai begitu saja? Tidak Sehun... tidak, kau hanya perlu pergi dari kehidupan anak dan cucuku. Kau hanya perlu menjalani hidupmu seperti yang selama ini kau lakukan, bukankah mudah? Dan semua akan terselesaikan"

Sehun langsung berdiri dengan tangan yang mengepal menahan emosi agar tidak meluap, karena Ia tidak ingin membuat semuanya menjadi lebih runyam. "aku tidak bisa, aku begitu mencintai Kyungsoo. Dan aku berjanji tidak akan menyakitinya lagi aku tidak bisa meninggalkan mereka"

Bukan terharu, jawaban Sehun malah membuat Joong Ki lagi-lagi terkekeh. " cinta? Kau bilang cinta? Hahaha kau sedang bercanda nak... jika kau mencintai putriku kau tidak akan melukainya apa lagi mempermainkannya. Tidak bisa meninggalkannya? Kau terlalu naif Sehun, apa bedanya sekarang dan dulu, jika dulu saja kau bisa meninggalkan Kyungsoo dengan wanita lain kenapa sekarang tidak?"

Sehun hanya diam, karena semua yang dikatakan oleh ayah Kyungsoo tidak ada yang salah. Jika dia dulu bisa meninggalkan Kyungsoo kenapa sekarang tidak? Tidak bisa, Ia benar-benar tidak bisa. Kyungsoo, Ia sangat mencintainya dan Ia sangat menyesal dengan apa yang tengah diperbuatnya dimasa lalu. Karena itulah Ia akan mencoba meyakinkan Kyungsoo lalu kembali lagi menjalin semuanya seperti dulu. Memulainya dari awal dan hidup bahagia bersama keluarga kecil mereka. Namun kata naif yang di ucapkan ayah Kyungsoo membuat semua yang dikira sangat mudah kini hancur berantakan. Ya, Ia terlalu naif mengharapkan Kyungsoo memaafkan semua kesalahannya setelah semua yang Ia lalukan. Ia terlalu naif untuk mempercayai jika semua akan kembali seperti semula tanpa terlihat pernah terjadi sesuatu yang sangat menyakitkan.

.

.

Jongin baru saja keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan diri. Ia lalu berjalan menuju lemari pakaian masih dengan menggunakan handuk yang melilit apik di pinggangnya. Jari-jarinya dengan cermat menyusuri tumpukan baju santai. Ia lalu mengambil kaos putih polos serta celana pendek selutut yang bercorak rumit. Tak butuh waktu yang lama untuk memakainya. Kini laki-laki itu sudah rapi dengan baju santainya, Jongin sangat terlihat berbeda dari Jongin seorang CEO yang memakai setelan jas rapi. Laki-laki itu terlihat jauh lebih muda ketimbang biasanya. Mungkin karena biasanya Ia memakai jas jadi terlihat sangat dewasa, berkarisma, dan elegan dalam waktu bersamaan.

Jongin lalu keluar dari kamarnya untuk menuju kamar sang anak yang masih harus di infus karena kondisi tubuhnya yang belum stabil. Oleh karena itulah Jongin memutuskan untuk cuti hari ini demi mengurus sang anak. Ibu Jongin yang berencana untuk merawat sang cucu malah harus ikut sang suami atau lebih tepatnya ayah Jongin ke luar negeri karena urusan bisnis dari cabang lain dan pagi-pagi sekali mereka harus berangkat. Ibunya yang menjabat sebagai sekretaris Ayahnya mau tidak mau harus ikut dan jadwal tidak bisa di tunda karena urusan itu sudah direncanakan jauh-jauh hari.

Jongin harus menghentikan langkahnya saat tiba-tiba maid di rumahnya memberi tahu jika ada tamu yang mencarinya. Kening Jongin berkerut heran karena Ia merasa tidak ada janji dengan siapapun. Ia juga sudah memberi tahu Jonny —sekretaris Jongin— serta Jongdae —orang kepercayaan Jongin— jika Ia tidak masuk hari ini dan meminta untuk menghandle semua pekerjaan yang tidak bisa Ia kerjakan. Jadi sudah dipastikan jika orang yang mencarinya bukanlah diantara kedua orang tersebut. Kyungsoo juga tidak mungkin, wanita itu sudah bilang jika akan datang saat selesai dari rumah sakit. Lalu siapa dalam benaknya bertanya-tanya karena tidak ada satu orang yang terlintas pikirannya siapa kira-kira yang akan bertamu dirumahnya pagi ini.

Sedang di teras rumah kediaman Jongin, Luhan menunggu lelaki itu keluar untuk menemuinya setelah tadi sang maid bilang untuk menunggu. Luhan pagi ini memberanikan diri untuk datang, meski kemarin Jongin melarangnya untuk bertemu dengan Lyu In, namun Ia sama sekali tidak akan menyerah untuk bertemu dengan sang anak. Ia bertekad jika tidak akan pernah berhenti untuk berusaha. Meski jujur saja dalam hatinya ada perasaan amat sangat takut jika Jongin benar-benar tidak mengijinkan dirinya untuk bertemu dengan Lyu In seperti kemarin. Luhan menggigit ujung kukunya untuk menghilangkan kegugupannya, namun hal itu tidak berlangsung lama saat suara pintu terbuka. Reflek Luhan berbalik dan mendapati Jongin berdiri di ambang pintu dengan raut wajah yang sangat terkejut.

Jongin tidak menyangka jika tamunya di pagi hari ini adalah wanita yang tidak ingin ditemuinya. Terkejut? Jelas Ia sangat terkejut, Jongin pikir setelah kejadian kemarin Luhan tidak akan menemuinya lagi. Namun ternyata dugaannya salah, bahkan wanita itu lebih berani dari yang Ia pikirkan. Jongin menghela nafas sejenak. "untuk apa kau kemari?" tanya kemudian.

Luhan menurunkan tangannya, lalu memberanikan diri menatap Jongin. "aku ingin bertemu Lyu In, Jongin.. jadi ijinkan aku bertemu dengannya. "Luhan mengutarakan tujuannya tanpa basi-basi dengan nada memohon.

Jongin menaruh kedua tangannya di pinggang lalu menatap Luhan dengan kesal. "bukankah aku sudah melarangmu untuk tidak lagi menemuinya? Jadi pasti kau tahu apa jawabannya Luhan, pergilah." Jongin lalu berbalik siap melangkah untuk kembali masuk ke dalam rumah, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara isakan Luhan. Wanita itu memohon padanya dengan suara parau. Jongin berniat untuk memakinya namun apa yang Ia dapati membuat hatinya mencolos. Luhan bersimpuh sambil menangis tersedu dihadapannya.

"aku mohon Jongin hiks... ijinkan aku bertemu dengannya" ucap Luhan kembali, kepalanya yang tadi menunduk kini mendongak untuk melihat ke arah Jongin. Tatapan mereka bertemu namun dengan secepat kilat Jongin memutuskan untuk menghindari kontak mata dengan Luhan.

Jongin mulai bimbang, haruskah Ia mempertemukan Luhan dengan Lyu In ataukah meninggalkan Luhan di depan rumahnya begitu saja seperti laki-laki brengsek. Tapi bukankah itu setimpal dengan apa yang Luhan lakukan padanya dan Lyu In. Bahkan mungkin rasa sakit yang Luhan rasakan tidak seberapa dibandingkan rasa sakit yang Ia tanggung selama ini.

Jongin mengusak surai coklatnya dengan frustasi.

.

.

Tangan Kyungsoo menjahit luka dahi anak kecil tersebut dengan sangat telaten. Sesekali dokter yang pernah mendapat julukan dokter gila tersebut tersenyum kearah anak kecil laki-laki yang sedang memandangnya dengan tatapan polos tersebut.

"cut" ucap Kyungsoo, lalu Mingyu dengan cekatanpun memotong benang tersebut. Setelah proses menjahitnya selesai, tidak lupa Kyungsoo menutup luka tersebut menggunakan perban untuk melindungi jahitan serta luka agar tidak terlepas dan mengakibatkan infeksi.

Ini adalah pasien kedua Kyungsoo setelah beberapa saat yang lalu Ia menangani pasien patah tulang akibat kecelakaan. Karena Luhan tidak masuk Kyungsoolah yang harus repot terlebih laki-laki brengsek itu juga tidak menampakkan batang hidungnya. Jadilah Ia yang sedikit kerepotan. Untung saja para dokter muda sudah bisa menangani pasien dengan benar dan juga sudah mulai bisa diandalkan, hal itu membuatnya sedikit terbantu.

"chaaa... sudah selesai" Kyungsoo berucap dengan nada ramah sambil melepas sarung tangan, lalu meletakkan sarung tangan tersebut di atas troli bersama peralatan lainnya yang akan di bawa pergi oleh Mingyu. "tidak sakit kan?" lanjutnya.

Anak laki-laki tersebut menjawab engan anggukan, serta tatapan mata yang sangat polos. Tangan Kyungsoopun terulur mengusak surai hitam anak tersebut.

"terimakasih saem" tutur sang Ibu sambil memegang kedua tangan Kyungsoo saat wanita itu sudah selesai mengusak kepala anaknya.

Kyungsoo tersenyum pada Ibu pasien tersebut. "sudah tugasku" jawabnya lalu beralih kembali menatap anak kecil tersebut. "lain kali bermainlah dengan hati-hati dan di tempat yang tidak berbahaya. Semoga cepat sembuh..."

"ne saem..." anak tersebut berucap lirih.

Setelah itu Kyungsoopun pamit untuk undur diri. Menyusuri lorong rumah sakit untuk menuju ruang rawat inap. Namun di tengah jalan seseorang menghadangnya —Oh siapa lagi jika bukan Minseok si pipi bakpau— Yang membuat tubuhnya berjingkat kaget. Untung dia tidak memiliki riwayat penyakit jantung, jika punya mungkin jangtungnya sudah rontok dan menggelinding tidak tentu arah. (okey abaikan)

"astaga... kau mengagetkanku" gerutu Kyungsoo dengan sangat kesal.

Minseok hanya terkekeh melihat Kyungsoo yang sudah memajukan bibirnya beberapa senti, jika diperhatikan mirip sekali dengan pinguin mungil. "makanya jika berjalan jangan sambil melamun." Ledeknya.

"ck siapa yang melamun... aku tidak..."

"kau iya..." sela Minseok. "jika tidak melamun pasti kau dengar saat aku panggil, buktinya kau tidak merespon sama sekali" lanjutnya.

Kyungsoo memincingkan matanya, apa iya Ia melamun pikirnya. "ck terserahmu eonni, jadi apa maumu?" tangannya terlipat didada.

"kau benar-benar... ah sudahlah, jadi apa kau menerimanya?" tanya Minseok ambigu.

"menerima apa?" Kyungsoo balik bertanya dengan wajah bingung.

Minseokpun memukul kepala Kyungsoo menggunakan gulungan kertas yang dibawanya.

"YAAAKKK KENAPA EONNI MEMUKULKU" Teriak Kyungsoo dengan lantang. "eonni..." rengeknya saat lagi-lagi Minseok mendaratkan gulungan kertas dikepalanya.

"yang pertama itu untukmu yang pura-pura tidak tahu, dan yang kedua untukmu yang berteriak seperti dihutan"jawabnya dengan santai. Kyungsoopun mendengus tidak suka dan bertambah kesal dibuatnya. Hell bukan salahnya kan jika Ia memang tidak tahu dengan pertanyaan si pipi bakpau itu. Tapi lihatlah wanita pendek itu malah berbuat seenaknya saja pada dirinya. Ck menyebalkan.. gerutu Kyungsoo dalam hati. "aku tanya apa kau menerima perjodohan itu?" tanya Minseok sekali lagi.

Kyungsoopun menghela nafas dan menormalkan ekspresi wajahnya. "aku tidak tahu... mungkin menolak, mungkin juga menerima." Jawabnya dengan lemas.

"jangan bodoh"pekik Minseok. "apa kau gila ingin menerima Sehun kembali?"

Kyungsoo mengangkat bahunya acuh, lalu kembali melangkah. Namun Ia berhenti lagi saat ingat sesuatu. "ngomong-ngomong eonni tahu dari mana?" tanyannya.

"kemarin aku tidak sengaja dengar." Jawabnya.

Kyungsoo hanya berdecak mendengarnya, lalu melanjutkan jalannya yang di ikuti oleh Minseok. Wanita yang sama mungilnya dengan Kyungsoo tersebut dengan cerewet menayankan ini itu dan juga melarang Kyungsoo untuk menerima Sehun kembali. Minseok bilang jika Sehun sudah tidak pantas untuk Kyungsoo, wanita itu juga menyarankan jika Kyungsoo harus mencari laki-laki lain. karena banyak duda yang terbengkalai di Seoul, dan yang pastinya lebih berkompeten, serta lebih berumur dibandingkan Sehun. Wanita itu kadang kalau bicara suka benar akan tetapi suka membuat kesal juga. Bagaimana mungkin menyarankan laki-laki yang lebih tua —yang Kyungsoo asumsikan umurnya sudah memasuki fase kriput— pada dirinya yang terang-terangan dia anggap adik. Apakah ada seorang kakak yang akan menjerumuskan adiknya pada duda kakek-kakek. Rasanya Kyungsoo ingin sekali membawa Minseok kepanti jompo dan menikahkannya dengan salah satu kakek disana sebagai hukumannya.

.

.

Sehun keluar dari ruangan Ayah Kyungsoo dengan kepala tertunduk. Harapannya mendapat persetujuan dari sang petinggi rumah sakit pupus sudah. Karena hampir tidak ada celah untuk kembali kepada Kyungsoo. Haruskah Ia meyerah sekarang juga?

"aarrgghhhh" Sehun mengusak kepalanya dengan sangat frustasi. Penyesalan dan kata maafpun tidak bisa mengembalikan semua yang sudah Ia sendiri rusak seperti semula. Jika dulu Ia tahu akan menjadi seperti ini, praktis Ia tidak akan pernah memilih untuk menjatuhkan gelas kaca. Ia akan lebih memilih merawatnya dengan baik, agar tetap terjaga dan tampak indah. Namun apa yang Ia lakukan? Dengan segala kecerobohan dan ketamakannya Ia membeli gelas kaca lain —yang terlihat lebih mengkillat dari yang Ia punya— mengagungkan yang baru lalu melupakan yang lama. Tanpa Ia sadar jika gelas kaca yang lamalah yang lebih bagus dan lebih baik dari segi kualitas dan kwantitasnya.

Sehun menghentikan langkahnya tepat pada saat melihat Kyungsoo sedang merawat dengan telaten pasien anak kecil. Ia juga melihat wanita mungil tersebut tersenyum, senyum yang dulu selalu berkembang dibibir hatinya saat sedang bersamanya. Senyum yang selalu mampu meluluhkan hatinya dan mendebarkan jantungnya. Kini Sehun sadar, jika detik inilah Ia baru melihat senyum itu kembali setelah sekian lama. Karena seperti yang banyak orang ketahui jika Kyungsoo selalu memasang wajah dingin dan juga sifat pembencinya pada Sehun itulah yang membuat wanita itu tidak pernah lagi memberikan senyum hati tersebut padanya, seperti yang dulu Kyungsoo berikan padanya.

"apa sekarang kau merasa menyesal?" suara bariton tiba-tiba saja menyapanya dari arah belakang. Sehunpun dengan reflek berbalik dan mendapati Chanyeol yang tengah menatapnya dengan pandangan remeh sambil berdiri dengan kedua tangan yang berada di dalam saku kanan dan kiri celananya. "aaa... benar juga kenapa kau harus menyesal... hanya karena adikku?" lanjut Chanyeol sambil melenggang pergi.

Sehunpun mengepalkan tangannya. "yaakkk" pekiknya dengan suara berat.

Chanyeol yang mendengarnyapun menghentikan langkahnya kemudian berbalik. "apa kau marah?" Chanyeol menyeringai, berjalan mendekat kerah Sehun. Lalu memegang tengkuk laki-laki albino tersebut sambil berbisik. "jangan berharap kau bisa kembali pada Kyungsoo, karena kau tidak pantas untuknya. Ku sarankan kau tetap dengan wanitamu, karena kalian sangat serasi sama-sama meninggalkan anak demi kesenangan sendiri." Chanyeol menjauhkan tubuhnya dari Sehun.

"apa maksudmu Chanyeol?" tanya Sehun dengan bingung.

Chanyeol hanya mengangkat bahunya dengan ekspresi wajah yang dibuat-buat tidak tahu. Laki-laki jangkung itupun menepuk bahu Sehun kemudian meninggalkan laki-laki albino tersebut begitu saja.

Seperginya Chanyeol, kepala Sehun di penuhi dengan kata-kata Chanyeol yang berusaha otaknya cerna. Ia terus menelah, hingga akhirnya satu pertanyaan terlintas dipikirannya. Apakah Luhan sudah punya anak, bagaimana mungkin? Sehun yakin jika wanita yang dimaksud Chanyeol adalah Luhan, tapi setahunya Luhan tidak pernah menikah dan memiliki anak. Apa Luhan menyembunyikan sesuatu darinya? Aaggrrttt rasanya Ia mendekati gila jika seperti ini terus menerus.

.

.

Luhanpun diantarkan Jongin sampai depan pintu teras, setelah beberapa menit diijinkan untuk melihat Lyu In. Meski hanya sesaat dan anak itu tidak mengetahuinya, namun bagi Luhan itu sudah sangat cukup dan sangat berterima kasih pada Jongin yang sudah mau mengijinkannya.

"sekali lagi terima kasih Jongin" ucapnya sambil menoleh ke arah Jongin dengan senyum yang sedikit di paksakan. karena sebenarnya Luhan masih ingin lebih lama bersama Lyu In. Namun Jongin hanya memberikannya waktu yang minim.

"eemmm, aku harap ini yang terakhir kau menemuinya. Karena sebentar lagi Lyu In akan mempunyai seorang Ibu" balas Jongin sambil menekankan kalimat terakhirnya.

Senyum Luhanpun luntur seiring dengan ucapan Jongin. Hatinya terasa sangat sakit, bagaimana tidak jika laki-laki yang masih kau harapkan berkata —dengan secara tidak langsung— jika dia akan menikah. Apakah ini akan menjadi akhir dari semuanya? apakah ini akan menjadi terakhir kalinya Ia bisa melihat Lyu In? Memikirkan hal itu tanpa terasa membuat air matanya jatuh tanpa Ia sadari. "si... si.. aa... pa?" tanyanya dengan terbata.

Sebenarnya Jongin tidak tega melihat kondisi Luhan saat ini, tapi Ia sudah bertekat jika wanita di depannya saat ini harus merasakan juga bagaimana rasanya tersakiti. "dengan Kyungsoo" jawabnya dengan tegas dan penuh keyakinan.

Lagi-lagi jawaban Jongin membuat Luhan tidak percaya dengan apa yang Ia dengar. "kau bercanda Jongin?" tanyannya. Matanya manatap tepat pada manik mata Jongin, beharap laki-laki itu menyimpan kebohongan disana. Namun apa yang Ia temukan hanya membuat hatinya kembali tercabik. Mata Jongin memancarkan kesungguhan dan sama sekali tidak ada kebohongan disana.

"aku tidak bercanda, karena aku memang akan menikah dengannya"

"KENAPA HARUS KYUNGSOO?" teriak Luhan yang tidak bisa lagi mengontrol luapan emosinya.

Jongin menarik sudut alisnya. "karena status kita sama, bukankah aku dan Kyungsoo sangat cocok? Lyu In membutuhkan sosok ibu, sedangkan Eun Kyun membutuhkan sosok ayah dan kami bisa saling melengkapi kekosongan itu ketika kami menikah bukan? Lalu apakah ada yang salah Luhan-ssi?"

"kau tidak akan bisa menikah dengan Kyungsoo, Jongin. Kau hanya bisa menikah denganku" tubuh Luhan bergetar dengan lelehan air mata yang sudah membasahi pipinya.

Jongin terkekeh. "kenapa tidak bisa? Jangan menjadi egois Luhan, dan jangan bersikap seolah-olah aku hanya membutuhkanmu." Jongin mendekat kearah Luhan. "karena kau (jari telunjuk Jongin menunjuk ke arah Luhan) salah besar Luhan, aku sudah mencintai orang lain." tutupnya.

Luhan menatap Jongin dengan mata merahnya. "tidak kau masih mencintaiku, dan aku tidak akan membiarkan kau menikah dengan Kyungsoo." Pekik Luhan, lalu wanita itu berlari menuju mobilnya dan meninggalkan kediaman Jongin sambil mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.

Jongin menghela nafas pelan, matanya tidak pernah lepas melihat kepergian Luhan. "maafkan aku Luhan" gumamnya lalu masuk kedalam rumah untuk kembali lagi ke kamar Lyu In.

.

.

Keadaan Luhan saat ini sangat kacau. Ia membanting semua barang yang ada di kamarnya untuk meluapkan segala amarahnya. Hingga kamar tersebut terlihat sangat berantakan tidak beraturan. Seprei, bantal, guling terjatuh begitu saja di lantai. Begitupun juga dengan semua barang-barang yang ada di meja riasnya berceceran tidak beraturan. Wanita itu terus berteriak-teriak seperti orang kesetanan, mengucapkan sumpah serapah. Bahkan sesekali Ia menyebut-nyebut nama Kyungsoo dan memaki-makinya.

Orang tua Luhanpun sangat khawatir saat mendengar teriakkan-teriakkan sang anak, terlebih Taeri ibu dari Luhan yang sedari tadi mengetuk-ngetuk pintu kamar Luhan, namun tidak digubris sama sekali dengan Luhan. "Luhan, buka pintunya sayang..." pinta Taeri dengan nada membujuk. Namun sekali lagi, sang anak sama sekali tidak meresponnya, wanita paruh baya tersebut malah mendengar suara barang yang terjatuh dan juga teriakan kencang Luhan. Merasa tidak tahan dengan itu Taeri berlari ke tempat penyimpanan kunci cadangan. Dengan tergesa-tergesa tangan lentik tersebut membuka pintu kamar Luhan.

"ASTAGA... LUHAN" pekiknya saat pintu berhasil terbuka. Taeri langsung berlari tergopoh mendekati Luhan yang sedang memegang pecahan kaca.

Tangan Luhan bergetar saat memegang pecahan kaca dan mengarahkannya pada pergelangan tangan kirinya. Telapak tangan kanannya terlihat berdarah karena terlalu erat menggenggam pecahan kaca tersebut. Luhan segera mendongak saat mendenggar pekikan sang Ibu. "jangan mendekat eomma." Dengan mata yang merah dan penampilan kacau Luhan memperingati sang Ibu.

"hentikan Luhan, kau bisa berbagi dengan eomma jika ada masalah. Letakkan itu sayang." Bujuk Taeri mencoba untuk tidak panik, meski pada nyatanya wanita paruh baya tersebut sangat takut jika sang anak tetap nekat melakukan hal mengerikan tersebut. Ia sama sekali tidak tahu kenapa sang anak sampai berbuat hal seperti itu, karena memang Luhan tidak pernah bercerita kepadanya. Tadi pagi anaknya tersebut masih terlihat baik-baik saja meski Ia tahu jika tidak sebaik biasanya. Namun Ia juga tidak sampai berpikir jika Luhan akan pulang dalam keadaan kacau hingga seperti sekarang ini.

Luhan menggeleng sambil menggigit kuat-kuat bibir bawahnya. "eomma tidak akan mengerti" pekiknya, Luhan menekan dengan kuat pecah kaca tersebut tepat pada pergelangan tangannya.

Taeri memejamkan matanya sejenak. "kalau begitu buat eomma mengerti Luhan, eemmmm" Taeri berjalan dengan perlahan, kemudian saat melihat Luhan lengah wanita paruh baya tersebut langsung menampik tangan Luhan hingga pecahan pecahan kaca tersebut terlepas dari tangan Luhan. Tanpa babibu Taeri langsung membawa tubuh sang anak kedalam pelukannya. Mengucapkan kata-kata halus serta usapa-usapan lembut untuk menenangkan Luhan yang saat ini tengah meraung dan meronta. Disela-sela menenangkan Luhan, Taeri memeriksa luka di pergelangan tangan Luhan. Untungnya luka tersebut hanya berupa sebuah goresan yang tidak akan sampai membahayakan Luhan.

.

.

"Eun Kyun-a tunggu disini ya, jangan kemana-mana haelmoni akan membeli camilan di sana sebentar" tutur Hye Kyo pada Eun Kyun —yang pagi ini merengek mengajak pergi ketaman— sambil menunjuk minimarket yang ada di seberang jalan.

"okey grandma"jawabnya di iringi oleh anggukan kepala yang berulang-ulang.

Hye Kyopun terkekeh dibuatnya, lalu mengusak kepala sang cucu dengan sangat gemas. "ingat jangan kemana-kemana" peringatnya dengan jari telunjuk yang bergerak-gerak.

Lagi-lagi Eun Kyun menjawabnya dengan sebuah anggukan sambil menggoyang-nggoyangkan kakinya yang menggantung akibat Ia duduk di kursi yang sedikit tinggi. Hye Kyopun ikut mengangguk sekilas, lalu merasa Eun Kyun sudah menurut wanita paruh baya tersebut meninggakan Eun Kyun sendiri untuk membeli camilan yang diminta oleh Eun Kyun dari tadi. Ia memang sengaja tidak mengajak Eun Kyun karena anak itu akan meminta makanan yang aneh-aneh saat sudah memasuki rak-rak yang penuh dengan snack. Dan jika sudah seperti itu, dia tidak akan pergi jika belum mendapatkan snack yang dia mau.

Setelah kepergian sang nenek Eun Kyun masih bertahan duduk di bangku taman. Namun hal itu tidak bertahan lama saat mata beningnya tidak sengaja melihat seekor kelinci putih yang lucu sedang berjalan. Merasa gemas Eun Kyun langsung turun dari bangku taman tersebut, lalu mengejar kelinci yang berjalan menjauh dari tempat Eun Kyun duduk tadi. Anak laki-laki itu asyik berjalan, tidak peduli jika Ia semakin menjauh dari tempatnya melupakan sang nenek yang pasti akan bingung mencarinya. Bukan Eun Kyun namanya jika tidak membuat orang khawatir dengan tingkahnya. Sama dengan yang dirasakan Hye Kyo saat ini, saat tidak mendapati sang cucu tidak berada ditempatnya.

Dengan rasa khawatir Hye Kyo langsunng memanggil-manggil nama Eun Kyun, namun tidak ada sahutan sama sekali. Ia juga bertannya pada pngunjung lain, namun kebanyakan dari mereka mengatakan jika tidak tahu. Hye Kyo semakin panik dibuatnya, taman itu sangat luas karena taman tersebut adalah salah satu taman yang berada dijantung kota dipastikan membutuhkan waktu yang lama untuk mencarinya. Mau minta bantuan, Ia baru ingat jika Ia pergi menggunakan taxi praktis tidak ada sopir pribadi yang bisa dimintai bantuan. Menghubungi orang rumah, jelas bukan ide yang tepat mereka pasti akan panik terlebih Baekhyun dan Ibunya sangat menyayangi Eun Kyun sudah pasti mereka akan marah-marah bagaikan singa yang lapar. Dan Hye Kyo tidak mau mendapat amukan duo singa betina tersebut. Hye kyo lebih memilih mencari sendiri dengan bertanya pada pengunjung lainnya, dan Ia berharap jika itu bisa membantu untuk menemukan cucunya yang sangat bandel tersebut.

.

.

Sehun memutuskan untuk meninggalkan rumah sakit. karena percuma Ia tidak akan bisa bekerja dengan benar jika emosi sedang menguasainya. Semua perkataan ayah Kyungsoo dan juga Chanyeol selalu terngiang dibenaknya dan itu sukses mengobrak-abrik sistem kerja otaknya yang tidak mengijinkannya untuk memproses hal lain selain semua kata-kata yang diterima mentah-mentah oleh sang otak. Karena itulah Sehun memutuskan pergi untuk sekedar mencari udara segar agar kinerja otaknya kembali normal.

Laki-laki albino tersebut melintasi jalan kota yang tidak terlalu padat dengan kendaraan yang melintas, karena ini masih jam kerja sudah dipastikan jika kendaraan yang melintas kebanyakan kendaraan umum dan sebagainya. Sehun sedikit memelankan laju kendaraannya saat mobil yang Ia kendarai memasuki kawasan taman kota yang terlihat sedikit ramai dengan anak-anak kecil yang belum mamasuki usia sekolah. Ia tidak menyangka jika dihari biasa taman masih tetap ramai seperti ini. Mata Sehun mengedar untuk mencari spot yang pas sebelum menghentikan mobilnya, dan pada saat itulah matanya tidak sengaja menangkap siluet tubuh mungil yang sedang berdiri sambil mengusap wajahnya menggunakan kedua tangannya. Sehun semakin memperhatikan sosok anak kecil tersebut, karena Ia merasa jika anak kecil tersebut sangat tidak asing baginya. Barulah Sehun tahu jika anak kecil tersebut adalah Eun Kyun saat anak kecil tersebut mendongak dan mengarahkan kepalanya kekiri dan kekanan sambil menangis.

"Eun Kyun..." Sehun bergumam, lalu bergegas melepas sabuk pengamannya, keluar dari mobil lalu dengan tergesa menghampiri Eun Kyun yang saat ini tengah menangis sesunggukan karena ketakutan. Sehun mengedarkan pandangannya untuk mencari seseorang yang mungkin saja bersama Eun Kyun, namun Ia sama sekali tidak menemukan orang yang Ia kenal.
"Eun Kyun-a... kenapa kau ada disini?" tanya Sehun sambil berjalan mendekat.

Eun Kyun mendongak, dan saat mengetahui jika itu adalah Sehun —anak kecil tersebut— langsung berlari dan memeluk Sehun dengan sangat erat. "Daddy..." pekiknya ditengah-tengah tangisnya.

Sehunpun mengelus puncak kepala Eun Kyun, melonggarkan sejenak pelukannya lalu berjongkok untuk menyamai tinggi badan Eun Kyun kemudian membawa kembali tubuh mungil tersebut ke dalam pelukannya. Dengan gerakan cepat Eun Kyun menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Sehun hingga laki-laki albino tersebut dapat merasakan hangat sekaligus basah diceruk lehernya.

"Dad... aku takut" tutur Eun Kyun dengan lirih namun masih dapat didengar dengan jelas oleh Sehun.

Sehunpun mengusap pungung sempit Eun Kyun dengan sangat sayang. "jangan takut lagi... Daddy disini, jadi (Sehun melepas pelukan mereka, tangan kirinya memegang bahu Eun Kyun sedangkan tangan kanannya Ia gunakan untuk mengusap air mata dipipi gembilnya dengan pelan) jagoan Daddy tidak boleh menangis lagi" Senyuman simpul mengiri ucapan yang keluar dari bibirnya.

Eun Kyun sudah tidak menangis lagi namun kedua matanya terlihat sangat merah dan juga pundaknya sesekali masih naik turun dampak dari terlalu lama menangis.

"jadi ceritakan pada Daddy, kenapa Eun Kyun bisa disini sendiri, eemmm" tanyanya

Bibir mungil itupun mulai menceritakan semuanya pada sang Daddy tentang bagaimana dirinya bisa berada ditaman, hingga dia yang berniat untuk mengejar kelinci —yang sangat lucu— yang membuat dia tersesat dan tidak bisa menemukan tempat dimana dia menunggu neneknya yang sedang pergi membeli camilan.

Sehun mencolek hidung banggir Eun Kyun yang terlihat merah dengan gemas. "lain kali Eun Kyun harus mendengarkan apa yang dikatakan oleh grandma, bukankah Daddy sudah pernah bilang untuk tidak membuat orang dewasa khawatir. Jadi Eun Kyun tidak boleh melakukannya lagi. Dan lagi, belum tentu Daddy yang menemukan Eun Kyun, kalau yang menemukan Eun Kyun adalah orang jahat bagaimana? Semua orang pasti akan khawatir dengan Eun Kyu, terlebih Mommy. Mommy pasti akan sangat sedih"

"Eun Kyun tidak mau Mommy sedih lagi Dad..." mata polos Eun Kyu menatap ke arah Sehun. "aku tidak akan mengulanginya lagi" lanjutnya lalu mencium pipi Sehun.

Sehunpun terkekeh. "itu baru jagoan Daddy... cha... sebaiknya kita mencari grandma, pasti saat ini dia sedang mencari Eun Kyun" Ia lalu mengendong Eun Kyun, kemudian berjalan menuju ke tempat yang sudah dikatakan oleh sang anak.

Sehun melirik sekilas ke arah Eun Kyun yang saat ini sedang mengedarkan matanya untuk mencari sang nenek dengan kedua tangan mungil yang melingkar apik dilehernya. Tanpa Ia sadari bibirnya tertarik membentuk lengkungan yang menggambarkan sebuah senyuman simpul. Dalam hatinya Ia bergumam jika dirinya baru menyadari, kalau Eun Kyun sangat mirip dengannya. Wajahnya bahkan seperti coppy paste dirinya saat Ia masih kecil dulu benar-benar sama persis. Namun yang menjadi bedanya adalah, Eun Kyun mudah mengekspresikan wajahnya meski raut tersebut terlihat dingin beda dengannya yang sangat sulit melakukannya, tidak heran jika disaat dulu Ia seusia Eun Kyu banyak sekali anak kecil seumurannya yang enggan sekali berteman dengannya.

.

.

Kyungsoo mengeratkan pakaian hangatnya saat keluar dari rumah sakit dan langsung menuju pada mobil yang terparkir rapi di parkiran samping rumah sakit. hari sudah menjelang malam, oleh karena itulah Ia buru-buru pergi. Namun sebelum pulang kerumah Ia harus mampir terlebih dahulu kerumah Jongin memeriksa keadaan Lyu In seperti yang sudah Ia katakan pada Jongin tadi pagi.

Dan tidak perlu membutuhkan waktu yang lama untuk Kyungsoo sampai dirumah Jongin. Karena wanita itu membawa mobilnya dengan sedikit kencang untuk menghindari jalanan macet yang disebabkan oleh para pengendara lain, karena memang bertepatan dengan jamnya pulang kerja.

"kau sudah datang.."sambut Jongin saat Kyungsoo memasuki rumahnya.

"eemmm" gumamnya, namun Ia sedikit mengeryitkan keningnya saat melihat pakaian Jongin yang sudah rapi menggunakan pakaian kasual yang melekat pas pada tubuh tegapnya. "kau mau pergi?" tanyannya

"ya, Lyu In merengek ingin kerumahmu." Jawabnya.

Kyungsoopun mengangguk mengerti lalu mengikuti Jongin menuju ke kamar Lyu In. Sesampainya di kamar yang bernuansa iron man tersebut Kyungsoo sudah disambut dengan senyum ceria Lyu In yang menyender di tempat tidur. Anak itu tampaknya sudah baik-baik saja dibandingkan kemarin malam.

"Kyung eomma... cepat lepaskan ini ( Lyu In mengangkat sebelah tangannya yang terpasang infus) aku ingin cepat bertemu Eun Kyun" rengeknya.

Kyungsoopun hanya bisa menggelengkan kepalanya, lalu dengan pelan memegang tangan mungil Lyu In. "ck... tidak sabaran sekali" ledek Kyungsoo.

"aku kan kangen dengan anak nakal itu.." jawabnya sambil mempout bibirnya.

Kyungsoo terkekeh, tangannya dengan sangat hati-hati melepas plester yang merekatkan selang infus dan kulit tangan Lyu In. "baiklah... baiklah"

"aaarrrkkkggg Eomma sakiittt" pekik Lyu In saat Kyungsoo mulai menarik plester tersebut.

Tangan Kyungsoo dengan telaten mengelap sekitaran plester menggunakan kapas yang sudah dibasahi untuk memudahkan melepas plester yang merekat. "ck kau ini, katanya ingin cepat-cepat baru begitu saja sudah menjerit" ledeknya.

Hal itu sukses membuat Lyu In memajukan bibirnya kembali. "ini beneran sakit eomma, bagaimana jika kulitku ikut mengelupas?" tanyanya.

"bukannya itu malah bagus" kekeh Kyungsoo.

"aaiisstttt eomma..." rengek Lyu In.

"eomma hanya bercanda, tahanlah, sedikit lagi selesai" ucapnya.

Disisi lain Jongin hanya bisa terkekeh melihat interaksi sang anak dengan Kyungsoo. Ya begitulah mereka, bersikap layaknya anak dan Ibu selalu mendebatkan hal-hal kecil ketika bertemu. Selalu menyampaikan rasa sayang lewat cara yang berbeda. Awalnya Jongin sangat melarang Lyu In untuk memanggil Kyungsoo dengan sebutan Ibu, namun hal itu malah membuat dirinya dimusuhi oleh sang anak hingga beberapa hari. Bahkan Lyu In tidak mau pulang kerumah dan memilih untuk menginap dirumah nenek Kyungsoo sebagai bentuk protesnya. Karena merasa tidak tahan akhirnya Jonginpun menyerah, membiarkan Lyu In memanggil Kyungsoo dengan sebutan Ibu. Tahukah kalian karena insiden sepele itulah Kyungsoo juga ikut marah-marah pada dirinya, karena sejatinya wanita bertubuh mungil tersebut tidak pernah keberatan Lyu In memanggilnya Ibu. Bahkan dia juga berkata jika Kyungsoo sudah mengijinkan Lyu In sebelum Jongin mengetahuinya. So sejak saat itulah Ia tidak pernah melarang Lyu In lagi. Namun sisi baiknya mampu membuat Jongin menjadi sangat berterima kasih kepada Kyungsoo, karena berkat Kyungsoolah Lyu In bisa banyak tersenyum. Anaknya tersebut juga tidak suka murung lagi.

"ayo kita berangkat"

Jonginpun tergagap saat mendengar ucapan Kyungsoo, Ia mengerjapkan sebentar matanya. Ia tidak sadar sejak kapan Kyungsoo berada didepannya. Bahkan Lyu Inpun sudah terlihat rapi dengan baju yang berbeda dari yang beberapa saat lalu anak itu kenakan. Apa selama itu Ia tidak sadar melamun pikirnya.

"baiklah ayo... sepertinya anak kecil ini sudah tidak sabar" tuturnya sambil melihat ke arah sang anak yang sedang menggandeng tangan Kyungsoo.

"appa aku bukan anak kecil..." rajuknya, membuat Kyungsoo dan Jongin terkekeh secara bersamaan.

Mereka bertigapun akhirnya berangkat ke rumah Kyungsoo dengan mobil yang berbeda. Kyungsoo dengan Lyu In satu mobil, sedangkan Jongin mengendarai mobilnya sediri mengikuti mobil Kyungsoo dari arah belakang. Mereka berangkat tepat jam makan malam tiba, namun mereka memutuskan untuk makan malam bersama di kediaman DO, karena tadi ibu Kyungsoo sempat menelphone jika mereka sudah menunggu meski dalam nada suara yang kurang baik. Ingat Kyungsoo dan Ibunya masih dalam mode marahan.

Hanya butuh waktu limabelas menit untuk sampai dirumah Kyungsoo. Dan dengan tidak sabaran Lyu In langsung melepas sabuk pengaman, kemudian lari begitu saja menuju rumah seperti yang dilakukan Eun Kyun kemarin saat berkunjung kerumah Jongin. Kyungsoopun hanya bisa menggelengkan kapalanya melihat tingkah Lyu In yang 11:12 dengan Eun Kyun.

.

.

Sehun sedang bermain dengan Eun Kyun di ruang TV dengan berbagai peralatan mainan yang sedikit berantakan. Namun saat ini yang dilakukan Sehun adalah sedang membacakan cerita, karena Eun Kyun merasa bosan dan memintanya untuk membacakan sebuah cerita. Jangan tanya bagaimana bisa Sehun terdampar di kediaman DO. Sehun berada dikediaman DO berkat Hye Kyo yang membujukknya untuk ikut makan malam dirumah dengan alasan sebagai bentuk terima kasih karena sudah menemukan Eun Kyun. Tentu saja awalnya Sehun menolak, Ia juga menjelaskan jika Ia menemukan Eun Kyun dengan tidak sengaja. Dan apa yang yang dilakukannya adalah sudah kewajibannya sebagai seorang ayah. Disamping itu, sebenarnya Sehun masih belum siap jika harus bertemu lagi dengan Ayah Kyungsoo, Chanyeol dan juga Kyungsoo sendiri setelah apa yang terjadi dirumah sakit pagi tadi.

Namun usahanya gagal saat Eun Kyun tiba-tiba saja menangis memintannya untuk ikut. Bahkan anak itu sempat mengancam tidak mau pulang jika dirinya tidak mau ikut pulang bersama dirinya dan juga neneknya. Maka dengan sangat berat hati, Sehun menyanggupi ajakan Hye Kyo meski Ia tahu itu akan membuat semuanya tidak nyaman.

"Eun Kyuuuuunnnn..." teriakan suara anak kecil membuat Sehun menghentikan ceritannya karena Eun Kyun yang tiba-tiba saja beranjak dari pangkuannya kemudian berlari kerah ruang tamu. Sehunpun hanya bisa menghela nafasnya lalu menutup buku cerita serta merapikan mainan Eun Kyun yang berserakan ketempatnya semula.

"hyuung,,," balas Eun Kyun saat melihat Lyu In berlari ke arahnya, dan tanpa babibu lagi kedua kurcaci tersebut saling berpelukan.

"ck... ck... kalian ini" intruksi Jongin yang baru saja masuk ke dalam rumah dengan Kyungsoo di belakangnya.

Mendengar suara Jongin, Eun Kyun langsung melepaskan pelukannya dari Lyu In yang membuat anak itu menggerutu tidak jelas dengan kedua tangannya terlipat di depan dada. Dan jangan lupakan matanya yang memincing terlihat sangat sebal. (bayangin kayak ekspresinya Taeoh kalau lagi marah :P )

"Jongin appa" pekik Eun Kyun dengan semangat sambil merentangkan kedua tangannya meminta gendong Jongin. Tanpa keberatan, Jonginpun menggendong Eun Kyun membuat anak itu terkikik senang.

"haelmoni..." teriak Lyu In dengan lantang karena merasa diacuhkan oleh Eun Kyun, anak itupun bahkan sudah berkaca-kaca dengan kaki yang menghentak-hentak.

"Eun Kyun ada apa?" tanya Sehun tiba-tiba, Ia kira yang berteriak tadi adalah Eun Kyun. Tapi saat Ia sudah sampai di ruang tamu hal pertama yang Ia lihat adalah seorang anak kecil yang tidak Ia kenal. Lalu saat Ia mendongak, saat itulah tatapan Sehun bertemu dengan tatapan Jongin, begitupun juga dengan Kyungsoo. Mereka bertiga sama-sama terkejut, karena tidak akan menyangka akan bertemu. Jika Kyungsoo, Sehun bisa maklum karena ini adalah rumah kedua orang tua wanita itu. Tapi jika Jongin, seperti sebuah kejutan baginya.

"appa turunkan aku" ucap Eun Kyun memecah keheningan dan kekagetan diantara mereka. Jonginpun lekas menurunkan Eun Kyun.

Kenapa tidak pernah habis kejutan untuknya gumam Sehun dalam hati. Ada perasaan tidak suka saat mendengar Eun Kyun memanggil Jongin dengan panggilan appa. Ia tidak tahu sedekat apa anaknya dengan Jongin, tapi yang pasti dapat dipastikan jika Eun Kyun sangat dekat dengan laki-laki berkulit tan tersebut yang Sehun pikir sekarang menjadi saingannya ketimbang sahabat lama.

"oohh kalian sudah datang, kebetulan makan malam sudah siap. Ayo Sehun..." tidak lama Hye Kyo menghampiri mereka bertiga yang masih saling pandang.

Kyungsoo tidak mengerti kenapa Sehun bisa berada dirumahnya, namun melihat interaksi yang dilakukan Ibunya terhadap Sehun, Ia yakin jika ini semua adalah ulah ibunya tersebut. Memilih tidak menyapa Sehun, Kyungsoo langsung pergi begitu saja, tidak peduli dengan ibunya yang memanggilnya. Sedangkan Jongin sebagai bentuk kesopanan, laki-laki tersebut membungkukkan diri untuk menyapa Ibu Kyungsoo.

"ajhumma... sebaikanya saya pergi saja" tutur Sehun. Bukannya menanggapi ucapan Sehun, Hye Kyo malah menyeret Sehun dan juga Jongin ke ruang makan. Dan lagi-lagi Sehun tibak bisa berbuat apa-apa.

.

.

Suasana ruang makan keluarga DO terlihat begitu ramai dengan celotehan duo kurcaci. Tingkah mereka yang menggemaskan menghadirkan gelak tawa diantara orang dewasa yang melihatnya. Akan tetapi beda yang dirasakan oleh Sehun. Laki-laki itu merasa terabaikan, meski sesekali Hye Kyo bertanya ini itu pada dirinya, nyatanya hal itu tidak mampu membuat Sehun merasa nyaman. Namun malah sebaliknya, Ia merasa terintimidasi oleh tatapan-tatapan yang tidak bersahabat entah itu dari Joong Ki, Chanyeol, Baekhyun, Jongin, dan juga Kyungsoo. Sedangkan nenek Kyungsoo Ia pikir tidak begitu peduli karena wanita yang sudah berumur itu terlihat bersikap biasa saja padanya.

Sehun sangat mengerti jika semua orang bersikap seperti itu padanya. Karena dimata mereka Sehun tidak lebih dari seorang laki-laki brengsek yang tidak tahu diri masih bertahan dalam acara makan malam dengan orang-orang yang begitu membencinya.

"Kyungsoo... apa kau sudah berunding dengan Sehun tentang acara pernikahan kalian?" tanya Hye Kyo setelah selesai meminum air putihnya.

Kyungsoo langsung meletakkan garbu dan sendoknya dengan sedikit kasar. "aku tidak akan berunding dengan Sehun, karena orang yang akan menikah denganku bukanlah dia. Aku akan menikah dengan Jongin, jadi eomma... berhentilah seenaknya membuat rencana" ucap Kyungsoo dalam satu kali tarikan.

Hal itu sontak saja membuat semua orang terkejut, Hye Kyo terlihat begitu terkejut terbukti dengan sendok yang terlepas begitu saja dari tangannya, Wonho yang terbatuk-batuk karena tersedak oleh minumannya, bahkan Sehun hampir saja tersedak oleh makanannya sendiri. Beda dengan Sehun, Jongin terlihat tidak terkejut sama sekali dengan apa yang diucapkan oleh Kyungsoo barusan.

Pasangan Chanbaek hanya berperan sebagai pendengar, namun tidak dipungkiri jika keduanya sangat mendukung keputusan Kyungsoo yang memilih Jongin. Karena menurut mereka Jongin adalah laki-laki yang pas untuk di jadikan suami plus ayah dari Eun Kyun. Jika kalian tanya dimana duo kurcaci berada, mereka berdua sudah menyelesaikan makanannya terlebih dahulu. Dan sekarang mereka berdua tengah bermain di kamar Eun Kyun. Jadi tidak akan masalah jika mereka akan saling adu argumen di meja makan.

Sehun hanya bisa mengeratkan genggamannya pada garbu dan sendok yang saat ini dipenggangnya untuk menahan agar Ia tidak meledak. Sebegitu bencikah Kyungsoo padanya hingga dia lebih memilih Jongin dari pada dirinya yang dulu pernah menjadi kekasihnya. Bahkan statusnya adalah ayah kandung Eun Kyun. Apakah dengan status yang disandangnya tidak bisa membuat Kyungsoo membuka pintu hatinya kembali? Kau benar-benar sampah diamatanya Sehun, berhentilah untuk berharap lebih jauh. Karena sainganmu adalah orang yang sudah pasti bisa membahagiakan Kyungsoo dan tidak akan menyakitinya. Tidak seperti dirimu yang hanya bisa menyakitinya dan membuatnya sengsara. Dalam hati, Sehun memaki dirinya sendiri. Sekarang semua sudah berakhir untuknya, tidak akan ada lagi kesempatan untuk membuat Kyungsoo kembali padanya. Karena tempat yang seharusnya ditempatinya sudah ditempati oleh orang lain.

.

.

.

T. B. C

Waaahhhh aku tuh terhura baca review kalian semua. Gak nyangka aja kalian bisa suka sama FF ini... terimaksih... terimakasih kalian luar biasa. XOXO dah buat kalian semua, sebagai hadiahnya kalian akan mendapatkan ppoppo dari Sehun saat tengah malam tiba kekekeke :P.

Semoga chapter selanjutnya lebih bagus lagi. Kalian pasti ngira autor pesimis banget tentang FF ini. Tapi emang nyatanya kayak gitu, setiap ngetik and ngedit aku tuh gak dapet feelnya (padahal yang nulis) oleh karena itu aku sering ngerasa kalau FF ini aneh and gak bagus bahkan sering ragu antara di update atau gak. Jadi kalau aku nulis kayak gitu mohon dimaklumi. Tapi setelah baca review dari kalian semua, aku baru tahu kalau apa yang menurut kita jelek betum tentu menurut orang lain jelek. Dan lebih gak menyangkanya lagi ada yang bilang jika FF ini mampu ngebuat yang baca seperti masuk dalam cerita, okey mungkin gak semuannya bisa seperti itu. Tapi jujur ane terhura bangeeetttt (lebay dikit gak pa-pa kan?)

So buat kalian semua Jangan lupa selalu berikan kritik dan saran karena itu sangat berguna banget. Kalau jelek bilang jelek, kalau bagus bilang bagus (mengharap) ^_^

See you next chap chu~~