Senju Hinata. Seorang anak bungsu di keluarga Senju. Bukan anak kandung, dia dan ke empat kakak laki-lakinya adalah anak angkat di keluarga itu. Bencana besar yang terjadi saat usianya masih lima tahun telah merenggut keluarganya. Hanya dia dan kakak sepupunya yang selamat.
Tapi hilangnya keluarga kandung, membuatnya bertemu dengan orang-orang lain yang menjadi keluarga barunya. Kakak, Ayah, Ibu. Dia punya semuanya, semua yang disebut sebagai keluarga.
Hinata menyayangi kakak dan orang tuanya layaknya keluarga kandung. Dan Hinata tidak tahu jika keempat kakak laki-lakinya menaruh perasaan padanya. Hingga dia bertemu Naruto. Pemuda berandalan yang menjadi murid baru di kelasnya. Pemuda itu adalah teman laki-laki yang paling dekat dengannya dalam setahun terakhir.
Hingga suatu hari Naruto menembaknya, dan mereka berusaha bersama untuk meminta restu dari ke empat kakak Hinata yang super protective. Tidak mudah, tapi usaha Naruto membuahkan hasil. Hubungan mereka di restui. Mereka diizinkan menghabiskan waktu bersama walau dengan pengawasan dan gangguan dari kakak-kakak lainnya. Tak dapat di pungkiri. Perasaan para kakaknya yang sudah dirasakan selama bertahun-tahun, tidak mungkin hilang begitu saja.
Di tengah situasi itu. Kedua orang tuanya yang baru pulang ternyata mengajak orang lain yang mereka sebut keluarga dari sang Ibu. Tapi kenyataan yang ada di hadapan kelima saudara itu membuat mereka sedikit curiga akan satu hal. Terutama Hinata.
"Oh ya," Hashirama kembali bersuara, "Mereka adalah orang yang Ayah bicarakan waktu itu. Ini sepupu Ibu kalian, Bibi Kushina," pria paruh baya itu menunjuk wanita berambut merah panjang yang masih sangat cantik. "Dan itu suaminya, Paman Minato." Hashirama menunjuk pria berambut kuning.
"Hai.." Kushina berseru ramah, "Salam kenal dattebane!"
Kelima saudara itu terdiam seketika karena merasa kedua orang itu sangat mirip dengan seseorang yang mereka kenal. Rambut pirang, wajah bulat, ceroboh, senyum lebar, mata safir, dan… 'dattebane?'
"Naruto-kun."
Love Ver 5 by Rameen
Naruto by Masashi Kisimoto
Uzumaki Naruto x Hyuuga Hinata
Romance dan Drama
Note : Ooc / Au / NaruHina fic / Maintream / Typo / Read Enjoy
Semua mata itu tertuju pada Hinata yang menggumamkan sebuah nama. Tak hayal terdapat sedikit gurat penasaran dari tatapan Minato dan Kushina atas gumaman Hinata yang dapat terdengar oleh yang lain.
"Kau mengatakan sesuatu, Hinata?" sang Ibu bertanya, sukses membuat Hinata tersentak dan melihat yang lain. Dia menggeleng pelan, mencoba mengenyahkan rasa herannya. Sementara ke empat kakaknya hanya saling melirik karena mungkin merasakan kecurigaan yang sama dengan Hinata. Tapi mereka lebih bisa menahan diri untuk tidak mengatakan apapun.
"Sudahlah," Neji menengahi "Ayah, Ibu, Paman dan Bibi pasti lelah. Lebih baik masuk dan istirahat. Aku akan membuatkan kalian minum."
"Eeee,, mana boleh begitu?" Hinata protes atas perkataan Neji yang membuat orang-orang bingung, apa yang salah dari perkataan Neji? "Bukan Neji-nii, tapi aku yang akan membuatkan minum dan camilan untuk Ayah, Ibu, Paman dan Bibi yang baru datang. Kan itu tugasku."
Yang lain tersenyum mendengar protes Hinata tentang tugas gadis itu yang ingin di ambil alih oleh Neji. Memang, dulu Hinata yang selalu menyiapkan minum atau camilan untuk kedua orang tuanya. Dia sangat hapal tentang kesukaan dan takaran dari minuman atau apapun yang disukai kedua orang tuanya. Walau sudah setahun berlalu, ternyata gadis itu masih mengingat kebiasaan lama.
"Baiklah, aku akan membantu saja kalau begitu." Neji mengalah dengan tersenyum.
. . .
"Hinata-chan?"
Gadis Senju itu menoleh saat sang kekasih memanggilnya. Sedikit heran karena yang dia ingat kekasihnya itu sedang pergi ke toilet tadi. "Naruto-kun, kapan kau masuk kelas lagi?"
"Ya ampun Hinata, kau benar-benar melamun ya? Apa kau sadar kalau bel istirahat bahkan sudah berbunyi?"
"Benarkah?" Hinata melihat ke sekelilingnya yang mulai terlihat sepi karena sebagian penghuninya sudah pergi. Dia menghela nafas menyesal karena melamun saat jam pelajaran masih berlangsung tadi, sampai tidak sadar kalau jam pelajaran sudah selesai bahkan bel sudah berbunyi.
"Kau memikirkan apa? Bukankah kau bilang kedua orang tuamu sudah pulang? Bukankah itu berarti masalah keluargamu sudah selesai? Lalu apa yang masih kau pikirkan sampai melamun begitu?"
Hinata terdiam mendengar pertanyaan beruntun Naruto yang sebenarnya masih memiliki satu makna, apa yang sedang Hinata pikirkan? Gadis itu juga sebenarnya bingung apa yang dia pikirkan. Yang jelas dia merasa penarasan akan sesuatu yang sejak kemarin cukup mengganggunya.
"Naruto-kun, boleh aku bertanya sesuatu?"
Pemuda pirang itu mengangguk cepat dan menyanggah kepalanya dengan sebelah telapak tangannya. "Maaf sebelumnya, tapi…" Naruto mengernyit bingung saat Hinata terlihat ragu untuk bicara, memang apa sih yang ingin ditanyakan kekasih cantiknya itu? "Bukankah kau,, tinggal dengan Ayah ang-katmu?"
Naruto terdiam dan menatap Hinata intens, cukup membuat gadis itu salah tingkah. Dalam hati dia berdoa agar tidak salah bicara, dia sudah berusaha untuk berbicara selembut mungkin. Bagaimanapun, seseorang pasti akan merasakan sesuatu jika hal tentang keluarganya dipertanyakan.
"Iya." Jawab Naruto singkat.
"Anoo.." menelan ludah, gadis itu memilih untuk melanjutkan karena berpikir kalau Naruto tidak keberatan dengan topic pembicaraan mereka, "Ke-kemana orang tua kandungmu, maksudku… ehm.. itu.."
"Entahlah," lagi-lagi Naruto menjawab singkat, membuat Hinata menatapnya bingung. "Aku tidak tahu, Hinata. Yang aku ingat, terakhir kali kami bertemu, aku masih bermain bersama Ayah dan aku masih tidur siang dengan Ibu di sisiku. Tapi saat aku membuka mata, aku sudah berada dalam gendongan pengasuhku yang sedang berlari di tengah kekacauan."
"Kekacauan?"
"Gempa. 13 tahun lalu."
Mata amethyst Hinata sedikit melebar mendengar hal itu. Dia tidak menyangka jika Naruto juga korban dari bencana alam itu seperti dirinya dan kakak-kakaknya. Gadis itu jadi sedikit sedih karena berpikir mungkin selama ini Naruto melewatinya seorang diri, kehadiran sang Ayah angkat jelas berbeda. Dia merasa masih sedikit bersyukur karena dia bisa mengenal dan tinggal dengan orang-orang yang mengalami nasib yang sama sehingga rasa sakit itu tidak terlalu terasa. Walau dia yakin, di usianya dulu, dia tidak terlalu mengerti tentang apa yang terjadi.
"Aku tidak pernah menyangka, bahkan pengasuhku tertimpa balok kayu besar karena melidungi aku, dan saat barang-barang lain berjatuhan, aku merasa ada orang lain yang menggendongku menjauh. Setelah itu, aku hanya ingat kalau aku berlari tanpa tujuan, aku hanya bisa menangis sampai aku lelah dan terduduk di suatu tempat.
"Seseorang menemukanku. Aku sempat tinggal tiga tahun dengan orang itu." Naruto melanjutkan. "Sejak kejadian itu aku tidak pernah lagi bertemu dengan orang tuaku. Tapi setelah tiga tahun, orang yang merawatku itu meninggal karena sakit sehingga aku hanya tingal berdua dengan Ayah."
Hinata meraih tangan kekasihnya dan tersenyum. "Yang paling penting, kita masih bisa selamat dari gempa itu."
Kening Naruto berkerut bingung, kata 'kita' dalam kalimat Hinata membuatnya berpikir sesuatu. "Kita?" ulangnya meyakinkan.
Hinata mengangguk pelan, "Aku juga korban dari gempa itu," Naruto terdiam tak percaya, "13 tahun lalu, aku juga tinggal di Iwa."
Menghela nafas, pemuda itu membalas genggaman tangan sang kekasih. "Tapi setidaknya kau masih bisa berkumpul dengan keluargamu bahkan sampai sekarang."
Hinata menggeleng, "Mereka… bukan keluarga kandungku, Naruto-kun."
Hening.
Suasana kelas yang sudah sangat sepi dengan hanya diisi oleh kehadiran mereka berdua bertambah hening karena mereka berdua kini terdiam. "Bukan… keluarga kandung?" Hinata tersenyum dan mengangguk. Ini pertama kalinya dia bercerita tentang hal itu kepada orang lain.
Sejak menjadi Senju, dia benar-benar merasa memiliki keluarga baru. Ayah dan Ibunya selalu bilang kalau tidak ada kakak, adik, dan orang tua angkat. Mereka satu keluarga dan akan tetap menjadi satu keluarga. Dari itu, tidak pernah ada yang menceritakan hal itu kepada orang lain. Tapi kali ini, Hinata berpikir tidak ada salahnya jika dia ingin berbagi cerita kepada kekasihnya.
. . .
"Jadi ini adalah pabrik pupuk tanaman yang kau beli bulan lalu?" Hashirama dan Minato berjalan berdua, menyusuri pabrik yang baru di beli Minato untuk membantu usaha barunya yang ada di Jepang.
"Benar, pabrik ini menghasilkan produk yang bagus dan semua pekerjanya adalah orang-orang terbaik yang bisa bekerja dengan baik. Aku pikir, akan lebih bagus jika menciptakan peluang yang lebih besar dengan menggabungkan produk pabrik ini dengan usaha baru Namikaze Group di Jepang."
Hashirama mengangguk mengerti. Dia mengakui sistem bisnis adik iparnya itu. Bagaimanapun, kebangkrutan keluarga dan perusahaannya yang sekarang sudah membaik adalah atas bantuan Minato dan Namikaze Group yang memberikan investasi dan juga sponsor dalam jumlah besar sehingga bisa kembali membangkitkan nilai saham dan jual produk yang di hasilkan Senju Corp.
"Hm," Hashirama menoleh saat Minato terdengar bergumam aneh dengan mata tertuju pada satu orang yang cukup dekat dari mereka. "Iruka-san.." ucapnya memanggil nama orang yang terasa familiar di ingatan Hashirama.
Orang yang di panggil mendekat dan sedikit membungkuk memberi hormat, "Selamat siang Namekaze-san." Iruka menyapa ramah, dan saat matanya beralih pada Hashirama, dia tersentak dan cukup terkejut.
"Ha-Hashirama-san?"
"Kau Iruka?" Hashirama juga bertanya, ternyata benar dugaannya jika orang itu adalah Iruka yang sama dengan Iruka yang pernah dia kenal dulu. "Benar! Sudah sangat lama kita tidak bertemu." Hashirama mengulurkan tangan untuk bersalaman yang langsung dengan cepat di sambut Iruka. "Apa kabarmu Iruka?"
"Saya baik Hashirama-san. Bagaimana kabar anda sendiri, dan juga… anak-anak?" suaranya cukup lirih di bagian akhir. Membuat Hashirama menghela nafas mengerti akan perasaan Iruka. Sedangkan Minato hanya diam melihat interaksi antara bawahannya dan kakak iparnya.
. . .
Sebuah restaurant bergaya modern yang sudah tampak biasa di lingkungan itu. restaurant yang menyajikan masakan tradisional maupun manca negera yang menggugah selera. Di setiap meja pasti akan terhidang masakan lezat yang di pesan oleh pelanggan yang berkunjung.
Begitu pula dengan makanan yang tersaji lezat di atas meja yang di duduki oleh ketiga pria yang berada pada usia 40-an. Tapi itu beberapa menit yang lalu. Kini terlihat jika piring-piring yang berisi makanan itu telah kosong dan mulai di bereskan oleh sang pelayan restaurant.
"Bawakan kami kopi dan camilan ringan."
"Baik Tuan."
Sang pelayan wanita berusia 20-an menjawab ramah atas permintaan seorang laki-laki yang duduk di sana. Dan tak berapa lama, makanan ringan lain tersaji sebagai penutup dan sebagai teman mereka yang terlihat masih ingin melanjutkan pembicaraan.
"Jadi Itachi sudah menjadi dokter?" pertanyaan Iruka mendapat anggukan dari Hashirama.
"Setahun yang lalu, kami sempat mengalami masa sulit karena kebangkrutan. Aku dan Mito pergi ke Kumo untuk mencari jalan dan bantuan. Selama itu, aku meninggalkan mereka dengan hanya akan menghubungi mereka lewat telpon jika ada waktu luang. Aku cukup terkejut saat mendengar setiap cerita yang mereka alami tanpa aku dan Mito.
"Itachi semakin menambah waktu kerjanya. Neji yang semula ingin membuka usaha di bidang restaurant malah menjadi model dan host club terkenal. Sedikit rasa menyesal aku rasakan karena harus membuat mereka bekerja keras dan melupakan impian mereka. Tapi aku masih lega karena mereka tidak pernah meninggalkan satu sama lain. Bahkan Itachi dan Neji melakukan itu demi ketiga adiknya yang lain."
Iruka tersenyum setelah mendengar cerita panjang Hashirama tentang anak-anak yang pernah ia rawat dulu. Dia berpikir adlah suatu keberuntungan karena kelima anaknya bertemu dan tinggal dengan Hashirama. Dia tidak yakin Itachi akan menjadi dokter jika tinggal bersamanya. Iruka juga tidak yakin bisa menyekolahkan ke empat lainnya bahkan sampai S2.
Dan itu semua sudah cukup untuk membuat hatinya lebih tenang.
"Bagaimana denganmu Iruka?" Hashirama kembali bersuara, sementara Minato dari tadi hanya diam mendengar. Memberikan waktu kepada dua orang di depannya untuk membicarakan apapun dengan santai dan tanpa gangguan. "Aku dengar kau pindah sehari setelah aku membawa anak-anak. Padahal Hinata dan Gaara masih sering bertanya tentangmu bahkan sampai sebulan mereka tinggal bersamaku."
Iruka menarik nafas sebelum kembali membuka mulutnya. "Tiga hari setelah itu, adik sepupuku menelpon dan memintaku untuk tinggal dengannya di Iwa. Dia sedang sakit dan ternyata sedang merawat seorang anak. Saat aku tinggal bersama mereka, adik sepupuku hanya bisa bertahan setahun karena penyakitnya. Membuatku harus tinggal berdua dengan anak yang di asuhnya."
Iruka melirik Minato, ragu untuk menyebutkan nama Naruto. Sejak pertama bertemu dengan Minato, Iruka merasa banyak kemiripan antara Minato dan Naruto. Dia berspekulasi bahwa mungkin Naruto adalah anak Minato. Kemungkinan selalu ada, itu yang Iruka percayai.
Tapi entah kenapa, dia sedikit tak rela jika hal itu memang benar. Dia… takut jika anak yang dirawatnya akan di ambil lagi darinya.
"Anak itu," dia memutuskan untuk tidak menyebutkan nama Naruto sampai jika waktunya tepat untuk mengetahui semuanya. "Di temukan adikku sebagai anak yang juga menjadi korban gempa. Dan sampai sekarang, aku tinggal bersamanya. Itu cukup, mendengarnya memanggilku Ayah dalam waktu yang lama dan selalu bersedia membantuku. Aku merasa sangat senang."
Hashirama menghela nafas, "Maaf, aku sudah merebut anak-anakmu dulu."
"Tidak," Iruka menggeleng cepat dengan tersenyum, "Aku senang mereka tinggal bersamamu dan bisa hidup dengan lebih baik."
"Hidup dengan orang baik sepertimu," kali ini Minato bersuara, "Juga sepertinya adalah hal yang baik Iruka-san."
Iruka hanya tersenyum mendengar pujian Minato. "Mendengar pembicaraan kalian, aku merasa buruk menjadi orang tua."
"Minato, kau… mempunyai anak?" Hashirama cukup terkejut akan fakta itu, memang belum dua bulan mereka mengenal dan dia belum tahu banyak tentang Minato. Yang pria Senju itu tahu jika sepupu istrinya, Kushina menikah dengan Minato yang merupakan orang Russia dan hidup mereka terlihat sukses dan bahagia dengan sifat ramah Minato dan sifat ceria Kushina.
Minato meneguk kopinya sejenak sebelum memandang kakak iparnya. "Aku dan Kushina punya seorang putra." Mulainya bercerita, "Kalau gempa itu membuat kalian menemukan beberapa anak-anak untuk kalian angkat. Gempa itu justru membuatku kehilangan anakku satu-satunya."
"Astaga!" Hashirama dan Iruka bergumam bersamaan.
"Dia… meninggal?" ragu, Hashirama bertanya. Dalam hati, Iruka sedikit penasaran akan hal itu. Jika anak Minato itu masih hidup, mungkin benar itu adalah Naruto.
Pria pirang itu menggeleng, "Aku dan Kushina percaya dia masih hidup!" raut heran muncul di wajah Hashirama, sementara raut datar muncul di wajah Iruka. "Kami tidak pernah menemukan mayatnya. Setelah gempa, aku dan Kushina terpaksa tinggal di Russia karena semua yang ada di Jepang hancur.
"Selama kami tinggal di sana, kami menugaskan seseorang untuk mencari tentang anak kami. Aku juga mencari informasi tentang anak kami dari jauh. Tapi bahkan sampai sekarang, kami tidak menemukan apa-apa. Aku sempat putus asa, tapi Kushina tetap percaya jika anak kami masih hidup dan tinggal di suatu tempat. Dia yakin jika suatu hari nanti, kami semua akan bertemu lagi dan berkumpul bersama lagi."
Mereka bertiga terdiam setelah itu. Sibuk dengan perasan dan pemikiran mereka sendiri-sendiri. Sampai Minato berkata dia harus izin karena akan ada rapat.
"Baiklah, kurasa aku juga harus kembali ke kantor." Hashirama menambahkan, sementara Iruka hanya mengangguk. Sebagi bawahan, tidak mungkin jika dia yang pamit lebih dulu, makanya dia hanya bisa menurut saja. "Oh ya.."
Iruka dan Minato menatap Hashirama yang sepertinya masih ingin mengatakan sesuatu. "Besok malam, datanglah ke rumahku dan kita makan malam bersama."
Iruka terkejut akan hal itu. Tentu saja, dulu dia memang sering di undang makan bersama oleh Hashirama. Tapi setelah lama tidak bertemu, ditambah lagi hubungan mereka yang hanyalah atasan dan bawahan membuatnya sedikit sungkan akan hal itu. Tapi jelas bukan hal yang baik jika menolak ajakan atasan bukan. Apalagi dulu Iruka sudah menganggap Hashirama seperti kakak sendiri.
"Itu…"
"Ayolah, Mito juga sudah lama tidak bertemu denganmu. Di samping itu, anak-anak akan sangat senang jika bertemu lagi dengan Ayah mereka."
Hati Iruka menghangat seketika mendengar perkataan Hashirama, dia memang sudah sangat merindukan anak-anaknya itu. Anaka-anak yang pernah dia rawat selama dua tahun, seperti apa mereka sekarang? Iruka sungguh penasaran.
"Baiklah. Saya akan datang."
Hashirama dan Minato tersenyum. "Sekalian ajak saja anakmu. Kita bisa saling mengenal satu sama lain."
Sebenarnya Iruka jadi sedikit ragu, dia jelas tahu kalau Minato tinggal di kediaman Senju. Itu berarti, mereka akan melihat Naruto. Dan dia mempunyai sedikit ketakutan akan hal itu. Tapi… Iruka kembali mengingat hidup Naruto yang selalu susah selama ini, dia tidak ingin egois dan menghancurkan masa depan Naruto.
Dari itu dia mengangguk, "Baiklah, saya akan mengajak anak saya." Ucapnya setuju.
. . .
Semilir angin berhembus ringan, menerbangkan rambut berwarna kuning dan indigo itu. Cuaca yang cerah tapi tidak panas, membuat mereka semakin nyaman duduk berdua di pinggir danau. Danau yang pernah Naruto tunjukkan ke Hinata pagi itu. Disanalah mereka berada sekarang.
Dalam hati, Naruto tersenyum puas saat berhasil membawa kabur Hinata dari pengawasan Gaara yang menjemputnya. Benar, tadi sepulang sekolah. Pengawal berambut merah itu sudah bersandar pada motornya yang terparkir di depan gerbang. Naruto melihatnya, tapi tidak dengan Hinata. Sesegera mungkin dia menarik Hinata keluar melewati jalur lain. Jalur yang biasa ia gunakan untuk bolos.
Awalnya Hinata bingung, dan saat mereka sudah berhasil pergi cukup jauh, Naruto mengatakan tentang kehadiran Gaara. Sukses membuatnya menerima beberapa pukulan dari Hinata di bahunya. Tidak sakit, tapi setidaknya Naruto tahu kalau pacarnya cukup mengerikan kalau marah.
Setelah sepuluh menit membujuk dan meminta maaf, akhirnya Hinata meminta di belikan es krim sebagai syarat. Setelah itu, barulah mereka bersama pergi ke danau itu untuk sekedar bersantai. Pemuda pirang itu bisa menebak seberapa kesal pria dengan tato 'Ai' itu ketika Hinata menelponnya dan bilang kalau mereka sudah pergi jauh dari sekolah.
Haha.. itu balasan karena kemarin sudah menghancurkan kencannya bersama sang kekasih.
Pemuda itu menoleh dan tersenyum kala mendapati kekasihnya yang tersenyum dengan mata terpejam sedang bersandar di bahunya. Kadang ia menyingkirkan rambut indigo yang tertiup angin agar tak menghalanginya untuk memandang wajah ayu di sampingnya.
"Jangan tidur!" ucapnya pelan, "Aku akan mati jika pengawalmu melihatku menggendongmu pulang. Sekarang saja aku sudah yakin mereka sedang mempersiapkan senjata karena aku menculikmu."
Hinata terkikik dengan mata yang masih terpejam, perdebatan antara kekasih dan kakaknya entah kenapa tampak lucu di matanya. Naruto yang selalu ingin dekat dengan Hinata sementara kakaknya selalu menggagalkan usaha pemuda pirang itu. Hinata menyadari semuanya dan dia senang karena hal itu. Setidaknya, kakaknya tidak lagi memukuli dan mengusir Naruto seperti saat pertama.
"Tenang saja," ucap gadis itu, "Jika kau mati, aku akan mengirim bunga ke pemakamanmu."
Gaya bercanda Hinata memang seperti itu, tapi bercandanya kali ini sukses membuat bibir Naruto maju. "Hinata-chaaannn…" rengeknya yang semakin membuat Hinata tertawa, "Kau tega sekali ttebayo!"
"Hihihi…" gadis itu mengangkat kepalanya dan menatap kekasihnya dengan jahil, "Naruto-kun, kau lucu sekali."
"Aku tidak lucu, aku tampan. Kau sendiri yang bilang begitu."
"Iya iya, kau lucu dan tampan."
Wajah Naruto semakin di tekuk saat tertawa Hinata tidak juga berhenti, "Hinata-chan, kenapa tertawa? Apa kau memang senang kalau aku mati? Dan apa benar kau akan mengirimkan bunga ke pemakamanku? Kau tidak sedih?"
Tawa Hinata mereda dan dia tersenyum manis. Menggerakkan tangannya untuk memeluk lengan Naruto lalu kembali menyandarkan kepalanya. "Tidak mungkin aku ingin kau mati kan?"
"Kenapa?"
Pandangan mereka bertemu, "Aku sayang padamu, Naruto-kun."
Pemuda berkulit tan itu tersenyum manis, "Aku juga sayang padamu, Hinata-chan."
"Aku tahu."
Mereka kembali terdiam dan menikmati suasana. Cukup lama sampai Naruto bersuara… "Hinata-chan."
"Hm?"
"Boleh aku menciummu?"
Pertanyaan itu sukses membuat Hinata menegakkan kepalanya dan melepas tangan Naruto seketika. Tentu saja kaget kan jika di tanya seperti itu? apalagi mereka memang belum pernah melakukannya. Kemarin, saat Naruto mencium pipinya tiba-tiba saja, Hinata merasa selalu berdebar bahkan sampai malam.
"Hmm,," Naruto salah tingkah, sebenarnya dia tidak pernah dekat atau pacaran dengan perempuan lain sebelumnya, apalagi mau mencium. Dia hanya ingin dan bingung bagaimana cara melakukannya, dia tidak ingin Hinata marah, maka dari itu dengan sopannya dia meminta izin. Heyy,, jaman sekarang siapa yang masih mengandalkan izin untuk mencium?
"Maaf, aku—"
"Hu-um."
"Eh?" Naruto kaget karena Hinata memotong perkataannya dengan gumaman setuju, pemuda itu merasa wajahnya juga memerah seperti Hinata saat gadis itu mengangguk malu-malu. "Be-benark-kah?"
Lagi, Hinata mengangguk malu-malu dengan wajah yang sudah merah padam. Hidup dengan di kelilingi kakak-kakaknya yang kadang dingin dan ceria, menjadikan dia gadis yang ceria dan juga kadang pemalu. Jadi saat merasa kalau Naruto juga sama pemalunya dengan dia, entah bagaimana dia merasa sedikit berani.
"Hehe,, te-terima kasih.." pemuda itu gugup setengah hidup sebenarnya. Tapi dia menarik nafas dan mulai mendekat. Dilihatnya Hinata yang sudah memejamkan matanya.
20cm… 10cm… 5cm… 3cm… dan…
Sreet,, dia menarik lagi tubuhnya ke belakang. Membuat Hinata yang sudah lama menunggu membuka matanya. "He he he.." Naruto tertawa hambar, "Itu.. ra-rasanya an-aneh ka-kalau kau sudah menutup mata seper-ti tadi.."
Ya benar! Ciuman pertama biasanya terjadi tanpa mereka sadari, tiba-tiba wajah mendekat dan bibir bertemu. Biasanya sih begitu. Nah, ketika Naruto harus mendekat dengan perlahan menatap wajah Hinata yang… ugh,, semakin membuatnya malu dan salah tingkah. Bagaimana bisa berhasil?
"O-oh.." ucap Hinata terbata. Gadis itu juga tak kalah malu dan salah tingkah, dia menundukkan kepala dan serasa ingin menyeburkan diri ke danau. Bagaimana bisa dia mengijinkan hal seperti itu dengan mudah dan lebih dulu memejamkan mata? Seolah dirinya memang benar-benar berharap.
Dan suasanapun menjadi canggung, benar-benar canggung. Selama lebih dari lima belas menit mereka hanya diam tanpa berani menatap. Sampai Hinata kembali bersuara.. "Su-sudah sore.. a-aku mau pulang."
Deg..
Disanalah Naruto merasa jadi pengecut. Dia mengira kalau Hinata kecewa dan marah… padahal gadis itu hanya terlampau malu dan takut pingsan kalau harus berdua dalam suasana canggung lebih lama.
Hinata meraih tasnya dan beranjak berdiri, sebelum Naruto dengan cepat meraih dan menarik tangannya hingga gadis itu kembali terduduk dan tanpa di sadari,, pemuda itu langsung mempertemukan bibir mereka.
Tiga detik kemudian, mereka saling menatap dengan keterkejutan yang sama. Hinata yang tidak menyangka dan Naruto yang hanya bergerak refleks. Tapi mereka tidak berniat untuk menarik diri dan masih terdiam dengan bibir yang saling menempel.
Pelan tapi pasti Naruto mulai mengecup bibir lembut Hinata, membuat gadis itu memejamkan matanya. Mengikuti Hinata, pemuda itu juga memejamkan matanya dan semakin melumat pelan bibir sang kekasih.
. . .
Hinata tersenyum saat bermain dengan ponselnya, melupakan pisau dan bawang yang masih berserak di depannya. Membuat Mito mengernyit melihat kelakukan putrinya yang tidak biasa. Setidaknya setahun yang lalu tidak begitu. Tapi selanjutnya dia tersenyum saat mengingat cerita Neji tentang pemuda yang Hinata bawa ke rumah.
Memang, kalau masalah hal-hal yag terjadi di rumah, Neji yang lebih suka bercerita tentang apapun. Bukan berarti Neji suka bergosip, tapi pria itu hanya merasa nyaman bisa berbagi cerita dengan sosok Ibu yang sudah tidak dia miliki sejak lahir.
"Ne ne ne,, apa itu pacarmu?" Hinata tersentak dengan pertanyaan Mito, dia segera menyimpan ponselnya dalam saku dan tersenyum malu. "Ayolah Hinata, cerita dong sama Ibu."
"Ibu,, it-itu… hm.." Mito semakin tersenyum melihat Hinata yang salah tingkah karena malu. Dia juga ingat bagaimana kemarin sore Hinata pulang dengan wajah cemberut lantaran Sasuke dan Gaara sudah membawa tongkat bisbol di depan pagar sehingga membuat pemuda yang mengantar Hinata pulang, langsung lari ketakutan.
Sementara malamnya, Neji mengatakan kalau Hinata sudah punya pacar dan dengan berani membawanya ke rumah. Mito tersenyum saat melihat Neji dengan enggan mengatakan kalau pilihan Hinata memang bisa di andalkan. Wanita paruh baya itu yakin kalau ke empat putranya sudah merestui hubungan sang adik walau masih tidak sepenuhnya ikhlas.
"Jadi… siapa namanya?"
Hinata tersentak saat pertanyaan itu muncul dari Ibunya. Pikirannya kembali pada hal yang membuatnya penasaran dari beberapa hari yang lalu. Marga. Benar, kekasihnya mempunyai marga yang sama dengan Ibunya. Dan dia belum tahu apa-apa tentang itu.
"Namanya Nar—"
"Onee-chan, lihat aku bawa apa."
Hinata dan Mito menoleh saat Kushina datang dan berkata ceria tentang hal yang dia bawa. Terlihat di tangan wanita itu, sekantong kepiting besar yang terlihat masih segar. "Aku tadi mampir di pasar dan membeli ini. Kita masak untuk makan malam ya, bukankah malam ini ada tamu."
Mito tersenyum dan mengangguk melihat sifat ceria sepupunya yang masih sama seperti dulu. Padahal mereka sudah sangat lama tidak bertemu dan mereka juga sudah sama-sama dewasa, tapi sikap ceria Kushina yang sedikit kekanakan ternyata tidak berubah.
"Baiklah, bawa ke sini dan kita langsung memasaknya." Jawab Mito dengan santai.
Kushina mendekat dan mengeluarkan kepiting yang dia bawa ke dalam sebuah wadah. Dari balik meja lain, Hinata hanya memperhatikan Ibu dan Bibinya dengan tersenyum. Dia berpikir mungkin akan menyenangkan jika ada saudara perempuan. Hah, dia hanya menghela nafas saat mengingat kalau yang dia punya hanyalah empat kakak laki-laki yang super over protective. Haruskah Hinata menambahkan gelarnya menjadi 'super duper over protective merangkap posessif'?
Hinata tersenyum memikirkan hal itu, membuat Kushina mengernyit bingung. "Kenapa kau tersenyum begitu, Hina-chan?"
Gadis Senju itu tersentak, "Ti-tidak kok,, hehe…"
"Dia sedang jatuh cinta, Kushina.." sela Mito menggoda.
"Ibu!" Hinata memajukan bibirnya karena malu.
"Wah, anak remaja sekarang cepat sekali mengenal tentang pacaran ya. Padahal aku ingat sekali kalau dulu, aku mulai pacaran saat duduk di bangku kuliah semester empat."
"Benar, dan kau hanya pacaran tiga minggu saat itu, ne?" Kushina tertawa karena perkataan kakak sepupunya, masa-masa mudanya dulu memang menyenangkan.
"Lalu?" Kushina beralih ke Hinata, "Siapa nama pacarmu? Dan kapan kau akan membawanya ke rumah?"
"Sebenarnya Hinata sudah pernah membawanya ke rumah, tapi berakhir dengan di hajar oleh Sasuke dan Gaara."
"Ya ampun!" Kushina berseru kaget, begitupun dengan Hinata.
"Da-darimana Ibu tahu tentang itu?" tanya gadis berambut indigo itu. dia tidak pernah cerita sebelumnya.
"Oh, kau tidak tahu? Neji adalah mata-mata terbaik Ibu." Mito berkedip jahil melihat tampak cengok Hinata. Bahkan gadis itu tidak menyangka kalau kakaknya itu akan menjadi mata-mata. Lavendernya menyipit, curiga jika sang Ibu memaksa Neji untuk jadi mata-mata pengintai.
"Oh, ternyata susah juga ya kalau punya kakak yang sister complex." Kushina terkikik akan omongannya.
"Ya, begitulah." Mito setuju, begitupun dengan Hinata yang hanya bisa mengangguk setuju. "Tapi sepertinya sekarang mereka sudah setuju. Benarkan Hinata-chan?"
"Mungkin, walau begitu, mereka selalu saja mengganggu."
Kushina dan Mito hanya tersenyum saat Hinata mengeluh. "Ah, kalau saja anakku ada di sini, rasanya aku ingin Hinata-chan jadi menantuku."
"Anak? Kau punya… anak?" Mito bertanya kaget.
Tidak heran jika Mito tidak tahu banyak tentang Kushina atau sebaliknya. Mereka memang sepupu dari pihak Ibu. Tapi karena Mito yang tinggal di Konoha dan Kushina yang tinggal di Iwa, mereka hanya kadang bertemu jika keluarga Mito datang ke Iwa, ataupun sebaliknya. Bahkan semenjak mereka lulus kuliah, mereka sudah tidak pernah bertemu.
Sampai berita gempa di masa lalu, membuat Mito berpikir keluarga yang dia punya di Iwa sudah tidak ada lagi. Dari itu, Mito sangat terkejut saat kembali bertemu dengan Kushina sebulan yang lalu di Kumo. Ternyata Kushina selamat dan juga telah memiliki suami, tapi Mito belum pernah mendengar atau melihat anak Kushina.
Kushina tersenyum dan mengangguk, "Aku punya satu putra, mungkin dia seumuran dengan Hinata. Tapi karena gempa dulu,,, kami kehilangan dia."
"Dia—"
"Tidak!" Kushina dengan cepat menyangkal apapun yang akan di katakan Mito, "Dia masih hidup, aku yakin itu. Dia masih hidup dan berada disuatu tempat sekarang. Kami tidak pernah mendengar kabar atau menemukan mayatnya, jadi kami percaya, kalau Naruto masih hidup."
"Naruto?" ulang Hinata dengan nada kaget, kecurigaannya benar. Tapi nada itu tidak tertangkap oleh Mito dan Kushina.
Kushina hanya mengangguk pelan, "Naruto adalah namanya. Uzumaki Naruto."
Seketika sendi di pergelangan kaki Hinata melemas, entah kenapa. Mungkin dia merasa takjub dengan takdir yang tengah di lihatnya. Bagaimana satu keluarga yang terpisah ternyata bisa sangat dekat. Sementara dirinya yang sangat ingin bertemu keluarga, hanya bisa mendengar kisah mereka dari Neji karena hanya sebagian yang bisa dia ingat tentang keluarganya.
. . .
"Kau sedang apa?"
"Hanya memasak, akan ada tamu nanti malam."
"Wah, masakanmu pasti enak. Kalau aku akan pergi bersama Ayah ke rumah temannya."
"Oh. Hati-hati saja di jalan."
"Oke ttebayo! :D…
Hm,,, Hinata-chan.."
"Hm?"
"Aishiteru."
"Aishiteru."
.
Naruto tersenyum dan menaruh ponselnya di meja samping ranjangnya. Ahh, anak remaja yang sedang jatuh cinta. Selalu sms atau telpon jika tidak bisa bertemu. Mungkin sebagian readers juga mengalaminya.
"Naruto."
"Iya Ayah." Naruto bangkit dari ranjangnya dan berjalan keluar kamar memenuhi panggilan sang Ayah. "Ada apa?"
"Ayah pergi dulu."
"Kemana?"
"Meminjam motor untuk kita pergi nanti malam, tidak mungkin jika kita harus jalan kaki atau naik sepeda itu." Iruka menjawab sambil melirik sepeda yang terparkir di teras kecil rumah mereka, terlihat sedikit dari balik jendela dan tirai yang terbuka.
Naruto mengangguk mengerti saat Ayahnya melangkah pergi. Tadi siang, Ayahnya memang sudah mengatakan tentang makan malam itu. Sebenarnya Naruto tidak mau, tapi… setelah ia tahu kalau teman yang di maksud Ayahnya adalah orang yang mengadopsi kelima anak sebelumnya, dia jadi ingin ikut. Dia penasaran untuk bertemu dengan anak-anak angkat Iruka yang lain.
. . .
Iruka tersenyum menatap kelima anak angkatnya yang sekarang berdiri di hadapannya, menatapnya dengan sorot tidak percaya.
Setelah sekian lama, akhirnya dia bisa sampai ke kediaman Senju. Disambut oleh Mito dan Hashirama, berbincang singkat dengan Minato dan Kushina. Sampai tiba-tiba kelima anaknya muncul dan terdiam menatapnya yang sedang duduk di ruang tamu. Mungkin anak-anak itu sama tidak percaya dengannya, setelah berpisah selama bertahun-tahun, tiba-tiba saja bertemu. Itu semua terasa… sedikit aneh mungkin.
"Kenapa kalian hanya berdiri di sana?" Hashirama membuka suara setelah keheningan sejak semenit yang lalu. "Bukankah dulu kalian masih sering menanyakan Ayah kalian sebulan pertama kalian tinggal di sini? Sekarang dia ada disini."
Hashirama dan Mito hanya mengernyit saat anak-anaknya masih berdiri diam tanpa komentar.
"A-ayah?" ucapan pertama terdengar dari anak yang paling bungsu yang hampir menjatuhkan air mata karena terharu dan senang. Segera mungkin dia berlari dan memeluk sang Ayah angkat.
Membuat Iruka harus cukup kuat menahan diri agar tidak terjatuh, dia melirik Hashirama dan Mito yang tersenyum melihat kelakuan putrinya. Membuat Iruka juga tersenyum dan dengan perlahan menepuk pelan punggung si bungsu yang ada di pelukannya. "Ayah kemana saja, Ata-chan rindu sama Ayah."
Senyum di wajah Iruka semakin melebar, mendengar ucapan polos yang terasa tidak berubah dari Hinata. "Maaf, Ayah pergi tidak bilang."
"Benar," Gaara menyela dan juga mendekat, "Ayah memang salah karena pergi tanpa bilang apa-apa." perkataan dengan nada dingin itu serasa bertolak belakang dengan apa yang dilakukan pemuda berambut merah itu. Dia juga menggerakkan tubuhnya untuk memeluk sang Ayah.
Iruka cukup terkejut saat menyadari kalau pemuda berambut merah itu adalah Gaara. Anak angkatnya yang berambut merah itu, dulu adalah anak yang lucu dan suka merajuk, cemberut dengan memajukan bibirnya dan suka berkata manja. Tapi sekarang, anak kecil lucu itu sudah menjadi pemuda dewasa yang tampan dan memiliki nada suara yang tegas.
Iruka juga memeluk Gaara dengan mata mengarah pada ketiga anaknya yang lain. Dalam diam, dia sudah bisa menebak siapa ketiga orang itu.
.
Lima belas menit kemudian…
Mereka tertawa akan satu hal. Setelah acara drama pertemuan yang mengharukan, mereka duduk bersama di ruang tamu dan membicarakan banyak hal. Terutama Hinata dan Gaara. Bahkan Mito cukup kaget melihatnya. Yang dia tahu, Sasukelah yang bersifat sedikit manja di antara yang lain, tapi didepan Iruka, justru Gaara yang terlihat lebih manja dari Sasuke. Wanita itu hanya menggeleng pelan karena merasa belum seutuhnya mengenal putra dan putrinya.
"Oh iya," Hashirama kembali bersuara, "Bukankah kau bilang akan mengajak anakmu? Dimana dia?"
Iruka berkedip, tersenyum kaku saat mengingat sang anak, "Dia…"
. . .
"Huft.." Naruto menghela nafas lelah setelah mendorong motor sejauh 300 meter. Dia mendudukan dirinya di halte bus yang ada, "Ya ampun, kenapa motor itu harus mogok di saat yang tidak tepat sih." Gerutunya.
Memang, tadi dia dan Ayahnya pergi dengan motor pinjaman. Tapi motor itu sepertinya suka membuat ulah sehingga mati di tengah jalan, karena tidak mungkin meninggalkan motor begitu saja di jalan dan juga tidak enak jika terlambat. Akhirnya Naruto dengan baik hati menyuruh Ayahnya pergi lebih dulu sementara dia mengantarkan motor itu ke bengkel terdekat.
Dan sekarang, disinilah dia, duduk sendiri di halte bus untuk menunggu bus agar bisa sampai ke rumah teman Ayahnya. Bermodalkan alamat yang sempat di berikan sang Ayah sebelumnya.
"Ayah pasti sudah sampai sekarang." gumamnya singkat sebelum akhirnya bus datang dan dia segera bergegas naik.
Sepuluh menit kemudian, dia turun di pemberhentian bus daerah Hokage, tempat yang paling dekat dengan alamat yang ia tuju. Dari sana, dia cukup berjalan sekitar lima menit untuk sampai di rumah tujuan.
Tapi…
Setelah sampai, pemuda pirang itu hanya berdiri sampai lima menit dengan kening berkerut, merasa aneh dan familiar dengan rumah yang ada dihadapannya. Dia melihat alamat di tangannya dan mencocokan dengan plang nama di depan pagar rumah itu. Tidak ada yang aneh, alamat dan nama keluarga itu sama dan dia yakin itulah rumah yang ia tuju.
Hanya saja, dia merasa ada yang mengganjal.
"Senju." Ucapnya lirih, membaca plang nama di pagar itu. "Senju,, senju senju …" sedetik kemudian dia tersentak dengan mata melebar. "Aaaaaa,,," dia menunjuk rumah itu dengan tidak elitnya, "Ini kan rumah Hinata-chan. Dan Senju adalah marga Hinata-chan." Teriaknya didepan rumah itu.
Selanjutnya dia berkedip dan memiringkan kepalanya, "Kenapa alamat rumah teman Ayah adalah alamat rumah Hinata-chan?"
. . .
Kushina berjalan menuju kamarnya, merasa tidak menemukan ponselnya di dapur. Sementara yang lain sudah duduk di meja makan dan bersiap untuk makan. Entah kenapa, Kushina merasa perlu untuk menemukan ponselnya segera.
Ting tong..
Langkahnya terhenti dan dia menoleh menatap pintu yang dekat dengan jaraknya berdiri. Dia menoleh sebentar kearah ruang makan dan berpikir kalau yang lain mungkin sudah makan.
Ting tong..
Merasa kalau dia adalah orang yang paling dekat, Kushina melangkah untuk membuka pintu dan menyambut tamu yang datang. Mungkin itu adalah anak Iruka, pikirnya.
Ceklek
Pintu terbuka dan kata-kata sambutan Kushina yang sudah di ujung tenggorokkannya terhenti saat dia merasakan tubuhnya kaku karena melihat pemuda di hadapannya kini.
Pemuda berambut pirang di hadapannya tersenyum canggung dan menunduk memberi salam, "Selamat malam Bibi.. anoo… aku.. ingin mencari Ayahku. Dia menyuruhku untuk menyusulnya ke sini."
Pemuda pirang itu berkedip dan menatap Kushina bingung saat Kushina tak kunjung menjawab dan menatapnya dengan dalam. Pemuda itu merasa sedikit aneh dengan Kushina, bukan karena sifat Kushina tapi pemuda itu merasa familiar dan merasa pernah bertemu dengan Kushina.
Rambut merah panjang dan wajah bulatnya yang lucu. Pemuda itu berpikir keras untuk mengingat tentang siapa Kushina di ingatannya.
"Na… Naruto?" akhirnya panggilan itu keluar dari wanita Uzumaki itu. Membuat pemuda di hadapannya tersentak kaget.
"Bibi,, anda tahu namaku?" tanyanya bingung.
Genangan air mata semakin banyak di pelupuk mata Kushina, pertanyaan Naruto cukup untuk menunjukkan kalau pemuda itu benar-benar Naruto. "Kau,, Naruto.." ucapnya lagi.
Kerutan di dahi Naruto semakin menjadi kala mendapati tatapan kerinduan yang besar dari Kushina untuknya. Meski begitu, Naruto bisa melihat tatapan tulus dan kasih sayang yang berlimpah dari mata hazel itu. Tatapan yang sama dengan seseorang yang tidak pernah bisa dia lupakan, tatapan itu sama dengan tatapan…
Mata safir itu melebar saat ingatannya berputar ke masa lalunya. Membuat tubuhnya sedikit gemetar, dan perasaan senang serta takut tiba-tiba menyergap. "Naruto.." lagi, wanita itu memanggilnya.
"Kau.."
"Apa kau tidak ingat padaku? Sudah sangat lama ttebane.."
Bibir Naruto melengkung ke bawah menahan air mata yang ingin jatuh, dia tahu itu, dia tahu kata dan nada bicara itu. "Kau adalah…"
"Benar," Kushina tersenyum dengan air mata mulai jatuh, "Aku adalah.."
Greb…
Wanita itu tersentak saat Naruto tiba-tiba memeluknya. Tapi selanjutnya dia tersenyum dan membalas pelukan itu dengan sama eratnya.
"Aku…" suara serak terdengar dari Naruto, "Rasanya… aku rasanya selalu ingin.. bertemu denganmu ttebayo!"
Kushina mengangguk, "Kau benar-benar anakku, Naru-chan."
"Naruto-kun." Pelukan itu terlepas saat sebuah suara lain memanggil nama yang sama, keduanya menoleh dan melihat Hinata yang berdiri dengan tatapan kaget kearah mereka.
.
To be continued
.
.
.
Olala,,, bersambung lagi.
Maaf kalau rasanya aneh di scene pertemuan Iruka dan yang lainnya. Aku paling nggak bisa buat scene yang mengharu-biru gitu, perasaan penuh drama yang menurutku… terlalu cengeng? Atau apalah. Jadi maaf kalau jadinya aneh, dan itu sengaja ku tulis singkat-singkat aja.
Kalau pertemuan Naruto dan Kushina, aku nyontek dari manganya. Jadi bagi yang mau tahu ekspresi Naruto, baca ulang manganya, hanya ekspresi Naruto yang mewek saat menyadari kalau Kushina adalah Ibunya. Kalau nggak salah manganya di chapter 498.
Balasan review…
Fania : oke, semoga semakin seru lagi.. :D
Sasuke lover : Syukur deh kalau chapter kemarin menghibur, kalau chapter ini gimana?
( safa sani ) : emosi ya liat naruhina di gangguin terus, makasih udah menanti..
Guest : Jelas yang didalam mobil Itachi, Orochimaru nggak dapat peran di fic ini,, hehehe
Namekyunaru : hoho,, ada yang marah.. sabar gan.. kan di fic ini, keempat kakak Hinata memang punya perasaan cinta ke hinata. Walau mereka sudah merestui naruhina, tetap aja susah melupakan perasaan mereka, semua butuh waktu dan proses. Sabar aja, ntar juga mereka bakal dukung naruhina sepenuhnya kok, dan juga mereka bakal move on ke cewek lain. Maaf kalo fic ini bikin kamu kesal. :D
Caroline : saya usahakan update cepat.. :)
Pembaca : aku usahain deh biar nggak terlalu lama updatenya.
Salsabila12 : Iya, Naruto anak Minakushi, ntar di chap depan bakal flashback tentang naruto yang masih lima tahun sebelum gempa.
Anggredta Wulan : hahaha,,, enaknya yang udah nikah.. yosh, udah terungkapkan identitas naru di chap ini. flashbacknya chap depan ya..
Guest : kita doakan bersama agar chapter depan para pengawal udah mulai move on. Kalo masalah harem Hinata, aku memang mikir gitu, naruto salah satu cowok yang rebutin Hinata. Tapi pairingnya bakal kubuat naruhina. Agar naruhina tetap special. Tapi baru rencana doang sih.. :D
IkaS18 : Yups! Naruto always anak Minakushi.
Ikha Hime : Maksih, ganbatte juga bacanya :D… sudah ketemu kan naruto dengan ibunya..
Hana takahashi26 : nggak papa maksa dikit, asal jangan maksa sambil ngancam aja,, hehehe.. satu saran aja buat kamu yang suka ketawa sendiri karena baca ff,, jangan terlalu sering ketawa sendiri. Aku sering gitu, ketawa sendiri, ehh ditanya ayah gini.. "Kenapa,, udah mulai stress ya?" (-_-!)
Ayusulistriarini : wah,, ada chap faf juga ternyata.. bagus bagus bagus… dan jahat banget kalo emang sengaja buat aku bingung… :(
Dobe Amaa-chan : Oke oke oke
Kurotsuhi mangetsu : wah, naruto jadi preman kan pas dia udah tinggal dengan Iruka karena merasa kesal selalu dipandang sebelah mata dan sengaja jadi 'preman' supaya di kasih ijin sama Iruka untuk berhenti sekolah. Keluarganya harmonis aja kok. Dan kalo kamu mau nonjok muka keempat pengawal itu, jangan dong, entar mereka nggak tampan lagi… :D
Nayame : yosh.. arigatou gosaimazu.. hehe
Shintaalgozali : wah,,, senangnya readers fic ini bertambah, dan lebih seneng lagi karena kamu orangnya pengertian. Maksih udah maklum dengan keadaan saya,, saya terhura… hiks hiks hiks :') #abaikan. Makasih atas supportnya, aku usahain deh biar cepet update dan cepet end.. oke :D
Sondankh641 : Minato bukannya tenang, tapi mereka udah pasrah tentang naruto. Disamping itu mereka masih percaya 100% kalo naruto masih hidup. Kata lainnya sih, mereka positif thinking. Chap depan bakal ada flshbacknya… stand by ya…
Anitaa hyuga : iya,, naruto anak minakushi.. makasih supportnya..
Cuka-san : Sejutu… eh Setuju…. Naruto harus ambil Hina-Hime dari para pengawal. Hehehe… iya orang tua naruto udah datang. Dan syukur kalo chap kemarin bisa menghibur.
Oke,,, sekian cuap-cuap dari Rameen. Mungkin bakal dua atau tiga chapter lagi menuju ending. Kita berdoa bersama… amiin..
Oke minna,, serius.. saya belum memikirkan bagaimana ending yang bagus dan agak sedikit bingung. Ada yang bisa kasih saran? Serius ini,, saya mau kita berjuang bersama #apasih…
End the last,,, semoga suka dan semoga terhibur. Selalu berharap tidak mengecewakan. Maaf kalau ada yang kurang berkenan.
Salam, Rameen.
