BAB 9 KELUARGA EVANS (Bagian 2)
.
"Lilykins," kata Andrew, bangkit mendekati Lily, dan meletakkan tangan di atas kepala putrinya. "Bukan hal yang pantas kautangisi."
Lily mendongak, masih dalam pelukan James, wajahnya basah. Andrew mengusap air mata Lily dengan sapu tangan seperti yang biasa dia lakukan sewaktu Lily masih kecil, dan memberinya senyum kecil. Terdengar suara berdeguk dari belakang mereka. Ternyata itu Jane, yang berguncang di kursinya, menangis. Belum pernah Lily melihat ibunya menangis. Dia menghampirinya, tetapi Jane berdiri menyongsong Lily, dan menariknya ke dalam pelukan keibuan.
"Maaf," katanya pelan, lalu naik ke kamarnya.
Andrew mengawasi dan sudah hendak mengikutinya, namun mendadak berhenti.
"James, apa kau keberatan tidur di lantai kamar Lily malam ini? Kamarmu belum siap."
James menggeleng, tersenyum.
"Aku minta maaf kau harus menyaksikan itu," Andrew menambahkan pelan sebelum menyusul istrinya.
James merangkul Lily dan membawanya ke kamarnya. Di sana, Lily menyalakan lampu, dan mengizinkan James membawanya ke tempat tidur. James mendudukkan Lily di pangkuannya dan menatapnya, namun Lily menggeleng.
"Aku sudah tidak ingin menangis," katanya pelan. James mengangguk, mengelus punggung Lily menenangkan.
"Kurasa aku menemukan seseorang yang kubenci melebihi Avery," gumam James.
Lily tertawa kecil. "Kurasa dia tidak pantas mendapat kehormatan setinggi itu."
Giliran James yang tertawa. "Kenapa kau membiarkannya saja?"
"Karena aku melihat bagaimana cara Tuney, maksudku Petunia, menatapnya," bisik Lily, menatap karpet. "Itu cara yang sama seperti Mum menatap Dad, cara Hestia menatap Sirius, caraku menatapmu." Dia mengangkat bahu. "Petunia mencintainya, dan kalau lelaki itu yang dia inginkan, yah, aku cukup menyayanginya untuk melepasnya."
James memberinya senyum kecil.
"Kau benar-benar dewasa," katanya.
Tertawa, Lily bersandar di bahu James, menyembunyikan wajahnya di lekukan leher James.
"Lils, itu menggelikan," kata James dengan suara tidak wajar.
Lily tertawa lagi. "Kau merasa geli di bagian leher?"
"Kau membuat geli di bagian mana pun."
Memutar mata, Lily menggelitikkan jarinya di leher James, dan tertawa selagi James memutar kepalanya ke samping, menangkap tangan Lily. "Tidak lucu, Evans!" katanya.
Lily terbahak. "Sebaliknya, kukira ini menyenangkan."
Saat itu pintu kamar Lily terbuka, dan Jane dan Andrew masuk.
"Hai," sapa Lily sambil tersenyum pada kedua orangtuanya, yang balas tersenyum dan merasa senang putri mereka baik-baik saja.
"Kami ingin berbicara padamu tentang Petunia," kata Jane pelan, berdiri canggung di depan pintu. Lily mengacungkan tongkatnya dan pintu itu menutup di belakang orang tuanya, lalu menyihir sebuah sofa di samping tempat tidurnya. "Aku takkan pernah terbiasa," gumam Jane, duduk di sofa itu menghadap James dan Lily, sementara Andrew duduk di sampingnya. "Aku ingin minta maaf padamu, Lily, karena kau tidak bisa mendapatkan kembali kakakmu seperti yang kami janjikan."
Lily menatapnya terkejut.
"Itu bukan kesalahan Mum," katanya pelan, tetapi ayahnya menggelengkan kepala.
"Bukan salah siapa-siapa terkait apa yang Petunia putuskan, begitu juga apa yang kauputuskan," katanya pada Lily. "Tapi aku sudah melihat betapa keras kau mencoba untuk mendapatkan kembali kakakmu, dan sejujurnya, kurasa dia tidak layak mendapatkan waktu dan energimu lagi."
Mata Jane berlinang air mata, tetapi dia mengangguk setuju.
"Lily, kakak yang kaumiliki sebelum kau berusia sebelas tahun sudah pergi," bisiknya. "Menurutku lebih baik kau berhenti berusaha menemukannya."
Lily mengangguk. James mengelus punggungnya lembut.
"Mula-mula Hogsmeade, sekarang ini," gumam Lily.
Tangan James terhenti mendengar kata Hogsmeade.
"Hogsmeade? Desa yang kaukunjungi dalam akhir pekan tertentu? Apa yang terjadi?" tanya Andrew.
James semakin kaku. Lily menghela napas sebelum menjawab pertanyaan itu. "Ingatkah Mum dan Dad tentang penyihir hitam yang pernah kuceritakan?" Orang tuanya mengangguk. "Dan para pengikutnya?" Mereka mengangguk lagi. "Mereka menyerang Hogsmeade ketika kami sedang di sana."
Andrew dan Jane terkesiap.
"Itukah sebabnya kau tampak kurang sehat?" tanya Jane.
Lily mengangguk. "Aku tinggal di rumah sakit setelah penyerangan itu, dan begitu diizinkan keluar, kami langsung kemari."
Andrew menghela napas tajam dan bertanya pelan, "Maksudmu, penyerangan itu terjadi kemarin?"
Lily mengangguk. James berdiri. "Aku tak mau mendengarnya lagi," katanya pelan. Lily mengangguk bersimpati. "Aku ingin menonton televisi, kalau kalian tidak keberatan?"
Dia memandang berkeliling, menerima anggukan sebagai balasan. Dia sudah hampir sampai di pintu ketika berbalik dan menatap Lily, yang memutar mata.
"Ambil remote-nya, kotak hitam dengan banyak tombol, dan tekan tombol merah di bagian atas untuk menyalakan televisi. Kau bisa menggunakan tombol dengan tanda panah untuk memilih channel yang berbeda. Kalau kau ingin menonton film, tekan tombol kuning dan ambil salah satu kaset, tapi keluarkan Cinderella-nya dulu," dia menginstruksikan selagi orang tuanya tergelak.
Nyengir, James mengangguk dan keluar kamar.
"Kenapa dia tidak mau mendengarnya lagi?" tanya Jane.
"Karena kejadiannya begitu mengerikan," bisik Lily. "Kami sedang berada di Hogsmeade, di sebuah tempat semacam kafe, dan ketika kami membuka pintu untuk pulang, kami melihat para Pelahap Maut-pengikutnya-menyerang di jalan. Pemilik Three Broomsticks, kafe itu, membawa kami ke pintu belakang yang menuju langsung ke sekolah. Kami mulai berlari sepanjang jalan itu ketika aku mendengar Hestia menjerit di belakangku. Aku berbalik dan melihat Sirius-sahabat James sekaligus pacar Hestia-berduel dengan Pelahap Maut yang melukai Hestia. Hestia mengirim kutukan pada Pelahap Maut agar menyingkir, kemudian dia dan Sirius berlari di depan kami menuju sekolah. Lalu kudengar seseorang di belakangku berteriak, 'Crucio!'"
Wajah kedua orang tuanya pucat.
"Kutukan penyiksa itu?" Andrew yang bicara. Lily mengangkat alis padanya. "Aku membaca buku sekolahmu selama musim panas. Bukankah kutukan itu ilegal? Dan bukankah kutukan itu membuat korbannya kesakitan luar biasa?" Air mata jatuh dari mata Lily ketika dia mengangguk. "Siapa yang terkena kutukan itu?"
"Aku," bisik Lily, mengawasi sementara kedua orang tuanya terkesiap; ibunya terisak sementara ayahnya begitu pucat sehingga Lily khawatir wajah sang ayah tidak teraliri darah. "Aku terjatuh sambil menjerit. Sakitnya luar biasa. Lalu James meledakkan Pelahap Maut itu menjauh dan berlutut di sampingku, menanyakan beberapa hal untuk memastikan pikiranku baik-baik saja, dan dia menangis. Kukira dia tidak menyadarinya, tapi dia betul-betul menangis. Dan sewaktu kami berbalik untuk kembali ke kastil, dengan James menuntunku karena aku gemetar hebat, terdengar suara pop di belakang kami seperti kalau orang ber-Apparate-seseorang berpindah tempat dalam waktu yang sama-dan ketika kami berbalik, ternyata ada lima Pelahap Maut di sana. Salah satunya melepas topengnya, dan aku mengenalinya sebagai murid yang lulus bertahun-tahun yang lalu. Dia menjentikkan tongkatnya dan diam-diam mengirim kutukan lagi padaku, aku kembali terjatuh, rasanya seperti ada api di setiap senti tubuhku." Dia terisak, tanpa menyadari orang tuanya juga menangis. "James, Sirius, dan Hestia mencoba membantuku, tetapi Pelahap Maut sudah membekukan mereka, jadi mereka tidak bisa bergerak, dan si Pelahap Maut yang menyerangku, Bellatrix, terus menyiksaku. Dia memanggilku Darah-Lumpur sebelum kembali pada yang lainnya. Aku mendengarnya berkata, 'Avada…' dan kukira dia hendak membunuh James, Sirius, dan Hestia, jadi aku mengirim kutukan yang membuat mereka terbang menabrak bangunan yang meruntuhi mereka."
Lily tak sanggup melanjutkan.
"Avada? Maksudmu Avada Kedavra?" tanya Andrew. Lily mengangguk. Kedua orang tuanya bangkit untuk duduk di kanan-kirinya, lengan mereka merangkul Lily. "Lalu kenapa kau pulang begitu cepat?"
"Aku ingin menghadiri pernikahan T-Petunia," katanya, menunduk menatap pangkuannya. Jane dan Andrew mengeratkan pelukan mereka, dan ketiga Evans itu menangis bersama. Ketika air mata mereka sudah kering, Jane berdiri seraya menyeka matanya.
"Aku bangga padamu," isaknya, mengelus pipi Lily dengan tangannya yang pucat. "Aku tak bisa memercayai bahwa kau disiksa, nyaris terbunuh, dan masih bisa pulang demi kakakmu." Dia menghela napas dan mengecup kening Lily. "Aku akan tidur sekarang, sampai ketemu besok pagi." Dipeluknya Lily dengan erat. "Aku sayang padamu."
Jane berdiri dan keluar kamar Lily menuju kamarnya sendiri. Dalam perjalanannya dia melewati ruang televisi, mendapati James sedang menonton Cinderella lagi. "James sayang, kau bisa kembali ke sana," katanya, mengangguk ke arah kamar Lily.
James berdiri dan mematikan televisi. "Terima kasih," katanya, tersenyum.
"Tidak, akulah yang berterima kasih, James, karena telah menjaga gadis kecilku," kata Jane pelan. Sebelum James sempat mengucapkan sepatah kata pun, Jane sudah menjauh dan menutup pintu kamarnya sendiri. James kembali ke kamar Lily, dan mendapati Lily dan ayahnya sedang mengobrol di tempat tidur.
"Ah, James," Andrew berdiri, tersenyum padanya. "Sebaiknya aku keluar sekarang. Selamat tidur, James." Lalu dia berpaling pada Lily, "Selamat tidur, bunga kesayanganku."
"Dad! Dad tidak boleh memilih kesayangan!" desis Lily.
Andrew memutar matanya.
"Jangan melarangku," katanya, menepuk bahu James dalam perjalanannya ke pintu. "Aku ingin membawakan James tempat tidur, tapi kurasa kalian bisa melakukannya lebih baik daripadaku."
Dan sambil mengedip, dia menutup pintu di belakangnya.
"Aku suka orang tuamu," James tersenyum lebar. Dia dan Lily mengenakan piyama mereka. Lily naik ke tempat tidurnya, sementara James mentansfigurasi sebuah tempat tidur dan merebahkan diri di atasnya. Segera saja keduanya tertidur pulas.
oOOOo
"Lily?"
Lily terduduk dengan cepat dan melihat jam di atas meja riasnya. Masih jam tiga pagi. Dia meraih tongkatnya dan bergumam, "Lumos!" Cahaya menerangi kamarnya. Nyaris saja dia menjatuhkan tongkatnya ketika mendapati Petunia berdiri di pintu kamar.
"Tuney! Maksudku, Petunia!"
Bahu Petunia lunglai mendengar Lily memanggil namanya lengkap. Dia duduk di sebelah adiknya. "Lily, aku harus bicara denganmu."
"Kukira tunanganmu tidak akan setuju."
"Aku tahu, tapi aku perlu bicara denganmu."
Lily mengangguk. "Bicaralah pelan-pelan, kau tak ingin membangunkan James, kan?" Dia mengedik ke arah tempat tidur James. Petunia mengikuti arah yang ditunjuk Lily, dan mengangguk.
"Lily, aku minta maaf. Tapi aku mencintainya," dia berbisik.
Lily mengangguk memahami.
"Aku tahu itu. Dia adalah hidupmu," kata Lily pelan, menatap James.
"Kau sungguh beruntung memilikinya," Petunia memberinya senyum kecil. "Aku bisa bilang dia sangat peduli padamu, dan akan melakukan apa saja untukmu. Aku merasa lebih baik soal ini karena aku tahu kau akan selalu memilikinya. Apa kau masih mau menjadi pengiringku?"
Lily mengangguk.
"Aku menyayangimu, Lily," kata Petunia, menarik adiknya dalam pelukan. Lily balas memeluknya, merasa ada gumpalan yang menyumbat tenggorokannya.
"Aku juga menyayangimu, Tuney."
Ketika mereka terbangun pada hari pernikahan Petunia, mereka mendapati kesibukan luar biasa di seluruh penjuru rumah. Petunia menyeret Lily ke kamarnya, menyerahkan gaun pengiring pengantin, dan menyuruhnya segera bersiap. Lily berlari ke kamarnya, tempat James sedang duduk di tempat tidur mengenakan tuksedo yang sudah ditransfigurasi Lily dari salah satu pakaiannya. Lily tersenyum lebar padanya selagi memasuki kamar, tangannya membawa tas berisi pakaiannya, yang kemudian diletakkan di tempat tidur.
"Lily, kau harus bersiap sekarang!"
Dia bisa mendengar Petunia berteriak dari kamarnya, dan menghela napas, menutup pintu. James telah membuka tas pakaian Lily dan sedang mengamatinya dengan senyum kecil di wajahnya. Lily menggeser James untuk mengamati gaun bertalinya yang berwarna krem, dan menghela napas.
"Kau berbalik dulu, aku tidak nyaman ganti baju di kamar mandi," perintahnya.
Menyeringai, James berbalik dan duduk di tempat tidurnya. Lily melepas piyamanya untuk mengenakan gaun. Gaun itu mengerut di bagian pinggang, dan dari sana mengembang hingga lutut.
"Kau bisa berbalik sekarang," dia memberi tahu James, yang berbalik dan mengamati Lily.
"Gaun yang bagus," James mengajui, memperhatikan bagian dada yang bukaannya membuat Lily tidak nyaman. Lily melempar piyamanya ke keranjang cucian di sudut ruangan, lalu merapikan kamarnya diiringi tatapan penuh tanya James.
"Kita akan berangkat ke rumahmu malam ini. Aku tak ingin meninggalkan kamarku dalam kondisi berantakan," kata Lily. Selesai dengan kamarnya, dia menuju kamar mandi, tempat dia bisa mendengar suara ibunya dan Petunia, sementara James turun untuk menemani Andrew yang sedang menonton televisi. Ketika Lily masuk kamar mandi dalam balutan gaunnya, ibunya tersenyum lebar.
"Indah sekali, Petunia," katanya, membuat Petunia berpaling pada Lily, ekspresinya berpuas diri.
"Hanya itu warna yang cocok dengan rambutnya," katanya seraya memutar mata, dan berbalik menghadap cermin. "Pakai make up-mu!" Dia menyerahkan tas makeup kepada Lily, yang menghela napas dan mengeluarkan sebuah stik maskara. "Tunggu, kau harus pakai alasnya dulu! Kita akan berfoto, dan aku tak ingin wajahmu mengilap."
Lily memutar mata dan memenuhi saran kakaknya. Petunia mengamati kritis adiknya yang sedang berdandan, menyerukan saran di sana-sini. Beberapa kali Lily memprotes, tetapi Petunia mengabaikannya.
"Nah, sempurna," kata Petunia akhirnya, dan Lily tersenyum. "Sekarang pakai sepatumu yang kuletakkan di sebelah Dad."
Petunia kembali sibuk menyelesaikan dandanannya, rambutnya sekarang keriting. Ketika Lily masuk ke ruang televisi, James dan Andrew mengangkat kepala untuk mengamatinya.
"Kau tampak cantik, Lily," kata Andrew, mengamati putrinya dengan takjub.
James menatap Lily tanpa berkata apa-apa, membuatnya merasa tidak nyaman.
"Petunia berkata sepatuku ada di sini," katanya, memandang berkeliling.
Andrew mengangguk, menarik sebuah kotak dari bawah sofa. Lily menerima kotak sepati itu dan membukanya, sebuah desisan meluncur dari mulutnya. Andrew melongok ke dalam kotak dan mulai tertawa, sementara James memandang penasaran pada mereka berdua.
"Ini tidak lucu!" dengking Lily, menarik keluar stiletto krem dengan hak setinggi dua belas setengah senti. James tertawa terbahak-bahak, membuat Lily menyipitkan mata padanya. Dipakainya sepatu itu dan bergidik; sepatu itu benar-benar tinggi, "Bagaimana aku bisa berjalan di ini?"
"Di saat seperti ini, aku benar-benar bisa menghargai betapa simpelnya menjadi laki-laki," kata James.
Lily berlari kembali ke kamarnya dan mengambil tongkatnya.
"Lily, kita berangkat sekarang!" teriak Jane.
Menghela napas, Lily menarik sebuah jaket berwarna cokelat gelap dari lemarinya dan memakainya di atas gaunnya. Dia berlari menuruni tangga seraya menyelipkan tongkat di saku jaketnya, dan hampir terjatuh, lupa akan sepatunya yang tinggi. James menangkapnya ketika Lily hampir jatuh, menegakkannya kembali di kakinya. Lily tersenyum padanya sebelum menggandengnya dan mengikuti keluarganya menuju mobil.
Di luar bersalju, membuat kaki Lily terasa beku. James meletakkan tangan di bahu Lily dan berlari ke mobil. Keduanya masuk, James di kursi belakang, dan Lily menyadari dirinya duduk di antara ibunya dan James. Petunia di depan dengan gaunnya. Mobil itu juga terasa beku, dan Lily menarik tongkatnya. Mendadak saja kehangatan memenuhi seisi mobil.
"Terima kasih, Lily," kata Andrew.
Lily terkikik. Bibir Petunia mengerucut dan berbalik menatap Lily.
"Lily, bisakah kau tidak melakukan hal-hal aneh selama pernikahan?" tanyanya. Lily memutar mata. "Kukira kita harus menata rambutnya tinggi, Mum," dia menambahkan, mengangguk pada Lily, dan ibunya juga mengangguk.
"Terserah apa katamu, Sayang, ini harimu."
James menghela napas dan mengigit bibirnya. Lily tahu betul bahwa James tidak suka kalau rambut Lily diikat. Mereka tiba di gereja dan Petunia berlari ke dalam untuk bersiap-siap, membawa gaun dan sepatunya. Jane mengajak Lily ke kamar ganti Petunia dan berkata pada James, "James sayang, bisakah kau mengambilkan buketnya?"
James mengangguk. Di dalam gereja, mereka menemukan Petunia tampak shock, air mata menggenangi matanya.
"Ada apa, Tuney?" tanya Lily, melingkarkan lengannya di sekeliling Petunia.
Petunia menjatuhkan gaun dan sepatunya, dan berlari keluar dari gereja. Lily mengikutinya menuju taman kosong di beakang gereja.
"Tuney?"
"Mereka belum mengerjakan dekorasinya!" jerit Tuney. "Seharusnya ada meja-meja dan pita-pita dan panggung musik di sana!" Dia menunjuk salah satu sudut taman.
Lily mendekati Petunia dan memeluknya.
"Biar kubereskan," kata Lily.
Petunia menunduk menatap tongkat di tangan Lily dan mengangguk.
"Krem dan emas, taplak meja putih, enam kursi di setiap meja, dan lima belas meja."
Lily mengangkat tongkatnya dan mengacungkannya. Pita-pita meledak dari tongkatnya, krem dan emas, dan mendarat sendiri dengan elegan di pepohonan. Berikutnya dia menyihir beberapa meja seperti yang diinstruksikan Petunia, dan sebuah lantai dansa kayu mendarat di tengah-tengahnya.
"Akan ada band juga," kata Petunia, mengawasi dengan takjub.
Sekarang wajah Lily mengerut penuh konsentrasi. Serangkaian podium muncul di dekat lantai dansa, lengkap dengan mikrofon dan perlengkapan lain yang dibutuhkan dalam sebuah pernikahan.
Petunia memandang berkeliling dengan tatapan digenangi air mata. "Terima kasih, Lily," bisiknya, memeluk Lily. Lily balas memeluknya dan menatap langit.
"Apa kau butuh tenda?"
"Kurasa itu ide bagus."
Lily mengangguk dan mengacungkan tongkatnya ke langit. Dari tongkat itu meluncur sebuah tenda besar yang menaungi seluruh area. Sekali lagi dia mengacungkan tongkatnya ke langit-langit, dan seuntai pita emas meluncur darinya, membentuk kata-kata Petunia dan Vernon Dursley bernada tulisan tangan. Pita itu meledak menjadi serpihan yang mendarat di piring-piring, seperti yang pernah dilakukannya di Aula Besar. Petunia mengambil piring terdekat untuk mengamati tulisan Petunia dan Vernon Dursley yang tertulis di semua piring, dengan hati kecil-kecil di sekelilingnya.
"Cantik sekali, Lily," kata Petunia, meletakkan kembali piringnya.
Lily mengangkat bahu.
"Apakah seharusnya di dalam gereja juga didekorasi?" tanyanya. Petunia mengangguk. "Kau bersiaplah, biar aku yang mengurusnya."
Petunia memberinya senyum kecil sebelum berlari ke kamar ganti. Lily masuk ke dalam gereja dan mengacungkan tongkatnya ke langit-langit. James bersandar di pintu bersama Andrew, yang menonton dengan terpesona selagi Lily menghias bagian dalam gereja. Setelah selesai, Lily menyeringai jail pada kedua lelaki itu sebelum menuju kamar ganti. Petunia menatapnya penuh tanya. Lily mengangguk, dan Petunia tersenyum lebar, kembali menghadap cermin, merapikan rambutnya. Jane berdiri di belakangnya, mengenakan gaun merah marun dengan rambut ditata tinggi, membawa gaun pengantin.
"Bagaimana aku bisa mengenakannya tanpa merusak segala sesuatu," kata Petunia, menatap gaun itu waspada.
Jane mendongak khawatir, sementara Lily mengernyit. Dia mengacungkan tongkatnya ke arah gaun itu, yang langsung terbang dan menggantung di udara di atas Petunia. Petunia mengangkat kedua tangannya tinggi. Dengan hati-hati Lily menurunkan gaun itu untuk memasangkan diri pada Petunia. Setelah selesai, Petunia berbalik ke arah cermin untuk memastikan makeup dan tatanan rambutnya masih utuh. Dia memeluk Lily sebelum menuju kamar mandi untuk memeriksa giginya. Jane memeluk Lily.
"Terima kasih sudah ada di sini untuk kakakmu," bisiknya. Lily menepuk punggung ibunya. "Kau tampak cantik. Sekarang mari kita tata rambutmu."
Lily menghela napas sementara Jane menarik rambut Lily dan menatanya dalam sebuah sanggul elegan. "Selesai!" kata Jane gembira tepat saat Petunia keluar dari kamar mandi, mengamati Lily, yang masih tampak amat pucat.
"Lily, kenapa kau masih pucat begitu?" kata Petunia dengan suara melengking, membuat Lily terdongak. "Itu bisa merusak segalanya!"
Lily berdiri, tersinggung.
"Aku tampak pucat karena aku baru keluar dari rumah sakit dua hari yang lalu, oke?" katanya, mendelik pada kakaknya. Setelah semua yang Lily lakukan untuknya, dengan dekorasi dan gaunnya, Petunia masih berani memprotes penampilannya?
"Kenapa?" tantang Petunia, membuat mata Lily menyipit.
"Karena aku disiksa penyihir hitam dan aku keluar dari rumah sakit sebelum sepenuhnya pulih demi menghadiri pernikahanmu," geramnya.
Mulut Petunia terkatup, matanya membelalak. Terdengar ketukan di pintu, dan Lily menoleh.
James mendorong pintu terbuka, melongok ke dalam. "Sudah waktunya," dia berkata.
Andrew memasuki ruangan dari belakang James. Wajah Petunia pucat ketika mengikuti ayahnya, berhenti di depan Lily.
"Aku akan merindukanmu," kata Petunia pelan.
Lily bisa mendengar ibunya tersedu di belakangnya, namun mengabaikannya, menatap Petunia.
"Kau tidak harus melakukan ini."
Petunia menggeleng. "Dia benar. Aku tidak seharusnya berada di sekeliling kaummu."
Lily merasa wajahnya tertampar.
"Yah, kalau memang seburuk itu berada di sekeliling kaumku, aku akan membuatnya lebih mudah untukmu."
Berkata begitu, dia keluar. James menatap Petunia, yang memberinya pandangan memohon.
"Kau mau menjaga adik kecilku, kan?"
James mengangguk, tersenyum pada Petunia. "Kau mengatakan itu dengan sungguh-sungguh, kan?" ejeknya.
Petunia menyeringai. James mengangguk lagi dan berbalik untuk menyusul Lily. Dia menemukan Lily di ujung lorong. Petunia sudah memutuskan hanya ada satu pengiring, jadi Lily akan berjalan di sepanjang lorong bersama pendamping Vernon, yang tidak disukai James karena intensitas pandangannya pada Lily.
"Hei," kata James, berjalan ke belakang Lily dan melingkarkan tangannya di sekeliling pinggang Lily. Dia bisa melihat pendamping Vernon mengalihkan pandangan dengan sakit hati, membuatnya menyeringai.
"Hai," jawab Lily, berputar untuk tersenyum pada James, yang menatap rambutnya dan mengerang. Lily tertawa. "Aku akan menggeraikan rambutku tepat setelah resepsi, oke?"
James nyengir. Vernon sudah berdiri di ujung lorong di sebelah pendeta, dan gereja sudah dipenuhi para tamu yang memandang dekorasinya dengan kagum.
"Orang-orang menyukai dekorasimu," James berbisik di telinga Lily, yang balas tersenyum padanya.
"Tentu saja, aku yang mengerjakannya."
Terdengar suara orang berdeham di belakang mereka, dan ketika berbalik, mereka mendapati Andrew, bersama Petunia, sedang menatap tajam James. James melepaskan Lily dan berjalan ke bangkunya di bagian depan gereja di sebelah Jane. Lily menyipitkan mata pada ayahnya yang menyeringa. "Itu menyebalkan, Dad. Kukira Dad membuatnya takut," katanya, mengedik ke arah James.
"Itu tugasku," kata Andrew.
Lily, mengabaikan Petunia, berbalik menghadap ke depan.
"Sudah berapa lama kalian berdua berkencan?" tanya pendamping Vernon.
"Sudah lama, dan sebetulnya kami sedang berpikir untuk segera bertunangan," jawab Lily.
Pendamping Vernon menunduk, merasa tertolak. Lily bisa mendengar Andrew dan Petunia terkikik di belakangnya dan berbalik untuk mengedip pada kakaknya sebelum musik dimulai. Mereka berjalan lambat sepanjang lorong, dan segera saja Lily mendapati dirinya berdiri di sisi lain Vernon, mengawasi Petunia berjalan di lorong dengan ayahnya, menertawakan sesuatu yang dikatakan Andrew. Lily berpaling pada Vernon, melihat ekspresi gembira di wajahnya, bercampur dengan ekspresi yang sering terlihat di wajah James ketika menatap Lily. Lily menunduk, menghela napas; dia akhirnya bisa menerima bahwa Petunia dan Vernon memang saling jatuh cinta. Petunia tiba di altar, dan Andrew meletakkan tangan Petunia di tangan Vernon, seraya memberi Vernon tatapan tajam, sebelum duduk di samping istrinya dan merangkulnya.
Lily bertepuk tangan bersama yang lainnya ketika upacara selesai, mengawasi kakaknya yang tertawa sambil bergelayut di tangan Vernon Dursley, berjalan keluar dari ruangan dengan bahagia. Lily tersenyum lebar, tahu bahwa Petunia akan selalu berbahagia. James berdiri dan meraih tangan Lily, mengajaknya ke area resepsi. James duduk di salah satu kursi, menunduk mengamati piringnya, dan tersenyum lebar pada Lily.
"Lagi?" tanyanya.
Lily memutar matanya, mengabaikan gumam penasaran dari para tamu yang mengamati piring-piring mereka. Dia mencari orang tuanya, yang mengamati piring mereka dengan ekspresi kagum, lalu bertatapan dengan Lily sambil tersenyum. Grup band mulai bermain, dan Petunia dan Vernon melangkah ke lantai dansa dan memulai dansa pertama mereka.
"Dia tampak bahagia," kata Lily, tersenyum ke arah lantai dansa.
Ketika lagu berakhir, James berdiri dan menawarkan tangannya pada Lily. Lily menaikkan alisnya, menggelengkan kepala, namun James menariknya berdiri dan membawanya ke lantai dansa, diiringi tawa orang tua Lily.
James memutar tubuh Lily dan mulai berdansa seiring semakin banyak orang lain turun ke lantai dansa. Berbagai pasangan bergantian terus berdansa hingga tiba waktu makan malam. Ketika semua sudah duduk, pendamping Vernon bangkit dengan membawa gelas anggur di tangannya. Saatnya berpidato.
"Kau siap berpidato, Sayang?" tanya Andrew, mencondongkan badannya ke arah Lily, yang menggelengkan kepala. Andrew mengusap lutut Lily menenangkan dan duduk tegak untuk mendengarkan pidato pendamping Vernon. Ketika dia selesai, dia menunjuk Lily.
"Berikutnya, pendamping pengantin perempuan, adik Petunia, Lily, akan memberikan sambutan," katanya seraya duduk.
Lily menelan ludah, mencengkeram tangan James, sebelum berdiri dengan gemetar.
"Hai," dia memulai, tersenyum gugup pada semua orang. "Aku Lily Evans, adik Petunia, dan aku ingin mengatakan beberapa hal." Petunia memandangnya dengan mata melebar tak percaya. "Tinggal bersama Petunia bukanlah hal yang mudah, dan sebagai adiknya, aku tahu persis itu. Dia bangun sangat pagi, dan karena tidak ingin sendirian, dia akan membangunkanmu meskipun kau masih sangat mengantuk." Para tamu tertawa. "Tetapi dia adalah salah satu kakak terbaik di dunia," Lily bertatapan dengan Petunia, mengingat saat-saat sebelum dia tahu tentang Hogwarts. "Aku ingat ketika aku berusia empat tahun, Petunia dan aku kursus balet bersama, dan dia selalu meneriakiku untuk tidak menginjak kakinya." Lagi-lagi hadirin tertawa. "Aku sudah sering menginjak kakinya sekarang, baik secara harfiah maupun kiasan, dan karena sekarang dia sudah menikah, aku takkan pernah bisa melakukannya lagi." Mata Lily berkaca-kaca, dan berpaling pada Vernon. "Vernon, aku ingin mengucapkan selamat padamu karena telah menjadi orang yang kepadanyalah kakakku jatuh cinta, dan aku meminta-tidak, aku memohon-padamu untuk menginjak kakinya setiap saat. Buat dia tersinggung, dorong dia ke dinding, karena aku tahu Petunia sangat menyukai bahwa ada seseorang yang bisa diteriakinya, dan karena kau telah mengambilnya dariku, aku tak bisa menempati posisi itu lagi, jadi kuserahkan tanggung jawab itu padamu." Para tamu tertawa, dan Lily mengangkat gelasnya. "Selamat untuk kalian berdua."
Semua orang bertepuk tangan dan bersorak. Lily duduk seraya menghela napas, lalu berbisik, "Tadi itu memalukan."
James tergelak. "Kukira itu pidato yang hebat."
Lily memutar matanya.
Usai resepsi, Petunia masuk ke dalam mobil pengantin bersama Vernon, melambai pada mereka, dan Lily, James, Andrew, dan Jane beranjak pulang. Lily dan James akan segera berangkat setelah berganti pakaian untuk menghabiskan sisa liburan di rumah James. Keduanya mengenakan jins dan kaos, dengan jaket menutupinya dan melilitkan syal di sekeliling leher. Lily dan James turun menyeret koper mereka. Sesampainya di bawah, ternyata kedua orang tua Lily telah menunggu di kaki tangga. Lily memberikan pelukan selamat tinggal pada mereka.
"Aku akan merindukan Mum dan Dad," katanya selagi orang tuanya mengecup keningnya.
"Kami akan lebih merindukanmu. Berhati-hatilah," dia berpesan, lalu berpaling pada James. "Senang sekali bertemu denganmu, kuharap kapan-kapan kau bisa membawakan sapu terbang supaya aku bisa mencobanya."
Tertawa, James menjabat tangannya.
"Suatu kehormatan bisa bertemu Anda berdua," katanya seraya mengulurkan tangan pada Jane, yang mengabaikan ulurannya namun menariknya dalam pelukan.
"Jaga dirimu," kata Jane, sekarang meletakkan kedua tangannya di pipi Lily.
Lily dan James mengangguk dan keluar dengan menyeret koper mereka. Mereka akan ber-Apparate ke rumah James.
"Kita akan segera bertemu lagi!" ujar Lily, membawa kopernya di satu tangan sementara tangan lainnya menggandeng James. Mereka pun berputar. Lily merasakan ada sebuah kaitan menariknya di pusar dan menjejalkannya ke dalam lubang sempit. Keduanya telah mendapatkan lisensi Apparation sejak kelas enam, tetapi masih membenci ber-Apparate. Dia membuka mata dan mendapati dirinya berdiri di depan gerbang sebuah rumah yang sangat megah.
"Ini rumahmu?" cicitnya, menatap James, yang mengangguk. "Besar sekali!"
James mengangkat bahu, menariknya masuk.
"Ayo."
Lily maju selangkah.
oOOOo
A/N: Untuk chapter2 berikutnya, tidak bisa janji akan secepat ya waktu awal-awal ya. Chapter2 berikutnya jauh lebih panjang daripada sebelumnya, kira-kira sepanjang chapter 9 ini. Kalau lebih dari 7.000 kata, tidak menutup kemungkinan akan saya penggal jadi 2 bagian juga supaya tidak terlalu lama update-nya. :)
