Wolf Moon

Genre: Fantasy, Romance

Pair: Kurosaki Ichigo and Kuchiki Rukia

Disclaimer: Tite Kubo


Rukia tidak bisa tertidur nyenyak malam itu. Matanya benar-benar terjaga hingga dia bisa memutari kamarnya berkali-kali. Rukia jelas-jelas tidak punya kuasa untuk membebaskan Ichigo, penjara itu dijaga ketat 24 jam. Dan belakangan itu, ketika dia baru kembali, Byakuya sudah menembaknya dengan beberapa pertanyaan. Rukia berhasil menjawabnya dengan mulus, walaupun dia melakukan pengeditan besar-besaran di sana-sini. Membutuhkan waktu lima menit sampai Rukia bisa mengunci dirinya sendiri di kamar.

Sebelum matahari pagi tampak di garis horisontal, Rukia bisa mendengar suara ricuh dari luar jendela kamarnya. Dengan rasa penasaran, dia mengintip dari balik gordennya. Ada beberapa penduduk sedang berjalan dalam balutan pakaian tebal mereka menuju alun-alun desa. Rukia berjalan sedikit ke samping agar bisa melihat lebih jelas.

Oh, tidak, batin Rukia, mereka pasti sudah memutuskan hukumannya.

Gadis itu langsung mengambil busur serta panahnya yang digantung di tembok, dan berjalan keluar dari rumahnya. Suasana masih gelap, dan udara dingin menusuk-nusuk. Ketika tiba di alun-alun desa, di sana sudah terpampang panggung besar dari kayu, juga beberapa penduduk berdiri mengitarinya. Tidak ada satu pun orang yang Rukia kenal, jadi dia mencoba bertanya kepada siapa saja.

"Apa yang terjadi di sini?"

Merasa ditanya, orang itu pun menoleh untuk menjawab Rukia. "Kau tahu kalau penduduk sudah menangkap manusia serigala yang dicari itu? Katanya mereka akan memberinya hukuman mati di sini."

Matanya membeliak. "Kapan dimulainya?"

"Sebentar lagi, tapi ada juga yang mengatakan eksekusi berlangsung satu jam ke depan. Karena tidak ada kepastian, maka kami sudah berkumpul di sini."

Rukia menggigit bibir bawahnya dengan ngeri. Dan ketakutannya semakin bertambah pesat ketika penduduk datang terus menerus. Orangtuanya belum ada, atau mungkin mereka belum mendengarnya. Dia membutuhkan sahabatnya di sini. Rukia terus menoleh ke belakang untuk berharap Grimmjow, atau siapa saja yang dikenalnya segera datang.

Sejurus kemudian, keributan datang dari arah lain. Beberapa pria bertubuh kekar menggiring Ichigo ke alun-alun desa. Dia memberontak di cengkeraman mereka, dan meneriakkan bahwa dirinya tidak bersalah. Penduduk bungkam bersamaan melihat manusia serigala itu. Dirinya masih dibelenggu dengan rantai kokoh, dan penampilannya sudah berantakan. Rukia membungkam mulutnya ketika melihat mereka mendorong Ichigo untuk berlutut di depan sang kepala desa. Kepalanya mendongak dengan bengis kepada orang yang akan mengeksekusinya itu. Semua teriakan tidak wajar menjadi hening.

"Selama bertahun-tahun aku menjabat sebagai kepala desa, baru kali ini aku melihat rupa manusia separuh serigala yang dikabarkan seharusnya hanyalah makhluk mitos. Selama ini mereka selalu menyembunyikan diri, dan menyerang diam-diam hanya pada saat ada kesempatan. Dan, dari sumber yang kami dapatkan, akhirnya kau tertangkap."

Warga mulai menyuarakan sorakannya dengan keras. Entah terdengar seperti sorak kemenangan atau mencemooh. Rukia semakin terdesak keluar oleh banyaknya jiwa yang menyaksikan.

"Seperti yang kalian tahu," mata kepala desa itu hinggap di setiap penduduknya, "adalah suatu kehormatan jika kita bisa melenyapkan makhluk ini sebagai ganti atas apa yang pernah mereka lakukan terhadap kita."

"Itu bohong! Semuanya tidak benar!" Ichigo membentak dari tempatnya. Sayang sekali suaranya begitu mudah ditelan oleh sorak-sorai warga. "Aku tidak pernah melakukan apa-apa terhadap kalian!"

Kepala desa dengan murka menatapnya. "Lalu apa yang terjadi malam itu? Malam bulan purnama ketika kau menghancurkan sebuah kedai daging di sana?"

Ichigo menggertakkan giginya. "Aku tidak... melakukan apa-apa!"

Hanya dengan isyarat mata dari kepala desa, punggung Ichigo sudah ditendang dengan kejam oleh para algojo yang menjaganya. Pemuda itu tersungkur dengan napas memburu. Raut wajahnya terkejut ketika dia lagi-lagi disambut gemuruh dari warga. Rukia mendorong orang-orang di sekitarnya sekuat yang dia bisa. Ichigo menoleh ke kerumunan dengan horor, kini air mukanya menjadi takut ketika matanya berserobok dengan Rukia.

"Aku rasa aku tidak perlu memberikan permintaan terakhir." Kepala desa itu memerintahkan anak buahnya untuk menyeret Ichigo ke atas tiang dengan tali tambang di hadapannya, menunggu leher seseorang untuk dilahapnya. Dia menahan kakinya agar tidak berjalan lebih dekat ke tiang gantungan itu, jantungnya sudah meledak-ledak tidak karuan.

Rukia berteriak dari tempatnya, "Hentikan! Kalian semua, hentikan ini!"

Namun suaranya hanya ditelan begitu saja, apalagi Rukia berdiri paling belakang, dia tidak bisa menerobos lebih jauh lagi. Otaknya berpikir keras untuk mencegah eksekusi itu. Rukia melihat ke sebuah rumah di belakang punggungnya, dia lalu berlari ke sana dan memanjatnya.

"Kami terpaksa membunuhmu sebelum kau menyulih wujud. Karena kami tahu akan lebih mudah menyingkirkan manusia serigala ketika mereka dalam wujud seperti kami."

Para algojo mulai melingkarkan tali tambang tersebut di leher Ichigo. Pemuda itu memandang setiap kepala yang menontonnya, tapi tidak ditemukan satu pun keberadaan Rukia. Apakah dia melarikan diri karena tidak berani menyaksikannya? Keringat dingin perlahan-lahan membanjiri wajah pemuda itu. Ichigo berusaha menahan gigi gerahamnya yang bergemeletuk.

Sebelum Ichigo bertemu dengan kematiannya di detik-detik terakhir, sebuah anak panah bergemerincing di atas kepalanya, menembus tali tambang itu hingga putus. Semua orang hampir terkesiap bersamaan, mereka saling memandang satu sama lain, dan Ichigo-lah orang pertama yang melihat Rukia berdiri di atas atap rumah dengan busur di tangannya. Alisnya menekuk tajam seperti sayap elang.

Rukia langsung melompat turun dan berlari ke kerumunan. Tidak peduli tatapan seperti apa yang mereka berikan. Kepala desa mengeluarkan perintahnya lagi, "Penjaga, tangkap dia!"

"Hentikan sebelum aku melemparkan ini menembus kepala kalian seperti tali itu!" Rukia menarik keluar anak panah yang tajam dan menempelkannya di busur tersebut. "Dan, jangan ada yang menyentuhnya!" Dia berteriak sambil berjalan perlahan ke panggung. Walaupun suaranya bergetar ketakutan karena sudah menyita perhatian mereka seluruhnya, tapi Rukia yakin yang dilakukannya ini benar. Sekarang dia sudah berdiri di depan Ichigo.

"Apa yang mau kau lakukan, gadis kecil? Pulang dan kembalilah kepada orangtuamu."

"Aku hanya memohon untuk hentikan omong kosong ini. Ichigo memang werewolf, tapi bukanlah monster jahat yang selama ini kalian pikirkan. Senna. Ya, benar. Senna-lah werewolf yang ingin membunuhku. Semua cerita yang dia katakan kepada kalian bukanlah kenyataannya."

Sekarang suara penduduk mencemoohnya. Rukia tetap tegar berdiri dengan kedua kakinya. "Apa kau punya buktinya?" seseorang berteriak dari tempat dia berdiri.

Dengan cekatan, Rukia menarik lengan bajunya seperti yang dia lakukan di hadapan Grimmjow. Luka cakar yang sudah kering itu masih membekas di sana, dia pun berhasil membuat orang-orang itu terkejut melihatnya. "Ini yang dia lakukan padaku! Mungkin kalian pikir luka ini karena aku terjatuh, atau karena kecelakaan kecil lainnya. Tapi, apakah pernah salah satu dari kalian mempunyai luka panjang melintang seperti ini?"

"Rukia," Ichigo memanggil dengan khawatir. Dia menggelengkan kepalanya sambil berkata "jangan lakukan itu" tanpa suara. Rukia hanya mengangguk untuk mengatakan kalau dia sudah hampir berhasil mencelikkan mata orang-orang buta itu.

"Jika kalian menganggap dia berbahaya, lalu kenapa dia tidak berubah dan memakan kalian di sini sekarang juga? Memakanku? Terlebih, aku berada di sini, dekat dengannya." Rukia dengan berani memandang setiap raut wajah yang kebingungan. Dia cukup bangga karena suaranya tidak lagi gemetar. "Dia werewolf. Tenaganya melebihi empat tenaga kuda yang disatukan. Dia bisa dengan mudah menghancurkan rantai yang kalian kenakan padanya, dia bisa dengan mudah menghancurkan sel penjara di gedung itu. Tapi Ichigo tidak melakukannya karena dia tahu di mana tempatnya berada."

"Aku sebagai saksi di sini." Seseorang unjuk bicara di paling belakang kerumunan. Suasana menjadi hening ketika Grimmjow dalam sesaat sudah menjadi pusat perhatian. Air mukanya tenang, seakan pemuda itu sudah terlalu sering melihat pemberontakan di atas tempat hukuman mati. "Memang aku tidak bisa dibilang melihat bagaimana Senna ingin membunuh Rukia, tapi aku percaya setelah mendengar ceritanya serta tanda bukti itu. Ichigo Kurosaki tidak bisa disalahkan, yang ada di tempat kejadian hanya mereka bertiga, dan kalian tidak berhak membantah cerita dari korban yang mengalami peristiwa itu. Jika kalian meminta lebih banyak bukti, aku bisa mengeluarkannya dari mulut si betina."

Ternyata Rukia baru menyadari kalau orangtuanya juga tengah menyaksikan di belakang punggung Grimmjow. Ayahnya jelas-jelas meminta jawaban atas apa yang sudah dilakukannya, sementara Hisana, berdiri dengan lemah di samping lengan ayahnya.

"Lepaskan dia," titah Grimmjow, tidak peduli kalau kuasanya tidak lebih besar daripada seekor semut di hadapan ketua desa. Raut jengkel terpampang di hadapannya.

"Punya hak apa kau memerintahku? Aku kepala desanya."

"Sebagai gantinya, aku akan mencari Senna dan membawanya di hadapan kalian. Jika itu tidak berhasil," safir biru miliknya mencambuk kerumunan dengan cepat, hanya untuk melihat kepala desa, "kalian boleh membunuhku untuk menggantikan Ichigo Kurosaki. Bagaimana?"

"Grimmjow," Rukia menggertakkan giginya. "Apa-apaan kau?"

Oksigen untuk memberi makan kerumunan itu seakan-akan tersedot habis. "Kau manusia!" kepala desa menyalak, "Apa untungnya kalau aku memenggalmu hidup-hidup bahkan di detik ini? Yang mengganggu adalah monster itu, dia seharusnya tidak layak kau biarkan hidup dan pergi ke alam bebas."

"Sejujurnya, aku pun tidak berbeda jauh dengannya." Grimmjow membalas dengan kepala dingin, bibirnya hampir melemparkan seringaian. "Kalau aku tidak berhasil, maka aku akan menunjukkannya pada kalian."

Aku rela menukar apa saja yang menjadi milikku agar bisa hidup normal.

Grimmjow, apa akal sehatnya sudah meledak menjadi serpihan? Rukia melotot padanya. Walaupun dia tidak terlahir normal, tidak seharusnya dia mempertaruhkan nyawa seperti itu. Kehidupannya sudah sangat menyenangkan bersama ayah angkatnya serta teman-teman yang dia miliki di sini. Kenapa dibuang begitu saja?

Kepala desa menimbang-nimbang kembali. Apa maksudnya "tidak berbeda jauh"? Apakah selama ini salah satu warganya adalah manusia serigala dan dia berbaur dengan yang lain? Dia melihat Grimmjow, benar-benar melihat ke dalam matanya. Tidak ada kebohongan, pemuda itu menantangnya dan dia seperti orang yang bertipe tidak akan menarik kembali ucapannya. Pada akhirnya dengan berat hati, kepala desa itu pun memerintahkan para algojonya untuk melepaskan ikatan Ichigo. Rukia langsung melingkarkan lengannya di atas bahu dan membopongnya turun dari panggung.

Rukia ingin merutuki kebodohan Grimmjow atas apa yang sudah dikatakannya. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Kepala desa sudah terlanjur menerima taruhan itu. "Lakukan sekarang," cetusnya sambil memandang Grimmjow dari atas panggung, matanya menyipit tajam.

Matahari sudah menampakkan wajahnya ketika pemuda bersurai biru itu meninggalkan alun-alun dan membelah kerumunan untuk segera berjalan ke hutan. Dia bahkan tidak melirik kepada Rukia sedetik barang pun. "Kita tidak boleh membiarkannya pergi sendiri," kata Ichigo di samping Rukia, melihat pemuda itu menghilang di balik pepohonan. "Senna, mau bagaimanapun, dia berbahaya."

Sekarang ratusan jiwa yang menonton itu kebingungan. Mereka berbicara satu sama lain, sebagian besar menatap penuh harap kepada ketua desa untuk mendengar perintah selanjutnya. Helaan napasnya yang letih telah meluruskan semuanya. "Kita tunggu hingga bocah itu kembali. Jika dia tidak menepati janjinya, cari dan bunuh dia beserta werewolf itu. Sekarang, aku harus mengembalikannya ke dalam sel."

"Tidak, biarkan dia tinggal di rumahku," sergah Rukia, "aku menjamin dengan risiko apa pun tidak akan membiarkannya keluar dari sana. Dia harus dirawat, aku ragu kalau kalian akan memberikannya perawatan yang baik."

Kepala desa sudah lelah untuk memberinya lebih banyak kemungkinan. "Baiklah, terserah. Tapi, perbatasan harus tetap dijaga sampai temanmu itu kembali."

Rukia membungkuk. "Terima kasih."

Dan, hanya itu saja, seluruh penduduk bubar dari sana. Tampak sebagian besar kecewa, namun ada beberapa yang kasihan. Mereka menyudutkan Ichigo dengan berbagai macam sorot mata.

(*)(*)(*)

"Sekarang, apa kau mau menjelaskan semuanya padaku?"

Sesuai dugaan, Byakuya sudah meminta tempat yang privasi untuk dia berbicara dengan putrinya. Ichigo ditempatkan di kamar Rukia, duduk sendirian di sana, menunggu hingga gadis itu menyelesaikan konversasinya dengan sang ayah. Hisana sendiri duduk di dapur, mendengarkan diam-diam.

"Berapa banyak yang sudah Ayah dengar?"

"Aku mendengar cukup banyak," jawab Byakuya dengan tegas.

Rukia menghela napas sebelum memulai. Masalahnya, dia tidak tahu harus mulai dari mana. Terlalu banyak yang butuh dijelaskan pada ayahnya. Sementara dalam pikirannya, sudah ada ide yang mekar. "Sebenarnya aku tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan semuanya. Kau ingat ketika ada manusia serigala datang dan menghancurkan kedai daging?"

"Ya, aku ingat persis. Lanjutkan."

"Jadi, pada hari itu aku pergi ke hutan untuk meminta penjelasan dari Ichigo. Jika dia memang pelakunya, maka aku mungkin bisa meluruskan hal ini. Tapi, di tengah jalan aku bertemu dengan salah satu teman werewolf-nya. Dialah Senna yang sekarang kita bicarakan ini. Gadis itu berkata akan membantuku untuk mencari Ichigo. Namun, dia membawaku ke tebing dan di sanalah dia menyerangku mentah-mentah."

Byakuya menyandarkan punggungnya yang pegal di kursi. "Kenapa kau tidak bercerita padaku?"

"Aku takut Ayah akan marah. Selama ini Ayah tidak pernah mengizinkanku menapaki hutan."

"Memang tidak. Lihat akibatnya, kau terluka dan terlibat dalam hal ini."

"Ichigo tidak seharusnya dijatuhkan hukuman mati karena tidak ada yang dilakukannya selain melindungiku dari monster yang sebenarnya," kata Rukia sambil melirik ke dapur, ibunya masih duduk termenung di sana. Tidak memerhatikan mereka berdua melainkan melihat ke luar jendela, tetapi dia tahu ibunya bisa mendengar dengan baik. "Apa membutuhkan alasan lain kalau werewolf adalah ancaman terbesar manusia?"

"Itu baru satu di antara puluhan werewolf yang hidup."

Rukia diam-diam menarik dan menghela napasnya. "Sekarang Ayah sudah puas? Karena aku harus segera pergi menyusul Grimmjow. Dia tidak tahu siapa yang akan dihadapinya."

"Tidak," Byakuya sudah cukup mendengar setiap permintaan putrinya dan dia berdiri dari kursi. "Aku tidak akan membiarkan kau pergi lagi ke hutan itu."

Rukia hampir menyela sampai dia teringat sesuatu. Benda yang selama ini bersembunyi di balik kaus bajunya, gadis itu langsung menarik keluar kalung rubi tersebut. Byakuya jelas-jelas memberikan tatapan kedua. Samar-samar dia ingat akan kalung ini.

"Benar, ini kalung yang Ayah buat," ucap Rukia, sudah lebih dulu mengetahui pertanyaan ayahnya. "Benda ini yang akan melindungiku dari hewan buas macam apa pun."

Byakuya kini terbata-bata, entah ingin bertanya apa, tetapi dia hanya menatap kalung itu dengan terkejut. Rukia menggigit bibir bawahnya untuk membatalkan niatnya bertanya lagi. Jika ingin pergi ke hutan dan melaksanakan idenya, dia harus melewati sang ayah terlebih dahulu. Dan itu tidak mudah.

"Byakuya," Hisana memanggil dengan suara datar dari arah dapur. "Aku sudah mendengar semua ceritanya. Biarkan dia melakukan apa yang harus dilakukannya. Rukia adalah putrimu, tapi kau tidak memercayainya."

"Tidak, Hisana, justru karena dia putriku, aku tidak boleh membiarkannya melakukan hal yang berisiko lagi."

Terdengar suara kursi yang berderit pelan dari dapur. Hisana berdiri lalu menghampiri ruang tamunya. "Pergilah, Rukia. Tetapi berhati-hatilah."

"Terima kasih, Bu." Rukia langsung berlari ke kamarnya. Kini Byakuya melemparkan kembali tubuhnya yang lelah ke kursi.

"Aku tahu apa yang sedang kupikirkan, Byakuya," kata Hisana pelan, "selama kau bekerja, Rukia juga telah melakukan tugasnya dengan baik. Sangat baik malah jika boleh kukatakan. Dan, sangat wajar untuknya memilih apa yang dia inginkan."

"Baiklah, aku memang menghargai apa yang telah dilakukannya di luar jam istirahatku. Tapi, bersama pemuda itu?" Byakuya menggeleng kepalanya. "Aku tidak yakin."

"Kita mungkin bisa mengenalnya lebih dalam."

Sang Kuchiki mengernyitkan alisnya. Mata abu-abunya melihat senyum Hisana yang mulai mengembang. "Rukia telah memberikan kita kesempatan untuk berbicara padanya hari ini."

Rukia membuka pintu kamarnya dan mendapati Ichigo tengah duduk membuka-buka buku yang dipinjamnya dari perpustakaan. Pemuda itu tersenyum sambil menutup pelan buku tebal miliknya. "Lama sekali, apakah sesulit itu?"

Rukia mencegah dirinya sendiri untuk tidak memutar bola matanya. "Yah, aku harus mendongengkannya terlebih dahulu. Ichigo, aku harus keluar sebentar untuk menyusul Grimmjow."

"Apa?" Ichigo membeliak. "Dan meninggalkanku sendiri dengan kedua orangtuamu? Aku tidak yakin ini keputusan yang benar."

"Tidak. Jangan katakan itu," Rukia menunjuk batang hidung Ichigo ketika dia membuka jendelanya untuk keluar. "Pegang janjiku kalau mereka tidak akan berbuat sesuatu yang buruk. Lagi pula, kau tidak bisa keluar, perbatasan sudah dijaga."

Ichigo melirik melewati jendela. Memang benar, beberapa pria besar berdiri di sekitar perbatasan Karakura. Pemuda itu mengerang. "Setidaknya kembalilah dengan cepat dan selamat," tutup Ichigo dengan suara rendah.

"Aku akan."

"Oh, ya, Rukia."

Gadis itu berhenti di tengah-tengah jendela yang terbuka. Dari kepala hingga ke bahu sudah berada di luar. Dia menoleh kembali. Secara tidak sadar gadis itu menahan napas dengan tenang. "Ya?"

"Jika kau tidak sengaja bertemu keluargaku, katakan kalau aku..."

"Baik-baik saja," Rukia menyambung sambil melemparkan senyum menenangkan. Gadis itu cukup terkejut ketika Ichigo menyebutkan tentang keluarganya. Kebetulan ide yang sudah terbentuk di kepalanya sekarang ada hubungannya dengan mereka. "Aku melakukan ini juga untuk membalas semua yang telah kau lakukan padaku, untukku."

Ichigo merundukkan wajahnya. Dia benar-benar malu melihat sosok Rukia yang begitu berani di hadapannya sementara dia—apa? Menunggu sampai kedua orangtua Rukia menginterogasinya? Sebentar lagi gadis bermarga Kuchiki itu harus menghilang ke hutan dan membantu Grimmjow yang mungkin bisa gagal kapan saja, sialan, Ichigo tidak mengharapkan itu terjadi. Kau tahu, mungkin ada cara lain yang bisa kulakukan. Seperti, membayar seseorang atau dua orang untuk mengalihkan perhatian mereka dan kita bisa menyelinap, dan... Ichigo berharap Rukia cepat-cepat pergi sebelum tubuhnya melaksanakan pikiran itu.

Seolah-olah seperti wahyu, gadis itu pun melompat keluar dari jendela kamarnya. Ichigo geram, tapi dalam volume kecil. Jika ingin, dia bisa saja melampiaskan ketidakberdayaannya terhadap tembok. Tapi, lebih baik begini daripada dikurung dalam ruangan pekat itu, pikirannya tidak bisa berjalan dengan sehat.

Dan sampai sekarang Kurosaki sulung itu bertanya-tanya.

(*)(*)(*)

"Oh, seorang pesulih-wujud juga rupanya. Ada perlu apa?"

Grimmjow melihat dengan jeli wanita di hadapannya ini dari ujung rambut hingga ke sepatu kotornya. Senna, dari hari ke hari, tetap terlihat sama. Rambutnya tidak dikuncir kuda seperti yang Rukia ceritakan, hanya digerai begitu saja dan tampak kering. Grimmjow dengan hati-hati agak menjaga jarak, was-was jika perempuan yang sudah dicap gila itu menyerang mendadak.

"Aku harus membawamu ke Karakura," Grimmjow menjawab blak-blakan, "kau tidak berhak menolak. Aku sudah mencari sejauh ini dan nyawa temanku dipertaruhkan."

"Memangnya aku peduli soal itu?" Senna meludah, "pulang saja dan minum susumu, Kucing Biru."

Alis pemuda itu mengernyit. "Kucing Biru? Itu baru." Iris samuderanya menggelap selama sedetik sebelum berubah kembali menjadi warna langit yang tak cerah. Kata-katanya tidak mencambuk Grimmjow, tapi dia benar-benar tidak tahan untuk melempar kembali julukan "Kucing Biru" itu kepada Senna sesaat setelah dia menyeretnya. "Aku memaksa."

"Dan kalau aku tidak mau?"

"Maka kau sudah melanggar aturannya."

Secepat kilat, wujud manusia itu sudah berubah menjadi seekor harimau kumbang yang gelap. Mata zamrud-nya berkilat ketika melihat Senna. Selama beberapa detik, gadis itu cukup terkejut dengan pemandangan di depannya. Shapeshifter, seperti apa yang dikatakan orang-orang, termasuk spesies langka selain manusia serigala. Mereka betul-betul menjadi hewan, tidak bisa berbicara, dan digerakkan oleh insting.

Dan, tentu saja kadar kekuatannya masih bisa digenggam oleh cakar werewolf.

Senna cukup menghindar dengan mudah, setengah merundukkan tubuhnya kalau-kalau macan itu melompat ke atas. Tapi, Grimmjow sudah melewati banyak tantangan dan latihan selama dia hidup. Keempat kakinya yang cekatan itu sudah memutar haluan untuk menyeimbangi Senna. Aku benar-benar beruntung, pikir Senna dalam hatinya. Seekor kucing liar bukanlah ancaman terbesar yang sulit untuk dimusnahkan. Dia cukup menggigit lehernya sampai kucing itu mati kehabisan napas lalu menggerogotinya hingga tidak tersisa. Berpikir seperti itu membuat darah Senna menggelegak di puncuk kepalanya.

Grimmjow kini menampakkan taring-taringnya yang tajam dan putih ketika menerjang ke arah Senna. Kedua cakarnya terjulur ke depan, seolah-olah ingin mencekiknya dalam wujud manusia itu. Tetapi Grimmjow terlalu cepat puas. Dia lupa kalau Senna masih bisa bertransformasi ke wujud yang lebih menyeramkan. Seperti makhluk yang dilihatnya di dalam tubuh Ichigo, menyayat menerobos matanya.

Tidak butuh tiga detik hingga Grimmjow menerima pukulan dari cakar Senna dan terbanting ke sebuah batang pohon; dia tidak mungkin menghindar di udara. Pohon itu dengan mudahnya terbelah dua seperti batang korek api, dan tubuh kucing hitam itu jatuh tergeletak di bawahnya. Senna—dalam wujud werewolf sempurna—menyeringai kepadanya. Bahkan dengan pukulan ringan saja kucing liar itu sudah tidak berdaya.

Tetapi dia kembali bangkit di atas keempat kakinya. Gerakannya sedikit limbung dan kucing itu mendengus. Dia mendesis seperti ular yang akan mengeluarkan bisanya.

"Apa hanya itu kemampuan terbaikmu? Kau sungguh tidak sabaran," cemooh Senna dengan suara paraunya, terdengar seakan ada pecahan kaca menumpuk di tenggorokannya. Grimmjow sama sekali tidak merespons, bodoh memang kalau mencoba berbicara dengan hewan. Geraman kecil terdengar dari tenggorokan shapeshifter itu. Dia bersiap-siap untuk serangan kedua.

"Coba serang aku maka kau akan kehilangan beberapa tulangmu."

Lagi-lagi kucing itu melesat, tetapi kali ini dengan baik dia menghindari layangan cakar yang mungkin bisa membuatnya menjadi tidak berbentuk lagi. Alih-alih menyerang dari depan, kucing itu memanjat ke atas pohon dengan kukunya yang kuat. Senna agak terkecoh rupanya, dan dia sempat menoleh membelakangi pohon yang dipanjat Grimmjow. Namun, penciuman seorang werewolf tidak bisa diremehkan. Senna langsung mencoba merobohkan pohon itu.

Suara kayu-kayu yang patah membuat hutan menjadi gempar. Burung-burung berkicau tidak nyaman dan mereka langsung terbang pergi ke bagian hutan yang lebih tenang. Hewan-hewan kecil seperti tupai, rakun, keluar dari rumah mereka dan berlari tunggang langgang. Merasa takut dan terancam apabila terkena getah dari pertarungan dua makhluk langka itu. Selagi Senna menyibukkan dirinya dengan pohon itu, Grimmjow dengan gesit melompat dari atas batang pohon itu dan mendarat dengan baik di atas punggung Senna.

Serigala betina itu cukup terkejut, seolah-olah ada laba-laba yang jatuh ke atas bahunya. Dia langsung menggonggong marah, mencoba menyingkirkan parasit itu dan meremukkannya seperti serangga. Grimmjow mencakar permukaan kulitnya dan memberikan gigitan keras di beberapa bagian tubuhnya. Keduanya sama-sama membuka rahang dengan heboh. Grimmjow membentengi dirinya sendiri dengan mengaum, tetapi itu tidak membuat Senna menciut sama sekali. Betina itu malah melayangkan cakarnya ke belakang untuk menghalau si kucing liar pergi dari atas tubuhnya.

"Brengsek!" Senna mendesis ketika luka yang diterimanya semakin banyak. Grimmjow sudah membuka rahangnya lagi untuk memberikan gigitan yang kesekian kali, tetapi kesempatan itu hilang ketika Senna menamparnya keras dengan cakar yang terbuka lebar. Macan itu mengaum kesakitan sebelum dirinya terlempar jauh lagi. Napas keduanya sudah memburu, tetapi hanya Grimmjow yang tidak tampak lelah sama sekali. Sialan, dia seharusnya lebih lelah ketimbang Senna, apalagi berkat beberapa pukulan yang sudah melayangkan tubuhnya ke udara.

Tidak mau kalah, sekarang giliran Senna yang menyerangnya duluan. Grimmjow, sambil mendesis, melangkah mundur dan tubuhnya agak tertekuk untuk melindungi dirinya. Macan itu jelas tahu kapan dia harus menghadapi bahaya. Tetapi serigala itu terlanjur berada di depannya dengan mata dan taring yang ingin merobeknya. Senna punya otak yang cukup bisa mengatur jalannya pertarungan ini agar tidak diseret, dia sudah punya keunggulan itu terhadap Grimmjow, tapi kenapa sulit sekali untuk menyingkirkan hama ini. Tubuh seekor macan pastilah lebih lemah dari tenaga werewolf.

Dengan mudahnya Grimmjow membiarkan dirinya dicakar oleh serigala besar itu. Otak harimau tidak lebih kecil dari kacang polong, dan Grimmjow tidak punya hak kuasa penuh untuk mengontrol dirinya dalam wujud itu. Bulunya yang indah kini sudah berantakan dan beberapa sobekan kecil merusak tubuhnya. Grimmjow belum mau mati sia-sia, dia pun berubah kembali dalam wujud manusia dan menopang tubuhnya yang lelah ke sisi pohon. Matanya rabun karena darah mengalir turun dari pelipisnya, rambutnya yang berdiri tegak itu kini layu menutupi sebagian wajahnya. Shapeshifter itu bagaikan pedang bermata dua.

"Kau tetap memaksa?" Senna menyeringai ketika kemenangan sudah bisa diraih di ujung cakarnya. "Daripada membuang nyawamu dengan konyol, kembalilah ke desa dan lihat temanmu dihukum mati di sana."

"Itu lebih konyol lagi," sahut Grimmjow parau, "aku tidak bisa menarik kembali apa yang sudah kukatakan. Ini bukan masalah harga diri, tetapi nyawa yang jadi taruhan."

Geraman sebal keluar dari rahang werewolf betina itu. "Sudah kubilang aku tidak peduli, dalam kondisi seperti apa pun! Jika kau tetap memaksa, maka aku tidak punya pilihan lain!"

"Begitu pula denganku." Pemuda itu mencoba menyeringai, namun kepalanya tertunduk karena lelah. Grimmjow benar-benar menyesal karena dia hanya bertahan sampai di sini, dia bahkan belum memberi kabar apa pun kepada ayah angkatnya. Dan Rukia. Apa yang akan dilakukannya saat mengetahui dirinya gagal?

Senna mendengus, iris emasnya yang indah itu mengiris tajam pada sosok manusia; makhluk yang menjadi musuh bebuyutannya. Grimmjow sama sekali tidak bergerak, dia hanya berdiri di sana, menarik napas dengan cepat dan pendek. Kepalanya masih tertunduk.

"Maaf sekali untuk mengecewakanmu, Shapeshifter. Tapi, kau sudah menjadi kegagalan terbesar."

Di saat-saat terakhir pemuda beriris biru itu teringat dengan benda yang selama ini bisa membunuh serigala jadi-jadian. Perak. Dia merutuki kebodohannya sendiri, berpikir dengan mengandalkan kekuatan terkutuknya itu dia bisa menyeret monster ini dan dipertontonkan di jantung Karakura. Grimmjow mengepalkan tangan kanannya yang bersandar di batang pohon.

Senna sudah berlari dengan kecepatan tak kasat mata untuk menerkam targetnya. Ini terjadi tiba-tiba sehingga pemuda itu tidak bisa menghindar ke mana pun. Hal terakhir yang ada di pikirannya adalah berpegang pada otak kucing liarnya lagi. Tapi, Grimmjow hanya akan mendapati dirinya terhempas lebih dulu sebelum bisa menyulih terjadi begitu lambat di depan matanya, dan rahang yang terbuka lebar-lebar itu bagaikan lubang tanpa dasar yang akan menelannya. Detak jantung Grimmjow sempat berhenti selama sedetik sampai dia melihat—dengan mata melotot—sebuah anak panah berkecepatan tinggi melintas begitu saja dari sisi kanan tubuhnya. Dan masih banyak lagi panah yang menyusul seperti peluru, membuat anjing besar itu langsung terjerembap. Seakan belum cukup, dua serigala yang sama besarnya menerjang Senna. Raungan keras membelah udara.

"Apa yang—?"

"Grimmjow!"

Pemuda itu menoleh ke sumber suara. Rukia, dikelilingi tiga ekor serigala yang besar, berlari menghampirinya. Gadis itu kaget mendapati sahabatnya sudah babak belur, tetapi Grimmjow-lah yang lebih terkejut. Rukia dan werewolf. Bagaimana bisa? Apakah dia menjinakkan monster-monster ini dalam waktu beberapa jam?

"Kenapa kau ada di sini? Bersama mereka?"

Semua situasi mendadak ini membuat lidah Grimmjow agak kelu dalam memilih kata-kata. Tiga hewan buas yang tengah berkelahi, saling menancapkan taring mereka. Rukia yang berada di depannya seperti hantu.

"Setelah ini akan kuceritakan. Itu ayah Ichigo dan temannya, Renji Abarai." Kemudian gadis itu melihat tepat kepada luka di sekujur tubuh sahabatnya, terutama bagian rusuk. Manusia normal pasti sudah terkejang-kejang di tempatnya berdiri, tetapi Grimmjow, wajahnya hanya meringis menahan sakit. "Bertahanlah, aku akan—"

"Tidak, aku harus benar-benar menyeretnya pulang, dengan tanganku sendiri. Membuktikan bahwa aku tidak membatalkan perjanjian dengan orang tua itu."

"Bisakah kau tidak bersikap kecowok-cowokkan untuk kali ini?" Rukia menampar pelan lengan Grimmjow. "Kau memar di mana-mana, kehabisan darah, apakah dengan kondisi setengah sehat itu kau bisa membawanya ke desa? Bisa infeksi jika luka ini tidak segera ditutup."

Grimmjow harus bisa menelan bulat-bulat keadaannya yang memalukan begini. Dia masih bisa mendengar raungan-raungan itu memenuhi gendang telinganya. Apa yang membuatnya begitu bersemangat menarik Senna? Seharusnya Ichigo yang berada di posisinya. Tapi, Grimmjow sudah terlalu tua untuk dibilang kekanak-kanakkan. Dia tahu kalau Rukia mencintai pemuda itu sama seperti dia mencintai ayah angkatnya. Apa pun pasti akan dilakukan untuk menyelamatkan pasangannya.

Namun Grimmjow tidak mau gadis yang rapuh ini masuk ke dalam lubang buaya. Hanya karena hidupnya dikelilingi orang-orang tidak normal, bukan berarti Rukia harus terluka.

"Ayo, Grimmjow," ajak Rukia, memecahkan lamunannya, "aku yakin mereka akan segera menyusul."

Pemuda berambut biru itu berjalan dengan lelah, mengikuti Rukia. Kepalanya pusing bukan main, seolah-olah ada yang membuat lubang di dalamnya. Dengan baik hati, ketiga manusia serigala itu memberikan tumpangan kepada Grimmjow dan Rukia. Jika tidak ada pegangan, pemuda berusia 18 tahun itu pasti sudah jatuh seperti tongkat sapu. Rukia khawatir keadaan sahabatnya akan lebih parah jika menumpang di atas hewan ini. Seharusnya akan lebih baik jika Rukia pernah bertanya apakah Grimmjow pernah menunggang kuda, karena makhluk ini bisa lebih menantang.

"Apakah dia masih bertahan?" seekor serigala berbulu keemasan seperti Senna mengedikkan bahunya, tempat di mana Grimmjow duduk dengan punggung membungkuk ke belakang. Wajahnya gelap karena tertutup oleh helaian rambut birunya yang kusut. Rukia agak bimbang antara menjawab "ya", "tidak", atau "tidak tahu sama sekali". Dia mengguncang bahu bidang sahabatnya sambil sesekali memanggil namanya.

Grimmjow tersentak, secara tidak sadar ternyata dia baru saja memejamkan matanya yang kelelahan. Dia memberikan senyum baik-baik saja kepada Rukia yang duduk di depannya. "Sudah siap, kurasa."

Serigala itu mendengus mengerti, sejenak dia mengalihkan pandangan kepada werewolf yang masih gencar-gencarnya bertarung.

Kemudian, mereka meninggalkan hutan dan berlari menuju desa Karakura. Seolah-olah waktu telah mengejar mereka seperti pemburu.

To Be Continued


Reply Review:

uzumaki . kuchiki: Yuk, botakin bareng2 XD *plak* Terima kasih sudah Review, ini sudah di-update! :D

Morning Eagle: Nah di sini dia ngebantu Ichigo secara gak langsung, hehehe, walaupun sebenernya lebih kepada Rukia. Tos dulu dong, huehehehe XD. Maaf ya kalo battle-nya nggak panjang sesuai harapanmu :( Terima kasih Review-nya! :D

Naruzhea AiChi: Iya? Wah, saya kira udah cukup panjang, hehe. Oke, udah di-update, maaf kalo nggak kilat. Terima kasih Review-nya! :D

Guest: Makasih udah request, tapi maaf banget saya gak ahli di genre-genre itu :( Bukannya banyak ya di fandom ini? Hehehehe. Terima kasih sudah Review! :D

Akira21: Yang nulisnya aja gak tega gimana yang baca XDD. Terima kasih Review-nya! :D

Krabby paty: Yup, di sini dia dateng kok sama Renji. Nggak bakal ada penyerangan ke desa, werewolf-nya udah pada tau diri, hehehe XD. Semoga chapter ini sudah menjawab semua pertanyaanmu :D terima kasih Review-nya!

hendrik . widyawati: Saya lebih suka yang kayak begitu, hehehe ;) Terima kasih Review-nya! :D

Tadinya saya mau buat Ichigo yang nyerang Senna, tapi semua porsinya saya bagi ke Grimmjow. Soalnya kalau Ichigo yang membalaskan (dendam) Rukia (lagi) nanti yang lain malah kelupaan, kasian kan gak dapet giliran muncul, hehehehe *dor*

Dan, untuk battle yang sudah saya beritahu bakal keluar di chapter ini, bagaimana menurut kalian? Ada kemunduran, kemajuan, kurang panjang, atau tetap jalan di tempat? Saya nggak jago buat suasana battle hewan mitos itu kayak gimana, jadi bayangin sesuai imajinasi kalian ya~

Oke, kayaknya cukup itu aja. Chapter depan udah yang terakhir, jadi jangan kaget kalau alurnya kecepetan, hehehe. Terima kasih buat yang udah Review (sekali lagi), ketemu di chapter depan!