Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
High School DxD © Ichiei Ishibumi
.
.
.
Pairing: Naruto x Koneko
Genre: romance/adventure/fantasy
Rating: T
Setting: AU (zaman samurai. Desa-desa ninja dijadikan desa biasa.)
Sabtu, 6 Februari 2016
.
.
.
Fic request dari Bima Ootsutsuki
.
.
.
THE WANDERERS
By Hikasya
.
.
.
Chapter 10. Ternyata mimpi buruk
.
.
.
"KONEKO!"
Suara teriakan keras seseorang menggelegar dan menggema dari sudut sebuah kamar. Suara ketakutan yang berasal dari seorang laki-laki berambut pirang dan bermata biru. Ia tersentak bangun karena mendapatkan suatu mimpi yang buruk. Mimpi buruk tentang Koneko yang mati dibunuh oleh pengawal kerajaan Hana.
Mimpi yang begitu mengerikan. Membuat laki-laki yang ternyata adalah Naruto, merasa was-was dan berkeringat dingin. Wajahnya pucat pasi. Kedua mata biru yang melotot. Napasnya yang sangat tersengal-sengal. Ia terduduk begitu saja di atas kasurnya. Selimut tebal membungkus dirinya sampai sebatas perut. Dia bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana panjang hitam seperti celana olahraga. Dia begitu ketakutan. Sangat takut karena mimpi buruk itu.
"Ko-Koneko-chan ... Tidak ... Istriku ... Tidak akan mati karena dibunuh. Ini hanya mimpi. A-Aku harus tenang. Jangan panik. Itu tidak nyata," gumam Naruto berusaha menghibur dirinya sendiri. Lalu ia pun menoleh ke arah sampingnya, di mana Koneko tertidur di sampingnya.
Tapi, kedua matanya membulat saking kagetnya ketika mendapati Koneko tidak ada di sampingnya. Sehingga membuat kepanikan Naruto semakin menjadi-jadi. Ia pun kalang kabut.
"Ko-Koneko-chan, dia tidak ada di sampingku. Jadi, kemana dia pergi? WAAAAAH, GAWAAAAAAT! KONEKO-CHAAAAAAN!"
Segera saja Naruto bangkit dari duduknya sambil menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Lantas ia berlari cepat dan membuka pintu kamar yang digeser dari arah samping.
Tiba-tiba, saat bersamaan sudah muncul seorang gadis yang hendak masuk ke kamar itu. Spontan, sekali lagi Naruto kaget dan membelalakkan kedua matanya. Mulutnya ternganga sedikit.
Rupanya Koneko. Rambutnya kelihatan basah dan kusut. Ia mengenakan kimono terusan selutut berwarna biru muda dengan corak bunga krisan berwarna putih. Diikat pada bagian pinggang kimononya, dengan obi atau sabuk kain berwarna merah muda. Kedua kakinya tidak memakai apa-apa. Sepertinya ia baru saja mandi karena waktu sudah memasuki pagi hari.
Keduanya pun saling terpaku sambil menatap erat. Lalu Koneko tersenyum kecil dengan kemerahan di dua pipinya.
"Eh, uhm ... Oha-Ohayou, Naruto-kun. Kamu sudah bangun rupanya," sapa Koneko dengan sikap yang lembut."Kenapa? Kenapa kamu kelihatan panik begitu?"
Dari raut muka Naruto yang kusut dan kusam, dapat terlihat dengan jelas oleh pandangan Koneko. Sehingga membuat Koneko mengerutkan keningnya. Naruto tercengang dan tidak mampu menjawab pertanyaan Koneko tadi. Ia terdiam sambil memandangi wajah Koneko lekat-lekat.
Semakin membuat Koneko bingung saja. Koneko memiringkan kepalanya sedikit ke kanan.
"Naruto-kun, ada apa? Kenapa diam? Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Koneko lagi.
Naruto bungkam. Tidak juga menjawabnya. Ia sangat ketakutan dan terbayang lagi dengan mimpinya itu.
GREP!
Secara langsung Naruto memeluk Koneko dengan erat. Sehingga Koneko menyandar pada tubuh Naruto. Koneko semakin heran dan merasakan tubuh Naruto gemetaran hebat. Kedua tangan Naruto merangkul pundak Koneko dengan kuatnya. Takut untuk dilepaskan.
Tindakan Naruto ini sungguh membuat Koneko menjadi heran dan bingung. Apalagi Naruto tidak mengatakan apapun padanya. Naruto sangat ketakutan. Entah apa yang terjadi padanya. Lalu menuntun Koneko untuk membalas pelukan Naruto itu.
"Naruto-kun ... Kenapa? Kenapa kamu kelihatan takut begini? Ayo, jawablah pertanyaanku!"
"Ko-Koneko-chan ..."
"Ya ..."
"Ja-Jangan tinggalkan aku. Kamu jangan mati. Aku tidak sanggup menerima jika kamu benar-benar mati. Aku akan sedih sekali jika kamu benar-benar pergi meninggalkan aku untuk selamanya. Jadi, tetaplah di sini, bersamaku. Jangan pergi kemana-mana lagi."
Mendengar hal itu, Koneko tercengang.
"Hei, apa-apaan ini? Apa maksudmu?"
Koneko melepaskan rangkulan tangan Naruto dari pundaknya. Naruto menurutinya. Lalu Koneko menatapnya dengan penuh tanda tanya seraya memegang pipi kanannya. Wajah Naruto tampak suram.
"Memangnya ada apa sehingga kamu mengatakan hal yang aneh seperti itu? Apa kamu mengalami mimpi yang buruk? Apa benar begitu?" lanjut Koneko kemudian.
Suaminya menganggukkan kepalanya. Memandang wajah Koneko lekat-lekat.
"Ya, Koneko-chan. Mimpi buruk. Mimpi yang sangat buruk sekali."
"Oh, begitu ya," Koneko menghembuskan napasnya sejenak."Ya, sudah. Ayo, ceritakan padaku tentang mimpimu itu. Aku akan mendengarnya. Kita duduk di dekat meja sekarang."
Kemudian Koneko mendorong Naruto masuk ke dalam kamar lagi. Naruto pun berjalan mundur dengan lemasnya. Setelah itu, ia menutup pintu kamar itu dengan pelan.
Mereka duduk berdampingan di dekat meja. Naruto pun menceritakan semua yang terjadi di dalam mimpinya pada istrinya itu.
.
.
.
BEBERAPA MENIT KEMUDIAN ...
Terlihat Naruto menghembuskan napasnya berkali-kali setelah menceritakan semuanya pada Koneko. Koneko mendengarkannya dengan baik. Menunjukkan ekspresi wajah yang kusut. Tapi, dia berusaha untuk tetap tenang dan bersikap seperti biasanya agar bisa menghibur Naruto yang sedang dilanda kepanikan luar biasa. Ia berusaha agar suaminya berpikir lebih positif dan tidak terlalu memikirkan mimpi buruk itu.
"Begitulah ceritanya, Koneko-chan. Sudah jelas, kan?"
"Ya, sudah jelas. Aku mengerti," Koneko mengangguk cepat."Aku tahu pasti kamu sangat cemas dan takut sekali jika mimpi itu menjadi kenyataan. Tapi, aku harap kamu jangan cemas lagi dengan mimpimu itu. Itu hanya bunga tidur. Tidak nyata. Itu hanya ilusi. Aku masih hidup. Aku tidak akan mati dan tidak akan pergi meninggalkanmu. Kamu sudah berjanji untuk tidak pernah pergi meninggalkan aku sendirian, kan? Jadi, sekarang aku sendiri yang berjanji kalau aku tidak akan pernah hilang di sampingmu dan aku akan tetap ada di depan matamu. Itulah janjiku sebagai istrimu, Naruto-kun. Karena itu, jangan takut. Aku tidak akan mati. Percayalah padaku."
Kalimat Koneko yang begitu lantang mampu menyihir perhatian Naruto padanya. Terlebih Koneko duduk di sampingnya dan terus menggenggam tangan kirinya yang terletak di atas meja. Ia memandang kedua mata Koneko yang begitu menajam bagaikan mata kucing. Apalagi Koneko memberikan senyuman terindah padanya. Berusaha agar menghiburnya agar tidak takut dan tidak tegang lagi. Gadis yang baru dinikahinya kemarin itu, mampu memberikan dukungan sugesti agar dirinya tetap kuat. Berani untuk menempuh segala bahaya yang akan datang menerpa di masa depan mendatang.
Terdiam sebentar tanpa kata-kata, senyuman Naruto mulai terpatri di wajahnya. Ia menggenggam tangan Koneko yang memegang salah satu tangannya sedari tadi.
"Ya, kamu benar, Koneko-chan. Aku tidak boleh kelihatan takut dan lemah seperti ini. Ini adalah sebatas mimpi. Bunga tidur. Aku tidak akan memikirkannya lagi. Aku harus membuang pikiran jelek itu jauh-jauh. Haaaaah ... Terima kasih, Koneko-chan. Kamu sudah membuat hatiku terasa lebih lega sekarang. Kamu memang istriku yang paling pengertian."
Gadis berambut putih itu semakin tersenyum senang mendengarnya. Ia senang jika Naruto sudah agak tenang. Sekali lagi, Naruto menghembuskan napasnya yang masih terasa berat.
"Sama-sama, Naruto-kun," kedua pipi Koneko memerah lagi."Kalau begitu, sana kamu mandi dulu. Aku akan membuatkan teh hangat untukmu. Supaya kamu lebih tenang lagi dan jangan cemas ya, Naruto-kun."
Naruto mengangguk cepat.
"Ya, baiklah, istriku yang tersayang. Aku mandi dulu. Setelah ini, ada yang harus aku lakukan untuk mengatasi masalah ini. Aku harus pergi menemui kaisar lagi."
"Eh, menemui kaisar lagi?"
"Iya, inilah satu-satunya jalan agar mimpi buruk itu tidak menjadi kenyataan. Entahlah, firasatku menjadi sangat tidak enak. Aku rasa mimpi ini adalah petunjuk tentang masa depan kita. Aku ingin menyelidiki apa benar kaisar akan berencana membunuhmu? Itulah yang ingin aku cari tahu sekarang. Karena itu, pagi ini juga aku harus pergi ke istana itu lagi. Koneko-chan, kamu tunggu saja di penginapan. Biar aku yang pergi sendiri. Aku ..."
Belum sempat Naruto melanjutkan perkataannya, Koneko malah memotongnya.
"TIDAK! AKU TIDAK MAU TINGGAL DI PENGINAPAN. AKU MAU IKUT KAMU MENEMUI KAISAR. KAMU SUDAH BERJANJI UNTUK TIDAK PERNAH MENINGGALKAN AKU SENDIRIAN LAGI, KAN? APA KAMU MELUPAKANNYA, NARUTO-KUN?"
Naruto tertegun saat dibentak keras oleh Koneko. Koneko memasang wajah marahnya dengan kedua pipi yang sangat mengembang. Gaya marahnya sungguh lucu dan membuat Naruto tertawa geli melihatnya.
"Hahaha ... Hahaha ... Hahaha ..."
"Kenapa? Kenapa kamu malah ketawa sih? Aku benar-benar marah. Serius."
"Ha-Habisnya kamu itu sangat lucu kalau sudah marah, Koneko-chan. Kamu sangat menggemaskan, tahu."
Kedua pipi Koneko ditarik oleh Naruto. Koneko menjerit kesakitan.
"NARUTO-KUUUUN, SAKIIIIIT, TAHU! LEPASKAN AKU!"
"Maaf ... Maaf ... Koneko-chan. Kamu itu sangat menggemaskan. Aku ingin sekali mencubit pipimu keras-keras."
"MAKANYA LEPASKAN! NANTI AKU BENAR-BENAR AKAN MENJAUH DARIMU. AKU AKAN HILANG DI MATAMU. AKU ..."
Mendengar Koneko mengatakan hal itu, Naruto langsung melepaskan cubitannya dari dua pipi Koneko. Lalu dibekapnya mulut Koneko dengan tangannya sehingga Koneko pun berhenti mengoceh yang tidak jelas. Koneko membulatkan kedua matanya karena kaget melihat perubahan ekspresi wajah dari Naruto. Wajah Naruto kelihatan sedih begitu.
'Naruto-kun ...,' batin Koneko yang tertegun di dalam hatinya.
Pandangan mata mereka bertemu. Jarak wajah mereka cukup dekat. Apalagi mulut Koneko masih dibekap dengan tangan Naruto. Koneko merasa bersalah karena sudah membuat Naruto kelihatan terpuruk lagi.
Dengan nada yang lembut, Naruto mulai berkata,"Jangan katakan itu lagi. Jangan katakan kamu akan jauh dan hilang dariku. Aku tidak akan membiarkan kamu tinggal sendirian di sini. Kamu boleh ikut denganku, Koneko-chan. Kita akan pergi bersama-sama," kata Naruto melepaskan tangannya dari mulut Koneko."Satu lagi, setelah kita sudah pulang dari istana nanti, aku akan mengajakmu kencan. Aku akan menunjukkan sesuatu yang bagus padamu saat kencan nanti. Kita belum pernah berkencan, kan? Kamu mau berkencan denganku?"
Koneko terpaku mendengarnya.
"Ken-Kencan?"
"Iya. Kamu mau, kan?"
"Tentu saja aku mau."
Koneko menjawabnya dengan cepat. Sehingga sukses membuat Naruto tertawa kecil.
"Hehehe ... Baguslah. Aku akan membuatmu bahagia hari ini. Hari ini adalah hari yang baru buat hubungan kita. Kita sudah menikah. Lalu ..."
Kedua mata Naruto menyipit lembut. Tawanya berubah menjadi senyuman yang hangat. Kedua tangannya bergerak untuk memegang dua pipi Koneko. Perlahan-lahan wajahnya sudah miring ke kiri dan mulai mendekat ke wajah Koneko.
Koneko tersentak dan menyadari tindakan Naruto itu. Ia pun memandang kedua mata biru Naruto yang teduh. Kedua mata Koneko menyipit lembut. Ia pun menahan napasnya. Lalu ...
Kedua mata mereka saling menutup. Menikmati sensasi lembut di bibir masing-masing. Begitu lama. Sampai mereka pun memutuskan untuk berpelukan erat.
Setelah itu, Naruto melepaskan ciumannya dari bibir Koneko. Ia menjauhkan wajahnya dari wajah Koneko. Ia tersenyum.
"Sudah cukup. Aku akan mandi dulu dan bersiap-siap akan pergi ke istana. Kamu juga, Koneko-chan."
"I-Iya, Naruto-kun. A-Aku akan membuatkan teh hangat untukmu."
Koneko buru-buru bangkit berdiri dari duduknya. Bersamaan juga Naruto bangkit berdiri juga dari duduknya. Lalu ia melirik ke arah Koneko yang memalingkan muka darinya. Rona merah tipis hinggap di dua pipi Naruto.
"Oh iya, Koneko-chan. Apa kamu sudah mandi duluan?"
"Su-Sudah. Dari tadi."
Naruto melipatkan kedua tangannya dan disanggahkan di leher belakangnya. Wajahnya kusut seketika.
"Yaaaaah, sayang sekali. Aku terlambat bangun. Jadinya, aku tidak bisa mandi berdua denganmu. Aku pikir jika kita mandi berdua dalam satu kolam, pasti akan jauh lebih romantis. Sekalian kita bisa menikmati bulan madu kita itu. Aku terlambat. Ya, sudahlah ..."
Naruto kelihatan kecewa. Menghelakan napas beratnya. Ia mulai melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar itu.
Tapi, langkahnya dicegat oleh Koneko. Koneko memanggilnya.
"Naruto-kun ..."
Naruto menoleh dengan sikap yang malas.
"Hm ... Apa?"
Koneko tersenyum dengan rona merah di dua pipinya. Sikapnya lembut dan manja begitu.
"Na-Nanti malam, aku akan menyenangimu lagi. Se-Seperti semalam itu. A-Aku akan berusaha menjadi istri yang paling baik untukmu, Naruto-kun."
Naruto ternganga lebar setelah mendengar perkataan Koneko itu. Sedetik kemudian, ia tersenyum sambil mendekati Koneko lagi. Diangkatnya dagu Koneko dan memberikan kecupan lembut di bibir Koneko sekali lagi. Hanya lima detik. Lalu ia melepaskan ciuman itu dan menatap wajah Koneko lekat-lekat.
"Terima kasih."
"I-Iya, Naruto-kun. Tapi, aku harus pergi dulu. Kamu juga, mandi sana!" sahut Koneko gugup dengan rona merah di dua pipinya. Ia menolak Naruto sehingga Naruto melangkah mundur. Untung Naruto tidak terjatuh karena mampu menyeimbangkan tubuhnya dengan baik. Ia pun agak kaget ketika Koneko menolaknya tadi.
DRAP! DRAP! DRAP!
Koneko yang duluan keluar dari kamar itu. Ia berlari kencang meninggalkan suaminya yang terpaku menatap kepergiannya. Pintu kamar terbuka kembali. Rasa senang dan bahagia hinggap di hati Naruto sekarang karena perhatian dan cinta dari istrinya yang begitu berharga. Koneko, bidadari yang sudah menjalin hubungan lebih dalam dengannya.
"Koneko-chan ... Kamu kelihatan pemalu sekarang. Kamu benar-benar menggemaskan seperti kucing. Aku sangat mencintaimu dan tidak akan pernah kulepaskan begitu saja," bisik Naruto pada dirinya sendiri. Ia terus tersenyum sambil melangkahkan kakinya menuju keluar kamar. Hatinya senang dan bahagia untuk sesaat saja.
.
.
.
"Eh, apa kalian tahu kemana Naruto dan Koneko pergi?" tanya Konan saat menemui Yahiko dan Nagato di sebuah kamar di penginapan milik Aizawa Kanon. Di mana Naruto dan Koneko juga menginap di sana.
Yahiko dan Nagato yang sedang duduk bersila di dekat meja kayu, menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tidak tahu. Apalagi mulut mereka berdua sudah diisi dengan makanan karena mereka sedang sarapan pagi di kamar mereka. Lalu Konan datang menemui mereka dan bertanya tentang menghilangnya sepasang pengantin baru itu. Sebab sejak tadi pagi, baik Naruto maupun Koneko tidak tampak batang hidungnya sama sekali. Padahal rencananya hari ini, mereka akan segera cabut dari desa Hana tersebut.
"Jadi, mereka berdua kemana dong?" tanya Konan sekali lagi. Ia berdiri di dekat meja kayu tersebut.
Yahiko menelan makanan yang dikunyahnya. Barulah ia menjawab pertanyaan Konan itu.
"Mungkin mereka masih tertidur di kamar. Merekakan pengantin baru. Aku rasa mereka akan terlambat bangun karena kelelahan. Ya, tahu sendirilah, kemarin malam adalah malam pertama buat mereka berdua. Apa kamu tidak tahu tentang hal itu, Konan?"
Konan melirik ke arah Yahiko. Yahiko tertawa ngeles. Lantas Konan memberikan deathglare pada Yahiko. Yahiko memucat.
"Aw, go-gomen, Konan."
"Huh, dasar Yahiko no baka. Baka! Baka! Baka!" sembur Konan geram sekali."Aku ingin menanyakan pada Naruto soal kita akan segera pergi dari desa ini sekarang juga. Katanya, kita akan segera melanjutkan perjalanan kita. Kita harus pulang ke desa Konoha secepatnya."
Tangan Konan mengepal kuat dan diletakkan di depan tubuhnya. Ia benar-benar geram sekali.
"Ya, itu memang benar. Kita akan pergi dari desa ini sekarang juga. Tapi, Naruto sudah bilang padaku tadi kalau kita akan menunda kepergian kita seminggu lagi. Ada yang ingin ia lakukan di desa ini dan akan menyelesaikan suatu masalah yang penting. Setelah masalah itu selesai, barulah kita bisa pergi dengan selamat dari desa ini. Begitulah kata Naruto saat menemui aku di kolam pemandian air panas tadi," kata Nagato yang berusaha menghabiskan sisa-sisa makanan di mangkuknya.
Yahiko dan Konan memandang kompak ke arah Nagato. Mereka tercengang bersama-sama.
"Ja-Jadi, Naruto menunda kepergian kita selama seminggu lagi?" kali ini Yahiko yang bertanya.
"Ya, begitulah," jawab Nagato enteng.
"Memangnya ada urusan penting apalagi di sini? Aku rasa Naruto sudah menyelesaikan urusannya dengan kaisar kemarin, kan?" Konan mengerutkan keningnya.
"Hm, itu yang aku tahu dari Naruto. Selebihnya aku juga tidak tahu benar tentang urusan lain yang ditangani Naruto hari ini. Tapi, dia membawa Koneko pergi bersamanya."
Yahiko dan Konan saling pandang. Lalu menatap Nagato lagi. Nagato terus melanjutkan acara makannya itu.
"A-Apa? Koneko ikut juga dengan Naruto?" Konan penasaran.
"Ya," Nagato manggut-manggut.
"Sepertinya mereka berdua tidak bisa dipisahkan. Kemana-mana, selalu saja berdua. Lengket seperti madu dan lebah. Pantas Naruto langsung melamar Koneko menjadi istrinya agar bisa selalu bersama setiap saat. Ah, betapa bahagianya. Aku iri. Kapan ya aku bisa seperti mereka berdua?" celetuk Yahiko yang mulai melanjutkan makanannya. Tapi, tatapan matanya tertuju pada Konan. Konan menyadarinya.
Lantas Konan melihat ke arah Yahiko. Pandangan mereka berdua bertemu. Mereka saling memandang dengan lama. Nagato memperhatikan mereka berdua.
Sedetik kemudian, Nagato tersenyum sendiri. Ia terus mengunyah makanannya yang masih belum hancur di mulutnya.
'Hm, sepertinya Yahiko dan Konan saling menyukai. Tapi, mereka malu untuk mengakuinya. Aku tak habis pikir tentang mereka,' batin Nagato di dalam hatinya.
Setelah itu, Konan memutuskan untuk pergi dari kamar Yahiko dan Nagato. Ia berbalik badan.
"Baiklah, semuanya. Aku mau balik dulu ke kamarku sendiri. Sampai nanti," ujar Konan berwajah datar sambil melangkah keluar dari kamar itu.
"Ya, sampai nanti, Konan," balas Yahiko penuh semangat.
Sementara Nagato terus tersenyum menyaksikan semua ini. Ia terus melanjutkan acara makan pagi yang sempat tertunda karena kehadiran Konan.
Hari ini akan menjadi hari yang merepotkan. Begitulah yang dipikirkan oleh Konan saat dalam perjalanan ke kamarnya sendiri.
.
.
.
Di istana pagoda kerajaan Hana yang terletak di atas bukit. Istana pagoda yang berlantai lima.
Tampak Naruto dan Koneko menemui kaisar yang sedang duduk di kursi singgasananya. Sang kaisar tidak sendirian. Dia ditemani oleh dua dayang yang sangat cantik dan berpakaian kimono yang indah. Dia sungguh kaget dengan kedatangan Naruto yang membawa Koneko. Apalagi Naruto dan Koneko saling berpegangan tangan dengan erat. Seakan-akan takut untuk dilepaskan.
"Jadi, gadis itu adalah istrimu, Uzumaki-san?" tanya sang kaisar penasaran.
Naruto mengangguk cepat dengan muka yang sangat serius.
"Ya, itu benar. Uzumaki Koneko adalah istriku. Jadi, aku harap putri anda dapat memahami statusku sekarang. Aku adalah seorang suami yang sudah mempunyai istri. Aku mohon Shion-hime bisa melupakan cintanya padaku dan tidak memaksakan kehendaknya untuk menikah denganku. Aku tahu kalau dia mencintaiku. Tapi, cinta tidak dapat dipaksakan. Dia harus mengerti itu. Baginda kaisar, apakah anda bisa memberitahukan semua ini pada Shion-hime? Aku mohon ... Jangan paksa aku lagi. Aku tidak ingin membuat masalah ataupun menjadi musuh di kerajaan ini. Kita selesaikan masalah ini secara damai. Semoga saja Shion-hime menerimanya ..."
Belum sempat Naruto melanjutkan perkataannya, tiba-tiba muncul suara seseorang yang memotong pembicaraan Naruto itu.
"AKU TIDAK BISA MENERIMANYA. UZUMAKI-SAN, AKU TETAP AKAN MENIKAH DENGANMU WALAUPUN APA YANG TERJADI!"
Spontan, semua orang yang ada di tempat itu, menoleh ke arah asal suara. Tampak seorang gadis berambut pirang panjang datang bersama gadis yang berpakaian baju zirah perang khas kerajaan Hana, dari arah dalam istana. Gadis berambut pirang dan berpakaian kimono 12 lapis, yang tidak lain adalah Shion. Dia berjalan pelan mendekati Naruto dan Koneko.
Miyuwa Ran, gadis berpakaian baju zirah perang itu memilih berdiri di tempatnya. Ia mendengarkan dan menyaksikan apa yang terjadi di depan matanya sekarang.
Kini Shion berdiri di dekat Naruto. Shion memandang Naruto dengan pandangan sedih. Naruto menatap Shion dengan pandangan yang tajam. Koneko memilih diam dan mendengarkan. Sedangkan sang kaisar sangat kaget dengan kedatangan Shion yang begitu tiba-tiba.
"Shion-hime, kenapa kamu keluar dari kamarmu? Biar Tou-sama yang berbicara pada Uzumaki-san. Kamu lebih baik kembali ke kamarmu saja, sayang."
"Tidak, Tou-sama. Izinkan aku berbicara pada Uzumaki-san. Aku mempunyai urusan yang sangat penting dengan mereka berdua. Terutama pada istrinya itu."
Shion berkata tegas sambil menunjuk tepat ke arah Koneko. Koneko membulatkan kedua matanya. Secara langsung, Naruto menoleh ke arah Koneko.
"Eh? A-Aku?" Koneko kaget sedikit. Ia pun melihat ke arah Shion. Shion menatapnya dengan sinis.
"Ya, kau."
Koneko memasang wajah yang serius. Kedua matanya menajam.
"Jadi, apa maumu?"
Mendengar Koneko berbicara dengan nada yang datar, membuat Shion menggeram. Kesal dan ingin meluapkan kemarahannya sekarang juga.
"UZUMAKI KONEKO, BERSIAPLAH UNTUK MELAWANKU BESOK DI AULA ISTANA INI!" Shion tetap menunjuk Koneko dengan suaranya yang lantang. Wajahnya sangat serius. Kedua matanya menajam.
Koneko langsung menganggukkan kepalanya. Menyetujui tantangan dari Shion.
"Baik, aku menerima tantanganmu. Aku akan siap melawanmu besok di aula istana ini."
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
A/N:
CHAPTER 10 UPDATE!
Wheh, akhirnya selesai dibuat nih fic-nya. Suer, padahal mau diupdate kemarin, eh tapi malah salah tekan. Jadinya terhapus deh. Ya udah, buat ulang dari awal. Walaupun kesannya terburu-buru, tapi udah saya sesuaikan dengan cerita yang terhapus itu. Untung, udah selesai di malam ini.
Ya udah, lanjut aja bacanya sampai chapter 11. Soalnya update sekalian dua chapter.
Terima kasih.
Hikasya ...
Minggu, 7 Februari 2016
