Found His Last Family
T Rated / Canon / Family & Friendship / Naruto Namikaze
Naruto is Masashi's, but Kazuki Namikaze is mine
.
Kazuki memakai jutsu Tarian Petir, yang berupa petir menyambar dari seluruh tubuhnya, seakan petir-petir itu sedang menari. Hampir mirip Chidori Nagashi milik Sasuke. Katami berlari menuju Kazuki dan memeluknya, lalu menatap Naruto kesal. "Berhentilah membuatnya kerepotan, Uzumaki."
Chapter 10
Beberapa hari kemudian..
"Kau sudah boleh pulang, Kazuki. Jaga kesehatanmu. Jangan latihan dulu, karena peredaran darah dan aliran cakra-mu belum benar-benar stabil. Uchiha, jaga istrimu itu! Dia suka melanggar apa yang kukatakan!" ujar Tsunade.
Kazuki sudah sehat dan sudah diperbolehkan pulang. Tapi, sesuai pesan Tsunade, peredaran darah dan aliran cakra-nya belum benar-benar stabil. Kazuki memang sangat sering melanggar apa yang dipesankan dokter. Sejak kecil, ia selalu melanggar pesan dokter yang demi kebaikannya sendiri. Akibatnya, yah, ia kembali ke rumah sakit. Walau tidak lama.
"Sudah pasti, Tsunade-sama. Aku tidak akan membiarkannya latihan." ujar Katami sambil tersenyum kecil. Kazuki hanya merengut mendengar perkataan Katami. Naruto yang bersama mereka hanya diam, ia masih kesal pada Katami akibat kejadian beberapa hari lalu.
"Dimana kau akan tinggal, Uchiha?"
"Baa-san gimana sih, tentu saja Katami-kun tinggal denganku di kediaman Namikaze! Aku tidak akan membiarkan Katami-kun tinggal di distrik Uchiha!" kata Kazuki sambil menyeringai dan merangkul lengan Katami. Yang tentunya membuat Naruto makin kesal karena pasangan itu dengan asyik mengumbar kemesraan mereka. Hate-o-meter (?) Naruto pada Katami hampir mencapai batas tertingginya.
"Ba-san! Cepatlah! Aku mau cepat-cepat pulang tau!"
Naruto langsung pergi meninggalkan mereka setelah mengatakannya. "Bocah itu kenapa sih?"
.
"Bianvenue chez moi, Katami-kun!" (Welcome Home, Katami-kun!)
"Nan de? Sejak kapan kau belajar bahasa Prancis?"
"Otodidak!"
"Sou ka?"
"Tentu saja!"
Naruto makin kesal. Makin kesal. Dia merasa dikacangin, dari tadi Katami dan Kazuki berbicara tanpa mempedulikan kehadirannya. Setelah mendengus, Naruto memasuki rumah duluan, meninggalkan Katami dan Kazuki yang masih di luar.
Walau begitu, sebenarnya Kazuki memperhatikan tingkah laku Naruto sedari tadi. Seulas senyum terukir di bibirnya, kini ia tahu penyebab Naruto seperti itu. 'Incroyable.. Ternyata Naruto hanya iri karena aku dekat dengan Katami-kun dan seperti mengacuhkannya. Rire~' (Incroyable : Unbelievable, Rire : Laugh)
"Kenapa tersenyum begitu, Kazuki-chan? Dan Naruto kenapa? Kelihatannya dia kesal."
"Rire~ Tenang saja, Katami-kun. Dia hanya kelelahan kok. Tadi aku melihat kejadian besok, benar-benar lucu. Itu rahasia, anda tidak boleh tahu, tuan~"
"Dasar!" Katami mencubit pipi Kazuki gemas.
.
Naruto terdiam di kamarnya. Ia memandang keluar kamarnya melalui jendela. Otaknya terus memikirkan sesuatu. Entahlah, kita tidak tahu ia memikirkan apa. Sampai suara yang dikenalnya memanggil namanya. "Naruto! Cepat kemari!"
Menghela nafas, lalu Naruto menuju si pemilik suara. "Naruto, Ba-san akan pergi selama dua hari. Tidak apa kan Ba-san tinggal? Ba-san sudah meminta Sasuke dan Sakura untuk datang menemanimu nanti. Kalau mereka tidak kencan sih. Paling Hinata. Asal jangan diapa-apain! Kau sudah Ba-san ajarkan Jikan no Jutsu kan? Pergi sendiri saja ya ke masa lalu!"
"Memangnya Ba-san kemana? Lalu, bagaimana dengan.. Ji-san?" Naruto menekankan kata Ji-san.
"Itu rahasia, Naruto! Katami-kun ikut Ba-san, tentu saja. Hei, Naruto, masa kau cemburu pada Ji-san mu sendiri? Kau kan punya Hinata. Lagipula-" perkataan Kazuki dipotong Naruto.
"Aku tidak cemburu, Ba-san! Jangan seenaknya mengambil persepsi! Lalu, aku tidak berpacaran dengan Hinata-chan! Aku tidak menyukainya kok! Menurutku Sakura-chan lebih cantik! Aku selalu lebih menyukai Sakura-chan dibanding siapapun! Merebut dari teme juga tidak apa-apa!" ujar Naruto tanpa pikir panjang karena kesal.
"O ow.." Kazuki menoleh ke belakangnya setelah menggumamkan dua suku kata itu. Di belakangnya ada Hinata yang menatap mereka sedih. Hinata berbalik, lalu berlari pergi menjauhi dua Namikaze itu. Sementara itu, di dekat Hinata tadi, ada Sasuke yang menatap Naruto marah dan Sakura yang menatap Naruto kesal.
"Haah.. Naruto, tadi Ba-san mau bilang kalau mereka sudah di sini. Kamu lupa kalau Sakura itu milik Sasuke? Dan kamu lupa perkataan Ba-san mengenai masa depanmu? Sekarang, kejar dan jelaskan semuanya pada Hinata! Ba-san tidak mau tahu, pokoknya kau harus bisa berbaikan dengannya! Termasuk Sasuke dan Sakura! Setelah Ba-san pulang, kalian harus sudah berbaikan! Katami-kun, ayo!"
Katami yang baru datang mengangguk, lalu pergi bersama Kazuki. Mereka membawa dua tas ransel. Setelahnya, Sasuke dan Sakura pergi dan sebelumnya memberikan deathglare mereka pada Naruto. Naruto menggeram kesal. 'Ini semua gara-gara Katami Uchiha! Andaikan dia itu tidak pernah datang ke kehidupanku, aku tidak akan berbicara seperti tadi dan tidak akan bertengkar dengan Ba-san, teme, Sakura-chan, dan Hinata-chan! Grr.. Aku membencimu, Katami Uchiha!'
Naruto, Naruto.. Kalau seandainya Katami tidak datang beberapa hari lalu, Kazuki pasti sudah tewas di tangan Hidei. Kau mau keluargamu satu-satunya juga meninggal, pergi meninggalkanmu seperti orang tuamu?
Setelahnya, Naruto berlari mengejar Hinata. Ia mencari Hinata kemana-mana. Sampai akhirnya, ia menemukan Hinata di taman tempat dulu Sasuke meninggalkan Sakura. Hinata duduk di kursi panjang itu sambil menunduk. Air matanya nampak sudah berhenti, tapi tetap saja jejaknya membekas di pipinya dan pipinya masih basah.
Naruto menghampirinya dan mengusap pipi gadis indigo itu. "Gomen. Tadi aku berbicara tanpa pikir panjang karena kesal."
Hinata tersentak kaget saat merasakan tangan hangat yang mengusap pipinya. Ia mengangkat kepalanya, dan makin kaget lagi saat melihat wajah Naruto. Terlebih saat Naruto mengucap kata maaf itu. Hinata terdiam, tidak membalas kata-kata Naruto. Tidak ada kata malu saat ini. Yang ada hanyalah meminta penjelasan lebih lanjut.
"Aku hanya kesal karena Ba-san jadi mengacuhkanku sejak Ji-san datang. Ba-san juga menebak dengan tepat, wajar sih karena dia bisa membaca pikiranku. Karena kesal dan panik karena ketahuan, aku bicara asal tanpa memikirkannya dulu. Aku sudah tidak punya perasaan lagi kok pada Sakura-chan."
Naruto menepuk kepala Hinata pelan, lalu tersenyum. "Permintaan maafku diterima tidak?"
"... Ba-baiklah.. Pe-permintaan ma-maafmu ku te-terima, Na-Naruto-kun.."
"Arigatou, Hinata-chan!"
Naruto langsung memeluk Hinata. Hinata berusaha keras agar tidak pingsan kali ini. "Na-Naruto-kun.. Le-lepaskan.." kata Hinata pelan dengan wajah merah. Naruto melepaskannya lalu nyengir tidak berdosa.
"Oh iya, aku harus minta maaf ke teme dan Sakura-chan!"
"D-doushite?"
"Tadi teme dan Sakura-chan juga marah gara-gara kubilang aku suka Sakura-chan. Hehe.."
Hinata menghela nafas mendengar perkataan dan melihat ekspresi sok tidak berdosa orang yang dicintainya itu.
.
"TEMEEEE~~!"
"Cih."
Mendengar suara cempreng memanggilnya, bukannya menoleh atau membalasnya, tapi Uchiha itu malah menggumam tidak jelas. Ia masih kesal pada si kepala durian itu. Siapa juga yang tidak kesal kalau ada yang terang-terangan mengatakan kalau orang lain menyukai tunangannya? Terlebih sahabatnya sendiri! Malah juga dikatakan akan merebutnya!
"Hontō ni gomenasai, teme~ Tadi itu karena aku kesal! Habis.. Ba-san mengacuhkanku sejak kedatangan Ji-san! Karena kesal dan panik saat ketahuan, aku jadi bicara asal! Aku tidak punya perasaan lagi kok pada Sakura-chan!"
"..."
Twitch.
Naruto cemberut. Permintaan maafnya ditolak mentah-mentah oleh Sasuke. Bukannya ditolak sih, cuma diacuhkan. Hinata yang ikut menemani Naruto tersenyum kecil melihat ekspresi cemberut nan aneh Naruto. "Ayolah, teme-chan~ Teme-chan cakep deh~"
Sweetdropped.
Bahkan Hinata sendiri sweetdrop. Bukan cemburu, tapi.. Yaah, illfeel. "Kau menjijikkan, dobe." Setelah mengatakannya, Sasuke lenyap bersamaan dengan munculnya asap.
"Na-Naruto-kun.. Sa-Sasuke-san bu-bukan homo.."
Naruto kembali cemberut. "Iya iya. Aku kan hanya bercanda. Teme nyebelin. Kita cari Sakura-chan dulu yuk!"
Hinata tersenyum lembut dan mengangguk. "Ba-baiklah.. Ayo kita pe-pergi, Na-Naruto-kun.." Naruto nyengir dan meraih tangan Hinata, lalu mereka berjalan mencari Sakura. Dalam hati, Naruto bersyukur karena Hinata itu tipe pemaaf dan penyabar.
Tak lama kemudian, mereka menemukan Sakura di tempat latihan. Keadaannya.. Yah.. Mengenaskan. Bukan Sakura-nya, tapi tempat-nya. Pohon tumbang dimana-mana, tanah retak, serpihan batu berserakan, dan juga balok-balok kayu bertebaran. Semuanya berantakan.
Naruto langsung menciut. Apalagi saat mendengar kata-kata Sakura yang belum menyadari keberadaan mereka. "NARUTOOO! KAU MEMANG ORANG PALING SIALAN DI MUKA BUMI INI! SHANNAROOOO!"
Setelahnya, Sakura meninju apapun yang ada di dekatnya. Pohon, kayu, batu, tanah, sampai hewan-hewan lewat seperti kucing kena imbasnya. 'Uugh.. Aku lebih memilih dimarahi Kazuki Ba-san atau menerima keberadaan Katami Ji-san dibanding menenangkan Sakura-chan dan meminta maaf pada keadaan begitu~~!'
"Na-Naruto-kun? A-ayo minta maaf.."
Suara lembut Hinata menyadarkan Naruto dari lamunan ketakutannya. "A-anu.. Hinata-chan.. A-aku takut kalau Sakura-chan dalam keadaan begitu.."
"Hm.. Bi-biar kucoba.."
"Eeh? Jangan! Nanti kamu terluka!"
"Te-tenang saja, Na-Naruto-kun.. A-aku akan ba-baik-baik saja.. Tu-tunggulah."
Hinata langsung mendekati Sakura yang tengah mengamuk. "Sa-Sakura-san.." panggi Hinata pelan. Sakura menghentikan amukan dan tinjunya, lalu menghadap Hinata sambil meremukkan sebutir batu seukuran kepala bayi.
"Ada apa, Hinata?"
"I-itu.. Bi-bisa tidak Sa-Sakura-san me-memaafkan.. Na-Naruto-kun?" tanya Hinata takut-takut. Kemarahan Sakura memang sangat mengerikan.
Sakura menatap Hinata tidak percaya. "NANI? KAU MAU AKU MEMAAFKANNYA? TIDAK SAMPAI IA BENAR-BENAR KAPOK! MASA KAU SENDIRI MEMAAFKANNYA?"
Hinata mengumpulkan segenap keberaniannya, lalu mulai berbicara lancar tanpa tergagap. "Ya, aku memaafkannya. Itu karena dia tidak sengaja mengucapkan hal itu karena sedang panik. Dia sudah tidak memiliki perasaan apapun padamu, Sakura-san. Kumohon, maafkan Naruto-kun.. Aku mencintainya, maka aku memaafkannya. Dia sahabatmu kan, Sakura-san? Lagipula, seandainya Sasuke-san yang seperti itu, Sakura-san pasti akan memaafkannya juga. Karena Sakura-san mencintai Sasuke-san seperti aku mencintai Naruto-kun."
Sakura terdiam menanggapi kata-kata Hinata. Begitu pula Naruto. Mereka tidak menyangka kalau Hinata bisa seberani dan setegas itu. "Baiklah. Kau memang hebat, Hinata. Lalu? Kenapa dia bisa panik begitu?"
Hinata tersenyum geli. "I-itu karena di-dia iri pa-pada Ka-Katami Ji-san. Se-sejak ke-kedatangan Katami Ji-san, Ka-Kazuki Ba-san se-seakan mengacuhkan Na-Naruto-kun. Ke-keirian Naruto-kun diketahui o-oleh Ba-san, sa-saat dipertanyakan.. Di-dia panik."
Sakura melongo, dan sedetik kemudian tawanya meledak. "Hahahahaha! Bisa-bisanya Naruto iri pada pamannya sendiri! Hahahahaha!"
Naruto cemberut dengan wajah merona. Ia menghampiri Hinata dan Sakura. "Biarin dong.. Gomen ya, Sakura-chan! Hinata-chan, ayo cari teme lagi. Arigatou sudah membantuku, kau memang hebat, Hinata-chan." Wajah Hinata langsung memerah mendengar pujian Naruto.
BUAAKH!
Tiba-tiba saja Sakura memukul wajah Naruto. "Huh! Satu puulan untuk kesalahanmu! Sudah, biar aku yang bicara pada Sasuke-kun! Bisa-bisa kau di-amaterasu sebelum kau menjelaskannya pada Sasuke-kun!" Sakura langsung pergi meninggalkan Naruto.
"Huwee.. Sakura-chan kejaaaam.."
Hinata menghampiri Naruto yang terduduk di tanah sambil memegangi pipinya yang.. Wow.. #hehehe
"Na-Naruto-kun.. Kau tidak apa-apa?"
"Uuh.. Ya kecuali pipiku yang luka parah ini.. Sepertinya aku harus ke rumah sakit deh.."
Hinata tertawa mendengar ucapan Naruto yang berlebihan. Hanya luka sedikit di pipi dibilang parah dana harus ke rumah sakit. Hinata mengumpulkan cakra di tangan kanannya, lalu mendekatkannya ke pipi Naruto yang luka. Jangan lupa kalau Hinata juga medic-nin ya.
Cakra Hinata benar-benar hangat dan lembut. Lebih hangat dari cakra Kazuki dan Sakura. Tanpa sadar, tangan kiri Naruto menggenggam tangan Hinata yang ada di pipinya, membuat Hinata menjadi gugup seketika. Wajah Naruto mendekati wajah Hinata, lalu tangan kanannya menarik kepala Hinata mendekat.
Hingga akhirnya, bibir mereka bersentuhan. Hinata memejamkan matanya, begitu pula Naruto. Tangan Hinata melingkari leher Naruto, sedangkan Naruto memeluk erat pinggang Hinata. Memang dasar tidak romantis. Masa Naruto mencium Hinata di tempat latihan yang sudah hancur lebur? Ck ck ck.. Tapi biarlah mereka tenggelam dalam dunia mereka. Hanya sekali ini saja.
.
"Sudah jam 7. Aku mau ke Tou-san dan Kaa-san ah. Mau ikut, Hinata-chan?"
"Eh? Bu-bukannya o-orangtua Na-Naruto-kun su-sudah meninggal?"
"Mm hm! Tapi aku ke masa lalu, pakai Jikan no Jutsu yang diajarkan Ba-san! Aku sudah beberapa kali ke sana kok! Ikut yaa? Sekalian mau ngenalin calon menantu mereka nih."
BLUSH!
Sekarang mereka berdua sudah resmi pacaran. "Ta-tapi, aku ha-harus ijin ke O-Otou-sama dulu.."
"Tidak masalah! Aku ikut sekalian minta restu!"
Di kediaman Hyuuga..
"Ta-tadaima.."
"Okaeri. Kenapa baru pulang?"
Tatapan tajam Hiashi langsung menyambut mereka berdua. "Ji-san, boleh saya membawa Hinata untuk bertemu Tou-san dan Kaa-san di masa lalu? Saya sudah mempelajarinya dan beberapa kali ke masa lalu, bersama Kazuki Ba-san. Juga, saya meminta restu dari Ji-san. Saya sudah berpacaran dengannya."
Hiashi menatap Naruto lebih tajam lagi. "Kenapa aku harus mengijinkanmu?"
"Karena saya mencintai Hinata dan saya berjanji tidak akan menyakitinya. Lagipula, Ji-san pasti mengenali Ba-san, Tou-san, dan Kaa-san saya kan?"
"Baiklah. Kau boleh mengajaknya, dengan syarat besok pagi sudah kembali. Kuberikan restu. Dan, mungkin aku akan ikut. Boleh?"
Naruto langsung nyengir. "Tentu saja boleh! Ajak Neji juga boleh!"
.
Kini Naruto, Hinata, Hiashi, dan Neji (yang akhirnya ikut) berada di ruang keluarga Hyuuga. "Semuanya pegangan tangan yang erat ya! Mungkin pendaratan kita akan sedikit tidak mulus." ujar Naruto.
"Maksudmu?" tanya Neji.
"Terjatuh dari satu meter di atas tanah! Kecuali untuk Hinata-chan!"
"Terserahlah." ujar Hiashi.
"Iya iya. Jikan no Jutsu!"
23 tahun yang lalu, pagi hari..
BRUKKH!
Seperti yang dikatakan Naruto, mereka terjatuh dari ketinggian satu meter. Tidak tinggi. Kecuali Hinata yang turun dengan mulus, duduk di atas Naruto. "Aww!"
"Ah! Go-gomenasai, Naruto-kun!"
"Tidak apa-apa kok. Ayo kita masuk sana!"
Naruto menunjuk rumah bercat putih. "Nan de? Bukannya itu rumahmu, Naruto?" tanya Neji.
"Yup, tepatnya rumah orang tua-ku. Ayo!"
Mereka melangkah ke rumah itu. Naruto menggandeng Hinata yang nampak malu-malu. Maklumlah, mau ketemu calon mertua. #plak Sekedar informasi, di angkatan Naruto, hanya team 7 yang tahu siapa orang tua Naruto. Bahkan Hinata dan Neji tidak tahu kalau Yondaime Hokage adalah ayah kandung Naruto.
"Kaa-san~! Aku datang lagi~!"
Pintu dibuka Kushina. "Ah, okaeri, Naruto. Hm? Ini siapa? Mirip sekali dengan Senna-chan. Kecuali matanya, mata Hyuuga. Haha, mirip Hiashi dan Hizashi!" kata Kushina sambil memperhatikan Hinata, tidak melihat keberadaan Hiashi dan Neji.
"Jelas saja mirip. Dia putri sulungku dengan Senna, Kushina."
Kushina mengangkat wajahnya yang tadi menunduk, memperhatikan Hinata. "Hiashi! Ini putrimu? Berarti kau juga dari masa Naruto ya? Pantas saja kau terlihat lebih tua!" ledek Kushina, mengingat saat itu Hiashi jadi lebih tua 23 tahun darinya.
"Hahaha, jangan cemberut begitu dong! Lalu? Yang laki-laki putramu? Mirip sekali denganmu. Lebih tua dari putrimu ya."
"Bukan, dia putra Hizashi. Jangan tanya dimana Hizashi, dia sudah meninggal lebih dari 10 tahun lalu."
Kushina mengangguk mengerti. "Jadi? Siapa nama kalian?"
"Sa-saya Hinata Hyuuga.." jawab Hinata malu-malu, diperhatikan wanita secantik Kushina.
"Hn. Saya Neji Hyuuga. Saya panggil apa?"
"Dingin sekali, kau setipe dengan Sasuke. Ba-san saja. Namaku Kushina Uzumaki, sekarang Kushina Namikaze. Panggil saja Kushina Ba-san atau hanya Ba-san. Ayo masuk! Kalau mau bertemu Minato, harus tunggu jam makan siang."
"Kenapa harus jam makan siang, Kushina Ba-san?" tanya Neji datar. Kushina tersenyum.
"Nanti kau akan tahu, Neji. Jangan beritahu dulu ya Naruto, dattebane!"
"Tentu saja, Kaa-san! Dattebayo!"
'Like mother like son. Naruto-kun nampak sangat bahagia bersama Kushina Ba-san. Ibu Naruto-kun cantik sekali. Aku penasaran, bagaimana rupa ayahnya ya? Pasti sangat mirip Naruto-kun, mengingat warna rambut dan mata Naruto-kun berbeda dengan Kushina Ba-san.' batin Hinata.
.
"Ayo kuajak jalan-jalan sebelum Tou-san datang!" ajak Naruto. Hiashi, Neji, dan Hinata hanya mengangguk. Kushina sengaja tinggal di rumah, menyiapkan makan siang mereka nanti.
Naruto berjalan di depan bersama Hinata. Neji dan Hiashi mengikuti dari belakang tanpa ekspresi. Dasar Hyuuga, mirip dengan Uchiha. Di jalan, Naruto menyapa banyak orang dan dibalas. Siapa yang tidak kenal putra Yondaime Hokage itu? Dia kan sudah dikenalkan saat pelantikan. Tapi tetap saja trio Hyuuga itu tidak tahu dan bingung.
"Ne, Naruto-kun.. Ke-kenapa banyak ya-yang mengenalimu? Bu-bukannya.. Ki-kita be-belum lahir pada ma-masa ini?"
"Nanti kalian semua akan tahu saat Tou-san datang. Kecuali Hiashi Ji-san sih. Pasti tahu kenapa."
Tiba-tiba, mereka berpapasan dengan wanita berambut indigo selengan yang diikat. Matanya berwarna hitam. Tidak kalah cantik dari Kushina dan Hinata. Ada dua wanita, satu lagi berambut hijau tua dan matanya berwarna hitam juga. Trio Hyuuga itu langsung kaget meihat keduanya.
"Senna Ba-san! Yaka Ba-san!" sapa Naruto.
"Naruto kan? Eh? Kau.. Hiashi?"
Kedua wanita itu bernama Senna Houna dan Yaka Mizuno. Tepatnya, sekarang bernama Senna Hyuuga dan Yaka Hyuuga. Senna yang berambut indigo, adalah ibu Hinata. Sedangkan Yaka yang berambut hijau tua adalah ibu Neji.
"Ya! Mereka dari masaku. Hiashi Ji-san itu suami Ba-san kan? Yang ini, Hinata Hyuuga, putri sulung Ba-san. Putri bungsu Ba-san namanya Hanabi Hyuuga, tapi tidak ikut. Kalau yang itu, Neji Hyuuga, putra tunggal Yaka Ba-san dan Hizashi Ji-san." jelas Naruto.
Senna dan Yaka tersenyum, lalu mengangguk. "Sudah lama aku ingin bertemu putriku sendiri, tapi ketika sudah dewasa. Aku menginginkannya sejak aku tahu kalau kau yang di masa depan bisa ke sini, Naruto. Ya kan, Yaka?"
"Benar. Putraku tampan ya, mirip Hizashi-kun. Putrimu cantik sekali, Senna. Mirip denganmu, kecuali matanya."
Skip!
"Tadaima, Kaa-san!"
"Okaeri, Naruto! Tuh, Tou-san mu sudah datang!" seru Kushina dari dapur. Suaranya aneh, seperti tertahan. Tapi tidak dipedulikan.
"Nah, Tou-san kan udah datang.. Kalian akan segera tahu siapa Tou-san ku!" ujar Naruto semangat. Ia menarik Hinata ke arah ruang tamu. Tapi tidak ada Minato di sana. Karena bingung, Naruto mengajak Hinata ke dapur, bertanya pada Kushina. Hiashi dan Neji menunggu di ruang tamu.
"Kaa-san! Tou-san dima—"
PESSSSHH!
Wajah mereka berdua memerah dalam sekejap. Bagaimana tidak? Dua orang remaja 17 tahun disuguhi pemandangan dengan rate semi-M. Mm.. Seperti ini.. Seorang pria tanpa atasan asyik di leher wanita yang atasannya terbuka setengah. Pakaian dalamnya masih dipakai sih.
"E-eeh.. A-aku ke depan sa-saja. Go-gomen me-mengganggu, To-Tou-san, Ka-Kaa-san.." kata Naruto pelan dengan tergagap persis Hinata. Dua orang dewasa itu langsung menghentikan 'kegiatan' itu dan merapikan baju mereka. Ralat, merapikan dan memakai.
Naruto dan Hinata kabur duluan ke ruang tamu dengan wajah yang masih memanas. Kushina sedikit menggerutu. "Ini semua karena kau hobi mulai tiba-tiba tanpa peduli tempat! Pokoknya kau harus tanggung jawab!" gerutu Kushina. Minato menyeringai.
"Tanggung jawab apa? Aku kan sudah menikahimu."
"Dasaaar! Cepat ke ruang tamu sana! Ada calon menantu dan calon besan tuh!"
Di ruang tamu..
"Kalian kenapa?" tanya Hiashi melihat wajah merah keduanya.
"Ti-tidak apa-apa kok.."
"Maaf menunggu!"
Minato memasuki ruangan. Neji dan Hinata kaget melihatnya. Hinata memang belum sempat melihat wajahnya secara jelas tadi. "Anda.. Hokage Ke-4 kan? Yondaime Hokage?"
"Yup! Dia Minato Namikaze, Yondaime Hokage, Tou-san ku!"
"Nani? Yondaime-sama ayahmu?"
Naruto dan Minato nyengir bersamaan. Hahaha, memang dasar. Like father like son.
TBC
'Chapter 10 : A Day Without Kazuki' selesai! Ga nyangka bisa nyampe 10 chapter! Balesan review kali ini ga ada ya. Soalnya ini mepet banget update-nya. Chapter ini ga full NaruHina lho, tapi ADA NaruHina. Review?
