Disclaimer: all Naruto characters belong to Masashi Kishimoto-Sensei, judulnya itu lagunya TVXQ ^^. Ada yang tau?:3

Genre : Romace and Hurt/Comfort

Chara : Ita-chan *sok SKSD* dan Ino-chan

Chapter 10, minna! Yaaay! Kali ini saya memberikan adegan romance dengan porsi yang mungkin lebih banyak (?) dari sebelumnya.

By the way…saya mau ucapin terima kasih sebesar-besarnya buat minna-san yang dah ikutin fic ini. Huwaaaa… Saya benar-benar terharu dengan review-review kalian. Nggak bisa saya gambarkan kegembiraan saya saat kalian mengatakan suka dengan fic saya ini. Arigatou minna! Makasih banyak! *membungkuk berkali-kali ampe encok* rasanya gak bisa ucapin makasih sekali aja. Pokonya… Makasih 100x! Buat semua yang dah baca, yang dah ngereview, yang dah menyukai fic ini. Makasih banyak yaaaa!XD

#who am i : pairing SasuIno? Maksudnya dalam fic ini? Kalau dalam fic ini sih saya bisa bilang pairing finalnya tetep ItaIno. Jadi gak bisa. Palingan slight ya? :p Tapi, kalau di luar fic ini, saya mungkin bisa mengusahakan sesuatu (?) XD

Nah, nah, nah…*diiringi ketukan drum*

Selamat menikmati chapter 10 ini!

Happy reading, all!:3


FLOWER LADY

~Hope~

Setiap menyelesaikan sebuah misi, para Shinobi yang dilimpahkan misi itu harus melapor pada Hokage mengenai hasil pekerjaan mereka. Tak terkecuali dengan Ino. Walaupun sebenarnya ia 'berpasangan' dengan Naruto untuk misi kali ini, tapi hanya ia yang melapor pada Hokage saat itu. Maklum, Naruto belum juga sadarkan diri setelah pertarungan dengan duo Itachi-Kisame yang mereka temui di perjalanan pulang.

Selesai melapor, Ino bergegas ke rumah sakit sebentar untuk melihat kondisi Naruto. Di sana, ia bertemu dengan sahabatnya, Sakura, yang tengah menjagai Naruto. Tadinya, setelah melihat kondisi Naruto sebentar, ia berniat langsung pamit pulang. Tapi langkahnya terhenti sesaat ketika Sakura mencecarnya dengan sebuah pertanyaan.

"Pig, yang kau katakan padaku tadi itu, apa maksudnya?"

"Yang mana?"

"Soal kesempatan itu…" jawab Sakura sambil mengernyitkan dahinya. Ia kini beranjak dari kursi untuk mengantar Ino yang tampak sudah ingin buru-buru pulang.

Ino tersenyum tipis. Lalu keduanya berjalan berdampingan untuk mencapai pintu depan rumah sakit.

"Ayolah, Pig? Sampai kapan kau mau terus bungkam, eh?" desak Sakura lagi setelah ia tidak tahan akan keheningan yang tercipta di antara mereka.

"Kapan-kapan saja, Forehead! Bukankah kau seharusnya menjaga Naruto sekarang? Ingat, gitu-gitu dia jadi incaran kelompok yang namanya Akatsuki kan?" ujar Ino sambil menepuk bahu Sakura.

Sakura tampak mengerti maksud Ino sehingga ia siap berbalik masuk ke dalam rumah sakit lagi. Tapi sebelumnya, ia memberikan sebuah pandangan khawatir pada Ino sebelum ia balik menepuk bahu gadis berambut pirang pucat itu.

"Jangan memaksakan diri, Ino!" ujar Sakura kemudian.

Ino mengangguk kecil, tersenyum, dan menaikkan sebelah tangannya sebagai lambaian sampai jumpa pada Sakura. Sakura menoleh padanya untuk terakhir kali sebelum akhirnya ia bergegas kembali ke kamar Naruto.

Untuk sesaat, Ino hanya terdiam di depan rumah sakit sebelum ia mengeluarkan satu-satunya injeksi yang tersisa. Dalam pikirannya saat itu terbayang saat ia menjelaskan apa isi injeksi tersebut pada Sakura.

~Flashback~

"Kau benar-benar mau tahu?" tanya Ino sambil melihat reaksi Sakura. Setelah sahabatnya itu mengangguk, Ino menyeringai sekilas.

"Baiklah… Akan kuberitahukan padamu! Isi serum ini adalah darah dan ekstrak lavender!"

"Hah?" pekik Sakura terkejut. "Darah siapa?"

"Darahku, Forehead!" jawab Ino sambil menggoyang-goyangkan injeksinya hingga cairan itu tampak bergerak di dalam injeksi.

"Tapi bukan sembarangan darah! Darah ini sudah kucampur dengan beberapa senyawa kimia tidak berbahaya sehingga tidak akan menimbulkan reaksi penolakan saat isinya dimasukkan ke dalam tubuh orang dengan golongan darah yang berbeda denganku!

"Lalu," sambung Ino lagi tanpa memberi kesempatan pada Sakura untuk menyela, "darah ini juga kualiri sedikit chakra-ku!"

"Itu.. Buat apa semua itu? Darah yang dialiri chakra dan ekstrak lavender! Buat apa semua itu?" tanya Sakura kebingungan.

"Kau akan tahu nanti!" jawab Ino sambil menyeringai licik. Dan tahu-tahu, injeksi itu sudah menancap di lengan gadis berambut pink tersebut.

~End of Flashback~

"Ya," batin Ino, "injeksi ini adalah sarana untuk melancarkan jutsu-ku."

Ino kemudian mulai menjabarkan hasil penelitiannya dalam hati.

"Darah yang dialiri chakra serta ekstrak lavender itu akan membantuku untuk melakukan Shintenshin no Jutsu dalam jarak jauh pada orang yang telah kutentukan! Agar jiwaku yang terlepas bisa segera menemukan tubuh orang yang akan kurasuki, itulah tugas darah yang dialiri chakra. Darah itu akan bercampur dengan darah sasaranku, ikut mengalir dalam peredaran darahnya, dan sebagai hasilnya, orang tersebut akan memiliki sebagian dari chakra-ku yang ikut mengalir ke seluruh tubuh bersama darah. Setelah itu, jiwa yang kulepaskan tinggal mencari tubuh yang dialiri chakra yang sama denganku tersebut.

"Selanjutnya adalah ekstrak lavender. Aku belajar dari pengalaman melawan Sakura di ujian Chuunin kemarin. Ia tidak semudah itu bisa dikendalikan dengan Shintenshin no Jutsu milikku. Karenanya, ekstrak lavender ini mempunyai peran untuk membuat jiwa dalam tubuh sasaranku lebih tenang dan lebih mudah menyediakan tempat bagi jiwaku yang akan merasuk ke dalamnya! Lavender mempunyai fungsi untuk membantu relaksasi, ingat? Di samping itu, harum lavender kuharap bisa membantu jiwa yang kulepaskan untuk segera menemui tubuh orang yang siap kurasuki.

"Sayang, jutsu ini masih mengandalkan serum itu. Dan waktu efektifnya-pun terbatas!" batin Ino mengakhiri segala penjelasan yang tersusun dalam otaknya. Mengingat kekurangan yang masih dimiliki oleh jutsu barunya, Ino hanya bisa menghela nafas.

Tapi ia sadar, ia harus bertindak cepat sebelum efek serum itu habis dan lenyap begitu saja dalam tubuh Itachi. Ino kemudian mempercepat langkahnya untuk pulang ke rumah.

Sesampainya di rumah, matahari sudah tenggelam dan bulan mulai berkuasa. Ino menyapa ayahnya sekilas sebelum ia berdalih hendak segera tidur karena lelah. Inoichi tentu tidak bisa menghalangi putri-nya untuk beristirahat meskipun ia cukup menyayangkan hal tersebut karena telah lama ia tidak berbincang-bincang dengan sang putri semata wayang.

Setelah sampai di kamar, Ino segera meloncat naik ke kasurnya. Jantungnya terasa berdebar.

Sebentar lagi. Sebentar lagi ia akan melancarkan Kuroozu-Shintenshin no Jutsu pada Itachi seperti yang ia lakukan pada Sakura tempo hari.

Benar, dengan jutsu barunya ini, Ino merasuk ke tubuh Sakura dan kemudian meninggalkan tubuh gadis itu di suatu hutan yang cukup jauh. Sialnya, hujan mendadak turun sehingga Sakura yang sudah tidak dirasuki jiwa Ino hanya bisa bengong dan mencari jalan pulang dalam hujan. Inilah misteri di balik flu yang diderita Sakura sekitar 3 hari yang lalu.

Ino mengatur nafasnya terlebih dahulu. Menarik dalam-dalam dan kemudian menghembuskannya. Ia melakukan itu berulang kali sampai ia merasa jauh lebih tenang.

"Aku akan merasuk ke tubuh Itachi-nii!" gumam Ino pelan.

"Itachi-nii…"

Glep!

Mendadak, Ino teringat kembali akan hal nekad yang sudah ia lakukan pada pemuda itu tadi. Ino menciumnya bukan? Ya, walaupun itu untuk keperluan jutsu barunya, tetap saja. Ino MENCIUMNYA!

Wajah gadis itu kini sudah semerah kepiting rebus. Ketenangan yang sudah susah payah didapatnya hilang kembali. Ia bahkan sampai harus menggelengkan kepalanya dengan kuat untuk menghilangkan pikiran saat… Saat bibirnya keduanya bersentuhan!

Bukannya semakin tenang, Ino malah semakin panik. Wajahnya semakin dan semakin memerah. Angin malam bahkan tidak mampu menghilangkan panas yang terasa menyengat di kedua pipi gadis itu.

"Tenang, Ino! Tenang!" ujar Ino berusaha menenangkan dirinya sendiri dengan melakukan ritual menghirup dan menghembuskan nafasnya secara teratur seperti sebelumnya. Setelah beberapa menit ia habiskan untuk mencoba menenangkan diri, akhirnya ia berhasil mendapatkan ketenangan sesuai yang ia inginkan.

"Baiklah! Akan segera kumulai!" ujar Ino sambil mengangkat kedua tangannya di depan dada. Dengan cepat, ia kemudian membuat segel yang diakhiri dengan sebuah pose tertutup yang berbeda dengan Shintenshin no Jutsu yang biasa.

"Kuroozu-Shintenshin no Jutsu!"

-o-o-o-o-o-

"Apa yang kau pandangi sedari tadi itu, Itachi?" tanya Kisame pada rekannya saat ia melihat rekannya tersebut memandangi botol bening berisi cairan bening. "Apa itu?"

"Hanya air biasa!" jawab Itachi kalem sambil menggenggam erat-erat botol tersebut.

"Huh? Apa si Hime itu melakukan sesuatu padamu lagi?"

"Berhentilah mengaitkan segala hal yang kulakukan dengannya!" jawab Itachi sambil menyimpan botol tersebut dalam saku jubahnya. "Kita sudah gagal dua kali! Mungkin sebaiknya kita memang mencari Jinchuuriki yang lain terlebih dahulu!"

"Heh! Semua itu karena kau menghentikanku, Itachi! Padahal aku bisa menang melawan bocah sial itu!" ujar Kisame yang tengah terduduk menyilangkan kaki sambil mengambil pedang Samehada-nya dan mulai mengelusnya secara berhati-hati.

Itachi tidak merespon dan memilih untuk berdiri sambil berjalan ke tepian tebing tempatnya berada, membelakangi Kisame. Sementara Kisame larut dengan kegiatan 'memanjakan' pedang kesayangannya, Itachi malah tenggelam dalam pikirannya. Dalam pikirannya.. Akan ciuman yang dilakukan sang Hime padanya.

Meskipun demikian, karena ia adalah sang Uchiha yang terbiasa mengontrol emosi, jangan harap kalian bisa melihat wajah Itachi yang panik karena perihal ciuman yang satu itu. Sama seperti biasanya saja, ia tetap miskin ekspresi. Yang membuatnya berbeda dengan ekspresi Itachi yang biasa adalah.. Adanya sebuah rona tipis di wajahnya. Tidak akan terlihat jelas, apalagi di waktu malam seperti ini.

"Gadis nekad," gumam Itachi dalam suara teramat kecil yang bahkan hanya bisa didengar oleh dirinya sendiri.

Baru saja sebuah lengkung kecil hendak merambah bibirnya, mendadak, mata Itachi terbelalak. Tubuhnya tampak bergetar dan ia langsung mundur beberapa langkah dari tepi tebing tersebut.

"Ng? Kenapa kau?"

Sekejab saja, Itachi langsung jatuh berlutut sambil memegangi kepalanya. Keringat dingin langsung mengaliri pelipisnya.

Kisame yang kaget tentu saja langsung membulatkan matanya sambil menghampiri Itachi.

"Hoi? Ada apa?"

"Di.. a…" ujar Itachi pelan masih sambil berusaha merebut kesadarannya kembali.

"Apa yang terjadi, heh? Itachi!" teriak Kisame sambil menggoyangkan tubuh rekannya tersebut. Dengan kasar, Itachi malah menepis tangan Kisame.

Itachi kemudian menutup matanya dan mengertakkan gigi-giginya dengan kuat. Sesaat kemudian, pemuda itu berdiri seolah semua kesakitan yang ia rasakan sebelumnya lenyap begitu saja.

"Aku.. Tidak apa-apa, Kisame!" jawab Itachi dingin. Seulas senyum tipis terbentuk di bibirnya.

Kisame hanya bisa menatapnya bingung sebelum ia mengarahkan Samehada-nya pada Itachi. Itachi menurunkan pedang tersebut dengan sebelah tangannya sebelum mendadak ia kembali menutup matanya.

Begitu Itachi membuka matanya, kedua mata yang semula onyx itu kini sudah berubah warna menjadi merah. Sharingan. Tidak. Mangekyou-Sharingan.

"Itachi?"

Itachi terdiam di tempatnya selama beberapa saat.

"Pergi.." ujar Itachi sambil menutup matanya kembali sehingga warna onyx-lah yang kembali mendominasi matanya.

"Hah?"

"Aku pergi sebentar! Kau tunggu di sini, Kisame!"

"Haaa? Oi! Itachi! Heh!"

Tanpa memberikan kesempatan protes pada Kisame, Itachi langsung menghilang di balik bayang-bayang malam. Dan Kisame hanya bisa menggerutu sambil duduk dengan gusar di tebing gersang tersebut.

-o-o-o-o-o-

"Haah.. Haah.."

Ino terbangun dari posisi tidurnya. Saat ia melepaskan jiwanya, tubuh kosongnya akan otomatis terjatuh di atas kasur. Dan kini, setelah jiwanya kembali, Ino seolah menjadi putri tidur yang kemudian terbangun. Bedanya, ia terbangun dengan paksa.

"Sial!" umpat Ino dengan sebuah senyum sinis terlukis di wajahnya. "Itachi-nii terlalu tangguh! Ia tetap saja tidak bisa kurasuki semudah itu! Sharingan-nya menyusahkan!"

Ino segera turun dari kasurnya. Lalu, secara mengendap-endap, ia melihat ke luar kamarnya. Lampu di bawah sudah dimatikan. Dugaan Ino, ayahnya sudah kembali ke kamar. Dengan cepat, Ino melesat ke bawah dan segera mengenakan sepatunya.

"Setidaknya, aku berhasil mendapatkan beberapa hal dalam waktu yang singkat dalam tubuhnya!"

Uchiha Sasuke.

Sandaime Hokage.

Shimura Danzou.

Coup d'etat dan keluarga Uchiha.

Ino kembali menyeringai.

"Dalam pikirannya pun, aku tidak bisa bebas mencari tahu! Itachi benar-benar mengunci rapat ingatannya!" keluh Ino dalam suara pelan.

Berlawanan dengan suaranya, gerakan Ino semakin cepat. Ia baru berhenti saat ia melihat gedung yang cukup menjulang di hadapannya.

Gedung Hokage.

"Rupanya, semua dimulai dari sini ya?" batin Ino sambil melihat gedung yang beberapa lampu di bagian dalamnya masih menyala ini.

Baru saja ia hendak melangkah secara cepat ke dalam. Beberapa kunai mendarat di dekat kakinya, membuat Ino meloncat ke belakang dan kemudian berbalik dengan cepat.

Dengan kunai sudah dipegang di kedua tangannya, Ino hendak meneriaki penyerangnya saat ia melihat motif awan merah di tengah remang-remang bayang pohon.

Tentu saja fakta itu membuat mata aquamarine Ino membesar karena tidak percaya. Tapi, Ino tidak diberikan kesempatan untuk berlama-lama berdiam diri. Sosok berjubah hitam dengan motif awan merah itu langsung menjauh darinya.

"Tung-.."

Ino menutup mulutnya dengan sebelah tangan.

Tidak boleh. Ino tidak boleh membuat keributan!

Jadi yang bisa Ino lakukan sekarang adalah…

Mengejarnya sekuat tenaga!

Ino mengerahkan chakra-nya di kedua telapak kakinya hingga ia sanggup bergerak dengan teramat cepat. Ia terus membuntuti sosok yang dikenalnya tersebut. Namun, meskipun ia telah mengerahkan seluruh chakra-nya semaksimal yang ia bisa, tetap saja ia tidak mampu mencapai kesejajaran dengan sosok yang dikejarnya.

Tapi Ino pantang menyerah. Walaupun ia tidak bisa menyamai kecepatan sosok yang dikejarnya, toh ia masih bisa mengikutinya. Ino terus berlari tanpa memperhatikan ke mana sosok itu tengah membawanya. Dan begitu sosok itu berhenti, Ino pun menghentikan langkahnya sebelum ia bergumul dengan perasaan lelah.

Secara perlahan, Ino menghapus keringat yang mulai mengalir sebelum ia mengamati di mana posisinya saat ini.

Di atas sebuah bukit yang dipenuhi pepohonan rindang. Di antara dirinya dan sosok itu, terbentang sebuah sungai berbatu yang di ujungnya terdapat air terjun dengan ketinggian yang lumayan. Ino lumayan mengenali tempat ini. Ia tahu, jika ia berjalan ke tepian air terjun, ia bisa melihat padang bunga kesayangannya yang membentang bagaikan karpet berwarna-warni tidak jauh dari letak air terjun tersebut.

Sosok yang masih membelakanginya itu tampak tidak akan berkata apapun, menunggu Ino sendiri yang memulai pembicaraan. Sesuai dugaan, gadis itu tidak tahan dengan suasana hening di antara mereka sehingga ia memutuskan untuk mulai bersuara.

"Ada apa? Apa racunnya mulai mengganggumu?" tanya Ino yang mengacu pada dusta yang dibuatnya menyangkut serum yang ia suntikkan pada sosok di hadapannya ini.

Akhirnya sosok itu secara perlahan berbalik menghadapnya.

Dengan tenang, sosok itu kemudian menjawab, "Aku tahu itu bukan racun. Apa yang baru kau lakukan, Yamanaka?"

"Oh! Baiklah! Ia memang sulit dikelabui!" batin Ino cukup kesal karena semudah itu kebohongannya terungkap.

"Aku tidak punya kewajiban untuk menjawabnya, Uchiha-san!" jawab Ino sinis dengan menyebutkan marga Itachi, tidak seperti biasanya.

"Kau…"

"Hanya saja," potong Ino, "sudah kukatakan kalau aku akan terus mengejarmu! Aku hanya melakukan apa yang bisa kulakukan! Kau tidak berhak untuk protes!"

"Aku tidak bisa membiarkan kau mencari tahu lebih banyak dari ini!" ujar Itachi menatap tajam ke dalam mata Ino.

"Berarti memang ada yang kau sembunyikan kan?"

Itachi terdiam.

Ino terdiam.

Keduanya terdiam hingga untuk sesaat hanya desiran angin yang membelai daun yang mendominasi keheningan. Ino menghela nafas.

"Aku akan mencari tahu apapun yang kuinginkan sampai aku puas dengan hasilnya!" ujar Ino sambil mengeluarkan kunainya.

Itachi tampak siaga dan mulai mewaspadai tiap gerak gerik Ino.

"Kau tidak berhak menghalangiku untuk melakukan apapun yang kumau!" imbuh Ino lagi dengan kuda-kuda seolah ia siap menyerang Itachi apabila Itachi masih berniat menghalanginya.

Karena Itachi tidak mengatakan apapun, Ino sudah siap berbalik, melaksanakan tujuan awalnya, menyusup ke gedung Hokage. Tapi mendadak, tali tipis langsung mengelilingi Ino. Hendak melilitnya. Andai Ino tidak memegang kunai, ia pasti sudah langsung terlilit dengan mudah. Untunglah saat itu kedua tangannya memegang kunai yang dapat memutuskan tali itu dalam sekejab.

"Kau…" ujar Ino sambil kembali menghadap Itachi dengan tatapan sedikit geram.

"Kalau kau bisa menjatuhkanku, walau hanya satu kali, maka aku akan membiarkanmu berbuat semaumu!" ujar Itachi tenang.

Ino terbelalak sesaat. Ia masih tidak percaya akan apa yang dikatakan Itachi. Tapi kemudian ia menyeringai.

"Boleh juga! Kalau aku berhasil menjatuhkanmu, kau harus memberitahukanku semua yang terjadi di masa lalu!" balas gadis itu sambil menunjuk ke arah Itachi.

Itachi tidak menjawab.

"Sebaliknya, kalau aku gagal membuatmu terjatuh, aku tidak akan mencari tahu lebih jauh lagi! Kau puas?" ujar Ino sambil berkacak pinggang.

Itachi langsung meloncat ke atas dahan sebuah pohon saat dirasanya kesepakatan telah tercapai.

"Kau hanya punya waktu 30 menit, Yamanaka!"

Ino mendecak sebentar mendengar batas waktu yang diberikan Itachi. Tapi ia tidak membuang-buang waktu dan langsung melemparkan kunainya pada Itachi. Pemuda itu langsung menghindari dengan cara meloncat dan tahu-tahu ia sudah ada di belakang Ino.

Itachi langsung menghantam Ino dan membuat gadis itu terjerembab ke dalam sungai. Ino mengumpat namun ia langsung bangkit dan kembali menyerang Itachi. Sekali ini, Itachi hanya mundur dan menghindar dari segala serangan taijutsu Ino.

"Ukh!" batin Ino mulai bersuara. "Jangankan menjatuhkannya! Menyentuhnya saja aku tidak bisa! Bagaimana ini?"

Sementara benaknya terus bekerja mencari cara, sekali lagi Itachi membuat gadis itu tersungkur ke tanah. Menunggu Ino bangkit kembali setelah jatuh, Itachi hanya menatap gadis itu dengan pandangan yang sulit dimengerti.

Merasa Itachi sedang lengah, Ino langsung mengayunkan kakinya untuk menjegal pemuda itu. Tapi sekali lagi sia-sia dan Itachi yang kembali berada di belakang Ino langsung menggerakkan tangannya dan membuat gadis itu kembali bersentuhan dengan dinginnya sungai.

"Haah.. Haaah…"

Nafas Ino mulai tersengal. Matanya sedikit kabur. Ia hanya bisa berpegangan pada tanah di atasnya agar tubuhnya tidak terseret arus sungai yang cukup deras.

"Apa Shintenshin no Jutsu bisa kugunakan?" tanya Ino di sela-sela jalan buntunya. "Tidak! Kuroozu saja bisa dipatahkannya! Apalagi Shintenshin biasa!"

"Sudah menyerah?"

"Jangan seenaknya memutuskan!"

Ino kembali menyerang tanpa strategi. Keduanya kini berada begitu dekat dengan tepi tebing, air terjun. Ino masih terus menyerang dengan taijutsu sambil sesekali menggunakan kunainya.

Tubuhnya yang sudah beberapa kali menghantam tanah dan bebatuan di sungai semakin terasa berat. Kakinya mulai bergetar karena kelelahan. Bagaimanapun, Ino sudah mengerahkan seluruh chakra-nya untuk meningkatkan kecepatan agar setidaknya ia bisa menyentuh Itachi sekali saja.

"Menyerahlah!" ujar Itachi lagi dalam nada yang datar.

"Tidak akan!"

Seolah menunjukkan kesungguhan tekadnya, Ino melempar kunai ke arah pemuda itu dengan sisa-sisa tenaganya. Namun, tepat saat itu, sebelah kakinya menjejak ke tanah tidak rata yang berada di tepi tebing. Tanah itu kemudian patah dan membuat Ino terperosok. Itachi yang kaget hanya bisa terdiam sehingga kunai yang sebelumnya dilempar Ino menyerempet bagian pipinya. Selanjutnya tidak ada suara yang terlontar dari keduanya.

Ino yang tampak belum menyadari keadaannya, tidak sempat berbuat apa-apa. Ia bahkan membiarkan tubuhnya melayang di udara sejenak sebelum ia siap jatuh bebas akibat tarikan gravitasi yang memang mutlak.

Itachi yang pertama kali menyadari apa yang tengah terjadi, langsung mengerahkan chakra-nya ke ujung kaki dan mengejar tubuh sang gadis berambut pirang yang sudah mulai meluncur ke bawah. Itachi meloncat dari tebing itu dan tanpa disadarinya, ia pun berteriak.

"INOOO!"

Ino tampak tersentak sebelum ia dapat melihat Itachi mengulurkan tangan ke arahnya. Tangan Ino sedikit bergetar sebelum ia menyambut tangan kokoh pemuda tersebut. Itachi kemudian menarik tangan gadis itu yang membuat tubuh sang gadis ikut tertarik ke arahnya. Ke dalam pelukannya. Selanjutnya, Itachi memutar tubuhnya hingga punggungnya yang menghadap ke arah bawah. Ino sendiri sudah menenggelamkan wajahnya ke dalam dada bidang Itachi.

Keduanya terus meluncur ke bawah dan….

BYUUUUUURRRRR!

Keduanya pun terjatuh ke dalam sungai yang cukup dalam di bawah air terjun. Untuk beberapa saat, keduanya masih saja berpelukan di dalam air. Seandainya mereka bisa bernafas di dalam air, entah berapa lama mereka akan tetap dalam posisi tersebut. Tapi sayang, persediaan oksigen semakin habis dan mereka harus langsung naik ke permukaan.

Itachi kemudian membawa Ino naik ke daratan bersamanya. Ino masih tidak melepaskan pegangannya pada Itachi. Setelah kaki keduanya menjejak tanah-pun, gadis itu masih menggenggam jubah Itachi dengan erat walaupun Itachi sendiri sudah melepaskan pelukannya pada Ino untuk menghapus jejak luka yang tadi sempat ditimbulkan oleh kunai gadis itu.

Ino menyentuhkan dahinya ke dada Itachi. Tubuhnya tampak bergetar. Itachi menduga Ino sedang menangis.. Tapi…

"HAHAHAHA!"

Tawa gadis itu-pun pecah!

Ino segera melepaskan pegangannya pada jubah Itachi yang memandangnya dengan bingung.

"Kau kalah, Itachi-nii!" ujar Ino sambil tersenyum.

"A-.."

"Aku berhasil membuatmu terjatuh kan?" ujar Ino dengan alis yang sedikit turun dan sebuah senyum manis.

Tak pelak lagi, mata onyx Itachi terbelalak. Ia tidak butuh waktu lama untuk mencerna apa maksud Ino.

Ia sadar.

Ia memang telah terjatuh

Dan semua gara-gara gadis itu.

"Sesuai perjanjian, kau harus memberitahuku apa yang terjadi sebenarnya!" ujar Ino sambil melepaskan ikatan rambutnya dan kemudian mengibaskannya.

"Perjanjiannya, adalah, aku akan membiarkanmu melakukan apapun yang kau mau!" jawab Itachi tenang.

"Apa?"

"Aku tidak pernah meng-iya-kan saat kau menyuruhku mengatakan semua yang telah terjadi di masa lalu!"

Dahi Ino tampak berkerut. Dan, yah… Dia bisa mengingatnya. Saat ia mengajukan penawaran itu, Itachi hanya terdiam, tidak mengatakan apapun.

"Hei? Kukira diam itu berarti kau setuju!" protes Ino kemudian sambil berkacak pinggang sebelah.

"Sayang sekali!" ujar Itachi sambil memejamkan matanya.

Ino tampak cemberut. Tapi ia tahu, dipaksa seperti apapun, Itachi pasti tidak akan mau buka mulut. Ino-pun mengalah dengan pemikiran bahwa ia seorang diri-pun pasti bisa mendapatkan informasi yang ia inginkan. Ia adalah keturunan Yamanaka yang terkenal karena kemampuannya mencari informasi. Bukankah demikian?

"Baik, baik! Yang jelas, kini kau tidak berhak protes pada apapun yang kulakukan! Betul?"

Itachi hanya mengangkat bahu dan siap beranjak pergi. Tapi Ino tidak membiarkan semuanya jadi mudah bagi Itachi. Gadis itu menarik jubahnya dan membuat pemuda itu kembali berbalik.

"Ada apa lagi?"

Sekali itu, Ino menatap mata onyx Itachi dalam-dalam.

"Kau.. Mau langsung pergi?" ujar gadis itu kemudian, masih dengan tangan yang menggengam jubah hitam Itachi.

"Aku sudah tidak ada urusan lagi di sini!" jawab Itachi dingin.

"Aku.. Aku masih punya urusan… Denganmu!" ujar Ino dengan sedikit terpatah-patah. Itachi hanya menatapnya dalam ekspresi datar. "Banyak… Yang ingin kubicarakan denganmu!" lanjut Ino kemudian.

Sekali itu, cahaya bulan membuat semuanya terlihat begitu jelas. Tatapan Ino yang menusuk dan rona merah di wajah gadis itu membuat Itachi kehilangan ekspresi datarnya. Keterkejutan kini tampak jelas di wajahnya.

"Itachi-nii…"

Itachi terdiam mematung di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang. Pikirannya kacau. Ia benar-benar tidak bisa berpikir saat itu. Seandainya ia tahu yang harus ia lakukan. Walaupun sebenarnya, jawabannya mudah saja.

"Kumohon.. Jagalah dirimu baik-baik!" pinta Ino dengan wajah yang sudah tertunduk. Tangannya menggenggam semakin erat jubah Itachi seolah ia tidak ingin melepas pemuda tersebut. Tapi Ino tahu, ia pun tidak mempunyai hak untuk melarang Itachi melakukan apa yang pemuda itu mau. Karenanya, hanya pesan itulah yang bisa ia sampaikan. "Jangan… Jangan mati sampai aku bisa membuktikan kebenarannya! Jangan mati sampai aku bisa mengatakan pada semua orang bahwa kau… Adalah Itachi-nii yang baik hati!"

Perasaannya mengalahkan logika yang membatasinya.

Ketulusan gadis itu benar-benar telah meruntuhkan pertahanan terakhir dari dirinya.

Ia tidak tahu apa yang ia lakukan. Tapi saat ia tersadar, tubuh mungil gadis itu sudah berada dalam rengkuhannya. Sebaliknya, tangan gadis itu telah melingkar sampai ke punggungnya, membalas segala kehangatan yang bisa ditawarkan Itachi di malam yang dingin dengan tubuh yang basah kuyub.

"Kenapa.. Kau begitu peduli padaku?"

Ino masih terdiam, tubuhnya mulai bergetar dalam pelukan Itachi.

"Katakan padaku, Yamanaka!"

"Ino," sanggah Ino dengan suara yang mulai parau. "Panggil aku 'Ino' seperti tadi, Itachi-nii."

Ino mengatakan kata-kata terakhirnya sembari mengangkat wajahnya sendiri, memandang Itachi dengan air mata yang sudah mengalir di kedua pipinya. Sekali lagi, di luar kehendaknya, tangan Itachi mulai bergerak dan menyentuh pipi gadis itu.

"Ino," ujarnya perlahan.

Ino tersenyum.

"Ino…" ulang Itachi seolah ia belum puas memanggil gadis itu.

"Aku.. Menyukaimu… Itachi-nii!" ujar Ino masih dengan senyum terbaiknya. Sekali itu, Ino memegang tangan Itachi yang menyentuh pipinya dan memejamkan matanya.

Itachi tidak lagi berkata apa-apa. Dorongan yang selama ini ditahannya pun lepas sudah. Ino sendiri tidak menolak saat bibir pemuda berambut hitam itu menyentuh bibir ranum miliknya. Awalnya hanya sebuah ciuman singkat, sebatas bibir bertemu bibir. Selanjutnya, keduanya pun terlarut dalam ciuman panjang yang memabukkan.

Beberapa saat kemudian, keduanya menyudahi ciuman hangat nan lembut itu. Mata mereka berkata-kata dalam hening. Air mata Ino pun surut bersamaan dengan ciuman yang tidak diduganya itu. Menggantikan air matanya, rona merah di wajah Ino semakin jelas terlihat.

Dengan gerakan kikuk, Ino kemudian menunduk dan melepaskan diri dari Itachi. Ia menyentuh bibirnya sendiri sembari berpikir apa yang baru saja terjadi di antara keduanya.

"A.. Ano.." ujar Ino gelagapan. Lihat saja, wajahnya sudah benar-benar semerah kepiting rebus.

Saat itu, Itachi hanya bisa terdiam dengan rona tipis di wajahnya. Tangannya sendiri tengah menutup mulutnya seolah berusaha menghapus perbuatannya sebelumnya. Tapi ia tahu, semua sia-sia. Ia telah mencium Ino dan gadis itu tidak menolaknya. Itu kenyataan.

"Po-pokoknya.. Itachi-nii harus kembali! Dan.. Soal pernyataanku tadi.. Err… Yah.. Lupakan saja!" ujar Ino sambil memejamkan matanya.

"Hemph! Kau benar-benar mau aku melupakannya?"

"Tidak!" jawab Ino cepat sambil mendongak kembali. "S-sebenarnya tidak! Aku serius.. Saat mengatakannya tadi…" tambah gadis itu dengan lemah.

"Tapi.. Kalau menurutmu itu hanya akan mengganggu…"

Itachi kembali mendekat ke arah Ino. Ia mengecup kening gadis itu dan membuat Ino teringat malam di mana Itachi melakukan hal yang serupa padanya.

"Akan terus kuingat! Dan saat kau berhasil menemukan apa yang kau cari, aku akan…" Itachi menggantungkan perkataannya hingga Ino memandangnya dengan bingung.

Tapi, sesaat kemudian, pemuda itu menghela nafas dan seulas senyum tipis kini terlihat di wajahnya yang entah sejak kapan telah dipenuhi suatu emosi.

"Nanti saja! Yang jelas… Kau juga berhati-hatilah! Jaga dirimu!"

Selanjutnya, perlahan tapi pasti, pemuda itu beranjak mundur, menjauh dari Ino.

"I-Itachi-nii!" ujar Ino dengan tangan yang terangkat sebelah saat ia melihat Itachi sudah akan pergi dari hadapannya.

"Aku berjanji padamu. Meski aku terjatuh berkali-kali-pun, aku akan bangkit untuk kembali ke tempatmu! Aku tidak akan bergerak ke mana-mana! Dan itu.. Karena aku sudah tenggelam terlalu dalam untuk perasaan bodoh ini!" ujar Itachi perlahan.

Sekali itu, Ino terdiam di tempatnya. Tapi kemudian, ia berseru.

"Aku juga sama! Sampai kapanpun… Aku akan mengejarmu! Aku akan terus mengejarmu hingga aku bisa berjalan berdampingan denganmu!" ujar Ino dengan mata yang mulai kembali berkaca-kaca. "Karena itu… Karena itu.. Sampai saatnya… Aku akan terus menjaga perasaan ini! Aku tidak akan membiarkan seorangpun merusaknya!"

Itachi tersenyum sekilas. Senyum yang tidak pernah berubah dalam ingatan Ino sejak terakhir ia melihatnya. Bagaimana-pun, ia masih Itachi yang Ino kenal. Itachi yang baik hati.

"Arigatou… Ino-chan!"

Dan Itachi-pun menghilang ditelan kegelapan malam, meninggalkan Ino yang berusaha mati-matian menghapus air matanya yang akan kembali tumpah. Tapi Ino berhasil. Ia bahkan bisa memaksakan agar sebuah senyum kembali menghinggapi wajahnya.

Meski pakaian yang basah dan angin malam membuatnya menggigil, tapi gadis itu merasakan suatu kehangatan yang lain.

Ya, hatinya kini terasa begitu hangat.

Semua kesedihannya-pun sirna.

Satu kepastian telah menghapus semua kegundahannya.

Kini, ia akan kembali melangkah maju untuk meraih masa depannya. Berkali-kali terjatuh pun ia akan bangkit dan kembali berlari untuk mengejarnya.

Karena Ino bisa melihat, sebuah harapan yang, meskipun kecil, akan segera menerangi kegelapan yang sudah lama merajalela.

Dan harapan itu, bernama 'janji'.

*** TBC***


AN:

1. Ufufufu! Scene romansu-nya! Scene romansu! Hahahaha… *euphoria* Anehkah? Jelekkah? Apa jadi OOC dua2nya? Huwaaa… *mendadak depresi* Moga-moga sih gak terlalu mengecewakan. Tapi saya gak bisa menahan diri buat gak bikin adegan ini. Saya pengen banget masukin adegan romansu mereka di luar pertarungan, tapi di depannya juga ada pertarungan sih ya.. -.-'

2. Gimana ama jutsu-nya Ino? Udah cukup jelas-kah? Kalau ada yang belum jelas, boleh nanya koq.

3. Ohyah, sekalian mu ngasih bocoran sedikit, ch. ini jadi ch. terakhir sebelum skip time ke shippuuden nanti. Dan mgkn, tinggal beberapa ch. lagi sebelum fic ini mencapai ending. hehe..

4. Sebelum lupa bilang, sama kaya fic saya yang satu lagi, saya mulai gak bisa menjanjikan update express.. tugas sudah menunggu di depan mata..Huhuhu...

5. Yah...sekian dulu untuk chapter kali ini. c u next chapter! Hope u all like this fic. :3