Saat itu, fajar belum memunculkan sinarnya di Guatemala, Amerika Tengah. Suasananya begitu tenang karena waktu masih menunjukkan pukul tiga lewat empat puluh menit pagi kala itu, dimana mayoritas penduduknya belum kembali dari alam bawah sadar masing-masing. Namun tidak di kediaman bos kartel narkoba Sinaloa. Beberapa penjaga bersenjata telah dibayar untuk mengawal beberapa sudut rumah bergaya Meksiko itu, menjaga pemilik rumah dan kekayaannya dari serangan orang luar. Bagi beberapa orang, benteng pertahanan rumah megah itu terlihat sulit ditembus.
Namun tidak bagi Chanyeol.
Akan selalu ada jalan bagi Chanyeol untuk menembus rumah seseorang, termasuk target seumur hidupnya.
"Apa yang–" Salah seorang penjaga terkejut ketika seluruh lampu di rumah itu padam. Kepalanya celingukan dalam kegelapan, tak tahu harus menanyakan hal ini pada siapa karena ia sendiri tak tahu pasti dimana letak rekannya berdiri. "Hey, seseorang cepat hidupkan kembali–"
DOR! DOR! DOR! DOR! DOR!
Suara tembakan beruntun dari arah bawah tanah berhasil menjatuhkan beberapa penjaga yang berjaga di lantai satu. Dirugikan dengan keadaan ruangan yang gelap, keberadaan sang penembak yang tak pasti juga membuat para penjaga tak bisa membalas tembakan itu dengan akurat. Ini sungguh menyulitkan mereka. Pada akhirnya, para penjaga itupun tumbang dengan sekujur tubuh berlumurkan darah akibat luka tembakan―mati.
DOR! DOR! DOR! DOR! DOR!
Belum cukup sampai disitu, suara tembakan kembali terdengar di lantai dua. Para penjaga di lantai dua mati-matian berusaha membalas tembakan asing itu hanya dengan bermodalkan insting. Namun sayangnya, insting tak cukup menyelamatkan mereka dari tembakan brutal tersebut. Dan hal terakhir yang bisa dipastikan di rumah megah itu adalah bangunnya sang pemilik rumah di kamar tidur utama, yang merupakan target utama atas penembakan brutal di dini hari itu―El-Chapo.
.
.
.
###
THE IDENTITY
Chapter 9 – The Target (El-Chapo)
Main Casts : Byun Baekhyun & Park Chanyeol
Support Casts : Oh Sehun, Cho Kyuhyun, Jessica Jung, Kim Yeri (RV)
Genre : Romance, Crime/Action, School Life
Rate : M
Warning : Yaoi, Shounen-ai, Boys Love, Boy x Boy
###
.
.
.
Sepasang onyx milik El-Chapo bergerak waspada, tangannya secepat mungkin mengambil pistol FN 57 dan sebuah senter di laci nakas dekat ranjang. Kemudian dengan langkah tanpa suara, ia berjalan keluar dari kamarnya. Entah bagaimana, firasatnya mengatakan bahwa beberapa orang asing menyerang dirinya dari dalam dan luar. Ia bahkan yakin tak banyak penjaga di dalam rumahnya yang bertahan akibat pembantaian tadi.
Kewaspadaan pria berdarah Meksiko itu kian meningkat tatkala obsidiannya menangkap tubuh tak bernyawa para penjaganya di beberapa sudut rumahnya. Untuk berjaga-jaga, El-Chapo membawa serta senjata AKS-74U milik penjaganya yang tergeletak di lantai. Sementara fisiknya masih fokus pada gerakan mencurigakan di dalam rumahnya yang tak banyak dipenuhi cahaya, benaknya justru berpikir keras siapa dalang di balik penyerangan ini.
Sempat terpikir oleh El-Chapo bahwa mungkin saja ini ulah DEA, FBI, atau Interpol yang sudah lama mengejarnya, tapi kemudian ia merasakan beberapa kejanggalan. Jika ini perbuatan salah satu dari ketiga organisasi itu, apakah mungkin tak satupun petugas bersenjata terlihat di dalam rumahnya―sekalipun itu hanya siluet? Dan lagi, bagaimana mungkin mereka melakukan penyerangan sebutral itu hanya untuk menangkapnya? Daripada disebut 'penangkapan', El-Chapo menyebut ini sebagai 'kesengajaan'.
Sang musuh ingin memancingnya keluar.
"Joaquin!" Tiba-tiba El-Chapo dikejutkan oleh kehadiran sahabat sekaligus kaki tangannya―Marco. Tetesan darah menghiasi paras pria berumur empat puluhan itu. "Kau harus bersembunyi! Kita sedang diserang!"
"Kau tahu siapa yang melakukan penyerangan ini?" tanya El-Chapo.
"Entahlah." Marco menggelengkan kepalanya. "Tapi aku akan cari tahu. Bersembunyilah, aku akan–"
"Tidak. Aku sendiri yang akan membunuh orang yang cari gara-gara denganku." El-Chapo memotong, raut mukanya tiba-tiba berubah menjadi dingin. "Kita berpencar."
.
.
"Lantai satu sudah aman." ucap Kyuhyun melalui alat komunikasi di telinganya, yang tersambung pada Sehun dan Chanyeol yang tak bersamanya. "Kau sudah menemukan keberadaan El-Chapo, Sehun-ah?"
"Belum." Sehun yang bertugas di dalam mobil van (tak jauh dari kediaman El-Chapo) menjawab singkat, dan Kyuhyun hanya mampu menghela napas. Pria tampan itu memutuskan untuk membuka kacamata night vision-nya, melihat keadaan di sekelilingnya sudah tak segelap setengah jam yang lalu.
Kyuhyun mengusap sudut bibirnya yang agak robek, tepat pada darah yang keluar akibat pertarungannya tadi dengan beberapa penjaga bersenjata. Seraya mengatur napasnya yang agak berantakan, senjata HK416 di tangannyapun diturunkan. Satu hembusan napas kembali terdengar mengetahui persediaan peluru dalam senjata buatan Austria itu telah habis. Well, Kyuhyun sungguh berharap tak ada penjaga bersenjata tersisa di dalam rumah itu, karena selain senjata HK416 miliknya sudah tak memiliki sisa peluru, sisa satu peluru dalam pistol Glock 19 tak akan membantunya.
Tapi sepertinya keberuntungan sedang tak berpihak padanya.
Suara pelatuk yang ditarik adalah buktinya. Dan ketika Kyuhyun menoleh ke sumber suara, ia menemukan Marco tengah menodongkan pistol Sig Sauer P250 ke arahnya.
"Ternyata kau salah satu di balik penyerangan ini," desis Marco dalam bahasa Inggris, "Byun Kyuhyun."
Kyuhyun tak menjawab, hanya memakukan pandangan seutuhnya pada musuhnya. Mendapati hal tersebut, Marco tak ambil waktu lebih lama untuk meluncurkan tembakan ke kepala Kyuhyun, namun pria berdarah Korea itu lebih cepat menahan tangan Marco yang memegang pistol sehingga peluru itu tak mengenainya. Kyuhyun bermaksud untuk mengambil pistol tersebut, namun Marco lebih dulu memindahkan pistol buatan Jerman itu ke tangan kirinya. Marco sudah sedekat ini untuk menembak Kyuhyun, tapi kembali pria bermarga Byun itu menahan tangannya, yang kemudian disusul dengan pukulan keras tepat di wajah Marco sehingga pria itu terjerembab ke lantai.
Kyuhyun mengambil kesempatan dengan mengambil pistol milik Marco. Perbandingan waktu yang tipis ketika Kyuhyun hendak melayangkan tembakan, bersamaan dengan Marco yang lebih dulu menyerang Kyuhyun dengan pecahan kaca, menghasilkan hasil yang signifikan. Alhasil, tangan Kyuhyun terluka, dan pistol kembali jatuh ke tangan Marco. Kyuhyun tak kehilangan akal. Ia mengambil pistol Glock 19 di balik punggungnya seraya menghindari serangan Marco. Pria berdarah Korea itu tersenyum penuh kemenangan di balik dinding yang ia gunakan sebagai tameng saat mendengar betapa banyak peluru yang dihabiskan pria berdarah Meksiko itu.
Detik dimana Kyuhyun sudah memiliki keyakinan penuh bahwa Marco memiliki stok peluru yang terbatas, saat itulah ia menyerang Marco. Dengan sisa satu peluru di pistol Glock 19, Kyuhyun melayangkan tembakannya tepat ke tangan Marco yang memegang pistol sehingga pistol Sig Sauer P250 itu terlempar jauh. Tak memiliki senjata api, tentunya tak menghentikan pertarungan kedua pria itu, terlihat jelas saat Kyuhyun memukul titik fatal pada tubuh Marco dengan grip pistolnya.
Marco tentunya tak tinggal diam. Ia mengambil pisau lipatnya, kemudian menghentikan serangan Kyuhyun dengan menyayat tangannya, membuat pistol Glock 19 milik Kyuhyun terlempar ke sudut ruangan. Kyuhyun mengumpat pelan akibat luka sayatan kedua yang ia dapat dari Marco. Pria bermarga Byun itu kemudian melepaskan sabuk di celananya, menggunakannya sebagai senjata barunya. Ketika Marco datang menyerang dengan pisau lipatnya, Kyuhyun segera menahannya dengan memelintir tangan Marco ke belakang menggunakan sabuknya.
"Arrghh!" Marco mengerang keras saat rasa sakit pada tangannya yang dipelintir bertambah karena Kyuhyun memukul sendi di lengannya. Memanfaatkan keadaan tersebut, dengan cepat Kyuhyun singkirkan pisau lipat di tangan Marco, lalu memukulnya tanpa ampun. Tak ingin dirinya dikalahkan, Marco-pun menendang lutut Kyuhyun dengan keras sehingga pukulan itu berhasil dihentikan. Diambilnya sabuk Kyuhyun, lalu dilingkarkannya sabuk itu di leher Kyuhyun. Dengan segenap tenaga yang masih dimilikinya, Marco mencekik Kyuhyun kuat-kuat.
"Akh!" Kyuhyun nyaris kehilangan napas, tangannya sebisa mungkin menahan sabuk itu agak tak terlalu mencekiknya. Namun semakin Kyuhyun berusaha melepaskan diri, cekikan Marco semakin menguat. Ini tidak bagus―pikirnya. Ia bisa mati kalau tidak melakukan sesuatu.
DOR! DOR!
Netra Kyuhyun membola sempurna saat tubuh Marco ambruk dengan darah mengalir dari kepalanya karena tembakan dari arah belakang mereka. Kyuhyun sungguh tak memikirkan kemungkinan apapun, kecuali Sehun atau Chanyeol datang menyelamatkannya, namun yang dilihatnya sungguh berbanding terbalik.
"B–Baekhyun?" Kyuhyun bangkit tanpa melepaskan pandangannya dari anak sulungnya. "Apa yang kau lakukan disini?"
"Kurasa bukan aku yang harus memberikan penjelasan disini." Baekhyun menjawab dengan intonasi dingin seraya menurunkan pistol Beretta 92 di tangannya. "Dimana Park Chanyeol?"
.
.
Suara sepatu Chanyeol yang beberapa kali menginjak pecahan kaca di lantai dua, tak sedikitpun membuat remaja tinggi itu terusik. Mata yang buta di sebelah kiri itu justru semakin waspada, menilik lamat-lamat kemungkinan beberapa penjaga yang masih hidup dan―tentunya―keberadaan targetnya. Siapapun yang dianggapnya musuh, pistol Pardini GT9 dalam genggamannya siap membidik. Meskipun begitu, sisi kiri Chanyeol masih merupakan titik kelemahannya.
Dan seseorang di belakang remaja tinggi itu mengetahuinya.
SYUT!
Chanyeol menghindar secepat yang ia bisa ketika instingnya mendeteksi sebuah ancaman dari arah belakangnya. Dan ternyata benar. Sebuah pisau dari arah belakang melayang tepat ke sisi kirinya. Sayangnya, reaksi yang agak lambat membuat pipi kiri laki-laki bersurai dark brown itu terluka. Tidak fatal, tapi merupakan ancaman besar bila ia tak menghindar tadi.
"Ternyata itu benar kau, Park Daejung." Penuturan dalam bahasa Inggris itu membuat Chanyeol menajamkan tatapannya pada sosok pria berumur lima puluh sembilan tahun yang tengah menyeringai ke arahnya. Itu adalah El-Chapo.
Chanyeol mengusap darah yang mengalir di pipi kirinya tanpa melepaskan tatapan tajamnya dari El-Chapo. "Ternyata kau masih ingat, Pak Tua."
"Mana mungkin aku lupa." El-Chapo mendengus. "Anak dari Park Minho yang mata kirinya dibutakan."
"Jangan sebut nama Ayahku dengan mulut kotormu, brengsek." Chanyeol menggeram, rahangnya seketika mengeras.
"Wow. Ternyata mulutmu sama tajamnya dengan Ayahmu ya?" cibir El-Chapo, seringaiannya semakin lebar karena Chanyeol tak memberikan respon apapun setelahnya. "Menarik sekali. Aku penasaran apa saja yang telah kau pelajari selama bertahun-tahun, Park."
"Kau akan menyesali ucapanmu sendiri." Chanyeol mendesis.
"Begitukah?" El-Chapo menodongkan senjata AKS-74U tepat ke arah Chanyeol. "Well, kita buktikan saja."
DOR! DOR! DOR! DOR! DOR!
Dan semuanya terjadi begitu saja. Baik itu El-Chapo ataupun Chanyeol, sama-sama melindungi diri sendiri dari tembakan musuh, kemudian membalas di saat-saat tertentu. Satu sama lain tampak tak ingin kalah. El-Chapo bahkan tak segan-segan menghancurkan barang-barang bernilai jutaan dollar-nya hanya untuk menyerang Chanyeol. Namun pada keadaan ini, El-Chapo lebih diuntungkan dengan besarnya nominal persediaan senjata, belum termasuk cadangan peluru yang ia punya.
Di lain sisi, Chanyeol yang awalnya bisa mengimbangi serangan El-Chapo, kini mulai terlihat kewalahan. Pasalnya, El-Chapo selalu mengincar sisi kiri Chanyeol, yang mana merupakan titik lemah Chanyeol. Beberapa kali Chanyeol mengambil kesempatan untuk menembak El-Chapo, namun―sialnya―pria itu tak memberinya banyak celah untuk bergerak. Yang lebih buruknya lagi, rasa sakit pada mata kirinya tiba-tiba kambuh. Alhasil, tembakan Chanyeol meleset, dan bahu kirinya tertembak salah satu peluru El-Chapo.
"Sial!" Chanyeol mengumpat pelan, tangannya memegangi bahu kirinya yang serasa terbakar. Laki-laki tinggi itu semakin merapatkan tubuhnya pada dinding guna melindungi diri dari serangan El-Chapo yang seperti tak punya akhir. Kekesalannya semakin menjadi karena pistolnya tak memiliki banyak peluru dan rasa sakit di mata kirinya membuat segalanya bertambah buruk, namun ia berusaha untuk tak panik. Chanyeol-pun memaksa otak cerdasnya untuk bekerja lebih keras.
Seketika, sebesit ide untuk meminta bantuan Kyuhyun dan Sehun terpikirkan oleh Chanyeol. Walaubagaimanapun, dirinya tak punya banyak pilihan saat ini. El-Chapo sudah mengetahui kelemahannya. Sekalipun ia bisa memanfaatkan benda lain sebagai pengganti pistolnya, rasa sakit di mata kiri dan luka di bahu kirinya hanya akan menghambat pergerakannya. Dan lagi, tujuan dari penyerangan ini adalah El-Chapo. Jika Chanyeol bersikeras memperjuangkan egonya untuk menyerang El-Chapo sendirian dalam keadaan seperti ini, justru dirinyalah yang akan terbunuh sebelum sempat melukai salah satu anggota tubuh pria paruh baya itu.
"Arghh!"
Akan tetapi, erangan dari mulut El-Chapo berhasil menghentikan niatan Chanyeol. Dengan alis bertautan, laki-laki tinggi itupun mengintip di balik dinding untuk melihat apa yang terjadi. Dan detik berikutnya, hanya ada netra Chanyeol yang terbelalak mengetahui El-Chapo tengah diserang Baekhyun. Tembakan yang sukses mengenai punggung El-Chapo itu menghasilkan baku tembak antara remaja mungil bermarga Korea dan pria paruh baya bermarga Meksiko.
"B–Baekhyun?" Chanyeol tak bisa berhenti terkejut, bahkan ketika Baekhyun sukses menghindari tembakan El-Chapo dengan berlari ke arahnya. "K–kenapa kau ada–"
Ucapan Chanyeol terhenti tatkala Baekhyun mengarahkan pistolnya ke kepala yang lebih tinggi. Tatapan si mungil berubah tajam, menunjukkan dengan jelas amarah yang beberapa jam ini ditahannya.
"Sekali saja." desis Baekhyun. "Jika sekali lagi kau melakukan misi tanpaku, aku akan menembak kepalamu!"
Raut terkejut Chanyeol perlahan berubah menjadi sendu. Tak dihiraukannya pistol Beretta 92 milik Baekhyun yang masih menempel di kepalanya ataupun ancaman yang dilontarkan si mungil, Chanyeol justru menunjukkan raut penyesalannya. "Aku..hanya tak ingin terjadi hal buruk padamu, Baek.."
"Lalu, bagaimana jika terjadi hal buruk padamu, bodoh?!"
"Tidak apa." Chanyeol mengelus lembut pipi Baekhyun, dengan senyuman tulus di sudut bibirnya. "Selama kau baik-baik saja.."
Baekhyun tahu seharusnya ia merasa kesal pada Chanyeol, tapi reaksi tubuhnya justru mengkhianatinya. Jantungnya malah berpacu cepat, dan pipinya bersemu dengan tidak elitnya. Tak ada hal efisien yang mampu dilakukan Baekhyun untuk menutupi rona tersebut. Itu sebabnya ia menggigit bibir bawahnya, berusaha menekan perasaannya yang hampir meledak.
"Aku tetap akan menembak kepalamu kalau kau mengulanginya lagi, Park." ancam si mungil, mata sipitnya menghindari netra Chanyeol. Namun tak lama, ia kembali mendongak saat teringat sesuatu. "Daripada itu, mata kirimu baik-baik saja?"
Chanyeol mengangguk pelan. "Sekarang sudah baik-baik saja."
DOR! DOR! DOR!
"Sampai kapan kalian akan bersembunyi, hah?!" El-Chapo berteriak di antara jeda tembakannya. Sepertinya bos kartel narkoba dari Sinaloa itu nyaris kehilangan kesabarannya dalam menghadapi dua remaja itu.
"Kau punya rencana?" tanya Baekhyun seraya mengisi ulang peluru pistolnya.
"Ya." Chanyeol menatap ke dalam manik Baekhyun. "Kau percaya padaku'kan?"
Ada jeda ketika Baekhyun menyelami manik kelam Chanyeol, mencari kesungguhan disana. Dan Baekhyun tahu ia tak membutuhkan waktu yang lama untuk menemukannya. Jadi, iapun menganggukkan kepalanya di detik kelima sebagai jawabannya atas pertanyaan Chanyeol.
"Aku butuh sisi kirimu." Chanyeol memindahkan pistol milik Baekhyun ke tangan kiri laki-laki mungil itu. "Arahkan pistolmu selalu ke El-Chapo. Aku akan melindungimu."
Begitu Baekhyun mengangguk paham, Chanyeol menarik Baekhyun ke belakang punggungnya, lalu mengarahkan pistol di tangan kanannya ke arah El-Chapo. Baekhyun yang memegang pistol di tangan kirinyapun melakukan hal yang sama untuk selalu mengarahkan pistolnya ke arah El-Chapo―sesuai instruksi Chanyeol. Dengan fokus penuh dan gerakan pasti, mereka berdua menyerang El-Chapo dari sisi kiri juga kanan.
DOR! DOR! DOR! DOR! DOR!
Siapa yang tahu? Ternyata aksi itu membuahkan hasil.
"Sialan kalian!" El-Chapo mengumpat ketika tembakan Chanyeol dan Baekhyun mengenai bahu kanan dan lengan kirinya. Dikuasai amarah yang mencapai ubun-ubun, El-Chapo-pun semakin membabi buta melancarkan aksi penembakannya pada Chanyeol dan Baekhyun yang berlindung di balik tembok, tak peduli sekalipun persediaan pelurunya semakin menipis.
"Berapa banyak sisa pelurumu?" tanya Chanyeol.
Baekhyun mengecek, kemudian menjawab, "Dua."
Chanyeol melirik El-Chapo sesaat, kemudian memberikan instruksi mutlak, "Tembak kakinya."
"Apa?" Intonasi Baekhyun sedikit naik, alisnya menukik tajam―pertanda bingung sekaligus tak percaya. "Aku punya dua peluru, dan kau ingin aku hanya menembak kakinya? Aku bisa saja–"
"Aku tahu." Chanyeol memotong, lalu menatap Baekhyun dengan pandangan yang sulit diartikan. "Lakukan saja. Aku tahu yang kulakukan."
Baekhyun sungguh tak mengerti jalan pikiran Chanyeol. Ia bahkan tak tahu apa tujuan Chanyeol sebenarnya, padahal ia yakin ia bisa melakukan hal yang lebih baik untuk melumpuhkan El-Chapo daripada sekedar menembak kedua kakinya. Dan yang lebih menyebalkannya lagi, ini bukan waktu yang tepat bagi Baekhyun untuk berdebat dengan Chanyeol.
"Baiklah." Baekhyun mengalah, mendengus kesal di akhir kalimatnya. Laki-laki mungil itu kemudian menyembulkan pistolnya di balik dinding, memanfaatkan pantulan cermin di hadapannya untuk mengecek posisi El-Chapo. Begitu dirinya yakin akan posisi targetnya, dua tembakan diluncurkan secara beruntun tepat ke kaki El-Chapo.
DOR! DOR!
Ketika El-Chapo terjatuh, Chanyeol mengambil senjata AKS-74U yang tadi dipegang pria paruh baya itu, kemudian menggunakan grip-nya untuk memukul titik fatal pada tubuh pria itu. Erangan demi erangan kerap terdengar dari mulut El-Chapo, namun Chanyeol seolah menulikan pendengarannya. Ia tetap memukul pria keturunan Meksiko itu sampai dirasanya cukup. Hal itu tak dilakukannya semata-mata karena dendam, melainkan untuk membuat pria gemuk itu tak mampu menggerakkan persendiannya, bahkan hanya untuk berdiripun akan terasa sulit.
"Hanya ini kemampuanmu, bocah?" cibir El-Chapo, entah bagaimana masih mampu mengembangkan seringaian di sudut bibirnya. Namun Chanyeol tak menjawab. Remaja bersurai dark brown itu tetap pada tempatnya, menatap dingin lawannya. Tak ada rasa belas kasihan dalam manik kelam itu. Kendati emosinya telah mencapai batas maksimal, Chanyeol tetap melakukan yang terbaik untuk mengontrolnya.
Inilah rencananya.
"Sebelumnya kau bertanya apa saja yang sudah kupelajari selama bertahun-tahun ini, bukan?" Chanyeol bertanya dengan suara rendahnya. Tangannya mengeluarkan sebuah plastik kecil dari saku celananya. Plastik kecil itu berisikan serbuk putih, Baekhyun tak yakin serbuk apa itu. Laki-laki mungil itu hanya mampu mengerutkan dahinya ketika Chanyeol meniupkan serbuk tersebut pada El-Chapo.
"Aku belajar menjadi kuat, tak mudah percaya―bahkan pada orang yang selama ini kuanggap orangtua kandungku sendiri, juga belajar mengontrol emosiku. Semuanya kulakukan semata-mata untuk hari ini. Kematian orangtuaku, butanya mata kiriku, kesakitan yang kutampung selama bertahun-tahun.." Tatapan mata Chanyeol menjadi kosong. "Kau harus membayar semuanya, El-Chapo."
Baekhyun tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi yang pasti El-Chapo tak menunjukkan reaksi apapun setelah Chanyeol meniupkan serbuk putih itu kepadanya. Pandangan pria paruh baya itu menjadi kosong, seolah sedang dihipnotis.
"Tembak kepalamu."
Mendengarnya, mata sipit Baekhyun sontak membulat sempurna. Dan itu bukan bagian klimaks. Nyatanya, laki-laki mungil itu kembali dikejutkan saat El-Chapo benar-benar melakukan perintah Chanyeol. Perlahan tapi pasti, pria bertubuh gemuk itu mengambil pistol FN 57 di balik punggungnya, kemudian mengarahkannya ke kepalanya. Ia tak terlihat takut ataupun ragu, justru tampak tenang. Menyaksikan hal ini, membuat adrenalin Baekhyun meningkat. Atensinya bergerak ke El-Chapo, berpindah pada Chanyeol, dan berakhir kembali di El-Chapo. Pelatuk ditarik oleh El-Chapo, dan–
DOR!
El-Chapo mati di tempat detik itu juga.
###
Sehun mengatakan bahwa serbuk yang digunakan Chanyeol kemarin adalah scopolamine. Itu adalah jenis obat yang sama dengan yang disuntikkan pasangan Choi ke mata kiri Chanyeol, hanya saja yang ditiupkan Chanyeol pada El-Chapo itu berbentuk serbuk. Sedikit saja dosis yang digunakan, mampu membuat korban menjadi zombie. Sang korban akan terlihat seperti sedang dihipnotis, bahkan tak akan melakukan perlawanan atau reaksi apapun saat dimanfaatkan. Adalah hasil yang tak aneh jika El-Chapo menembak kepalanya sendiri atas perintah Chanyeol.
Dan kini semuanya telah berakhir. Setelah Sehun dan Baekhyun membereskan puing-puing kejahatan mereka di kediaman El-Chapo, juga luka Chanyeol dan Kyuhyun telah diobati, mereka berempatpun kembali ke Korea Selatan. Tak ada percakapan antara Chanyeol dan Baekhyun sampai mereka tiba di kediaman Byun tepat pukul tujuh pagi. Namun hal pertama yang dirasakan Baekhyun saat melewati pintu masuk rumahnya adalah rasa sesak, terjadi saat Chanyeol memeluk Yeri dengan erat.
Berbeda dengan Yeri yang menangis tersedu-sedu, Baekhyun tak melihat airmata di pelupuk mata Chanyeol. Namun dari raut muka Chanyeol, Baekhyun sangat yakin bahwa laki-laki tinggi itu jauh lebih terluka. Mungkin Chanyeol hanya tak ingin membuat Yeri khawatir, itu sebabnya laki-laki tinggi itu hanya terdiam sambil mengelus punggung adiknya―berusaha menenangkannya. Kakak beradik itu tampak tenggelam dalam kesedihan, seluruh anggota keluarga Byun tahu itu. Jadi, merekapun memberikan privasi pada Yeri dan Chanyeol untuk bicara empat mata di ruang kerja Kyuhyun.
.
.
Baekhyun baru saja memutuskan untuk segera tidur setelah makan malam berakhir. Namun ketukan di pintu kamarnya menghentikan pergerakannya yang hendak berbaring di ranjang empuknya. Mau tidak mau, Baekhyun bukakan pintu kamarnya untuk si pengetuk itu.
"Hey." Itu Chanyeol, dengan kurva tipis membentuk senyuman di sudut bibirnya. "Kau sudah mau tidur ya?"
"T–tidak." Baekhyun berbohong. Entah kenapa dirinya tiba-tiba jadi gugup, mengingat ini pertama kalinya mereka berinteraksi lagi setelah kematian El-Chapo. "Ada apa?"
"Aku ingin bicara berdua, kau ada waktu?"
"Tentu. Masuklah." Baekhyun membukakan pintu kamarnya agar Chanyeol bisa masuk. Laki-laki mungil itu duduk di tepi ranjangnya, sementara Chanyeol duduk di kursi belajarnya. "Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Um.." Chanyeol menggaruk tengkuknya yang sepertinya tak gatal. "Aku tak tahu harus mulai dari mana, tapi..intinya aku ingin minta maaf padamu."
"Eh?"
"Karena telah menyembunyikan identitasku selama ini, juga tak mengajakmu ke Guatemala," Chanyeol menatap obsidian Baekhyun, "Aku benar-benar minta maaf.."
Kemudian hening. Chanyeol masih pada posisinya, menunggu Baekhyun meresponnya. Ada sebesit kekhawatiran dalam hati Chanyeol atas kebungkaman Baekhyun. Hal ini bisa berarti apa saja, entah itu Baekhyun tak mau memaafkannya atau belum bisa memaafkannya. Namun apapun yang keluar dari mulut Baekhyun, sebisa mungkin Chanyeol menerimanya dengan lapang dada. Lagipula, dirinyalah yang bersalah disini.
"Soal identitasmu, aku bisa mengerti. Tapi, aku masih tak mengerti kenapa kau tak mau aku ikut ke Guatemala." Air muka Baekhyun menjadi serius ketika netranya bertemu netra Chanyeol. "Apa kau meragukan kemampuanku?"
Chanyeol terkejut―tentu saja. Ia sungguh tak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti ini dari mulut Baekhyun.
"Tak pernah sekalipun aku meragukan kemampuanmu, Baek. Hanya saja.." Chanyeol menelan ludahnya yang serasa tersendat di tenggorokan. Entah kenapa, kehadiran Baekhyun saat ini mempersulit lidahnya untuk berkata. "Aku tak ingin kau terluka. Bagiku, keselamatanmu jauh lebih berharga. Aku tak'kan mampu memaafkan diriku sendiri jika sampai terjadi hal buruk padamu. Aku tak ingin mengambil resiko, Baek. Itu saja."
Dalam sekejap, Baekhyun merasa dadanya terasa begitu sesak. Ia tak tahu bagaimana cara mendeskripsikannya karena cukup banyak pertanyaan dalam benaknya yang sejujurnya ingin ia tanyakan pada Chanyeol detik ini juga, namun keraguan justru mengusiknya. Di satu sisi, Baekhyun merasa takut jikalau jawaban atas pertanyaannya tak sesuai ekspektasinya. Tapi di sisi lain, ia tak menemukan waktu yang tepat untuk memastikan semuanya.
Jadi mau tidak mau, Baekhyun harus melakukannya saat ini juga.
"Baiklah, kurasa itu saja." Chanyeol bangkit duduknya. "Terima kasih sudah–"
"Chanyeol-ah?" Baekhyun memanggil seraya menahan pergelangan tangan Chanyeol. "Boleh aku menanyakan sesuatu padamu?"
"Menanyakan apa?"
Baekhyun menelan ludahnya sesaat, kemudian menatap obsidian Chanyeol. "Apa yang ingin kau katakan setelah kita berciuman malam itu?"
Detik berikutnya, adalah keheningan yang menyelimuti kamar Baekhyun. Tak ada yang bergerak, kedua pasang netra remaja itu masih saling bertatapan, namun dengan cara yang berbeda. Obsidian si mungil lebih didominasi rasa penasaran, sementara yang lebih tinggi dilimpungi kebingungan. Meski pertanyaan Baekhyun terdengar begitu sederhana, namun bukan perkara mudah bagi Chanyeol untuk menjawabnya.
"Bolehkah aku berkata jujur padamu?" Chanyeol balik bertanya.
TBC
ANNYEOOOONG! Adakah yang kangen sama saya? Hahaha~ setelah merasakan manisnya hiatus selama hampir dua bulan, akhirnya saya kembali ke FFn. Alhamdulillah FF buku ChanBaek (bagian saya) sudah selesai, jadi bisa ngelanjutin FF-FF yang belum rampung. Bagi kalian yang menunggu kelanjutan FF saya, terima kasih banyak sudah bersabar selama ini. Dan bagi yang sudah lupa jalan ceritanya, yah tak ada jalan lain selain membaca ulang, wkwk.
Well, moga chapter kali ini gak mengecewakan ya meskipun pendek. Sebenarnya saya sengaja membuat chapter ini pendek biar balance sama chapter depan. BTW, chapter depan itu chapter akhir ya, ternyata harapan saya buat namatin FF The Identity di chapter 10 terkabul juga /goyang dumang/ Saya usahakan hal-hal menjurus ke NC muncul di chapter depan, tapi gak janji bakal full NC ya. Jadi bersiaplah, yadongers~
Hari ini, saya apdet jamaah sama author kwek-kwek lainnya (Silvi bilang kalian nyebut kami 'author kwek-kwek', hahays lucuuu~) RedApplee, JongTakGu88, Blood-Type B, dan Sayaka Dini (dia nyusul besok). Oh ya, kalian dapet salam dari SilvieVienoy96. Dia bilang dia sayang kalian. Well, doakan saja semoga Silvi bisa cepet balik ke FFn ya, saya juga salah satu reader-nya kok.
Lalu, tentang project buku ChanBaek, saya gak tahu pasti kapan terbitnya karena sebagian besar author lainnya belum pada rampung ngetiknya. Maka dari itu, mohon kesabaran kalian. Kami semua pasti promosi di sosmed begitu bukunya sudah dirilis kok, ufufu. Saya gak bisa kasih tahu judul dan jalan cerita FF ChanBaek bagian saya, tapi yang pasti genre-nya hurt/comfort. Saya perlihatkan beberapa clue FF ini di instagram saya (Azova10), you may check it.
Last but not least, tinggalkan review yooo!
