"Sampai jumpa lain waktu Minna-san."ucap Ochi-sensei mengakhiri pertemuannya hari ini.
Rukia menguap lebar dan bergumam senang, kini ia berjalan dengan tertatih-tatih menuju gerbang sekolah untuk menunggu mobil kakaknya yang bersikeras untuk menjemputnya tadi, bukan hanya kakaknya yang bersikeras untuk mengantarkannya pulang tapi Momo dan Rangiku tapi Rukia mengerti pacar-pacar mereka pasti akan menunggu mereka jadi lebih baik Rukia di jemput oleh Nii-sannya saja daripada harus merepotkan siapapun.
Dengan bersenandung kecil Rukia menunggu Nii-sannya yang pasti akan segera menjemputnya kemari, sesekali ia mengecek I-phonenya untuk mengganti lagu yang berputar memilih lagu yang ia sukai. Hari semakin sore dan sekolahnya juga semakin sepi, penjaga gerbang sekolahnya pun sudah pergi dari tadi. Ia juga tak mungkin berpikir Nii-sannya tidak akan menjemputnya.
"Boleh aku menemanimu?"
.
.
.
.
Remorse For You
.
.
.
.
Remorse For You
Disclimer : Om Tite Kubo
Author : Hanna Hoshiko
Rated : T
Genre : Romance/Hurt/Comfort
Cerita Abal, gak jelas, banyak typo,OOC (banget), tidak memenuhi kaidah EYD...
.
.
.
.
Warning :
Maaf kalau fic ini tidak memuaskan karena saya tergolong Author pemula..!
Maaf kalau ceritanya gak bisa bikin nangis...
Mohon RnR yaa minna..!
Kalo gak suka boleh gak dibaca kok..
.
.
.
.
Remorse For You
.
.
.
Hari ini cukup melelahkan baginya, sampai-sampai ia harus tertidur di atap sekolahnya dan tak mengikuti jam pelajaran terakhir. Kemungkinan besar dirinya tertidur cukup lama karena sepertinya semua murid sudah pulang karena lorong cukup sepi sekarang hanya menyisakan dirinya dan seorang gadis mungil yang sedang berjalan jauh di depannya, terlihat gadis mungil itu tengah berjalan tertatih-tatih. Berperawakan mungil, rambut raven sebahu, dan... memakai alat bantu untuk berjalan. Sepertinya ia mengenal betul dengan gadis mungil itu seperti ...
Rukia.
Ichigo tetap berjalan dengan santai di belakang Rukia, tak mau gadis mungil itu mengetahui keberadaanya dan malah membuat gadis mungil itu bertambah menjauhinya dan juga membencinya, dan Rukia berhenti tepat di depan gerbang sekolah. dirinya pun ikut menghentikan langkahnya, ia terus memandangi punggung mungil gadis Kuchiki itu dari jauh, hari semakin sore tapi Rukia belum juga beranjak dari tempatnya berdiri.
Kini Ichigo melangkah dengan santai sebenarnya hatinya begitu gugup, dan kini dirinya tepat berada di samping gadis mungil itu tapi rupanya gadis mungil ini tengah sibuk dengan lagu yang berada I-Phonenya yang sedang berputar di telinganya, kini dirinya benar-benar gugup.
"Bolehkah aku menemanimu?"tanyanya dengan tetap bersikap stay cool.
Rukia memutar kepalanya ke samping, mata cantiknya membulat setelah melihat sesosok Ichigo Kurosaki tengah berdiri tegak di sampingnya, ke-2 mata berbeda warna itu terlihat bertabrakkan memperlihatkan tatapan yang berbeda, mata Rukia terlihat seperti tersakiti ini mungkin karena saat melihat Ichigo dirinya kembali teringat kejadian beberapa hari yang lalu antara dirinya dengan Ichigo.
Ichigo tak mengerti arti tatapan Rukia padanya mata itu begitu redup dan memandangnya seolah ia adalah luka baginya, melihat itu Ichigo memalingkan wajahnya ke depan menghindar kontak mata dengan Rukia. Hatinya sakit ketika Rukia melihatnya seperti itu sebesar itukah salahnya pada Rukia, dan ini adalah saat yang tepat untuk meminta maaf pada Rukia akan kesalahannya.
"Tidak! Pulanglah."ucap Rukia datar.
Kenapa Rukia berkata seperti itu apakah ini sebuah penolakan dari Rukia untuknya.
"Aku tidak bisa membiarkanmu disini sendirian,"ucap Ichigo.
"Kalau begitu, aku saja yang akan pergi,"ucap Rukia dingin.
Sebenarnya Rukia tak bermaksud berkata dengan nada dingin dan datar seperti itu pada Ichigo tapi apa yang bisa ia lakukan setiap kali melihat Ichigo dirinya selalu teringat kejadian antara dirinya dengan Ichigo dan selalu akan berputar-putar di kepala tak mau berhenti, lebih baik seperti ini agar Ichigo menjauh darinya dengan begitu ia bisa melupakan semuanya.
Tapi kenapa sekarang setelah mereka berakhir Ichigo malah seperti kembali mendekat padanya, apakah Ichigo menyesal karena telah mengakhiri hubungan mereka?, Rukia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan setelah pertanyaan yang dianggapnya suatu hal tidak mungkin itu muncul. Tak mungkin Ichigo menyesal atas semua yang ia lakukan, ia adalah seorang Ichigo Kurosaki yang selalu mengambil keputusaan setelah memikirkannya matang-matang.
Tapi seandainya Rukia tahu, Ichigo hanyalah seorang manusia biasa yang kadang akan mempunyai kesalahan dan akan menyesal setelahnya. Dan kini keadaan itu tengah di alami oleh Ichigo yang batinnya sangat tersiksa, dari semalam Ichigo hanya tidur ketika akan menjelang pagi karena semalan Ichigo memikirkan Rukia dan cara untuk memperbaiki semuanya, menolak sarapan paginya bersama ke dua adiknya dan memasang wajah dingin pada orang yang Ichigo temui di jalan tapi akan berbeda jika Ichigo bertemu dengan sosok Rukia seperti tadi pagi, image cuek dan dingin yang Ichigo pasang akan luntur seketika ketika dirinya sedang bertatap muka dengan gadis Kuchiki mungil ini.
Rukia berjalan dengan tergesa-gesa karena air mata yaang ia bendung hampir saja jatuh, dengan lagkah tergesa-gesa seperti itu membuatnya tak sengaja menyandung kerikil membuat dirinya terjungkal ke tanah. Darah segar merembes di kedua lututnya yang sudah di perban rapi oleh dokter pribadi keluarga Kuchiki dan sekarang ia hanya meringis kesakitan dan menumpahkan semua air matanya, tapi dirinya adalah Kuchiki hanya dengan luka kecil seperti ini bukan berarti dirinya akan menjadi lemah.
Rukia bangkit mulai memposisikan dirinya untuk bisa berdiri setegak yang ia bisa tak sering ringisan menahan sakit di kakinya keluar dari bibir tipisnya, sedangkan Ichigo tetap berdiam diri melihat usaha Rukia untuk berdiri tak ada niat untuk membantunya, sebenarnya ia hanya ingin melihat sejauh mana usaha gadis Kuchiki itu untuk menghindar darinya, meski saat Rukia terjatuh tadi ingin sekali dirinya berlari dan menggendong gadis itu pulang ke rumahnya dan mengobatinya.
Rukia tak menghiraukan darah yang perlahan mengalir turun dari perban yang ada di kedua lututnya, tapi mungkin hari ini bukanlah hari keberuntungannya kepalanya serasa berdenyut kencang dan membuat ke dua lututnya lemas, sepertinya ini adalah akibat karena dirinya terus-menerus menangis saat malam hari sejak kejadian itu.
Ichigo yang melihat Rukia yang akan terjatuh lagi mulai melangkah lebar dan tangan besarnya berusaha untuk menggapai tubuh gadis mungil itu, tapi... hanya tinggal beberapa senti saja tangannya akan berhasil menggapai tubuh mungil itu, tapi Rukia berhasil menyangga tubuhnya sendiri.
"Pergi!"
"Ku bilang pergi!"teriak Rukia pada Ichigo sambil menangis.
Ichigo hanya diam melihat Rukia yang terus berteriak menyuruhnya untuk pergi, meski Rukia menyuruhnya untuk pergi berapa kali pun ia takkan pernah pergi. Kenapa semua ini harus terjadi padanya, kenapa dirinya begitu bodoh saat mengambil pilihan, dirinya terlalu gegabah karena desakan Inoue yang terus memaksanya untuk berpisah dari Rukia. Dan sekarang inilah yang harus ia tanggung rasa benci gadis mungil itu padanya.
Ichigo memandang Rukia yang masih berteriak padanya tapi... lama-kelamaan tangis Rukia mengecil tubuhnya oleng ke belakang, mungkin bila Ichigo tak cepat menangkap tubuh mungil itu, gadis itu sudah tersungkur ke tanah. Ichigo memadang prihatin pada gadis di gendonganya saat ini.
"Bodoh."gumam Ichigo lirih.
Ichigo membawa Rukia pulang ke rumahnya, karena mungkin ayahnya yang seorang dokter bisa mengobati Rukia daripada harus mengantarkan Rukia ke rumahnya yang seperti istana itu tapi tak ada keluarganya selain maid, Ichigo lebih memilih membawa gadis mungil itu ke rumahnya dan mengobatinya di sana.
.
.
^^ Hanna ^^
.
.
Inoue tercengang melihat ke dua orang yang berada jauh di depannya, kekasihnya sekarang tengah bersama mantan kekasihnya. Apakah ini yang harus dirinya terima karena sudah lancang mengambil sesuatu yang seharusnya bukan miliknya dari awal, meskipun dirinya telah memiliki Ichigo tapi hati Ichigo seperti bukan untuknya. Perlahan air mata jatuh dari mata onixnya, tangan halusnya mulai memegang bagian dadanya yang terasa sakit. Saat melihat Ichigo menggendong gadis itu pulang barulah ia jatuh terduduk, lututnya terasa lemas seketika saat melihat kejadian itu.
Dirinya begitu mencintai pemuda itu tapi dirinya sama sekali tak tahu sejauh mana rasa pemuda itu padanya apakah hanya sekedar suka sperti apa yang dikatakan pemuda itu padanya beberapa hari lalu saat menyatakan cinta padanya, ini malah membuatnya sakit hati. Dan sekarang matanya sudah kabur karena di penuhi air mata.
"Gomen ne, Nii-san."
.
.
^^ Hanna ^^
.
.
Ichigo terus berjalan dengan tenang sesekali mata hazelnya mencuri pandang pada wajah rupawan sang gadis mungil Kuchiki yang sedang berada di dalam gedongannya sekarang, ketika dulu pertama kali ia berkenalan dengan Rukia. Sosok gadis itulah yang mampu membuatnya bangkit dari keterpurukan atas rasa bersalahnya kepada keluarganya yang ia pikir dirinyalah yang membuat ibunya meninggal dunia. Tapi gadis berperawakan mungil itu menyadarkannya bahwa ibunya...
Juga tak ingin melihatnya menyalahkan dirinya sendiri atas kematian ibu tercintanya, baginya Rukialah yang menghentikan hujan di hatinya juga membuatnya bisa tersenyum kembali sejak itu ia merasa ada yang berbeda pada hatinya untuk gadis mungil itu tapi apa balasannya untuk gadis mungil itu hanyalah kesengsaraan yang membuatnya terpuruk dalam kegelapan hatinya, saat masuk SMA, Ichigo tak pernah memberitahukan pada teman-temannya bahwa dirinya telah mempunyai kekasih hanya orang-orang tertentulah yang mengetahui Rukia adalah kekasihnya.
Saat pertama masuk tak pernah ada niat di dalam hatinya untuk membesar-besarkan hubungannya karena ia merasa itu tidak akan ada gunanya, hubungannya dengan Rukia juga akan tetap sama seperti itu, mulai SMA namanya mulai terkenal hingga mempunyai club fans fanatic dirinya yang selalu mengelu-elu namanya. Tak jarang mata hazel miliknya menangkap wajah sedih Rukia.
Ichigo sama sekali tak pernah bertanya apakah Rukia mau hubungan mereka tak di ketahui oleh semua orang dan dia hanya memikirkan perasaannya sampai hari itu ketika Inoue memperkenalkan diri di depan kelas kemudian selalu membuntutinya kemana pun dirinya pergi sampai menghasutnya untuk mengakhir hubungannya dengan Rukia, mungkin itu semua adalah balasan untuknya, balasan untuk rasa sakit hati Rukia padanya yang tak pernah ia ketahui dan dirinya pun baru mengetahui bagaimana rasanya di acuhkan seseorang terutama yang mengacuhkan dirinya adalah Rukia.
Rumahnya sepi terlihat lampu rumahnya yang belum menyala dan sekarang sudah hampir malam, memang kemana semua keluarganya pergi. Ichigo mendorong pintu dengan kakinya setelah membuka kuncinya. Kemudian berjalan menuju kamarnya dan merebahkan tubuh tak berdaya Rukia, ia berjalan melewati lorong kosong yang berada di rumahnya yang terbilang cukup luas untuk sebuah rumah. Ia ingin mencari seseorang tapi hasilnya nihil sepertinya keluarganya memang sedang pergi bersama.
Terlihat not kecil menempel pada pintu kulkasnya.
'Ne, Ichi-nii. Aku, Karin dan Oyaji akan pergi ke Karakura Land mungkin kami akan pulang malam, kalau Ichi-nii mau makan biasa membuatnya sendiri bahan-bahannya sudah aku siapkan di kulkas'
Itulah isi note yang Yuzu tulis untuk Ichigo, sedangkan Ichigo hanya mendesah pasrah setelah membaca note yang Yuzu tulis untuknya. Bisa-bisanya Oyaji pergi di saat seperti ini!, bagaimana dirinya yang notabene tak pernah mengobati seorang yang sedang demam akan mengobati Rukia yang sekarang sedang demam tinggi, karena sangat frustasinya dirinya akhirnya ia menjambak kasar surai orange-nya.
"Arg."teriak Ichigo.
"Cepatlah pulang Oyaji,"gumam Ichigo lirih.
Setelah mengambil air dingin untuk dirinya minum sembari menenangkan dirinya yang sedang frustasi karena bingung harus mengobati Rukia dengan cara apa, akhirnya melangkah gontai ke arah kamarnya dan apa yang ia lihat sekarang. Lutut Rukia yang masih mengeluarkan darah meski tak sebanyak tadi dan tubuhnya yang menggigil hebat membuat Ichigo bertambah panik harus melakukan apa.
Ichigo kembali berlari ke arah dapur setelah mencari tahu cara mengatasi orang sedang demam di internet. Ia menyiapkan baskom berisi air hangat dan sebuah kain untuk mengompres Rukia nanti, ia berharap dengan usahanya yang tergolong kecil ini bisa membuat demam Rukia turun meski sedikit.
Ichigo perlahan menaruh kain yang telah ia celupkan di dalam baskom ke dahi Rukia, tubuh Rukia tetap menggigil karena demamnya yang semakin tinggi. Perlahan pikiran-pikiran aneh muncul di kepala Ichigo, membayangkan hal yang akan terjadi nanti karena ayahnya tak segera pulang dari tamasyanya. Kalau demam Rukia tidak segera turun kemungkinan terburuk adalah Rukia masuk rumah sakit bisa di bilang dalam keadaan sekarat.
Setitik butir keringat dingin meluncur dari pelipis Ichigo yang selalu berkerut, mukanya yang selalu datar pucat seketika setelah memikirkan kemungkinan terburuk jika demam Rukia tidak turun-turun.
Diam-diam pikiran Ichigo melayang pada beberapa hari yang lalu saat pikirannya bingung dan dengan hebatnya Inoue memanfaatkan pikirannya yang sedang kacau dan malah menghasutnya untuk mengakhiri hubungannya dengan Rukia dan lebih bodoh lagi dirinya juga terhasut dengan ucapan Inoue tak memikirkan apa yang akan terjadi belakangnya dan alhasil kini dirinya menyesal karena terhasut oleh ucapan Inoue dan membuat dirinya menjadi sorang yang plin-plan.
Ichigo memandang dengan penuh arti wajah Rukia yang merah karena demamnya yang belum turun, membuat Ichigo semakin khawatir akan keadaan Rukia yang mungkin semakin melemah. Ia mengusap gusar wajahnya dengan kedua tanggannya kasar. Kenapa orang tua itu belum pulang-pulang dari tamasyanya. Ingin sekali Ichigo berteriak sekarang agar semua yang tengah bergemuruh di hatinya berhenti setelah teriakkannya usai.
Ichigo tetap menutup matanya dengan tetap menggenggam tangan mungil Rukia dengan tangan besarnya hingga dirinya tak tahu perlahan mata yang menyimpan permata Amethyts itu terbuka perlahan, menampakkan kedua mata lemonnya pada dunia luar, sempat sesaat Rukia memegang kepalanya yang terasa nyeri kemudian melihat sekeliling dengan pandangan heran.
"Aku..."
"Dimana ini?"tanya Rukia kaget.
Melihat Ichigo yang seperti tertidur di sebelahnya dan menggenggam tangannya dengan erat membuat Rukia terlonjak kaget dan spontan berteriak yang membuat putra tunggal keluarga Kurosaki itu membuka matanya dengan kasar karena kaget medengar suara nyaring dari Rukia, Rukia ingin melepaskan genggamannya dari Ichigo tapi secepat Rukia berusaha untuk melepaskan tangannya secepat itu pula Ichigo menggenggam balik erat tangan Rukia.
"Ichigo lepaskan tanganku,"ucap Rukia lirih.
Ichigo kini sudah terduduk tegak di samping tempat tidurnya yang sekarang di pakai oleh Rukia, sedangkan Rukia tak berani menatap mata kebanggaan sang Kurosaki itu jika ia melihat mata itu mungkin dirinya akan menangis karena mengingat bagaimana kejadian yang begitu kelam di hidupnya.
Ichigo tak mengerti kenapa gadis mungil bermarga Kuchiki ini tak mau melihat wajahnya yang menurut sebagian besar gadis di sekolahnya mengatakan bahwa wajahnya ini begitu tampan tapi kenapa Rukia tak mau melihat ke arahnya dan malah melihat ke arah tangannya, apakah dengan melihat wajahnya Rukia merasa tersakiti, begitu besarkah kesalahannya pada Rukia.
"Gomenasai."ucap Ichigo lirih.
Ucapan Ichigo membuat Rukia mengangkat wajahnya dan menatap kedua hazel milik Ichigo yang kini tengah menatapanya dengan dalam membuat Rukia tak mengerti arti tatapan Ichigo padanya.
"Gomenasai."ucap Ichigo sekali lagi.
Setelah mencerna kata-kata Ichigo begitu lama akhirnya ia mengerti arti dari permintaan maaf Ichigo padanya, sinar mata Rukia mulai meredup sekian lama dirinya menahannya untuk tak mengungkit apapun masalahnya dengan Ichigo kini Ichigolah yang mengungkitnya sendiri, kini ia hanya bisa tersenyum maklum dengan keadaan yang sekarang di hadapannya.
"Kau..."gumam Rukia datar.
"Kau, tak perlu meminta maaf padaku. Aku tak pernah memaksa seseorang untuk untuk mencintaiku selamanya atau bersamaku untuk selamanya. Mereka juga mempunyai orang yang telah hati mereka pilih dan aku tak berhak untuk sekalipun merubah itu. Cukup melihat mereka bahagia meski bukan denganku itu pun berlaku sama halnya denganmu."ucap Rukia dingin.
Ichigo hanya terdiam mendengar kalimat yang barusan terucap dari bibir mungil gadis berambut raven itu, inikah gadis yang beberapa hari yang lalu yang menyandang sebagai kekasih mungilnya. Dirinya juga tak menyangka betapa tegar gadis di hadapannya tak seperti ketika Rukia sedang berhadapan dengan Byakuya yang selalu bermanja-manja dengan kakak tercintanya itu tapi Byakuya juga selalu memanjakan Rukia dengan alasan karena Rukialah satu-satunya keluarganya dan adik yang paling ia sayangi.
Tapi sosok siapa yang ia lihat sekarang bukanlah sosok Rukia yang biasanya bersama Byakuya dan dirinya satu tahun yang lalu membuatnya semakin terpukul, kenapa dirinya mengatakan satu tahun yang lalu karena setelah memasuki kelas 2 SMA hubungannya dengan Rukia semakin renggang karena kegiatan clubnya yang luar biasa sibuk akibat pertandingan yang terus berdatangan, alhasil dirinya tak pernah memiliki waktu berdua bersama Rukia. Menemaninya ketika belajar di rumahnya melihatnya bermanja-manja dengan Byakuya, berjalan-jalan di taman sambil bergandengan tangan dan melihat matahari terbenam bersama-sama. Semua hal itu kini hanyalah tinggal kenangan di benak sang Kurosaki sulung.
"Ta-tapi-"
"Sudahlah aku tidak menerima alasan apapun darimu, dan aku juga tak merasa kau mempunyai salah padaku. Sekarang aku mau pulang!"ucap Rukia dengan datar dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Rukia mulai berdiri meski pertama dirinya agak limbung mengambil tas dan alat bantunya untuk berjalan yang berada di atas meja belajar Ichigo, sambil memegang kepalanya yang agak pusing Rukia berjalan dengan limbung ke arah pintu kamar Ichigo, tapi dengan gerakan cepat Ichigo menghentikan gerakan langkah kaki mungil Rukia dan menariknya ke dalam pelukannya dengan satu kali tarikan, sejujurnya Rukia juga kaget dengan tindakan Ichigo hingga tas yang ia tenteng terlembar sembarang tak tentu arah dan alat bantu berjalannya terjatuh disampingnya.
"Kumohon jangan pergi,"pinta Ichigo lirih.
"Hentikan Ichigo!"ucap Rukia datar.
"Jangan pergi temani aku di sini,"pinta Ichigo lagi tapi dengan nada yang lembut.
Ichigo mengeratkan pelukannya pada Rukia seperti tak mau merasa Rukia hilang begitu saja darinya.
"Kumohon hentikan Ichigo!"teriak Rukia yang sekarang tubuhnya bergetar hebat menahan tangis.
"Tidak!"seru Ichigo.
"Hiks... apa yang kau katakan, aku sudah berusaha menahannya hiks... tapi kau tak pernah mengerti apa yang aku rasakan, kau... takkan pernah tahu apa kata arti sakit hati. Hatiku sakit saat melihatmu membawa gadis jalang itu ke rumahku seenakmu hiks... dan aku masih mencoba tersenyum padamu menganggap semuanya hanyalah angin lalu tapi... apa yang aku terima di hari berikutnya, hiks... kau selalu berduaan dengannya mulai mengacuhkanku tapi aku masih tetap tersenyum padamu padahal hatiku sakit saat mencoba tersenyum padamu dan pada akhirnya hiks~ kau mengakhirinya, semuanya... dan itu membuatku hancur tapi hiks... aku masih berusaha tersenyum padamu meskipun harus terpaksa dan aku mulai menjauhimu untuk bisa bertahan dan mulai belajar menerima keadaan bila kau takkan lagi bersamaku tapi kenapa sekarang kau kembali... aku benci padamu,"teriak Rukia panjang lebar meski menangis tersedu-sedu.
Mengeluarkan semuanya yang selama ini mengganjal di hatinya pada Ichigo sambil sesekali tangan mungilnya memukul dada bidang Ichigo. Ichigo hanya diam mendengar semua keluh kesal Rukia padanya, tangan kecil Rukia sesekali memukul dada bidangnya tapi mungkin tak sebanding dengan rasa sakit hati Rukia padanya.
"Gomen ne"ucap Ichigo lirih tepat di samping telinga Rukia.
"Aku benci padamu, Ichigo."ucap Rukia lirih sebelum menutup matanya karena demamnya yang tadi sempat turun kini meninggi lagi karena dirinya menangis sambil berteriak.
Ichigo merasa tubuh mungil Rukia lemas seperti tak bertenaga, Ichigo memilih melihat keadaan Rukia ke dalam pelukannya dan betapa terkejutnya dirinya melihat wajah gadis di dalam pelukannya ini begitu memprihatinkan mata sembab karena menangis terlalu lama dan wajuh pucat, demammnya juga kembali meninggi juga membuat Ichigo pertambah panik melihatnya.
Dengan cepat Ichigo menaruh tubuh kecil Rukia di ranjangnya, merapatkan selimut tebalnya ke arah tubuh tak berdaya Rukia, kini Ichigo hanya berharap ayahnya akan pulang cepat dari tamasyanya.
"Gomen ne, Rukia."ucap ichigo sendu.
"Tadaima."teriak dari arah depan rumahnya.
Seketika wajah murung Ichigo di gantikan secercah senyuman di wajah tampannya.
"Arigatou Kami-sama."ucap ichigo lega.
.
.
.
.
.
To be Continued.
Author Talk :
Akhirnya minna-san chapter 10 apdate, berakhir tanggungan saya untuk chapter ini dan akan menambah lagi di chapter depan^^, semoga ceritanya memuaskan minna-san!
Arigatou Gozaimasu.
Balasan Review :
15 Hendrik Widyawati : Ha'i. Saya pastikan bakalan gak gampang buat balikan!
Natsumi Kyoko : ini udah lanjut, selamat menikmati.
Azura Kuchiki : udah aku jawab di chapter ini siapa yang menemani Rukia.
Eigar Alinafiah : gomen ne kalau Ichigonya kurang ekspresi rasa penyesalannya.
Darries : udah lanjut^^, bagian terakhir itu udah aku jawab di chap ini.
Bleachaholic Yuuka-chan : panggil Hanna aja cukup gak usah pakai senpai, belum waktunya *ketawa asem*. Ini udah apdate!
