Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
You Belong With Me
.
.
Chapter 10 : I'm Back...
.
.
Normal POV
"Gaara mengalami kecelakaan setaun lalu. Keadaannya sangat parah saat itu. Banyak tulangnya yang retak dan hampir patah dan kepalanya mengalami benturan keras yang menyebabkannya kehilangan memorinya. Tapi untungnya, dia masih ingat siapa dirinya, siapa namanya. Tapi hanya itu. Setaun belakangan ini keadaannya semakin membaik dan sebagian besar memorinya sudah kembali. Tapi mungkin ada beberapa potongan memorinya yang tidak kembali. Saya juga tidak tau kenapa. Antara dia memang tidak mau mengingatnya, itu kenangan yang buruk, atau memang sulit untuk mengingatnya kembali."
.
Perkataan dokter yang kemarin memeriksa Gaara masih terus terngiang di kepalanya. Apa Gaara-kun tak mau mengingatku? Pemikiran itu membuatnya murung.
Rasanya sedih saat mengetahui orang yang begitu dekat dengannya selama ini melupakannya dan menjadi orang yang asing baginya sekarang. Air matanya menggenang tanpa sadar. Ia menangis. Bagaimana cara pemuda itu supaya mengingatnya? Bagaimana cara pemuda itu supaya kembali mengenalinya? Dan tidak menganggapnya orang asing?
Begitu banyak pertanyaan yang belum bisa ia temukan jawabannya. Matsuri mengusap air matanya. Sudah malam, lebih baik ia tidur. dalam hati ia berdo'a, semoga Gaara bisa mengingatnya kembali setelah pertemuan mereka kemarin.
.
Runa memandang punggung gadis yang selama ini menjadi sahabatnya sejak kecil. Matanya menatap sendu gadis itu. Ia tau. Matsuri tadi menangis karena memikirkan pemuda yang kemarin mereka temui. Ia tau. Gadis itu sedih karena Gaara tak mengingatnya. Mereka bahkan sudah seperti orang asing sekarang.
.
.:0o0:.
.
"Gaara-kun?"
"Ah, ya?"
"Ada apa? Sepertinya kau banyak pikiran. "Sakura mengaduk milkshake strawberrynya pelan. Matanya masih memandang pemuda Sabaku itu.
Gaara mengusap wajahnya, gelisah. Daritadi ia sama sekali tak bisa berhenti memikirkan Matsuri semenjak mimpinya tadi malam. Ia benar-benar merasa bersalah karena tak bisa mengenalinya kemarin saat mereka bertemu. Dan sekarang, ia ingin menemuinya, tapi bagaimana caranya? Ia bahkan tak tahu dimana Matsuri tinggal saat ini. "Yah, begitulah. Ada beberapa hal yang menganggu pikiranku. Maaf."
Sakura menghela nafas, bingung harus membalas apa. Ia melirik jam tangannya. Kelasnya sudah hampir dimulai. Ia harus pergi. "Kalau begitu, aku duluan ya Gaara-kun. Kelasku sudah hampir mulai." Sakura berdiri dari kursinya.
"Sakura, mau ke café biasa nanti sore?" ajak Gaara. Tak perlu waktu lama bagi Sakura untuk mengangguk mengiyakan ajakan pemuda itu lalu bergegas meninggalkannya di kantin sendirian.
.
.:0o0:.
.
Sakura menghampiri Gaara yang menunggunya di depan kelas. "Pergi sekarang?" tanyanya, yang dijawab anggukan oleh pemuda itu.
Gaara memarkirkan motornya di luar café. Mereka menempati tempat duduk di sisi jendela, tempat kesukaan Sakura. Gaara memanggil pelayan dan memesan minuman untuk mereka berdua.
"Jadi.. ada apa?" Sakura bersuara setelah pelayan yang mencatat pesanan mereka pergi.
"Hm? Kenapa?" Bukannya menjawab, Gaara malah balik bertanya. Berpura-pura tak mengerti.
"Kukira Gaara-kun ingin membicarakan sesuatu padaku?"
"Bagaimana kau bisa tau? Apa aku begitu mudah dibaca?"
Sakura mengendikkan bahu. "Hanya menebak. Habisnya, tak biasanya kau mengajakku ke café. Biasanya Gaara-kun mengajakku ke taman kota atau tempat hiburan."
Gaara memalingkan wajahnya menatap pemandangan diluar lewat jendela sebentar sebelum kembali menatap Sakura. "Aku ingin bertanya padamu. Tapi kumohon kali ini jawab yang jujur ya?"
Meskipun gugup, Sakura mengangguk. Gaara melanjutkan kalimatnya, "Sakura.. apa kau menyukaiku?"
"Eh?" Gaara mengulangi pertanyaannya. "Eh itu… aku.. menyukai Gaara-kun kok.." jawab Sakura pada akhirnya, gugup.
"T-tapi… hanya sebagai teman.." lanjutnya dengan nada kecil. "…maaf.."
Sudah kuduga. Gaara tersenyum tipis. "Tak apa. Kau tak perlu meminta maaf. Lagipula aku sudah tau jawabannya."
Entah kenapa rasanya Sakura jadi merasa bersalah pada pemuda itu. Karin benar, harusnya ia menolaknya saja waktu itu. "Eh? J-jadi.. selama ini…"
"Kau menyukai Sasuke 'kan?" Sakura menundukkan kepalanya. Merasa takut untuk bertemu sepasang iris jade itu.
Gaara menghela nafas pendek. "Hei hei, aku bicara seperti ini sama sekali tak ada maksud memojokkanmu kok. Sebenarnya aku sudah tau semua itu. Aku hanya ingin mendengarnya langsung darimu kali ini. Apa kau marah padaku sekarang?"
Sakura mengangkat kepalanya, menatap Gaara yang juga sedang menatapnya. Pemuda itu tersenyum, senyumnya yang biasa. Bukan senyum paksaan. Ia bahkan tak melihat gurat kesedihan disana. Apa artinya Gaara tak keberatan dengan semua fakta itu? "Aku… sama sekali tak berpikiran untuk menjadikan Gaara-kun pelarianku karena tak mendapatkan Sasuke-kun. Tidak. Jadi kumohon, jangan salah paham dan berpikir seperti itu! Aku… sangat nyaman denganmu.
Gaara-kun orang yang menyenangkan dan aku suka itu. Kau selalu ada untukku, dan mengerti aku. Kupikir tadinya aku akan bisa melihatmu seperti aku melihat Sasuke-kun karena kau juga pacarku. Tapi.. entah kenapa, pandanganku padamu sama sekali tak berubah. Aku hanya menyukaimu sebagai teman, teman terdekatku yang selalu ada untukku, tak lebih.."
Sakura kembali menundukkan kepalanya. Matanya mulai basah sekarang. Ia benar-benar merasa bersalah pada Gaara.
Gaara tersenyum setelah mendengat penjelas Sakura tentang dirinya. Ia senang kalau ternyata gadis itu nyaman berada di sisinya, meskipun Sakura tak melihatnya sebagai kekasih, tapi hanya sebagai teman dekatnya. Dianggap seperti itu saja ia sudah senang. Dan rasanya, ia bisa mengikhlaskan Sakura untuk bersama Sasuke sekarang. Lagipula perasaan mereka berbalas, untuk apa ia menghalanginya. Dan juga, sekarang, Gaara sudah menemukan orang yang dicarinya selama ini. Orang yang selalu menjadi pertanyaan utuknya. Akhirnya ia sudah menemukan jawabannya.
Pesanan mereka datang. Gaara mengucapkan terima kasih pada pelayan setelah menaruh pesanan mereka di atas meja. Sebelah tangannya terulur menggenggam tangan Sakura yang bebas di atas meja, membuat gadis itu kembali menatapnya. Matanya berkaca-kaca. Dan tangannya yang bebas terulur, mengusap mata gadis itu yang basah.
"Jangan menangis," ucapnya. "Kau jelek kalau menangis." Mau tak mau, Sakura tersenyum karena ucapannya. "Kau menyebalkan," ujar gadis itu.
Gaara berdehem sebelum kembali berbicara, "sebenarnya, setaun lalu aku mengalami kecelakaan yang cukup parah. Tulangku banyak yang retak dan aku hilang ingatan karena benturan di kepalaku. Setelah setaun ini, kurasa keadaanku sudah cukup baik. Aku juga sudah mendapatkan sebagian besar ingatanku yang hilang, tapi ternyata masih ada yang aku lupakan…"
Sakura diam menengarkan, menunggu kelanjutan cerita pemuda dihadapannya itu. "…Tadi malam.. aku bermimpi tentang masa kecilku.. dan sekarang aku ingat semuanya…"
Sakura menyeruput jus strawberrynya sebelum kembali menatap Gaara. "Sakura, maaf… tapi... aku juga mencintai orang lain… aku hanya.. selama ini aku melupakannya.. dan saat aku bertemu dengannya kemarin, aku sama sekali tak mengenalnya… sekarang saat aku kembali mengingatnya… dia telah pergi.." Gaara mendesah pelan. Mengingat Matsuri membuatnya kembali merasa bersalah.
Sakura menggenggam tangan Gaara. Gadis itu tersenyum menatapnya. "Aku mengerti bagaimana persaaan Gaara-kun. Tapi kurasa, dia tidak pergi. Maksudku, kalau kalian memang saling mencintai, aku yakin pasti kalian akan bertemu lagi. Entah besok atau lusa. Buktinya saja, kau bisa bertemu dengannya lagi kemarin 'kan? Jadi mungkin saja 'kan besok lusa kalian akan bertemu lagi. Percayalah padaku.."
Gaara tersenyum, membalas genggaman Sakura. Gadis itu memang selalu tau bagaimana cara membuatnya tenang dan nyaman saat bersamanya. "Ya. Aku percaya. Dan juga, aku tidak berbohong loh saat aku bilang aku menyukaimu. Aku benar-benar menyukaimu."
Sakura merona. Ia tertawa kecil. "Ahaha ya tentu saja. Aku tau itu."
.
.:0o0:.
.
Sakura merebahkan dirinya di sofa ruang TV. Ibunya ada disana. Seperti biasa, menonton acara komedi kesukaannya.
Sakura menghela nafas lalu menutup matanya. Rasanya, beban yang selama ini dibawanya, telah hilang. Akhirnya ia bisa mengatakan semuanya pada Gaara. Meskipun, ia tak menyangka kalau ternyata selama ini Gaara telah mengetahui perasaannya yang sebenarnya, dan ternyata pemuda itu juga mencintai orang lain.
"Sepertinya kau senang sekali hari ini, eh." Sakura membuka matanya. Ibunya sedang menatapnya dengan senyum terlukis di wajahnya.
Sakura membalas senyum ibunya. "Ya, begitulah." Gadis itu lalu berhambur ke pelukan ibunya.
Mebuki yang tiba-tiba di peluk hanya bisa mengerjap tak mengerti, kenapa putrinya tiba-tiba seperti itu, tapi ia tetap membalas pelukannya dengan senang hati, tentu saja. "Terima kasih, ibu…"
"Kembali, Sayang…"
.
.:0o0:.
.
Sasuke memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya. Ia berjalan gontai memasuki rumahnya. Dari raut wajahnya jelas sekali terlihat kalau ia sedang kelelahan, tapi juga senang.
Sasuke mendudukan dirinya di meja makan setelah ia mengambil segelas air dingin untuk diteguknya. Itachi yang dari dapur menghampirinya. Bertanya, "bagaimana hasilnya?"
Sasuke tersenyum miring menatap kakaknya itu. "Menang telak."
Itachi terkekeh pelan. "Sudah kuduga." Pemuda itu menepuk pundak adiknya sebelum pergi kembali ke ruang TV.
"Sasuke." Sasuke menoleh. "Bisa kau undang Sakura dan keluarganya untuk makan malam disini?"
"Makan malam disini?"
Mikoto tersenyum. "Ayahmu dapat tangkapan besar hari ini! Jadi, ibu berpikir untuk merayakannya hehe. Lagipula, sudah lama semenjak kita mengundang mereka makan malam bersama."
Sasuke menandaskan minumannya sebelum menjawab, "baiklah."
"Tolong ya, Sasu!"
"Iya iya."
Sasuke melirik jam dinding. Jam tujuh lewat lima menit. Lebih baik ia cepat karena sebenarnya ia juga lapar dan sudah lapar dan tidak saabr mencicipi masakan buatan ibunya. Aromanya sangat menggoda.
Sasuke memencet bel kediam Haruno. Tak sampai tiga kali bel berbunyi, Mebuki keluar, membukakan pintu. "Ara, Sasuke-kun. Ayo masuk."
Mereka berdua duduk di ruang tamu. Lalu Mebuki menanyakan tujuannya datang ke rumahnya. "Ibu mengundang kalian makan malam. Kebetulan hari ini ayah pulang memancing dan ia mendapat tangkapan besar. Kira-kira begitulah," jawab Sasuke.
"Ow. Apa tak apa jika kami bergabung?"
Sasuke mengangguk pelan. "Tentu saja."
Mebuki tersenyum. "Terima kasih undangannya, Sasuke-kun. Kami akan kesana setelah aku panggil Sakura."
Sasuke kembali mengangguk. Setelah itu ia pamit kembali pulang ke rumahnya.
Mikoto dan Itachi sedang menyiapkan makanan ketika ia sampai. Oh, coba cium aromanya. Ini sangat menggiurkan. Rasanya Sasuke sangat ingin memakannya sekarang juga. Dalam hati ia berharap semoga Sakura dan ibunya cepat datang supaya ia bisa cepat makan.
Dan harapannya terkabul. Sedetik setelah ia duduk di meja makan, bel berbunyi. Itu pasti mereka. Itachi terkekeh melihat tingkah adiknya itu sebelum duduk di hadapannya.
Sakura, Mebuki, dan Mikoto bergabung di meja makan segera setelah mereka disambut Mikoto di depan. beberapa menit setelahnya, Fugaku bergabung bersama mereka.
"Ah, Sakura, bagaimana kuliahmu?" tanya Mikoto ditengah-tengah makan malam mereka.
Sakura menghabiskan makanan di mulutnya sebelum menjawab, "lancar-lancar saja kok."
"Bagaimana dengan Gaara? Kalian masih berpacaran?" Kali ini Itachi yang bertanya. Membuat Sasuke hampir tersedak ketika mendengar pertanyaan kakaknya itu. Sedangkan Itachi hanya tersenyum ketika mendapat tatapan tajam Sasuke.
"Ah, itu…" Sakura gelagapan. Bingung harus menjawab apa ia ingin bilang kalau mereka sebenarnya sudah putus, tapi di situasi seperti ini… rasanya kurang tepat.
"Sakura-chan punya pacar? Kok aku tidak tau?" Mikoto kembali bersuara.
"Yah, mereka sudah berhubungan sekitar tiga bulan lah kurang lebih. Iya 'kan Saku?" sahut Mebuki –sang ibu.
Sakura hanya bisa tersenyum menanggapi perkataan kedua ibu itu. "Begitulah.. kami baik kok.."
.
.:0o0:.
.
Ketika yang lain sedang asik mengobrol entah-apa di ruang TV, Sasuke lebih memilih diam di luar rumahnya, duduk di kursi panjang di teras sembari memandangi langit malam.
Rasanya begitu sejuk disini. Sudah lama semenjak ia seperti ini. rasanya ini mengingatkannya pada kenangannya bersama Sakura. Ketika tengah malam ia memanggil gadis itu kemari dan menemaninya sambil bercerita. Sungguh malam yang menyenangkan.
Sasuke menutup matanya, berusaha menikmati hembusan lembut angin malam ketika seseorang memanggilnya. "Sasuke-kun?"
Ia sangat mengenal suara ini. Itu Sakura. Ia membuka matanya, menatap gadis itu. "Ada apa?"
Sakura terlihat bingung, antara mau duduk di samping Sasuke atau tidak. Tapi akhirnya ia mengambil tempat itu. "Kau mau?" tanyanya. Merujuk pada bakpao yang ia bawa.
Sasuke mengambil satu bakpao dari tangan Sakura, berterima kasih sebelum kemudian memakannya.
Hening. Tak ada yang berbicara. Sasuke sedang asik memandangi langit sedangkan Sakura bingung harus melakukan apa. Rasanya keadaan ini canggung baginya.
"Kudengar, Sasuke-kun putus dengan Shion-san?"
Sasuke menoleh. Air mukanya berubah kesal mendengar nama gadis yang pernah menjadi pacarnya itu. Apa aku salah bicara? Sepertinya Sasuke-kun marah. Bagaimana ini?!
Sasuke membuang muka sebelum menjawab, "ya. Kau sudah tau rupanya."
Sakura menyelipkan rambut kebelakang telinganya, gugup. "Be-begitulah. Banyak yang membicarakan kalian."
"Yah, dia bukan gadis yang baik ternyata." Sakura bingung harus bilang apa, jadi dia diam. Sasuke kembali berbicara, "Sudahlah, jangan membicarakannya. Tidak penting."
"Eh, um… ya.."
"Hubunganmu dan Sabaku baik ya?" tanya Sasuke tiba-tiba.
Ragu-ragu Sakura mengangguk. "Begitulah.."
"Sayang sekali.."
"Eh? Kenapa Sasuke-kun?" Sakura tak bisa mendengar suara pemuda itu karena sangat pelan, tapi ia bisa melihat raut wajah Sasuke yang berubah kecewa setelah mendengar jawabannya.
Sebenarnya, Sakura ingin bilang kalau Gaara sudah bukan pacarnya lagi, tapi entah kenapa mulutnya tak mau berbicara.
"Pesta dansa." Sakura menoleh ketika Sasuke bersuara. "Kau datang?" tanya pemuda itu.
"Entahlah.. itu bukan tempatku.. maksudku, rasanya aku tidak cocok saja dengan acara seperti itu.."
"Oh.." Lagi. Sakura melihat raut kecewa di wajah Sasuke.
Sakura memalingkan wajahnya, mengikuti Sasuke, melihat langit malam. "Bintangnya sedikit.." gumamnya.
"Kau tidak kedinginan?" tanya Sasuke.
Sakura menggeleng pelan. "Sasuke-kun kedinginan?" Ia menatap pemuda itu.
Sasuke tersenyum miring, matanya berkilat jenaka. "Kalau aku kedinginan apa kau mau menghangatkanku, hm?"
"Eh, itu… kalau begitu aku ambilkan selimut deh.." Sakura berdiri, tapi sebelum gadis itu melangkah lebih jauh, Sasuke menggenggam tangannya, menyuruhnya kembali duduk. Kali ini lebih dekat dengannya. "Sasuke-kun?"
Sasuke menjatuhkan kepalanya ke pundah gadis itu. Tangannya menggenggam erat tangan Sakura. "Jangan pergi.."
Mendapat perlakuan seperti ini dari Sasuke, membuat Sakura tak bisa menahan rona di wajahnya. Ia memalingkan wajahnya. Kemana saja, asal tidak melihat Sasuke.
Sasuke yang menyadari itu, membuat senyum miring di wajahnya. "Hee, kau malu eh?" Pertanyaannya membuat Sakura tersentak dan langsung memalingkan wajahnya kearah pemuda itu. "Ti-tidak kok!" serunya.
"Lalu kenapa wajahmu merah?" Sasuke mendekatkan wajahnya pada Sakura. Sedangkan gadis itu semakin mundur.
"Sasuke-kun!"
"Hahahaha."
.
.:0o0:.
.
Gaara menyenderkan punggungnya ke kursi lalu menghela nafas. Terlihat sekali kalau ia sedang banyak pikiran.
"Ada apa, Gaara-kun? Kau belum menemukannya?" tanya Sakura seraya menjilat es krim strawberrynya.
Gaara menggeleng lemah. "Entahlah. Aku bingung harus bagaimana lagi."
"Oh, ayolah. Jangan menyerah! Aku yakin kau pasti menemukannya! Kenapa tidak ke tempat kalian bertemu kemarin? Siapa tau dia kesana lagi?" Benar juga. Gaara tak memikirkan itu sama sekali selama tiga hari ini.
Sakura melirik jam tangannya. Sudah saatnya ia ke kelas. "Ah, aku duluan ya, Gaara-kun! Ayolah, jangan patah semangat! Dah Gaara-kun!" Sakura melambaikan tangannya sebelum benar-benar pergi.
Gaara tersenyum melihatnya yang semakin menjauh. Ia menandaskan minumannya sebelum akhirnya memutuskan untuk beranjak dari sana. Lagipula kelasnya juga sudah selesai. Ia hanya ada kelas pagi hari ini dan tak ada kegiatan apapun lagi di kampus, jadi sebaiknya ia pergi.
Tadinya ia memutuskan untuk pulang, tapi ia sedang malas berduaan di rumah dengan kakaknya. Jadi, ia mencoba saran Sakura tadi. Ia akhirnya pergi ke café tempat ia bertemu dengan Matsuri kemarin. Tapi sudah dua jam ia disana, tak ada tanda-tanda gadis itu akan muncul, jadi ia memutuskan untuk pergi. Hanya duduk diam disana menunggu itu membuang-buang waktu.
Dan saat ia sedang berjalan, seseorang menabrak punggungnya. Gaara membalikkan badan dan betapa terkejutnya ia ketika melihat siapa orang yang menabraknya tadi.
"Runa?"
"Hah? Gaara?" Mereka saling tatap untuk beberapa saat sampai akhirnya Runa kembali berbicara, "sedang apa kau disini?"
Gaara mengangkat sebelah alisnya. "Memangnya tak boleh kalau aku disini? Ini 'kan tempat umum. Setiap orang bebas ada disini." Jawabannya membuat gadis itu bungkam. Ia membuang mukanya kesal.
Ternyata Sakura benar. Rasanya tidak sia-sia ia menunggu. Tapi… dimana Matsuri? "Dimana Matsuri?" tanya pemuda itu, menyuarakan pikirannya.
Runa menatap pemuda dihadapannya enggan. "Hah?"
"Kau tidak kesini dengan Matsuri?"
Gadis itu melipat tangannya didepan dada, kembali membuang muka. "Kenapa juga aku harus memberitahumu?" ucapnya ketus.
Melihatnya seperti ini entah kenapa rasanya Gaara merasa bersalah karena tak mengenalinya kemarin saat mereka bertemu. Pasti ia kesal padanya karena itu. "Kau kesal padaku ya?" Tak ada jawaban. "Maaf, aku tak mengenalimu kemarin. Ada masalah dengan ingatanku.."
"Ini bukan tentangku… tapi tentang Matsuri… aku tak masalah jika kau tak mengenaliku… tapi Matsuri…" Gadis itu mendecih pelan. Tangannya yang jatuh terkepal.
"… Aku tau… makannya aku mencari Matsuri sekarang. Kalau kau sedang bersamanya… boleh aku bertemu dengannya sebentar? Ada yang ingin kubicarakan dengannya… kumohon, Runa…"
Butuh beberapa saat untuk Runa mengiyakan permintaan Gaara. "Baiklah. Tapi jangan bilang aku yang memberitahu padamu kalau dia ada disini."
Gaara tersenyum lalu mengangguk. "Tentu. Dimana dia?"
"Sedang membeli makanan. Kurasa sebentar lagi juga dia kemari." Runa pergi setelah mengatakan itu. Meninggalkan Gaara yang menunggu Matsuri.
Pemuda itu memutuskan untuk duduk di salah satu kursi panjang yang ada disana sembari menunggu. Selang lima menit kemudian orang yang ditunggu datang. Gadis itu celingak-celinguk mencari seseorang. Wajahnya terlihat kebingungan sambil terus berjalan pelan.
Gaara tersenyum, menghampiri gadis itu. Ia menepuk pelan pundaknya dari belakang. "Runa! Aku mencari…mu…"
"Hai."
"…Gaara-kun…" Matsuri menelan ludahnya, menundukkan kepalanya. Bingung harus bicara apa. Ia sama sekali tak menyangka akan bertemu dengan pemuda itu lagi disini. Yah, mungkin seharusnya tadi ia tak mengiyakan ajakan Runa ketika gadis itu mengajaknya keluar jalan-jalan.
"Um… kalau kau tak keberatan… bisa bicara sebentar?" tanya Gaara hati-hati.
Ragu-ragu Matsuri menganggukkan kepalanya pelan. Gaara tersenyum tipis lalu membawa Matsuri duduk di kursi panjang yang tadi di dudukinya.
"…Maaf…"
"Eh?" Matsuri mengangkat kepalanya –menatap Gaara- ketika mendengar kata itu keluar dari mulut pemuda disampingnya.
"Karena tak mengenalimu kemarin… aku…"
"Tak apa… aku sudah tau kok, Gaara-kun." Gaara membalas tatapan Matsuri. Gadis itu tersenyum. Matanya berkaca-kaca. "Aku tau kau... kecelakaan dan amnesia. Itu.. bukan salahmu. Jadi.. tak perlu minta maaf…"
Gaara menatap nanar gadis disampingnya. "Tidak. Aku tetap merasa bersalah karena tidak mengenalimu. Maafkan aku, Matsu…"
Matsuri memalingkan wajahnya. Rasanya air matanya menerobos keluar. Sudah lama semenjak ia mendengar Gaara memanggil namanya. Rasanya ia merindukan pemuda itu.
Matsuri mengelap air matanya sebelum kembali menatap Gaara. Ia menggeleng pelan. "Tak perlu. Lagipula mengetahui kau baik-baik saja sekarang setelah kecelakaan yang menimpamu saja aku sudah senang."
Yaampun Gaara.. bagaimana bisa kau melupakannya? Ia jadi benar-benar merasa bersalah sekarang. "Lagipula, katanya sebagian besar ingatanmu sudah kembali ya?" tanya Matsuri.
Gaara mengangguk pelan. "Ya. Ingatanku sudah kembali sekarang."
"Syukurlah.. akhirnya Gaara-kun bisa mengingat kembali semuanya ya.." Matsuri memalingkan wajahnya. Air matanya kembali menggenang.
Gaara menggenggam tangan gadis itu perlahan tapi pasti, membuat sang empunya menoleh. "Karna ingatanku sudah kembali, apa kau mau menerimaku kembali, Matsu?" ucapnya, tersenyum.
"Aa.. kau mengingatku?" Gaara mengangguk. Matsuri tak bisa menahan senyumnya. Matanya berkaca-kaca. Ia benar-benar senang sekarang. Akhirnya pemuda itu mengenalinya. Akhirnya. Tapi, sesuatu menganggu pikirannya. "…Tapi… Gaara-kun 'kan punya pacar.. tidak mungkin 'kan aku…"
"Hubungan kami sudah putus. Kami hanya teman dekat sekarang. Lagipula.. selama ini juga.. dia tidak mencintaiku.. dia hanya melihatku sebagai teman dekatnya, karena dia mencintai orang lain…" Rasanya mulutnya pahit ketika mengucakan fakta tentangnya dan Sakura. Meskipun itu kenyataan, tapi tetap saja, rasanya.. masih ada rasa tidak terima akan hal itu.
Matsuri merasa tidak enak membuat Gaara membicarakan hal yang menyedihkan baginya, meskipun ia tak bisa membantah ucapan pemuda itu jika memang begitulah keadaannya.
"Jadi.. apa jawabanmu?" tanya Gaara, mengalihkan perhatian Matsuri.
Gadis itu kini terlihat salah tingkah. "Eh.. itu.. iya.."
Gaara tersenyum. Ia mencium punggung tangan gadis itu, membuat sang empunya merona. "Terima kasih. Aku pulang, Matsu.."
Kali ini Matsuri benar-benar tak bisa menyembunyikan senyumnya. Ia membalas senyuman Gaara dengan senyum manisnya. "Selamat datang, Gaara-kun.."
.
.:0o0:.
.
Sasuke sedang membaca sembari menggarisi bagian-bagian penting dari isi bacaan tersebut dan sesekali menyeruput white coffee-nya saat seseorang datang dengan perasaan kesalnya dan menyambar minumannya. Ia yang menjadi korban hanya bisa diam memperhatikan orang itu mengumpat sambil menghabiskan sisa kopinya. Enak sekali dia.
"Toneri sialan!" umpat orang itu untuk yang kesekian kalinya. Ia meletakkan gelas kopi Sasuke yang isinya telah diseruput habis.
Sasuke menghela nafas pelan sebelum bertanya, "ada apa dengan Toneri?"
"Dia mengajak Hinata-chan ke pesta! Dia bilang dia akan menjemputnya! Dan berdansa dengannya! Dan mengantarnya pulang lagi! Menyebalkan sekali orang Otsususapi itu!"
Otsusu.. apa? "Kau kesal dia mengajak Hinata, eh?"
"Tentu saja! Harusnya 'kan aku yang mengajaknya!"
"Kenapa tidak kau ajak saja dia kalau begitu?"
Seketika hening. "I-itu… aku tak berani…" cicitnya pelan.
Sasuke tak habis pikir dengan sahabatnya yang satu ini. Ia tidak mau orang lain mengajak gadis yang disukainya pergi, tapi dia sendiri tak berani mengajak gadis itu pergi. "Jangan marah kalau begitu."
Dan emosinya kembali memuncak. "Hah?! Hei, memangnya kau tidak kesal jika ditikung begitu hah?!"
Sasuke kembali menghela nafas. "Sudahlah. Daripada kau marah-marah tak jelas, lebih baik kau belikan aku kopi lagi, Dobe."
"Kenapa harus aku?"
"Karena kau menghabiskan kopiku, Naruto-baka!"
Naruto yang tak mau kalah memincingkan matanya tajam seraya berseu, "hei, siapa yang kau panggil baka, baka!"
Dan ketika mereka sedang adu mulut, seseorang datang. Membuat keduanya mengalihkan perhatian. Dan Naruto langsung terdiam saat itu juga. Salah tingkah.
"Eh, Hinata-chan.. ada apa?"
"Maaf menganggu, aku mau mengembalikan ini pada Naruto-kun," ucap gadis Hyuuga itu sembari mnyerahkan buku tulis yang dipinjamnya dari sang Uzumaki.
"Hinata." Mereka berdua menoleh –Hinata dan Naruto.
"Ya?"
"Apa Toneri mengajakmu ke pesta dansa akhir pekan nanti?" tanya Sasuke. Naruto menatapnya tajam, tapi ia sama sekali tak menghiraukannya.
"Eh? I-iya."
"Jangan terima." Kini mereka menatapnya bingung. "Tolak dia dan pergi dengan Si Payah Naruto ini," lanjutnya.
Perkataannya sukses membuat kedua insan itu merona. "A-apa maksudmu, Teme?!" seru pemuda Uzumaki itu gelagapan. Ia benar-benar tak menyangka Sasuke akan mengucapkan itu pada Hinata. Jelas saja ia malu!
"Eh? Na-naruto-kun? Kenapa?"
"Dia marah-marah padaku karena melihat Toneri mengajakmu ke pesta dansa, tapi ia sendiri tidak bisa mengajakmu kesana." Sasuke dengan santai menyenderkan punggungnya pada punggung kursi, sama sekali tak menghiraukan Naruto yang mengoceh entah apa.
"Na-naruto-kun bilang begitu?" tanya Hinata setengah tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Eh? N-naruto-kun… ingin mengajakku ke pesta dansa?"
"Ya. Tapi dia terllau pengecut untuk mengajakmu. Pokoknya, terima saja ya." Sasuke melirik jam tangannya, tak menghiraukan Naruto yang menatapnya tajam dengan tatapan sialan-kau-Teme! Terlihat sekali kalau pemuda Uzumaki itu ingin mengomel padanya, tapi ditahannya karena ada Hinata. "Kalau begitu, aku duluan ya. Dah," ucapnya lalu pergi meninggalkan mereka berdua disana dalam keadaan canggung. Dalam hati Naruto merutuk sahabatnya yang satu itu.
Hinata duduk di tempat Sasuke tadi. Gadis itu tak bisa berhenti bergerak karena gelisah. Jari telunjuknya saling terpaut. Ia menunggu pemuda di hadapannya bicara, tapi sudalima menit semenjak Sasuke pergi dan pemuda itu masih belum bicara apapun. Akhirnya, ia memutuskan untuk membuka suara. "Um.. soal yang tadi…"
"I-itu bukan apa-apa kok! Jangan terlalu dipikirkan. Maaf ya.. si Sasuke-teme itu memang suka bicara ngawur hehe.." Naruto refleks bicara ketika mendengar Hinata bicara. Ia benar-benar bingung harus bicara apa pada gadis di depannya sekarang. Semua ini gara-gara ulah si Teme sialan! Dasar kau! Awas aja nanti!
"Jadi… itu tidak benar ya.. kalau Naruto-kun mau mengajakku ke pesta dansa…" Entah kenapa Hinata langsung menampakkan wajah murung seketika, membuat Pemuda Uzumaki itu semakin gelagapan.
"Aa.. bukan begitu! Tidak begitu kok! A-aku.. ingin mengajakmu kesana sebenarnya! Sungguh! Tapi aku malu mengatakannya.." Oh tidak! Apa yang baru saja kukatakan?! Baka baka! Kenapa sampai keceplosan begini?!
Naruto melirik Hinata was-was. Bagaimana reaksinya? Dan diluar dugaan, gadis itu menampakkan senyum senang. Wajahnya merona. "Jadi.. kau akan menjemputku nanti?" tanyanya.
"Eh? Te-tentu saja! K-kau.. mau?"
Hinata mengangguk cepat. Senyum manis masih menghiasi wajahnya. "Un!" Ia melirik jam tangannya, lalu kembali berucap, "kalau begitu.. aku pergi dulu ya, Naruto-kun. Aku… tunggu kau nanti di rumahku ya! Dah!"
Naruto hanya bisa melongo memandang kepergian Hinata. Tak disangka. Gadis itu… mau menerima ajakannya dan ia akan menjemputnya nanti di rumahnya dan pergi ke pesta dansa bersamanya dan… aah pokokya Naruto sangat senang sekali hari ini!
Mungkin ia harus berterima kasih pada Sasuke nanti. Karena pemuda itu, kini ia bisa mengajak Hinata dan Hinata tak jadi pergi dengan si Sialan Toneri itu yey!
Naruto merogoh tasnya, mengeluarkan ponselnya lalu mencari kontak favoritnya dan lekas menghubunginya.
"Teme!"
.
.:0o0:.
.
Sasuke POV
Aku menaruh ponselku ke dalam tas setelah menutup telfon dari Naruto. Si Dobe itu.. bilang kalau dia akan menghajarku karena membuatnya malu di depan Hinata, tapi tadi dia bilang terima kasih padaku karena berkatku akhirnya ia bisa mengajak Hinata ke pesta dansa. Dasar.
Mataku menyapu taman kampus yang sepi dan menemukan dia disana. Ya, dia. Dia orang yang masuk ke kehidupanku sejak beberapa tahun belakangan ini. Sekaligus orang yang berhasil mengisi hati dan pikiranku. Dia hebat, bukan?
Aku menghampirinya yang sedang duduk di kursi taman yang selalu ia duduki. Aku mengendap-endap, berusaha semoga kehadiranku tidak diketahui olehnya lalu menutup matanya dari belakang.
"Eh? Siapa ini?" tanyanya kebingungan. Aku hanya diam, tak menanggapi. "Um… Sasuke-kun?"
Aku melonggarkan tanganku yang menutup matanya, sehingga dia bisa menyingkirkan tanganku dari sana.
Aku memasang raut wajah kecewa ketika dia menoleh melihatku. "Apa aku terlalu mudah ditebak?"
Dia tertawa kecil. "Tentu saja. Karena kalau bukan kau siapa lagi yang akan begitu padaku, hm?" Benar juga.
Ngomong-ngomong, ada sesuatu yang menganggu pikiranku beberapa hari ini. Kalau kuperhatikan sepertinya, Sakura sekarang jarang terlihat bersama Sabaku. Apa mereka sedang ada masalah atau semacamnya? Bukannya aku ingin mencampuri urusan mereka atau semacamnya, aku hanya penasaran saja, maka dari itu aku bertanya.
"Karena kelasnya sudah selesai, jadi dia pulang, kurasa," jawab Sakura ketika aku bertanya tentang Sabaku padanya.
"Kau bilang hubunganmu dengannya baik-baik saja, tapi akhir-akhir ini aku jarang melihat kalian bersama. Kau bahkan tidak diantar pulang olehnya lagi."
Kulihat Sakura menggerakkan bola matanya gelisah dan menyelipkan sebagian rambutnya ke belakang telinga. "Ah itu… karena kurasa… itu tidak perlu…"
Aku tidak mengerti. "Tidak perlu? Kurasa itu wajar karena kau adalah pacarnya, bukan?"
Aku merogoh tasku untuk mengambil botol air mineralku lalu meminumnya dan rasanya aku ingin menyemburkan air yang kuminum saat itu juga ketika mendengar jawaban Sakura, "Aku… bukan pacarnya lagi, Sasuke-kun. Kami sudah putus sejak beberapa hari lalu.."
Aku mengelap mulutku dan masih tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Sakura dan Sabaku putus? Benarkah? Apa ini serius? Sungguh… jika kau ingin aku jujur.. aku sangar senang mendengar berita ini. Karena ini artinya, halanganku untuk mendapatkan Sakura sudah tidak ada. Sakura sudah bukan milik Sabaku lagi, ini artinya aku bisa mendapatkannya 'kan? Benar 'kan?
Sebenarnya, aku ingin bertanya lebih lanjut kenapa hubungan mereka bisa putus, tapi kurasa Sakura tidak ingin membicarakannya, jadi aku mengganti topik. Berusaha mencari topik pembicaraan yang bisa membuatnya senang. Apapun itu yang penting bisa melupakan Si Rambut Merah itu. Karena dia sekarang sudah pergi dari kehidupan Sakura dan Sakura akan menjadi milikku sebentar lagi. Jadi, mari lupakan tentangnya.
Setelah matahari terbenam, kami pulang ke rumah. Sakura pulang denganku, tentu saja. Perjanan kami menyenangkan. Sakura kembali ceria seperti biasanya dan membahas banyak hal denganku. Kami pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan puas dan lega. Terutama aku. Karena telah mengetahui kalau ia sudah memutuskan hubungannya dengan Sabaku. Kini aku bisa menyatakan perasaanku padanya tanpa harus berpikir apa aku akan menghancurkan hubungannya dengan Si Rambut Merah itu atau tidak.
Sakura menutup gordennya ketika aku membalas ucapan 'Selamat tidur'nya lewat notebook. Aku tersenyum menatap kamarnya yang sudah gelap. Sepertinya dia sudah tidur. Yah, dia memang cepat tertidur sih, jika sudah memutuskan untuk tidur.
Nah, sekarang lebih baik aku juga tidur. Aku menutup gorden dan mematikan lampu sebelum beranjak naik ka tempat tidur sambil berpikir, kurasa aku akan mengikuti omongan Naruto. Aku akan menyatakan perasaanku pada saat pesta dansa nanti padanya. Ya, kurasa itu bukan ide yang buruk. Kuharap, semoga Sakura mau datang ke acara itu lusa nanti. Sambil mencoba tertidur aku tersenyum memikirkan itu.
Selamat tidur, Sakura…
A/N:
Yeayy! Akhirnya berntar lagi ending! :') setelah sekian lama akhirnyaaa akan mencapai ending juga yaahhh :')
Oke, pokoknya tunggu aja chapter depan yaa kawan! Jangan lupa reviewnya ya!
See ya!
Big love,
Nona Xerry
