FF BAP/YAOI/BANGHIM & All Couple/ONE SHOT/Part 10
Title: One Shot
Author: Bang Young Ran
Rating: T (Warning: Masih nyesek!)
Genre: Yaoi/Fluff/Romance/Crime(?)/AU
Length: Chaptered
Main Cast:
Kim Him Chan *(^3)(0.0)*
Bang Yong Guk~~ *Gukie~ (/)*
Support Cast:
DaeLo (Jung Dae Hyun & Choi Zelo/Jun Hong)
JongJae (Moon Jong Up & Yoo Young Jae)
Daniel Philip Henney
Dennis Henney (Dennis Oh)
Andi (Shinwa)
Disclaimer: BAP is TSEntertainment Boy Group and their parents, and it's Youngranie fic~ muaaaachhh...*kechupbasah*
Warning: TYPO! OOC! YAOI/BoysxBoys! MPREG! NO PLAGIARISM! NO BASHING! NO SIDERS!
Summary: Kim Him Chan adalah seorang polisi yang ditugaskan untuk menyamar, menjadi salah satu anggota geng yang disebut The Mato's. Dalam penyamarannya, Him Chan berperan sebagai kekasih Bang Yong Guk, si pemimpin geng The Mato's. Lalu, akankah Him Chan berhasil menjebak The Mato's? Atau dia harus terjebak, terperosok begitu dalam atas kasih sayang dari seorang Bang Yong Guk?!
.
.
DON'T LIKE, DON'T READ, JUST LEAVE IT, OK!?
.
.
~~( ^3)(.o )~~
.
.
TANPA BANYAK BACOT, LANGSUNG AJA CHECK IT OUT
HAPPY READIIIIIINNNNGGGGG... ^3^
.
.
.
One Shot
Part 10
"God, Chanie... What did they do to your face?!"
Daniel menatap tubuh lunglai di sampingnya penuh kekhawatiran.
Semenjak tubuh lunglai tersebut diangkut dan dibiarkan terbaring begitu saja di lantai dingin sel, tidak ada yang bisa Daniel perbuat selain memanggil nama namja cantik tersebut berkali-kali, berusaha membangunkan Him Chan dari ketidak-sadarannya.
"Chanie... please, wake up~" panggil Daniel putus asa. Kalau saja nafas memburu Him Chan tidak terdengar jelas, Daniel pastilah akan salah mengira kalau namja cantik tersebut tidak lagi bernyawa.
Him Chan terlihat menyedihkan; wajahnya yang selalu bersih tanpa cela, kini dihiasi berbagai lebam berwarna biru kehitaman. Bercak darah beserta luka robek juga menghiasi kulit mulus Him Chan di beberapa bagian. Singkat cerita, namja cantik itu dipukuli hingga babak belur.
Hati Daniel bagai teriris melihat pemandangan ini.
Shit!
Samuel melakukan semua ini pada Him Chan. Politikus licik itu... Daniel bersumpah akan membuatnya membayar semua ini! Daniel akan...
"... G-Guk...Gukie... G... Gukie..."
What the...
Rahang Daniel tampak jatuh dengan mata terbelalak lebar, benarkah... dia baru saja mendengar Him Chan mengigaukan... Gukie?
Deg,
Deg,
Gukie...?
DEG!
BANG YONG GUK!?
Damnit, what did just happening in here?
Under his unconsciousness...
Him Chan calling for... Bang Yong Guk...?
~~~~~~\(=^3^=)(=0ɷ0=)/~~~~~
Bangkok Police Station~
"Apa Daniel sudah datang?"
"Maafkan kami, Komisaris, belum. Kami tidak melihatnya semenjak pagi tadi. Dia tidak datang ke kantor."
Dennis menggelengkan kepala lelah. Memang, semenjak ribut terakhir kali di ruang kerjanya, Daniel tidak lagi menampakkan diri. Tapi... haruskah alasan kekanakan seperti itu dijadikan sang putera sebagai alibi untuk tidak pergi bekerja?!
"Komisaris?"
Panggilan bernada ragu-ragu bawahannya membuat Dennis mengangkat alis penuh tanya, "wae?"
"Eum... sepertinya... ada kabar buruk. Informan kita yang mengawasi Him Chan... mengatakan kalau telah terjadi sesuatu. Sepertinya... Him Chan menghilang."
"MWO?!"
"Dari hasil penyadap suara... kami mendengar kalau... Him Chan diculik oleh Samuel James."
"MWO!?"
############^0^###########
Clek,
CLANG!
Yong Guk memeriksa perlengkapan senjata, mengisi beberapa pucuk senjata dengan satu set peluru lengkap. Terlihat Dae Hyun ikut membantu dengan merakitkan senjata khusus yang lain di seberang meja.
Zelo yang tengah duduk di samping sang namjachingu menatap takjub penuh kekaguman melihat begitu lincahnya tangan Dae Hyun merakit semua senjata dengan suku cadang rumit tersebut.
Dulunya, Zelo menganggap Dae Hyun adalah yang tercepat, tapi setelah melihat kemampuan Him Chan waktu itu...
"Hyung tahu? Hyung pasti terlalu keras mengajari Him Chan Hyung dalam merakit senjata khusus sampai-sampai dia lebih cepat melakukannya daripada hyung sendiri." Si maknae berkomentar sembari mengamati senjata yang baru saja Dae Hyun rakit.
Ucapan Zelo membuat kening namja tampan di sebelahnya berkerut heran, "apa maksudmu, Junhongie? Aku tidak pernah mengajari Him Chan Hyung merakit senjata khusus. Kupikir... Yong Guk Hyung lah yang mengajarinya." Untuk kata-kata Dae Hyun yang satu ini... Yong Guk di seberang meja sana mematung. Alis namja tampan itu berkerut heran sembari balas menatap kedua dongsaeng-nya.
"Aku... juga tidak pernah mengajari Hime merakit senjata khusus. Kupikir itu kau, Dae Hyun," ucap sang leader tak kalah bingung.
Ketiganya tertegun dan saling bertatapan dengan satu pertanyaan besar menguasai benak mereka;
Jadi... darimana Him Chan belajar merakit senjata?
Siiiiiinnngggg...
"Hyung, kami sud – eum, waegeure? Kenapa kalian saling menatap begitu?" Jong Up baru saja ingin memberitahu kalau mobil telah siap untuk digunakan saat didapatinya ketiga orang di ruang senjata saling menatap dalam hening.
"Jong Up-ah, kau... pernah mengajari Hime merakit senjata khusus?"
Kening sang dongsaeng yang Yong Guk tanyai langsung berkerut heran. Ia menatap Yong Guk seolah hyung-nya itu baru saja melemparkan lelucon. "Hyung bercanda?! Aku tidak tahu-menahu mengenai senjata selain menggunakannya."
"Lalu... kenapa..."
"Hyung? Ada apa sebenarnya?"
Yong Guk tidak menjawab. Otaknya tengah bergumul, mencoba mengingat jika salah satu dari masa lalu Him Chan—yang sangat minim diketahuinya—menyinggung sesuatu mengenai dunia hitam.
Tidak ada.
Kim Him Chan yang Yong Guk kenal sebelumnya berprofesi sebagai pelayan cafe. Namja cantik itu melakukan kerja sambilan tersebut diantara kesibukannya sebagai relawan sosial di panti asuhan tempat ia 'dititipkan'.
Hanya itu.
Sama sekali tidak ada yang berbahaya dan bersinggungan dengan senjata api.
Berdasarkan pengalamannya sendiri, Yong Guk pikir butuh waktu dan latar belakang yang keras sehingga seseorang mampu melatih diri untuk sekedar bersentuhan dengan senjata api. Menggunakan, apalagi merakitnya, itu adalah perkara lain. Ini seperti halnya seorang dokter yang menggunakan segala pengetahuan yang ia dapat dari sekolah kedokteran. Semua tindakan memerlukan keahlian khusus.
Merakit senjata juga butuh keahlian khusus.
Dae Hyun dan Yong Guk memperoleh keahlian mereka setelah dilatih keras oleh si 'Pak Tua' yang merupakan mantan petinggi kemiliteran.
Lalu... bagaimana dengan Him Chan?
Apa dia... dilatih oleh seseorang juga sebelumnya?
Siapa?
Oh, atau mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah...
... siapa Kim Him Chan sebenarnya?
~~~~~~~\(=^3^=)(=0ɷ0=)/~~~~~~~
"Ssshhhh..."
Samuel menatap tangan kanannya yang diperban. Berapa kalipun ia mencoba, tetap saja hanya ringisan sakit beserta gerakan jari kelingking tanpa arti sebagai hasil.
Sial!
Tangan kanannya benar-benar lumpuh!
Terima kasih pada bocah berwajah tampan yang baru saja Samuel selidiki bernama Jung Dae Hyun itu.
Menyerah, Samuel akhirnya memutuskan untuk mengamati lembaran-lembaran kertas dengan foto-foto masing-masing dari anggota The Mato's yang berhasil dikumpulkan oleh kaki tangannya. Semua biodata tercantum di sana kecuali...
"Mana biodata Kim Him Chan dan pria yang bersamanya itu?"
Pria bersetelan rapi yang merupakan pengacara pribadi Samuel menyeringai. Bak pemenang dari sebuah kompetisi membanggakan, tangannya merogoh ke dalam koper dan mengeluarkan beberapa lembar kertas. "Tuan tahu? Apa yang kutemukan sangat menarik," katanya sembari menyodorkan kertas-kertas tersebut di hadapan Samuel. Ia kemudian menyandarkan punggung santai pada sandaran kursi, membiarkan kliennya sejenak membaca lalu mulai membuka suara.
Tidak menyenangkan bila hal menarik hanya dibaca, bukan?
"Kim Him Chan belum lama ini bergabung dengan The Mato's. Dia menyelamatkan Yong Guk dari penembakan seseorang tak dikenal. Seorang sniper handal kepolisian. Ini bukan drama. Rasanya sungguh mustahil Bang Yong Guk bisa lolos dan Kim Him Chan hanya menderita luka tembak di lengan. Kecuali... kalau semuanya telah direncanakan secara matang."
Samuel belum membaca keseluruhan laporan di tangannya, namun kata-kata si pengacara mencuri perhatian. "Apa maksudmu telah direncanakan secara matang?"
"Tuan ingat Komisaris Dennis Henney?"
Samuel mengangguk. Tentu, tentu dia ingat dengan pria yang nyaris seharian menatap penuh kebencian dan tanpa henti menanyainya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyebalkan. Huh! Dia pikir, dengan melakukan hal itu, Samuel akan menjawab jujur? Teruslah bermimpi!
Tunggu,
Apa hubungannya semua pembicaraan telah-direncanakan-secara-matang ini dengan pria dari petinggi kepolisian itu?
Si pengacara seolah tahu apa yang Samuel pikirkan sehingga langsung menjawab tanpa menunggu lelaki paruh baya tersebut menyuarakannya. "Komisaris Dennis memiliki seorang putera. Dia adalah Daniel Philip Henney, pria yang kita tangkap bersama Him Chan."
'Wow~'
Bola mata Samuel nyaris melompat dari ruangnya. Jika pria yang mereka tangkap bersama Him Chan adalah anak seorang petinggi di kepolisian... ah, bukankah mereka memiliki hubungan khusus? Kim Him Chan, yang sekarang menjadi kekasih dari ketua geng paling ditakuti, dulunya menjalin hubungan dengan putera seorang komisaris?!
W.O.W
Pertanyaannya; seorang Kim Him Chan terlalu acuh? Atau memang... makhluk cantik itu mengencani orang tanpa pandang bulu?
Lalu...
Ah! Samuel masih belum bisa menghubungkan semua ini dengan perihal telah-direncanakan-secara-matang yang menjadi pertanyaannya di awal.
"Aku masih belum mengerti."
Sang pengacara malah terkikik. Yah, dia terlalu menyingkat-nyingkat sesuatu yang rumit. Siapapun akan sulit memahaminya. "Kkkkk~ Him Chan dan Daniel punya sejarah yang cukup panjang dan rumit. Kisah mereka seperti halnya drama murahan yang ditayangkan di siang hari. Keduanya sempat bertunangan dan memutuskan untuk segera menikah begitu mengetahui kehamilan Him Chan. Tapi sesuatu terjadi; mobil yang Daniel kendarai dengan kecepatan tinggi menabrak sebuah truk dari arah berlawanan. Him Chan keguguran, dan dia menyalahkan Daniel atas kejadian itu. Him Chan memutuskan sepihak pertunangan mereka dan pergi. Tapi... Him Chan tidak benar-benar pergi." Si pengacara menghentikan sejenak ceritanya untuk meneguk segelas sampanye di atas meja. Membicarakan kerumitan hidup orang lain membuat kerongkongannya serasa kering.
Sementara Samuel hanya memutar bola mata bosan. Benar-benar, cerita panjang lebar pria di depannya sama sekali tidak memberikan kejelasan pasti! Huh, kalau saja Samuel tidak membutuhkan pengacara licik ini, ia pastilah akan membuat selusin peluru bersarang di kepala plontosnya itu!
Si pengacara seolah menyadari ketidak-sabaran Samuel dan dengan santainya menyeringai, "sabar, Tn. Samuel. Akan kuteruskan. Komisaris Dennis sangat menyayangi Him Chan layaknya putera sendiri. Dia membantu menyembunyikan Him Chan dari puteranya dan... menyekolahkan Him Chan di akademi kepolisian hing—"
"Tunggu, ma-maksudmu... Hi-Him Chan... SEORANG POLISI?!"
Oh, tampaknya sang klien sudah menangkap penjelasannya. Si pengacara hanya mampu tersenyum dan mengangguk angkuh, "yah, Kim Him Chan adalah polisi. Dia ditugaskan menyamar untuk menyelidiki The Mato's. Tuan tentu tahu kalau The Mato's sudah lama menjadi incaran pihak berwajib, bukan?"
Damn...
Samuel bersandar di kursi mewahnya dengan ekspresi syok yang tampak nyata. Pengacaranya benar; kerumitan kisah Him Chan dan Daniel layaknya drama murahan di siang hari.
Namja cantik itu menyamar?
Menjadi... kekasih Bang Yong Guk...?
Ah,
Apakah... 'hamil' juga termasuk dalam penyamaran?
Sepertinya... tidak semua berjalan sesuai rencana.
"Kkkkkkk~"
Ekspresi syok yang menghiasi wajah pria paruh baya tersebut hanya sementara, karena berikutnya ia terkikik bak orang gila dengan kedua siku bertumpu pada meja dan kelima pasang jari saling merenggang dan bersentuhan di setiap ujungnya. Jelas, terhibur dengan pemikirannya sendiri.
"Kkkkk~ well, well, well... ini akan sangat, sangat menarik."
#########^0^##########
"CHANIE! Syukurlah, kau akhirnya sadar!" pekik Daniel lega begitu mata marbel hitam yang dirindukannya menampakkan diri. Tetapi ia harus meringis saat dilihatnya bagian putih jernih pada mata Him Chan kini dihiasi benang-benang darah menyerupai urat. Ugh, mungkinkah beberapa pembuluh darah di sana pecah?
"Fuck~" Him Chan hanya mampu mengumpat. Wajahnya serasa menebal. Ia mulai merasa kalau ini bukanlah wajahnya lagi; bagai memakai topeng super berat dan mengerikan.
"Jangan bergerak, Chanie. Kau baru saja dihajar habis-habisan."
Ucapan Daniel seolah menyadarkan Him Chan dari kelinglungannya. Reflek, ia membawa kedua tangan menyentuh abdomen bawah.
Bagian tersebut tidak terasa sakit.
Seingat Him Chan, dia memang tidak mendapat pukulan di daerah itu.
Huft... syukurlah.
Bang Min Ki mereka, baik-baik saja.
Semua gestur itu, Daniel melihatnya. Ia melihat bagaimana dada Him Chan bergerak pelan menghembuskan nafas lega sesaat setelah ia melarikan tangan memegangi abdomen bawahnya. Kenapa?
Gestur protektif yang baru saja Him Chan tunjukkan membuat ketakutan menyergap bagai asap hitam menyesakkan ke seluruh ruang paru-paru.
Pemandangan ini... terlalu familiar.
Him Chan melindungi, dan mengelus abdomen bawahnya,
Semua terlalu familiar.
'... G-Guk...Gukie... G... Gukie...'
Deg!
Igauan Him Chan kembali berdendang di benak Daniel. Reflek matanya mengamati makhluk cantik yang tengah meringkuk kesakitan di lantai. Suara igauan lirih itu seolah masih nyata dapat didengarnya saat ini.
Him Chan...
Deg,
... hamil.
Malaikat cantik itu telah terbang menjauh. Sayapnya yang putih dan megah, membawanya pergi meninggalkan tanah tandus kesengsaraan, menuju tanah lembab dipenuhi semak berduri.
Deg,
Him Chan... mencintai...
DEG!
... Bang Yong Guk...
Tidak dapat dihindari, namja blasteran yang terikat pada kursi di sebelah Him Chan, merasakan ruang matanya panas. Daniel sesegera mungkin berpaling begitu setetes kristal bening jatuh membasahi pipinya. Semua tidak membantu saat setetes menjadi aliran menganak sungai.
Untuk pertama kalinya hari ini, Daniel bersyukur karena Him Chan terlalu sibuk menutup mata dan meringis kesakitan. Paling tidak, malaikat cantik itu tidak akan melihat bahwa, seseorang tengah menangisi hati yang telah dihancurkannya.
Him Chan mencintai Bang Yong Guk.
Mungkinkah malaikat cantik itu telah dikutuk oleh Tuhan karena selalu jatuh dan berlabuh di tempat yang salah?
Dosa apa yang telah Him Chan perbuat?
~~~~~~~~~\(=^3^=)(=0ɷ0=)/~~~~~~~~
"Hyung, kau yakin dengan semua ini?" Young Jae menatap ragu sang leader. Mata doe-nya berusaha mencari kepastian. Well, tidak ada yang bisa dikatakan pasti kalau sudah menyangkut rencana dadakan seperti ini.
The Mato's seolah dilanda bencana tak terduga akhi-akhir ini. Mulai dari 'sengaja' tidak membunuh target, huh, percaya pada polisi?! Lihatlah sekarang hasilnya! Him Chan diculik dan mereka akan melakukan penyelamatan darurat dengan rencana bak permainan Roussian Roullet; salah langkah sedikit saja, nyawa mereka pasti melayang!
"Huft... aku tidak tahu, Young Jae-ah. Aku tahu ini sangat berbahaya seperti halnya menyodorkan kepala ke dalam mulut buaya, tapi..." Yong Guk menatap mata doe di depannya lurus tanpa berkedip, "akan kulakukan. Apapun untuk menyelamatkan Hime, akan kulakukan. Meskipun nyawaku yang harus menjadi taruhannya."
Kata-kata final dari Yong Guk yang diucapkannya dengan lantang tanpa ada tanda-tanda keraguan sedikitpun, membuat keempat pasang mata di sana terbelalak. Mulut mereka tak lama menganga lalu kemudian berubah menjadi senyuman miring; Young Jae dan Zelo bahkan sampai menggelengkan kepala.
"Kkkk~ kami sudah tahu kau akan berkata seperti itu, Hyung!" celetuk Zelo. Senyuman riangnya membuat Yong Guk sedikit melupakan masalahnya dan ikut pula tersenyum.
Tapi...
Huft... betapa mudanya seorang Choi Jun Hong. Bocah itu seharusnya sekolah dan menghabiskan waktunya menjadi remaja dengan segala kekonyolan yang akan dilakukan oleh remaja puber pada umumnya. Sayangnya, Zelo malah terperangkap di dunia ini bersama mereka.
Tegakah Yong Guk menyeret bocah polos itu ke dalam jurang kematian?
Deg...
Bukan. Bukan hanya Zelo. Yong Guk juga akan menyeret nyawa Dae Hyun, Young Jae, dan Jong Up bersamanya dalam misi ini.
"Kalian..." Sang leader memulai. Suara beratnya terdengar lebih dalam dari biasanya, membuat keempat orang di ruangan tersebut menatapnya heran. "Kalian tahu? Kalian tidak perlu terlibat jauh dalam misi ini. Selamatkan saja Hime, selebihnya, itu urusanku."
"Hyung, kau ini bicara apa!? Kita adalah The Mato's. Meskipun Him Chan Hyung adalah kekasihmu, tetapi dia juga bagian dari The Mato's. Bagiku, Young Jae, dan Jong Up, Him Chan Hyung adalah seorang kakak, saudara yang akan kami lindungi. Junhongie bahkan menganggap Him Chan Hyung seperti umma-nya sendiri. Kita tidak pernah saling meninggalkan, ingat?" Dae Hyun merangkulkan lengan di bahu Yong Guk sebagai keyakinan akan ucapannya. Yah, The Mato's selalu bersama; tidak ada yang meninggalkan, ataupun yang ditinggalkan.
Dan well, baru saja Jung Dae Hyun, tidak terdengar seperti Jung Dae Hyun. Ini keajaiban Tuhan, Young Jae mencatatnya diam-diam.
Seolah tidak mau ketinggalan, Jong Up juga ikut merangkul bahu sang leader dari arah berlawan, "ya, Hyung, ayo kita selamatkan Him Chan Hyung!" katanya penuh semangat.
Young Jae dan Zelo sontak melingkarkan tangan di lengan namjachingu masing-masing. Anggaplah saat ini keduanya juga menyalurkan kekuatan melalui perantara sang namjachingu menuju ketua mereka yang hebat, Bang Yong Guk.
"Kkkkk~ kalian tahu? Aku tidak dapat membayangkan apa jadinya aku tanpa kalian."
Sekarang Yong Guk yakin, The Mato's akan melewati semua ini bersama.
Lagipula...
Hei! Mereka adalah geng yang paling ditakuti di seluruh penjuru kehidupan keras Kota Bangkok!
'Aku akan menyelamatkanmu dan Min Ki, Hime~ Aku tidak perduli siapa kau ini sebenarnya.'
Keputusan sudah diambil.
Bang Yong Guk, tidak perduli siapa, dan apa itu Kim Him Chan. Kim Him Chan adalah namja tercantik penuh pesona yang pernah Yong Guk lihat. Kim Him Chan adalah kekasihnya.
Mereka saling mencintai.
Dan kehadiran Bang Min Ki adalah bukti nyata dari cinta mereka.
~~~~~~~~\(=^3^=)(=0ɷ0=)/~~~~~~~~
Bangkok Police Station~
/... akan membuat kekasihmu kehilangan bayinya dan kau tahu? Aku tidak bercanda saat akan menjadikannya 'budak' pribadiku./
Tuuuuttt...
Dennis berputar, berjalan bolak-balik di depan beberapa unit benda-benda elektronik canggih yang baru saja memutarkan pembicaraan Bang Yong Guk dan Samuel James.
Kenyataan Him Chan diculik dan membuatnya cemas,
Iya.
Tapi... ada yang lebih membuatnya syok dari itu.
Him Chan...
Mantan calon-menantu yang sudah dianggapnya seperti putera kandung sendiri...
... hamil?
Darah daging seorang pembunuh dan ketua geng paling ditakuti?
Bang Yong Guk?!
What the hell! Ini tidak mungkin terjadi, 'kan?!
"Eung... Komisaris," panggil bawahan Dennis takut-takut. Beberapa orang rekan mereka juga berada di ruangan itu. Mungkin... seharusnya rekaman pembicaraan ini dirinya dan sang komisaris saja yang mendengarkan. Lihatlah sekarang, semua orang jadi tahu... ugh, apakah kejadian ini pantas disebut aib keluarga?
The undercover police, gettin' knock up by the suspect target.
How ironic.
"Sekarang apa yang akan kita lakukan, Komisaris?"
"Huft... perintahkan beberapa orang kepercayaanmu untuk mengikuti The Mato's. Dan keberadaan Him Chan, kita masih belum bisa mengetahuinya selama dia belum mengaktifkan pelacak itu. Akh! Seharusnya bocah itu mengaktifkannya!" Dennis mulai berteriak frustasi dan mengacak rambut hitamnya jengkel.
Sang bawahan memberi isyarat mata dan gedikan kepala pada beberapa orang di dalam ruangan monitor untuk segera pergi meninggalkan mereka.
Bertepatan dengan keluarnya manusia terakhir selain dirinya dan Dennis, sang bawahan tidak lagi mampu menyembunyikan rasa penasarannya. "Mungkinkah Him Chan lupa, Komisaris? Mengingat betapa kecilnya pelacak baru itu..."
"Tidak. Him Chan tidak seceroboh itu. Apapun yang terjadi sekarang, kurasa bocah itu memiliki rencana." Dennis berkata yakin. Namja paruh baya tersebut sudah tidak lagi berdiri dan memilih untuk duduk pada salah satu kursi yang berhadapan langsung dengan sebuah layar datar, monitor yang seharusnya menampilkan peta keberadaan Him Chan jika saja pelacak berbentuk piercing mini tersebut diaktifkan.
"Komisaris, apa... kita bisa mempercayai Him Chan?"
Dennis terpaku.
Apa dia bisa mempercayai Him Chan sekarang?
Him Chan adalah tipe penyayang dan sangat menghargai apa itu keluarga. Apa dengan kehamilannya ini... Him Chan akan berbalik berada di pihak Bang Yong Guk? Melindungi namja itu?
"Huft... entahlah. Untuk saat ini kita tidak punya pilihan selain mempercayai bocah itu."
Kenyataannya, Dennis tidak mampu menemukan jawabannya.
#########^0^#########
"Kau ingat ketika pertama kali kita bertemu, Chanie?"
Him Chan meringis saat otot di dahinya yang terluka mengerinyit akibat pertanyaan tiba-tiba dari Daniel. Namja blasteran itu bahkan tidak menatap Him Chan dan hanya memperhatikan atap dinding sel yang berhiaskan jaring laba-laba di atasnya.
"Sssshhh... ada apa denganmu tiba-tiba menanyakan itu!?"
"Jawab saja, Chanie. Kau ingat pertama kali kita bertemu pagi itu?"
Reflek Him Chan mendengus. Apa Daniel memerintahnya sekarang?!
"Maksudmu saat seorang pria mabuk nyaris ditabrak mobil dan ketika diselamatkan, dia malah dengan tidak tahu dirinya membentak orang yang menyelamatkannya?" sindir Him Chan sarkastis.
Namun Daniel terlihat tidak memperdulikan hal itu dan terus berbicara dengan wajah datarnya tanpa menatap Him Chan. Well, sikap tersebut membuat namja yang terkulai di lantai sedikit tidak nyaman. Daniel kenapa?
"Cahaya mentari menyinari wajahmu dengan sempurna. Waktu itu aku berpikir kau adalah malaikat yang dikirimkan Tuhan padaku. Ah, salah. Sampai sekarang pun aku masih berpikir bahwa kau adalah malaikat. Aku benar-benar bingung, Chanie, kenapa Tuhan selalu mempermainkanmu? Kenapa Tuhan seolah menghukummu? Apakah kau malaikat yang dikutuk oleh Tuhan, Chanie?" Kata-kata tersebut meluncur dari mulut Daniel seolah dia sedang bertanya dan bergumam pada dirinya sendiri.
Kalau saja dirinya memiliki tenaga, Him Chan pastilah akan menyongsong Daniel dan menggeplak kepala namja tampan itu dengan keras karena sudah berbicara omong kosong.
Tuhan?
Malaikat?
Dikutuk?!
Daniel pastilah sudah gila.
"What the hell are you talking about, Dan?! Are you lost your mind or something?!"
Siiiinnggggg...
Terjadi keheningan yang cukup lama diantara keduanya. Hingga pada akhirnya Daniel berhenti mematuti atap dan beralih menatap Him Chan.
Deg!
Him Chan terbelalak begitu mendapati mata cokelat yang menatapinya saat ini... memerah? Kapan... Daniel menangis? Tapi yang lebih nyata Him Chan lihat dari mata cokelat itu...
... kosong.
Daniel terlihat hampa, tanpa jiwa.
"Dan, what—"
"Kau mencintai Bang Yong Guk, 'kan, Chanie?"
Deg!
"Selamat, atas kehamilanmu, Chanie."
DEG!
Him Chan merasakan nafasnya tercekat. Darimana Daniel tahu semua itu? "Da-darimana k-kau—"
CLANG!
Pintu sel dibuka dengan kasar, memotong segala kegugupan Him Chan dengan ketakutan baru; Samuel James datang, dengan seringaiannya yang menyebalkan.
Plok, plok, plok~
Namja paruh baya tersebut bertepuk tangan saat memasuki sel. Mengekor di belakangnya beberapa pria berbadan kekar beserta seorang pria bersetelan abu-abu.
"Well, well, well. Bravo! Bravo! Sungguh drama memuakkan yang luar biasa!"
"Lepaskan kami, Brengsek! Chanie harus diobati secepatnya. Apa tujuanmu menyekap kami seperti ini?!" Daniel berteriak marah. Dirinya yang tadi diliputi kesedihan menguap, berganti dengan api kemarahan begitu melihat wajah Samuel.
"Huh, kau masih bertanya? Dari awal sudah kukatakan, ini masalah dendam. Dan harga diri. Lagipula... Him Chan yang cantik adalah 'umpan' terbaik untuk memancing Bang Yong Guk. Bukankah begitu, Himchanie~? Kau sudah terbiasa menjadi umpan, 'kan? Melakukannya sekali lagi kurasa bukan masalah besar." Samuel membungkuk di samping Him Chan dengan senyuman puas saat melihat mata bermarbel hitam itu melebar kaget. Oh... reaksi yang menggemaskan dari tubuh tidak berdaya.
"Kkkkk~ kau luar biasa, Him Chan. Siapapun pasti tidak akan pernah menyangka, kalau wajah cantik sepertimu... melibatkan diri dalam dunia penuh teka-teki seperti kepolisian. Kau bahkan menelusup ke dalam The Mato's dengan sangat cerdik. Aku terkesan."
Him Chan membeku. Bagus. Apakah masih tersisa manusia di muka bumi ini yang tidak mengetahui rahasianya?!
"Tapi..." Dengan sengaja menggantung kalimatnya, Samuel meraih ke belakang leher Him Chan dan menariknya hingga sekarang, telinga kiri namja cantik itu berada sangat dekat dengan bibirnya. Apa yang dilakukannya tentu saja membuat Him Chan meringis dan berteriak kesakitan.
"Semua sepertinya tidak berjalan sesuai rencana, 'kan, Him Chan~? Tidakkah ada yang memberitahumu kalau seharusnya tidak melibatkan perasaan saat ingin melakukan penipuan? Oh, dan seharusnya kau lebih cerdas lagi sebelum membiarkan Bang Yong Guk mendaratkan barang secuil jari ke tubuh indahmu ini." Sebagai penegasan dari kata-katanya, salah satu tangan Samuel yang tidak mencengkeram leher Him Chan, meraba paha bagian dalam namja cantik itu kemudian meremasnya. Yah, siapapun yang memiliki mata dan mengetahui apa itu wujud dari keindahan, pastilah menyadari kalau Him Chan mendapatkan point plus di bagian tersebut.
"JANGAN MENYENTUHNYA, BRENGSEK!" teriak Daniel geram. Urat-urat pada keningnya tampak bermunculan. Ia memberontak, namun lagi-lagi nihil. Meskipun terlihat tua, kursi yang membelenggunya tidak bisa dianggap remeh.
Gigi namja paruh baya yang diteriaki bergemeletuk. Dia terlihat ingin menyongsong Daniel namun... dua detik kemudian hanya senyuman miring yang tidak sinkron dan penuh kelicikan yang dilemparkannya sebelum kembali beralih pada Him Chan. Lebih tepatnya, telinga kiri makhluk cantik itu. "Kau tahu, Cantik? Kurasa aku berubah pikiran mengenai orang hamil. Kau akan terlihat sangat seksi kalau berbaring tidak berdaya di tempat tidurku. Tapi sebelumnya... ayo kita bekerja sama menghabisi nyawa Bang Yong Guk malam ini. Aku akan menghabisi seluruh The Mato's untukmu. Kau suka itu?"
Pip.
Tanpa Samuel ketahui, permukaan bibirnya baru saja menyentuh pelacak mini berbentuk piercing kelinci di telinga Him Chan.
Benda itu menyala tanpa kasat mata.
"A-apa y-yang akan k-kau lakukan?" Suara Him Chan terdengar berbisik. Sepertinya ia akan jatuh pingsan lagi.
Samuel menyeringai lebar. Tangannya yang tadi sempat menyentuh paha Him Chan kini beralih membelai surai hitam legam, yang masih saja terasa lembut meskipun dibasahi keringat dan beberapa bahkan, noda darah yang mulai mengering. "Kau akan melihatnya nanti, Cantik. Sekarang tidurlah."
Dengan satu lirikan matanya, salah satu dari pria bertubuh kekar itu mendekati Samuel dan Him Chan. Sebuah serum suntik diangkatnya ke udara.
Him Chan yang sebenarnya sudah tidak mampu lagi mempertahankan kesadaran, hanya bisa mengerang lalu kemudian meringis begitu merasakan sengatan jarum suntik di lengan kirinya.
Setelahnya...
... hanya ada kegelapan...
...tanpa rasa sakit.
#########^0^#########
Bangkok Police Station~
PIP.
"Komisaris!"
Tanpa namja di sebelahnya berteriak pun, Dennis tahu apa yang terjadi. Toh, matanya tidak berhenti mematuti layar.
Pelacak yang Him Chan bawa aktif.
Bagai degupan jantung, sinar merah menyala timbul-tenggelam pada satu titik pemetaan Kota Bangkok. Keadaan yang tengah mereka hadapi membuat nyala sinar merah pada layar terlihat bagai degupan jantung Him Chan sendiri.
Mereka harus cepat.
Jika ingin degupan itu masih menemani raga Him Chan.
"Siapkan pasukanmu, Andi! Kita akan berburu tikus sekaligus ular besar, malam ini," perintah Dennis pada sahabatnya, sekaligus tangan kanannya di kepolisian, Andi.
#########^0^#########
Sepi.
Lagi-lagi Yong Guk merasakan hal ini saat berada dalam kamar mereka. Ia tengah duduk di tepian ranjang, dengan mata memperhatikan sekitaran kamar yang luas.
Sunyi semakin merajai begitu cahaya temaram dari lampu tidur di meja nakas masuk ke dalam jarak pandangnya. Dulunya, Yong Guk tiduk membutuhkan lampu seperti itu untuk kamarnya. Toh, dia nyaman-nyaman saja tidur tanpa penerangan sedikitpun. Tapi kemudian... Him Chan hadir. Him Chan takut gelap. Him Chan tidak suka tidur dalam kegelapan. Maka dari itu, Yong Guk membelikan lampu tersebut meskipun pada akhirnya dia harus menderita beberapa malam karena tidak terbiasa tidur di bawah penerangan.
Huft...
Kehadiran Him Chan membuat Yong Guk merasakan, melakukan semua yang tidak pernah ia lakukan. Him Chan layaknya warna-warni baru yang melapisi warna kelabu di sebuah tembok suram. Him Chan adalah warnanya.
Tidak hanya itu,
Him Chan adalah...
Matahari, yang sinarnya menghangatkan dinginnya pagi.
Udara, yang hembusan lembutnya dapat dihirup untuk menemani paru-paru menjalani aktifitas sehari-hari.
Dan bumi, tempat yang menjanjikan Yong Guk untuk berpijak kokoh dengan harapan yang berarti.
Him Chan adalah segalanya. Yong Guk tidak dapat membayangkan bagaimana dirinya akan bertahan tanpa malaikat cantik seperti Him Chan. Dunianya. Dan, Yong Guk tidak akan membiarkan tangan kotor seperti Samuel merenggut miliknya yang berharga.
Bangkit dari ranjang yang didudukinya, Yong Guk berjalan menuju balkon kamar. Ia menumpukan kedua siku pada pagar teralis balkon. Bahkan, balkon sempit ini pun, menggambarkan banyak kenangan dirinya dan Him Chan. Mereka pernah melakukan sesuatu yang nakal di tempat ini. Mereka juga suka berpelukan dengan lengan Yong Guk memerangkap pinggang kecil Him Chan, sementara punggung beserta kepala makhluk cantik tersebut bersandar di dadanya, di tempat ini.
Huft...
Him Chan menyukai balkon kecil ini. Seperti kawasan pribadi, katanya. Kesukaan Him Chan bahkan membuat Yong Guk berniat untuk memperluas balkon ini. Memberinya sentuhan baru di sana-sini. Untuk Him Chan. Hanya untuk Him Chan.
Sayangnya, hal itu belum terlaksana.
Memastikan niatnya terlaksana adalah kewajiban Yong Guk. Mereka akan bersama lagi. Atau paling tidak... Him Chan beserta aegya mereka.
Meraih ke dalam wifebeater hitamnya, Yong Guk mengeluarkan sebuah kalung rantai berbandul salib. Dia bukanlah tipe hamba yang taat, akan tetapi... di saat seperti ini... Yong Guk membutuhkan sesuatu untuk ia berpegangan.
"Aku akan menyelamatkanmu, Hime. Tunggu appa, Min Ki~" bisiknya sembari mencium permukaan salib dengan khidmat.
Hari ini, untuk pertama kalinya, The Mato's akan mempertaruhkan seluruh hidup mereka pada keputusan takdir.
Hidup itu kejam...
... Roussian Roullet.
TBC
NB: HIDUP BANGHIM! BANGHIIIIIIIMMMMMM! HIMEEEE (=^3^=) I LUV U~~~#PLAK*digampar Bbang* BAP FIGHTING!
