Seorang gadis tengah menyusuri jalan setapak. Jalanan terlihat senggang, tak banyak orang maupun kendaraan yang melintas. Butiran-butiran salju pun tampak turun dari langit, menambah hawa dingin di malam yang sepi ini. Sekarang sudah pukul sepuluh malam, waktu dimana anak-anak sudah pergi tidur dan mungkin sudah bermimpi indah. Tapi tidak bagi gadis berumur delapan tahun itu. Dia tidak bisa tidur, bukan karena dia tidak lelah. Ia sudah lelah, apalagi selama beberapa hari ia terus berjalan tak tentu arah. Dia kebingungan, tak tahu harus pergi kemana. Dia sudah tidak punya tempat pulang lagi dan dia juga sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Orang-orang yang disayangnya telah pergi untuk selamanya. Semuanya lenyap dalam satu malam saja. Sungguh menyakitkan. Ingin rasanya gadis itu menangis meraung-raung. Tapi air matanya sudah kering. Dia sudah tidak bisa menangis walau ia ingin. Gadis itu mengeratkan jubah yang dipakainya begitu angin dingin menerpa tubuh mungilnya. Kakinya sudah lelah berjalan tapi ia tidak bisa berhenti. Ia tidak mau berhenti, ia ingin pergi. Pergi sejauh-sejauhnya ke tempat yang mungkin tidak bisa dijangkau. Pergi dari dunia ini.
.
.
Title : Vampire Game II
Chapter 10 : Invite Game
Disclaimer : Kamichama Karin Chu © Koge Donbo
~Vampire Game II~ © Milky Holmes
Rated : T
Genre : Fantasy ; Mystery
Warning : OOC, typo, abal, gaje, alur kenceng, nggak nyambung, dll
.
.
Please Enjoy Reading
.
.
~Vampire Game II~
.
.
Normal POV
Tin tin tin
Gadis itu terkejut begitu melihat ada sebuah truk yang melaju cepat ke arahnya. Ah sepertinya permintaannya akan segera dikabulkan, pikir gadis itu sambil memejamkan mata. Mungkin ini waktunya untuk mengucapkan selamat ting-
Tin tin tin
Brugh
Gadis itu membelalakkan matanya begitu ia ditarik ke pinggir sebelum truk itu berhasil menabrak gadis itu. Si penolong itu sepertinya tidak bisa menyeimbangkan tubuh gadis itu yang menubruk tubuhnya sehingga membuat mereka berdua jatuh ke trotoar.
"Kau tidak apa-apa?" tanya si penolong yang rupanya seorang anak laki-laki yang sepertinya sebaya dengan gadis itu.
Sebenarnya yang perlu dikhawatirkan adalah anak laki-laki itu karena dialah yang harus merasakan betapa kasar dan kerasnya trotoar itu sembari melindungi gadis itu.
Lagi-lagi gadis itu terkejut begitu melihat sosok penolongnya walau sebenarnya ia tidak ingin ditolong tadi. Tubuh gadis itu bergetar ketakutan. Tanpa menjawab pertanyaan anak itu, ia langsung bangkit berdiri dan melarikan diri secepat yang ia bisa. Meninggalkan anak laki-laki itu kebingungan. Gadis itu terus berlari dan berlari dengan tubuh yang masih bergetar ketakutan. Dirinya masih ingat betul wajah anak tadi. Dan dia masih tidak percaya bahwa anak itu memiliki sepasang mata yang berwarna-
merah.
Memiliki warna mata yang berwarna merah merupakan hal yang tidak lazim untuk setiap orang. Tapi gadis itu tahu betul siapa saja yang memiliki warna mata itu apalagi ditambah dengan taring itu. Gadis itu mengenal sosok itu sebagai vampir. Dan anak tadi adalah seorang-
vampir.
Gadis itu berhenti di pinggir jembatan. Nafasnya tampak terengah-engah. Dia sudah kelelahan berlari. Kedua kakinya rasanya sudah mati rasa. Gadis itu memukul dan menendang pembatas jembatan itu dengan tangan dan kakinya. Ia kesal, karena ia lemah. Karena lemah, ia tidak bisa melawan. Dan karena tidak bisa melawan, ia tidak bisa menolong siapapun. Gadis itu menatap kosong tangan dan kakinya yang mulai berdarah. Tetesan-tetesan darahnya bercampur dengan butiran salju. Merah dan putih. Kedua warna yang sangat kontras satu sama lain. Akhirnya setelah sekian lama, gadis itu mulai mengeluarkan cairan bening dari kedua matanya. Dia menangis sembari menatap kedua tanganya yang berdarah. Tiba-tiba sekelebat ingatan mulai diputar di otak gadis itu bagai rekaman film. Ia teringat dengan kematian kedua orang tuanya yang mati di hadapannya sendiri. Waktu itu kedua tangannya juga berdarah. Darah berceceran dimana-mana. Warna merah mendominasi. Sejak saat itulah ia membenci dua hal. Pertama adalah darah dan yang kedua adalah vampir. Dua hal itulah yang paling ia benci di hidupnya. Merekalah yang sudah merebut segalanya darinya. Merekalah yang sudah merampas keluarganya. Membuatnya menjadi depresi dalam kesepian dan ketidakpastian.
Gadis itu menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Berharap hal itu membuat perasaannya menjadi lebih baik. Tapi sepertinya itu tidak berhasil. Air matanya masih mengalir. Sepertinya satu-satunya cara untuk membuat perasaannya lebih baik adalah dengan-
mati.
Dengan begitu ia tidak akan merasakan apapun lagi. Dia akan pergi selama-selamanya dari kejamnya dunia ini. Dia akan terlepas dari segala masalah yang menimpanya. Dengan begitu semua akan berakhir. Yah berakhir.
Anehnya. Lagi-lagi seakan menjawab keinginan gadis itu. Tiba-tiba pembatas jembatan itu jebol karena mungkin tadi sudah dipukuli oleh gadis umur delapan tahun. Bukan, tentu saja bukan itu alasannya karena memang kayu yang menjadi pembatas itu sudah tua dan lapuk karena cuaca ini. Sehingga pembatas itu tidak kuat lagi menahan tubuh gadis itu dan berakhir dengan kayu dan gadis itu yang jatuh ke sungai. Dan bagai suratan takdir, gadis itu berhasil diselematkan bahkan oleh orang yang sama.
Tampak anak laki-laki yang menolongnya tadi tengah mencengkram kuat tangan gadis itu. Berusaha menahan gadis itu untuk jatuh ke sungai.
"Kau sebenarnya kenapa sih. Apa sebegitu inginnya kau mati?!" seru anak itu sambil berusaha sekuat tenaga menarik gadis itu naik tapi sepertinya kekuatannya tidak cukup.
Gadis itu hanya diam sambil memandangi wajah anak itu. Ada yang membuatnya heran. Warna mata anak itu tidak merah tapi warna lain. Apa tadi ia hanya salah lihat saja.
"Lepaskan aku!" teriak gadis itu sambil berusaha melepaskan cengkraman anak itu.
"Kau gila ya! Aku tidak bisa melakukannya!" balas anak itu.
"Lepaskan! Aku tidak butuh pertolonganmu lagi!" seru gadis itu sambil bersikeras melepaskan diri dengan memukul-mukul tangan anak itu.
"Kalau kau sebegitu inginnya mati. Setidaknya jangan mati di hadapanku!" seru anak itu tidak kalah kerasnya.
Tanpa disangka-sangka, gadis itu menggigit tangan anak itu. Membuat anak itu kaget dan menjerit kesakitakan. Karena pegangannya mulai mengendur, akhirnya gadis itu melepaskan diri. Dan berakhir dengan dirinya yang jatuh ke sungai.
"Maaf," ucap gadis itu pelan.
Byur
Begitu tubuh gadis itu masuk sepenuhnya ke dalam air. Hal yang pertama ia rasakan adalah dingin. Sangat dingin sekali. Bagaimana tidak, sekarang sudah larut malam dan salju pun masih turun dari langit. Rasanya tubuh gadis itu semakin membeku karena kedinginan apalagi ia tidak bisa berenang. Sudah dipastikan ia akan mati kali ini. Akhirnya gadis itu membiarkan dirinya masuk lebih dalam tanpa perlawanan. Lagipula kepalanya sudah pusing karena kemasukan air dan paru-parunya sudah kekurangan asupan oksigen.
'Akhirnya aku bisa menyusul kalian,' batin gadis itu sebelum ia menutup mata.
.
.
Di sisi lain
.
.
"Gadis itu benar-benar sudah gila!" seru seorang anak seraya menatap tangannya yang memerah akibat 'penganiayaan' yang dilakukan gadis itu padanya.
Dia sudah susah payah menyelamatkan gadis tadi dan berlari menyusulnya bukan untuk melihatnya mati di hadapannya.
"Sudah kubilangkan, kalau ingin mati jangan mati di hadapanku!" teriak anak itu sebelum akhirnya ia memutuskan untuk terjun ke sungai. Sepertinya pikirannya sudah sama gilanya seperti gadis itu karena memilih untuk terjun ke sungai saat musim dingin pada malam hari lagi. Pikirannya pasti sudah tidak waras lagi.
Byur
Brrrr dingin sekali, pikir anak itu begitu tubuhnya sudah menyelam ke dalam air sungai. Dengan bantuan cahaya bulan, anak itu segera mencari gadis itu. Berharap semoga ia masih sempat menyelamatkannya. Setelah mencari, akhirnya ia menemukan gadis itu yang kini tampak tidak sadarkan diri. Sial, apa dia sudah terlambat. Anak itu langsung berenang cepat ke arah gadis itu sambil berusaha melawan rasa dingin yang mulai membekukan sekujur tubuhnya.
Anak itu langsung mendekap tubuh mungil gadis itu. Tubuhnya dingin sekali. Bahkan di dalam air sungai yang sudah dingin ini. Jangan mati. Mungkin ia memang tidak mengenal gadis itu. Tapi ia tetap saja tidak ingin lagi ada orang yang mati di hadapannya sendiri. Apalagi mati dengan cara yang konyol seperti bunuh diri. Selain itu gadis itu tampak seumuran dengannya, entah apa yang membuatnya begitu ingin mati tapi tetap saja ia tidak bisa membiarkannya begitu saja. Dengan gerakan cepat sebelum mereka berdua benar-benar mati membeku. Anak itu berenang ke permukaan sembari membawa gadis itu. Setelah sampai di permukaan, langsung saja anak itu mengambil napas panjang. Diliriknya gadis itu yang masih tidak sadarkan diri. Anak itu segera membawa gadis itu ke tepian lalu mengangkatnya ke pinggir sungai.
Sekarang apa yang harus dilakukannya. Dia pernah melihat pertolongan yang dilakukan untuk orang yang tenggelam di salah satu acara TV. Tapi masak ia akan melakukannya. Memikirkannya sudah membuat wajah anak itu memerah. Tapi jika ia tidak mencoba melakukannya, nyawa gadis ini tidak bisa diselamatkan. Dan usaha menolongnya tadi akan sia-sia. Dan anak itu tidak pernah suka melakukan hal yang sia-sia. Tiba-tiba anak itu menyadari sesuatu yang ganjil dari tubuh gadis itu. Ia melihat luka-luka pada tangan dan kaki gadis itu perlahan-lahan mulai mulai menghilang bekasnya. Padahal ia yakin saat menolongnya dari truk tadi, ia tidak melihat luka-luka itu.
Apa mungkin dia-
Terdengar suara orang terbatuk. Ah rupanya gadis itu sudah sadar. Syukurlah. Segera anak itu membantu gadis itu untuk duduk. Dan lagi-lagj anak itu disuguhi oleh pemandangan yang mengejutkan begitu melihat matanya. Sepasang mata gadis itu berwarna merah.
"Kenapa kau menolongku. Bukannya aku sudah bilang jangan menolongku!" seru gadis itu marah.
Tapi anak itu hanya diam. Dirinya masih terpaku memandangi gadis di hadapannya ini.
"Hei kau kenapa?" tanya gadis itu yang merasa risi dilihat terus seperti itu.
"Katakan apa alasanmu ingin bunuh diri?" tanya anak itu tajam.
Tentu saja gadis itu kaget ditanya seperti itu. "Bukan urusanmu," jawabnya ketus.
"Baiklah jika kau tidak ingin bercerita, aku tidak akan memaksa," ucap anak itu sambil berdiri. "Ikutlah bersamaku," pintanya pada gadis itu.
"Apa?! Kenapa aku harus ikut denganmu?!" sewot gadis itu.
"Karena aku berpikir kalau tujuan kita sama," ucap anak itu tenang.
"Memangnya kau tahu tujuanku?" tanya gadis itu heran.
Anak itu hanya tersenyum menanggapinya. "Kau itu gadis yang mudah ditebak," candanya.
"Aku tanya sekali lagi. Tahu apa kau soal diriku?" tanya gadis itu tajam.
"Kau ingin kekuatan kan. Aku bisa memberimu itu," ucap anak itu.
"Bagaimana bisa kau melakukannya, kau itu hanya anak kecil," ujar gadis itu dengan nada meremehkan.
Anak itu lagi-lagi tersenyum. "Kau pikir aku anak biasa?" tantangnya.
Gadis itu tertegun begitu melihat ekspresi anak itu. Ekspresi yang tidak mungkin dimiliki anak pada umumnya. Sepasang mata merahnya menatap lurus ke arahnya.
Merah bertemu merah.
~Vampire Game II~
"Apa ini?" tanya Kazune seraya menatap 'benda' yang disodorkan oleh Ruka padanya.
"Kazune, sejak kapan kau jadi bodoh begini. Dilihat dari manapun ini adalah amplop," ujar Ruka.
Kazune mendelik kesal ke arah Ruka lalu merebut amplop itu dari tangannya.
"Kakekku menyuruhku memberikannya padamu," ucap Ruka.
Kazune hanya diam begitu membaca nama pengirimnya. "Sejak kapan kau menjadi tukang pos untuk para dewan," ucapnya sinis.
"Sudah kubilang kan, kakekku yang menyuruhku," protes Ruka.
Kazune tak mempedulikan protes dari Ruka. Ia segera membuka amplop itu dan mengambil secarik kertas yang terselip di dalamnya. Lalu dibacanya isi surat itu.
"Aku tidak mau datang," ucap Kazune sambil melempar amplop beserta kertas itu ke mejanya.
"Kenapa?" tanya Ruka.
"Aku tidak suka pesta," jawab Kazune simpel.
"Aku tahu, tapi kakekku sangat mengharapkan kedatanganmu," terang Ruka.
"Sayangnya aku tidak berharap bertemu dengan mereka lagi," sahut Kazune dingin.
"Meski begitu kau harus datang Kazune. Biar bagaimanapun kau adalah salah seorang anggota dewan dan pureblood," ujar Ruka.
"Apa dia juga diundang?" tanya Kazune tiba-tiba.
"Dia siapa. Oh maksudmu Karasuma Rika, yah dia diundang juga," jawab Ruka.
"Bertambahlah alasanku untuk tidak datang ke pesta ini," ujar Kazune.
"Apa sebegitu tidak sukanya kau dengan mereka, Kazune?" tanya Ruka heran.
"Aku tidak pernah suka dengan dewan lainnya. Aku tahu kalau beberapa dari mereka tidak pernah setuju dengan aturan yang kubuat. Mereka tidak menyukaiku sebagai pemimpin mereka menggantikan Ayah," jelas Kazune.
"Yang benar calon," ucap Ruka.
Kazune menoleh menatap Ruka.
"Kau masih calon pemimpin Kazune, sampai full moon berikutnya. Kau masih dianggap sebagai calon. Selain itu masih ada Rika, dia juga punya hak sebagai calon pemimpin juga dari perwakilan keluarga Karasuma. Salah satu dari kalianlah yang akan menjadi pemimpin nanti," terang Ruka kalem.
"Kau tidak perlu repot-repot mengingatkanku tentang itu," ucap Kazune sinis.
"Tidak, tapi aku benar-benar akan kerepotan jika kau tidak datang," ujar Ruka.
"Memangnya kenapa? Apa kakekmu akan membunuhmu jika aku tidak datang," ucap Kazune asal.
"Kurang lebih seperti itu," jawab Ruka sambil mengedikkan bahu. "Tapi menurutku, sebaiknya kau memang harus datang Kazune. Aku yakin Rika pasti akan datang ke pesta itu. Apa kau akan membiarkan Rika yang menjadi bintang utama di pesta itu, ingat Kazune tidak lama lagi adalah penentuan siapa yang akan menjadi pemimpin di antara kalian berdua. Tentunya kau tidak ingin kan Rika mencuri banyak perhatian disana," jelasnya berargurmen.
"Aku akan menang dengan caraku sendiri, tak akan kubiarkan ia mengambil posisiku," ucap Kazune yakin.
Ruka menggeleng-gelengkan kepala. "Kakekku pernah mengatakan orang yang terlalu percaya diri suatu saat bisa jatuh," ucapnya bijak.
"Kau menyuruhku datang, tapi bagaimana denganmu sendiri. Apa kau akan datang?" tanya Kazune.
Ruka tersenyum lalu berkata, "Aku tidak akan datang."
"Kakekmu pasti akan marah padamu," sahut Kazune.
"Tentu saja dia akan marah, aku tidak peduli. Lagipula aku sudah tidak dianggap cucunya lagi," ujar Ruka.
"Lalu kenapa kau masih menuruti kemauan kakekmu?" tanya Kazune.
"Ini hukuman atas dosa yang sudah kulakukan di masa lampau," jawab Ruka seraya tersenyum sedih.
Untuk beberapa saat Kazune hanya diam. Dia tahu hubungan buruk Ruka dengan keluarganya tapi dia tidak pernah tahu apa penyebabnya. Dan Ruka selalu menghindari pertanyaan itu setiap Kazune menanyakannya. Dan Kazune tak mau ambil pusing, ia masih tahu batas privasi seseorang.
"Pergilah!" seru Kazune tiba-tiba.
"Apa?"
"Kau pasti sibuk kan sebagai ketua hunter," ucap Kazune sekenanya.
"Aku belum bisa pergi sebelum kau mengatakan kau akan datang," ucap Ruka masih bersikeras.
"Lalu kau mau apa? Kau mau memberikan perintah padaku!" seru Kazune sebal. Dia sudah tahu mengenai kekuatan lain Ruka.
"Kau tahu sendiri kan Kazune, kekuatanku tidak mempan padamu," ujar Ruka datar.
"Jika kau sudah tahu, tidak ada gunanya kau memaksaku," balas Kazune dingin.
"Memang benar, tapi kakekku sudah menyuruhku untuk memastikan kedatanganmu," terang Ruka.
"Ruka, sebenarnya kau itu berpihak pada siapa sih?" tanya Kazune sedikit keras.
Ruka tersenyum meski sudah sedikit 'dibentak' oleh Kazune. "Aku tidak akan berpihak pada vampir manapun. Sudah kuputuskan, aku tidak mau terlibat jauh dalam urusan bangsa vampir. Itu membuatku muak," ujarnya.
"Jadi?" tanya Kazune tak sabar.
"Tolong jangan percaya padaku, biar bagaimana pun sekarang aku adalah ketua hunter, organisasi yang membasmi vampir," terang Ruka.
"Bagiku kau terlihat seperti orang yang melarikan diri dari takdirmu," sindir Kazune.
"Kau juga sama, sampai kapan kau akan membiarkan permainan ini berputar-putar," balas Ruka.
Kazune mendelik kesal ke arah Ruka yang hanya memasang senyum. Lalu ia menghela napas panjang. "Akan kupikirkan," jawabnya pada akhirnya.
Senyuman Ruka semakin mengembang. "Seharusnya kau menurut dari tadi, Kazune."
Kazune hanya mendengus kesal menanggapinya.
"Oh ya Kazune sebaiknya kau menyuruh Kazusa dan yang lain untuk kembali!" seru Ruka tiba-tiba.
"Memangnya kenapa?" tanya Kazune bingung.
"Karena Akira sekarang bersama dengan diriku yang asli," jawab Ruka.
"Bagaimana bisa?!" tanya Kazune.
"Rika menyuruh Akira dengan menggunakan hipnotis untuk menyerangku," ujar Ruka. "Sepertinya dia sudah mengetahui rahasiaku," tambahnya.
"Lalu apa yang selanjutnya akan kau lakukan?" tanya Kazune tajam.
"Tentu saja aku akan melakukan tugasku," ucapnya santai. "Sebagai ketua hunter," lanjutnya sambil tersenyum. Setelah itu Ruka lenyap begitu saja. Lebih tepatnya doppleganger milik Ruka yang lenyap.
Kazune menghela napas panjang lalu kembali melanjutkan membaca bukunya yang sempat terhenti tadi. Dia masih ingat betul tentang pertemuan pertamanya dengan Ruka. Kala itu orang tuanya memperkenalkan Ruka sebagai sepupunya. Ibu Ruka adalah adik dari Ayahnya. Karena menikah dengan vampir yang bukan dari golongan pureblood. Ruka tidak dianggap sebagai keturunan pureblood. Meskipun begitu status Ruka yang paling tinggi di antara bangsawan lain, karena selain mewarisi darah pureblood dari Ibunya. Ruka juga mewarisi tahta sebagai salah satu Dewan Kehormatan Vampir dari Ayahnya, walau sekarang tahta tersebut diambil alih oleh kakeknya. Jika mau, Ruka bisa saja mencalonkan diri menjadi pemimpin bangsa vampir biar bagaimanapun Ruka masih bisa dikatakan vampir pureblood jika melihat dari silsilah keluarga Ibunya. Tapi siapa sangka, anak yang dulu pernah dikabarkan hilang itu tiba-tiba kembali dan mengatakan kalau dirinya membenci bangsa vampir. Untuk kasus Kazune, Ruka kembali sambil memperkenalkan diri sebagai ketua Organisasi hunter. Sampai sekarang, Ruka yang bisa menjadi ketua hunter masih menjadi misteri tersendiri. Dan orang sejenius Kazune pun masih belum bisa memecahkannya. Pada kenyataannya sosok Ruka memang penuh dengan teka-teki. Sejak dulu Ruka memang dikenal sebagai anak yang misterius dan juga-
anak iblis.
"Sebenarnya apa yang membuatmu memihak para manusia?"
"Dan kenapa kau membunuh orang tuamu sendiri?"
.
.
To Be continued
.
.
Please Review
Session Talkshow
Bella : Hontouni gomenasai minna-san #sujud
Kazusa : Sudah dua bulan lebih lho author hilang tanpa kabar.
Bella : Maka dari itu Bella benar-benar minta maaf sebesar-besarnya pada para pembaca. Maaf banget karena sudah membuat kalian harus menunggu lama lanjutan fanfic-fanfic Bella. Hontouni gomenasai n(_ _)n
Akira : Dan sepertinya kalian harus menjadi orang yang super sabar jika ingin membaca lanjutan fanfic dari author satu ini.
Kazusa : Kayak ada yang mau nungguin fic author payah ini -_-
Bella : Apa katamu Kazusa?! #darkaura
Akira : Oi oi sudah jangan pada berantem. Kita bacain balasan review saja yuks :3
Bella : Oke deh. Balasa pertama untuk Guest. Lain kali kasih nama yang jelas ya biar Bella enak manggilnya. Daijobou, ceritanya tetap lanjut kok Cuma lama saja lanjutannya hehehehehe :D
Kazusa : Berikutnya untuk Sakurai Yuichii, pendek ya padahal bagi author sudah panjang tuh. Wkwkwkwk Yui-san bosan ya dengan Karin. Memang sih bakal lebih bagus lagi kalau tokoh utamanya aku. Tapi sayangnya author nggak mau bikin cerita dengan tokoh utamanya aku -3-
Bella : Sorry sorry to say yah #ijincopas. Kazusa cocoknya dapat peran antagonis jadi nggak cocok jadi tokoh utama.
Kazusa : Apa kau bilang?! #munculduatandukdikepala
Akira : Haik haik cukup #misahinKazusadanBella. Buat Yui-san yang manis, AKU KAGAK TSUNDERE DAN MALU-MALU KAMPRET TEMPE?!
Bella dan Kazusa : Makin kelihatan tsunderenya -_-
Kazusa : Selanjutnya untuk ayu dan jj. Adegan romance-nya dipending dulu ya. Sekarang author mungkin lebih fokus ke konfliknya dulu. Tapi diusahain ada romance yang nyelip tapi tergantung sikon dari ceritanya sih. Jadi tungguin saja ya ;)
Bella : Untuk KAZEnoRASSYA, huweee jangan panggil Niimi dengan cecunguk sialan tapi memang di fic ini sikapnya Niimi nyebelin. Meskipun begitu Niimi tetap OC kesayangan Bella X3
Akira : Author pilih kasih nih -_-
Kazusa : Silahkan lihat gambar OC milih author di blognya (dreamingistrue/blogspot/com) / ganti titik. Gomen kalau hasilnya tidak memuaskan :(
Bella : Ah kalau mau tanya soal roleplay, silahkan tanya lewat PM atau add id LINE Bella :3
Akira : Balasan berikutnya untuk Kiyomizu Harumi. AKU NGGAK MILIH SIAPA-SIAPA TEMPE?! #blushing
Kazusa : Tsunderenya kumat -_-
Bella : Nah di chapter ini sudah terjawab kan siapa pemilik POV yang membunuh ortunya sendiri kemarin. DIA ADALAH RUKA.
Kazusa : Padahal kukira dia OC author yang paling normal dan alim tapi tak tahunya.
Bella : Hehehehe makanya jangan ketipu sama tampangnya, kan di profil akun ffn Bella kan sudah dijelasin kalau sebenarnya Ruka itu psikopat.
Kazusa : Jadi di fanfic ini Ruka psikopat?!
Bella : Entahlah, pokoknya masih rahasia alasan kenapa Ruka membunuh orang tuanya sendiri. Jadi tunggu saja lanjutan ceritanya X3
Akira : Nee, ada yang bisa nebak dua anak yang muncul di bagian awal chapter ini? Author sudah kasih hint-nya lho. Tergantung kalian sadar apa nggak.
Kazusa : Tunggu pemilik POV di chapter 8 yang dipanggil gembel itu siapa? Apa Ruka orangnya?
Akira : Hhmm kayaknya bukan Ruka deh. Di chapter ini kan diceritain kalau Ruka itu benci vampir dan berpihak ke manusia. Sedangkan pemilik POV itu mengatakan kalau dia benci manusia karena manusia itu kejam #posealadetektif.
Bella : Hahahaha silahkan menebak-nebak, yang pasti anak yang dipanggil gembel itu vampir sejak kecil. Jadi jawabannya bukan Karin, Miyon, maupun Yuuki. Para readers boleh ikut menebaknya kok, siapa tahu ada yang benar :3
Kazusa : Tau ah. Lanjut ke balasan berikutnya, untuk Kagura Ozka. Mengenai kekuatan Karin dan Rika memang belum author jelaskan secara biodata profilnya. Tapi untuk Rika sudah pernah author ceritakan kekuatannya dalam fic ini. Kalau kekuatan Karin masih jadi rahasia dulu hehehehe
Akira : Untuk Pyla-Chan, arigatou atas semangatnya. Dukung terus ya author biar ceritanya makin seru XD
Bella : Yosh balasan review sudah dibacakan semua. Saatnya kami untuk pamit.
Kazusa : Bye bye semua.
Akira : Sampai bertemu lagi di lain kesempatan.
All : Jaa ne~
