Cast:

Kim Jaejoong as Kim Jaejoong (17 years old)

Jung Yunho as Jung Yunho a.k.a Tuan Muda Ketiga (17 years old)

Shim Changmin as Jung Changmin a.k.a Tuan Muda Kedua (18 years old)

Choi Seunghyun as Jung Seunghyun a.k.a Tuan Muda Pertama (19 years old)

Choi Siwon as Pengawal Pribadi Jaejoong (24 years old)

Kim Junsu as Kim Junsu (17 years old)

Kwon Boa as Kwon Boa (19 years old)

Go Ahra as Go Ahra (17 years old)

Direktur Jung

Ibu tiri

Ayah Jaejoong

.

.

.

Setelah Jaejoong masuk kamar, Changmin dan Seunghyun kembali ke ruang tamu, lalu mulai berbisik-bisik.

"Hyong, dia berencana bekerja seharian penuh akhir pekan ini. Dia sangat senang. Sepertinya dia sangat suka bekerja."

"Oh ya? Kalau begitu, dia pasti menolak kalau kita ajak jalan-jalan, ya?"

"Ya, makanya kita harus melakukannya sesuai rencana kita. Ayo kita lakukan malam ini."

"Changmin-ah. Hyongmu ini murid semester terakhir."

"Terus kenapa? Hyong toh tidak akan ikut ujian nasional. Hyong sudah mencarikan pesawat?"

"Sudah kucarikan yang paling stabil saat terbang. Ah, apakah lebih baik kita memberinya obat tidur?"

"Dia tidak mungkin terbangun karena Siwon Hyong akan menyetir dengan sangat halus."

"Yah… benar juga. Ayo kita panggil Siwon Hyong."

"Oke."

Mereka menyuruh Siwon datang. Siwon yang sedang membaca buku ketika dipanggil, sekarang mendesah sambil mendengarkan rencana yang tidak mungkin berhasil ini.

"Apakah Tuan Muda berpikir bahwa rencana itu akan berhasil?"

"Tentu saja! Kita akan membawanya dengan sangat nyaman."

"Tuan Muda Kedua, sebelum dibawa ke mobil pun pasti Tuan Jaejoong sudah terbangun."

"Hyong tidak percaya padaku?"

"Tidak. Saya tidak percaya."

"Wah! Sikap Hyong benar-benar dingin. Kenapa jujur begitu?"

"Moto saya adalah hidup dengan jujur dan rajin."

Akhirnya mereka memutuskan menjalankan rencana ereka satu setengah jam kemudian.

Setelah lewat satu jam, Siwon berkata, "Tuan Muda benar-benar mau melakukan ini? Kalau sembarangan masuk kamar Tuan Jaejoong, bukankah ia akan merasa tidak senang?"

"Tidak apa-apa. Tidak aka nada masalah. Dia tidak akan terbangun."

Hah… Siwon mendesah pasrah. Dasar Tuan Muda yang masih kecil-kecil ini. Sepertinya mereka belum tahu betapa bahayanya masuk kamar Jaejoong yang sedang tidur. Tetapi dikarenakan posisinya, Siwon tidak bisa menolak permintaan mereka.

Begitu satu setengah jam berlalu, mereka diam-diam menuju kamar Jaejoong.

Yunho yang kebetulan keluar dari kamar mengerutkan kening saat melihat tiga orang yang bersikap mencurigakan itu.

"Kalian sedang apa?"

"Ssst!" Changmin menempelkan jari telunjuk di bibir, menyuruh Yunho diam.

Yunho hanya mengerutkan kening, lalu melewati mereka dan ke bawah

Mereka membuka pintu kamar. Di tengah tempat tidur besar ada Jaejoong yang sedang tidur sambil meringkuk. Ketika melihat pemandangan tersebut, ketiga orang itu sejenak terpaku. Jaejoong terlihat seperti anak kucing terluka yang telah bersusah payah mencari tempat bernaung setelah melarikan diri, dan tidur meringkuk karena khawatir akan ada bahaya lagi.

Siwon sangat tidak ingin menyentuh Jaejoong yang sedang tidur, tapi apa boleh buat. Seunghyun memberikan isyarat kemudian Siwon perlahan-lahan mendekati tempat tidur. Saat Siwon mengulurkan tangan ke arah pemuda itu…

Buk!

Jaejoong yang dikiranya sedang tidur tiba-tiba mencengkram pergelangan tangan Siwon, menariknya dan menjatuhkan pengawal itu di tempat tidur, lalu menduduki tubuhnya dan mengerahkan kepalan tangan ke leher Siwon. Semuanya terjadi dengan sangat cepat. Ketiga laki-laki itu menatap Jaejoong sambil ternganga. Mereka tidak bisa memercayai kejadian yang terjadi di depan mata mereka. Yunho yang sudah kembali, melihat kedalam kamar dan terkekeh.

"Sudah kuduga."

Ketika mendengar suara rendah Yunho, Jaejoong seakan tersadar dan menurunkan kepalan tangannya.

"Ah…" suara Jaejoong serak karena baru bangun. "Tenyata Ahjussi. Maaf."

Jaejoong segera turun dari badan Siwon. Kemudian ia menyadari Seunghyun dan Changmin juga berda di dalam kamarnya. Raut wajah kedua orang itu pucat ketakutan. Lalu dibelakang dua orang tersebut, ada Yunho yang melihat situasi tersebut dengan perasaan tertarik.

"Kenapa kalian semua ada di kamarku?"

"Oh…" Seunghyun mundur. "Tidak apa-apa, hanya…"

"Surprise!'' teriak Changmin sambil melempar kedua tangan ke atas.

Jaejoong mengerutkan kening. "Apa?"

"Hari ini kami berencana merayakan masuknya Kim Jaejoong di Sky House. Surprise! Kaget kan?"

"…Benarkah ini?" Jaejoong bertanya kepada Siwon dengan nada curiga.

Siwon berusaha tidak mendesah ketika menjawab, "Ya, benar."

Seunghyun membawa Jaejoong keluar kamar dengan was-was, Changmin segera berlari ke arah Siwon yang masih terbaring di tempat tidur.

"Hyong tidak apa-apa?"

"Ah… ya."

"Bagaimana ini? Apakah ada tempat untuk pesta?"

"Saya akan menghubungi ruang perta hotel. Tuan Muda bisa membawa Tuan Jaejoong ke sana."

"Oke. Tolong buatkan pesta ya. Aku akan menghubungi Junsu."

"Baik."

Sebenarnya hanya berniat jalan-jalan bersama ke Thailand, tapi tiba-tiba harus pesta pagi-pagi buta. Yunho yang sejak tadi memandang mereka dengan kasihan, dipaksa Changmin segera bersiap-siap untuk pesta.

"Hah… untung saja." Changmin bersungut-sungut sambil menutup pintu kamar Jaejoong. "Tapi tadi Jaejoong-ie benar-benar keren."

Bisa saja Jaejoong kebetulan menjatuhkan Siwon, tetapi gerakannya sangat cepat dan tepat. Sulit dipercaya Jaejoong baru saja bangun tidur. Apalagi tatapannya ketika duduk di atas tubuh Siwon. Sorot mata Jaejoog saat itu seperti sorot mata harimau yang siap menerkam mangsanya.

"Sangat keren."

Changmin tersenyum sambil menuruni tangga.

.

.

Ketika Junsu datang, ia langsung menarik Jaejoong ke sebuah kamar untuk didandani, dan tak lama kemudian Siwon kembali.

"Hotel sudah diurus. Menurut saya ruang pesta lebih bagus daripada ruang perjamuan makan, jadi saya memesan ruang pesta saja. Saya juga sudah memanggil koki. Apakah masih ada hal lain yang diperlukan?"

"Panggil beberapa artis juga. Kita harus mengundang beberapa orang untuk bernyanyi."

"Baik."

Sementara Siwon menelepon untuk mencarikan mereka idol, Seunghyun mulai membahas kejadian tadi.

"Yang tadi dilakukan Jaejoong… bukan kebetulan saja, kan?"

"Ya. Bukan kebetulan. Kemampuannya luar biasa, ya?"

"Ya. Aku benar-benar kaget. Keren, ya?"

"Kelihatannya Hyong tidak begitu kenal dengan pacar sendiri." Yunho yang sejak tadi diam berkomentar dengan sinis.

Seunghyun tertawa riang. "Adikku… kami mengenal satu sama lain dengan perlahan-lahan. Hanya anak kecil yang ingin tahu semuanya dari awal."

"Aaahhh…!"

Terdengar jeritan tajam dari lantai dua. Semuanya spontan terlonjak kaget. Siwon yang sedang menelepon di pojok mencengkram ponsel erat-erat sambil memandang ke lantai dua, sebelum bergegas menaiki tangga.

Changmin membuka pintu kamar Jaejoong dengan tergesa-gesa.

"Ada apa?!"

"Ha? Kenapa semuanya lari ke sini?"

Dengan bingung, Junsu berdiri di depan Jaejoong untuk menyembunyikan namja itu. Karena tinggi Junsu yang hampir menyamai Jaejoong, tidak ada yang kelihatan selain rambutnya.

"Tadi kan ada yang menjerit."

"Ya ampun… jadi karena itu semuanya berlari ke sini? Dasar bodoh. Astaga, Yunho juga ikut ikutan ke sini?"

Yunho yang berdiri di belakang bergumam dengan wajah merona, "Psikologi massa."

"Apakah ada masalah?" tanya Siwon tajam.

"Ada kok. Masalah yang saangat besar."

"Masalah apa?" Siwon maju selangkah ke depan.

Junsu tersenyum sambil bergeser sedikit ke samping, "Jaejoong sangat mempesona."

Jaejoong mengenakan kemeja berwarna hitam dengan dua kancing atasnya yang terbuka, lengan bajunya ia gulung sampai ke siku. Jangan lupa kaki jenjangnya yang dibalut celana hitam. Benar-benar mempesona.

Bagi empat namja tersebut, Jaejoong yang berdiri dengan raut wajah bingung itu terlihat seperti malaikat yang turun ke bumi.

Tidak heran. Junsu menjerit.

"Ada-ada saja." Begitu Yunho menyadari dirinya berpikir Jaejoong mempesona, ia langsung kesal. Ia melontarkan ucapan sinis itu dan langsung berbalik.

Junsu tertawa puas. "Kenapa? Saking mempesonanya kau tidak sanggup menatapnya, ya?"

Dasar cerewet! Umpat Yunho dalam hati sebelum menyahut, "Apanya yang mempesona? Bukan tipeku."

"Tapi wajahmu kok merah?"

"Karena kepanasan." Teriak Yunho, lalu turun ke lantai satu.

"Hoooo…" gumam Seunghyun. "Apakah di hati adikku akhirnya tumbuh perasaan cinta?"

"Cinta yang tak mungkin terbalas." Komentar Junsu.

"Oh, kenapa?"

"Jaejoong kan pacar hyung."

"Yah… tapi kan cinta bisa berpindah. Kalau adikku itu benar-benar mau melawanku, aku juga akan menghadapinya dengan sungguh-sungguh. Tapi yah… Tidak mungkin dia mau sungguh-sungguh melawanku."

"Sudah pasti." Changmin mengangguk.

.

.

.

Ruang pesta hotel yang mereka gunakan begitu luas sampai sebenarnya tidak cocok disebut "ruangan". Karena didekorasi untuk pesta, interiornya terlihat sedikit berlebihan. Di panggung yag menghadap pintu masuk, ada grup idol terkenal yang sering dilihat Jaejoong di TV dan mereka sedang bernyanyi.

Saat itu jam dua pagi. Awalnya Jaejoong menyangka tidak akan ada yang datang, tapi ternyata cukup banyak yang hadir. Sepertinya tamu-tamu tersebut kebanyakan murid-murid SMA TOHO karena ketika mereka melihat Jaejoong, mereka bersikap seakan kenal dengannya. Tetapi mereka hanya mengobrol sendiri. Tidak ada yang mendekati Jaejoong.

"Walaupun dini hari, banyak yang datang ya."

"Tentu saja. Kan pangeran-pangeran Grup TOHO yang mengundang." Jawab Seunghyun sedikit sinis.

Jaejoong menatap Seunghyun sambil terkekeh. "Grup TOHO benar-benar luar biasa. Kalau aku menempel terus pada hyung, tidak akan ada yang berani menggangguku kan, ya?"

"Memang siapa yang berani mengganggu pacarku?"

Seunghyun merangkul bahu Jaejoong dan bersama-sama masuk ke ruangan.

Yunho memperhatikan mereka tanpa ekspresi. Ia bahkan tidak sadar Changmin mengaitkan lengan ke lengannya. Suasana hatinya sedang tidak baik.

"Ini kan pesta yang menyenangkan. Kenapa kau memasang raut wajah yang seperti itu? Seram, tahu." Komentar changmin.

Setelah pinggangnya dicolek dari samping oleh adiknya, barulah Yunho tersadar.

"Apa-apaan!" Yunho mengernyit dan menarik lengannya yang dipeluk Changmin.

Changmin mencibir dan memasang raut wajah seperti anak anjing lucu. "Kau terang-terangan menghindari tangan hyungmu. Aku tersinggung nih."

"Tersinggung apanya? Kenapa sih kita melakukan semua ini?"

"Maksudmu kenapa kita saling mencolek disini?"

"Hyung mencoba bercanda?"

"Tidak lucu?"

"Sama sekali tidak." Balas Yunho dingin, kemudian duduk di kursi kecil di pojok.

Changmin ditinggal sendiri, tapi hanya sebentar. Karena para gadis dan namja manis langsung mengerubunginya begitu melihat namja itu sendirian. Walaupun masuk ke ruang pesta dengan dikelilingi banyak gadis, mata Changmin hanya tertuju pada Jaejoong. Jaejoong menyapukan pandangan ke sekeliling ruangan dengan ekspresi sebal sekaligus tertarik terlihat sangat lucu.

Ah... aku bersedia melakukan apa saja demi mendapatkannya. Changmin kaget, menyadari dirinya tiba-tiba memikirkan hal seperti itu. Apa sih yang kupikirkan? Jaejoong kan pacar Seunghyun hyung.

.

.

.

Bibir Ahra bergetar penuh kebencian ketika mendengar berita tentang pesta penyambutan Jaejoong di Sky House semalam. Katanya mereka menyewa ruang pesta di hotel mewah sampai mendatangkan idol segala. Sebagian besar murid kelas khusus menghadiri pesta tersebut.

Tidak mungkin. Ahra tidak mengerti kenapa mereka mengadakan pesta penyambutan. Bukankah dia masuk ke rumah itu sekadar sebagai pembantu? Kenapa semuanya bersikap baik padanya?

Gosip tentang Jaejoong menyebar dengan baik seperti yang diinginkan Ahra. Walaupun ada pembagian kelas khusus dan biasa, ada murid kelas biasa yang dekat dengan murid kelas khusus. Melalui mereka, murid kelas khusus juga pasti mendengar gosip tentang Jaejoong.

Tetapi kenapa mereka tidak menanggapinya?

Ya... sudahlah. Aku juga tidak berpikir akan terjadi sesuatu dengan hal sekecil itu.

.

.

.

"Kudengar kemarin anak-anak kelas khusus mengadakan pesta, ya?" Tanya Boa hati-hati.

Yunho sedang memandang bunga sakura yang bergoyang ditiup angin. Ia mebgangguk saat mendengar pertanyaan Boa. "Ya."

"Katanya pestanya untuk Jaejoong?"

"Ya. Betul."

"Ah. Begitu."

"Keputusannya tiba-tiba. Jadi tidak begitu banyak yang diundang."

Ucapan Yunho terdengar seperti alasan. Boa tersenyum samar, kemudian menggenggam tangan Yunho. Sampai sekarang Boa jarang memegang tangannya lebih dulu, karena itu Yunho terkejut dan menoleh kearah gadis itu.

"... kenapa?"

"Yunho, aku... sekarang aku ingin melepaskan Seunghyun oppa."

"Ah..."

Yunho tidak bisa memikirkan tanggapan yang cocok. Boa gadis rapuh yang mudah hancur. Karena itulah ia sangat berharga di mata Yunho. Entah karena alasan apa, orang yang sangat disayanginya ini tiba-tiba bilang ingin melepaskan orang yang selama ini memenuhi hatinya. Ini yang selalu ditunggu-tunggunya, ucapan yang selalu ingin didengarnya. Tapi kenapa sekarang ia tak sanggup berkata apapun?

Apa yang harus kukatakan?

"Yunho..."

"Ya..."

"Tolong... bantu aku." Dengan berurai air mata, Boa menatap Yunho. "Aku... benar-benar ingin melupakan Seunghyun oppa."

"Nuna... ingin aku melakukan apa?" Tanya Yunho dengan suara serak.

"Denganku..."

"Apa?"

"Aku ingin kau pacaran denganku, Yunho."

Ini saat yang diimpikan Yunho. Ia selalu berharap bisa berada di samping Boa sebagai pacarnya walau satu hari.

Tetapi...

Kenapa aku teringat namja itu?

Dipikiran Yunho muncul wajah mungil yang menyunggingkan senyum penuh tangisan. Dipikirannya muncul sosok yang memejamkan mata bahagia di antara burung-burung kecil. Yunho tidak bisa melihat wajah Boa dengan jelas karena saat melihat mata sedih gadis itu, yang terlihat hanyalah wajah Jaejoong.

Sesaat, Yunho tak bisa menjawab. Boa menggenggam tangan Yunho lebih erat lagi seakan tidak sabar.

"Tolong pacaran denganku Yunho-ah." Desak Boa.

"Ya..."

Sambil menelan ludah, Yunho menyingkirkan bayangan wajah Jaejoong.

"Ya."

Bayangan wajah Jaejoong muncul di pikirannya walau sebentar, itu pasti karena Jaejoong pacar Seunghyun. Pacar laki-laki yang sangat dicintai Boa, karena itu wajah Jaejoong terbayang dibenaknya. Tidak mungkin ada alasan lain.

"Gomawo, Yun."

Boa membenamkan wajah di dada Yunho sambil tersenyum sedih. Ia merangkul bahu gadis itu kaku seperti robot, kemudian memejamkan mata.

Ya... ini sudah cukup.

Meskipun sekarang hati Boa penuh dengan Seunghyun, pelan-pelan dia bisa melupakan Seunghyun dan Yunho bisa masuk ke hatinya. Benar, itu pasti bisa terjadi.

Tetapi... kenapa hatiku terasa berat?

.

.

.

.

TBC

aku tau kalian marah sama aku? Iya kan? Maaf...

Udah setaun saduran ini diabaikan dan aku tiba-tiba muncul dengan chapter baru.

Ada beberapa faktor yang membuat saduran ini tidak di update. Alasan utama sih males mengetik orz lalu novelnya sempet dipinjem terus lama banget ga dibalikin -_- abis itu liat perjalanan yang masih amat sangat panjang bikin aku males. Sudahlah abaikan.

Tapi tadi pas beres-beres rak buku, tiba-tiba liat novel ini. Jadi keinget beberapa hari lalu ada seorang author-nim yang pm tanya kapan saduran ini dilanjut. Aku agak terharu, soalnya dia salah satu author favorit. Dan aku cek review juga ada yang nyariin kelanjutannya ternyata. Dan pas liat arsip filenya di laptop, udah dapet 4 halaman ms. Word. Yasudah saya mwmutuskan untuk mwngetik.

Dengan updatenya chapeter ini, aku memutuskan untuk melanjutkan saduran ini sampai tamat. Tapi ga janji bisa update cepet ya. Jadi sekali lagi maaf ya.

begitulah. Selamat menikmati /?

Satu lagi. Hari rabu depan aku akan menghadapi ulangan semester. Mohon bantu doanya.

Find me on BBM : 7676C1AC / twitter : tymeechine