Main Cast
Jeon Won Woo
Kim Min Gyu
Hong Jisoo
Wen Junhui
Yoon Jeong Han
Genre(s)
Drama, Friendship, Romance, Hurt/Comfort
Rated
PG- 15
WARNING!
Boys Love, Gender Switch untuk beberapa cast, Typo(s), OOC, AU!
Disclaimer
Of All this, just the plot and the storyline of mine. I don't take advantage anything from this fanfiction. Criticsm and suggestion I receive, but with polite words
XX
So tell me you love me
If you don't
Then lie, oh lie to me
Jus't tell me you love © True Love - Coldplay
Hari-hari ku semakin kosong, wanita sudah tiba bisa menghiburku lagi. Aku ini kenapa?.
Ada apa denganmu Kim Mingyu?.
Apa kau menyesal?.
Seharusnya sore ini aku kencan dengan gadis tercantik di departement ku, seharusnya jiwa ku di sini. Bukan melayang entah kemana.
Aku hanya menatap es batu yang berada di dalam gelas, menanyakan apa mereka bahagia akan meleleh ditelan air?. Ditelan muatan sejenis mereka.
Mereka hanya bertransformasi dari air menjadi es batu dan akan menjadi air. Akan tetapi, air yang lainnya seolah membenci mereka dan meleburkan mereka.
"Kim Mingyu? Kau ini kenapa sih? Dari tadi hanya melihat minumanmu, kau bahkan tidak menatapku sejak datang. Kau sakit?" Eunbi menatapku dengan tatapan kesal bercampur khawatir, aku menggeleng.
Ku tarik urang-urat wajahku; tersenyum paksa.
"Tidak, makan makananmu. Tadi kau mau cerita tentang apa?" Tanyaku, ia menggembungkan pipinya.
"Tuh 'kan! Kau tidak memperhatikanku! Kau kenapa sih?"
"Aku tidak apa-apa."
"Jangan bohong! Dengar ya, walaupun kita baru jadian seminggu. Cobalah untuk terbuka, oke?" Tangannya menggapai tanganku dan mengusap punggung tanganku.
Aku mencoba tersenyum sekali lagi.
Tapi dalam diriku aku tidak bisa, bayangan Wonwoo terus menghantui ku.
"Mingyu!" Teriak Eunbi yang menyadarkan ku, aku mendongak.
"Kenapa?!"
Dia menghentakkan kakinya dan beranjak keluar, beberapa pengunjung memperhatikan kami. Aku langsung mengeluaran beberapa lembar uang dan mengejarnya.
"Eunbi!" ku tarik tangannya, dia menatapku marah.
"Ada apa?"
"Ada apa katamu? Kau akhir-akhir ini kenapa sih? Selalu saja termenung. Apa aku tidak bisa menjadi teman untuk berbagi masalah mu?"
Aku terhenyak.
"Maaf, aku memang tak mau berbagi."
"Tapi kenapa?!" Serunya kesal.
Pikiranku berkecamuk, aku menatapnya nanar,
"Apa kau akan tetap mencintaiku kalau aku bilang aku ini adalah seorang pecinta sesama jenis? Aku gay Jung Eunbi."
Dia menatapku dengan pandangan yang tak bisa ku artikan, dia terkikik dengan paksa.
"Jangan bercanda, Kim Mingyu."
Aku menggeleng cepat.
"Aku serius."
Dia mengatupkan bibirnya, kulihat matanya berair.
"Kita selesai!"
"PLAKKK!"
Sebuah tamparan mendarat di pipiku.
Cukup, cukup sampai di sini aku menyakiti orang-orang yang tak bersalah untuk mengobatiku sendiri.
Maafkan aku Jung Eunbi.
Tamparannya tidak semanykitkan kebenaran diriku kepadanya, tamparan ini tidak semenyakitkan luka yang sudah ku torehkan kepada Wonwoo juga.
Aku berjalan dengan terhuyung, setetes air jatuh.
Aku mendongak, semua terasa gelap.
Aku merasakan diriku seperti melayang.
"Mingyu-Ah!"
Apa itu suara malaikatku? Apa aku bermimpi? Atau aku sedang melewati dunia lain?.
Air hujan yang semakin banyak, membasahi tubuhku. Ku buka mataku perlahan, aku tersenyum melihat Wonwoo di sini.
"Woonwoo hyung…antarkan aku pulang." Kataku lemah.
Kau memang malaikat ku, kau selalu ada untuku, kau selalu berada di sampingku. Maafkan aku, maafkan aku Jeon Wonwoo.
Ia merangkulku, tubuhku terasa sangat lemas tak bertenaga. Aku mencoba tegap, karena aku tahu Wonwoo kewalahan, namun tubuhku seperti tak terasupkan gizi.
"Tidak mau kerumah sakit saja?" Tawarnya, aku menggeleng.
"Aku hanya ingin keapartement ku bersamamu hyung."
Ya, aku tidak butuh dokter, aku hanya membutuhkan mu.
Aku hanya membutuhkan malaikatku.
Hanya dirimu.
Setelah sampai di apartement aku mencoba untuk menyadarkan diri, aku tidak selemas beberapa menit lalu.
"Ganti baju mu dulu oke?" Suruhnya.
Aku mengangguk dan beringsut kekamar mandi dengan terhuyung. Menatap pantulan diriku di cermin.
Kim Mingyu, apa kau senang?.
Atau kau ingin berlari lagi?.
Tak lama Aku keluar hanya mengenakan celana ¾ dengan kaos polos putih agak besar dengan bahan yang lemas, sangat nyaman dipakai.
"Kau juga hyung, pakaian mu basah kuyup juga." Ucapku, lalu aku mengambil baju dan celana untuk salinannya.
Aku menuju kamar, terduduk dan termenung.
Aku masih tidak mengerti diriku sendiri, kenapa diri sendiri sulit dimengerti?.
Wonwoo masuk dan langsung duduk bersila, mengambil robot-robotan yang berserakan dan memainkannya dalam diam. Kami begitu sampai lima menit ke depan seolah terasa lima puluh menit dan waktu berjalan bagaikan siput.
Aku berdeham, membuka pembicaraan.
"Hyung?"
Wonwoo hanya melirik tanpa manjawab, Aku berhenti sebentar, memikirkan apa seharusnya dia meminta maaf atau tidak?.
Sebagian pikiranku berkata.
'Wonwoo juga tidak minta maaf saat mencium kau saat tidur gyu!. Jadi, tidak usah minta maaf!'
Tapi sebagian yang lain berbisik,
'Itu berbeda tapi, kau melakukannya paksa dan itu sangat tidak sopan Kim!'
'Sama saja bodoh! Wonwoo juga memaksa melakukannya, dia mencuri!'
Kepalaku terasa pening dan refleks berseru.
"DIAM!"
Wonwoo menoleh heran.
"Kau kenapa gyu?"
Aku menggelengkan kepala dan menggaruk rambutku.
"Anu hyungg, itu—soal yang kemarin, maafkan aku." Ucapku dengan nada penyesalan.
Wonwoo terdiam, aku merasakan jatung berdetak cukup cepat. Takut akan jawaban Wonwoo.
"Hyung?" Ku panggil sekali lagi, lalu kemudian Wonwoo menggerakan kepalanya ke atas ke bawah. Aku bernapas lega, rasanya ingin melompat ke sebelah dirinya dan memeluk Wonwoo, tapi aku tahu itu tidak akan ku lakukan.
Aku tersenyum kecil, Wonwoo lalu mendekat, aku mengeryit. Tak mungkinkan Wonwoo mau memelukku, kan?.
"Kau demam Gyu." Katanya saat menaruh punggung tangannya di keningku. Dan benar saja, aku langsung bersin.
Jeon beranjak keluar kamar dan tak lama kembali dengan baskom kecil berisi air.
"Berbaringlah." Perintahnya, aku sedikit parno. Takut Wonwoo menciumku lagi. Tetapi, bukahkan kau menginginkannya Gyu?. Entahlah, aku juga bingung, tapi aku sadar bahkan apa yang aku lakukan kepadanya jauh lebih tidak beradab.
Dan aku berbaring mengikuti perintahnya.
Wonwoo memeras kain dan menaruhnya di keningku. Kami terdiam, aku bingung dengan apa yang aku inginkan sendiri, kenapa aku begini?.
Apa benar selama ini, aku masih menyukai Wonwoo?.
Apa benar perasaan itu bahkan tak hilang semili pun?.
"Ming…boleh aku bertanya sesuatu?" Suaranya membuatku tersadar, aku melirik dan menaikan alis.
"Tentu boleh hyung, tanyakan saja."
Ia menggigit bibirnya.
"Kau datang saat aku mabuk waktu itu dan menggendong ku di punggungmu?"
Kami beradu pandang, Aku mengangguk perlahan dan kembali menatap langit-langit.
Wonwoo menganti lagi kain dikeningku.
"Kau mendengar aku merancau dan apa yang aku rancaukan?"
Aku terdiam, lalu tertawa pelan.
"Kau hanya berbicara soal anjing paman Gong yang selalu mengejar mu kesekolah! Hahahah!" Aku berbohong.
Wonwoo menatapku kesal.
"Masa aku merancau begitu?" dia tak percaya, Aku mengeryap.
"Wajah mu sangat lucu dan itu kenyataan." Aku mencoba untuk terkikik geli se-natural mungkin.
Aku sendiri tidak tahu mengapa aku harus berbohong barusan, Apa susahnya mengatakan,
'Ya aku mendengar semua rancau-an mu sampai aku tidak bisa tidur karena menerka-nerka sebuah fakta yang ada dibaliknya?'
Tapi, aku tidak dapat mengeluarkan satu patah katapun, aku hanya menguburnya lagi-lagi jauh kedalam pikiran serta hatiku.
Aku menutup mataku, menghilangkan rasa sedih yang terus mengukungku.
Mengusir rasa bersalah yang terus menyergapnya.
Aku membuka mataku, kulirik Wonwoo dengan kepala terjatuh di atas tangannya yang bekerja sebagai bantal.
Perlahan tangan ku mendekati permukaan wajahnya, ada hawa panas disekitarnya. Aku menautkan alisku, dan buru-buru menempelkan punggung tanganku di kening Wonwoo.
Astaga! Si bodoh ini! Aku berdiri, mengangkat tubuh Wonwoo yang jauh lebih enteng dari sebelumnya.
Apa dia tidak makan ya? Rasanya badannya jadi lebih ringan?.
Ku pegang sekali lagi keningnya, bahkan suhunya lebih panas dari punyaku, kau memang terlahir sebagai malaikat hyung.
Ku selimuti tubuhnya, dan aku gantian mengompres dirinya.
Pergerakan tanganku berhenti, dan aku mengamatinya lamat-lamat, wajahnya yang terkulai lemas sambil tertidur itu. Jantungku bergerak lebih cepat.
"Panas sekali kamar ini!" Ujarku dan segera beranjak keluar kamar.
-0-
Aku duduk-duduk di kantin, tak ada jam dan tidak ada dosen, mengapa aku datang ke kampus? Aku juga tidak tahu, aku hanya mengikuti kata hatiku untuk kemari.
Ku lihat satu persatu orang-orang yang berlalu lalang, tak ada yang menarik lagi. Ku sedot perlahan jus jambuku ketika seorang gadis cantik datang menghampiri dan terduduk dihadapanku sembari menatap ku dengan pandangan yang aku tidak mengerti apa maksudnya.
Dia mengibaskan rambutnya.
"Ada apa?" Tanyaku.
Ku lihat dia menghembuskan napas perlahan.
"Kau serius dengan ucapan terakhirmu?"
Aku menatapnya.
"Apa aku terlihat tidak serius?"
Eunbi menelisik kearah bola mataku. Gadis manis itu terdiam. Lalu ia tersenyum kepadaku selang sedetik.
"Siapa orang beruntung itu?" Tanggapannya diluar dugaanku.
Aku mengerjap. "
"Kau sedang bertanya padaku?" Ku tunjuk diriku sendiri.
Eunbi menganggukan kepalanya. Dia memutar bola matanya malas.
"Apa aku terlihat sedang menunjuk orang dibelakangmu?"
Aku menoleh; memastikan keadaaan.
"Jangan bicara disini, ayo sambil berjalan."
Aku dan Eunbi berjalan di sekitar taman milik departement kehutanan. Pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi membuat cuaca menjadi lebih sejuk.
Bingung harus memulainya dari mana, aku akhirnya bertanya tentang perasaan Eunbi sendiri kepadaku.
"Kau tidak merasa aneh kepadaku? Tidak jijik denganku?"
Eunbi menghentikan langkahnya, memandangku, ia menggeleng perlahan.
"Tidak, aku tahu cinta tidak bisa dipaksakan dan cinta tidak bisa memilih."
Aku tersanjung dengan jawaban cerdasnya.
"Jadi, siapa orang beruntung itu Kim Mingyu?"
"Aku akan menjaga rahasiamu, bahkan membantumu kalau aku bisa."
"Sungguh?"
Dia tersenyum sambil mengangguk mantap.
"Jeon Wonwoo dari departement Hubungan Intenational."
Eunbi mengerjap.
"Ah~! Aku tahu, dia kalau tidak salah akrab dengan Hong Jisoo sunbaenim 'kan? Aku kebetulan satu UKM dengannya."
"Ya, mereka satu apartement soalnya."
"Beruntung sekali Jeon Wonwoo. Aku iri jadinya." Katanya dan ia menggembungkan pipinya. Aku mengusak rambutnya.
"Yang jadi pasanganmu kelak akan lebih beruntung."
"I hope so, Gyu-Ah!"
Kami saling bertukar senyum, lega rasanya ada seseorang yang ku beritahukan tentang perasaan ini. Dan orang yang kuberitahu 'kan pertama kali adalah mantan kekasihku sendiri.
"Ajak dia makan, atau something else! C'mon! Gerak cepat Kim!" Serunya bersemangat, Eunbi mendorong-dorong bahuku.
Aku terkekeh melihat kelakuannya.
"Iya-iya." Ku keluarkan ponsel dan langsung menuliskan pesan singkat.
"Eh, Tapi makan apa?"
"Ew! Kenapa kau jadi idiot?" Ejeknya.
"Hmm! Crepes? Kudengar ada kedai crepes yang enak dan ramai di dekat stasiun dan itu baru."
Aku berpikir, tapi tiba-tiba Eunbi menyabotase android ku.
"Yak! Mau apa kau?!"
Dia menjulurkan lidahnya, dan mengetikan sesuatu di sana.
Aku membacanya.
"Janga— aih aku tidak se-cheesy itu yak." Protesku, dia hanya tertawa melihat ekspresiku.
To; Jeon Won Woo
Wonwoo hyung! Jadwal mu sudah kelar belum? Kau tau stand crepes yang baru buka dekat stasiun? Sedang ada potongan harga, ayo kesana bersamaku. Aku yang bayar!
Dia menarik telapak tanganku dan menaruh ponselku sendiri di dalam genggaman.
"Aku mendukungmu, jangan menyerah. Kapanpun kau butuh tempat untuk bercerita, datang saja kepadaku."
Aku tersenyum, kami kembali berjalan. Menceritakan film-film kesukaan kami. Ya, benar kata Eunbi, aku tidak boleh menyerah.
Sudah ku putuskan untuk berhenti berlari.
Aku akan mengikutinya, aku akan memenuhi mu wahai hati.
.
.
.
Satu harapanku pupus, aku tidak tahu benar apa hubungan Wonwoo dengan Jisoo sebenarnya. Yang aku tahu kini adalah, Wonwoo lebih memilih Jisoo, dan aku cemburu, aku kesal.
Eunbi kembali ke kelas karena ia masih memiliki jadwal, dan aku memutuskan untuk pulang. Tapi obsidianku menangkap tiga orang yang sedang berjalan menuju restoran.
Aku buru-buru menelepon Soonyoung.
"Kwon! Kau di mana? Aku sedang di depan kampus. Mau makan siang? Gratis? Bersama Jihoon?."
Dan dengan rangkaian kalimat tadi, Soonyoung di seberang sana langsung menyetujuinya.
"Aku akan melesat seperti kecepatan angin!"
Aku menyeringai memutuskan panggilan.
Tak butuh waktu lama, aku dan Soonyoung sudah di dalam restoran Thailand. Aku sudah mengatakan kepada Soonyoung untuk berpura-pura bertemu mereka, aku tidak mengatakan alasan sebenarnya adalah, mengacaukan makan siang mereka.
Aku tidak rela Wonwoo hanya berdua dengan Jisoo, bertiga sebenarnya.
Aku pergi ke kamar mandi dahulu, membuang urine tidak berguna dan me-relaks-kan diriku sendiri.
"Oke, Kim Mingyu. Perjalanan cinta pertama mu dimulai sekarang. Kau tampan, kau akan mendapatkanya." Rapalku dengan percaya diri.
Kakiku melangkah keluar, berpura-pura mencari Soonyoung.
"Nah itu dia! Oi Kim!" Panggil Soonyoung, mengibaskan tangannya memanggilku.
Senyumanku mengembang. Aku menghampiri mereka dan langsung duduk di sebelah Wonwoo. Aroma parfumenya menyambutku, dia masih memakai parfume yang sama selama bertahun-tahun.
"Jadi ada acara apa? Oh ya kupon." Ku lirik Jisoo, Jisoo sepertinya agak kaget karena mengetahui hal ini.
Kemudian Wonwoo menyegir, astaga kenapa dia harus melakukan hal itu.
Tapi, aku senang. Rencana ku berhasil.
.
.
Seperti janjinya di pesan, aku menagih kepada Wonwoo.
"Apa?" Jengit Wonwoo melepaskan genggaman ku dilengannya.
"Katanya kau mau menemaniku, setelah makan dengan Jisoo hyung."
"T-tapi—"
"Aku tidak mau mendengar penolakan."
"Wonwoo, ayo pulang." Jisoo memandangi kami, kemudian Wonwoo menunjukku.
"Aku mau ditratktir crepes oleh Mingyu hyung."
Jisoo berjalan kearah kami, dia melirik ku sesaat.
"Apa aku boleh ikut?" Itu Jisoo, Aku menoleh dan memandangi kakak tingkatku itu.
"Tapi aku tidak ingin mentraktir mu." Ucapku dengan sinis.
"Tidak perlu, aku hanya ingin ikut." Ujarnya dan aku setuju.
Kami bertiga berjalan beriringan. Tidak ada yang berbicara sepatah katapun, aku hanya memandang jalan lurus ke depan tanpa menoleh ataupun melirik Wonwoo.
Aku berusaha senormal mungkin.
"Kenapa tiba-tiba ingin mentraktir?"
Ekor mataku melirik Wonwoo, aku mengangkat bahu, menjawabnya dengan nada tidak acuh sebisaku.
"Karena aku tahu kau suka yang gratis hyung."
Wonwoo sepertinya kesal dengan jawaban ku, akupun tersenyum kecil.
"Ku dengar kau ingin membuat konser amal dan festival hyung." Tanyaku.
Jisoo mendelik dan mengangguk pelan.
"Yeah, benar seperti apa yang kau dengar."
"Apa boleh aku ikut berpartisipasi?"
"Kurasa semua bagian sudah penuh, biar nanti ku check lagi."
LMFAO! Rasanya aku ingin tertawa hebat, Jisoo seperti balas dendam padaku seperti perkataan ku tadi. Rasanya aku bisa menebak hubungan antara Jisoo dan Wonwoo
Tak perlu berjalan jauh, kami sudah sampai, dan seperti yang Eunbi katakan, stand itu ramai. Terlampau ramai.
"Woah ramai sekali."
"Kau ingin apa hyung? Biar aku yang memesan, kau tunggu saja disini."
Mata Wonwoo membulat, lucu sekali. "Sungguh?"
Aku mengangguk, Wonwoo nampak berpikir, "Beef black papper!" ucapnya seraya tersenyum.
"Sip, tunggu!" aAku pergi dan berusaha mengambil celah diantara kerumunan yang ada. Ide Eunbi cukup gila, potongan harga sih potongan harga tapi kalau ramai begini, ribet juga.
Aku menyelak, tak peduli dengan tatapan mengerikan para pembeli yang lain.
"Beef black papper satu dan Spicy tuna nya satu."
Dengan segera aku mendapatkannya. Aku setengah berlari kearah Wonwoo yang sepertinya sedang melamun.
"Hyung?"
Aku menggantungkan crepes yang ia mau di hadapanya, binar mata Wonwoo langsung berkilat senang, dan hatiku langsung menghangat melihat senyumannya.
Aku duduk di sebelahnya, memakan perlahan crepes milikku.
"Kau beli yang apa?"
"Spicy Tuna."
Wonwoo mengangguk-angguk, kulirik ia megap-megap karena kepanasan, aku bahagia sekarang. Melepaskan perasaan cintaku pada Wonwoo bebas dihati sungguh hal yang paling baik. Aku tidak perlu mengumpat, aku tidak perlu mensuggesti diri sendiri.
Aku terkikik geli melihat ekspresi bodoh Wonwoo.
"Pelan-pelan hyung!" Seruku.
Mataku terus mengawasi Wonwoo yang sedang sibuk memakan makanannya, hyung kau tahu? Aku sekarang sadar betul kalau aku menyukaimu.
Aku sudah berhenti berlari, maukah kau menyambutku?.
"Uhuk!" Wonwoo terbatuk, aku ingin mengusap punggungnya. Namun, Jisoo langsung menyodorkan minuman kepadanya, aku tak berkomentar, hanya melirik mereka.
Wonwoo mengibaskan tangannya di depan wajahnya.
"Astaga Woo, pelan-pelan makanya." Jisoo mengusap punggung Wonwoo dan menyarankannya minum sekali lagi.
Di saat seperti itu, ada segerombol anak sekolah, semuanya gadis, melintasi kami bertiga. Mereka berbisik-bisik dan tertawa. Aku menengadah, menatapi mereka.
"Omo! Ada yang dating bertiga!" Siul salah satu dari mereka. Aku berjengit lalu berdiri.
"Yak! Jaga omongan kalian bocah!"
Dan mereka berlari, masih dengan siulan nya.
"Saraghae oppa!"
Dan tawa mereka pecah.
Aku kembali duduk.
Dating bertiga? Ekor mata ku memperhatikan Jisoo. Aku melihat cara dia memandangi Wonwoo. Dan aku tahu, aku mempunyai saingan.
"Jangan dengarkan mereka hyung." Ucapku, dan aku kembali memakan crepes spicy tunaku dalam diam.
Dering ponsel memekik, nama Eunbi terpampang di smartphone-ku. Aku berdiri menjauhi Jisoo dan Wonwoo.
"Ada apa Eunbi-ya?"
"Kau harus mengetahui sesuatu kurasa!"
"Apa?"
"Penting! Temui aku di taman kota seberang perpustakaan."
Saluran telepon terputus, aku kembali menghampiri Wonwoo.
"Sepertinya aku harus pulang duluan." Ujarku, Wonwoo mengangguk.
"Yasudah, ada Jisoo hyung bersamaku."
Bersamamu? Seharusnya kau bersamaku.
Aku menghembuskan nafas kasar, bola mataku melirik Jisoo yang juga menatapku.
"Baiklah, aku pergi dulu." Ucapku dan setengah berlari kearah stasiun.
-0-
Jisoo akhirnya menghubungiku untuk berpartisipasi dalam konser amal dan festival water gun. Aku datang amat pagi, seperti yang sudah diperintahkan. Aku bersiul, obsidianku menatap mobil hitam yang baru saja di tinggalkan pemiliknya.
Dan aku menebak kalau di dalamnya, Wonwoo sedang menunggu lelaki tadi. Kulangkahkan kakiku ke sana, menempelkan wajahku ke jendela mobil chvreolet hitam itu.
Perkiraan ku benar, aku tersenyum bangga dengan intuisi yang ku miliki. Ku ketuk jendela itu.
Aku menyengir lebar saat Wonwoo menurukan kaca mobilnya.
"Sedang apa kau gyu?" Tanyanya amat datar.
"Kau sendiri sedang apa Woo di dalam mobil Jisoo hyung?" Alih-alih menjawab, Aku malah bertanya balik, tanganku meraih kantong kresek di dashboard dan mengambil sebungkus roti.
"Kau lihat aku sedang apa?" Wonwoo membalasku dengan pertanyaan retorik, aku hanya membalasnya dengan tersenyum dan mengunyah roti isi keju.
"Sekarang ku tanya, kau sendiri sedang apa di sini?" Tanyanya lagi dengan selipan nada penasaran.
Aku tak membalas, lalu memperlihatkan seragam panitia yang kukenakan. Aku menaik-naikan kedua alisku.
Wonwoo berdecak.
"Jadi bagian apa kau?"
"Promosi, kata Jisoo hyung wajahku bernilai tinggi."
Wonwoo memutar bola matanya, malas. Tapi, entah mengapa bagiku itu malah hal yang lucu.
Apa susahnya mengakui kalau aku tampan?. Astaga.
"Kim Mingyu! Sedang apa kau di sana? Kau tidak lihat kita sedang sibuk?" Teriak Yoom Haein, senior yang bawel! Ck!
Namun, karena mood kusedang baik, aku hanya menyengir, dan kembali berseru.
"Siap, aku ke sana!"
Mataku menatap Wonwoo.
"Aku pergi dulu." Akuu sempat mengacak surai Wonwoo sebelum berlari.
Aku mendapati dadaku seperti tersisi kapas-kapas yang berterbangan, aku merasa sangat bahagia bahkan hari-hari sepertinya akan lebih indah.
.
.
.
Suasana bergulir ke malam hari. Aku mendapatkan kehormatan untuk mengisi acara bersama Hansol, melakukan rap-ing. Dan menurut Hansol aku belajar lebih cepat sehingga kemampuanku meningkat drastis.
Aku tampil dengan percaya diri, apa lagi mengetahui kalau Wonwoo ada diantara ratusan orang di bawah sana. Dan kami sukses dengan kaloborasi yang katanya menakjubkan.
Aku hanya tersenyum, lalu turun dari panggung dan berjalan kearah penonton. Berusaha menemukan Wonwoo, tapi yang aku dapati adalah dia sedang bersama Jisoo mengantri. Kalau begini terus aku bisa kalah dengannya.
Dasar ceking!.
Aku beputar arah, menemui Minhyun yang sedang sendiri.
"Tidak mengantri sunbaenim?"
Lelaki bersurai blonde itu menggeleng.
"Kenapa?" Tanyaku.
"Aku tidak membawa baju ganti."
"Pakai rain coat saja, sepertinya hanya segelintir orang yang memakai. Jadi masih banyak tersedia." Saranku, dia menggeleng lagi.
Aku mengangguk, tersenyum memaklumi.
Kami berdiri bersebelahan, memandagi orang-orang yang sedang melakukan flashmob. Bola mata ku melirik, Minhyun tengah tenggelam dalam lamunannya memandangi sepasang manusia.
Aku ikut terarah ke tujuan pandangannya, dan aku tahu, kami sama-sama sedang menahan rasa kehilangan.
Festival dimulai dengan meriah, aku mengarahkan Storm water gun-ku secara random, meninggalkan Minhyun yang masih ingin berdiri di titik itu.
Aku berjalan menembus kerumunan, menembaki siapapun yang aku ingin tembak. Dan malam itu secara tidak langsung aku bermain dengan teman-temanku kembali.
Rasa bahagia memenuhi perasaan ku, tak ingin hari ini cepat-cepat berakhir.
Di tengah berjalannya festival, Wonwoo menghilang dari pandanganku. Aku mencari-cari dan menemukannya di tarik Jisoo ke persimpangan jalan.
Aku mengikutinya, dan di saat itu pula aku merasa menyesal.
Perasaan kebahagianku berganti dengan cepat, perjuanganku akan segera di mulai sepertinya.
-0-
Hari ini aku pergi ke kampus dengan paksaan aneh. Di perjalanan aku bertegur sapa dengan Wonwoo dan Jisoo yang berangkat bersama.
Aku tak bisa fokus karena hal itu. Namun, aku harus menyingkirkanya. Aku harus menemukan sesuatu yang solid untuk meyakinkan diriku sendiri.
Maka aku memutuskan untuk bertemu dengan Junhui, aku tidak tahu apa yang aku lakukan tapi satu yang aku tahu, Junhui pasti mengetahui perkara ini dan hanya ia yang dapat aku tanyakan. Sekaligus aku ingin meminta maaf kepadanya.
Bermusuhan, bertengkar padahal aku sama dengannya.
Bodoh, aku mengakui itu.
Junhui datang dan aku terus menyusun apa yang harus kukatakan nanti. Tapi, aku sama sekali tidak bisa berpikir, seolah otak ku tumpul.
Suasana hening melanda saat ia datang, tak ada yang memulai pembicaraan selama beberapa saat. Aku berusaha menenangkan diri.
Kuhembuskan nafas perlahan.
"Apa kabar bro?"
Junhui terkekeh.
"Apa-apaan itu?" Ujarnya
"Ada yang salah?" Satu alis ku sedikit naik.
"Ya.. lihat aku baik, kau sendiri. Basa-basinya sampah sekali, Gyu?" Ejek Junhui.
Aku mengumpat di dalam hati. Sialan anak ini.
Aku mengulum senyum, sadar akan Junhui yang dengan mudah mencairkan suasana.
"Ya aku juga baik."
Pembicaraan kami jauh lebih lancar dari yang aku harapkan. Semuanya, seolah kami tak pernah jauh, seolah tak ada masalah di antara aku dan dia. Aku merindukan Junhui.
Aku membahas apapun yang dapat dibahas, soal film, musik kesukaan mereka, wanita-wanitaku.
Dan aku bercerita bahwa tiga minggu belakangan aku sama sekali tidak kencan dengan wanita manapun, pengakuan tersebut membuat Junhui heran sepertinya.
"Kau serius?"
Aku mengangguk mantap.
"Apa yang terjadi dengan mu?" Tanya Junhui penasaran,
Ku angkat pundakku seraya berujar.
"Entahlah, aku sedang malas. Dan ya, bagaimana kabar hubungan mu? Baik baik saja?"
Dan sepertinya, Junhui lebih kaget soal ini.
"B-baik –baik saja." Jawabnya gugup.
Aku tahu, kini banyak tanda tanya muncul di pikirannya. Aku merangkul pundak sahabatku yang satu itu.
"Kau benar, aku saja yang pikirannya tak terbuka."
Junhui melepaskan rangkulanku cepat, menatapku tak percaya.
"Apa?!" Sungutku di tatapi heran begitu olehnya.
"Kau sedang tidak sakit 'kan?"
"Aku sadar mengucapkan barusan, jangan membuat aku menariknya." Ancamku, dan ia buru-buru merubah ekspresinya.
Junhui bersandar, menatap sekumpulan awan. Hembusan angin membuat udara lebih sejuk.
"Apa yang membuat mu begitu?"
Aku ikut bersandar.
"Hanya mengikuti kata hatiku."
Junhui berdecih.
"Ada yang aneh dengan dirimu."
"Aku tidak aneh." Sahutku cepat.
Kenapa intuisi Junhui itu selalu tepat?.
Obsidianku memandangi sesuatu di seberang sana.
Jisoo dan Wonwoo sedang berjalan, bersama. Bertukar tawa. Mereka terlihat bahagia, dan Sumpah! Aku tidak pernah lihat senyuman Wonwoo selebar itu rasanya.
Apa kau merasa bahagia dengannya?
Apa kau tahu, aku di sini memiliki rasa denganmu.
"Wonwoo itu gay 'kan?" Ucapku tanpa mengalihkan pandangan.
"Tau dari mana kau?"
Junhui terdengar sedikit kaget. Apa aku se-homophobic itu bagi mereka?.
"Aku tahu, aku melihatnya bersama dengan Jisoo hyung beberapa kali. Saling berpelukan, dan…berciuman."
Junhui terbatuk, Aku menengok.
"Kau kenapa? Kaget?"
"Kau tidak marah Ming?" Tanya Junhui to the point, menatapku.
"Kan sudah ku bilang, pikiran ku sudah terbuka." Jawabku, kemudian kembali memperhatikan Jisoo dan Wonwoo.
"Kau sudah tahu? Kalau mereka pacaran?"
Aku seperti kehilangan arah seketika, lalu menengok kearah Junhui.
"Mereka…..pacaran?" Ucapku berbisik.
Junhui mengangguk.
Apakah aku sudah lelah berlari?
Apa aku sadar disaat terlambat?
Ya kedua nya benar, aku sudah lelah berlari dan aku sadar di saat terlambat. Baru kurasakan sakit seperti ini, seseorang bangun tak jauh dari tempatku terduduk.
Aku menoleh, dan aku tahu siapa itu.
Hwang Minhyun, mantan kekasih Jisoo.
Tanpa berpikir panjang aku berdiri, setengah berlari kearah Minhyun. Tak peduli suara Junhui yang meneriaki namaku.
Aku terus mengejarnya. Namun, Minhyun dengan cepat masuk ke dalam mobilnya dan mengemudi dengan kencang.
Seketika aku merasa pusing, apa ini?. Aku berbalik, berjalan menunduk menuju motorku. Rasa sesak, kesal, marah, kecewa memenuhi dadaku. Sampai rasanya tenggorokkan terasa kencang, banyak kata-kata yang ingin aku muntahkan.
Ku kendarai motor dengan kecepatan tinggi. Di balik helm, ku tanggalkan semua pesonaku. Semua yang mengatakan aku tampan, pintar, beruntung, sempurna.
Sekarang keinginanku hanya satu, Wonwoo jadi milikku.
Dan aku tahu, aku sudah tersesat sendirian dalam perasaan ku.
"Jeon Wonwoo."
Dan air mata pun terjatuh.
Aku adalah Kim Mingyu, seorang pencudang, seorang pembohong yang baru menyadari betapa cintanya diriku pada seorang Jeon Wonwoo.
I believe that God created you for me to love, He picked you out from all the rest cause He knew I'd love you the best!.
-To Be Continued-
