Beberapa hari berlalu. Rose, Scorpius, Albus dan Miracle sudah selesai mengamati tanaman Urga Urgii. Tanaman itupun telah kehilangan efek bubuk lomparnya sehingga telah kembali ke wujud asal di hari terakhir pengamatan. Sekarang, mereka akan mengamati tanaman kedua. Tanaman bloomhorn.
"Blossom, aku bosan," ujar Scorpius di tepi danau sambil memainkan rumput apapun yang dapat dijangkaunya. Mereka berempat memang sedang duduk di tepi danau hitam atas perintah Rose.
"Sabar, Malfoy. Kalau kita tidak datang lebih awal, kelompok lain akan datang dan mengambil tempat ini duluan. Jadi, kita harus duluan," ujar Rose.
"Tapi Rose, ini masih jam 2 siang!" ujar Scorpius tak sabaran. Rose tidak menggubris sedikitpun.
Rose tidak tahu bahwa kehadiran mereka lebih awal hanya akan mendatangkan kesialan lainnya.
Ambition
By : LumosAsphodel31
Disclaimer : J. K. Rowling
"Aku benci air," tukas Miracle datar.
"Bukankah ini elemenmu sebagai anak Slytherin?" sindir Al.
"Dia tidak bisa berenang, makanya dia benci air," ujar Scorpius menerangkan.
"Kau tahu banyak tentangnya, kau pacarnya?" tanya Al jengkel.
"Kami berteman sejak kecil. Dan bukan hanya dengannya. Dengan Vincent, Jeremy, dan Jane juga," jawab Scorpius santai.
Keheningan segera menyeruak meliputi mereka lagi.
"Aku bosan, blossom," ujar Scorpius dengan nada agak merengek.
"Berhenti memanggilku blossom," ujar Rose ketus.
"Tidak akan," ujar Scorpius tak gentar. Rose hanya memutar bola matanya sebagai respon.
"Apa yang akan kita lakukan selama 2 jam ini?" tanya Al yang juga bosan.
"Menunggu, tentu saja," jawab Rose pasti, tanpa rasa berdosa. Al hanya menghela nafas pelan.
"Atau kau sengaja ingin berlama-lama denganku ya blossom," goda Scorpius. Rose mendengus kesal.
"Apa alasanku belum jelas?! Aku ke sini karena tanaman bloomhorn hanya tumbuh di beberapa bagian tepi danau hitam! Kita harus mengambil tempat ini duluan sebelum kelompok lain mengambilnya!" ledak Rose. Scorpius hanya menghela nafasnya lalu memilih bungkam.
Keheningan tercipta lagi di antara mereka. Rose memilih membaca buku Herbologi yang dibawanya untuk mengisi waktu, Scorpius bersandar di batang pohon terdekat sambil mencabuti rumput-rumput di sekitarnya, Al duduk menghadap danau dan memandangi airnya, Miracle bersandar di batang pohon yang berbeda dengan Scorpius lalu duduk menatap langit.
Tak terasa mereka sanggup bertahan dalam kesunyian itu sampai 15 menit sebelum jam 4 sore tiba. Mereka tersadar dari kegiatan masing-masing saat anak-anak kelompok lain mulai mendatangi tempat mereka menunggu.
"Um, banyak juga yang pilih minggu ini," komen Al.
Rose, Scorpius, Al dan Miracle pun segera berdiri merapat seakan membentuk pagar yang tidak boleh dilintasi orang lain. Pokoknya mereka harus dapat tempat VIP untuk melakukan penelitian ini.
Anak-anak kelompok lain tampak sudah melihat mereka dan akhirnya memilih berdiri di belakang mereka, dalam bentuk yang terlihat seperti sekerumunan semut. Mata mereka memandang ke permukaan air danau hitam yang belum menunjukan tanda-tanda pergerakan.
Blup blup blup blup.
Bunyi permukaan danau yang tiba-tiba mulai meletup-letup seakan menandakan ada sesuatu yang akan keluar dari bawah air.
Dan memang ada.
"Tanaman bloomhornnya akan muncul!" ujar salah seorang dari antara kerumunan itu. Kerumunan yang tadinya tenang mendadak berdesak-desakan seperti sedang merebutkan sembako gratis.
"Minggir-minggir!"
"Bagi-bagi dong tempatnya!"
"Awas!"
"Aku harus meneliti dengan jarak terdekat!"
"Jangan dorong-dorong, dong!" ujar Rose kesal. Karena kelompoknya paling depan, akibatnya merekalah yang paling terdorong kerumunan di belakangnya.
Anak-anak lain tidak peduli, mereka hanya peduli dengan berhasilnya penelitian kelompok mereka. Mereka malah semakin asyik mendorong satu sama lain demi mendapat tempat penilitian terstrategis.
"Hey!" bentak Rose kesal. Dorongan di belakang semakin menjadi-jadi. Scorpius, Al dan Miracle juga tampak kesusahan mempertahankan posisi berdiri mereka.
Dan hal yang tidak diinginkan pun terjadi.
Byarr!
Rose, Scorpius, Albus dan Miracle tercebur ke danau hitam.
Bersamaan dengan tanaman bloomhorn yang mulai merambah naik ke permukaan.
…
"Selesai untuk hari ini," ujar Rose lega.
Mereka berempat sudah kembali duduk ke tepi danau, kering dari kepala sampai kaki. Terima kasih kepada otak Rose Weasley yang mengingat banyak mantra-mantra berguna.
Maksudnya, mereka sudah dikeringkan oleh mantra dari Rose.
Setelah tercebur, mereka berempat memang langsung berusaha naik lagi ke daratan dengan susah payah karena beratnya jubah mereka yang basah. Al yang paling kasihan karena dia yang paling dekat dengan Miracle jadi dia yang harus membantu Miracle naik ke permukaan. Anak-anak yang tadi dorong-dorongan segera mundur ke belakang membiarkan 4 orang yang tercebur tadi mendapatkan tempat duduk terdepan dalam penelitian hari ini. Sebagian malah ada yang kabur.
"Untung perkamen laporan dan alat tulis kita masih bisa diselamatkan," ujar Al. Mereka akan segera kembali ke kastil untuk membersihkan diri. Ya, mereka memang sudah dikeringkan oleh mantra Rose, tetapi tetap saja pasti kotoran dari danau hitamnya masih ada.
"Blossom, kau melupakan bungamu," sahut Scorpius kepada Rose yang sudah jalan sambil memegang beberapa tangkai bunga yang tadi ia petik saat tercebur di danau. Yap, bunga bloomhorn.
"Lupakan saja," ujar Rose seraya memutar bola matanya jengkel. Ia berjalan cepat-cepat ke kastil bersama Al, meninggalkan Scorpius dan Miracle di belakang mereka.
"Ayahmu tidak akan senang melihat perlakuanmu pada Rose Weasley," ujar Miracle nyaris datar sambil berjalan bersama Scorpius kembali ke kastil, mengekor Al dan Rose.
"Oh, dia akan senang. Dengan cara yang tidak kau mengerti, Miracle," ujar Scorpius lalu mulai memasang seringai khas di wajah tampannya. Miracle diam saja, lebih ke arah tidak begitu peduli.
Dia akan senang dengan hasilnya.
…
"-dan kami tercebur begitu saja ke danau hitam karena segerombolan anak-anak itu! Hari yang sial," cerita Rose pada Lily saat makan malam. Lily hanya tertawa, tapi tidak terbahak-bahak.
"Untung saja kalian tidak tenggelam," komen Lily, senyum geli terpasang di wajah manisnya.
"Beaumont hampir tenggelam, tetapi untungnya ada pahlawan Albus Potter yang siap menyelamatkan," ledek Rose sambil melirik Albus yang duduk di sebelahnya. Lily yang berada di seberang mereka memasang ekspresi kagum pada kakak keduanya itu.
"Al menyelamatkan Beaumont? Wow, romantis," ujar Lily. Al menghela nafas lelah.
"Jangan sebut itu romantis. Aku dan Beaumont adalah ide buruk," ujar Al membantah.
"Beaumont yang mana?" bisik Rose kecil sehingga hanya Al yang bisa dengar. Al meliriknya sebentar dengan tatapan tidak suka, membuat Rose tertawa kecil.
"Ternyata ide buruk untuk memberitahumu," gumam Al jengkel dan pelan, tapi Rose tahu Al tidak begitu serius saat mengucapkan itu.
Sementara itu Scorpius sedang menikmati makan malam sambil memperhatikan sosok yang sudah pasti adalah Rose Weasley. Sesekali ia memastikan bunga bloomhorn yang sudah dia awetkan dengan sihir di dalam tasnya masih dalam keadaan bagus dan aman.
"Aku masih tidak percaya bisa sekelompok dengan si cerewet Rivers itu! Dia benar-benar menyebalkan!" umpat Jane di sela-sela makannya.
"Memang kau sudah meneliti tanaman apa saja sejauh ini?" tanya Jeremy agak tidak nyambung.
"Minggu lalu tanaman bloomhorn, minggu ini pohon yeagress," jawab Jane.
"Well, minggu ini aku meneliti tanaman urga urgii dan sebaiknya kalian hati-hati dengan tanaman itu," ujar Jeremy memperingatkan. Scorpius menyeringai, tahu betul kenapa Jeremy berkata seperti itu.
"Hey Scorpius, jangan lupa malam ini patroli bersamaku," ujar seorang gadis yang kebetulan lewat sambil mengedipkan satu matanya dengan menggoda. Ia melenggang pergi begitu saja sehabis mengatakan itu.
"Jalang itu!" umpat Jane, diiringi komentar-komentar dari Vincent dan Jeremy.
Scorpius dari awal tidak tertarik dengan perbincangan mereka. Ia hanya makan seraya menunggu kapan Rose kira-kira keluar dari aula besar. Menghabiskan suapan terakhir makanan penutupnya, Scorpius meminum jus labunya lamat-lamat sebelum akhirnya melihat Rose dengan beberapa sepupunya mulai beranjak dari meja makan hendak keluar aula.
Scorpius refleks menaruh piala jusnya di atas meja makan Slytherin dan bergegas pergi menuju pintu depan aula besar juga, hendak menghadang Rose di dekat situ.
"-kah bantu aku untuk mengerjakan essay transfigurasi itu?" pinta Al pada Rose yang sedang berjalan hendak keluar dari aula bersama Lily, Hugo dan Rachel. Scorpius langsung menghadangnya di samping pintu aula.
"Untukmu," ujar Scorpius sambil menyerahkan pada Rose sebuket bunga bloomhorn yang telah ia tata serapi mungkin dan dibungkus dengan plastik pembungkus bunga yang entah dia dapat darimana.
Rose menghela nafas lelah dan memutuskan mengambil bunga itu, berharap Scorpius cepat pergi dari situ kalau Rose telah mengambil bunganya.
Tapi ternyata Scorpius masih saja berdiri di situ. Menghalangi jalan Rose dan saudara-saudaranya.
"Permisi?" tanya Rose dengan nada meninggi. Scorpius hanya menyeringai di tempat.
"Tidak ada ucapan terima kasih untukku, blossom?"
"Demi Merlin, aku bahkan tidak memintamu membawakan bunga ini untukku!" sahut Rose kesal. Scorpius masih menyeringai, namun lalu pergi meninggalkan rombongan Rose ke ruang bawah tanah Slytherin. Rose memutar bola matanya, tetapi menyimpan bunga itu di dalam tasnya dan melanjutkan perjalanannya yang tertunda tadi.
"Malfoy semakin aneh dari hari ke hari," komen Hugo.
"Aku masih berpikir dia adalah teman yang baik untuk Rose," ujar Lily, menghiraukan tatapan aneh sekelilingnya yang diberikan kepadanya sesaat setelah ia mengatakan hal itu.
…
Malam itu, seorang gadis berambut hitam bergelombang sedang bersandar di sebuah tembok koridor yang sepi dan sunyi. Hening, sebelum akhirnya terdengar suara langkah kaki pelan yang mengindikasikan akan ada seseorang yang mengunjungi koridor itu. Gadis itu refleks berdiri tegap dari posisi bersandarnya. Matanya memandang ke arah suara terdengar, dengan tatapan intens dan tajam.
"Tenang. Ini aku," ujar si pembuat suara saat sampai di depan koridor. Gadis itu pun akhirnya telah melihat si pembuat suara yang mulai berjalan memasuki koridor. Ia -si gadis- menghela nafas sekecil mungkin. Lelaki itu kemudian melangkahkan kakinya sepelan mungkin hingga berdiri dekat sekali dengan si gadis.
Mereka saling bertatapan. Manik biru bertemu manik hitam.
Tidak lama mereka bertatapan sebelum akhirnya si pemuda mendekatkan dirinya makin erat dengan si gadis, menghapus jarak di antara mereka dengan bibir yang saling bertautan. Penuh kasih disertai rasa sakit.
Tidak begitu lama kemudian, mereka mulai melepaskan diri.
"Sampai kapan harus seperti ini?" tanya si lelaki. Sang perempuan hanya menghela nafas lelah sambil merebahkan kepalanya di dada lelaki itu.
"Aku siap menghadapi mereka, tapi kapan kau mengizinkanku?" tanya lelaki itu lagi. Si perempuan mendongakkan kepalanya, menghadap wajah si lelaki dengan tatapan lurus.
"Sampai situasinya mendukung. Sampai kita berdua siap."
…
Rose sedang beristirahat di kamarnya. Duduk di ranjang yang empuk seraya memandangi sebuket bunga bloomhorn yang ia genggam dengan tangan kanannya. Rose harus mengakui bahwa bunga ini bagus, jika saja yang memberikan bukan si menyebalkan Malfoy.
"Atau mungkin selama ini Malfoy hanya ingin memamerkan kekayaannya? Maka dari itu, ia selalu memberiku hadiah-hadiah aneh," ujar Rose menyimpulkan.
Rose harus akui juga bahwa buket bunga ini mengesankan bagi Rose. Bunga bloomhorn yang langka dan susah didapat ditambah adanya penunjukkan keahlian sihir yang tidak remeh mengingat bunga ini diawetkan dengan mantra, jelas membuat buket ini mungkin tiada duanya di Hogwarts.
Dan fakta bahwa yang memberikan buket ini tidak lain tidak bukan adalah Scorpius Hyperion Malfoy. Merlin, kalau Rose adalah gadis lain, mungkin ia sudah pingsan dengan hati yang berbunga-bunga sekarang.
Tapi sayangnya, Rose bukan gadis lain. Rose adalah Rose, Rose yang dikenal sebagai murid terpintar di angkatannya, Rose yang dikenal selalu menjadi nomor satu di bidang akademik, Rose yang dikenal sebagai musuh bebuyutan Scorpius Malfoy.
Menaruh bunga itu di atas meja kecil di samping tempat tidurnya, Rose memutuskan untuk tidur dan melupakan semuanya dulu untuk sementara.
Rose yang malang, karena terlalu fokus dengan kepintaran akademis, Rose jadi tidak begitu paham masalah perasaan.
Rose tidak tahu bahwa nanti Scorpius-lah yang akan mengajari Rose masalah itu. Ya, masalah perasaan.
…
"Bunga yang kemarin tidak kau buang kan Rose?" tanya Lily saat sarapan keesokan harinya.
"Memang kenapa?" respon Rose.
"Bunga itu bagus dan langka," ujar Lily.
"Kau mau bunganya? Ambil saja," ujar Rose enteng.
"Tidak, Rose. Bunga itu simbol hubunganmu dengan Scorpius Malfoy." Rose tersedak mendengarnya.
"Maksudku, hubungan pertemanan," tambah Lily saat melihat tatapan tajam Rose padanya.
"Aku bukan temannya," bantah Rose.
"Oh, yang benar saja?! Mau sampai kapan Rose?" ujar Lily tidak percaya.
"Lily, kau itu masih polos. Kau tidak tahu kelicikan Malfoy. Kau membelanya karena kau pernah suka padanya," ujar Rose.
"Itu hanya suka biasa Rose. Aku memang selalu suka lelaki dengan rambut pirang, bukan hanya Malfoy saja," ujar Lily menjelaskan.
"Rambut Malfoy lebih mirip uban," ujar Rose. Hugo hampir tersedak mendengarnya karena menahan tawa.
"Lagipula, aku rasa Malfoy hanya ingin pamer kekayaan padaku, makanya dia suka memberiku barang-barang aneh," ujar Rose lagi.
"Mungkin kau bisa balas memberi hadiah yang lebih mahal lagi," saran Hugo.
"Ya, dan Dad akan memulangkanku dari Hogwarts. Seorang Weasley memberi hadiah kepada seorang Malfoy? Ide buruk," ujar Rose.
"Oh ya Rose, bilang pada kelompok kita kalau hari ini aku ada latihan quidditch lagi, jadi tidak bisa ikut penelitian," ujar Albus yang baru membuka suaranya.
"Oke," ujar Rose singkat.
…
"Lagi? Kenapa dia latihan terus?" tanya Scorpius jengkel.
"Karena sebentar lagi Gryffindor akan melawan Ravenclaw, dan kapten baru Ravenclaw itu sangat menyebalkan," jawab Rose.
"Ya, dia memang menyebalkan," ujar Scorpius.
"Beaumont sendiri ke mana?" tanya Rose balik.
"Jane bilang Miracle mengurung diri di kasurnya hari ini. Biasanya dia begitu kalau sedang tidak mood," jawab Scorpius.
"Ada-ada saja. Betul kata Al, dia seperti seorang putri yang tidak baik. Bertindak semaunya," ujar Rose sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Paling tidak sekarang kita hanya berdua saja. Jarang-jarang loh Rose," goda Scorpius. Rose mendengus dan mempercepat langkahnya. Scorpius tanpa perlu mempercepat langkahnya bisa mengejar Rose dengan mudah.
"Nanti kau yang bantu Beaumont menjawab pertanyaannya," ujar Rose yang terdengar seperti perintah.
"Sip deh Rosie-blossom," ujar Scorpius dengan nada yang dibuat sok ceria. Rose memutar bola matanya. Malfoy semakin terlihat bodoh dari hari ke hari.
Seperti James, dia juga bodoh di depan Azalea.
Tunggu… Apa yang Rose pikirkan?
Tidak mungkin kan?
Rose menggelengkan kepalanya tanpa disadari oleh Scorpius, melanjutkan perjalanannya dengan setengah menghentak ke danau hitam.
Hai! Author minta maaf banget banget banget banget karena membuat kalian menunggu lamaaaaaa sekali. Chap ini tuh bener-bener susah dibuat karena author takut ada scene yang kurang pas, yang kecepetan dan sebagainya. Semoga chap-chap kedepannya tidak sesusah chap ini deh :D
Chap selanjutnya sudah author buat sekitar seperempat bagiannya, jadi berharap saja semoga author bisa menyelesaikannya dengan cepat. Banyak yang terjadi selama fic ini tidak update. Author perpisahan, lulus, ikut ppdb, diterima, dsb.
Intinya, author bener-bener minta maaf.
Review?
