Desclaimer: J.K Rowling
Rating : M
Warning:AU (Alternate Universe), OOC (Out Of Character ), OC (Original Character), Incest, YAOI, typo(s), EYD tidak sempurna, no magic.
"IF YOU DON'T LIKE , DON'T READ , DON'T ANY BASHING, DON'T PLAGIARIZED, NO FLAME!"
Author: Astia Aoi and Raya Salimah
Title: 1st January
-o0o-
災害の始まり!(Saigai no hajimari!)
Seminggu kemudian Dumbledore menyetujui usulan Draco dengan syarat ada surat khusus yang menytakan kalau Yumi memang anggota Mamoru.
"Hei Yumi, umurmu berapa tahun?" tanya Harry.
"Hmm... 18 tahun," jawabnya cuek sambil mengelap SR25 miliknya.
"Wah beda satu tahun denganku dong," kata Ginny.
Sedangkan Ron dan Hermione diam, mereka masih membayangkan bagaimana adiknya Retsu itu sedangkan mereka adalah saksi kemampuan kakaknya.
Yumi tiba-tiba mentap Hermione, "Ne, nona apa ada sesuatu di wajahku?"
Hermione tergelak, "Ah..ti-tidak. tidak ada apa-apa," jawab Hermione.
Blaise, Harry dan semua orang yang ada disana heran melihat tingkah laku teman wanitanya yang satu ini.
"Well, kau belajar menembak dari umur berapa?" tanya Harry memecahkan keheningan dan perasan yang tidak enak di ruangan itu.
"Semenjak aku kecil, tepatnya umurku sembilan tahun," jawab Yumi sambil menyimpan SR25 miliknya di wadahnya dengan lembut. 'Huft...rasanya beda dengan MR125,' batin Yumi.
"Ada yang salah?" Harry memperhatikan perubahan raut wajah Yumi.
"No.." ujarnya sedikit tersenyum.
"Jangan tiba-tiba memasang ekspresi seperti itu.." harry menanggapi senyum yumi. "Membuat khawatir tahu.."
Hermione merasa Harry nampak excited tentang apapun yang berkaitan dengan Yumi. Ia juga mudah mengumbar senyum, mengherankan. Efek seperti ini pada Harry biasanya hanya berhasil didapat jika Akira yang berada di samping Harry.
"Harry..bukankah yang harusnya khawatir itu kau? Draco tidak akan datang ke markas lagi ya hari ini kan?" goda Blaise. Sambil berlalu tanpa memperdulikan deathglare dari emerald Harry. Hanya sisa anggota yang masih ada di ruangan itulah yang membahana tawanya. Bahkan Yumi juga.
Harry hanya dapat membuang nafas lelah.
"Aku permisi kalau begitu.. Ada dugaan pemberian kesaksian palsu lagi.. Ck. Hukum Inggris makin mudah saja diakali.." Hermione mengecup pipi merah Ron dan beranjak keluar ruangan.
"Well...hati-hati Love," kata Ron.
Kemudian Hermione pergi, ketika dia melewati Yumi dia melihat seringai di wajah gadis itu.
"Sou ka...Harry kau mengenal master kami huh? Akira Mamoru?" tanya Yumi sambil mengeluarkan pistol kecil dan mengelapnya.
"Ah iya...di teman masa kecilku," jawab Harry.
"Pantas dia sangat overprotective padamu..." kata Yumi membuat Harry terkejut.
"Maksudmu?" tanya Harry.
"Selama ini master tidak pernah menerima tawaran kerja sama dari siapapun dan negara manapun...tapi ketika kakek berjenggot putih itu menyampaikan penawarannya serta memperlihatkan foto-foto anggota muda ORDE, dia begitu antusias seperti menemukan sesuatu yang selama ini dia cari," jawab Yumi cukup panjang lebar, sebenarnya Yumi merasa penasaran kepada Harry.
Ah begitukah?" gumam Harry.
"Hn.. apa kita belum ada misi?" tanya Yumi.
"Belum, oh ya bagaimana syarat yang diberikan oleh Dumbledore padamu Yumi?" tanya Ginny balik.
"Sudah kuberikan padanya...aah...bosan...aku mau keliling kota," kataYumi sambil berdiri dan membawa SR25 miliknya.
"Eh, sendirian? nanti kau tersesat," kata Harry, tersirat nada khawatir dalam kata-katanya.
"Justru itu menyenangkan...ya sudah jaa..." kata Yumi sambil keluar dari ruangan. 'Sekaligus aku mau mengambil lagi motorku,' batin Yumi.
-o0o-
"Apa aku mengganggu?" Sirius memasuki ruangan eksekutif yang nampak sedikit ghotik namun tetap minimalis. Segala hal seperti tertata rapi. Dengan dua sofa hitam bersandaran tangan berbentuk kepala ular, di depannya meja kaca bening memperlihatkan rangka stainless keperakannya.
"Aku tidak akan mempersilahkan kau masuk, jika kedatanganmu menggangguku.." lelaki paruh baya bersurai pirang itu tetap memakukan pandangannya pada beberapa lembar dokumen. Membacanya seksama, "Duduklah.. Pilih posisi yang paling nyaman menurutmu.." Lucius Malfoy berbicara sembari jemarinya menekan sebuah angka pada telepon kantornya.
Panggilan cepat yang langsung disambut suara khas sekretarisnya., "Tolong panggilkan, Gary ke ruangan saya-" Lucius mengambangkan kalimatnya. Menatap Sirius, ia tersenyum dan berisyarat bahwa ia tak akan mengambil terlalu lama waktu seorang Lucius Malfoy yang berharga.
"Sekitar 20 menit lagi, dia harus sudah ada di kantorku. Jangan terlalu cepat, apalagi terlambat," instuksinya sejelas mungkin. Kemudian kembali menutup telepon dengan gagang alumunium yang dihiasi ukiran ular putih terbuat dari kaca patri. Telepon yang unik, mewah, sekaligus nampak penuh misteri. Khas Malfoy sekali.
"Well... Aku jadi mengerti kenapa perusahaan mu tak pernah sekali pun berada dalam posisi yang tidak menguntungkan.." seloroh Sirius sambil mnumpangkan kaki kanannya di atas kaki kiri. Menaruh tanganya pada sandaran berhias kepala ular itu.
"Apa yang membawamu kemari?" tidak berusaha menanggapi basa-basi. Satu lagi khas Malfoy yang keluar hari ini.
Sirius hanya menghela nafas lelah, "Ini tentang Mr. Dumbledore kita 'yang agung', Lucius.. Apa kau merasakan bagaimana akhir-akhir ini rencana-rencananya terdengar tidak masuk akal?" Lucius sedang menyeduhkan kopi yang baru saja dihancurkan dari mesin pembubuk kopi.
"Tanpa gula kan?" Sirius mengangguk. Sedikit heran dengan Lucius yang tak langsung menanggapi pembicaraan yang ia lemparkan. Nah, yang barusan itu un-Malfoy-ish sekali. Lucius membawa dua cangkir kopi hitam yang masih mengepul asapnya. Aromanya merilekskan saraf-saraf tegang kedua pria itu.
"Yah.. Sejak dulu pikiran-pikiran Dumbledore sering kali tak tertebak olehku. Bagaimana ia membuat seakan-akan akulah penyebab kematian James dan Lily.. Bagaimana ia bisa dengan mudahnya menyusupkan Severus ke dalam genggam Voldemort.. Aku bahkan tidak habis pikir mengapa ia membiarkan hanya Harry, Draco, dan Zabini yang melakukan misi terakhir kemarin?" pandangan Lucius menerawang. Tidak jauh berbea dengan Sirius yang ditambah kadar keheranan akibat Malfoy yang baru saja meluncurkan sebuah kalimat yang begitu panjang.
"Aku sedang berusaha untuk tidak kehilangan kepercayaan pada Dumbledore. Bagaimanapun ia masih pemimpin kita saat ini" ujar sang pewaris nama black itu hati-hati.
"Tapi kita tetap harus lebih waspada lagi. Pada misi kemarin aku merasakan ia tak akan segan-segan mengorbankan nyawa Harry.." ucapan Sirius disambar cepat Lucius, "Atau Draco..." keduanya bersitatap selama beberapa detik. Berusaha membagi kegundahan tentang 'anak' mereka masing-masing.
"Sebenarnya.. Aku ingin meminta pendapatmu soal hubungan Harry dan Draco" lelaki berambut hitam itu mengalihkan adu pandang itu. Tapi selama ini sikap Lucius yang berkesan apatis sedikit membuatnya khawatir.
"Regulus sudah mulai masuk kerja?" lagi, Lucius bersikap Un-Malfoy-ish hari ini?
Sirius mengangguk, baru kemudian bertutur pelan, "Apa kau bisa menerima Harry, Lucy?"
Lucius menghembuskan napas, "Ya aku bisa menerimanya. Dia anak yang baik," jawab Lucius ditanggapi senyuman lebar di wajah tampan Sirius.
-o0o-
Ruangan kerja Malfoy,"Sudah, sekarang keluar dan kembali bekerja." perintah Lucius kepada orang yang bernama Gary itu. Setelah dia pergi...
"Lucy, aku penasaran dengan Klan Mamoru... kau juga pasti menyadari betapa segan dan takutnya Albus dengan klan itu sampai dia berusaha keras untuk bekerja sama dengan mereka bahkan berusaha keras meraih kepercayaan dari klan itu," ucap Sirius yang serius (?).
Klan mamoru, dua kata itu berputar dalam benak Lucius. Ada cukup banyak mafia berbahaya di Jepang. Link Lucius cukup tersebar luas di wilayah Asia, dan yakin bahwa nama Mamoru tidak berada di barisan kelompok penjahat. Entahlah, mungkin bisa dikatakan 'abu-abu' seperti dirinya dan ORDE.
"Yang aku bingung Lucius.. Beberapa waktu lalu, kau tahu Retsu?" mendapati Lucius mengangguk. Sirius melanjutkan, "Orang dari klan Mamoru itu bersikeras membutuhkan berkas tentang pembunuhan berantai beberapa tahun silam.. Aku merasa bahwa ada motif lain yang sedang dijalankan Klan Mamoru ketika bergabung dengan ORDE.."
Lucius menimang gelas kopinya yang sudah mendingin sejak tadi, "Pembunuhan yang mana?" Lucius merasa mendapat petunjuk untuk menyelidiki klan Mamoru. Jika mereka membutuhkan berkas itu. Berarti ada sebuah motif khusus. Jika berhasil di selidiki... Lucius menyeringai.
"Kalau tidak salah pembunuhan Klan-klan berpengaruh ketika pertama kali ORDE berdiri...aku sudah menyelidiki dan membaca berkas-berkas itu beberapa kali dan aku menyadari ada hal ganjil..." jawab Sirius.
"Ganjil?"
"Ya, semua berhunbungan dengan Albus dan Voldemort ketika mereka muda," jawab Sirius lagi.
Lucius mengernyitkan keningnya... ketika itu ada telepon masuk.
"Ya, halo. ada apa Merry?"
"Tuan ada seseorang yang mengaku dari klan Mamoru ingin bertemu dengan anda,"
Lucius kembali mengernyitkan keningnya dan menatap Sirius sebentar lalu menjawab,a"Persilahkan masuk."
Setelah itu dia menutup teleponnya.
"Ada apa Luc?" tanya Sirius.
"Seseorang dari klan Mamoru datang kesini."
Sirius terkejut dan pintu ruangan itu terbuka masuklah sekertaris Lucius dan seorang pemuda. Setelah Sekertaris itu keluar.
"Selamat siang tuan Lucius Malfoy, saya mohon maaf mengganggu aktifitas anda. Perkenalkan, namaku Akira 'Aldrich' Mamoru. Pemimpin muda Klan Mamoru," ucap Akira tegas sambil menatap mata Lucius penuh keberanian.
"Akira? Mamoru? tunggu... jadi Akira yang sering disebut-sebut Harry adalah kau?" tanya Sirius.
"Ha'i, benar. Saya adalah sahabat baik Harry," jawab Akira.
"Ehem, well...apa yang membawamu kemari tuan Mamoru?" tanya Lucius yang kini duduk tegak dan memandang wajah Akira. 'Dia tidak gentar ketika aku menatap matanya.' batin Lucius.
"Hmm...aku kemari ingin membicarakan hal penting dengan anda..well apa aku tidak dipersilahkan duduk?" jawab sekaligus tanya Akira tanpa rasa takut sedikitpun.
"Tentu, silahkan duduk tuan Mamoru," jawab Lucius sedikit kesal dengan tingkah Akira.
kemudian Akira duduk disamping Sirius, "Well, waktu kemarin-kemarin Retsu, tangan kananku, meminta sebuah berkas kepada Tuan Black disebelah saya ini...saya hanya membutuhkan berkas itu untuk beberapa minggu dan juga secepatnya, oleh karena itu sebelum ketempat ini, karena Tuan Black ada disini...jadi, bisakah anda meminjamkannya? Hmm... kalau tidak...tidak masalah," kata Akira. 'Huft, mendokusai...kalau tidak diijinkan lebih baik aku pakai cara kedua..apa mereka bisa dipercaya?' batin Akira meski wajahnya tetap tidak berubah.
"Apa yang kau ekspektasikan dari berkas-berkas itu? Sebuah bukti?" Sirius berbicara sembari menimang-nimang kopinya yang tak lagi beruap.
"Apa yang sebenarnya kalian cari, klan Mamoru?" Sirius melanjutkan. Entah mengapa atmosfer ruangan itu berbah begitu menegangkan.
Akira menatap lelaki dewasa di sebelahnya dengan tatapan datar. Tak terbaca rautnya. "Ya, kami mencari bukti beberapa dosa Dumbledore dan Voldemort pada klan kami.. dan kami mengharapkan bantuan dari Anda berdua.." ujar Akira diplomatis.
Lucius belum merasa berkepentingan untuk masuk ke arena pembicaraan. Jadi, ia menunggu, memperhatikan dari balik meja minimalisnya yang juga diukiri hiasan ular pada kaki-kaki penyangganya.
"Dosa macam apa?" Sirius kembali menyeruput sisa kopinya yang tinggal setengah.
"Kami tidak bisa memberitahukan dugaan-dugaan kami selama belum ada bukti yang jelas..." sekali lagi Akira berusaha sediplomatis mungkin.
"Berkasnya ada padaku.." ujar Sirius sambil mengalihkan pandangan pada Akira, disambut pandangan tajam dari iris oniks milik Akira.
"Jadi? Anda bersedia meminjamkannya?" Akira mendengar Lucius menghela nafas. dan benar saja berikutnya Lucius yang bicara.
"Sirius... Jangan bilang kau ingin meminjamkan berkas itu tanpa izin Dumbledore terlebih dahulu?" Sirius bergantian menatap Akira dan Lucius.
"Kau sahabat putra baptisku. Kudengar kau sering membantu Harry, kali ini aku akan membantumu. Bukan karna kau ketua baru klan Mamoru, tapi karna kau sahabat Harry.."
"Sirius.." nada protes keluar dari bibir lucius.
Sirius mengangkat telapak tangannya, mengisyaratkan bahwa ini 'tidak akan apa-apa' pada Lucius. "Selain itu, aku berharap kau mau membagi informasi apapun soal dosa Dumbledore nantinya padaku. Asal kau tahu, meminjamkan dokumen tanpa sepengetahuan Dumbledore akan mengancam keberadaanku di ORDE, juga keselamatanku. Bahkan mungkin keselamatan Harry juga. Kusarankan kau tidak macam-macam dengan berkas itu jika tak mau Harry celaka.."
Akira mengangguk, "Tentu, anda pikir saya mengumpulkan bukti untuk keuntungan diri saya sendiri atau untuk klan? Tidak, ini untuk kita semua yang menganggap Dumbledore begitu agung dan tanpa cela.."
Sedetik kemudian Sirius bangkit, "Kalau begitu, temui aku di kantor departemen urusan luar negri petang ini. Harus kau sendiri yang mengambil.. Lucius aku pamit. Terima kasih kopinya.." dan pria itu menghilang dibalik pintu. Meninggalkan Lucius yang terkesima dengan kejadian barusan.
"Well...rencana kedua bisa disimpan untuk lain kali.." Akira melebarkan senyum. Membungkuk lalu sedikit berbasa-basi untuk pamit.
-o0o-
Yumi tiba di pelantaran parkir gedung ORDE, ketika Yumi turun dari motor, Blaise yang ketika itu baru tiba melihatnya.
'Jadi wanita yang kulihat waktu itu dia?' batin Blaise.
Blaise memutuskan untuk mendekatinya, "Hei, jadi kau selalu memakai motor huh?" sapa Blaise
"Hn, ne. selalu, ada apa? mau mengatakan bahwa motor tidak pantas untuk wanita? huh, bodoh," kata Yumi sinis sambil meninggalkan Blaise sendiri.
"Sialan, aku hanya bermaksud baik," gumam Blaise kesal.
Ruang anggota muda, Yumi masuk dan melihat orang-orang yang di dalam. Harry, Ginny, Ron, Retsu, Ken.
"Tadaima," ucap Yumi,
"Okaerinasai," sambut Retsu dan Ken. Sedangkan yang lain terbengong-bengong.
Yumi segera mendekati Retsu dan duduk disebelahnya, "Onīchan wa, subete no kōzan wa atarashī apāto ni mochikomanakereba naranai nodesu ka?" tanya Yumi sambil menatap Retsu.
Retsu mentap Yumi sebentar dan kembali membaca bukunya, "Hitsuyō wa arimasen. Anata wa soko ni imasu.." jawab Retsu datar.
Yumi menyandarkan punggungnya di sandarang sofa itu, "Sō, subete no kenri. HAAH... Don'yori to shita hi, nani mo omoshiroi, NII-chan mo shimasen?" tanya Yumi dengan wajah bosan.
"Zan'nen'nakotoni, imōto-chan," jawab Retsu.
Yumi menatap wajah teman-temannya yang kebingungan, "Kenapa kalian?" tanya Yumi polos.
"Ah, kami hanya bingung dengan apa yang kalian bicarakan." jawab Harry.
"Ah, sorry...bukan masalah penting kok," jawab Yumi datar sedangkan Ken tertawa.
"Anata wa jūbun ni warui ketsujō," ejek Ken.
"Gurīn wa orokana damare!" Yumi balas membentak membuat Ken tutup mulut.
" Yumi wa arai sore no yō ni hanashi o shinai," lerai retsu dengan sopan.
"Sore wa anata ni ryōhō suu shidaidesu," gumam Yumi.
Lagi-lagi semua anggota muda terdiam, "Lebih baik kalian acuhkan saja mereka," kata Ginny.
Beberapa menit kemudian Akira datang, "Aloha...aku datang." sapanya penuh semangat, semua yang ada disana menatapnya dengan wajah yang terkejut...termasuk Retsu meski wajahnya datar.
"Sorry, aku hanya ingin memberikan kejutan. Halo Harry apa kabarmu?" tanya Akira.
"Kabarku? Selama kau tidak mengajakku berbicara bahasa Jepang aku akan baik-baik saja.." kalimat pendek Harry disambut kikikan geli klan Mamoru, dan senyum mafhum para anggota ORDE.
"Jadi? Kau sudah mulai menjalankan misi lagi?" Akira memilih posisi duduk yang membuatnya berhadapan dengan Harry. Harry sedikit mengernyit dengan sikap Akira yang tak biasanya ini. Entahlah.. Kesannya formal dan agak terlalu sopan untuk ukuran Akira yang Harry kenal.
"Ya, apa sesuatu terjadi di Jepang, Akira?" lelaki jangkung itu menggeleng. Membuat ikatan rambut hitam sepunggungnya sedikit longgar.
"Tunggu dulu? kau mengikat rambutmu?" anggota ORDE yang lain jadi ikut meneliti penampilan Akira.
"Ada sebuah urusan, boncel... Kau ini sejak dulu tak pernah berubah.. Selalu ingin tahu..dasar.." tawa Akira melengking kemudian.
Harry membagi sedikit cengiran khasnya, "Ouh ya.. Ginny besok akan menjalankan misi berdua dengan kau Yumi.. Jika kalian butuh mempelajari berkas-berkasnya sekarang.. Kau bisa ambil di ruanganku dan Ron.." ujar Harry seakan teringat sesuatu.
"Berkaitan dengan apa kali ini?" sebelum Yumi sempat melempar pertanyaan, Akira lebih dulu menyela. Ada nada protektif ketika lelaki itu melontarkan kalimatnya. Itu.. Atau mungkin intuisi Harry saja yang berlebihan.
"Ada pergerakan mencurigakan oleh kelompok pendukung partai sayap kiri London. Kita diminta mendapatkan bukti. Kupikir ini lebih karna pemerintah membutuhkan sentimen negatif publik pada partai itu. Kau tahu akhir-akhir ini beberapa lembaga survei mengatakan bahwa partai pemerintahan yang berkuasa sekarang menurun pamornya.." Akira memutar bola matanya jengah.
Harry terkikik kecil, "Kuharap kau tidak keberatan.. Bagaimana pun juga ORDE -meskipun swasta- tetap kaki tangan pemerintah, hmm.. Rralat, pemerintahan yang sedang berkuasa maksudku.."
Beberapa menit tak ada yang memulai pembicaraan kembali, sampai Blaise muncul di ambang pintu.
Suara Yumi membelah sunyi, "Ginny.. Kurasa ada baiknya kita tak membuang waktu untuk bersantai disini.." Lalu gadis itu berlalu sambil menatap Blaise sinis. Ginny yang meskipun bingung mau tidak mau mengikuti rekan timnya untuk misi besok.
"Sampai nanti semua.." pamitnya tanpa melupakan memasang senyum manis.
"Apa masalah gadis itu?" Blaise langsung menuju komputer yang tersedia beberapa di ujung ruangan. Lalu sibuk menggerutu sendiri.
"Sorry.. Tuan kulit eksotik..." ujar Akira menggoda. "Yumi kalau sudah tak suka pada orang memang jadi sensi begitu.."
Blaise melirik sekilas, "Kau sudah kembali dari Jepang?" Blaise bertanya tanpa sedetikpun meninggalkan layar komputernya.
"Ya.. Sedikit lebih awal dari yang kuberitakan.. Dan nampaknya ada seseorang yang tidak suka dengan kedatanganku yang tiba-tiba.." semua orang bisa mendengar dengan jelas suara Retsu yang berdehem.
"Hahaha... Tuan Retsu mendapatkan pernyataan 'cinta' yang jelas sekali.." Retsu terlalu malas bahkan untuk sekedar men-deathglare Ken.
"Ron-kun... Aku sudah mendapatkan data-data tentang Mr. Rid Jaffline... Saya pikir, kita bisa menjeratnya dengan sebuah tuduhan.." Ron nampak langsung antusias wajahnya.
"Sungguh? Maksudku.. Ia adalah sisa-sisa dari mafia jaman perang dunia kedua... dan selalu melakukan setiap kejahatannya dengan rapi.. FBI bahkan sudah angkat tangan untuk menjerat pak tua itu masuk ke penjara.."
Semua orang berpandangan pada Ron yang sedari tadi sibuk memainkan handphone-nya dan sekarang tiba-tiba begitu excited pada apa yang diungkapkan Retsu.
"Hmm.. Satu-satunya celah yang bisa membuat pemerintah menuntutnya adalah ini," Retsu berjalan ke dekat Ron dan mengeluarkan sebuah flashdisk. "Semua data penunggakan pajak perusahaan kakek tua itu, tidak mungkin bisa dihindari olehnya. Ini satu-satunya kesempatan kita.." Ron tersenyum sumringah.
Harry mendengarkan saja kedua orang itu kemudian berbincang soal rencana untuk menemui kepala kepolisian London dan kepala kantor urusan pajak besok. Si kacamata bundar itu lalu mengalihkan pandangannya ke depan. Menemukan Akira juga tengah memandang kedua orang itu. Alis unik Harry menyatu, mengaksarakan keheranan. 'Akira..?' tatapan lelaki itu nampak aneh. Tajam yang mengancam...?
"Akira! Hei.." Harry mengibaskan tangannya di depan kedua mata oniks itu.
"Apa?!" sungut lelaki itu sedikit galak. Harry meskipun sedikit tersentak coba mengendalikan dirinya.
"Butuh udara segar?" mata Harry berisyarat penuh makna. Akira menatap Retsu sekali lagi.
"Ken.. Tolong ambilkan barang-barangku di mobil!" seru Akira seraya bangkit dan melempar kunci mobil pada Ken.
"Ayo Harry.." ucapnya dingin sambil melangkahkan tungkai jenjangnya angkuh. Harry tersenyum pada Ron dan Retsu sebelum berlalu.
"Hah? Apa?! Dikira aku pelayan, harus ngangkut-ngangkut barang dia! Teme!" rutuk Ken yang walau begitu akhirnya melangkahkan kakinya menuju basement.
-o0o-
"Harry, apakah kau baik-baik saja?" tanya Akira yang kini berjalan disebelah Harry mulai rileks.
"Ah, Tentu. aku baik-baik saja. kenapa?" tanya Harry.
"Tidak, hanya khawtir, oh ya kita mau kemana? aku ada janji pukul 16.00," kata Akira sambil melihat jamnya.
"Hanya ke atap, seperti yang pernah kita lakukan dulu," jawab Harry bahagia.
Akira melihat senyuman Harry juga ikut tersenyum.
Ruang anggota muda,
"Well kita bisa mulai besok kan Ron-kun?" tanya Retsu.
"Ya, tentu saja...akhirnya tugas ini mencapai titik terang," gumam Ron.
-o0o-
Grimmauld Place no. 12, Sirius sedang membaca koran di ruang tengah, perhatiannya terpecah dan melihat kalau Regulus sudah pulang. Sirius segera menyimpan koran itu dan mendekati Regulus.
"Love, tugasmu sudah selesai?" tanya Sirius sambil membawakan jas dan tas milik adiknya itu.
Regulus segera duduk di sofa, "Sudah, Siri... menyebalkan! orang itu Gay! Genit pula! untung aku selamat..."
"Orang itu? siapa?" Regulus tersenyum senang sambil menutup matanya. Menyenangkan mendengar nada cemburu muncul dari bibir Sirius. Bahagia mendengar nada ketus yang berkesan posesif. Sirius menyimpan tas dan jas Regulus asal di sofa tunggal. Mendekati Regulus yang masih setia menutup kelopak matanya. Mengecup dahinya sekilas.
"Siri.." lelaki bersurai hitam itu tersenyum.
"Kupikir orang itu bisa membuatmu lupa dengan kecupanku..?" Regulus terkekeh. Membiarkan kepalanya menyamankan diri di dada Sirius.
"Kupikir tiga tahun meninggalkanku rasa kecupanmu akan berubah.." Sirius balik terkekeh. Memeluk lengan Sirius, mendekap tubuh adik tercintanya.
"Kuharap Harry bisa cepat memaafkan Draco. Aku tak tahan melihat luka di iris mata keduanya.." jemari Regulus menyentuh dagu Sirius. Membimbing bibir Sirius mendekat ke bibirnya. Membagi sebuah pangutan manis berdua. Memberikan kontribusi masing-masing tanpa saling berusaha mendominasi.
"Mereka akan kembali baik, Siri.." Regulus memainkan jari mereka lagi. "Kau mau makan apa malam ini?" Sirius menengok jam dinding berornamen emas.
"Entahlah.. Aku ada beberapa urusan.." Regulus mengernyitkan dahinya. Tidak biasanya jadwal Sirius padat di hari Jum'at begini.
"Urusan? huuh...padahal aku masih ingin bersamamu, Love," ucap Regulus tepatnya rengek Regulus yang kini mood manjanya kambuh.
Sirius tertawa pelan, "Hanya sebentar sayang, setelah urusan itu selesai aku pulang dan akan memanjakanmu, sweetheart," kata Sirius sambil mengecup pipi Regulus.
"Siri, aku menemukan fakta mengejutkan ketika aku tugas," curhat Regulus yang kini meringkuk di pelukan Sirius seperti kucing.
"Fakta apa Love?" tanya Sirius sambil mengelus pungung Regulus penuh kasih sayang.
"Dulu Voldemort dan Albus adalah sahabat sekaligus mantan guru dan murid," jawab Regulus.
Sirius terdiam, dia kembali mengingat kata-kata Akira, 'Apakah fakta yang dikatakan Regulus dengan kata-kata Akira itu berkaitan?' batinnya.
Regulus yang sedari tadi menunggu jawaban menatap wajah Sirius.
"Love, ada apa?" tanyanya, cemas.
"Tidak apa-apa, ah sudah pukul 15.30, waktunya menyelesaikan urusanku sweetheart."
-o0o-
Atap...30 menit sebelum waktu janjian...
"Well, Harry... apa kau masih marah pada Draco?" tanya Akira.
"Sebenarnya aku juga bingung Akira...di sisi hatiku, aku tidak bisa memaafkannya...tapi di sisi lain aku ingin bersmanya..." jawab Harry yang lagi-lagi selalu terbuka pada Akira.
"Dibohongi memang sangat menykitkan...tapi kebohongan yang kau alami, jangan membuatmu menjadi tertutup dan terpuruk seperti ini...pikirkan juga perasaan dia...cukup kau menghukumnya...daripada kau menyiksa dirimu sendiri seperti ini..." Akira berhenti sejenak menatap wajah Harry yang memikirkan kata-katanya lalu melanjutkan, "Jangan hanya memandang suatu masalah dari satu sudut pandang saja Harry, coba bayangkan kalau kau menjadi Draco, bagaimana perasaan dia? apa dia senang? tidak Harry...sama sekali tidak...yang ada perasannya sangat menderita. jangan biarkan apapun menghalangi hubungan kalian, sebelum hal itu terlambat...seperti seseorang...seseorang bodoh yang tidak akan pernah menyatu hanya karena satu hal kecil... jangan biarkan cintamu hilang dari hidupmu..." ucap Akira sungguh-sungguh.
"Akira...aku.."
"Ah sorry Harry, sekarang sudah pukul 15.30...aku ada urusan... sampai jumapa," ucap Akira sambil melangkah pergi, ketika itu Harry sangat yakin dia melihat air mata meluncur dari mata onixs Akira.
"Akira.." gerakan Akira berhenti sedetik kemudian. Namun ia terlalu pelit untuk berbalik.
"Apa yang kau maksud Retsu?" Harry menangkap getaran kecil di punggung Akira. Harry mendekat ke arah akira perlahan. Mengembangkan sebuah cengiran jahil sebelum kemudian menjitak kepala si jangkung itu. Biarpun harus berjinjit lebih dulu. Harry cukup puas dengan suara Akira yang keluar meringis.
"Baka-Harry! Sakit!" refleks Akira berbalik. Hendak menjitak Harry balik. Namun terhenti melihat kilau amerald Harry ditimpahi butiran bening. Jatuh hati-hati.
"Harry?" tanyanya khawatir.
"Kau yang baka!" seru Harry dengan salah satu dari sedikit kalimat Jepang yang ia hapal.
"Bagaimana kau bisa menasehatiku begini begitu soal hubunganku dengan Draco sementara kau sendiri tak mengusahakan persaanmu?!" bentak Harry terdengar frustasi.
Akira menepuk bahu harry, "Retsu dan aku tidak punya kesempatan. Kau tidak mengerti, baginya aku hanya sebatas majikan.. Kau, juga Draco.. Setidaknya sederajat.. Kau tidak mengerti Harry.."
Emerald itu buru-buru diusap kasar oleh punggung tangan Harry, "Seharusnya aku meninjumu saat ini.." Harry terkekeh ritmis. "Aku paling benci orang yang menasehati orang lain tapi dirinya sendiri tidak melaksanakannya.." Akira ikut terkekeh.
Suara sarkatis yang terasa begitu perih, "Jadi.. Setidaknya kau kembalilah pada Draco. Setidaknya ada salah satu diantara kita yang bahagia.." Akira mengacak rambut Harry. Kemudian berbalik pergi. Mungkin baru lama bisa kembali. Akira tidak yakin bisa menghadapi Harry lagi. Sejauh ini, mungkin hanya Harry yang bisa merasakan rahasia besar yang Akira simpan rapat, tanpa ada yang bisa merasakan. Mungkin Ken, lelaki urakan itu memang punya intuisi yang menarik. Sialnya.. Justru pemilik nama yang berukir dihati Akiralah yang tak kunjung menyadari.
-o0o-
Sirius kini sudah ada di kantornya...
"Bocah itu lama," gumam Sirius, tidak lama kemudian Akira datang.
"Selamat sore , maaf menunggu lama..." kata Akira yang kini duduk di hadapan Sirius.
"Ini, berkas yang kau pinjam, tapi ingat... jangan sampai orang lain mengetahuinya," kata Sirius menyerahkan buku besar yang cukup tebal.
Akira mengambilnya, "Wow, jadi ingat buku kuliahku...hehehe...ok, thanks..." kata Akira.
"Sebelum itu ada yang ingin aku tanyakan."
"Apa itu?" Akira tersenyum sedikit misterius.
"Apa benar dulu Voldemort adalah murid sekaligus sahabat Albus?"
Akira terdiam sekejap menimang-nimang apa yang akan dia katakan.
"aku juga kurang begitu yakin . Tapi menurut data yang kumiliki mereka memang sempat dekat, entah berapa lama," jawab Akira.
"Begitu..." gumam Sirius.
'Well, sepertinya beliau mulai curiga un...' batin Akira.
"Well, karena urusanku hanya ini saya permisi," kata Akira sambil berlalu dari Ruang kerja Sirius.
-o0o-
Ruang anggota ORDE muda. Ketika itu disana ada Harry, Blaise, Ginny. Yumi, Ron, Retsu, Ken, dan Yumi. Tiba-tiba Arthur Weasley datang, "Anak-anak ada perubahan rencana, besok Aku, Ron, dan Ginny ditugaskan untuk menyelidiki sebuah kasus di Perancis. Jadi Yumi bertugas bersama dengan Blaise," katanya, yang membuat Yumi membelalakan matanya. "Oh ya keputusan ini sudah final," sambungnya lagi.
Setelah itu Arthur keluar dari ruangan itu...
"Aaah...Uzai! Naze kare to issho ni motte iru? Yoi hitori de!" gumam Yumi yang terdengar semua orang yang ada disitu.
"Yare..yare... Anata wa, kanjadenakereba naranai. Sonoyōni monku o iwanai! Shikashi, koreha sagyōdesu. Atode jobu ga okonawanode shippai shimashita.." nasehat Retsu.
"Aaahhh...kalian itu...menyebalkan..." Yumi benar-benar kesal terhadap kedua tangan kanan Akira itu.
Yumi melangkahkan kakinya berderap keluar ruangan. Blaise yang sedari tadi santai-santai saja dengan kesibukannya mengutak-atik komputer tidak begitu perduli.
"Sebenarnya kau apakan dia Blaise-kun? Setahu saya Yumi bukan orang yang bisa membenci seseorang yang baru ia kenal sebegitu rupa?" Retsu mengambil tempat duduk di meja komputer di sebelah Blaise. Tidak menyalakannya, hanya menatapi Blaise serius. Membuat Blaise jadi merasa risih meskipun berniat untuk mengabaikan Retsu sebenarnya.
"Katakan saja padanya.. Jika tidak ingin melakukan misi.. Biar kukerjakan sendiri.." Blaise mrampungkan pekerjaannya di komputer itu, memasukan datanya ke dalam flashdisk buru-buru. Mengklik icon shut down kasar.
Ginny memperhatikannya heran, "Hey..hey.. Biasanya kau cinta sekali pada komputer-komputer itu.." lelaki berkulit eksotis itu hanya melempar tatapan tajam. Kentara sekali kekesalannya.
"Wuiiih...kalau mereka 'jadi', pasti akan lebih banyak perang lagi disini..."
"Ken...!" suara rendah Retsu memperingati.
"Hahahahaha...Gomenasai Retsu-senpai, habisnya melihat mereka menyenangkan... seperti hiburan tersendiri," kata Ken sambil nyengir.
"Kenichi Yumekawa! tutup mulutmu atau kau kuberi sanksi," ancam Retsu sungguh-sungguh.
Sebodoh-bodohnya Ken, dia tahu jika senpainya ini sudah memanggil nama lengkapnya itu berarti Retsu bersungguh-sungguh.
"Ha'i, Wakarimashita Senpai...aah aku ada tugas dari Master," kata Ken sambil kabur.
"Ck, bocah itu," gumam Retsu.
"Anu, sebelumnya maaf...sebenarnya Ken itu memiliki keahlian apa? dia seperti orang yang ceroboh dan...maaf lemah," tanya Ginny.
Retsu memandang wajah Ginny, "Jangan meremehknnya nona, begitu-begitu dia memiliki julukan 'bunglon'...dia memang bodoh diluar, tapi tidak ada seorangpun selain master yang mengetahui pikirannya...jangan pernah menilai orang dari penampilannya saja," kata Retsu, diam-diam dia memandang Ron yang hanya bisa menelan ludahnya.
-o0o-
Setelah jabat tangan, tanda tangan berkas ini itu dan basa-basi singkat untuk kelanjutan ke depannya. Draco sudah berada di depan sebuah mesin minuman ringan. Kepalanya mungkin butuh sedikit soda dan glukosa agar bisa beraktifitas lagi.
"Kudengar proposalmu di-acc?" sebuah suara ringan menyentak Draco. Ia berbalik dan mendapati Hermione tersenyum sampai menipiskan matanya. Draco lebih memilih melanjutkannya membuka kaleng silinder minuman itu.
"Aku turut senang.." Hermione mengikuti Draco yang mengisyaratkan untuk mereka berbincang sambil duduk di sofa lobby.
"Bagaimana kabar 'dia'?" Hermione menatap lelaki itu lekat. Semengagumkan apapun kepercayaan diri seorang Draco Malfoy, selalu terselip luka di indah kedua kelabunya.
"Ia suka dengan rasa tonik buatanmu.. dan ia sudah lebih rileks.. Dia bahkan sepertinya nyaris lupa soal keberadaan rahim di perutnya.." Draco tersenyum simpul. Senyuman hangat setiap kali Hermione bertemu Draco untuk dua urusan yang tak disengaja. Hermione yang perduli pada Harry selalu mengajak Draco terlibat pembicaraan tentang pemuda berambut berantakan tersebut.
"Kau sudah mengatakan itu tiga hari yang lalu.." ujar Draco meskipun pilihan katanya sedikit berkesan mengomel.
"Kalau aku katakan Harry merindukanmu?" Draco menghentikan gerakan minumnya.
"Hmm?" dahi Draco mengernyit. "Yakin?"
Hermione terkekeh kecil, "Ia mengigaukan namamu kemarin kata Ron, ketika ia terlelap setelah misi kemarin, ia tertidur lima menit di mobil... dan demi apa! Ron mendengar Harry menyebut namamu.."
Wajah Draco berubah sumringah mendengar itu, "Well, sepertinya ada celah untukku."
"Ya... lebih baik kau cepat bergerak.. kalau tidak Akira akan menyerobotmu..." goda Hermione.
"What? bukankah dia ada di Jepang?" tanya Draco terkejut meski wajahnya datar.
"Kemarin Ron mengatakan dia sudah kembali dengan posisi dia yang lebih kuat dari sebelumnya," jawab Hermione.
"Maksudmu?" Drco tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Hermione.
"Jika dulu ketika pertama kali dia datang ke ORDE hanya sebagai 'keturunan' dari klan Mamoru, kini dia sudah jadi 'pemimpin muda' klan Mamoru. Entah mengapa semakin ke sini Sir Dumbledore semakin berusaha untuk mendapatkan kepercayaan Akira...well, mungkin ini hanya perasaanku saja, tapi aku merasa ada yang sedikit berbeda dri beliau...maksudku aku merasa Dumbledore sedikit ketakutan dengan hadirnya Akira, Retsu, Ken, dan sekarang Yumi," terang Hermione.
Draco mengernyitkan dahinya, dia semakin penasaran dengan klan Mamoru serta Akira tentunya.
-o0o-
Mamoru Manor, Retsu kini sedng berada di hadapan Akira duduk di sofa hijau di ruang kerja milik Akira...
"Well, aku berhasil mendapatkan Berkas-berkas tentang pembunuhan beberapa tahun yang dengan cuma-cuma meski ada syaratnya...sebelum kau bertanya, syaratnya adalah kita harus menyembunyikan ini dari oranglain, jangan ada satu orang pun diluar klan yg tahu tentang ini, kedua kita juga mesti memberitahu info yang kita dapat kepada ," jelas Akira yang cukup serius.
"Lalu rencana selanjutnya apa?" tanya Retsu.
"Rencana selnjutnya akan kujelaskan nanti," kata Akira.
-o0o-
Draco kini sedang berada di Manornya, tepatnya ruangan kerja miliknya. Dia melihat berkas-berkas penyelidikan tentang klan Mamoru yang hanya mendapakatkan secuil informasi. Hanya menyatakan Klan Mamoru itu berada di pihak abu-abu seperti ORDE, klan Mamoru seperti ORDE-nya Jepang. Tidak ada yang mengetahui siapa, seperti apa, dan bagaimana mereka bekerja. Yang Draco tahu klan Mamoru lebih licin dan cerdik dari ORDE. Klan Mamoru juga tidak diketahui struktur klan utama, dari informasi itu dia juga mengetahui bahwa orang-orang klan Mamoru itu memilki karakter, ciri khas, dan kemampuan yng berbeda-beda.
"Ck, hanya ini yang kudapat? aah sial..." gumamnya.
-o0o-
"Jadi? Kau akan memikirkan cara yang lebih lembut kali ini, Master Voldedort?" wanita berambut panjang tak begitu terawat itu melempar senyum sumringah.
Lelaki pucat di hadapannya cuma melirik sekilas, "Anak itu...kurasa punya nyawa sembilan.." Voldemort dengan mantel hitam panjangnya menebar aura neraka ke seluruh penjuru ruangan. Ia berbalik dari satu buku ke buku lain. Semua tentang anatomi, sihir hitam, buku-buku para pemikir di masa renainsans*nulisnya gimana sih-.-a?*. Perpustakaan itu sudah cukup terasa mencekam dengan tirai abu yang menutupi jendelanya, meskipun di luar sana hari baru saja beranjak malam. Masih ada sisa-sisa sinar matahari tenggelam yang bergradasi antara jingga dan merah. Lalu terbaur dalam pekat gelap. Tapi lelaki itu merasa tidak ada yang cukup indah untuk ia saksikan saat ini.
"Aku bisa menghabiskan sisa tujuh nyawa lagi miliknya jika anda mau?" ia berjalan cepat-cepat di belakang langkah mondar-mandir gelisah Voldemort. Terkikik geli saat pria itu hanya membaca beberapa baris dalam buku dan sudah menutupnya kembali.
"Tidak.." geleng Voldemort sarkatis. "Aku yang akan menghadapi bocah itu, Bellatrix.." senyuman antagonis menebar kadar keangkeran wajah pria bernama asli Tom Marvolo Ridlle tersebut.
"Aku ingin kau... Menghukum sepupumu.." bisiknya misterius di depan wajah wanita itu. Lalu berbalik dan membanting pintu besar perpustakaan itu. Sementara Bellatrix yang melongo akibat gerakan tadi tiba-tiba saja terbahak.
"Well..well.. Kurasa aku akan mulai dengan si adik Black dulu.."
-o0o-
Grimmauld place 12, Regulus mengetuk pintu kamar Sirius dan membukanya...
"Siri...bolehkan aku masuk?" tanya Regulus.
"Love? masuklah, untuk apa kau minta izin segala," kata Sirius yang sedari tadi sedang mengetik sambil duduk di kasur miliknya.
Lalu Regulus Naik ke kasur dan bersandar ke bahu Sirius, "Love...kamu melupakan janjimu~" kata Regulus.
"Janji? janji...ah aku ingat...jadi kau ke kamarku untuk menagihnya heem?" Sirius me-save datanya lalu me-shutdown-kan Laptopnya, setelah itu dia menyimpan laptopnya di meja samping tempat tidur.
"Well... aku akan memanjakanmu sekarang, my sweetheart," ucap Sirius sambil memeluk Regulus dan membaringkannya.
"Uuhh...pelan-pelan dan lembut love," Pinta Regulus dengan mata yang menyiratkan hasrat yang tinggi kepada kakaknya ini.
"Tapi Love apa kau siap kalau dirimu...hamil?" tanya Sirius.
Regulus tersenyum dan mencium bibir Sirius sekilas, "Aku siap Love, lagipula suatu saat nanti kalau aku hamil, aku akan mengandung anakmu Love..." kata Regulus mantap.
Sirius tersenyum lembut lalu mencium kening Regulus penuh cinta, "Love, kau tahu… Kau adalah belahan jiwaku, J'adoreRegulus. "
"sije n'ai, Je t'aimede toute mon âme, Sirius. "
Sirius mencium bibir Regulus perlahan dan lembut, sementara tangan Sirius sibuk membuka piama hijau yang dikenakan Regulus. Setelah berhasil melepaskannya, Sirius melemparnya ke sembarang tempat. Sirius masih mencium bibir Regulus, melumatnya lebih tepat. Sedangkan kedua tangannya memainkan puting Regulus, membuat Regulus mendesah tertahan.
Setelah puas dengan bibir Regulus, Sirius mulai menyerang leher Regulus dan memberikan tanda kepemilikan disana. Tanda yang diberikan Sirius tidak hanya satu, dua, atau tiga…tapi lebih dari itu. Setelah itu, Siri melihat tubuh Regulus dengan perasaan puas. Leher dan bagian dada yang penuh Hickey dan peluh memenuhi tubuhnya. Sirius melihat ke wajah kekasihnya itu, mata yang setengah tertutup memancarkan nafsu dan pipi merona tidak lupa bibir yang sedikit membengkak hasil ciuman Sirius.
"Siri, please.. do notplay me, hurry up!" Desah Regulus.
"Ok sweetheart, tidak kusangka kau tipe yang tidak sabaran heum," goda Sirius sambil melepaskan semua sisa pakaian yang menempel di tubuh mereka lalu melemparkannya ke sembarang tempat.
Sirius memandang tubuh Regulus dengan tatapan lapar (?), Sirius menundukan badannya dan kembali mencium bibir Regulus, sementara tangan kirinya menekan tengkuk Regulus untuk memperdalam ciuman mereka dan tangan kanannya mulai memainkan Junior Regulus.
"Mm…ngh..Siri…akh…" desah Regulus ketika Sirius mulai memasukan satu jarinya ke dalam lubang rektum Regulus dan menggerakannya, disusul dengan dua jari berikutnya.
"Ssh, Love…. Are you ready?" tanya Sirius.
"Nghh….slowly, please ..." pinta Regulus.
Sirius tersenyum, dia mengangkat kaki Regulus dan menahannya di pinggangnya. Sirius mulai memasukan miliknya ke dalam rektum Regulus, dia mencium bibir kekasihnya untuk sedikit mengurangi rasa sakit yang di alami Regulus. Regulus mendesah tertahan, tidak lama kemudian Sirius berhasil masuk sepenuhnya.
"Reggy, kamu tidak apa-apa?" tanya Sirius.
"Nghh….ya, aku…aku baik-baik aja, move, Siri," pinta Regulus.
Sirius mencium kening Regulus dan mulai menggerakan miliknya, awalnya pelan semakin lama semakin tidak teratur sampai pada akhirnya Sirius mengenai prostat Regulus.
"Aah…disitu Siri, faster!"erang Regulus.
Sirius mempercepat gerakannya dan mengenai sweetspot Regulus, Sirius kembali mencium bibir Regulus dan mengocok junior kekasihnya itu. Beberapa menit kemudia Sirius merasakan kalau lubang rektum Regulus semakin menyempit, menandakan kalau Regulus semakin dekata ke puncaknya.
"Siri, I'mgoing tocum, ngghhh…." erang Regulus.
"Sssshhhh…. Tahan Reggy, kita keluar bersama, ukh…. you're so tight, Reggy…sebentar lagi, kita keluar bersama love,"
Regulus hanya mengangguk dan terus mendesah, setelah beberapa menit kemudian mereka akhirnya sampai pada puncaknya, Regulus mengeluarkan cairannya dan mengenai tangan Sirius serta dada mereka berdua. Sementara Sirius mengeluarkan benihnya di dalam tubuh Regulus.
Sirius dengan perlahan mengeluarkan miliknya dan ambruk di sisi Regulus, dia menarik kekasihnya itu ke dalam sebuah pelukan hangat.
"Merci, mon amour. Je suis content quevousavez l'embarras. Je t'aime, " bisik Regulus.
"Pas de problème, mon cher. Je t'aime aussi, " jawab Sirius.
"Aku lelah Siri," gumam Regulus sambil memeluk erat tubuh Sirius.
Sirius terkekeh dibuatnya, "Tidurlah Reggy."
Setelah membisikan perintahnya, mereka berdua tertidur lelap.
-o0o-
Dua hari kemudian, suasana ORDE pagi ini cukup nyaman untuk para anggotanya. Ron memulai rangkaian latihan untuk memperbaiki kemampuan menembaknya, Blaise ada di kolam renang, Ginny dan Hermione sudah sibuk sedari tadi dengan latihan alang rintang di halaman bagian belakang ORDE, sedangkan Harry lebih memilih mengelilingi sekliling gedung ORDE sambil lari pagi diselingi streeching ringan. Untuk mereka yang memang telah menjadi anggota tetap tidak ada keharusan latihan fisik yang cukup melelahkan. Seperti saat mereka dahulu baru memasuki pelatihan. Harry melihat Phoenix kesayangan Dumbledore muali ber'patroli' pagi ini. Baru selesai dengan hitungan ke seratus push-up-nya Harry memutuskan untuk berkeliling sekali lagi. Baru setelah itu bersiap untuk pekerjaan hari ini. Jika tidak ada tugas mendadak, Harry yakin seharian ini hanya akan habis dengan berkutat bersama laporan-laporan yang terbengkalai selama ia menginap di rumah sakit. Ah ya.. Ia punya rahim sekarang.. Harry seringkali nyaris lupa. Jika bukan karena terkdang ia masih merasakan panas dingin di tubuhnya, juga mood-nya yang berubah-ubah. Harry yakin ia pasti lupa.
"Heh.." ia memutuskan kembali saja, yang ia tahu olahraga berat tidak bagus untuk rahim. Yah..itu pada wanita tidak yakin soal pria. Tapi, ia rasa sama saja.
"Harry.." leher Harry bergidik. Ia kenal betul siapa yang memanggil nama depannya itu. Ia mengurungkan niat untuk membuka pintu. Tapi tak berhasil mengumpulkan keberanian untuk menatap orang itu.
"Aku ingin bicara, berdua saja, bisa?" suara rendah Draco Malfoy selalu sama di gendang telinga Harry.
Lelaki berkcamata bundar itu meneguk ludah, baru berbalik kemudian, "Sekarang?" wajahnya sedatar mungkin.
"Kalau kau tak keberatan? Atau mau lain waktu tak masalah... Aku akan menunggu.." Harry menggeleng. Ia beranikan diri mengadu pandang dengan kilau abu itu.
"Mau jalan-jalan?" ungkapnya sambil menyemat senyum tipis yang nampak canggung.
-o0o-
Di sebuah taman sepi di sebuah bukit mereka duduk di bangku taman, ini pertama kalinya Harry datang ke tempat ini,
"Bagaimana, kau suka tempat ini? kalau kita jalan ke arah kanan, disana ada sebuah danau yang sejuk," kata Draco.
"Ya, aku sangat menyukainya Draco," jawab Harry. Tanpa sadar Harry memanggil Draco dengan nama kecilnya.
"Well...aku tahu kau masih marah padaku...tapi, aku...aku sudah tidak tahan lagi untuk menahan perasaan rinduku padamu Harry, cukup tiga tahun dan waktu yang lalu aku merasakan perih dan sakit karena aku tidak bisa menyentuhmu, memelukmu...aku benar-benar minta maaf dengan semua yang telah aku lakukan...aku...aku..." Draco tidak dapat mengatakan apa-apa lagi, dia menggigit bibir bawahnya dan kristal-kristal bening meluncur bebas dari mata abu Draco.
Harry melihat dan merasakan semua yang Draco katakan tulus tanpa kebohongan, Harry sedikit bingung untuk mengatakan apa...tapi dia teringat kata-kata Akira ketika mereka sedang diatap dan diapun tersenyum tipis.
"Draco, apa kau mau berjanji padaku?" tanya Harry.
"Apapun...apapun itu Harry," jawab Draco parau, ok kalau ayahnya melihat dia pasti langsung dicoret dari keluarga Malfoy.
"Aku ingin kau berjanji padaku untuk selalu berada di sisiku, dan jangan pernah berbohong lagi padaku...aku tidak mau ada kebohongan lagi," pinta Harry.
Draco mengusap air matanya dan memeluk Harry, "Tentu...tentu...Harry! aku akan melakukan apapun yang kau pinta, Love," kata Draco.
Harry meneguk ludah. Rasanya sedikit gila tiba-tiba memaafkan Draco sebegini mudahnya. Ok, mungkin bagi orang lain perasaan tarik ulur Harry sama sekali tidak mudah. Tapi sungguh, masih ada ganjalan besar dalam perasaan Harry. Mau apapun janji Malfoy muda ini sebenarnya tak sungguh-sungguh ia percayai. Mungkin efek pernah dikhianati. Tapi apa dia punya pilihan lain selain mempercayai pria ini? Tidak. Sama sekali tidak dengan rindu yang menjejalkan otak Harry pada fantasi-fantasi di luar nalar. Maka Harry biarkan. Harry yang berjanji pada dirinya sendiri. Jika nanti Draco membohonginya lagi, jika nanti ternyata semua ini hanya sekedar bualan tak berarti. Harry berjanji untuk tak menangis, dan berjanji untuk tak akan sedikitpun menerima Draco lagi. Terakhir sudah cukup menyiksanya.
"Draco.." perlahan lengan Harry menyambung. Bersatu di belakang punggung pria itu.
"Maaf.. Aku bodoh.." Draco merenggangkan pelukannya. Ia menggeleng sambil tersenyum. Sisa-sisa basah dari pecahan air di mata abunya nampak seperti bening embun.
"Kau hanya terlalu keras kepala..." lalu bibir Draco menyentuh pelipis Harry. Sedikit terasa gemetar Harry saat merasakan afeksi itu.
Draco berhenti, "Kurasa sebaiknya kita masuk.. Kau pasti banyak tugas hari ini.." ia mengacak rambut Harry. Maka lelaki berkcamata itu membiarkan sang pewaris nama Malfoy menuntunnya mendekati gedung ORDE. Cukup lumayan jaraknya dari sini. Harry sebenarnya jarang berkeliling, malah Draco duluan yang tahu tempat ini.
"Draco?"
"Hmm?" Harry memperhatikan ritme langkah Draco yang memelan setelah panggilannya barusan. Harry menggandeng lengan Draco, bergelayut manja pada lengan pria itu. Ada beban yang terlepas. Namun, masih sedikit bersisa keraguan yang mengganjal. Tidak masalah, toh Harry sudah berjanji pada diri sendiri. Bahkan jika Draco membohonginya lagi. Ia akan tetap mencintai pria ini. Dalam hening. Dalam diam yang tak membutuhkan tepi.
"Draki.." lalu pria berkcamata itu terkekeh melihat raut protes dari Draco.
"Love, jangan panggil aku dengan panggilan dari Parkinson itu...merinding tahu!" kata Draco pura-pura kesal.
"Hahahaha...Sorry, aku hanya ingin iseng padamu," kata Harry.
Draco tersenyum, di dalam benaknya dia bersumph untuk tidak membohongi dan menyakiti Harry, dan dia tahu dia tidak akan mengkhianati sumpah itu, karena dia seorang Malfoy.
Ketika suasana sedang romantis seperti itu dibelakang mereka muncul sosok jangkung berambut panjang, "Wow...dua sejoli telah kembali bersatu, ne Retsu," kata Akira lantang.
Retsu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Draco dan Harry melihat ke arah Akira, Harry merona sedangkan Draco mengerutkan keningnya.. dia masih kesal karena gagal mendapatkan info tentang klan Mamoru.
"Ck, dasar apa semua orang Jepang menyebalkan sepertimu?" kata Draco sinis.
"Waduh...aku memang orang Jepang tapi aku keturunan Eropa juga looohhh..." kata Akira.
"Master, sekarang waktunya anda menemui Dumbledore, jangan telat! Mamoru tidak akan telat, master," kata Retsu memperingatkan masternya yang jarang serius itu.
"Uuhh...ok, sampai jumpa lagi Rubah dan Ular," kata Akira sambil pergi diikuti Retsu.
"Apa-apaan pria itu? Rubah dan ular? Cih.. Kekanakan sekali panggilannya?" Harry merengut bingung dengan mood Draco yang langsung berubah.
"Lalu kau ingin dipanggil apa? Spongebob dan patrick?" Harry berceloteh sendiri meninggalkan Draco yang makin kesal bukan main.
"Harry! Spongbob dan patrick itu bukan gay!" protes Draco tidak penting.
Tidak masalah, yang terpenting saat ini, Draco akan selalu menyusul kemanapun langkah Harry. Tidak akan lagi membiarkan Harry berada dalam kesendirian. Ia tahu dari Hermione bagaimana Harry bersikukuh bahwa ia masih hidup. Bahkan jika saat itu Draco sudah matipun. Ia akan melakukan apapun agar Tuhan mengijinkan ia kembali. Menemui Harry sekali lagi. Dan mengatakan sekelumit kalimat yang mungkin orang anggap gombal dan hiperbolis. Tapi Draco yakin hanya kalimat ini yang dapat menjabarkan perasaannya.
"Aku mencintaimu," dan Harry yang baru saja tersusul langkahnya langsung melajukan tungkai lebih cepat.
"Dasar genit.." komentar pria itu tanpa mau perduli dengan Draco yang sibuk terkikik geli.
Draco terkekeh dan mengejar langkah Harry, setelah di sampingnya Draco menggandeng tangan Harry lembut.
-o0o-
Harry dan Draco kini sudah ada di ruang anggota muda. disana tidak ada satupun anggota lain, hanya ada Yumi.
"Yumi, yang lain kemana?" tanya Harry sambil duduk di sofa di sudut ruangan diikuti Draco yang dudul disampingnya.
"Entahlah...aku baru saja selesai mengerjakan misi.." jawab Yumi.
"Ah begitu...ng Draco..."
"Yes, Love."
"Jangan nakal!" Protes Harry sambil berusaha melepaskan tangan kanan Draco yang memeluk pinggang Harry possesive.
"Tidak mau Love...aku ingin seperti ini," tolak Draco.
Harry pasrah dan menyenderkan kepalanya di pundak Draco.
Yumi sepertinya punya ketertarikan berlebihan pada senjata. Itu bisa disimpulkan dengan mudah. dan Harry mensyukuri itu sehingga gadis itu nampaknya tak begitu perduli dengan sikap Draco yang biasanya akan mengundang rasa risih.
"Bukankah kau ada misi dengan Blaise?" Harry berusaha mengalihkan perhatiannya dari gerakan-gerakan halus di pinggangnya. Draco menggodanya, semua orang yang bisa melihat tentu mengetahuinya. Harry yakin protes juga cuma akan membuat suaranya masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Memental keluar.
"Misi mendadak, ini misi yang berbeda," Harry memasang tampang lega artinya menjurus ke kasus ke keterangan itu.
"Ng...Harry...apa..apa..kau bisa memberitahuku...sebenarnya Blaise itu seperti apa?" tanya Yumi sedikit ragu.
"Ah hmm...dia itu orang yang tegas, disiplin, aga ketus sih kalau belum mengenal dekat dirinya...well..itu menurutku," jawab Harry.
"Ck...begitu ne..." gumamnya.
Ketika itu Ken masuk, "Ah, Ohayou Yumi-chan..."
"Hn, ohayouuu..." jawab Yumi lesu.
"Naze anata wa sono josei no yō ni furagudesu ka?" tanya Ken.
"Sore wa, Ken daijōbudesu."jawab Yumi.
"Kono josei no yōna ijō ni mukiryoku." kata Ken yang memang khawatir.
"Sudahlah Ken, aku tidak apa-apa hanya lagi bad mood saja...kadang kau bawel banget tau," jawab Yumi aga kesal. ya, kesal... mau bagaimana lagi, tadi pagi sebelum ia mengerjakan misi pertamanya dia ditegur-dimarahi-oleh Akira tentang sikap ke-propesionalannya dia dalam bekerja lalu sekarang ditambah cerewetnya Ken...sempurna membuat mood-nya buruk.
Raut yumi berusaha dibuat sedatar mungkin. Ia tahu ia bagian dari klan Mamoru. Anggota ORDE pula. Tidak seharusnya ekspresinya mengaksarakan segala isi hatinya dengan begitu jelas.
"Dimana kakak dan Akira-sama?" Yumi berusaha bertanya hanya sekedar untuk mengalihkan emosinya. Harry memperhatikan ekspresi Yumi itu. Membuat Draco merasa diabaikan. Ia memang masih merasa canggung untuk memulai percakapan. Draco juga merasakan gelombang kegugupan menyebar kepada seluruh tubuh Harry. Ia masih menjaga jarak, Draco tahu persis itu. Meninggalkannya tiga tahun dan membohinginya selama itu? Sudahlah..Draco tahu ia pantas dihukum. Ken mengeluarkan coklat bermerk M&M. Melemparnya ke udara terlebih dahulu sebelum menangkapnya dengan mulutnya. Ketepatan yang mengagumkan. Namun, tetap saja tak menjawab sebenarnya kemampuan apa yang dimiliki lelaki ini.
"Mungkin..mm.." ujar Ken sambil mengunyah coklat. "Sedang kencan...Aww!" Yumi sengaja melewati Ken sambil menginjak kakinya. Lalu menggebrak pintu saat keluar. Bantingan yang cukup untuk membuat Harry sedikit beringsut mengamankan diri pada Draco. Gerak refleks sepertinya. Tapi Draco senang bukan main karenanya.
"Cih.." Ken memandang tak suka ke arah pintu. Mengeluarkan lagi coklatnya dan melemparnya lagi ke langit-langit. Menangkapnya dengan tepat sekali lagi. Dan melangkah keluar tanpa pamit.
"Ada apa dengan orang-orang Jepang itu?" Harry mengendikan bahu, dan seketika sadar untuk segera menjauh. Merapikan pakaiannya. Dan merasa harus segera pergi dari situ. Menghindari Draco. Sesuatu membuat Harry menahan hatinya untuk sepenuhnya mempercayai Draco kembali.
"Aku yakin kau akan punya banyak pekerjaan hari ini, Mr. Malfoy.." Harry dapat mendengar Draco mendesah putus asa.
"Baiklah..." Draco mengecup puncak kepala Harry, dan berlalu pergi.
"Aku pergi Harry, oh ya jangan lupa minum tonikmu," kata Draco sebelum dia pergi untuk menjalankan misinya. ketika Draco pergi Harry kembali merasa kosong, entah mengapa dia masih belum bisa menghilangkan perasaan ganjil yang tadi dia rasakan.
-o0o-
Grimmauld Place 12, Regulus masuk ke ruang tengah dan mendapati Sirius sedang menonton tv di sofa panjang ruang tengah, dia segera duduk disampingnya dan memeluk lengan Sirius.
"Ada apa Reggy?" tanya Sirius lembut sambil menatap adiknya itu.
"Nghh...Siri, Apakah kita beritahukan Harry, beserta anggota lain kalau kita memiliki hubungan khusus?" tanya Regulus
Sirius melepaskan pelukan adiknya itu, membuat Regulus cemas. Tapi beberapa detik kemudian di telah berada dalam pelukan Sirius.
"Kalau kau siap kapan pun kita akan memberi tahu mereka Love...tapi kalau kau belum siap, jangan dulu," kata Sirius sambil membelai kepala Regulus.
Regulus menggelengkan kepalanya di dada Sirius, "Tidak Siri, aku sudah siap...aku ingin mereka segera mengetahuinya Love," kata Regulus mantap.
"Well, kalau itu mau mu, Love," Sirius melepaskan pelukannya.
Regulus tersenyum menatap kedua mata hitam Sirius, "Thanks, Love," ucap Regulus.
-o0o-
Sudah 14 hari kondisi tubuh Regulus menjadi aneh, kini dia kembali mengeluarkan apa yang telah dia makan dan membuatnya harus berbaring di kasurnya. Sirius duduk di samping adik-kekasihnya-itu.
"Love, masih pusing?" tanya Sirius.
"Yes, Love. Pusing dan perutku sangat mual," jawab Regulus lemas.
"Kalau begitu aku panggilkan medis yang menanganimu, Love. Jangan membantah." Kata Sirius.
Tidak lama kemudian dua orang dari para medis yang menangani Regulus datang dan memeriksanya.
" , hasilnya tidak dapat kami beri tahukan pada anda."
"Baiklah, lalu hasilnya kapan bisa saya ambil?" tanya Sirius.
"Besok pagi , kalau begitu kami permisi."
"Thank you," kata Sirius sambil mengantar para medis itu.
Beberapa menit kemudian Sirius kembali ke kamar Regulus dan duduk di sampingnya.
"Love, aku sakit apa?" tanya Regulus.
"Hasilnya akan keluar besok Love. Sekarang kau tidurlah," jawab Sirius sambil mencium kening Regulus lembut.
Regulus tersenyum, dia sangat menyukai perlakuan lembut yang diberikan oleh Sirius, setelah itu dia pun tertidur.
Besoknya Sirius datang ke rumah sakit dan mendengarkan hasil pemeriksaan yang membuat Sirius terkejut, bingung, senang bercampur dalam benaknya.
"Jadi...Regulus Hamil! ini tidak salah kan?" tanya Sirius.
"Ya , kami sudah memeriksanya berulang kali."
"Bisa periksa sekali lagi?" Sirius tahu pasti terdengar aneh meragukan berita gembira ini. Tapi pikirannya mendesaknya untuk memastikan sekali lagi. Ini terlalu baik, Regulus yang bisa hamil. Regulus yang kini hamil. Memikirkan lelaki tecintanya itu hamil, kemudian melahirkan. Membuat Sirius merinding, bahagia tapi juga merasa terasing. Pasti rasanya akan unik. Mengingat mereka sama-sama lelaki.
"Daripada mencemaskan apakah hasil tes ini benar atau tidak, Mr. Black.." lelaki dihadapnnya menarik nafas panjang. Ia dan Sirius terpisah sebuah meja kerja sang dokter. Meja kayu yang nampak minimalis dan dinamis. Nampaknya dokter ini cukup terinspirasi dengan pengobatan Cina, melihat beberapa ornamen, dan rempah-rempah khas toko obat Cina ada di atas meja dan rak berkasnya.
"Ada yang lebih harus anda khawatirkan.." ujar sang dokter hati-hati.
Dahi Sirius mengernyit tidak mengerti, "Ada sesuatu yang salah?" sang dokter tak buru-buru menjawab.
"Perkembangan organ reproduksi tuan Regulus cenderung belum mencapai sempurna. Organ miliknya bisa kita samakan dengan anak perempuan usia 13 tahun, anda mungkin bisa menghamilinya. Tapi kita tahu sulit sekali untuk bertahan. Kami sebelumnya tak memperkirakan ini."
Sirius dapat mendengar jantungnya berpacu tak karuan. Batinnya memberontak marah. Dia bilang apa? Anak perepmpuan 13 tahun? Sulit untuk bertahan?! Tidak memperhitungkan?!
"Maaf, Mr. Black. Kami mengikuti perkembangan Mr. Potter dan kami menemukan hal yang sama. Perkembangan organ reproduksi 'wanita' mereka melambat. Namun tidak menyangka tuan Regulus mengalaminya juga dan bahkan lebih parah. Saya sudah mengatakan bahwa seharusnya Mr. Black berkonsultasi terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk hamil.."
Jemari Sirius mengusap rambut hitamnya. Berharap sedikit syaraf-syarafnya yang tegang lebih rileks setelahnya.
"Lalu? Sebaiknya apa yang saya lakukan?" mata khawatir bukan main milik Sirius bertemu pandang dengan raut simpati sang dokter. Sirius tahu, jika dokter menunjukan rasa simpatinya pada sang pasien. Berarti keadaannya benar-benar buruk.
"Saya menyarankan perawatan intensif di rumah sakit. Selama triwulan pertama kira-kira. Jika setelah masa rawan teratasi, Mr. Black bisa menjalani aktifitasnya kembali," sang dokter tersenyum tenang. Wajahnya yang cukup menarik ditambah kecerdasan adalah modalnya untuk meyakinkan pasiennya. Agaknya Sirius pun terpengaruh dan berusaha berfikiran positif akhirnya. Tidak akan terjadi apa-apa. Pikir Sirius. Mensugesti pikiran-pikiran negatif yang berseliweran di kepalanya.
-o0o-
Tidak lama kemudian Sirius pulang ke Grimmauld Place. Dia langsung menuju kamar Regulus dan melihat adiknya itu sedang membaca buku. Sirius mendekatinya dan duduk disebelah dia.
"Kau itu selalu buku yang menjadi perhatianmu huh," ucapnya sambil mencium bibir Regulus lembut.
"Love, bagaimana hasilnya?" tanya Regulus.
Sirius menghela napas, "Kau Hamil Love...tapi ada kabar 'aga' buruk, kata mereka perkembangan organ reproduksimu masih melambat dan rentan. Mereka menyarankan untuk perawatan intensif di rumah sakit. Selama triwulan pertama. Jika setelah masa rawan teratasi kau bisa menjalani aktifitas seperti biasa," jawab Sirius.
"Perawatan...intensif...hmm...tidak masalah Love, selama mereka memutuskan untuk tidak mengugurkan kandungan ini...aku lebih baik mati, daripada harus kehilangan janinku...yang juga bukti cinta aku dan kau Love," kata Regulus sambil mengelus perutnya yang masih rata. Sirius memeluknya.
-o0o-
Harry sibuk dengan berkas-berkas untuk melengkapi laporan misi milik divisinya. Mengacak rambut beberapa kali, ada beberapa berkas yang kurang ia pahami. Sepertinya misi saat ia dirawat. Harusnya ia menahan seseorang untuk ia mintai bantuan. Tapi semua agen muda sibuk hari ini. Nampaknya, pemerintahan Inggris mulai melimpahkan banyak kasus untuk diselidiki ORDE. Yah.. Meskipun swasta kenyataan bahwa ORDE berdiri di Inggris jauh lebih menenangkan daripada harus bekerja sama dengan FBI atau CIA,yang notabene -setuju atau tidak- milik Amerika.
"Gerilyawan..." si kacamata bulat itu mengetik data. "Tewas..." merengut, merasa ada yang tidak sinkron dengan data. Ia kembali membaca ulang. Laporan Ron yang sering bermasalah, tidak heran Hermione sering sekali uring-uringanan. Harry tanpa sadar tersenyum mengingat sepasang kekasih itu. Tidak tahu awalnya dari mana juga dua sahabat Harry itu ternyata punya perasaan yang lebih dari sekedar teman. Sekarang senyum di bibir tipis itu makin melebar. Mengingat pertengkaran-pertengkaran konyol yang sering tejadi antaar keduanya. Berakhir jika bukan Ron yang mengalah, Hermione yang angkat tangan. Tapi pada dasarnya keduanya sama-sama pengertian.
Hmm.. Yah..pengertian.. Harry menggumamkan kata terakhir di relung batinnya. Apa itu yang tak ia punya untuk Draco? Sebuah pengertian bahwa apa yang dilakukan Malfoy muda itu seutuhnya untuk masa depan Harry juga...?!
"Akh.." Harry mengerang kecil dadanya terasa sesak. Mungkin kontraksi kecil atau apalah. Harry buru-buru menghampiri mantelnya yang tersampir di gantungan mantel. Mencari di saku sebelah kanan, sebuah botol bening, tonik Harry. Meminumnya dua tegukan. Harry baru ingat, ia lupa bertanya pada Dumbledore siapa yang membuatkan toniknya kali ini.. Harry tahu itu bukan Severus kaerna peneliti satu sudah nyaris tak bisa dihubungi beberapa waktu ini. Jadi? Dihubungi saja susah apalagi mengirim tonik, pasti orang lain. Mata emeraldnya menelusur pada berkas-berkas yang bertumpuk di meja. Melirik jam dinding, sudah hampir makan siang. Mungkin ada baiknya ia temui Dumbledore dulu, baru istirahat makan. Setelah itu mulai bekerja lagi.
Setelah selesai, Harry langsung datang ke ruangan Dumbledore, "Sir, maaf mengganggu. Saya hanya ingin tahu...siapa yang membuat tonix untukku?" tanya Harry.
"Hmm...kenapa kau ingin mengetahuinya?" tanya Dumbledore.
"Aku hanya ingin tahu saja Sir," jawab Harry.
"Ah, begitu. Dracolah yang membuatnya khusus untukmu." jawabnya.
-o0o-
Langkah kaki Harry berderap. Ia tidak begitu memikirkan soal ternyata Dracolah yang membuatkannya tonik menggantikan Severus. Tidak masalah baginya. Dia juga sudah lupa soal kewajibannya pada perutnya yang sedikit keroncongan. Percaya tidak percaya ia juga nyaris melupakan berkas-berkas yang bertumpuk di mejanya. Sekarang satu-satunya yang ada di prioritas otaknya adalah uncle Regulus. Ia memutar memorinya beberapa menit yang lalu. Saat suatu alat komunikasi Dumbledore berbunyi dengan nada peringatan yang terkesan asing. Namun seperti ragu-ragu telepon itu berdering kemudian mati, kemudian berdering lagi. Kemudian mati. Lalu berdering lagi. Setelah beberapa saat mengira itu kerjaan orang iseng, Dumbledore dan Harry mulai menyadari itu sesuatu yang lain.
"Kode morse!" seru Harry menydarinya beberapa detik lebih lambat dibandingkan Dumbledore yang sudah berjalan tergesa ke arah benda telephon khususnya dengan Snape itu. Meraih bolpoin dan memo kecil, baru setelah itu menerjemahkan tiap interval nada sebagai sebuah huruf.
"R-E-G-U-L-U-S?" Dumbledore menggumam. Membuat Harry terlonjak kaget. Ia buru-buru mendekat. Ia membaca pesan yang ditulis Dumbledore.
"Bellatrix datang, Regulus dalam bahaya.. Tuan, apa maksudnya ini?" Dumbledore juga membiarkan ekspresi terkejut merambah wajahnya.
"Harry.. Semua anggota muda orde tengah bertugas bukan?" Harry mengangguk tidak sanggup bicara ditatapi cemas seperti itu oleh seorang Master Dumbledore.
"Sial.. Voldemort berarti mengetahui jadwal kita. Ia sengaja memilih hari dimana tidak akan banyak anggota ORDE yang menghalanginya. Artinya ada mata-mata dalam gedung ini.." manik mata hitam itu berputar ke seluruh ruangan, seakan memindai kalau-kalau ada sesatu yang asing. Lalu kepalanya menggeleng.
"Cepat ke kediaman Black Harry.. Aku mengandalkanmu.." dan tanpa membuang waktu lelaki berkacamata bundar itu buru-buru berlalu.
-o0o-
Mamoru Manor, "Apa! Regulus dibawa Bellatrix?!" kata Akira terkejut mendengar kabar dari bawahannya yang ada di ORDE.
"Iya master...saya akan mengikuti mereka jika diijinkan," kata suara dari ujung telepon.
"Ikuti mereka! hati-hati..." Lalu kira menutup teleponnya... dia kembali menyandarkan dirinya ke sandaran sofa kamarnya...dia teringat kejadian beberapa menit yang lalu. Akira mengambil HP-nya dan mengetik sebuah pesan kepada Ken untuk mengawasi keadaan ORDE. Setelah itu dia menyimpan HP-nya diatas meja.
"Kuso! sial kepalaku pusing," erangnya sambil memijat keningnya, selama ini dia tidak pernah memberitahukan siapapun tentang apa yang dideritanya, termasuk Retsu.
Akira mengambil botol obat yang selalu tersedia di saku jasnya, mengeluarkan satu butir tablet dan meminumnya.
-o0o-
Harry tidak tahu harus mengkonotasikan tempat ini dengan kata apa. Buruk? Tidak,ini mengerikan. Mayat berpuluh-puluh perawat dan juga pasien bergelimpangan di koridor rumah sakit. Halaman depan rumah sakit pun seperti dilempari granat. Harry tidak tahu itu bagian dari rencana mereka atau Bellatrix yang terlalu gila sampai seperti akan menghancurkan rumah sakit ini. Ada banyak lubang di tembok, juga lukisan serta vas hiasan yang rusak terkena tembakan. Harry harus menyingkirkan tubuh seorang perawat resepsionis dari atas komputer data untuk mengetahui kamar Regulus ada dimana. Baiklah, siapapun pasti akan berharap ketika ia hendak berkunjung ke rumah sakit untuk menengok seseorang ia hanya perlu bertanya pada resepsionis dan bukan memindahkan mayat resepsionis. Ada setidaknya tiga lantai yang harus Harry lalui menggunakan tangga dan di setiap lantai mayat-mayat bergelimpangan.
"Merlin!" Harry selalu merasa tercekik amis darah setiap kali mencoba meghirup udara. Ia sampai, "Paviliun orchid, 32"
Pintu kamar itu sedikit terbuka, kecil sekali harapan kalau unclenya belum terjamah. Daripada menyentuh kenop pintu yang terpuncrati darah Harry lebih memilih menendangnya sambil menyiagakan senjata. Sesuai dugaan, kosong.
"Akkh.." sebuah suara erangan. Harry mendekati ranjang ini itu, berputar ke sisi kanan.
"Dokter!" Harry mngenali pria itu sebagai salah satu dokter yang bertanggung jawab selama ia dirawat sebelum paramedis dari klan Mamoru mengambil alih peranannya.
"Merr..uhuk..ka.." Harry mendudukan lelaki itu hati-hati. Meraih sapu tangannya dan mencoba menghentikan darah yang mengalir melalui pelipis kiri sang dokter, nyaris saja merobek cerukan matanya.
"Apa mereka mengatakan akan membawa uncle Regulus ke mana?" Harry berusaha agar suaranya keluar setenang mungkin. Ia meraih handphone di saku celananya dan memanggil nomor darurat. Nomor klan Mamoru.
"Hallo? Master Harry andakah itu?" suara Retsu, sedikit berterimakasih pada Tuhan bahwa bukan Akira yang mengangkatnya Harry melanjutkan bicara.
"Aku ada di rum-"
"Kami tahu, tuan Regulus dibawa paksa bukan? Kami baru saja mengirimkan orang untuk mengejarnya. Namun, laporan lima menit yang lalu mengatakan mereka kehilangan jejak."
Harry menahan nafas, "Baiklah.. Tak apa, kita akan cari informasi lanjutannya nanti. Sekarang bisa kirimkan para medis kemari. Aku tidak yakin tapi kurasa ada beberapa korban selamat disini."
Setelah mendengar persetujuan, Harry membawa dokternya untuk naik ke atas ranjang milik Regulus. Harry hendak pergi mencuci tangan dan mencari peralatan untuk menjahit luka sang dokter. Namun tangannya ditahan oleh lengan milik lelaki itu.
"Ya?" Harry menunggu lelaki itu yang seperti hendak mengetakan sesuatu. Lalu kemudian berinisiatif mendekatkan telinganya, "Anak-anak hijau.." lirih sang dokter namun terdengar cukup jelas. Detik berikutnya sang dokter tak sadarkan diri. Harry buru terlonjak dan sebisa mungkin memastikan denyut nadi san dokter. Masih ada. Hanya sangat lemah.
Tanpa pikir panjang Harry membuka pintu dan mendorong ranjang inap itu untuk keluar menju ruangan gawat darurat yang Harry lihat sekelebatan di lantai bawah. Ia harap ruangan itu tidak ikut menjadi korban penghancurleburan Bellatrix.
Sambil setengah berlari dan kadang-kadang berhenti untuk menyingkirkan tubuh-tubuh yang bergelimpangan di tengah koridor, Harry mulai berfikir soal kalimat terakhir dokter muda itu.
"Legenda anak-anak hijau dari sebuah catatan kontemporer Inggris sekitar tahun 1189, chronicum Anglicanum. dan..." Harry berusaha memutar lebih banyak memori di otaknya yang setengah panik, setengah teralihkan oleh kondisi sang dokter yang semakin kritis.
"Ouh! Aku ingat 'anak-anak berkulit hijau' juga muncul dalam karya uskup Francis Godwin.." tapi Harry melewat bagian-bagian itu, yang ia butuhkan adalah nama tempat. Tempat dimana legenda itu berawal. Begitu sampai di depan pintu gawat darurat ia menemukan tubuh seorang suster yang tergeletak tepat di depan pintu. Ia mengenakan sebuah baju sulaman hangat, dari wol. Itu cukup untuk menyegarkan ingatan Harry.
"Woolpit di Suffolk!" Harry mengingat nama tempat itu dan berikutnya ia mendengar derap kaki beberapa orang Asia mendekat. Pasti utusan klan Mamoru, pikir Harry. Ia pun hanya menjelaskan sedikit keadaan rumah sakit itu dan buru-buru mencapai mobilnya. Ia akan mengejar Bellatrix. Harry tidak tahu apa yang hendak dilakukan wanita itu sampai harus membawa Regulus jauh dari London. Tapi itu pasti buruk. Ia mengirim pesan ke seluruh agen muda ORDE, sekedar memberitahu ia pergi. Bukan permintaan bantuan. Namun, jemari Harry ragu-ragu mengklik tombol send saat alat komunikasinya berhenti pada nama kontak Draco Malfoy. Ia menggeleng lemah, tapi akhirnya mengirimkannya juga.
Harry hanya berharap ia bisa kembali pulang dengan selamat bersama uncle Regulusnya. Bisa bahaya kalau ia membuat Malfoy junior itu menduda sebelum ia benar-benar kembali percaya sepenuhnya pada lelaki itu.
ToBeContinued
Translate :
~災害の始まり!(Saigai no hajimari!) = permulaan sebuah bencana!
~ O nīchan wa, subete no kōzan wa atarashī apāto ni mochikomanakereba naranai nodesu ka? = Apakah aku mesti membawa barang-barangku ke apartemen baru?
~ Hitsuyō wa arimasen. Anata wa soko ni imasu. = Tidak perlu. Kau akan tetap tinggal disana.
~ Sō, subete no kenri. HAAH... Don'yori to shita hi, nani mo omoshiroi, NII-chan mo shimasen? = Begitukah, baiklah. Haah…. Hari yang membosankan, apa tidak ada yang menyenangkan nii-chan?
~ Zan'nen'nakotoni, imōto-chan. = Sayang sekali tidak ada, imouto-chan.
~ Anata wa jūbun ni warui ketsujō.= kamu cukup menyebalkan nona.
~ Gurīn wa orokana damare! = diamlah hijau bodoh!
~ Yumi wa arai sore no yō ni hanashi o shinai. = Yumi jangan bicara kasar seperti itu.
~ Sore wa anata ni ryōhō suu shidaidesu. = terserah kalian berdua menyebalkan.
~ Uzai! Naze kare to issho ni motte iru? Yoi hitori de! = menyebalkan! kenapa harus bersamanya? lebih baik seorang diri!
~Anata wa, kanjadenakereba naranai. Sonoyōni monku o iwanai! Shikashi, koreha sagyōdesu. Atode jobu ga okonawanode shippai shimashita. = kau harus bersabar. jangan mengeluh seperti itu! bagaimanapun ini adalah tugas. nanti tugas yang dikerjakan jadi gagal.
~ J'adore Regulus =Aku mencintaimu Regulus (bahasa Perancis)
si je n'ai, Je t'aime de toute mon âme, Sirius. = begitu juga aku, aku mencintaimu dengan seluruh jiwaku, Sirius.
~ merci, mon amour. Je suis content que vous avez l'embarras.
Je t'aime. = terima kasih, cinta. aku senang kau cinta padamu.
~ Pas de problème, mon cher. Je t'aime aussi= tidak masalah, sayang. aku juga mencintaimu.
~ Naze anata wa sono josei no yō ni furagudesu ka? = kenapa anda lesu seperti itu nona?
~ Sore wa, Ken daijōbudesu. = tidak apa-apa, Ken.
~ Kono josei no yōna ijō ni mukiryoku. = tidak seperti biasanya nona lesu seperti ini.
A/N :
Astia Aoi : Huwaaa….panjang and banyak bahasa asingnya . kalau ada yang salah saya mohon maaf karena saya sebagian minta tolong mbah google translate, ada beberapa alasan memakai bahasa asing. Mohon maaf kalau LEMON-nya kurang HOT! Mohon maaf apabila ada kesalahan, akhir kata TERIMA KASIH MEMBACA DAN TOLONG R.E.V.I.E.W!
Raya Salimah : Ampuuuuun! Rate M..XDD... bukan saya loh yang bikin...*tunjuk2 kak Aoi*... Maaf yang kemarin ga ada catatan dari saya... biasa kelas 3..kita bergelut dengan lembar jawaban UN yang kertasnnya jelek luar biasa! Agh! ya sudahlah.. daripada saya curhta soal UN yang kacau balau tahun ini, dan kinerja kemerntrian pendidikan yang tidak profesional... saya mau tanya gini deh.. menurut anda para pembaca kami berdua lebih enak nyimpen translate bahasa asing dimana? Di akhir part kayak yang chapter sekarang? Atau lebih enak tulis di belakang kalimatnya pake kurung,jadi pembaca bisa langsung tahu artinya... soalnya kayaknya ff ini bakal pake beerapa kalimat bahasa asing lagi ke depannya... Dan akhir dari author note saya yang selalu dua kali lebih panjang dari kak Aoi *maklum saya cerewet soalnya*... Maaf jika ada kesalahan pengetikan atau seseutau yang tidak berkenan di ff ini.. Silahkan review untuk perbaikan ff ini... Dan buat anda yang sudah me-review ff ini, jangan lelah untuk meninggalkan satu dua kata buat kami,ok?*tapi jangan bener2 satu atau dua kata doang ok?-_-b... yah intinya mah review lah... #Keep Calm and Love DraRry...
