Disclaimer : Harry Potter belong to J.K Rowling and even this story was practically written by my friend.

Well. aku mengalami writer's block krisis sejak beberapa minggu yang lalu. Karena itu aku meminta temanku untuk menuliskan chapter ini karena aku benar2 ingin menyelesaikan cerita ini.

AKu benar-benar berterima kasih pada DraffGrifBima yang udah nulis chapter ini. Dan udah memberiku banyak-banyak inspirasi.

Jika benar-benar cermat para pembaca akan tahu bagian mana yang ditulis olehku(dan itu sedikit sekali) dan mana yang ditulis oleh DraffGriffBima.

Thanks for reading this story and everyone who reviewed and stick with this story (Uuh..GR...). Keep waiting for the next chap.


Berikut adalah daftar pemain-pemain Quidditch

Disclaimer: Nama-namanya juga dibuat oleh DrafGrifBima (Thank you very much)

Chuddley Cannons

Beater: - Rahul Khan

- Jacob Johnston

Chaser: - Ginny Malfoy

- Franciscka Elvira

- Leonardo Michael Faraday

Seeker: Elena Evpraksiya

Keeper: Oliver Wood

Puddlemere United

Beater: -Tom Walter

- Antonio Arsenios

Chaser: - Mongkut Klahan

- Ethan Oleander

- William Wright

Seeker: Manuel Young Seok

Keeper: Albert Erol

Wasit : ROmanos Tadros


"Ron! Apa yang kau lakukan disini?"

"Well, aku disini untuk melihat adikku main, tentu saja. Lagipula, aku dan teman-temanku ini," Ron menunjuk sekumpulan temannya yang tersenyum dan melambaikan tangan pada Ginny,"tak akan pernah melewatkan pertandingan Chuddley Channons,"

"Bagaimana kau tahu tentang pertandingan ini, Ron?"

"Astaga Ginny, berita menyebar seperti udara sekarang ini. Lagipula, apa kau nggak melihat para reporter dan jurnalis diluar sana. Tentu saja aku tahu. Seluruh orang Inggris pun tahu, well, kecuali muggle,"

"Oke, oke, Ron aku mengerti garis besarnya. Jadi, apa yang kau lakukan disini?" Ginny hampir berteriak. Sekarang ia sedang berada di ruang ganti tim Chuddley Channons, menunggu pertandingan yang akan dilaksanakan beberapa menit lagi.

"Aku dan teman-temanku ini ingin memberi dukungan," jawab Ron santai,"Semoga sukses, guys!" Ron berteriak pada rekan setim Ginny, beberapa teman Ginny tersenyum dan lainnya meneriakkan terima kasih,"Nah, sudah kan. Jangan marah begitu, dong. Ara, Sebastian, Ferret, Harry, Hermione, James, Lily, Al, Luna, Aurora-"

"Oke, Ron, bisa langsung keintinya, kami sudah mau main,"

"Oke-oke, dik. Pokoknya, semuanya disini dan mendoakanmu berhasil,"

Ginny menelan ludah, tentu saja semuanya disini. Dia tidak mungkin mengharapkan setidak Ara atau Sebastian atau Malfoy tidak datang, padahal itu yang selalu diharapkannya. Tiba-tiba Ginny merasa berterima kasih pada kakak favoritnya itu dan memeluknya,"Thanks, Ron," ujar Ginny sungguh-sungguh.

Ron tersenyum,"Tak masalah. Kalau begitu kami pergi dulu,"

Ginny mengangguk dan menatap Ron dan teman-temannya pergi dari ruang ganti. Ginny menghela nafas dan berbalik menatap teman-temannya, mereka tengah siap-siap. Ada yang melakukan pemanasan, mengecek baju atau sapu mereka masing-masing. Tapi, mata Ginny menatap Oliver Wood yang duduk disalah satu bangku, tampaknya sedang memikirkan sesuatu.

Ginny berjalan mendekati Oliver, dan duduk disebelahnya,"Satu knut untuk pikiranmu?" ujar Ginny. (from a penny for your thought obviously :-)

Oliver berbalik menatap Ginny kemudian tersenyum,"Aku hanya memikirkan tentang musim ini. Kau tahu, ini musim terakhirku sebelum pensiun, aku ingin membuat musim ini...terkenang. aku tahu aku tidak sebaik dulu, dan dengan pertandingan dengan Puddlemere United yang tak terduga ini..."

"Hei," Ginny menepuk pundak Oliver,"kita akan memenangkannnya. Lihatlah mereka," Ginny menatap semua rekan-rekannya,"kau harus mempercayai mereka. Kita akan menang dan membuat musim ini selalu dikenang semua orang,"

"Thanks, Gin. Jadi?" Oliver menengadahkan tangannya ke arah Ginny, seperti meminta sesuatu, sambil tersenyum lebar,"mana satu knut ku?"

"Astaga, Oliver! Itu cuma bercanda,"

Oliver tertawa. Kemudian terdengar suara dari lapangan, meminta kedua tim untuk berkumpul. Oliver tersenyum dan berdiri mengulurkan tangannya ke arah Ginny,"Ayo," Oliver mengedikkan kepalanya ke arah lapangan.

Ginny menerima uluran tangannya sambil tersenyum. Oliver berjalan mendahului Ginny, meminta perhatian dari teman-temannya yang lain dan memulai pidato singkatnya. Yang memang benar-benar singkat,"Ayo teman-teman! Kita menangkan pertandingan ini!"

Ginny berjalan paling belakang, didepannya Oliver mendahului, sementara teman-teman yang lain berlari-lari kecil mendahului mereka berdua.

"Oliver tunggu!" seru Ginny dan berlari ke arah Oliver.

Oliver berhenti dan berbalik. Ginny menunjukkan sesuatu di tangannya pada Oliver,"Aku akan memberikan ini jika kita menang," ujar Ginny sambil tersenyum, memainkan logam satu knut ditangannya.

Oliver menyeringai dan mengenggam tangan Ginny, menghentikan Ginny dari terus memainkan uangnya,"Salah. Kau akan memberikannya ketika kita menang,"

"Kalau begitu kau harus menangkap semua bola, kapten," Ginny menarik tangannya dan memasukkan kembali uang logam tersebut,"Semoga berhasil," ujar Ginny dan berlari mendahului Oliver.


"Baiklah hadirin, inilah pertandingan yang kalian tunggu-tunggu. Pertandingan antar dua tim terkuat, Puddlemere United dan Chuddley Cannons. Seperti yang kita ketahui, musim lalu Puddlemere United dan Chuddley Cannons mendapat nilai seimbang. Apakah pertandingan kali ini akan berakhir sama atau salah satu dari mereka akan memenangkan pertandingan ini? Siapa yang tahu." Seorang pria separuh baya dan berjanggut tebal berkomentar di bangku stadium, tubuhnya kecil dan gendut, wajahnya seperti paman Vernon tapi dengan tubuh agak kecil.


Di bangku VVIP terlihat Harry, Hermione, keluarga Weasley (Ron dan Luna), anak-anak, bahkan Draco Malfoy. Mereka mersorak-sorak kecil, kecuali Hermione dan Draco.

"Aku yakin Mum pasti akan menang." Kata Sebastian nyengir kepada anak-anak yang lainnya

"Tentu saja, Bibi Ginny adalah Chaser terhebat didunia, ia tak mungkin terkalahkan." Sorak Greyson riang.

"Ya, dia Chaser yang cukup cakap sejak dia di sekolah. Kami selalu berlatih bersama, kami bertanding bersama bahkan ia pernah menjadi pacarku,jadinya aku yakin ia akan memenangkan pertandingan ini." Komentar Harry, di sebelahnya Hermione mencubit perutnya. "AWW! Ada apa!" Gerutu Harry sambil mengusap perutnya. Ia memandang Hermione, mata Hermione memandang tajam pada Harry. Cemburu.

"Bisakah kalian tenang sedikit? Pertandingan akan dimulai." Bentak Draco pelan, terlihat pandangan cemburu dimatanya.


"Mari kita sambut pemain dari Chuddley Cannons… Wood, Khan, Johnston, Malfoy, Elvira, Faraday, dan Evpraksiya!" Jerit si komentator. Bulu kuduk Ginny merinding ketika mendengar nama Malfoy.

Para pemain Chuddley Cannons keluar dengan sapu terbang mereka masing-masing. Ginny yang gugup menghela nafas ketika ia berada di tengah lapangan.

"Dan kita sambut pemain dari Puddlemere United. Erol, Walter, Arsenios, Klahan, Oleander, Wright, dan Manuel!" Jerit si komentator lagi "Dan sembut wasit pada pertandingan kali ini, Romano Tadros dari Italia." Seorang pria yang umurnya berkisar 30an keluar dengan membawa sekotak peti yang isinya tentu saja dua Bludger, sebuah Quaffle, dan Snitch emas. Saat peti itu dubuka Snitch emas meluncur keluar dan terbang bebas.

Ginny bersiap di tengah lapangan berhadapan dengan Mongkut Klahan, seorang Chaser dari Thailand, tubuhnya jangkung kurus, rambutnya seperti Mike Tayson dengan mata coklat kelam.

"Hati-hatilah Ginny, Klahan memang seperti itu, tapi ia Chaser yang handal." Bisik Oliver Wood sebelum meluncur ke gawangnya. Ginny baru ingat jika dulu Oliver Wood pernah bermain untuk Puddlemere United.

"SIAP!" Teriak Romano Tadros dengan aksen Italianya yang jelas. Ginny bersiap untuk menangkap bola yang dipegang oleh Tadros. "PERTANDINGAN DIMULAI!" Teriaknya keras. Dengan cepat Ginny berusaha untuk mengambil Quaffle tapi sayang si Quaffle terlebih dahulu dirampas Klahan, dia terbang bebas menuju ke gawang yang dijaga Oliver Wood. Klahan melempar Quaffle ke gawang tapi sayangnya berhasil digagalkan oleh Oliver.

Ginny berhasil merebut Quaffle yang lepas sedangkan Rahul dan Johnston sibuk dengan Bludger agar tidak mengenai pemain Chuddley Cannons. Dengan gesit Ginny melewati pemain-pemain Puddlemere United. Ia melemparkan Quaffle ke gawang dan MASUK! Satu sekor untuk Chuddley Cannons.


Keluarga Weasley, Potter, dan Malfoy bersorak gembira, bahkan Draco berdiri dari kursinya dan bertepuk tangan sangat keras. "Itu Istriku!" Bisik Draco pada dirinya sendiri, tapi Sebastian dan Ara bisa mendengarnya dan nyengir pada ayahnya.

"Itu Ibu kami." Kata Sebastian dan Ara serempak, yang lain tersenyum.


Terjadi perebutan Snitch emas yang dahsyat antara Elena dan Manuel. Mereka terbang sangat dekat karena tak satupun dari mereka ingin kalah, well siapa yang ingin kalah dalam suatu pertandingan.

Di sisi lain Ginny, Leon, dan Fran berterbangan kesana kemari mengincar Quaffle dan tentu saja mengincar angka. Sekor sementara 30-40 untuk Chuddley Cannons.

Pertandingan berjalan seru, kedua tim terus memasukan angka, saling susul menyusul. Sampai sekarang Skornya 130-150 untuk Chuddley Cannons.

"Kita berhasil unggul 20 angka. Jika kita bisa mendapat Snitch emas kita akan menang." Komentar Rahul yang keringatnya bercucuran ke seluruh tubuhnya,ia seperti tercebur ke dalam sungai yang deras dan membasahi seluruh bajunya.

"Konsentrasi pada Bludgernya Rahul!" Bentak Leon dan Johnston bersamaan.

"Oke-oke."

"Tapi sepertinya Elena mendapat sedikit kesulitan menghadapi Manuel Young Seok. Pertandingan yang kemarin Manuel Young Seok mendapat Snitch emasnya karena Elena mendapat cidera parah, tapi pada akhirnya kita mendapat nilai seimbang kan." Kata Fran pada Ginny.

"Oh." Hanya itu yang Ginny bisa katakan. Seluruh tubuhnya berkeringat. Ia tak pernah secapek ini saat bermain Quidditch. Beginikah permaianan Quidditch profesional itu? Sangat melelahkan kata Ginny dalam hati.

Pertandingan berlangsung seru dengan sekor 180-180, sebelum terdengar peluit tanda istirahat.

"Wiuh! Benar-benar pertandingan yang melelahkan." Teriak Rahul

"Puddlemere United benar-benar tim yang sulit untuk dikalahkan. Kalau kita salah sedikit saja itu berarti peluang besar untuk mereka." Kata Leon dengan nafas tersenggal-senggal.

"Ia masih seperti dulu, si Mingkut Klahan itu." Kata Oliver dengan senyum lebar.

"Hm, kenapa kau tersenyum Oliver. Gawangmu dibobol habis-habisan oleh si Mongkut Klahan itu, kau malah tersenyum." Protes Johnston yang terbang di dekat Oliver.

"Tidak, aku hanya ingat waktu aku masih di Puddlemere United. Saat pertama masuk Puddlemere United ia seperti manusia dari dunia lain, perilakunya sangat aneh, seperti manusia hutan. Tapi ia adalah seorang Chaser yang berbakat. Bakat alam mungkin." Jelas Oliver

"Jadi maksudmu kau tak akan menang melawan orang Thailand itu?" Ejek Johnston dengan muka sinis, marah dan kelelahan.

"Tidak. Aku tak akan biarkan ia memasukan satu gol lagi ke gawangku." Sahut Oliver dengan pandangan penuh hati yang ia tujukan untuk Ginny. Ia meluncur kebawah untuk istirahat.

Di tempat istirahat Chuddley Cannons Elena hanya diam saja dan meneguk airnya.

"Ada apa Elena, kau sejak tadi diam saja. Apakah kau masih menyesal atas kesalahanmu sewaktu berebut Snitch emas dengan Manuel Young Seok pada pertandingan kemarin?" Tanya Fran yang duduk di dekat Elena.

"Tidak, tapi aku hanya merasa ada yang aneh dari permainan si Manuel Young Seok itu. Ia tak seperti kemarin, cara bermainnya beda, ia terus menguber-uberku, mencoba menjatuhkanku, dan anehnya lagi ia seperti tak mengincar Snitch emas." Jawab Elena dengan nada bingung campur marah, semua pemain Chuddley Cannons memandangnya.

Oliver memandang Elena dengan raut serius, "Aku tak tahu apa yang kau maksud dan apa yang terjadi, tapi aku yakin Puddlemere United merencanakan sesuatu." Ucap Oliver pada Elena Evpraksiya.

Tiba-tiba saja sebuah tangan mendarat lembut di kepala Elena, dan yang mempunyai tangan itu adalah Leonardo Michael Faraday, seorang pria muda yang sangat tampan dan tenang.

"Jangan khawatir, kau pasti akan mendapatkan Snitch emas itu, karena kau adalah Seeker terhebat yang dimiliki Chuddley Cannons." Kata Leon lembut pada Elena dengan senyum hangat di bibirnya.

Entah mengapa tapi seketia muka Elena menjadi merah. "Makasih Leon" Balas Elena, tapi ia tak berani balas pendang dengan Leon. Dari bangku di belakang Leon dan Elena, Fran memandang Elena dan Leon dengan pandangan cemburu.

Beberapa menit kemudian peluit tanda pertandingan dimulai kembali pun berbunyi. Para pemain Chuddley Cannons dan Puddlemere United masuk lapangan, tapi ada yang janggal, mengapa Seeker Puddlemere United, Manuel Young Seok tidak masuk lapangan? Apa yang sedang terjadi…

"Pergantian pemain!" Teriak wasit Tadros masih dengan aksen Italia yang jelas "Seeker Puddlemere United, Manuel Young Seok diganti dengan-" Wasit Tadros mengambil nafas dan…

"VICTOR KRUM!"

Seorang laki-laki umurnya berkisar 30an akhir 40an awal keluar. Victor Krum muncul dengan muka yang menyeramkan, alis tebal dan janggut yang agak tebal, badanya agak berotot, rambutnya lebih panjang dan berantakan dari 19 tahun yang lalu, dan satu lagi, ia masih single.

Seketika terdengar ramai-ramai dari bangku penonton. Beberapa fans Victor Krum menyerukan namanya keras sekali bahkan Ron dan kelompoknya masuk dalam salah satunya. "Victor! Victor Krum!"seperti itulah yang mereka teriakkan, bahkan bebrapa ibu-ibu yang umurnya seperti Ginny bersorak sorai dengan genit menyerukan nama Victor Krum.

Victor dengan langkah pasti menuju kelapangan, memegang sapu terbangnya, di tengah lapangan ia memandang kebangku VVIP, matanya terkunci pada seseorang yang duduk di salah satu bangku, yang tak lain adalah Hermione. Matanya terus memandang Hermione. Ia menaiki sapu terbangnya dan mendekat ke bangku VVIP kira-kira 10m jaraknya ia dari bangku VVIP. Ia tersenyum pada Hermione dan *Wink* ia mengedipkan matanya pada Hermione dan langsung terbang kembali ke lapangan.

Muka Hermione memerah, Harry yang duduk di sampingnya memandang Hermione dengan muka sebal. "Ahem!" Harry pura-pura batuk untuk menyadarkan Hermione yang memandang Victor Krum.

"Ada apa?" Sesaat Hermione kembali sadar, ia memandang suaminya. "Tidak, tapi sepertinya aku merasa seperti flashback 22 tahun yang lalu, sewaktu seorang gadis empat belas tahun mendapatkan pandangan yang sama oleh Victor Krum saat piala Triwizard." Kata Harry tanpa memandang Hermione.

"Oh, ya ampun Harry, tadi itu bukan apa-apa, kami Cuma teman." Balas Hermione cepat-cepat agar Harry tidak salah presepsi.

"Jadi kau sadar." Kata Harry tak terlalu jelas.

"Kau bilang apa?" Hermione mendekatkan telinganya pada Harry. Harry tidak menjawab, Hermione dengan pasrah kembali ke posisi duduknya, memandang kelapangan.

"Jangan lupa kau sudah mempunyaiku, dan kau sudah punya anak." Kata Harry cepat,pelan, dan tidak jelas. Dengan cepat Hermione memandang ke Harry, ia tak terlalu mendengar apa yang dikatakan Harry tapi ia yakin ia mendengan kata-kata Punya dan anak.


Ginny, Leon,dan Fran beroper bola, mencetak angka dan berebut bola dengan pemain dari Puddlemere United. Disisi lain Rahul dan Johnston terbang kesana kemari, memukuli Bludger yang mendekati pemain Chuddley Cannons. Dan Oliver terbang di depan gawang, menangkapi bola yang akan masuk ke gawangnya.

Yang paling repot dari semua pemain Chuddley Cannons adalah Elena Evpraksiya. Ia terus kebut-kebutan dengan Victor Krum. Victor Krum, seorang Seeker yang sangat handal, tak gampang menang melawannya, apalagi ia sudah cukup lelah setelah dauber-uber oleh Manuel Young Seok. Tapi Elena tak bisa diremahkan juga, walau ia seorang perempuan, ia adalah Seeker perempuan terhebat masa kini.

Elena terus mengejar Snitch emas. Tapi sepertinya Snitch emas itu tahu jika ia sedang dikejar-kejar dua Seeker hebat, maka ia tambah cepat dan cepat. Bahkan Snitch emas itu terbang lewat tempat-tempat sempit, terbang diantara para penonton bahkan terbang sangat rendah dan kemudian terbang tinggi sekali, Elena benar-benar kesulitan untuk menangkap Snitch emas yang sangat hyperactive ini. Sampai-sampai ia hamper jatuh karena berusaha menangkap Snitch emas ini.

Victor Krum pun juga sama, walau ia Seeker yang sangat cakap ia harus susah payah mengejar Snitch emas. Elena dan Victor terbang keluar lapangan, mencari Snitch emas yang keluar lapangan, masuk gang-gang kecil diantara rumah-rumah para penyihir, bahkan Snitch emas pun tega masuk rumah-rumah yang juga membuat Elena dan Victor terpaksa ikut masuk rumah-rumah itu dan diteriaki pemilik rumah karena mengacaukan rumah mereka.

Snitch emas terbang kembali ke lapangan, berputar kesana kemari kembali membuat repot Elena dan Victor. Tapi kali ini berbeda, sepertinya Snitch emas mulai serius, ia tak ingin ditangkap siapapun. Ia terbang ketempat-tempat yang tak mungkin diraih oleh Elena dan Victor, bahkan Si Snitch emas terbang di bawah bangku-bangku penonton, yang otomatis membuat Elena dan Victor harus terbang pelan agar tidak menabrak salah satu tiang. Snitch emas terus terbang sampai pada akhirnya Si Snitch emas terbang sangat rendah di lapangan tertutup oleh rerumputan yang cukup tinggi.

"Sial! Bagaimana aku bisa menangkapnya? Benda kecil itu benar-benar susah untuk dijinakan." Gerutu Elena dalam hati.

Beberapa menit kemudian entah mengapa Snitch emas mulai agak tenang, ia terbang datar kira-kira satu meter di atas tanah. Elena dan Victor tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Mereka terbang sangat renadah, tangan kanan mereka masing-masing dijulurkan agar bisa menangkap Snitch emas. Jarak terbang mereka sangat dekat, sampai-sampai tubuh mereka bersentuhan satu sama lain. Para penonton dan pemain dari kedua tim Chuddley Cannons maupun Puddlemere United pun terpaku di tempat melihat Elena dan Victor yang berusaha mendapatkan Snitch.

Ginny yang memegang Quaffle berhenti dan memegang erat-erat Quafflenya, seakan ia tak ingin Quafflenya di rampas darinya saat dia melihat pertarungan seru antara Elena Evpraksiya dan Victor Krum. Ayo Elena! Batin Ginny.

Elena dan Victor mempercepat terbang mereka, tangan mereka berdua sudah sangat dekat, kira-kira 20-30 cm dari Snitch emas. Ayo kawan kecil, hinggaplah di tanganku batin Elena, ia terus mencoba mendekatkan tangannya ke Snitch emas, begitu juga Victor

Tiba-tiba saja Snitch emas berhenti membuat Victor dan Ginny mendadak berhenti, tapi karena kurang persiapan mereka berdua jatuh dari sapu mereka, Snitch emas hilang dari pandangan, entah siapa yang mendapatkannya.

Elena merasakan ada sesuatu ditangannya, tapi ia tak yakin apakah itu Snitch emas atau hanya batu biasa yangtak sengaja ia raih saatia jatuh, kerena didepannya Victor Krum juga menggenggam sesuatu tetapi belum ia buka. Elena memberanikan diri untuk membukanya dan saat ia membukanya…

Semua audience diam, tak ada yang bersuara termasuk para pemain Chuddley Cannons dan Puddlemere United saat melihat apa yang Elena genggam.

"ELENA EVPRAKSIYA MENDAPATKAN SNITCH EMAS! CHUDDLEY CANNONS MENANG!" Teriak komentator.

Semua pendukung Chuddley Cannons bersorak, sedangkan semua pemain Chuddley Cannons terbang kearah Elena, memeluknya bersama, Rahul dan Johnston membopong Elena di pundak mereka.

Para keluarga Weasley, Potter, dan Malfoy turun ke lapangan, berlari menuju pemain Chuddley Cannons yang sedang berkumpul ditempat di mana Elena jatuh.

Ginny dengan cepat memeluk Elena, ia merasa aneh karena baru dua hari mengenal mereka tapi ia merasa sudah bersama mereka sudah lama, ia tersenyum, saat ia melihat kesamping ia lihat keluarga besarnya berlari kearahnya, bahkan Draco Malfoy, dengan senyum bahagia berlari kearahnya dan memeluknya.

Rasanya jantung Ginny berhenti berdetak seketika.