WARNING!
BOBXBOY ALIAS BOYS LOVE ALIAS YAOI (If U don't like, better you don't read my own story)
CERITA ALAY/LENJEH/LEBAY/ALA SINETRON/ALUR PASARAN/BAHASA MASIH ACAK-ACAKAN.
Typos adalah seni.
HUNHAN
RATED: EM!
©Chryssans289
Fast update dibanding chapter yang lain.. so, enjoy~
.
.
.
"Sehun, bagaimana dengan yang ini? Bukankah ini sangat cantik?" Yeri memandang Sehun yang lagi-lagi tampak melamun. Sudah hampir tiga puluh menit mereka berkeliling di butik khusus gaun yang disarankan oleh designer kenalannya. Namun mereka belum menemukan baju yang cocok karena Sehun sedari tadi terus melamun tanpa berniat ikut memilih.
"Sehun!" Yeri meniup poninya kesal. Jari lentiknya mencubit lengan Sehun hingga membuat dokter muda itu tersentak.
"Ya?"
"Apa sih yang kau pikirkan. Kau melamun terus."
"Maaf, apa aku mengabaikanmu?" Sehun mengelus lembut surai kecoklatan milik Yeri.
"Ya. Sejak tiga puluh menit yang lalu." Ekspresi wanita itu nampak tak senang.
"Maaf. Sepertinya aku kurang enak badan." Ucap Sehun tak yakin. Tapi itu cukup membuat wanita yang tengah memegang beberapa gaun berwarna putih itu mampu menampilkan raut wajah khawatir.
Yeri meletakkan gaun-gaun yang ia pegang ke tempat semula. Telapak tangannya beralih mengecek suhu tubuh Sehun.
"Dahimu agak panas, dan kau terlihat sedikit pucat. Pulangah dan beristirahat, aku bisa pulang menggunakan taksi. Akan kupilihkan pakaian untuk kita berdua. Kau keberatan?"
Sejenak Sehun tampak terkejut, tak biasanya Yeri mau melepaskanya dengan mudah. Biasanya wanita itu akan menempel seperti lem kalau sudah berdekatan dengan Sehun.
"Aku tak masalah, pilihlah mana yang menurutmu bagus. Maaf tidak bisa menemanimu sampai selesai." Sehun memasang raut menyesal.
"Tak apa. Aku tidak ingin kau sakit, akan sangat merepotkan kalau pangeranku ini sakit disaat pertunangan kita akan dilangsungkan beberapa hari lagi."
Sehun tersnyum tipis, tak lupa ia mengecup pelipis Yeri sekilas, "Aku pergi. Jaga dirimu baik-baik. Dan jangan lupa kabari aku jika sudah sampai dirumah."
"Tentu sayang."
Sehun berjalan dengan langkah gontai menuju mobil miliknya yang terparkir di depan butik sederhana tersebut. Ia membuka pintu dan menutupnya kemudian dengan keras. Tangan besarnya mengasak rambut secara acak, kemudian menyandarkan dahinya pada roda kemudi. Diambilnya napas dalam dan kemudian dikeluarkan dengan kasar. Berharap beban pikirannya menghilang bersama karbon dioksida dari paru-parunya.
Sedari pagi—ah, tidak, dari kemarin malam pikirannya terus berkecamuk. Ia tidak bisa memusatkan pikirannya hanya pada satu titik. Terbelah, bercabang antara Yeri dan Luhan. Kini ia mulai merasa bahwa dirinya adalah seorang pecundang, pecundang yang sangat brengsek. Bagaimana mungkin ia tega meninggalkan Luhan setelah apa yang mereka lalui? Dia bahkan belum bertatap muka dengan Luhan sejak malam itu. Oh Sehun benar-benar frustasi.
Seraya menggeram, ia memacu pedal gas, memecah jalanan yang beruntungnya sedang lenggang dengan kecepatan mobil yang gila-gilaan. Sehun akan dengan senang hati jika nanti dirinya menabrak tiang jalanan atau apapun itu asalkan bisa mengalihkan pikirannya dari sosok kecil nan rapuh yang selalu membayangi pikirannya.
.
.
.
Awalnya Sehun berniat mengistirahatkan tubuh di apartemen, karena jujur badannya terasa kurang fit hari ini. Tapi ketika matanya melirik Wooridul Spine Hospital ia jadi melambatkan laju mobilnya dan malah berakhir dengan dirinya yang kini berdiri di depan pintu ruang rawat milik Luhan.
Sehun nyaris membuka pintu berwarna putih tersebut, namun urung karena pintu itu sudah terbuka dari dalam, menampilkan sosok Suho yang berekspresi sama terkejutnya dengan Sehun.
"Sehun?"
"Oh, Suho. Habis mengunjungi Luhan?" Sehun mencoba berbasa-basi. Kalau boleh jujur hubungannya dengan lelaki berwajah angelic itu kurang baik.
"Ya. Ekhem, bisa kita bicara sebentar?"
Dahi Sehun dihiasi kerutan samar, tumben sekali Suho mau mengajaknya berbicara, sepertinya cukup penting, "Tapi aku ingin melihat Luhan—"
"Hanya sebentar." Suho memotong cepat.
Dengan berat hati Sehun mengurungkan niat awalnya. Ia hanya diam dan mengikuti Suho menjauh dari ruang rawat milik luhan.
Disinilah mereka, duduk berhadapan di kafetaria rumah sakit dengan secangkir kopi hangat di hadapan mereka.
"Jadi, Sehun-ssi. Sebelumnya aku ingin mengucapkan selamat."
"Selamat?"
"Untuk pertunanganmu—dengan Yeri." Sehun tidak bisa menebak apa yang sedang pria di depannya rasakan. Ekspresinya terlalu datar untuk orang yang mengucapkan kata selamat untuk lawan bicaranya.
"Darimana kau tau?" Sehun bertanya dengan hati-hati.
"Seluruh orang di rumah sakit ini heboh membicarakan hal itu. Tapi aku baru mengetahuinya dari seseorang."
Perasaan Sehun mulai tak tenang, "Siapa?"
"Menurutmu siapa?" Suho mencoba memancing. Pria berwajah angelic itu tau Sehun tidak akan berani menebak.
"Aku.. tidak tau."
Ia takut akan mengucapkan nama yang benar, ia takut dugaannya mengarah kepada sosok yang selama ini dipikirkannya—
"Luhan."
Detak jantungnya terasa berhenti selama beberapa detik. Tubuhnya kaku dan tak dapat digerakkan begitupun bibirnya. Terasa sangat sulit bahkan hanya untuk mengucapkan satu patah kata untuk membalas ucapan Suho yang kini tengah memasang ekspresi meremehkan.
"Darimana dia... tau?" bisik Sehun pelan. Tanpa sadar tangannya mengepal erat diatas meja kayu berwarna coklat tua itu.
"Bukankah sudah kukatakan, seluruh orang dirumah sakit ini menggosip tentang hal itu? Seorang dokter muda, tampan, cerdas, berkepribadian baik yang menjadi incaran banyak orang akhirnya melabuhkan hati pada seorang aktis cantik yang tengah naik daun. Bagaimana menurutmu?"
Sehun menghela napas pelan. Ia tidak akan membiarkan emosinya menguasai kal ini, dia harus berpikir dan menenangkan diri. Jangan sampai ia melemparkan bogem mentah kearah wajah orang di depannya yang entah kenapa membuat Sehun naik darah tiap kali orang itu berbicara.
"Maksudku, dari siapa?"
"Dari suster di sini." Jawab Suho singkat.
Suster? siapa? apa mungkin Jessica? Hanya Jessica yang memiliki jadwal merawat Luhan paling banyak, lima kali dalam seminggu. Tapi Sehun bahkan sudah berpesan pada wanita yang sudah ia anggap kakaknya itu agar merahasiakan semuanya. Tidak mungkin Jessica tega mengatakannya pada Luhan.
"Awalnya aku berpikir bahwa merelakan Luhan untukmu adalah pilihan terbaik. Aku rela membuang jauh rasa cintaku untuk Luhan hanya agar anak itu dapat memilih cintanya sendiri. Dan hatinya telah kau bawa pergi bersamamu, tapi kau bahkan enggan membawa serta raganya. Kau hanya mencuri hatinya kemudian membuangnya seolah itu tidak berharga sama sekali. Dengan teganya kau meninggalkan Luhan disaat dia membutuhkanmu. Setelah kau merenggut satu-satunya hal berharga dari dirinya, kau serta-merta meninggalkannya dan memilih bertunangan dengan wanita itu. Aku tidak salah, kau sangat cerdas—pantas kau menjadi dokter diusiamu yang masih muda." Sehun tau itu adalah kata-kata sindiran untuk dirinya.
"Kau.. tau jika—"
"Kau pikir aku tidak mengetahuinya? Bekas itu bahkan tercetak jelas di leher Luhan. Kau itu bodoh atau apa? kau terlalu banyak makan obat ya? Tega-teganya kau menyakiti Luhan yang notabenenya seseorang yang rapuh—dan.. dan... kau—.." Suho mendengus kasar. Jari telunjuk dan ibu jarinya mengurut batang hidung sekedar untuk menenangkan pikirannya yang terasa kusut.
"Aku akan minta maaf padanya.." ucap Sehun final.
Suho mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk, "Minta maaf katamu? Kau pikir itu cukup? Setelah kau mengambil apa yang paling berharga darinya dan kemudian kau mencampakkannya—kemudian kau berniat meminta maaf? Demi Tuhan Sehun-ssi, kalau semua hal bisa di selesaikan dengan kata maaf maka tidak akan ada yang namanya pihak berwajib dan pengadilan di dunia ini. Kupikir kau lebih pintar dariku." Kekehan pelan itu terasa menjatuhkan harga diri Sehun sepenuhnya.
Giginya bergesekan menahan marah. Mata tajamnya memandang nyalang kearah Suho, "Lalu apa yang harus kulakukan?" secara tiba-tiba nada Suara Sehun berganti menjadi terdengar begitu putus asa, niat awalnya untuk melontarkan makian berganti karena tak tau apa lagi yang harus ia lakukan.
"Bukankah sudah jelas? Batalkan pertunanganmu dengan wanita itu."
"Apa?!"
"Aku tidak akan mengulanginya."
"Aku tidak bisa. Kami bahkan akan melaksanakannya beberapa hari lagi."
"Kalau begitu lakukan jika kau sudah tidak peduli dengan Luhan. Masih banyak orang yang akan memperlakukan Luhan jauh lebih baik darimu. Seharusnya Yifan tidak membawa Luhan kesini. Ini adalah tempat yang salah untuk Luhan melabuhkan hatinya." Suho berdesis. Auranya terlihat seperti seekor serigala yang teritorinya dimasuki oleh serigala lain.
"Aku melakukan kesalahan, aku mengerti. Tapi di satu sisi aku mencintainya, sangat. Aku tidak bisa mencegah diriku untuk mendekatinya."
"Seharusnya kau tau sedari awal dengan konsekuensi yang akan kau dapat. Seharusnya kau mengerti kalau kau sudah memiliki kekasih!"
"Aku mengerti!" Sehun terengah, "—tapi aku juga tidak bisa meninggalkan Luhan disaat bersamaan." Suaranya kemudian memelan.
"Kalau begitu kau adalah orang yang egois."
"Ya. Terserah padamu, katakanlah aku brengsek, egois, tidak tau malu atau apapun. tapi, bisakah kau menjaga Luhan untukku?"
Sehun memandang heran ketika melihat Suho yang malah tertawa hambar di depannya, "Bukankah sudah kubilang? Aku sudah membuang perasaanku pada Luhan karena anak itu hanya mencintai dirimu seorang. Mencintainya bagiku berarti mati secara perlahan. Mungkin kau bisa memikirkan bagaimana rasanya tak dianggap." Suho tersenyum getir. Bibirnya menyesap sekilas kopi di cangkir plastik miliknya yang mulai mendingin.
"Apa dia akan baik-baik saja?"
"Jika dia akan baik-baik saja berarti Luhan adalah orang yang benar-benar kuat. Kau sudah cukup lama mengenalnya kan? kau pasti cukup tau bagaimana ketika pikiran anak itu tengah tertekan, dia tidak akan segan mengakhiri hid—"
BRAK!
Sehun sudah berdiri dari duduknya. Mata elangnya bergerak gelisah memancarkan raut wajah khawatir. Bagaimana jika Luhan melakukan hal yang bahkan tidak dapat Sehun bayangkan. Apa Luhan sekarang tengah menangis? Siapa yang akan menenangkannya?
"Tenang saja. Kau bisa duduk kembali."
"Bagaimana aku bisa tenang setelah kau mengatakan perkataan bodoh itu?! Bagaimana jika Luhan nekat memotong nadinya lagi?!" Sehun menggeram marah.
"Dia mengatakan sesuatu padaku.." Suho menatap kearah halaman Wooridul Spine yang sejuk karena ditumbuhi banyak pohon dan tanaman hingga membuatnya terlihat begitu asri dan nyaman.
Dengan pelan Sehun kembali mendudukkan dirinya, meski jari-jari tangannya masih bertaut—hal yang sering dilakukannya untuk menenangkan diri.
"Dia bilang.. dia baik-baik saja.."
Sehun tertegun. Kata-kata yang Suho ucapkan seolah mewakili Luhan untuk disampaikan kepadanya. Tanpa ia sadari matanya telah memanas, mengabaikan bahwa ia adalah seorang laki-laki yang tidak seharusnya membiarkan cairan bening itu menggenang di pelupuk matanya.
"Dia..—Luhan.. berkata bahwa dia tidak apa-apa—"
.
.
.
[Suho POV]
"A..aku ingin kembali ke kamar.."
Hatiku teriris ketika mendengar suaranya yang bergetar. Aku ingin memeluknya, aku ingin mengusap air matanya. Aku ingin menenangkannya—dengan pelukanku. Tapi aku tau bahwa itu tidak sepantasnya dilakukan oleh diriku yang bukan siapa-siapa baginya.
"Aku akan membawamu ke kamar. Berhentilah menangis, wajahmu terlalu indah untuk dinodai dengan air mata, Luhan." Aku mengelus puncak kepalanya pelan, kemudian berdiri dari posisiku yang semula berjongkok. Aku membawanya kembali menuju ke ruang rawat miliknya.
Kami berdua terdiam, dengan posisi duduk bersebelahan di ranjang. Aku cukup ragu untuk memulai percakapan, takut suasana akan semakin memburuk jika aku salah berucap.
Aku menoleh kearahnya, dia sudah tidak menangis lagi. Tapi pandangannya kosong, menatap lurus kearah jendela yang kini menampilkan pemandangan langit tanpa awan.
"Apa aku terlalu egois?—" Aku mendengar pertanyaannya, tapi enggan menjawab.
"Apa aku terlalu berlebihan jika aku hanya meminta satu. Satu saja—cukup satu dan hanya satu, aku ingin orang-orang yang menyayangiku tidak selalu pergi meninggalkanku. Apakah Tuhan sebegitu tidak menginginkan aku bahagia?" Suaranya terdengar parau di telingaku. Aku tak tahan ingin merengkuhnya.
"Luhan—.."
"Aku mengerti. Memangnya siapa aku? Aku hanyalah orang cacat yang mengharapkan sesatu yang mustahil, bodoh sekali.." dia tertawa, tapi tawanya adalah tawa yang mengungkapkan kemirisan.
"Hey, dosenku pernah berkata: Setiap manusia di dunia ini akan mengalami banyak hal yang pasti. Salah satunya adalah ketika kau dipertemukan dengan seseorang, maka kau pasti akan berpisah dengannya. Entah dia yang akan meninggalkanmu, atau kau yang meninggalkannya. Karena itulah roda kehidupan Lu. Permainan takdir yang dibuat oleh Tuhan, kita hanyalah bidak catur yang akan mengikuti arus kemana takdir akan mempermainkan kita." Tanganku mengusap rambutnya pelan. Aku sudah tak tahan lagi, kurengkuh tubuh kecilnya dalam pelukanku. Dia tak menolak, itu sebuah hal yang bagus, kulihat matanya terpejam—tapi tidak mengeluarkan air mata.
"Kenapa banyak pion yang mati untuk melindungi raja dan ratu? Mereka bahagia bersama, dilindungi oleh pion-pion kecil yang harus rela mengorbankan diri. Apa pion kecil itu tak berhak bahagia? Ah, bahkan permainan caturpun tau, pion kecil tak akan pernah bersanding dengan raja." Luhan mengeratkan pelukannya ke tubuhku. Aku tidak bodoh untuk mengerti apa maksud dari ucapannya. Ia sedang membicarakan dirinya sendiri.
"Kau berhak bahagia.."
"Entahlah, aku sudah sering mendengar kata-kata itu. Tapi selalu berbanding terbalik dengan kenyataan.."
Aku diam, membiarkannya mengutarakan keluh kesah, mungkin ini dapat membantu meringankan sedikit beban fikiran Luhan.
"Maaf, aku tidak bisa membantu.."
"Hyung.."
"Ya, Luhan?"
"Kupikir.. setelah kupertimbangkan, aku yang salah disini."
"Apa?" Aku tak percaya dengan apa yang ia katakan. Bisa-bisanya dia menyalahkan diri sendiri. Satu-satunya manusia yang patut diberikan sumpah serapah adalah si Oh Sehun sialan itu.
"Bagaimana bisa aku dengan lancang menawarkan hati sementara dia bahkan sudah memiliki? Bagaimana bisa aku meminta tulang rusuknya sementara separuh tulang rusuknya sudah ia berikan untuk wanita yang ia cintai? Bagaimana mungkin aku mengharapkan separuh nafasnya sementara ia sudah membaginya untuk wanitanya? Aku yang salah sudah mencintainya.."
"Luhan! Dia juga mencintaimu! Ini bukan cinta sepihak!"
"Bagaimana hyung tau?"
"Kalian sudah bercinta kan?" aku heran kenapa mulutku bisa mengatakan itu begitu mudah seolah kalimat yang aku ucapkan adalah sejenis kalimat selamat ulang tahun.
Aku dapat melihat mata Luhan memancarkan keterkejutan, tapi kemudian pandangannya kembali menyayu, "Aku sudah menduga kau tau sedari awal hyung..—" Aku melihatnya mengusap tanda keunguan hasil ciptaan Sehun di Lehernya yang putih.
"Bagaimana itu bisa disebut dengan bercinta? Bahkan aku tidak tau jika dia melakukannya atas dasar cinta. Aku bahkan lupa ada atau tidaknya dia mengucapkan kata cinta ketika kami melakukannya."
"Lu, kau sudah menyakiti dirimu sendiri terlalu sering."
"Aku akan berpikir lebih terbuka mulai dari sekarang. Aku tidak akan lagi menghambat kebahagiaan orang-orang disekitarku. Sudah cukup aku merepotkan Yifan ge, Suho hyung, dan Sehun. Kupikir kalian terlalu memperdulikan aku, itu berlebihan. Aku sangat cengeng, bodoh, dan ceroboh, aku terlalu banyak menghabiskan waktu kalian. Aku minta maaf. Dan Sehun, dia berhak bahagia. Aku tidak bisa memberikan apa yang Yeri Noona bisa berikan kepada Sehun. Aku sangat jauh tertinggal dibandingkan Yeri Noona, aku bukan apa-apa. Sehun akan melupakanku dengan cepat nantinya. Aku akan merelakan Sehun, aku akan mendoakan kebahagiaannya. Dan setelah itu, aku akan pergi dari sini, sejauh mungkin dan tak akan kembali. Hidup dalam bayang-bayang Sehun akan membunuhku secara perlahan."
"Luhan! Pikirkan kebahagiaanmu!" aku benar-benar tidak habis pikir dengan Luhan. Bagaimana anak ini bisa memutuskan hal seperti itu seenaknya.
"Melihat Sehun bahagia adalah sumber kebahagiaanku. Mencintainya dalam diam, meski dibatasi oleh jarak dan waktu—itu sudah cukup baik bagiku."
"Lu.."
"Tolong katakan pada Sehun, aku baik-baik saja. Aku tak sanggup mengatakannya di depan Sehun.." kupikir Luhan tidak akan menangis lagi, tapi saat kurasakan bahunya kembali bergetar, aku hanya bisa mengusap pundak sempit itu berharap tubuh dalam dekapanku dapat merasakan ketenangan.
"Aku akan mengatakannya jika nanti aku bertemu dengannya."
"Terimakasih hyung.."
.
.
"Begitulah, dan kebetulan sekali aku bertemu denganmu bahkan sebeum aku mencari kau yang seharian tidak berada dirumah sakit. Sehun-ssi, hati Luhan terlalu lembut untuk disakiti. Dia.. masih terlalu muda untuk merasakan hal-hal seperti ini."
GREK!
Sehun bangkit dari kursinya. Telinganya sudah tak sanggup mendengar cerita Suho lebih lama lagi.
"Cukup. Aku sudah tidak kuat mendengarnya.. terimakasih untuk ceritanya, aku akan segera menemui Luhan.. aku permisi.."
Suho hanya memandang kepergian Sehun dalam diam, ia kembali memandang halaman rumah sakit yang masih sama—terlihat lenggang, "Seharusnya kau mengerti perasaannya Sehun.."
.
.
.
Listen this song recommendations to support the atmosphere:
[ 윤미래 (Yoon Mi Rae) - ALWAYS]
[Cassandra – Cinta terbaik]
BRAK!
Pintu ruangan itu menjeblak terbuka, menampilkan sosok Sehun dengan pakaian kasualnya yang terlihat sedikit berantakan.
Mata elangnya menatap sosok yang tadinya tengah melamun menatap lurus ke jendela kini mengalihkan atensi untuk menatapnya. Sehun pikir ia akan menemukan reaksi semacam marah, sedih, atau semacam itu dari Luhan. Namun yang ia dapati malah Luhan yang tersenyum tipis kearahnya dengan mata rusa penuh binari yang menatapnya seolah Sehun adalah sumber kebahagiaan seluruh umat manusia.
"Sehun, kau datang? Aku pikir kau tidak akan datang karena sedari pagi kau tidak mengunjungiku."
Sehun berpikir apakah dia sedang bermimpi? Suara selembut beludru itu berbicara padanya dengan begitu pelan dan tenang. Ia kira Luhan akan membentaknya kemudian menampar wajahnya.
Sehun masih diam terpaku di depan pintu yang sudah tertutup, hingga suara Luhan menyadarkannya kembali, membawa jiwanya yang sempat melayang kembali terhempas ke bumi,
"Kemarilah, aku sangat rindu denganmu.."
Apa yang Suho katakan semuanya bohong? Apa sebenarnya Luhan belum tau tentang pertunanganya dengan Yeri? Kenapa reaksi anak itu tak terlihat seperti orang yang sedang marah?
"Sehun?" lagi, suara Luhan seolah menjadi magnet untuknya.
Entah kenapa ia mendadak merasa emosi, marah pada dirinya sendiri lebih tepatnya. Dengan langkah tergesa dan mata yang memanas, ia berjalan kearah Luhan. Langkahnya lebar dan terburu-buru. Hingga ketika berada di depan Luhan, tanpa ragu ia merengkuh tubuh kecil itu dalam pelukannya.
Ah, aroma Luhan seolah membuat ia kembali pulang kerumah. Beban yang menggantung dipundaknya secara ajaib menghilang begitu saja. Semua masalah yang ia pikirkan seakan hilang tak bersisa—hanya dengan mencium aroma Luhan.
"Aku lebih merindukanmu," bisik Sehun pelan, masih menghirup aroma kesukaannya.
Luhan tertawa pelan, mengusap surai hitam Sehun dengan tangan kecilnya. "Salahmu sendiri tidak mengunjungiku."
Sehun melepaskan pelukannya, "Maaf, aku harus menyelesaikan sedikit urusan."
Mengabaikan perkataan Sehun, Luhan dengan telaten mengusap keringat tipis yang menghiasi dahi Sehun, "Kau terlihat sedikit pucat Sehunnie.."
"Kenapa kau seperti ini?!" suara Sehun meninggi, ia melepaskan pelukannya, beralih mencengkram pundak Luhan dan menatap mata lawan bicaranya dengan tatapan sekejam yang ia bisa.
"—Kau seharusnya mengataiku, mengeluarkan sumpah serapah! Atau setidaknya pukul aku, tampar pipiku Luhan! Jangan seperti ini.. aku, aku tidak bisa jika kau seperti ini.." Suara Sehun semakin mengecil di ujung kalimatnya. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya meluncur bebas jatuh ke pipi. Biarkan kali ini ia merendah dihadapan Luhan.
"Jangan menangis.." Jemari kecil itu mengusap pelan pipi Sehun dengan penuh kelembutan.
"Setidaknya marahlah untukku, itu akan membuat hatiku lega Lu.." perasaannya berkecamuk. Semuanya membuat kepala Sehun serasa ingin pecah. Sikap Luhan yang tidak seharusnya membuat rasa bersalah semakin menggerogoti hati Sehun.
"Tak ada gunanya aku marah Sehunie. Tak ada yang salah dan tak ada yang perlu disalahkan. Cukup biarkan semua mengalir dengan semestinya.."
Sehun menyerah, ia melonggarkan cengkramannya. Beralih kembali membawa Luhan kedalam pelukan untuk menenangkan hatinya yang tengah kalut.
"Aku minta maaf, sudah meninggalkanmu setelah kejadian di bukit. Dan aku minta maaf untuk—.."
"Aku mengerti, Sehunie tak perlu minta maaf. Ngomong-ngomong, selamat—sebentar lagi kau dan Yeri Noona akan bertunangan.."
Sehun terdiam. Ia tak tau harus memberikan reaksi apa yang sepantasnya diberikan untuk membalas ucapan Luhan. Jadi anak itu sudah mengetahuinya?
"—Bolehkah aku datang ke acara pertunangan kalian? Aku akan mengajak Yifan gege juga.." Luhan tersenyum manis.
Sehun bersumpah ia melihat setitik pancaran kesedihan di mata Luhan.
"Luhan, tidakkah kau merasa sakit?"
"Tidak, kakiku sudah lebih baik.."
"Bukan.. kau tau pasti bukan itu maksudku. Hatimu..."
Luhan terdiam sejenak, kemudian menarik napas dalam, "Baiklah, sepertinya aku memang tidak pandai menyembunyikan ekspresi. Hatiku sakit Sehun, rasanya seperti teriris pisau, kemudian ditaburi dengan garam hingga membuat lukanya terasa semakin perih. Membuat dadaku sesak sampai rasanya sulit bernapas. Mataku rasanya sakit sekali menahan air mata bodoh ini agar tidak keluar, haha.." tawanya hambar, bersamaan dengan air mata yang tanpa tau malu meluncur bebas menuruni pipi mulus Luhan.
"Begitu lebih baik, dasar bodoh.." Sehun mengecup kelopak mata Luhan berkali-kali.
"Berbahagialah dengan Yeri Noona.."
"Aku mencintaimu.." Sehun berkata dengan begitu mantap.
"Sudah sangat terlambat untuk mengatakannya.. hey, jangan khawatirkan diriku. Walaupun aku cengeng, tapi setidaknya aku akan belajar untuk menjadi lebih kuat mulai sekarang.."
"Maaf, aku memang brengsek.."
"Ya, kau Oh Sehun—si brengsek yang tampan sudah membawa hati Xi Luhan pergi bersamanya."
"Kupikir kau yang membawa hatiku pergi bersamamu.." Sehun mengecupi puncak kepala Luhan lamat-lamat.
"Kalau begitu mari saling bertukar, agar aku bisa merasakan apa yang kau rasakan begitupun sebaliknya.."
"Kau sangat manis.."
Sekali lagi Luhan mengabaikan perkataan Sehun, "Sehunie.. berbahagialah.."
"Pasti.."
"Terimakasih. Jangan pernah lupakan aku.."
"Bahkan sampai akhir hidupku Lu, tak akan pernah.."
Sehun menarik wajah Luhan dengan lembut untuk membiarkan wajah mereka saling memandang satu sama lain.
"Ijinkan aku menciummu untuk yang terakhir kalinya.."
"Bisakah aku menolak?" Luhan tersenyum. Perlahan kelopak mata berbulu lentik itu tertutup, siap menanti sang dominan menyatukan bibir mereka.
Dengan sangat perlahan Sehun mendekatkan wajahnya, ia ingin merekam wajah cantik itu untuk yang terakhir kali dalam memorinya.
Bibir tipis Sehun menempel tepat diatas bibir lembut pria kecil dibawahnya, ia menempelkannya dalam, dan lama—menikmati bagaimana sensasi itu membuat kupu-kupu di perutnya beterbangan, menciptakan uforia memabukkan yang begitu adiktif. Kemudian ia mengubahnya menjadi kecupan seringan kapas, pelan dan lembut.
Dibiarkannya Luhan ikut bergerak, bibir lembut berisi itu mulai melumat bibir tipis Sehun, sepertinya Luhan juga mengerti, mereka ingin menciptakan moment ini sebagai moment perpisahan terbaik.
Sehun melibatkan lidahnya, mengabsen gigi putih Luhan, mengaduk lembut rongga mulut beraroma stawberry yang memabukkan. Lidahnya ia bawa untuk menyambut lidah milik Luhan, keduanya terlena akan rasa masing-masing. Untuk terakhir kalinya Sehun meninggalkan kecupan dalam pada bibir yang setelah ini tak akan pernah lagi ia kecup.
Luhan membuka matanya, kemudian tersenyum manis, "Berjanjilah padaku, kau harus bahagia.."
"Seharusnya aku yang mengatakan itu padamu.."
"Ya.. kita berdua harus bahagia.."
"Hm, tentu..."
"Jadi, Sehunnie.. bisakah aku datang ke acara pertunanganmu dengan Yeri Noona?"
Sehun terihat menimbang sebentar, "Tentu, dear.."
Dan Luhan tersenyum, seolah merelakan salah satu sumber kebahagiaanya untuk pergi—
lagi.
.
.
.
.
.
Luhan mematut bayangan dirinya di depan cermin besar yang menampilkan tubuhnya dari atas hingga kebagian kakinya. Luhan memang sudah bisa berdiri, namun belum sanggup untuk berjalan. Dan setelah sekian lama, akhirnya ia bisa mematut dirinya di depan cermin lagi tanpa harus duduk di kursi roda. Ia mengancingkan kemeja putih polos itu dengan perlahan. Kepalanya menunduk, ia bahkan tak menyadari ada beberapa kancing yang salah—pikirannya melayang, entah pergi kemana.
Punggungnya menghangat ketika merasakan seseorang berada di belakangnya, kemudian telapak tangannya yang kecil digenggam oleh telapak tangan yang lebih besar, mengirimkan kehangatan yang membawa kembali kesadaran Luhan. Tangan besar itu membantunya mengancingkan kemeja Luhan yang sempat salah. Kepala kecilnya mendongak, menatap pantulan cermin panjang di depannya. Kini bayangannya dalam cermin tak lagi sendiri, satu orang lagi berdiri memeluk tubuhnya dari belakang. Bibirnya tersenyum tipis, melihat siapa yang berada dibelakangnya, sosok laki-laki dengan rambut pirang, sumber kebahagiaannya yang masih tersisa.
"Kau salah mengancingkan kemejamu. Apa yang kau pikirkan?" suara berat dan hembusan napas hangat pria itu membuat Luhan kembali memasang senyum—palsu—nya.
"Tak ada, aku hanya sedikit kelelahan, Yifan gege.."
"Kau berbohong lagi.." Yifan memeluk pinggang kecil Luhan dari belakang. Ia mengamati pantulan bayangan mereka berdua dari cermin, perbedaan besar tubuh yang sangat kontras. Mungkin Yifan bisa saja menghancurkan tubuh kecil Luhan dalam kukungannya saat ini. Tapi tidak, Luhan adalah permatanya yang tersisa.
"Aku tidak.." Luhan mengelus punggung tangan Yifan dengan ibu jarinya. Pelukan sang gege selalu menenangkan, pelukan yang terbaik.
"Kau pikir sudah berapa lama kita bersama? Aku bahkan bisa melihatmu berbohong dalam sekali pandang." Yifan berbisik. Ia meletakkan dagunya di pundak kecil Luhan
"—Ya Tuhan, kau sangat cantik Luhan, andai saja kau bukan adikku, kau pasti sudah aku nikahi." Suara Yifan rendah, tapi terdapat nada main-main disana.
"Aku tidak mau menikah dengan pria yang jarang mandi sepertimu.." kekehan kecil meluncur dari bibir Luhan.
"Hey, itu fitnah. Tau darimana aku jarang mandi, dasar adik durhaka.."
"Kau bau.." Jawab Luhan asal.
"Katakan sekali lagi atau gege akan menciummu.."
"Benarkah?" Luhan menantang.
Yifan mengecupi perpotongan leher Luhan, dimana titik itu merupakan titik sensitif Luhan. Luhan menggeliat kegelian—ia tidak bisa memberontak karena kakinya masih terlalu lemah untuk digerakkan. Ia hanya bisa tertawa kegelian seraya meremas punggung tangan gegenya, "Gege, eng.. berhenti.. itu—.. engh.."
"Hahaha, kau sangat manis—dan harum. Aku serius akan menikahimu kalau kau bukan adikku Lu, kau sangat menggemaskan." Yifan mengecup pipi Luhan yang bersemu sekilas.
"Pfftt. Lakukan sesukamu.." Luhan memutar bola matanya malas.
Yifan tersenyum, kemudian membalik tubuh Luhan dengan pelan untuk menghadap kearahnya. Ia memakaikan tuxedo berwarna hitam yang entah sejak kapan berada dalam genggamannya. Ia pakaikan tuxedo tersebut ke tubuh Luhan.
"Jangan bersedih lagi.." jemari besar Yifan mengelus pipi gembil Luhan yang bersemu, membuat sang pemilik menutup matanya.
"Terimakasih sudah mau menemaniku pergi ke sana."
"Aku tidak ingin melihat adikku yang cantik ini menangis seperti bayi disana. Nanti siapa yang akan mengurusnya kalau bukan gege?"
"Ge..!" bibir pinkish itu mengerucut, tak terima dengan ucapan gegenya.
"Gege serius, jangan meneteskan air mata saat melihat dia di sana nanti."
"Tentu. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri."
"Bagus, itu baru adik kesayangan gege.."
Luhan membulatkan matanya ketika Yifan mengecup bibirnya dalam. Kebiasaan ini tak pernah lagi mereka lakukan sejak Luhan mulai menginjak usia sepuluh tahun. Yifan dan Luhan memang menjadi semakin dekat sejak kematian kedua orang tua mereka. Mereka seperti tak dapat dipisahkan, satu kesatuan. Dan salah satu cara mereka mengungkapkan kasih sayang adalah dengan seperti ini.
"Gege, bukankah kebiasaan itu sudah tidak pernah kita lakukan lagi? Kita sudah dewasa tau.." Luhan menggigit bibirnya pelan, meski Yifan adalah gegenya, tapi mereka sama-sama sudah dewasa sekarang, dan Yifan terlihat semakin tampan di mata Luhan.
Yifan mengedikkan bahu pelan, "Aku jadi tertarik mencium bibirmu yang mengkilap itu. Sejak kapan kau menggunakan lipbalm?"
Mata rusa itu membola kesal. Tangannya memukul lengan Yifan yang berotot, "Alasan apa itu.. um, ini karena dia menyukainya.."
Ow, Yifan sedikit menyesal harus membuat Luhan mengungkit tentang pria itu.
Berdehem pelan, Yifan mencoba mencairkan suasana. "Hey, gege bercanda. Gege melakukannya karena gege merindukanmu. Dan mungkin ini terakhir kalinya gege bisa mencium bibir ini.." Yifan mencubit bibir mungil Luhan.
"Maksud gege?"
"Ciuman gege akan gege berikan pada pendamping gege di altar, dan tidak akan gege bagi pada Luhan lagi nanti."
Mata rusa itu berbinar, "G..gege akan menikah?"
"Ya.." Yifan mengangguk.
"Dengan siapa?"
"Kau kenal Zitao?"
"Zitao?! B..bukankah dia teman Jongdae?!"
"Ya. Gege juga tidak mengerti bagaimana awalnya, kebetulan Zitao sudah menyelesaikan student exchange-nya dan kembali ke China—kami tidak sengaja bertemu. Lalu pertemuan tak sengaja itu menjadi lebih sering dan kami menjadi dekat satu sama lain. Dia menawarkan untuk bertukar e-mail—satu minggu setelahnya kami memutuskan untuk berpacaran. Aku akan menikahinya setelah dia meyelesaikan kuliahnya."
"Gege! Kenapa kau tidak memberitauku?!" Luhan bersidekap dengan pipi yang di gembungkan.
"Maaf, gege sangat sibuk Xiao Lu.."
"Ya, kau sibuk berpacaran dengannya.."
"Maaf.."
"Um, tapi—di sini kan...itu.. Korea.."
"Kalau maksudmu dengan pernikahan, gege akan menikah dengannya di Belanda." Yifan tersenyum mengingat wajah manis kekasihnya itu.
"Oh, tapi.. apa tidak terlalu lama menunggunya sampai menyelesaikan kuliah?"
"Gege bisa menunggu.."
"Um, kalau begitu, aku akan selalu mendoakan gege dan Zitao selalu berbahagia.. aku jadi iri.." Luhan berbisik pelan, kepala bersurai beludru itu menunduk.
"Hey, kau pasti akan mendapatkan pasangan yang lebih baik nanti, percaya pada gege.."
"Terimakasih gege.."
"Tentu. Sekarang sudah siap untuk pergi?"
"Ya.. aku tak pernah merasa sesiap ini.."
Luan membiarkan gegenya itu menggendongnya ala bridal dan mendudukkannya di kursi roda. Mereka segera bersiap untuk pergi ke suatu tempat, menghadiri acara yang sebenarnya sangat ingin ia hindari. Acara pertunangan Oh Sehun dan Yeri.
Tanpa sadar Luhan meremas pelan undangan bertuliskan tinta emas di tangannya.
You are invited to our engagement:
Sehun Oh
and
Yeri Han
By requesting and blessings of God we invite you to come to our engagement ceremony.
The Engagement will be held on:
Day: Saturday
Date: 12th April, 2025
Time: 7.30 p.m - end
Location: 48th Street! Apartement Sangji Ritzvil Caelum
Cheongdam-dong. Gangnam-gu, Seoul.
It's happiness for us if you can come and give your prayer to us.
Thank you very much.
.
.
.
.
Luhan hanya diam ketika Yifan mendorong kursi rodanya memasuki pelataran kediaman Yeri yang sangat luas. Acara petunangan itu memang sengaja digelar outdoor, membuat para tamu undangan dapat menikmati angin yang sejuk sekaligus menikmati suasana lampu taman yang menenangkan. Dekorasi yang didominasi warna putih menambah kesan tenang dari acara tersebut.
Tepat pukul delapan malam, para tamu undangan dipersilahkan berkumpul di tengah-tengah lapangan yang di depannya berisi panggung kecil tempat pemeran utama dalam acara ini melangsungkan pertunangan mereka. Luhan ada disana juga, di barisan paling depan hingga ia dapat melihat dengan jelas Sehun yang terlihat luar biasa tampan dengan tuxedo putihnya. Begitupun Yeri yang terlihat sangat cantik dengan gaun putih selututnya, rambutnya yang digerai menambah keanggunan wanita itu berkali-kali lipat. Ah, mana bisa Luhan menandingi wanita sempurna itu, Luhan sungguh tak tau malu.
Yifan menggenggam jemari Luhan ketika acara pertukaran cincin berlangsung. Ia yang notabene hanya kakaknya pun tak sanggup melihat hal itu, apalagi Luhan yang harus menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Yifan tau kalau hati adiknya sudah hancur saat ini.
"G..gege." Luhan bebisik pelan.
"Ya, Luhan?"
"B..bisakah.. kita.. p..pergi dari sini?"
"Kau ingin kita pulang?"
Luhan menggeleng samar, masih ada yang harus ia berikan pada Sehun setelah ini, ia masih belum ingin pulang.
Yifan hanya mengangguk, mereka keluar dari kerumunan sesaat sebelum terdengar bunyi tepuk tangan riuh dari para tamu undangan. Ucapan selamat terdengar bersahut-sahutan untuk pasangan yang sedang berbahagia itu.
Pria berambut pirang itu membawa adiknya menjauh ke tempat yang lebih tenang, "Ingin minum sesuatu?" Yifan mendapat gelengan pelan.
Keduanya menolehkan pandangan ketika mendengar langkah kaki mendekat, itu Sehun. Luhan bersyukur tidak ada Yeri bersama pria itu—jika ada, Luhan lebih memilih menenggelamkan dirinya kelaut saat itu juga.
"Lu, Yifan ge.." Sehun tersenyum tipis. Ia mendapat pelukan dari Yifan beserta ucapan selamat. Sehun mengucapkan kata terimakasih seperti bisikan.
Xi Yifan mengetahui semuanya. Dari awal hingga akhir, tentang apa yang adiknya rasakan kepada Sehun begitupun sebaliknya. Ia tau dari Suho. Dan Yifan pikir ia tak punya hak untuk marah, ia tau Luhan bisa menyelesaikan masalahnya sendiri meski anak itu terlihat cengeng dan rapuh dari luar. Lagipula Luhan sudah mengatakan bahwa ia baik-baik saja.
"S..sehun.. selamat atas pertunanganmu dengan Yeri Noona.." Luhan tersenyum tipis.
Sehun berjongkok untuk menyamakan tinggi tubuhnya dengan Luhan yang duduk di kursi roda. "Terimakasih.." Tangan besar sehun menangkup jari-jari kecil Luhan. Kehangatan itu, seakan tak pernah hilang ketika keduanya saling berpegangan tangan.
Yifan yang mengerti segera meninggalkan Sehun dan Luhan yang sepertinya membutuhkan privasi.
"Sehun, b..bisakah kita berbicara.. berdua?"
"Tentu.."
"B..bagaimana dengan Yeri Noona?"
"Dia sedang bersama temannya, tak masalah meluangkan waktuku sebentar. Ayo, kita akan mencari tempat yang lebih tenang agar kau bisa berbicara lebih nyaman."
Luhan tersenyum, kemudian mengangguk sekilas.
Background music: [Hyolyn (SISTAR) - 서로의 눈물이 되어 (Our Tear)]
Sehun membawa mereka berdua menuju ke taman belakang kediaman Yeri yang bisa langsung diakses melewati halaman depan. Disana suasananya begitu tenang, cahaya rembulan dan lampu taman cukup untuk menjadi penerangan malam itu. Sehun berpindah posisi dengan menempatkan diri berjongkok di depan Luhan.
"jadi, ingin membicarakan apa hm?"
"Sekali lagi selamat untukmu dan Yeri Noona. Dan.. k..kau terlihat sangat tampan.." pipi Luhan terlihat memerah diantara remang-remang lampu taman.
Sudut bibir Sehun terangkat, "Kau ini.." telapak tangannya mengusap surai lembut Luhan.
"Aku punya sesuatu untukmu.. anggap saja ini hadiah pertunangan kalian sekaligus ha..hadiah ulang tahunmu.." Luhan mengeluarkan sebuah kotak seukuran telapak tangan dari saku tuxedonya, kemudian mengulurkan kotak biru berpita emas itu pada Sehun.
"Darimana kau tau tanggal lahirku?" tanya Sehun dengan nada heran.
"Dari Chanyeol hyung, dia yang mengatakannya padaku—bukalah Sehunie.."
Jari sehun membuka kotak itu pelan, matanya menatap isi dari kotak itu lama.
Sebuah cartier berwarna perak dengan ukiran lambang infiniti di bagian atasnya. Jika Sehun tak benar-benar memperhatikan, ia tak akan menemukan sebuah tulisan kecil di bagian dalam gelang tersebut.
This life is a choice. Whatever makes you sad, leave it.
And whatever makes you smile, hold it.
I love you.
Sehun terharu, sungguh. Ia memeluk Luhan dengan lembut, menghirup aroma lembut itu sekali lagi, "Luhan, jangan membuat pendirianku goyah, jangan membuat aku memutar balik setelah aku mantap untuk melangkah kedepan.."
"Kau tau kenapa aku memilih ukiran itu? Infiniti. Aku berharap ikatanmu denganku tidak akan pernah terputus meski kita tak lagi bersama. Aku berharap kau akan selalu mengingatku Sehun, selamanya."
"Lu.."
"Sekarang keinginan terakhirku sudah tersampaikan untuk memberikanmu gelang ini. Jangan menghilangkannya! Aku membelinya dengan meminjam uang Yifan ge tau!" Sehun terkekeh mendengar suara Luhan yang terdengar imut. Ia melepaskan pelukannya dan mengusak surai Luhan sekali lagi.
"Terimakasih. Aku akan menjaganya dengan baik.."
"Ya.. berbahagialah Sehunie.."
"Pasti.. kau juga, Luhan.."
.
.
Aku sudah selesai.. sekarang satnya aku untuk pergi dan mencari kebahagiaanku, itupun jika aku berhasil menemukannya..
Sehunie, aku pergi..
Berbahagialah..
.
.
.
Terkadang merelakan adalah pilihan terbaik. Ibaratnya ketika kau harus menggenggam dan membiarkan tanganmu berdarah karenanya. Kau mendapatkan apa yang kau inginkan, tapi kau kesakitan. Mungkin kau harus mencoba melepaskannya, kau tak akan merasakan sakit lagi. Cobalah relakan, jika Tuhan tidak mengijinkanmu untuk memiliki apa yang kau inginkan bukan berarti Tuhan tidak adil padamu. Tapi Tuhan tau, bahwa itu bukan yang terbaik untukmu..
.
.
.
END
.
.
.
.
.
.
.
.
Becanda deng. TBC.. wahahaha..
Note:
01: Itu yang di undangan jalannya ngawur sumpah, tapi kalo lokasi perumahan elite itu emang bener ada. Itu lokasi perumahannya holang-holang beduit di Kuriya.
02: Entah kenapa lagu "Cassandra – Cinta Terbaik" cocok banget buat adegan di Chapter ini. Liriknya ngena banget mamennn. Wahahaha, coba deh dengerin dan kalian bakal merasakannya..
Mungkin bakal End di chapter 11/12... mungkinnn.. atau kalian mau end di Chapter ini aja? Ngegantung? Kaya cinta gue yang digantungin Mas Jongin? Atau ngegantung kaya lightsaber papih Sehun yang panjang (lightsaber star wars maksudnya. Jan pada ngeres) wahaha. Itu tergantung readers aja. Mau End disini atau lanjut lagi, kalo lanjut berarti si Luhan bakal makin kesiksa, wahahaha #dibakar
Ini yang paling penting. KALIAN PENGEN SAD ENDING ATAU HAPPY ENDING? Hayooo.. serah gue deng, gue yang bikin (terus ngapain tanya ogeb -_-" )
Btw, gue hampir keterusan bikin adegan incest anjay #LirikAdeganKrisHan. Soalnya kesel liat Sehun tega bet ama Luhan ah elahh :V
Btw, gue rada ga mood nulis tapi gue paksain, maaf kalo ini hasilnya ancur yah..
Nikmati aja apa yang ada... hoho~
Last, tolong dong direview. Saya bikin cerita ini berjam-jam ampe punggung sakit. Dan kalian bacanya ga sampe lima menit. Ngetik review ga sampe satu menit apa susahnya gengs? Sekedar memberi semangat untuk author yang suka ilang mood ngetik ini ya gak? Huhuhuhu~ bayangin deh pengorbanan author ga sebanding sama hasil yang dipetik. Tapi itu saya serahkan pada readers aja, kalian juga pasti paham karena kalian udah pada gede semua (umurnya). Yang jadi siders bertobatlah nak, mumpung masih bulan puasa.. oke, keep review if you want this fanfict keep going. Kalian tega apah ngegantungin Luhan kaya gini? Kalian pengen dia bahagia kan? Kan? #maksa
Last(02) Promotion: kalau sempat kunjungi cerita baru saya dengan pairing HUNHAN (BL/YAOI/BOYxBOY) yahh. REMAKE dari Novel Twilight karya Stephenie Meyer. Ceritanya kalian pasti tau lah ya, si vampir tampan yang jatuh cinta sama manusia dan harus melindungi sang pujaan hati dari segala mara bahaya yang mengancam. Eaaa~ abis baca jangan lupa review! Jangan cuman dibaca, review! Maksa mode on.
Jangan lupa jaga kesehatan readersdeul, aku mencintai kaliann. Emuahh~
.
.
Chryssans289
20/06/2017
