Desclaimer : Masashi Kishimoto

Makasih banyak buat yang udah review :

#Maehime : iya, soalnya begitu minum darahnya mereka kayak ngikutin insting gitu buat ngendaliin kekuatannya :3 kekeke iya doain moga makin sakti (lha?), makasih buat dukungannya :D makasih juga buat read reviewnya…

#Yuchan : iya ini next XD makasih read reviewnya…

#Cindy : oh wow, makasih banyak dukungannya XD jadi semangat nih…met ngikutin ya…makasih banyak buat read revienya…

#Cindy : ahai, kau double review XD sankyuu na~ wkwkwkwkwk banyak amat pertanyaan engkau XD baca aja kalo gitu, ntar lama-lama misterinya ke-reveal kok :D tapi yayang Pain Cuma buat Itachi BHahahahahaha #ketawa nista Konan ke laut aja deh XD #dibunuh sekali lagi makasih RnR nya… :D

Makasih juga buat yang udah log in : YumeYuumei CrystalFlee/mifta cinya/uchihaenji935/Yuukio/The Servant of Lucifer/rylietha. kashiva/Ivy Bluebell/uchihA keiME makasih banyak read reviewnya :D

.

.

Chapter 10: Infinity Battle

.

.

.

Sebelumnya di Half Moon chapter 9 : Survival Game

"Akhirnya ketemu juga kau, tikus sialan," ucap Kakuzu yang mendarat tak begitu jauh dari Itachi. Sementara tak jauh di atasnya, Sasori mendarat santai di bebatuan dengan boneka-bonekanya.

Itachi hanya bisa tersenyum pahit.

'Menghadapi dua sekaligus saja sudah cukup buruk. Dan sekarang empat…?' batinnya.

.

.

.

Itachi hanya berdiri dalam diam, darah masih menetes dari luka di tangannya. Ia menatap tajam ke arah empat vampire yang mengepungnya. Ini gila! Kau harus mundur. Atau kau akan mati konyol di sini Itachi! Tapi kalau dipir lagi…apa dia bisa kabur dengan empat vampire yang menjadikannya focus itu?

"Here I go," seringai Kisame dan menerjang Itachi dengan Samehada-nya.

"Ghh…!" Itachi menahannya dengan sabit shinigami Hidan, mendorongnya kuat hingga keduanya melompat mundur. Tapi belum sempat Itachi berkedip, sulur-sulur hitam telah menerjangnya. Itachi melompat menghindar beberapa kali, ingat akan kekuatannya, iapun membentuk segel dan menyemburkan api dari mulutnya, membakar sulur-sulur itu dalam keadaan melompat di udara.

Kratak!

"Crap!" kejut Itachi saat melihat boneka-boneka Sasori menyerangnya. Ia menghindar, tapi terlalu sulit karena berada di udara. Alhasil tangan kanannya yang sudah terluka menjadi korban.

"Tch!" decihnya dan mendarat di bebatuan. Tiba-tiba matanya membola kaget saat melihat bagian yang terkena serangan boneka Sasori tampak seperti membusuk dan perlahan dagingnya meleleh.

"Kau tahu? Bahkan racun pada boneka-boneka kesayanganku bisa membunuh immortal sekalipun," ucap Sasori dengan tenangnya.

"Hoi, jangan lupakan aku, Teme, un," teriak Deidara sembari melemparkan beberapa laba-laba aneh sekaligus.

BOOOMMM! BOOOMMM! BOOOMMMM!

"Argh…!" Itachi terlempar beberapa puluh tombak karena ledakan itu. "Ohok…!" ia terbatuk darah sembari memegangi dadanya.

"Giliran—…"

"Aku belum selesai, Kisame," ucap Deidara sengit. Ia kembali melempar benda putih aneh yang kali ini berbentuk kelabang, dan benda itu langsung melilit Itachi dengan kuatnya.

"Akkh…!" Itachi tampak tak berkutik.

"Nah, matilah kau. Gyahahahaha…" Deidara tertawa psikopat.

"Yare yare, sepertinya dia akan mati di tangan Deidara," seringai Kisame. "Kita tidak perlu turun tangan."

"Hwahahahahahaha…" Deidara membentuk segel di tangannya, bersiap meledakkan kelabang yang melilit Itachi. "Mati, kau akan mati…!" Deidara menatap mata Itachi dengan tatapan puas. Ya, dia menatapnya. Menatap mata crimson dengan tiga koma itu berubah menjadi pola melingkar seolah tiga sabit shinigami terhubung satu sama lain. Dan…

Deg!

"Hah!" Deidara memekik kaget saat ia tiba-tiba melihat langit berubah warna menjadi merah darah, dan awan-awan hitam bergerak cepat namun seolah bergerak mundur melawan waktu. Dan ia lebih tercengang lagi saat ia menyadari bahwa dirinya berada di tiang salib.

"Na-nani kore…!" belum sempat pertanyaannya terjawab, ia sudah harus terbelalak saat melihat sosok Itachi di hadapannya. Tak ada kelabang yang melilitnya, dan di tangannya ada sebilah pedang.

"Shine…! (die)" ujar Itachi dan menusukkan pedang di tangannya tepat ke jantung Deidara.

"AAAARRRRRGGGHHHHH…!" jerit Deidara.

Kemudian muncul tubuh-tubuh Itachi lainnya. Ratusan, ribuan, dan dengan sebuah pedang di tangan masing-masing. Selain itu juga muncul salib-salib lain dimana di semua salib yang ada, tubuh Deidara terpajang disana, dikelilingi ratusan Itachi dengan pedang yang sama.

"Ya-yamero…" suara Deidara bergetar. "Yameroooo…!" jeritnya saat ratusan Itachi itu menghujamkan pedangnya ke setiap inci tubuh Deidara.

"AAARRRRRGGGHHHHHHHHH…!"

"Deidara, oi! Kau kenapa?" Kisame menghampiri tubuh Deidara yang kini terjerembah di bebatuan. Ia masih menjerit kesakitan walau tak Kisame lihat ada apapun yang menyerangnya.

"Chee, pasti ulahmu," ia langsung berbalik menatap Itachi yang masih berdiri dengan nafas terengah. Kelabang yang tadi melilitnya kini teronggok di tanah tanpa gerakan berarti.

"Aku tidak tahu apa yang kau lakukan, tapi…" Kisame langsung menerjang maju. "Kau benar-benar membuatku kesal!"

Traaanngg!

Samehada beradu dengan sabit shinigami. Senjata mereka saling mendorong, dan mata mereka saling menatap tajam.

"Kau ingin tahu apa yang kulakukan padanya?" Tanya Itachi tanpa melepas tatapan tajamnya pada si vampire hiu.

"Kurasa. Tapi sepertinya aku tidak akan sempat tahu karena aku akan segera membunuhmu," Kisame menyabetkan Samehadanya sekuat tenaga, membuat Itachi terbanting kuat ke bebatuan. Dan tanpa memberi jeda, Kisame langsung menyerangnya lagi. Hingga tiba-tiba, kakinya tertahan oleh sesuatu dan iapun terpelanting ke bebatuan.

"Apa yang—…" ucapannya terhenti saat menatap apa yang menahan kakinya. Seorang Itachi lagi muncul dari dalam tanah, hanya setengah badan, dan menahannya begitu kuat. Kisame nyaris menghantamnya dengan Samehada, tapi tiba-tiba tubuhnya tak bisa bergerak saat seorang Itachi lagi muncul, mengunci pergerakaannya.

"Matilah dengan tenang," ucap seorang Itachi lagi yang muncul dari depan dengan membawa sabit shinigami. Ia mengyunkan sabit itu dan mencabik tubuh Kisame sesukanya.

"AAAAAAARRRRRRRRGGGGHHHHH…!" Kisame menjerit merasakan kesakitan di tubuhnya yang seolah benar-benar nyata. Ya, seolah.

"A-apa yang sebenarnya terjadi?" heran Kakuzu. Ia menatap Kisame dan Deidara yang kini tak dapat bergerak sambil menjerit kesakitan, padalah Itachi tak menyerangnya.

"Genjutsu," ucap Sasori. "Jenis serangan yang menyerang pikiran."

"Hah? Berarti serangannya tidak nyata kan? Kenapa mereka begitu bodoh sampai tak menyadari itu?!" omel Kakuzu.

"Karena memang rasa sakitnya nyata," jawab Sasori dan menjentikkan jari-jarinya, membuat boneka-boneka nya dalam posisi siap menyerang ke arah Itachi yang tampak masih kewalahan dengan nafasnya. "Jangan sampai kau menatap matanya," Sasori memperingatkan sebelum melesat bersama boneka-bonekanya untuk menyerang Itachi.

"Kuso…!" Itachi menghindar sambil menebas boneka-boneka Sasori. Tapi hasil tebasan itu malah berubah menjadi senjata dan mengepungnya dari segala arah. Dan dengan satu gerakan tangan Sasori, senjata-senjata itu langsung menghujam Itachi secara bersamaan.

Kepulan debu dan hamburan bebatuan yang hancur menghalangi pemandangan beberapa saat. Dan saat kepulan itu menipis, tak terlihat sosok Itachi.

"Apa dia mati?" Tanya Kakuzu melihat kehancuran yang ada.

Terdiam sejenak, Sasori tampak mengamati pecahan-pecahan bebatuan yang ada.

"Dia kabur," ujarnya kemudian saat menyadari ada retakan menuju bawah tanah.

~OoooOoooO~

Itachi berjalan pincang sambil berpegangan pada bebatuan yang mengapit salah satu sisi jurang.

"Chikuso…" lirihnya. Lututnya seolah sudah tak mampu menahan berat tubunya, hingga ia ambruk, lalu duduk dengan bersandar di bebatuan. Ia masih berusaha mengatur nafasnya, tubuhnya serasa remuk, tapi ia bahkan sudah tak punya energy untuk sekedar pingsan. Ia hanya menatap kosong ke atas. Langit gelap di atas sana tampak terang baginya karena ia berada di dasar jurang yang begitu gelap. Pasalnya, bulan cembung di atas sana tertutup awan meski tidak seluruhnya, hingga cahaya yang dihasilkan pun hanya samar semata.

Nafasnya mulai teratur saat ia menatap luka-luka di tubuhnya. Tadi ia berhasil lolos dari serangan Sasori, tapi tentu saja tubuhnya sudah sempat tercabik senjata. Dan dia bahkan masih merasa beruntung karena sepertinya tidak semua senjata tadi mengandung racun. Kalau iya, dapat dipastikan kalau sekarang seluruh tubuhnya sudah meleleh.

"Kekekekeke sepertinya kau babak belur."

Itachi tersentak kaget saat mendengar suara itu. Ia menoleh dan mendapati kepala Hidan tak begitu jauh darinya. Ia pun menghela nafas lega.

"Jangan menghela nafas lega begitu! Kau memperlakukanku seolah bukan ancaman!" omel kepala Hidan."Aku bisa saja membunuhmu sekarang!"

"Ya ya ya…" ucap Itachi. Ia memejamkan matanya, menenangkan diri dan memulai regenerasi tubuhnya. Perlahan luka-luka nya menutup, kecuali luka yang ia dapat dari Kakuzu. Juga luka dari boneka beracun Sasori yang nampaknya mulai menyebar.

"Fufufufu kau tidak akan bisa bertahan lama setelah terkena racun milik Sasori," cibir kepala Hidan. "Luka itu akan menyebar dengan cepat! Dan bagusnya kau mendapat luka-luka itu di sekujur tubuhmu Gyahahahahaha…" tawa Hidan, merujuk pada luka-luka Itachi yang ia dapat dari serangan terakhir Sasori tadi. Kebanyakan senjatanya memang tak beracun, tapi beberapa iya.

"Yeah…" balas Itachi. Ia merasa kalau racunnya mulai menyebar, dan beberapa titik di tubuhnya meleleh bagaikan besi dipanaskan, dan ia hanya bisa menahan sakit.

"Hmm…tidak akan menarik kalau sebelum survival game ini selesai kau mati."

Itachi terkejut saat mendengar ada suara lain muncul. Di hadapannya, perlahan muncul sosok seperti tanaman dari dalam tanah.

"Zetsu…?" ujar kepala Hidan.

Itachi tampak siaga.

"Tenanglah. Aku tidak tertarik ikut survival game ini. Aku datang bukan untuk menyerangmu," Zetsu menghampiri Itachi. Ia lalu menjatuhkan sebuah tabung mungil di hadapan Itachi.

"Minumlah," ujarnya. "Itu bisa membantu meregenerasi tubuhmu sekalipun luka yang kau dapat dari serangan yang tak biasa."

"Oi Zetsu! Kalau kau tidak ingin ikut survival game ini setidaknya jangan membantunya!" omel Hidan.

"Dia benar," ujar Itachi. "Aku tidak butuh belas kasihanmu."

"Kau bisa mati kalau begini terus. Kau bisa lihat sendiri seberapa cepat luka itu menyebar."

"Apa pedulimu."

"…" Zetsu membalikkan tubuhnya. "Well, tampaknya kau memang tidak ingin memenangkan survival game ini. Kukira kau ingin segera keluar dari tempat ini dan menemui entah siapa di luar sana."

Deg!

Seketika mata Itachi terbelalak.

"Sa-…su…ke…" lirihnya.

Zetsu hanya menatapnya diam saat Itachi menatap silinder mungil yang ia jatuhkan tadi. Tabung itu berisi cairan berwarna hijau. Itachi meraihnya, lalu dengan sedikit ragu membuka penyumbatnya, lalu memuntahkan isinya ke dalam mulut.

Deg!

Tiba-tiba saja Itachi merasa tubuhnya begitu sakit. Ia bahkan mencengkeram bebatuan sampai tangannya terluka dan tidak merasakan luka itu karena rasa sakit yang ia rasakan akibat meminum cairan tadi.

"A-aaarrrgghhh…!" Itachi menjerit dengan mata terbelalak lebar.

Samar dilihatnya Zetsu menyeringai.

"Well, apa aku belum memperingatkan?" ucapnya santai. "Cairan itu memang bisa membantumu meregenerasi luka, tapi kau akan merasakan sakit yang amat sangat sebagai efek sampingnya," dan iapun kembali menghilang ke dalam tanah sepertinya kemunculannya tadi.

"Aaaa—kkk…aaarrgghh…Aaaarrggghhh…" Itachi masih saja menjerit kesakitan.

Hidan yang menyaksikannya bahkan sampai terbelalak tidak percaya menatap ekspresi kesakitan Itachi. Kesakitan yang amat sangat.

"Ya-yang benar saja…" ucap Hidan tak percaya. "Oi Zetsu! Kalau mau membantu bantulah dengan benar!" dan ia yang tadi mengomel karena Zetsu membatu Itachi, sekarang balik menceramahinya. Ia kembali menatap Itachi dengan alis bertaut.

"Be-bertahanlah…" tanpa sadar kata itu meluncur dari bibirnya.

"AAAAARRRRRGGGHHHHH…!"

Cukup lama, atau bagi Hidan terasa begitu lama karena ia harus melihat Itachi yang kesakitan. Itachi terus saja menjerit, mencengkeram apa saja yang ada di jangkauannya, berharap sedikit mengurangi rasa sakit yang menderanya walau hasilnya nihil. Hingga setelah menit-menit neraka berlalu, Itachi langsung ambruk dengan nafas tersengal. Matanya yang mengalirkan air mata dari berbagai sudutnya itu tetap terbuka begitu lebar.

"K-kau baik-baik saja…?" Tanya Hidan khawatir.

Itachi masih tak bergerak, hanya suara nafas beratnya saja yang terdengar, dan jemarinya yang masih mengepal erat hingga darah mengalir karena hujaman kuku-kuku nya sendiri. Hidan hanya menatap miris. Saat itu dia hanya bisa berpikir kalau menjadi manusia masih lebih baik. Karena dengan rasa sakit seperti itu, manusia sudah pasti kehilangan kesadarannya, tapi sebagai vampire, kehilangan kesadaran adalah hal yang lebih sulit daripada kematian.

Crak!

Mata Hidan kembali terbelalak saat mendengar suara itu dari arah atas.

"Akhirnya ketemu," suara Kakuzu.

"Tunggu! Kakuzu!" cegah Hidan.

"Ha? Kau disini, Hidan? Ah, tubuhmu ada pada Sasori. Minta padanya," sahut Kakuzu.

Brrukkh…!

Tiba-tiba tubuh Hidan jatuh di hadapan kepalanya. Tampak Sasori melayang di atasnya, ia yang baru saja menjatuhkan tubuh Hidan dari dalam tubuh bonekanya. Lalu dengan pemandangan yang tampak ganjil, kepala Hidan perlahan menyatu kembali dengan tubuhnya.

"Baiklah, saatnya menghajar si brengsek ini," dengus Kakuzu.

"Kubilang tunggu!" bentak Hidan.

"Kau mencegahku menyerangnya?"

"Dia…dia kesakitan. Tunggulah sampai dia pulih!"

Kakuzu tampak memperhatikan tubuh Itachi. Sudah tidak ada satupun luka disana, dan itu justru membuatnya marah.

"Bagaimana bisa ia pulih dari seranganku!" geramnya dan langsung menyerang Itachi dengan sulur-sulurnya.

Traanngg…!

Seketika Kakuzu terbelalak saat Hidan-lah yang menahan serangannya dengan sabit Shinigami yang ia ambil dari samping tubuh Itachi.

"Aku tidak melarangmu, tapi apa kau mau menyerang lawan yang tidak berdaya?!" sergah Hidan.

"Aku tidak peduli! Minggir!" Kakuzu kembali menghujamkan sulur-sulurnya, tapi lagi-lagi Hidan menangkisnya meski kali ini ia terdorong mundur beberapa langkah hingga mendarat tepat di samping tubuh tak berdaya Itachi.

"Sasori!" teriak Kakuzu.

"Roger," jawab Sasori santai dan langsung menjentikkan jari-jarinya, memposisikan boneka-boneka nya kembali dalam posisi menyerang. Kali ini dengan jumlah yang tidak biasa. Ratusan? Atau mungkin ribuan.

"Kuso!" decih Hidan dan memposisikan sabitnya seperti pelindung meskipun ia tahu itu akan sia-sia.

Zzrraakkk…!

Boneka-boneka Sasori melesat cepat dan menghujam ke arah tubuh Hidan dan Itachi, dan menghancurkan dasar dan sisi-sisi jurang itu, menimbulkan kepulan asap yang kembali menutupi pemandangan. Tapi siapa saja yang melihatnya pasti mengerti kalau kedua orang yang menjadi object serangan itu pastilah tak selamat.

"Heh, kali ini dia tidak akan selamat," seringai Kakuzu yang berdiri menyamai ketinggian Sasori yang melayang di udara.

"Kau jahat sekali, sampai menyuruhku menyerang teman sendiri," ucap Sasori datar seperti biasa.

"Chee, apa yang kuhawatirkan? Hidan itu immortalnya immortal. Meski sudah tercabik berapa ribu bagian pun dia tidak bisa mati," jawab Kakuzu santai.

Crak…!

Kakuzu dan Sasori menoleh saat mendengar suara batu menggelinding. Tampak Kisame dan Deidara muncul dari sana meski tampaknya tubuh mereka belum bisa bergerak bebas. Mereka tampak murka.

"Brengsek! Dimana dia?" geram Kisame.

"Tenanglah, dia sudah mati," ujar Kakuzu.

Mereka berempat menatap ke arah kepulan asap yang perlahan menipis. Tapi bukannya tertawa senang, mereka justru terbelalak kaget saat perlahan mulai terlihat jelas benda raksasa entah apa, berbentuk nyaris seperti monster bertanduk yang memiliki kulit luar seperti armor, dengan sebuah tameng besar di salah satu tangannya, dan sebuah benda mirip kendi dan sebuah pedang di tangan yang lainnya. Makhluk itu semi transparent, seperti senjata roh.

"A-apa itu…?" kejut Deidara.

Tatapan mereka tak beralih dari benda itu. Dan di sana, di tengah-tengah benda transparent itu, tampak Hidan berdiri tanpa luka dan terkejut sendiri melihat keadaan yang ada. Ia beralih menatap Itachi yang perlahan bangkit.

"Arigatou gozaimasu…" lirihnya. Ia beralih menatap ke arah Kakuzu dan yang lainnya. "Masih ingin bermain? Kurasa Susano'o ku juga belum pemanasan."

"Susano'o…?" suara Hidan tercekat.

Kisame tampak menggeram, ia lalu membentuk segel aneh di tangannya, beberapa hiu bertanduk muncul dan menyerang Itachi.

Ssppllaaasshh…!

Hiu-hiu itu terkoyak setelah mengenai tameng Susano'o milik Itachi.

"Tch, benda apa itu?" kesal Kisame.

Giliran Deidara dan Kakuzu yang menyerang, Deidara dengan peledaknya, lalu Kakuzu dengan pisau angin dan bola apinya. Tapi lagi-lagi serangan itu tak berpengaruh pada Itachi.

"Giliranku," ucap Itachi. Susano'o miliknya menyabetkan pedang ke arah empat Akatsuki itu yang diam saja, selain karena Deidara dan Kisame belum bisa bergerak bebas, mereka juga harus merasakan dampak akibat serangan itu demi memperhitungkan untuk serangan selanjutnya.

Buuuummm…!

Sabetan raksasa itu membuat kehancuran yang parah, tapi mereka terbelalak saat melihat kertas-kertas yang menahan serangan tadi.

"Konan!" seru Kakuzu yang tahu siapa yang menahan serangan tadi.

"Kalian bodoh atau apa? Kenapa tidak menghindar," ucap seorang vampire wanita bersurai ungu yang baru saja muncul.

"Tidak masalah bagi kami, lagipula kami harus mengukur kekuatannya."

"Cih!" Konan mendecih sebelum ia akhirnya meledakkan kertas-kertas yang menahan pedang Susano'o Itachi. Tak ada dampak yang diterima oleh Susano'o meski dengan ledakan sebesar itu. Konan mendarat tak jauh dari keempat temannya.

"Itu bukan pedang biasa," terang Konan. "Itu adalah pedang Totsuka, kalau kalian sampai terkena serangannya, kalian akan tersegel selamanya di dunia genjutsu mimpi."

"Tch," Kisame kembali menatap Susano'o Itachi. "Lalu bagaimana kita menyerangnya? Serangan fisik sama sekali tidak mempan."

"Sepertinya satu-satunya cara adalah menyerang dari dalam," ucap Sasori.

"Cih, yang bisa melakukannya kan Zetsu. Tapi dia tidak mau ikut permainan ini," kesal Kisame.

"Baaka, dia ada disana kan?" ucap Kakuzu dan menatap Hidan. "Tepat di samping si vampire baru sialan itu."

"Heh, benar juga. Oi Hidan Teme, lakukan sesuatu pada si brengsek itu," teriak Deidara.

"Eh?" hidan tampak terkejut di tempat. Ia lalu beralih menatap Itachi yang berdiri tak jauh darinya. Pasalnya, dia memang berada di dalam Susano'o Itachi. Hidan tampak ragu.

"Kau kenapa? Apa kau sudah berpihak padanya?" cibir Kisame.

"Kau bilang kau tadi menahanku karena menunggu sampai kondisinya pulih kan? Kurasa sekarang dia sudah lebih dari pulih," tambah Kakuzu.

Hidan tampak masih ragu, ia menatap Itachi yang kini balas menatapnya.

"Apa kau? Kita sudah impas," Itachi mencoba memanas-manasi supaya Hidan tak ragu lagi. "Tadi kau menolongku, dan barusan aku yang menolongmu. Sekarang kita kembali menjadi musuh."

Hidan masih terdiam.

"Heh," Itachi menyeringai. "Ah, aku ingat. Kau itu terlalu lemah. Bahkan kau kukalahkan dalam sekali serangan. Jangan-jangan kau memang takut melawanku."

Grr…

"Jangan meremehkanku, brengsek," geram Hidan dan langsung menebas Itachi dengan sabit shinigaminya.

"Atta," Itachi mundur beberapa langkah untuk menghindar. "Apa Cuma itu kemampuanmu?"

"Heh, ini sudah cukup untuk membunuhmu," seringai Hidan seraya menjilat ujung sabitnya yang sudah terdapat darah Itachi. Itachi baru sadar kalau pipinya tergores sedikit, pasalnya lukanya langsung menutup begitu saja.

Dengan darah Itachi dan darahnya sendiri yang ia campurkan, Hidan membentuk lingkaran aneh dengan darah itu di tanah. Dan setelahnya, tubuh Hidan berubah warna menjadi hitam dengan aksen putih seperti tengkorak dan kini ia terlihat seperti pengikut dari sekte-sekte sesat.

"Sekarang nikmatilah," ucap Hidan dan menusuk perutnya sendiri dengan sabitnya.

"Hah? Kau gila? Kau sama sa—…" cibiran Itachi terhenti saat ia tiba-tiba merasakan sakit yang amat sangat di perutnya. Seolah tertusuk sesuatu. "A-aarrgghhh…" erangnya.

"Sekarang nyawamu ada di tanganku," Hidan mulai menyeringai psikopat saat kembali mencabut sabitnya, lalu beralih menusuk jantungnya sendiri.

"AAAAARRRRRGGGHHH…!" Itachi menjerit kuat, ia membungkuk. Dan tiba-tiba saja, Susano'o miliknya bagaikan terbakar, serabut tubuhnya lepas dan berubah menjadi tengkorak sebelum akhirnya benar-benar lenyap.

"Fufufu mungkin tadi aku sedikit mengasihanimu," seringai Hidan. "Tapi kurasa, wajah saat sedang kesakitan adalah yang terbaik gyahahahahahahah," Hidan menusukkan sabitnya bertubi-tubi pada tubuhnya di berbagai titik vital, dan Itachi tak henti-hentinya menjerit.

"Fufufu sekarang tinggal memenggal kepalamu," Hidan meletakkan mata sabitnya di depan lehernya sendiri.

"Ohok…" Itachi kembali memuntahkan darah segar dari mulutnya. "Khh…bukankah artinya kau harus memenggal kepalamu sendiri?"

"Tidak masalah. Seperti yang kau lihat, aku tidak bisa mati," seringai Hidan.

Itachi hanya bisa menggertakan giginya. Ia harus mencari cara bagaimana ia lolos dari jurus Hidan, dan saat itu matanya tertuju pada lingkaran darah yang Hidan pijaki. Mungkin dia harus mengeluarkan Hidan dari lingkaran itu. Tapi bagaimana caranya?

"Tch, kita jangan menyia-nyiakan kesempatan, bisa-bisa dia lolos lagi seperti sebelumnya," ucap Kisame dan langsung melompat menyerang Itachi, diikuti Deidara, sementara Kakuzu, Konan, dan Sasori dalam posisi siaga.

Itachi bergerak cepat. Ia menghujamkan tangan kanannya ke tanah, menciptakan Amaterasu yang berasal dari dalam bumi sehingga permukaan yang ada hancur dengan kemunculan Amaterasu itu, termasuk permukaan tanah dimana Hidan membuat segel dari darah. Lingkaran darah itu hancur dan Itachi bisa bebas, bahkan ia tak perlu menghindari serangan Kisame dan Deidara karena keduanya mundur sebelum Amaterasu melahap mereka.

"Jangan sampai kalian terkena api itu. Api itu tidak akan padam sampai seluruh targetnya musnah!" Kakuzu memperingatkan.

"Brengsek!" umpat Kisame.

Itachi memperhatikan mereka dengan terengah, ia setengah sembunyi di bebatuan. Ia harus memikirkan cara untuk mengalahkan mereka sekaligus. Amaterasu yang tadi ia keluarkan memang bisa membakar mereka semua, tapi jika mereka terus menghindar, itu hanya akan semain menghabiskan tenaga saja. Sementara Itachi merasa kalau tubuhnya sudah nyaris tak bisa bertahan.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu tentang kemampuan matanya. Ia mungkin bisa memakai cara itu, tapi ia tidak begitu yakin. Ia sendiri belum tahu kemampuannya sejauh mana. Tapi ia harus mencoba. Kalau tidak, serangan selanjutnya ia bisa saja mati.

Itachi mengambil nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Satu trick terakhir baginya, dan ia berharap ini akan berhasil. Karena kalau tidak, dia tidak tahu lagi harus bagaimana melawan mereka semua.

Itachi melompat ke bebatuan yang agak tinggi, cukup agar semua Akatsuki yang ada disitu bisa melihatnya.

"Hoi, Teme!" seru Itachi meminta perhatian. Semua Akatsuki itu menatap ke arahnya, menatap matanya. Ya, menatap matanya! Dan mata para Akatsuki terbelalak saat melihat sebagian tubuh Itachi berubah menjadi ribuan burung gagak yang berterbangan memenuhi udara, serta sayap-sayap hitam berjatuhan bagaikan hujan.

"Sialan!" kesal Sasori yang sadar kalau mereka kini sudah berada dalam genggaman genjutsu Itachi.

"Hah? Memangnya apa?" heran Konan. "Ini kan Cuma burung gagak."

Tak ada jawaban dari Sasori, ia hanya menggeram. "Kalian…berhati-hatilah," ia memperingatkan.

"Tidak terjadi apa-apa ka—…" ucapan Konan terpotong dan ia terpaksa harus terbelalak saat menyadari Itachi sudah ada di belakangnya dengan cakar terhunus. Spontan, Konan melompat mundur sambil melemparkan ribuan kertas peledak.

BOOM! BOOM! BOOM!

"Konan! Apa yang kau lakukan!" kesal Kisame saat berhasil lolos dari ledakan Konan. Ia menahan ledakan tadi dengan tameng airnya. "Grr…ini pasti ulahmu!" ia berpaling pada Itachi. "Kau membuat Konan melihatku sebagai kau supaya dia menyerangku!" Kisame langsung menerjang maju dengan Samehada-nya.

BBUUUAAKKK!

"Kisame-Teme! Apa-apaan kau, un!" Deidara yang menahan serangan Samehada Kisame dengan peledaknya yang berbentuk burung raksasa. "Ini aku bodoh! Kenapa kau menyerangku!" Deidara mendengus kesal ke arah Itachi. Aku tidak akan termakan ilusi-mu lagi!" Deidara langsung melemparkan sebuah burung raksasa ke arah Itachi, lalu meledakkan burung itu, sekaligus melempar beberapa ratus bom laba-laba.

BBOOOMMM! BBOOOMMMBBB!

"Aaaaaarrggghhh!" Kakuzu menjerit seraya menghindari ledakan Deidara. "Kuso! Kenapa kau menyerangku!" tiba-tiba ia tercekat saat melihat Itachi sudah di hadaannya. Kontan ia langsung menyerang dengan sulur-sulurnya yang berliran petir, sekaligus menembakkan bola api ke arah Itachi yang dilihatnya.

Tapi bagi mata Sasori, yang Kakuzu serang adalah Konan. Sasori melihat semua kawannya saling menyerang, ia tampak menatap dengan waspada karena tahu ini pasti ulah vampire baru sialan itu. Vampire baru itu pasti membuat ilusi dirinya pada anggota Akatsuki lainnya sehingga mereka menyerang satu sama lain. Tiba-tiba Sasori harus terbelalak saat Itachi sudah ada di belakangnya, bersiap melancarkan serangan.

'Tunggu, bisa jadi ini ilusi,' batin Sasori dan ta menyerang Itachi di belakangnya, ia khawatir itu adalah kawannya sendiri. Tapi…

CCRRAAASSSHHH…!

Darah segar menyembur dari tubuhnya saat sebuah benda tajam menusuk tepat di perutnya.

"Ohok!" ia terbatuk darah. "Brengsek kau!" ia menjentikkan jari-jarinya, dan beberapa senjara beracun kangsung menyerbu sosok di belakangnya.

Crash! Crash! Crash!

Ia menyeringai puas, tapi seringaiannya lenyap saat yang ia lihat tertusuk senjata-senjatanya adalah Hidan. Ya, Hidan yang tengah memegang sabit shinigami dan sabit itu masih tertanam di perut Sasori.

"B-brengsek k-kaauu…!" teriak Hidan dan langsung mencabut sabitnya, tapi bersiap menghujamkannya lagi ke tubuh Sasori.

"Tunggu, Hidan! Ini ak—…"

"Mati kau! Vampire baru sialan!"

CCRAAAASSHHHH!

Tubuh Sasori tercabik meskipun tentu saja ia masih hidup.

"Ohok!" ia berlutut sambil berpegangan di bebatuan. Ia menatap Hidan dengan mata membola, sepertinya ia baru bisa melihat kalau yang ia serang adalah Sasori.

"Sa—Saso…ri…" ucap Hidan tak percaya. Tapi lalu ia juga roboh, sepertinya racun dari senjata Sasori juga berlaku baginya. Ia sudah tak bisa bergerak lagi, tapi tentu saja ia tak bisa kehilangan kesadaran. Burung-burung gagak yang tadi berterbangan telah menghilang, begitu pula dengan sayap-sayap yang tadi berhamburan, hingga kesadaran mereka kembali dan bisa melihat semuanya dengan jelas. Dalam keremangan pandangannya, ia melihat Kisame yang sudah bersandar tak berdaya di bebatuan, tubuhnya penuh luka bekas ledakan yang sepertinya terlalu parah sampai ia tak bisa beregenerasi, sama kondisinya dengan Kakuzu. Sedangkan Deidara juga tergeletak begitu saja seolah sudah kehabisan seluruh tenaganya dengan begitu banyak luka di tubuhnya, sementara Konan juga dengan kondisi yang sama-sama tak bisa bergerak.

"Chi-chikuso…" umpat Kisame dan menatap Itachi yang masih berdiri di tempat yang sama, tak bergerak se-inchi-pun. Tapi iapun nampak kelelahan. Sepertinya ilusi tadi cukup memakan tenaganya. Ia berlutut dengan nafas terengah.

Krek…krek…krek…

Tak jauh dari mereka, Zetsu muncul dari dalam tanah. Menatap semua yang ada, dan ia tersenyum puas.

"Sepertinya kau menang, vampire baru. Mereka sudah tak bisa bergerak lagi," ucapnya. "Well, tapi sepertinya kau juga sudah sekarat. Padahal kau belum bertemu dia."

Deg!

Mata Itachi terbelalak saat mendengar langkah kaki mendekat. Ia mengangkat wajahnya, dan matanya tetap membola saat melihat seseorang muncul dan berdiri angkuh menatap mereka semua. Vampire bersurai jingga itu.

"Pain…!"

.

.

.

~ To be Continue ~