Hiiii! Sebelum lanjut baca, saya bikin kejutan lhooo! Saya bikin trailer dari cerita ini *claps* *take a bow* Untuk yang berbaik hati, bisa lihat di link ini youtu(titik)be(garismiring)wnRRtmfqBIg
Yah, masih berantakan sih editannya. Tapi semoga kalian suka. Trims! Back to the story..
Harry Potter © J. K. Rowling
Clematis Parthenocissus
Chapter 10. If This Was A Movie
Sinar matahari yang sedang sembunyi cukup menerangi rumah kaca pagi itu, menembus celah-celah yang bisa ditelusuri. Ranting-ranting kecil dan daun seolah-olah sedang bermandikan cahaya matahari bulan November yang tidak bisa dikatakan cukup untuk mereka bermetamorfosis. Beberapa tenaman yang letaknya agak bawah seolah berlomba-lomba untuk mendapatkan sinar yang akhir-akhir ini jarang muncul.
Hermione meningkapkan lagi beberapa daun dari tanaman yang sedang ditelitinya itu. Ia merasa ia sudah cukup menunggu lama untuk mengerjakan proyek Herbologinya, tapi yang ia dapatkan hingga sekarang hanyalah tanaman lain yang bahkan memunculkan bibit awalnya saja belum. Sebentar lagi, ia hanya perlu sabar.
Tanaman penunjang bibit Clematis Parthenocissus itu sudah tumbuh empat inci. Hermione menuliskan ciri-ciri pertumbuhannya pagi itu di atas perkamen dengan cepat. Setelah semuanya selesai, ia menyingkapkan tangannya dan mengambil pin prefek dari baju hangatnya. Setetes darah keluar dan turun dari kelingking Hermione.
Ia benci menusuk dirinya sendiri.
Tak ada waktu untuk mengeluhkan rasa perih di jarinya. Ia harus meneliti dalam-dalam perkembangan tanaman yang ditetesi darahnya tadi yang sekarang sedang tumbuh naik ke atas perlahan-lahan. Hermione mengambil perkamennya lagi, lalu menuliskan prosesnya.
Gadis itu menghela napas, lalu menyandarkan dirinya di kursi milik profesor Sprout. Ia datang pagi-pagi sekali; pukul enam. Dan hebatnya lagi, hari itu adalah hari Sabtu. Penghuni Hogwarts kebanyakan masih tidur di jam-jam sedingin itu. Agaknya Hermione juga masih betah bergelung di bawah selimut, tapi ia meyakinkan dirinya sendiri untuk datang cepat sebelum…
Pintu rumah kaca terbuka.
Hermione tahu siapa yang masuk tanpa harus melihat ke arah pintu. Ia langsung membereskan seluruh barang-barang yang ada di meja dan dimasukkan ke tas kecil coklatnya. Setelah mengikat rambutnya—dan berusaha untuk tidak menghiraukan tatapan yang ditujukan padanya—ia langsung mencangklong tasnya di pundak dan berjalan keluar.
Tidak, ia tidak menggebrak pintu. Ia hanya ingin keluar secepatnya.
Draco tahu bahwa hal-hal lebih buruk akan terjadi. Jadi pagi itu ia memutuskan untuk datang paling dulu ke rumah kaca untuk membereskan semuanya. Kecuali kalau ia mau diberi detensi lagi—yang mana kemungkinan besar akan menyulut hubungannya dan gadis Granger itu menjadi lebih parah. Ia meninggalkan tempat tidurnya yang melambai-lambai seolah-olah tak ada tempat yang lebih baik daripada bergelung di kasur dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya dan berada di sana hingga matahari benar-benar keluar.
Tapi terlambat. Granger sudah berada di sana terlebih dahulu. Telah selesai mengamati pertumbuhan tenaman yang dimaksudkan Draco untuk diamatinya terlebih dahulu. Pula, bercak darah di atas tanah dalam pot terlihat terlalu kentara untuk Draco bertanya pada partnernya apakah tanaman tadi sudah diberi tetesan darah atau belum.
Agaknya perkataannya semalam berefek lebih jauh daripada yang diperkirakan. Draco tidak bermaksud menyinggungnya dengan kata-kata 'berbau seperti penyakit' dan 'darah-lumpur'. Ia hanya tidak terkendali, ia hanya berada di luar batas. Ia hanya ingin Granger tahu bahwa kehadirannya akhir-akhir ini di lingkaran pertemanan Draco membuat keseluruhan hubungan antar teman menjadi seperti sebuah kesalahpahaman yang sulit diperbaiki. Ia hanya ingin Granger mengurusi urusannya dengan teman-teman Gryffindornya tanpa harus terlibat sebegitu intens dengan teman-teman Slytherin Draco. Hanya itu. Tapi Draco menyadari bahwa kata-kata 'berbau seperti penyakit' dan 'darah-lumpur' memang keterlaluan.
Minta maaf? Terima kasih.
Merlin tahu keluarga Malfoy tidak banyak meminta maaf—karena mereka memang tidak banyak berbuat kesalahan. Oke, banyak berbuat kesalahan, tapi tidak ada yang perlu dimintai maaf.
Jadi di sinilah Draco Malfoy. Meninggalkan selimutnya yang hangat demi melakukan penelitian atas tanaman proyek Herbologinya dan hasilnya nihil. Tapi setidaknya Draco tahu sekarang, bahwa Granger mengerti apa yang ia maksud tadi malam. Tak peduli apa yang Granger rasakan sekarang, yang penting maksud Draco sampai di otak gadis itu.
Atau tidak juga.
Draco tidak tahu.
Ia bingung sendiri.
Hermione menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berjalan cepat menyusuri lorong ruangan terbuka yang berada di dekat rumah kaca. Melihat wajah lelaki itu sudah cukup membuat paginya beraura tidak menyenangkan. Ia tidak kembali ke asramanya langsung. Untuk apa ia kembali? Ia sudah mengenakan berlapis kaus dan jaket serta celana training dan sepatu olahraga, dan ia tidak mau kembali ke asramanya tanpa keringat.
Setelah menaruh tas di tribun utara lapangan quidditch, ia turun menemui Ginny yang sedari tadi menunggunya di tengah lapangan. Ya, mereka janjian melakukan lari pagi Sabtu itu. Hermione tidak begitu menyukai olahraga. Tapi kemarin Ginny mengajaknya untuk lari dan berbicara bahwa tidak baik menimbun lemak di sekitar pinggang karena terlalu sering belajar. Hermione hanya mengangguk setuju. Lagipula, tak ada kegiatan tertentu untuknya Sabtu itu.
"Sudah lama, Gin?"
"Tidak juga," Ginny tersenyum sambil mengedikkan bahu. Keduanya berlari ke tepian lapangan dan mulai menyusuri sekelilingnya.
Lapangan quidditch merupakan tempat paling populer untuk siswa melakukan olahraga, terutama lari. Hermione menemukan beberapa siswa yang sedang berlari mengelilingi lapangan selain dirinya dan Ginny. Untuknya pribadi, ia terkesan dengan siswa Hogwarts yang ternyata punya inisiatif untuk menjaga stamina tubuhnya—atau untuk menjaga bentuk tubuhnya karena ia melihat Daphne Greengrass yang pesolek itu sedang berlari jauh di depannya—karena ini adalah kali pertama Hermione melakukan olahraga pagi di lapangan quidditch.
"Herm?" Hermione menoleh ke sampingnya sambil terengah-engah, "Ada apa?"
Sekarang Hermione benar-benar ingin tertawa. Mengapa tiba-tiba semua orang bertanya ada apa pada dirinya di waktu yang serentak? Apakah jelas sekali terlihat bahwa ada yang tidak beres dengan dirinya? Atau mungkin Hermione tidak boleh lagi begadang hingga larut malam karena berefek tidak bagus untuk kantung matanya—
"Matamu, idiot." Ginny menggeleng sambil tertawa.
"Mataku?" Tentu saja merupakan pertanyaan retorik karena dirinya sendiri tahu bahwa matanya bengkak. Ginny memberitahukannya hal yang sama. Hermione menyangkal bahwa ada yang tidak beres dengan dirinya, dan mata ini adalah hasil begadangnya selama mengerjakan essay profesor McGonagall tadi malam—
"—Tidak lagi, Hermione. Aku tidak bodoh," Ujar Ginny sambil terengah-engah, "Kau tidak mengerjakan essay tadi malam. Apa yang terjadi dengan kau dan Malfoy di perpustakaan?"
Hermione mengerutkan alis, "Bagaimana kau—"
"Kau sendiri yang beritahu aku kalau kau kena detensi. Yang benar saja, Hermione," Ginny menyenggol pundak Hermione dengan pundaknya, "Kau seharusnya periksa kemampuan ingatanmu."
"Oh, benar." Hermione menepuk keningnya sambil tertawa.
"Jadi?"
"Tidak ada apa-apa, Gin," Hermione tertawa.
"Kalau kau bilang begitu lagi akan kutendang kau hingga ujung sana," Ginny mengedikkan kepalanya ke tribun selatan. Hermione tertawa lebih keras, "Hermione Granger."
"Ya, Ginevra Weasley, dengar, tidak ada apa-apa, oke?" Hermione meraih rambutnya dan mengikatkannya ke belakang kepala, "Sebenarnya ada sesuatu, tapi itu hanya sebatas yang kau biasa lihat. Malfoy nyinyir, kubalas, saling ejek, well, semacam keseharian, kau tahu 'kan."
Mulut Ginny membentuk huruf O, "Lalu matamu? Jangan bilang kau putus karena bahkan aku tidak tahu kau sempat dekat dengan siapa!"
Hermione tertawa lagi, "Yang benar saja, Gin, kau mengkhawatirkanku sampai sebegitunya?"
"Ya, sebegitunya. Dan kau tidak pernah bercerita tentang laki-laki yang satu ini—"
"Tidak ada laki-laki, atau sebuah hubungan, atau apapun yang melenceng ke arah sana, Gin. Pembicaraan selesai, dan coba susul aku kalau kau bisa." Hermione langsung mempercepat larinya setelah menyelesaikan kalimat. Ginny berseru di belakangnya dan mencoba menyusul lari Hermione. Pagi itu mereka jadi seperti sedang mengikuti lomba lari. Tentu saja dimenangkan oleh Ginny. Kalian tahu sendiri alasannya apa.
Hermione berhenti dengan napas tersengal dan diperparah dengan tertawanya. Ia duduk di rerumputan yang basah, sementara Ginny berlari terlalu jauh ke depan sambil menghadap ke belakang. Apa yang terjadi selanjutnya setelah seseorang berlari menghadap ke belakang? Ya. Gadis cantik bernama Daphne Greengrass jatuh tersenggol. Hermione terbelalak dan langsung berdiri. Ginny terlihat kelabakan karena gadis Greengrass itu mengaduh terus menerus.
"Akan kubawa kau ke Madam Pom—"
"Tutup mulut, Weasley!" Greengrass mengerang lagi, ia bersusah payah memposisikan tubuhnya untuk berdiri sambil memegang daerah lutut kanannya yang sakit, "Idiot." Gumamnya.
Hermione menghampiri, "Kau baik-baik saja?"
Agaknya tidak, karena Greengrass memegang lutut kanannya keras-keras dan ekspresi wajahnya begitu kentara. Hermione tahu Greengrass bukan gadis manja yang suka melebih-lebihkan seperti temannya Pansy Parkinson. Ia tak pernah punya masalah dengan gadis ini. Setidaknya ia pikir ia tidak punya.
Keputusan akhir dari tawar menawar pagi itu adalah Hermione dan Ginny membopong Greengrass sampai ke sayap rumah sakit. Tak ada pilihan lain. Mungkin Greengrass sempat berpikir untuk tidak meminta bantuan dari seorang darah-lumpur dan seorang darah-pengkhianat, tapi tak ada lagi siswa Slytherin yang berkeliaran di sekitar sana.
"Argh. Bodoh!" Ginny menepuk-nepuk pelipis dengan kedua tangannya. Greengrass sedang melakukan pemeriksaan dengan Madam Pomfrey, sementara kedua gadis Gryffindor yang agaknya kurang beruntung pagi itu tengah menunggunya di kasur rumah sakit yang paling dekat dengan pintu.
"Gin, berhenti." Ujar Hermione sekilas sambil membolak-balikkan majalah Witch Weekly edisi beberapa bulan yang lalu yang disediakan di rak buku satu-satunya di ruangan itu.
Setelah beberapa lama, Madam Pomfrey menghampiri keduanya sambil membopong Greengrass sayng sekarang lututnya disanggah oleh sesuatu mirip perban, "Tidak apa-apa, hanya terkilir." Hermione bisa mendengar Ginny bernapas lega di sebelahnya, "Bagaimanapun, tolong bopong Miss Greengrass kembali ke asramanya. Ia harus dibopong dari kedua sisi. Jangan lupa minum ramuannya." Madam Pomfrey beralih ke Greengrass yang mengangguk masam.
Ketiga gadis itu memposisikan diri mereka agak lama agar tidak menyenggol kaki yang terkilir tadi. Daphne Greengrass tampaknya tidak menolak karena mungkin ia menyadari bahwa ia tidak akan bisa sampai ke asramanya kalau tidak ditolong oleh kedua makhluk Gryffindor ini.
"Maaf." Ujar Ginny di sela langkah ketiganya di tengah lorong.
"Hmm." Greengrass mengangguk pelan. Ia tidak suka berdebat sepertinya.
"Weasley, akhirnya aku menemukanmu." Theodore Nott muncul dari balik pintu Aula Besar, "Daphne!" Ia melangkah mendekat, "Apa yang terjadi denganmu, demi Merlin!" Laki-laki itu mengamati perban yang membalut lutut Greengrass dengan alis berkerut.
"Kecelakaan kecil." Ujar gadis itu sambil tersenyum. Hermione sempat sedikit terkejut karena yang ia tahu Slytherin sudah pasti akan menyalahkan seseorang dan tidak segampang itu berkata bahwa yang terjadi hanyalah kecelakaan kecil seolah-olah bukan masalah besar.
"Demi Tuhan, Daphne." Nott mendekati Ginny sambil mengisyaratkan bahwa ia akan menggantikan Ginny membopong Daphne ke asramanya. Ginny awalnya bersikeras tidak mau digantikan karena ini adalah salahnya dan ia ingin bertanggung jawab, sampai akhirnya Nott berkata bahwa Ginny ditunggu profesor McGonagall bersama prefek kelas lima lainnya di ruang prefek.
Sekarang siapa yang harus periksa kemampuan ingatan? Dengan itu, Ginny meminta maaf sekali lagi dan berlari pergi ke arah berlawanan untuk menghadiri rapat prefek kelas lima. Ya, dengan pakaian olahraga.
Bagus. Sekarang Hermione terjebak dengan dua Slytherin. Ia teringat dengan pernyataan Malfoy tadi malam, dan tentu saja bukan ide yang baik kalau Malfoy melihatnya bersama Nott dan Greengrass. Hermione merutuk dalam hati. Ia tidak pernah mau berurusan dengan Slytherin, dan seharusnya Malfoy tahu itu. Semuanya terjadi begitu saja, seperti sekarang ini contohnya. Seketika Hermione ingin merobek kepala Malfoy dengan pisau dan memperluas pandangannya. Menjadi seorang murid Hogwarts tentu tidak bisa hanya bergaul dengan teman seasramanya saja, bukan? Mau tak mau ia harus berada di posisi di mana ia berinteraksi dengan murid asrama lainnya.
"Apa yang terjadi, Granger?"
"Well," Hermione menelan ludah, "Aku sedang lari pagi bersama Ginny. Dan Ginny sedang berlari menghadap ke belakang sewaktu ia menyenggol Gree—Daphne. Madam Pomfrey bilang ia terkilir."
"Konyol sekali," Nott menggelengkan kepalanya, "Madam Pomfrey memberikan obat padanya?"
"Yep."
"Apa yang Daphne pikirkan—"
"Hey, hey, hey, hey!" Greengrass memperkeras suaranya, "Aku masih di sini. Kecuali kau dan Granger ingin berbincang berdua, aku akan kembali ke asrama sendiri."
Draco baru saja hendak pergi ke Aula Besar untuk sarapan ketika di ujung koridor ia melihat tiga orang yang benar-benar ia kenal berjalan mendekat. Keningnya berkerut. Seingatnya tadi pagi Daphne masih pamit akan lari pagi dengan begitu bahagianya. Draco diam di tempatnya dan menunggu hingga ketiga orang yang ada di depannya cukup dekat.
"Apa yang terjadi padamu, Daphne?"
Daphne tersenyum, "Lututku terkilir," ujarnya. Granger terlihat tidak yaman berada di antara gerombolan Slytherin. Demi janggut Merlin, Draco bertanya-tanya mengapa dalam setiap kejadian yang melibatkan dirinya, Theo, dan Daphne, harus selalu ada Granger.
"Granger," Daphne menoleh ke kanannya. Gadis yang dipanggilnya tadi seperti tersadar dari lamunannya, "Biarkan Draco mengambil alih." Dengan itu Granger melepaskan rangkulannya dan pergi tanpa banyak basa-basi.
Draco sedikit bersyukur karena tidak ada hal buruk yang menghalangi Theo dan Daphne untuk tetap berinteraksi seperti biasanya.
"Maaf mengganggu jadwal sarapanmu, Draco," Ujar Daphne ketika mereka hampir sampai di depan pintu asrama, "Aku hanya tidak nyaman berada di sisi darah-lumpur itu—"
"Daphne," Theo menggeram.
Daphne menoleh ke sampingnya sambil mengerutkan alis, "Apa? Kau mau membelanya lagi?"
"Aku yakin kita sudah cukup dewasa untuk tidak memanggil orang lain dengan sebutan yang tidak pantas."
"Aku rasa kau terlalu sering bergaul dengannya dan menilai semuanya secara berlebihan." Sentak Daphne, "Lepaskan. Aku bisa sendiri."
"Kenapa kau bertingkah seperti anak kecil, demi Merlin!" Theo masih merangkul Daphne dan membopongnya berjalan. Draco terdiam, berusaha tidak terlibat dalam percakapan kecil yang melibatkan Granger—lagi—di dalamnya.
"Berhentilah berpura-pura bahwa tidak ada apa-apa di antara kau dan Granger, Theo!" Daphne melepaskan rangkulannya, "Berhentilah bersikap sok pahlawan padahal kau hanya ingin—"
"Daphne, stop it! We're not discussing this anymore." Theo berputar untuk merangkulkan tangannya lagi.
Daphne menghindari rangkulan Theo, membuatnya dan Draco seketika sempoyongan, "Dengar, Theo, kalau kau memang berpacaran dengan Granger, it's fine! Ia pintar, tentu saja, kau suka gadis yang pintar. Tapi kau tidak pernah tahu bagaimana rasanya ketika aku baru saja jatuh dan pikiranku sedang tidak menentu, sedangkan kau tanpa berpikir panjang membela Granger dengan ketus seperti itu! Kau bisa membelanya dengan tidak harus menyakiti perasaanku, 'kan? Kau tidak pernah mengerti, Theo, kau tidak akan pernah mengerti! Aku bersumpah akan menjejal darah-lumpur itu—"
"Permisi."
Draco tidak mampu menoleh ke belakang. Yang ia tahu selanjutnya adalah Granger—dengan intonasinya yang seperti berusaha menahan emosi—berkata bahwa tas Daphne tertinggal di sayap rumah sakit dan ia membawakannya ke sini. Setelah itu semuanya diam. Di lorong bawah tanah itu terdengar jelas langkah Granger yang menjauh; cepat tapi pasti.
Draco tahu rasanya memergoki orang lain yang sedang berbicara tentang dirinya di belakangnya.
Tapi ia tahu, sesakit apapun itu, Granger bukan gadis cengeng.
Lagipula, semua orang tahu sifat Slytherin, 'kan?
Atau… mungkin tidak?
Sore itu Hermione membawa Pride and Prejudice-nya ke Menara Astronomi. Pikirannya kacau. Ia butuh tempat tenang. Perpustakaan bukan alternatif yang tepat untuknya menghabiskan Sabtu sore. Biasanya di hari libur seperti itu para siswa bahkan akan lebih banyak di sana. Entah apa yang mereka lakukan, tapi Hermione pernah memergoki beberapa pasangan sedang pacaran di sana. Menjijikkan.
Ia duduk di sebuh undakan dan menyandarkan punggungnya ke tembok. Dibukanya halaman dua ratus sebelas. Matanya mencari-cari kata-kata terakhir yang dibacanya. Tapi bagaimanapun ia mencoba, ia tidak bisa melanjutkan bacaannya ke halaman selanjutnya. Hermione berputar-putar di kalimat yang sama. Faktanya, Hermione bahkan tidak tahu apa yang sedang ia baca.
Kata-kata Greengrass terngiang di kepalanya. Sebuah hinaan semacam darah-lumpur sudah biasa ia dengar. Tapi di belakangnya? Yang benar saja. Bahkan gadis itu menyangka bahwa ia dekat dengan Nott! Hah! Dekat! Ia tahu beberapa situasi yang tidak tepat pada waktunya, tapi keseluruhan kejadian yang melibatkannya dengan Theodore Nott semata hanya kejadian tidak direncanakan, dan Hermione tidak mengharapkannya sama sekali.
Ia tahu. Ia yakin sekarang. Keseluruhan kalimat yang dilontarkan Malfoy padanya malam itu bukan tidak beralasan. Tapi tak adil rasanya kalau Hermione dipersalahkan gara-gara hal yang bahkan ia tidak harapkan.
Well, Malfoy memang tidak pernah toleransi.
Argh.
Ia benci pikiran tentang Malfoy.
Berbau seperti penyakit…
Argh!
Terdengar langkah seseorang menaiki anak tangga. Hermione seketika memegang tongkatnya dan mamasang mata. Seorang laki-laki berambut pirang muncul dari balik pagar kecil yang menutupi undakan tangga. Ia—sama seperti Hermione—terkejut.
Hermione lebih memilih berhadapan dengan Pelahap Maut dibandingkan harus bertemu makhluk yang satu ini.
Oh. Bukankah Malfoy juga Pelahap Maut? Ha. Ha.
Alih-alih kembali, lelaki itu malah terdiam sejenak di tempatnya, lalu melangkah ke arah balkon sambil menghela napas. Hermione tidak ingin berada dalam situasi seperti—ini. Ia mengambil pembatas buku yang ada di sampingnya, manaruh di halaman yang sudah diberi tanda, dan berdiri sambil menutup buku. Ia lebih baik pergi sebelum keadaan lebih buruk lagi.
Draco memegang besi pagar balkon keras-keras. Ia tidak menyangka akan bertemu Granger di Menara Astronomi. Setelah semua yang terjadi di antara mereka, orang yang paling dihindari Draco saat ini adalah Granger itu sendiri. Bukan sikapnya untuk harus kembali turun dan memberikan seluruh atmosfer sore Menara Astronomi pada Granger. Draco tidak mau mengalah.
Entah kenapa Draco ingin keadaan seperti ini berakhir saja.
Terdengar buku ditutup. Gadis itu berdiri, lalu melangkahkan kakinya.
"Granger," nama itu meluncur cepat sekali bahkan sebelum otaknya menyetujui.
Draco membalikkan badan, menatap punggung gadis itu yang langkahnya terhenti. Mereka hanya berjarak beberapa langkah.
"Maaf soal Daphne." Geez, stupid.
Gadis itu mendengus dan tertawa mengejek. Ia tahu bahwa perkataannya tadi tidak terdengar seperti seseorang yang meminta maaf. Keseluruhan nada yang diberikannya malah lebih terasa arogan. Draco tidak pernah minta maaf. Ia tidak tahu bagaimana cara meminta maaf yang benar. Dan Daphne sebetulnya tak perlu dilibatkan dalam masalah ini. Gadis itu tidak akan terima kalau sebuah maaf diatasnamakan padanya. Terlebih lagi untuk Granger.
Tapi Draco sudah tidak tahan, demi Merlin! Ia semacam merindukan pertikaian kecilnya yang tidak berbuntut serius seperti ini. Oh, tidak, tidak. Cepat-cepat dihapus pikiran itu dari otaknya.
Mungkin kalau Granger sudah tahu apa maksudnya malam itu, tak ada lagi gunanya memperpanjang masalah.
Mungkin.
Granger melangkahkan kakinya lagi. Dengan cepat, jemari Draco menggamit pergelangan tangan gadis itu, "Aku minta maaf."
Clematis Parthenocissus, Chapter 10.
Voilaaaa! Thanks for reading! Review, and click this if you want to see the Clematis Parthenocissus trailer I've made: youtu(titik)be(garismiring)wnRRtmfqBIg
