"Hei! Hei! Hei!"

Gadis berambut coklat yang ditata cepol kembar berjalan cepat, tas kecil miliknya terselip di bahunya yang kecil dan terbakar matahari. Ia melipat kedua tangannya sambil menundukkan pandangan. Di atas permukaan kayu dermaga ketukan sepatu kets miliknya terdengar memburu, berlomba dengan bayangan summer dress miliknya dan kicauan burung camar.

"Tenten!"

Tangan kuat Naruto yang menariknya paksa membuat tasnya terhempas ke lantai. Sekarang Tenten mendapati dirinya terkunci dalam tatapan bingung Naruto, tidak mampu menolak daya tarik pusaran kemilau biru.

"Lepaskan, Naruto." pintanya lemah.

"Tidak."

Nada memerintah Naruto membuat bulu roma gadis itu meremang.

"Tidak sampai kau jelaskan kenapa kau menolak untuk menatap mataku lurus."

Tenten meringis. Baru saja ia memutus kontak mata dengan Naruto. Hangat tubuh pria itu mengalir melalui telapak tangannya, membuat Tenten semakin lemah menghadapinya.

"Apa aku berbuat salah?"

"Ti-bukan begitu-"

"Lalu kenapa?" tanya Naruto lagi, tangan menarik bahu Tenten mendekat.

"!"

"Jangan bilang kalau kau mulai suka padaku?"

Tenten tertawa garing. "Kau lucu, Naruto."

"Kalau tidak, apa alasan kau tiba-tiba bersikap aneh begini?"

"Aku hanya tidak ingin memberimu harapan palsu lebih dari ini."

"Harapan palsu?"

Tenten mengangkat kepalanya. "Lupakan saja perasaanmu padaku, Naruto. Aku tidak pantas kau manjakan seperti beberapa hari ini. Lakukan itu pada gadis yang membalas perasaanmu juga."

Tenten baru saja mengambil lima

langkah menjauh dari Naruto kala kata-kata kepala durian itu membuatnya memaku.

"Seperti Hinata?"

Tenten berhenti. Ia menoleh ke Naruto yang berdiri diam beberapa meter jauhnya. Apa maksud perkataan barusan?

"Apa kalau aku memacari Hinata, kau akan melihat padaku?"

"Apaー"

Naruto mengeliminasi jarak di antara mereka. Ekspresinya geram.

"Itu kan yang kau lakukan? Memacari laki-laki yang sudah punya kekasih?"

PLAK!

Air mata Tenten mengalir di pipinya, tangannya masih terasa nyeri sehabis menampar pria di hadapannya. Ekspresi pria itu kini terhalang rambut pirang, tapi Tenten bisa melihat dengan jelas memar kemerahan di pipi kirinya.

Siapa dia, berani mengatai Tenten tanpa tahu yang sudah dilaluinya?

"Kau pikir siapa dirimu?"

Naruto perlahan menoleh dan memperlihatkan ekspresi datar. Ia juga bukannya tidak mengharapkan reaksi keras dari Tenten. Ia pantas mendapatkannya.

"Hanya karena belum pernah berada di posisiku, kau tidak berhak berkata begitu!"

Bergerak cepat, Naruto mendekap gadis itu dalam pelukannya. Protes demi protes, pukulan demi pukulan diterima olehnya. Hanya satu yang ia tidak mau terima: jika gadis itu berhasil melarikan diri. Maka itu akan menjadi kesempatan yang ia sia-siakan.

Kesempatan yang tidak akan datang kembali.

"Maaf."

Erangan gadis itu teredam dada bidang Naruto. Setelah mendengar perkataan maafnya, Tenten seolah kehilangan keinginannya untuk melawan. Ia masih menangis, tapi tidak memberikan tanda akan mencoba melarikan diri.

"Maafkan aku."

Kedua kepalan tangan Tenten meremas kain di dada Naruto. Mereka berdua tahu ini bukan salah siapa-siapa. Yang dikatakan Naruto benar; Tenten memang memacari suami orang. Tidak perlu meminta maaf.

"...akan kubunuh kau...jika berani mempermainkan Hinata..." desah Tenten di tengah sesenggukan.

Tangan Naruto mengelus kepala Tenten lembut. "Aku tahu. Aku tidak akan sungguh-sungguh melakukannya. Maaf."

"...kenapa...kau terus menerus minta maafー"

"Maafkan aku. Jangan pergi."

Tenten terdiam. Nafasnya masih eratis karena isak tangis. Tapi kini ia sudah lebih tenang.

Entah mengapa, setiap berurusan dengan ayah dan anak ini, Tenten selalu berakhir dalam pertengkaran. Dan air mata. Dan rasa bersalah. Dan permintaan maaf dari mereka.

Padahal yang pantas disalahkan di sini adalah...

"Akuーtidak bisa membalas perasaanmu, Naruto."

"..."

"Maaf." desahnya.

Naruto melepaskan pelukannya. Senyuman tipis tercetak di wajahnya. Tidak ada kesan pura-pura di sana.

"Kau tahu ini bukan pertama kalinya aku menerima penolakan darimu. Maaf, tapi kau tidak bisa membuatku mundur hanya dengan mengatakan itu."

Tenten mengeluh. "Sekarang aku paham kenapa Hinata menyukaimu."

Naruto mendekatkan wajahnya. "Hm? Apa itu artinya kau juga menyukaiku sekarang?"

Tenten tidak menjawab. Ia hanya menatap lurus dada Naruto, wajahnya merah.

"...eh?"

Tenten sudah lelah berpura-pura tidak menyadari keberadaan pria pirang berisik ini. Sekarang ia tidak tahu harus bagaimana. Coba sekuat mungkin, Tenten tidak akan bisa mengalihkan pandangan dan pura-pura tidak menyadari keberadaan mereka. Naruto dan Minato.

Naruto meneduhkan pandangannya. "Hei, Tenten."

Sang empunya nama perlahan mengangkat pandangannya. Angin pinggir laut meniup jejak-jejak air mata di wajahnya, mengeringkan mereka seolah Tenten tidak pernah menangis.

Naruto memang keturunan Minato. Meski lebih heboh dari ayahnya yang karismatik, kualitas kekeraskepalaannya untuk mengejar hal yang mereka inginkan tetap sama. Kemampuan mereka meyakinkan orang juga.

"Boleh aku menciummu?"

Bola mata biru itu juga...

"...lakukan itu, dan kau akan menyesal." ujar Tenten acuh tak acuh, membuang muka.

Kalung berliontin cincin pemberian Minato terasa dingin saat bibir hangat Naruto bergesekan lembut dengan bibir Tenten. Kedua tangan Naruto menekan leher dan punggung Tenten erat, menjaga gadis di dekapannya dari melarikan diri.

"...ha...h"

"K-kau membuat kesalahan, Naruーumh!"

Bibir Naruto mengklaim bibir milik Tenten lagi dan lagi. Pekikan terkejut Tenten yang sangat imut sesekali terdengar. Gadis itu berusaha keras tidak memberikan reaksi terhadap ministrasi Naruto, tapi kekeraskepalaannya justru membuat si pirang ingin melihat reaksinya jika lidah mulai dilibatkan.

"...!"

Tenten mendorong Naruto menjauh. Kali ini pria itu sengaja mengurangi kekuatannya, ia yakin. Wajahnya serasa terbakar saat memandangi ekspresi melayang Naruto. Masih jelas ia ingat sensasi lembut yang memenetrasi mulutnya beberapa saat lalu.

"Kh...kau ini-!"

"Maaf." ucap Naruto kehabisan nafas, "Aku tidak kuat menahan diri lagi."

Tenten menatap Naruto tidak percaya. "Bodoh! Aku mau pulang!"

"Tung-Tentenー"

Naruto terhenti di langkahnya. Tangannya sudah meraih ke arah Tenten, tapi pemandangan di depannya membuatnya urung menangkap lengan kecil itu lagi. Menunduk sambil kembali memeluk dirinya sendiri, Tenten terburu-buru berjalan ke arah parkiran mobil di dekat dermaga. Wajahnya memang tidak terlihat jelas, tapi Naruto menangkap warna merah merambat di telinga gadis itu. Naruto tersenyum sambil menggaruk lehernya, gemas melihat sikap tidak jujur Tenten.

"Ahaha...kenapa kau manis sekali, sih, Tenten."

"...!"

Tenten menoleh, ekspresi salah tingkah kini dipertontonkan bebas kepada siapapun yang ada di dermaga. Naruto merutuk dalam hati, bersyukur dermaga sedang sepi sehingga tidak ada pria lain yang melihat.

"Kalau kau terus bersikap manis seperti itu, aku akan menciummu lagi, lho."

"Bo-! Jangan mendekat! Aku akan teriak minta tolong!"

"Hmm? Jadi semakin ingin kucoba."

"Aku serius, bodoh!" pekik Tenten tidak karuan, sikapnya persis anak kecil.

Bzzz!

Naruto melirik ke arah kantong celananya. Ia merogoh ke dalamnya untuk mengambil telepon genggam yang ia charge tiga jam sebelum kapal berlabuh di dermaga. Matanya memicing, cahaya terang matahari siang hari membuat layar handphone-nya tidak tampak jelas.

"Ah, halo? Ayah?"

Deg.

Lutut Tenten menjadi lemas.

"Aku sudah di Konoha sekarang. Iya, aku tahu. Maaf sudah memakai kapal pesiar tanpa izin."

Ayah Naruto, dengan kata lain...

Naruto menangkap mata Tenten. Ia tersenyum nakal, tidak menyadari kekacauan di hati gadis berambut coklat tersebut. Itu, atau derap langkah kaki Tenten yang mendekat panik.

"Aku sedang bersama Teー"

Tenten meraih tangan Naruto yang memegang handphone, menjauhkannya dari tubuh mereka berdua. Ia memanfaatkan keterkejutan Naruto dengan menekan kedua bibir mereka bersama, efektif menghentikan pria itu dari menyebutkan nama Tenten. Ujung jemari di permukaan dada Naruto bisa merasakan otot miliknya berkontraksi. Ia jelas tidak menyangka Tenten akan menyerang tanpa peringatan.

"...kau..."

Jempol Tenten merambat pelan.

"...pikir aku menyukaimu, tapi..."

Tombol memutus panggilan ia pencet.

"...mungkin itu benar."

Naruto memandangi wajah Tenten penuh bingung. Kebingungan itu bertambah berkali lipat melihat aliran air mata yang jatuh di pipi gadis itu.

Bukan begini.

Bukan begini harusnya.

"Tapi aku masih mencintai pacarku lebih dari siapapun."

Remasan tangan Tenten di dada Naruto terasa menyesakkan. Tapi gadis itu melepaskan remasannya pasrah seiring menundukkan kepalanya. Wajah Minato terngiang di benaknya; kini ia sudah berada di Konoha dan cepat atau lambat, ia juga harus memberitahu kebenaran pada Naruto.

Tapi jika Minato mendapat tahu tentang hubungannya dengan Naruto lewat teleponー

Ia hanya pengecut yang takut menghancurkan segalanya.

"Empat hari terakhir ini tidak mengubah apapun."

Ia tidak berhak bahagia.

"Karenanya...lupakan aku."