You're My London

Ooc, GS, Typo(s), tidak sesuai EYD dll.

Ranted : T

Chapter : 10/?

Cast : KaiSoo

Another Cast : HunHan and ChanBaek

.

Chapter 10 : London

.

Sehun dan Luhan tengah berada di sebuah café, mereka sedang menghabiskan waktu luang bersama. Luhan memilih duduk di teras dengan sebuah kanopi berwarna biru muda yang melengkung indah. Mereka duduk di sebuah meja bundar dari kayu yang terlihat mengkilap.

Ternyata pekerjaan mereka di New York tidak serumit yang di perkirakan. Mereka hanya harus duduk di kursi mendengarkan seseorang berpresentasi. Seharusnya Luhan bisa tetap tinggal di London dan menghabiskan waktu bersama Kyungsoo tapi ternyata ayahnya dan ayah Sehun sudah merencanakan ini semua.

Bicara soal kedua orang tua itu, kemarin memang sangat mengejutkan. Sejujurnya Luhan benar – benar tidak menyangkan kedua orang tua itu akan menjodohkan dia dengan Sehun. Hampir semalaman dia tidak bisa tertidur, dan hari ini matanya cukup merah dan bengkak. Dia terus berpikir bagaimana cara keluar dari masalah ini.

"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Sehun membuat Luhan mengerjapkan mata.

Wanita itu tidak sadar kalau sedari tadi dia sedang memainkan garpu. Luhan menaruh garpu itu sambil berdeham, dia juga baru sadar kalau sedari tadi dia membiarkan pancakenya begitu saja.

"Sesuatu menganggu pikirkanmu? Matamu terlihat aneh pagi ini." Tanya Sehun sambil menyuapkan pancake kedalam mulutnya.

Luhan menaikan sebelah alinya sambil menatap Sehun. Tentu saja sesuatu menggagu pikirannya, bagaimana tidak? Dia akan di jodohkan dengan pria di harapannya itu, sedangkan di sisi lain dia tau kalau Sehun mencintai wanita lain yang membuat rumit adalah wanita yang di cintainya adalah Kyungsoo, sahabat yang sudah Luhan anggap sebagai saudaranya sendiri.

Dan pria itu baru saja menanyakan apakah ada sesuatu yang menganggu pikirannya. Yang benar saja! Luhan memutarkan bola matanya dan mendengus.

"Kau masih ingat apa yang di katakan ayah kita kemarin?" Tanya Luhan. Sehun mengangguk dengan santai sambil melanjutkan makannya. Dia bertingah seolah – olah apapun yang di khawatirkan Luhan bukanlah sebuah perkara besar.

"Lalu? Kau akan diam saja?" Tanya Luhan yang mulai frustasi.

"Memangnya kenapa?" tanya Sehun dengan nada dan intonasi yang sama.

"Apakah menurutmu ini bukan masalah yang rumit?"

"Kau menganggap ini sebuah masalah?"

"Memangnya apa kalau bukan?"

Sehun menaruh garpunya dan menatap Luhan lekat – lekat membuat wanita itu bergerak menjauh. Sehun terus menatapnya selama beberapa detik, tapi menurut Luhan itu terasa seperti berjam – jam. Dia tidak pernah suka saat Sehun memperhatikannya seperti itu, karena jantungnya akan merespon berlebihan, jantungkan akan selalu berderup di luar nalar.

"Aku kira kau menyukaiku." Ujar Sehun membuat Luhan membelalak kaget. Kini jantungnya benar – benar berderup jauh di luar batas, seolah – olah dia baru saja naik rollercoster yang panjangnya puluhan mil.

Bagaimana Sehun tau?

...

Jongin dan Kyungsoo sudah bergabung di gedung yang akan di jadikan pameran untuk lukisan. Gedungnya terletak tengah – tengah bangunan kampus, cukup luas dengan dinding bercat putih dan pilar – pilar cukup besar yang mengingatan Kyungsoo pada musium. Jendela – jendela besar di biarkan terbuka membuat matahari musim panas yang terang langsung masuk ke dalam ruangan.

Banyak sekali mahasiswa yang sibuk mondar – mandir kesana – kemari. Beberapa diantaranya bahkan sedang berseru satu sama lain, bekerja sama untuk membereskan tempat ini.

Kyungsoo masih berjalan di samping Jongin, menatap sekelilingnya sambil tersenyum. Entah kenapa suasana hatinya tiba – tiba bagus saat melihat mahasiswa yang dengan semangat mengantungkan lukisan mereka di dinding dengan hati – hati.

"Kai!" seseorang berseru membuat kedua orang itu langsung menengok. Ternyata teman Jongin yang bernama Ian sedang membawa sebuah paku di tangan kanannya dan setoples paku di tangan kiri. Pria itu tersenyum sambil melambaikan tangannya. "Kau bisa membantuku di sini?" tanya pria itu.

Jongin langsung berjalan, diikuti dengan Kyungsoo dari belakang. Mereka berdua mengangkat sebuah lukisan dengan gambar pedesaan yang hijau dengan rumput – rumput yang seolah bergoyang tertiup angin. Ian menaiki sebuah bangku untuk menempelkan paku di sana.

"Sudah lama sekali kita tidak bertemu." Gumam Ian, suaranya tak bergitu jelas karena teriakan – teriakan orang di sekitar mereka.

"Sepertinya. Kapan terakhir kita bertemu?" tanya Kyungsoo sambil mendongakan kepala menatap pria itu.

"Entahah, aku sudah tidak ingat. Kau harus sering – sering datang ke sini." Usul pria itu sambil turun dari kursi dan mundur beberapa langkah mengamati lukisan yang sekarang sudah tergantung itu.

"Kau dengar apa yang dia katakan?" tanya Jongin sambil menyenggol bahu Kyungsoo. "Kau harus sering – sering datang ke sini."

"Ya, dan di jadikan sebagai asisten pribadimu?" tanya Kyungsoo sambil mengerlingkan matanya. Jongin tersenyum dan merangkul bahu Kyungsoo sambil menarik wanita itu untuk mendekat.

"Asal kau tau saja, kau asisten paling baik yang pernah aku jumpai."

Sejujurnya wajah Kyungsoo sudah merona tapi wanita itu kembali mengerlingkan matanya, mencoba untuk tidak menganggap itu sebagai sesuatu yang lebih, dia tau Jongin memang suka bercanda, dia juga tau kalau itu hanya sebagian kecil dari candaan yang di lontarkan Jongin.

"Tentu saja, tentu saja, siapa lagi yang mau menjadi asistenmu kalau bukan aku huh?" Gerutu Kyungsoo sambil mencoba melepaskan tangan Jongin dari bahunya. Tapi pria itu malah menariknya membuat wajah mereka semakin berdekatan.

Dan Jongin tersenyum, senyuman yang cukup membuat Kyungsoo mematung untuk beberapa detik, cukup untuk memicu jantungnya kembali berdetak tak karuan. Sekujur tubuh Kyungsoo tiba – tiba saja kaku, tangannya yang tadi mencoba melepaskan tangan Jongin kini membatu seakan tak bisa digerakan.

"Maka dari itu jangan pernah menghindariku lagi, karena aku tidak bisa melakukan apapun tanpa dirimu." Kyungsoo tau Jongin mengatakannya dengan sebuah nada candaan yang biasa di lontarkan pria itu tapi entah kenapa di telinganya semua itu terdengar berbeda. Kalimat itu entah kenapa membuat Kyungsoo seakan – akan tidak bisa bernafas, semua kalimatanya tercekat di tenggorokan.

Dehaman dari Ian, membuat Kyungsoo langsung sadar dan kembali pada dunianya. Dia mendorong tubuh Jongin agar menjauh dan merapikan kemaja yang di gunakannya. Kyungsoo menghela nafas panjang dan berdecak pinggang.

"Kau terdengar menggelikan. Berhenti merayuku." Ujar Kyungsoo sambil melenggang meninggalkan Ian yang sedang terkekeh dan juga Jongin yang malah tertawa seakan barusan adalah sebuah lelucon lucu yang mengelitik perutnya.

Kyungsoo berjalan sambil mengepalkan tangannya, mencoba untuk melupakan kalimat yang baru saja di lontarkan Jongin. Meyakinkan dirinya sendiri, kalau itu hanya sebuah guyonan tanpa makna dan tak berarti apa – apa, meyakinkan dirinya untuk berhenti berharap terlalu jauh dan berpikir rasional.

...

Tapi beberapa menit kemudian Jongin dan Kyungsoo sudah kembali berdampingan menggantungkan lukisan besar di dinding. Jongin seakan – akan memiliki kemampuan untuk membuat orang di sekitarnya tidak tahan untuk lama – lama mengabaikan dirinya, seperti yang di rasakan Kyungsoo saat ini. Wanita itu sekarang bahkan sudah bisa tertawa dengan lelucon yang di lontarkan Jongin.

Mereka terus bekerja sama membereskan gedung ini, beberapa teman Jongin yang memang sudah pernah bertemu dengan Kyungsoo, kembali menyapa wanita itu dan berbincang – bincang mengenai beberapa hal sepele, seperti kampus, jurusan dan hal – hal sepele lainnya. Mereka semua menggap Kyungsoo layaknya teman lama, membuat Kyungsoo tidak merasa canggung atau tersisihkan.

Tak terasa hari sudah mulai menjelang petang dan persiapan untuk pameran mereka sudah hampir selesai, tinggal membuang beberapa tumpukan sampah yang sudah di kumpulkan di sudut ruangan.

Kyungsoo menjatuhkan dirinya di lantai yang sekarang sudah mengkilap itu dan menatap ke seluruh penjuru ruangan. Lukisan – lukisan itu sudah tergantung rapi di dinding, beberapa orang mulai bersorak dan tertawa puas dengan hasil mereka. Matanya menangkap Jongin yang sedang berbicang dengan seorang pria berambut blonde yang sedang memegang palu, tapi kepalanya tidak berhenti menengok ke kiri dan ke kanan seakan mencari – cari sesuatu, dan tak lama kemudian mata mereka bertemu.

Senyuman di bibir Jongin langsung merekah, dia berujar sesuatu pada pria itu dan membuat mereka berdua menatap Kyungsoo sambil tersenyum. Kyungsoo yang tau menjadi bahan pembicaraan mengalihkan pandangannya. Detik berikutnya dia sudah mendapati Jongin duduk di sampingnya, tepat di sampingnya, tak ada jarak bahkan secuilpun yang memisahkan mereka, kedua bahu itu saling bersentuhkan membuat Kyungsoo menggeser tubuhnya.

"Apa?" tanya Kyungsoo saat Jongin terus memandangnya sambil tersenyum.

"Kau tidak akan mengeluhkan sesuatu padaku? Atau menuntut apapun atas apa yang telah kau lakukan untukku hari ini?" Tanya Jongin. Kyungsoo mengalihkan pandangannya sambil mengangkat bahu. "Biasanya kau akan menggerutu." Tambah Jongin membuat Kyungsoo kembali menatapnya tajam.

"Jujur saja banyak sekali yang ingin aku katakan padamu, tapi aku terlalu lelah untuk berbicara apalagi berdebat denganmu, jadi sudahlah." Dengus Kyungsoo.

Jongin kembali tertawa, pria itu melingkarkan tangannya di tubuh Kyungsoo dan menaruh kepalanya di kepala Kyungsoo. Pria itu menghela nafas panjang dan menutup matanya sesaat.

"Terima kasih." Gumamnya pelan.

Kyungsoo yang masih belum bisa bangun dari keterkejutannya hanya bisa mengangguk. Sudah berkali – kali Jongin melakukan ini padanya, sudah berkali – kali pula tubuh mereka berdekatan, tapi itu tidak berati Kyungsoo berhenti merasakan jantungnya berderup tak normal setiap kali Jongin berada di sampingnya. Kyungsoo hendak menarik diri tapi Jongin menahan tubuhnya membuat Kyungsoo kembali membatu.

"Jongin-"

"Mereka tidak akan perduli, Soo. Biarkan seperti ini untuk sesaat." Sela Jongin seakan tau apa yang akan di katakannya. Kyungsoo pun menyerah dan membiarkan keadaan mereka seperti itu, dia menghela nafas panjang dan sadar tak sadar dia ikut menyandarkan tubuhnya pada Jongin, membuat dia bisa merasakan panas yang menguar dari tubuh pria itu.

Beberapa orang ikut duduk di samping mereka, sampai akhirnya semua orang berkerumum duduk di samping kiri dan kanan Kyungsoo. Jongin sudah menarik dirinya, tapi sebelah tangan pria itu masih setia melingkar di pundak Kyungsoo.

"Aku lapar." Teriak salah seorang teman Jongin. Kyungsoo menengok kebelakang dan ternyata, semua orang terlihat kelelahan, beberapa diantara mereka bahkan membaringkan diri di lantai seperti korban bencana alam. Kyungsoo hendak berbalik, mengatakan sesuatu pada Jongin tapi sekarang tangan di pundaknya menghilang, pria itu bangkit dari duduknya membuat Kyungsoo harus mendongakan kepala untuk menatapnya.

"Karena kalian sudah berkerja dengan baik, aku akan mentraktir kalian makan hari ini." Serunya membuat semua orang langsung menatap kearahnya.

Kyungsoo membelalakan mata. Mentraktir semua orang? Kyungsoo perlu mengerjapkan matanya beberapa kali dan kembali menatap kerumunan orang – orang di sekelilingnya.

Tanpa di hitung jumlah mereka lebih dari 30 orang dan jelas sekali mereka memiliki nafsu makan yang baik apalagi saat mereka kelelahan seperti ini. Kyungsoo percaya bahwa apa yang dikatakan Jongin adalah sebuah lelucon. Dia tidak mungkin-

"Deal!" Teriak mereka hampir bersamaan.

Kerumunan orang – orang itu mulai bangkit untuk mengambil barang – barang mereka, menyisakan Kyungsoo yang masih termengung duduk di lantai sambil menatap Jongin.

"Kau gila." Gumam Kyungsoo membuat Jongin sontak tertawa. Pria itu mengulurkan tangannya untuk membantu Kyungsoo berdiri.

"Aku gila karenamu." Ucap Jongin sambil menarik tangan Kyungsoo keras membuat tubuh wanita itu oleng dan menabrak tubuhnya.

Tubuh mereka bersentuhan, mungkin hanya terpaut beberapa centi atau bahkan mili. Wajah Jongin berada di hadapannya, Kyungsoo bahkan bisa merasakan hembusan nafas pria itu di wajahnya. Tubuhnya kembali kaku seperti biasa, pandangannya terpaku pada kedua mata Jongin yang entah sejak kapan terasa menghipnotis, senyuman pria itu menambah buruk derup jantungnya.

"Tidak usah buru – buru." Gumam Jongin membuat mata Kyungsoo kembali teralih padanya. Pelahan Jongin melepaskan tangannya dari siku Kyungsoo, setelah memastikan kalau wanita itu sudah bisa berdiri tanpa kembali terjatuh.

Dia mengerjapkan matanya berkali – kali sambil menundukan wajah tak berani menatap Jongin, sampai akhirnya pria itu kembali melingkarkan tangannya di bahu Kyungsoo dan menarik wanita itu untuk keluar dari gedung tanpa berkata apapun.

Kyungsoo menghela nafas panjang, mungkin ini saatnya dia untuk mengontrol perasannya, mengontrol reaksi jantungnya. Karena dia tau mereka tidak bisa seperti ini, Kyungsoo harus bisa menjaga perasaannya, dan mungkin melepaskan Jongin. Melupakan pria itu, walau jauh di lubuk hatinya, dia menolak.

...

Mereka sampai di sebuah tempat makan khas italia yang menyediakan berbagai macam pizza dan pasta yang sangat mengiurkan, Jongin duduk berhadapan dengan Kyungsoo. Wanita itu masih menutup mulutnya dan tak mengatakan sepatah katapun, dia juga bahkan tidak berani menatap Jongin.

Pria itu tersenyum dan menatap Kyungsoo dihadapannya yang sedang sibuk dengan ponsel. Beberapa kali dia bergumam tak jelas dan kedua ibu jari yang sibuk mengetik sesuatu. Entah kenapa di mata Jongin wanita itu terlihat sangat lucu saat menggerutu seperti itu, bibirnya mengerucut, keningnya berkerut, matanya yang bulat menatap lekat – lekat ponsel.

Saat Kyungsoo mengangkat wajahnya, matanya langsung bertatapan dengan Jongin, membuat dia terkejut setengah mati. Kyungsoo mengira Jongin akan langsung mengalihkan pandangannya atau apapun itu, tapi sayangnya tidak. Pria itu malah menatap Kyungsoo lekat – lekat, ekspresi wajahnya berubah serius dan tidak ada senyuman di bibir tebalnya.

"A-apa?" tanya Kyungsoo saat Jongin tak kunjung mengatakan sepatah kata.

Detik berikutnya, air mukanya langsung berganti. Seyuman itu kembali di bibirnya, matanya yang tadi memancarkan ke seriusan kini sudah berganti.

"Aku sedang memikirkan sesuatu." Jawab Jongin sambil membolak – balik buku menu.

"Apa harus sambil menatapku seperti itu? Tadi kau sangat…" Kyungsoo menggantungkan kalimatnya membuat Jongin mendongakan kepala menatapnya.

"Sangat apa?"

"Menakutkan, lagi pula-" Lanjut Kyungsoo sambil berpura – pura bergiridk.

"Aku memikirkanmu." Sela Jongin sebelum Kyungsoo sempat menyelesaikan kalimatnya. Untuk sesaat Kyungsoo bergeming, wanita itu menatap wajah Jongin, mencari tau kalau tadi itu hanya sebuah lelucon belaka, tapi sayangnya mata Jongin malah menunjukan hal kebalikannya.

"Berhenti bercanda." Ujar Kyungsoo yang seakan menyangkal semua yang di lihatnya. Jongin tersenyum dan menjulurkan tangannya untuk mengusak rambut Kyungsoo sebelum mengalihkan pandangannya pada salah seorang teman yang duduk di samping kirinya.

Mereka mulai terlibat percakapan yang tak bisa Kyungsoo tangkap, karena dia tengah sibuk mencerna semua yang terjadi pada dirinya dan Jongin, semua yang telah mereka lewati selama ini.

Semua di mulai dari hal sepele seperti pujian yang di lontarkan Jongin saat mereka bertemu untuk kedua kali di apartemennya, kemudian tangan Jongin yang menggegam tangannya, semua rangkulan Jongin di pundaknya, pelukan yang di berikan pria itu dan semua tawa yang pernah menghiasi hari mereka.

Untuk sesaat Kyungsoo sempat berpikir kalau ini tidak hanya di lewati oleh dua orang yang berpikir mereka itu adalah dua orang teman. Kyungsoo terus berpikir apakah ini memang hal lumrah di antara pertemanannya atau memang ini sesuatu hal berbeda? Sesuatu yang lebih dari sekedar pertemanan?

Semuanya seakan berputar – putar di kenpala Kyungsoo. Ratusan pertanyaan dan spekulasi langsung memenuhi pikirannya, dan entah kenapa bayang – bayang Sehun dan Luhan tiba – tiba saja terlintas. Dengan otomatis semua memori tentang bagaimana hubungan Luhan dan Jongin kembali terpampang jelas, bagaikan sebuah film yang di putar ulang. Begitu juga dengan Sehun, kalimat pria itu kembali terngiang – ngiang membuat kepalanya ingin meledak.

Kyungsoo mulai bingung dengan semua yang terjadi diantara mereka, semua masalah ini bagaian sebuah benang kusut yang sulit untuk di benahi, bagaikan di hadapkan pada sebuah jalan tak berujung, dia bingung. Dia mulai ragu dengan keputusan yang nanti harus di ambilnya, dia mulai ragu dengan dirinya sendiri, dia…

"Ada apa denganmu?" sebuah sentuhan di lengannya membuat Kyungsoo mengerjap kembali dari lamunan panjangnya. Wanita itu mendongakan kepala dan saat sadar semua orang menatapnya, bahkan Jongin yang ada dihadapannya.

"Kita bertanya apa yang ingin kau pesan." Ucap Jongin membuat Kyungsoo kembali mengerjapkan mata dan mengikuti arah pandangan Jongin yang bertuju pada buku menu.

"Oh." Jawbanya singkat dengan nada gugup yang sangat kentara dalam suaranya. Dia akhirnya memilih secara acak tanpa benar – benar melihat apa yang ada di buku menu itu. Saat semua orang mulai sibuk dengan percakapan mereka, Kyungsoo menghela nafas panjang dan menutup wajahnya.

"Ada apa denganmu?" bisik Jongin membuat Kyungsoo menatap pria itu dari sela – sela jarinya. Kyungsoo menghela nafas panjang dan kembali menarik tangannya dari wajah dan lebih memilih menompang dagunya sambil menatap Jongin.

"Aku baik – baik saja." Jawab Kyungsoo ringan sambil memutar – mutarkan ponselnya di atas meja.

"Kau tau? 'aku baik – baik saja' adalah kalimat yang sering sekali orang ucapkan saat mereka berbohong."

Kyungsoo mulai gelagapan saat mendengar pernyataan Jongin, karena sejujurnya dia jauh sekali dari kata 'baik – baik saja' tapi akhirnya wanita itu menyerah dan menaruh kepalanya di meja menghindari tatapan Jongin.

"Mau membicarakannya denganku?" tanya Jongin sambil menarik – narik rambut Kyungsoo membuat wanita itu langsung menepis tangannya dan menggeleng tanda menolak.

"Baiklah aku menyerah." Ujar Jongin sambil menghela nafas panjang. "Aku tidak akan membahasnya." Lanjut pria itu membuat Kyungsoo menarik kembali tubuhnya.

"Tidak akan membahasnya? Okay?" Kyungsoo memastikan. Jongin mengangguk sebagai jawaban.

Tak lama kemudian, pesanan mereka mulai diantarakan satu persatu. Saat itulah Kyungsoo sadar betapa perutnya kelaparan dan cacing – cacing di dalam sana sudah berteriak untuk di beri makan. Tapi saat pesanannya datang, tubuh Kyungsoo langsung membeku.

Dia baru sadar kalau pasta yang di pesanannya di penuhi dengan saus tomat. Kyungsoo mengerjapkan matanya berkali – kali. Dia melirik ke samping kanannya, orang – orang sudah mulai menyantap pesanan mereka berbeda dengan dia yang sama sekali belum menyentuh piringnya. Sepertinya dia salah memesan makanan hari ini, dia tidak mungkin diam tanpa menyentuh makanannya, karena itu terlihat tidak sopan tapi…

"Kenapa?" tanya Jongin membuat Kyungsoo kembali mengalihkan pandangannya pada pria itu. "Biar aku tebak. Kau pasti tidak suka dengan pesannmu bukan?" Kyungsoo mengerjap dan mengangguk perlahan.

"Biar aku pesankan makanan lain." Ucap Jongin hendak mengangkat tanganya untuk memanggil pelayan. Tapi Kyungsoo malah menghentikannya dan menggeleng.

"Tidak perlu, sungguh. Kau akan mengeluarkan uang lebih karena hal ini." Ujar Kyungsoo masih menggenggam tangan Jongin.

"Lalu? Kau mau menukarnya dengan milikku?" Tanya Jongin.

Kyungsoo menatap piring milik Jongin sambil menggit bibirnya, walaupun dia tidak tau apa yang menjadu saus di atas pasta itu, yang jelas itu bukan warna merah tomat seperti miliknya.

"Kau tidak keberatan?" Tanya Kyungsoo ragu. Jongin menghela nafas panjang dan menukar piringnya dengan milik Kyungsoo, kemudian melepaskan tangannya yang sedari tadi di genggam oleh Kyungsoo untuk menjitak kepala wanita itu.

"Dasar bodoh, aku bahkan tidak keberatan jika kau ingin memesan makanan lain." Ujar Jongin. Sementara Kyungsoo meringis pelan sambil mengerucutkan bibirnya. "Sudah sekarang makanlah."

Kyungsoo mendengus tapi dia menuruti apa yang dikatakan Jongin. Wanita itu mulai menyuapkan segarpu pasta ke dalam mulutnya. Detik berikutnya raut wajah Kyungsoo langsung berubah menjadi berbinar, dia kembali menyuapkan pasta itu ke dalam mulutnya.

"Oh Tuhan, ini luar biasa." Gumam Kyungsoo tak jelas membuat Jongin tertawa. Kemudian mereka terlibat banyak sekali percakapan, dan sebenarnya pecakapan ini di dominasi oleh Jongin yang terus mengejek Kyungsoo karena masalah pesananya.

Karena mereka duduk paling pinggir dan semua orang sedang sibuk membicarakan masalah pameran, jadi kedua orang itu seakan – akan memiliki dunia mereka sendiri dan tak terganggu oleh ricuhnya pembicaraan mahasiswa dan tawa mereka yang memenuhi ruangan, sampai akhirnya seseorang mengintrupsi pembicaraan mereka.

"Kai."

Sontak Jongin dan Kyungsoo langsung menengok ke samping membuat semua orang langsung menyuraki mereka. Kyungsoo mengerutkan kening sambil menggelengkan kepala dan kembali menyuapkan pastanya.

"Terima kasih untuk hari ini." Ucap temannya yang berambut pirang itu sambil mengangkat gelasnya yang hampir kosong tinggi – tinggi.

"Dan yang kemarin, dan yang kemarinnya lagi dan yang kemarinnya lagi…" Kalimatnya mulai tak terdengar karena tawa dari mahasiswa lain. Jongin ikut tertawa, dia kembali memalingkan wajahnya pada Kyungsoo yang sekadang menatapnya dengan kening berkerut.

"Apa?" tanya Jongin membuat kerutan di kening itu semakin dalam.

"Aku tidak mengerti apa yang baru saja kalian tertawakan." Ucap Kyungsoo. Jongin hanya mengangkat bahunya seolah tidak ada niatan untuk menjawab. Belum sempat Kyungsoo kembali bertanya seorang pria menaruh sebuah kursi di pinggir Kyungsoo.

Pria itu memiliki rambut yang di cat merah marun, hidungnya mancung, rahangnya tegas dan memiliki mata indah bagaikan langit di pagi yang cerah. Pria itu melengkungkan sebuah senyuman di bibirnya.

"Hallo" Sapa pria itu pada Kyungsoo.

"Hi." Jawab Kyungsoo sambil menyuapkan pasta terakhir ke dalam mulutnya. Pria itu mengulurkan tangannya.

"Kevin." Kyungsoo menahan senyumannya, dia menatap Jongin sekilas yang memang sedang memperhatikan mereka dengan kening berkerut. Kyungsoo menjabat tangan pria itu.

"Kyungsoo." Dia sudah bisa menduga kemana arah pembicaaan ini. Tapi Kyungsoo terkejut saat pria itu menarik tangannya untuk di cium, dia menatap Jongin yang membelalakan matanya kaget.

"Hey! Hey! Hey!" Teriak Jongin sambil menepis tangan Kevin, membuat pria itu meringis sambil tertawa. Dengan sigap Jongin menarik tangan Kyungsoo menjauh dari pria itu. "Kau tidak bisa melakukannya sembarangan." Cetus Jongin sambil memukul bahunya pelan.

Bukannya marah Kevin malah tertawa, dia menatap Jongin dan Kyungsoo secara bergantian dan kembali tertawa, membuat kedua orang itu mengerutkan keningnya.

"See!" Seru Kevin. Jongin dan Kyungsoo mengalihkan pandangannya ke samping dan ternyata kejadian itu sudah di lihat semua orang yang ada di sana.

"Hey Kai, kau tidak pernah memperlakukan wanita seperti itu, kau tau?" Ledek satu temannya membuat Kyungsoo mengalihkan pandangannya.

Darah mengalir deras di pipinya, jantungnya kembali berderup kencang, dia sama sekali tidak berani untuk menatap Jongin ataupun teman – temannya.

"Kau menyukainya bukan?" Kyungsoo memejamkan matanya untuk sesaat sambil menundukan kepala. Itu adalah pertanyaan yang tidak ingin dia dengar hari ini, Demi Tuhan! Dia tidak-

"Ya." Suara Jongin yang lantang membuat Kyungsoo mengangkat wajahnya. Dia melihat Jongin berjalan ke sampingnya dan melingkarkan tangannya di pundak. Kyungsoo mengerjapkan mata beberapa kali dan merasa kalau tubuhnya di tarik Jongin untuk berdiri. "Dia milikku, jadi kalian semua tidak boleh mengganggunya." Lanjut pria itu dengan suara yang entah kenapa terdengar kekanak – kanakan tapi di saat yang bersamaan itu terdengar serius.

"Wuuuuu"

Wajah Kyungsoo semakin memerah, dia melepaskan tangan Jongin dari pundaknya. Belum sempat dia menyangkal, mulutnya di bekap oleh Jongin dan tubuhnya kembali di tarik untuk keluar dari tempat makan itu.

...

Jongin dan Kyungsoo sedang jalan berdampingan, semenjak meninggalkan café tidak ada satu katapun keluar dari mulut keduanya. Entah kenapa suasana canggung begitu terasa diantara mereka, tidak seperti biasanya, Jongin pasti akan dengan mudah mencairkan suasana dan kembali menggodanya. Tapi hari ini dia seakan menjadi orang yang berbeda. Kyungsoo tidak pernah melihat Jongin seperti ini, begitu tenang dan pendiam, seakan – akan ada dua kepribadian dalam tubuh itu.

Tiba – tiba saja tubuh Jongin berhenti membuat dia ikut menghentikan langkahnya. Jongin langsung menengok ke samping dan menggenggam tangan Kyungsoo sebelum menarik wanita itu untuk berlari. Kyungsoo yang belum siap hampir saja terjatuh karena di seret olehnya.

"Mau kemana?" tanya Kyungsoo dengan nafas yang tersenggal.

"Kita harus cepat." Hanya itu yang keluar dari bibir Jongin. Walaupun bingung Kyungsoo tetap mengikuti pria itu. Sampai akhirnya dia melihat sebuah tangga yang cukup tinggi di depan matanya. Kyungsoo menahan tangan Jongin yang hendak kembali membawanya berlari.

"Kau tidak berpikir kalau aku akan menjejakan kakiku di tangga – tangga itu kan?" Tanya Kyungsoo tanpa melepaskan pandangannya dari tangga.

"Lalu? Kau mau aku menggendongmu?" tanya Jongin. Kyungsoo mendengus dan menyentakan tangannya agar lepas dari genggaman Jongin, dia hendak berbalik untuk pergi meninggalkan Jongin tapi sayang tangan pria itu sudah menahannya. Dengan gerakan cepat Jongin langsung menggendongnya dan membawa Kyungsoo untuk menaiki tangga.

"DEMI TUHAN KIM JONGIN TURUNKAN AKU!" Pekik Kyungsoo. Tapi Jongin tidak mengindahkannya dan terus membawa Kyungsoo menariki tangga.

"AKU BISA BERJALAN SENDIRI!" Pekiknya lagi membuat Jongin menghentikan langkahnya. "Aku bisa berjalan sendiri."Ucapnya sekali lagi.

"Tidak akan kabur, okay?" tanya Jongin meyakinkan.

"Tidak. Aku berjanji." Ucap wanita dengan dengan cepat. Jongin akhirnya menurunkan Kyungsoo dari gendongannya dan Kyungsoo baru saja sadar kalau sedari tadi dia melingkarkan tangannya di leher pria itu.

Tanpa membuang waktu, Jongin kembali menarik sebelah tangan Kyungsoo dan membawa wanita itu menariki tangga. Tinggal beberapa undakkan lagi untuk sampai di atas sana. Nafas Kyungsoo sudah tersenggal – senggal dan kakinya sudah mulai terasa pegal. Mungkin ini saatnya Kyungsoo untuk kembali berolah raga dan menggerakan badannya.

Saat sampai dia atas sana, Kyungsoo duduk di sebuah kursi panjang dari kayu yang catnya sudah mulai mengelupas, di beberapa bagian, kursi itu sudah rapuh termakan jaman. Dia menatap Jongin yang berdiri membelakanginya.

"Apa yang-"

Belum Kyungsoo bisa menyelesaikan kalimatnya, dia melihat sebuah pemandangan indah di depannya. Semburat warna jingga menyala, menghiasi langit sore. Burung – burung gereja berterbangan kembali ke sarang, menambah indahnya pelandangan sore ini. Matahari yang terbenam memang selalu menjadi pemandangan indah untuk siapapun, termasuk dirinya.

Kyungsoo menutup matanya untuk sesaat. Dulu saat dia masih tinggal di Korea, setiap kali dia melihat matahari terbenam, dia selalu memejamkan matanya dan berharap sesuatu. Beberapa menit kemudian, dia membuka mata dan baru sadar kalau Jongin sedang menatapnya.

"Aku baru tau kau benar - benar kekanak – kanakan." Jongin sudah kembali menjadi Jongin yang akan menggodanya. Kyungsoo mengerlingkan mata dan memukul perut Jongin pelan. Dia masih ingin berdiri, di sini menatap langit yang perlahan tapi pasti akan berubah menjadi gelap dan kehilangan penerangan dari sang mentari.

"Kau tidak akan beranjak? Hari sudah mulai gelap." Gumam Jongin membuat Kyungsoo menghela nafas panjang. Langit yang gelap memang selalu menjadi musuk terbaiknya.

"Kau tau kenapa aku tidak pernah menyukai kegelapan dan langit malam?" tanya Kyungsoo sambil menundukan wajahnya. Jongin menjejalkan tangannya ke dalam saku dan menggeser tubuhnya semakin mendekati Kyungsoo.

"Tidak, apa yang sebenarnya membuatmu begitu takut?"

Untuk beberapa saat Kyungsoo tak menjawab, wanita mengangkat kepalanya dan kembali memandang lurus, jauh kedepan sana seakan tengah berpikir.

"Sesuatu pernah terjadi." Ujar Kyungsoo hampir beruba bisikan pelan. "Aku pernah mengalami kejadian mengerikan, dulu usiaku masih 7 tahun." Kyungsoo kembali terdiam lama membuat Jongin semakin penasaran.

"Apa yang terjadi saat itu?" Tanyanya tidak bisa menahan diri. Kyungsoo menghela nafas panjang sebelum berbicara.

"Saat itu, apartemen yang kami tinggali mati lampu. Ayah keluar untuk mengecek sedangkan aku dan ibu berada di ruang tengah, duduk di depan lilin – lilin. Tak beberapa lama, ayah kembal dan mengatakan kalau ada kosleting listrik, beliau mengatakan sebentar lagi akan kembali menyala. Tapi satu, dua jam kemudian, listri masih padam. Sampai akhirnya aku tertidur…"

Kyungsoo kembali menundukan kepalanya dan sebuah isakan mulai terdengar. Kyungsoo menutup wajahnya dengan kedua tangan untuk menahan isakan. Jongin dengan sigap merangkulnya dan membawa wanita itu ke dalam pelukannya.

"Tidak apa – apa." Jongin mencoba menenangkan. Pria itu mengusap – usap punggung Kyungsoo sampai akhirnya tangisan itu terhenti. Kyungsoo menarik wajahnya dari dada Jongin dan menggeser sedikit tubuhnya. Perlahan Jongin menarik tangannya dari tubuh Kyungsoo dan menatap wanita itu yang tengah menyerka air matanya.

"Lalu apa yang terjadi?" tanya Jongin setelah memastikan Kyungsoo sudah tenang.

"Aku tidak ingat apapun. Yang aku ingat hanyalah banyaknya teriakan dan orang – orang saling berseru satu sama lain, juga api…" Kyungsoo kembali berbisik. "Aku melihat api dimana – mana. Saat itu aku ingat aku ada di dalam gendongan ayah, beliau membawaku untuk keluar. Tiba – tiba saja rasa panik melanda, aku tidak bisa melihat ibu dimana – mana. Saat itu ayah menurunkanku dan menyurhku untuk lari keluar secepat mungkin sedangkan beliau akan mencari ibu."

"Seorang pemadam kebakaran membawaku keluar dan menyuruhku untuk menjauh. Aku berteriak, mengatakan kalau ayah dan ibu masih ada di dalam, akhirnya beberapa orang kembali masuk kedalam sedangkan aku yang masih kecil hanya bisa menangis dan menunggu. Tapi saat api berhasil di padamkan aku tidak melihat ayah dan ibu dimanapun. Kemudian saat semuanya sudah terlambat, hujan turun. Turun sangat deras. Aku mulai mendengar orang – orang yang berteriak dan menangis di saat yang bersamaan, detik berikutnya aku tidak mengingat apapun."

"Ke esokan harinya aku terbangun, aku sadar saat itu aku sedang berbaring di salah satu ruang inap rumah sakit. Paman dan bibiku ada di sana. Saat itu juga bibi langsung memelukku sambil menangis tersedu – sedu. Tanpa perlu di jelaskan, aku sudah tau apa yang terjadi."

Kyungsoo memejamkan mata dan menghela nafas berat, dia mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh. Tapi kemudian sesuatu yang hangat menyetuh punggung tangannya. Kyungsoo menatap Jongin yang sekarang tengah menggenggam tangannya. Kyungsoo ingin sekali menarik tangannya perlahan tapi kehangatan itu seakan menggodanya, membuat dia mengalihkan pandangan dan membiarkan pria itu menggam tangannya. Sejak dulu inilah yang di butuhkannya, sebuah kehangatan yang sudah lama hilang dari kehidupannya.

"Lalu kau tinggal dengan paman dan bibimu?" Tanya Jongin. Kyungsoo mengangguk pelan sebagai jawaban.

"Mereka membesarkanku layaknya anak kandung, mereka bahkan menyuruhku untuk menganggap mereka sebagai ayah dan ibu walau mereka sadar kalau mereka tidak akan pernah bisa menggantikan orang tuaku. Tapi saat berjalannya waktu, aku sudah mulai terbiasa, aku sudah bisa menganggap mereka sebagai ayah dan ibu. Dan saat itulah aku bertemu dengan Luhan. Dia salah satu orang yang membuatku terus bertahan sampai saat ini."

"Luhan tau soal ini?" tanya Jongin. Kyungsoo menggeleng pelan.

"Aku tidak pernah membicarakan ini dengan siapapun bahkan Luhan. Dia hanya tau aku bukan anak kandung mereka, tapi dia tidak bertanya lebih jauh. Luhan mengatakan kalau itu hanya masa lalu." Ujar Kyungsoo sambil menghirup nafas panjang.

Dia menatap Jongin sambil menyerka matanya, tersenyum pada pria itu. Kyungsoo menyikut Jongin yang sedari tadi hanya menatapnya dengan sendu.

"Berhentilah menatapku seperti itu, aku baik – baik saja." Ujar Kyungsoo membuat Jongin ikut menghela nafas panjang.

"Akhirnya aku mengerti alasanmu. Tapi jujur saja, setelah mendengar semuanya, aku tidak percaya kau masih bisa bertahan dengan apa yang terjadi padamu. Kau tau, dengan melihat kau berdiri di kota ini karena usahamu sendiri, membuatku semakin terkagum – kagum, mungkin- tidak ini pasti, mereka di atas sana, pasti bangga sekali melihatmu sekarang."

Kyungsoo hanya bisa tersenyum dan kembali menatap langit yang sekarang berubah menjadi kelabu. Dia menatap sang rembulan yang muncul lebih awal dan bertanya – tanya dalam benaknya, apakah kedua orang tuanya melihat dia di sini sekarang? Apakah perkataan Jongin benar? Apakah mereka padanya?

"Aku bangga padamu." Bisik Jongin membuat Kyungsoo kembali mengalihkan pandangannya pada pria itu. Dia baru sadar kalau sedari tadi tangan mereka masih bertautan. Senyuman Jongin kembali membuat pipi Kyungsoo bersemu merah.

...

Kembali pada Sehun dan Luhan yang masih menghabiskan waktu luang mereka di café. Luhan masih terkejut dengan pernyataan yang baru saja diajukan oleh pria di hadapannya. Dia tidak pernah menyangkan Sehun akan mengatakan hal seperti itu.

"Aku kira aku menyukai Kyungsoo dengan tulus." Ujar Luhan mengalihkan pembicaraan. Sehun hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh.

"Aku dengar ada pertunjukan di Broadway, kau mau melihatnya?" Ajak Sehun seakan tidak terpengaruh dengan apapun yang di katakan Luhan.

"Terserah padamu." Jawab Luhan sambil bersandar pada kursi menatap Sehun yang sibuk dengan ponselnya.

Akhirnya mereka menonton sebuah pentas drama terkenal di Broadway. Hari ini drama yang di pentaskan adalah drama dengan judul Cabaret, dulu aktris Michelle Willian pernah memainkan salah satu karakter di drama ini, dia menjadi Sally Bowles.

Seharunya Luhan datang ke tempat ini bersama Kyungsoo, sahabatnya pasti tau banyak tentang drama ini, dia juga berharap suatu hari nanti Kyungsoo bisa tampil di panggung semegah ini. Pasti akan menyenangkan jika melihat wanita bertubuh kecil itu bisa berdiri di panggung itu.

Tapi sepertinya pementasan drama Cabaret bukanlah sebuah pilihan untuk kedua orang itu, karena itu adalah salah satu drama dewasa dengan sekelumit masalah dalam hubungan Sally Bowles dan Brian Roberts. Namun kedua orang itu yang terlalu awam dengan pementasan drama dan cerita – ceritanya, memutuskan untuk menunggu sampai pentas drama itu selesai.

Setelah acara selesai mereka buru – buru keluar dari tempat itu dan memutuskan untuk mampir ke salah satu starbucks untuk membeli satu cup kopi, mocachino atau apapun itu. Saat mereka berdua sampai ternyata antriannya cukup pajang. Maklum saja, ini sudah saatnya jam kantor pulang. Saat – saat seperti ini memang akan banyak di sesaki pelanggan yang mampir sebelum akhirnya pulang ke rumah.

"Sepertinya drama tadi-"

"Aku tidak mau membahasnya." Ucap Luhan sambil menutup telinga dengan tangannya dan mendorong tubuh Sehun untuk memasuki antrian, sedangkan pria itu hanya tertawa. Luhan meronggoh ponselnya dari dalam clutches bag berwarna merah terang itu, tapi sayang tas itu malah tergelincir dari tangannya dan menimpa kaki seseorang yang berada di belakangnya.

"Oh my god, I'm so sorry." Ujar Luhan sambil meraih tasnnya yang terjatuh. Saat dia mendongak, seorang pria bertubuh tinggi dengan badan yang tegap berdiri sambil meringis.

"I'm so very sorry." Ucap Luhan sekali lagi. Tapi pria itu malah menyodorkan tangannya.

"I'm Bryan." Luhan mengerutkan keningnya saat pria itu secara tiba – tiba malah mengenalkan dirinya.

"Luhan." Jawabnya singkat sambil membalas jabatan tangan pria itu.

"By the way, because you drop that bag on my feet-that's hurt actually, I thought you don't mind if I ask your phone nomber."

Luhan terkejut dengan apa yang di ucapkan pria itu. Dia mulai tergagap untuk menanggapi pria dengan mata abu – abu itu. Tapi belum sempat Luhan mengatakan sepatah kata, sebuah tangan melingkar di pinggangnya membuat dia terkejut.

"She is my girlfriend and we will be engaged soon." Ucap Sehun sambil tersenyum, tangannya menarik Luhan untuk menjauh dan membiarkan wanita itu berdiri didepannya, menghalau pria bertubuh tinggi itu.

"Oh, I'm sorry." Ucap pria itu sambil tertawa dengan seorang teman di belakangnya, seakan kata maaf itu hanya sebuah kata tanpa makna yang mengisaratkan penyesalan. Sehun hendak menyela tapi Luhan menggenggam tangannya untuk menghentikan pria itu bertindak lanjut. Setelah Sehun mengangguk, Luhan baru melepaskan genggamannya.

"Girlfriend? Engaged?" Bisik Luhan dengan kening yang berkerut dan wajah yang merona.

"Why? You don't like that idea? Should I told him that you're my fiancee and we'll be married soon?" Ucap Sehun sambil tertawa. Tapi itu sama sekali tidak lucu di telinga wanita itu, akhirnya Luhan menyikut tubuh Sehun agar pria itu berhenti tertawa.

Beberapa menit berikutnya mereka sudah mendapatkan satu cup latte dan satu cup americano, Sehun kembali menempatkan dirinya di sebelah bahu jalan seperti biasa, hal itu sekaligus melindungi Luhan dari pancaran sinar matahari.

"Aku mendengar semuanya dari Kyungsoo." Ucap Luhan membuka pembicaraan. Sejujurnya dia tidak mau membahas hal ini karena entah kenapa harinya akan terasa berat setiap kali Sehun membicarakan Kyungsoo, tapi dia juga ingin tau apa yang di inginkan pria itu.

"Soal apa?" tanya Sehun sambil menyeruput ice americano miliknya. Luhan ikut menyeruput lattenya dan berdeham pelan sebelum memulai pembicaraan.

"Kau…"

"Oh, ini pasti menyangkut kejadian tempo hari bukan?" tanya Sehun sebelum Luhan menyelesaikan kalimatnya. Sehun duduk di sebuah bangku panjang di pinggir jalan. Ini salah satu yang dia suka saat mengunjungi New York, karena selalu ada tempat duduk yang di sediakan di pinggir jalan, untuk para pejalan kaki yang ingin beristirahat atau mentap keramaian kota.

"Lalu kenapa?" Tanya Sehun saat Luhan ikut duduk di sampingnya. Luhan menghela nafas frustasi, dia benar – benar bingung dengan apa yang diinginkan Sehun. Kenapa dia harus mengungkapkan perasaannya tapi di hari selanjutnya dia telihat –sama sekali- tidak keberatan untuk di jodohkan dengan wanita lain. Tanpa sadar Luhan menyemburkan kata – katanya.

"Karena aku baru sadar akan sesuatu saat datang kemari." Ucap Sehun membuat Luhan semakin kebingungan.

"Jika boleh aku tau, apa itu?" tanya Luhan dengan nada yang terdengar ketus.

"Aku tidak akan pernah bisa mendapatkan Kyungsoo, mungkin sebenarnya aku tidak benar – benar mencintainya…" Sehun menghela nafas panjang, matanya menatap jauh kedepan, ke arah keramaian jalan yang di penuhi oleh kendaraan yang saling berlalu lalang.

"entahlah."

...

Jongin meninggalkan Kyungsoo di kursi sementara pria itu berlari kembali menuruni tangga untuk mampir ke sebuah mini market untuk membeli minuman untuk mereka berdua. Sementara menunggu, Kyungsoo menatap langit musim panas yang selalu penuh dengan bintang.

Belakangan ini dia mulai terbiasa dengan semua kegelapan dan kesunyian. Mungkin semenjak Jongin yang selalu meyakinkannya. Dia menghela nafas panjang, sudah lama sekali dia tidak menatap langit malam seperti ini, dulu dia bahkan tidak pernah mau keluar rumah apalagi menatap langit malam. London benar – benar mengubah dirinya.

Suara derap langkah kaki terdengar menaiki tangga, dan detik berikutnya Jongin sudah kembali ke atas dengan sekantung makanan. Dia mengeluarkan sebuah jus botolan dan memberikannya pada Kyungsoo.

"Thanks."

Jongin mengangguk dan duduk di samping Kyungsoo, mereka hanya terhalang kantung kresek yang Jongin taruh di antara mereka. Kyungsoo mencoba membuka tutup botol itu tapi sayang tangannya yang kecil terlalu lemas untuk membukanya, dan tanpa di minta Jongin mengulurkan tangannya untuk mengambil botol itu dan membukakannya untuknya, Kyungsoo menerimanya tanpa berkata apapun dan langsung menyeruputnya, dia baru sadar kalau kerongkongannya terasa kering kerontang.

"Jadi apa balasan untuk semua yang aku kerjakan hari ini?" Tanya Kyungsoo setelah menaruh botolnya di kursi, kemudian menangkupkan kedua tangannya. Jongin terkekeh dan menepis tangan Kyungsoo. Dia membuka kopi kelengan miliknya dan mengeguknya.

"Aku sudah memberikannya barusan." Ucap Jongin membuat Kyungsoo memiringkan kepalanya dengan kening berkerut.

"Apa itu?" tanya Kyungsoo. "Minuman ini maksudmu?" tanya Kyungsoo sambil memangagkat minumannya.

"Itu salah satunya."

"Salah satunya? Lalu apa-oh sunset itu?" tanya Kyungsoo sambil menunjuk arah matahari tenggelam.

"Tepat sekali." ucap Jongin sambil menjentikan jarinya sedangkan Kyungsoo hanya bisa mengerlingkan matanya sambil mendengus.

"Aku bahkan harus menaiki puluhan tanggan untuk sampai di sini-"

"Kau yang mau turun tadi. Aku sudah menggendongmu, kau ingat?" Ucap Jongin sambil menunjuk Kyungsoo tepat di depan wajahnya. Dia langsung menepis tangan Jongin dan kembali mendengus.

"Tunggu, sesuatu benar – benar mengganggu pikiranku." Ucap Kyungsoo membuat Jongin menaikan sebelah alisnya.

"Apa itu?"

"Kau sering mentraktir mereka makan? Seperti tadi?" tanya Kyungsoo sambil memainkan botol di tangannya.

Butuh waktu beberapa lama untuk Jongin menjawab. Dia menatap kaleng di tangannya untuk beberapa saat, tapi pikirannya seakan tengah melayang ke suatu tempat. Kyungsoo menunggu untuk sebuah jawaban.

"Ya." Jawab Jongin pada akhirnya, membuat Kyungsoo mengangguk – anggukan kepalanya. "Kau masih ingat aku akan memberi taumu sebuah rahasia?" Lanjut Jongin sambil menaruh kaleng yang setengah penuh itu di kursi, dia menyilangkan kedua kakinya dan melihat kedua tangannya di dada.

"Ya, aku hampir lupa sebenarnya. Apa itu?" tanya Kyungsoo sedikit gugup karena sepertinya permbicaraan mereka kali ini akan sangat serius. Jongin menghela nafas panjang dan menatap Kyungsoo langsung pada matanya, seakan dia tengah membaca sesuatu yang ada di dalam diri wanita itu. Kyungsoo yang di tatap hanya bisa membeku, seakan terhipnotis.

Kemudian dia mengeluarkan sesuatu dari saku celana jeansnya. Ternyata dia mengeluarkan dompet berbentuk persegi yang di lipat dua, berwarna coklat dengan tulisan Kim Jong In di sudutnya. Dia membuka dompet itu dan menunjukannya pada Kyungsoo.

Jongin menunjukan sebuah foto yang ada di dalam dompet itu. Sebuah foto keluarga dengan Jongin yang terlihat muda beberapa tahun dari usianya sekarang, seorang wanita yang terlihat berumur 40an duduk di tengah dengan Jongin yang merangkul pundaknya di sebelah kiri dan seorang pria dengan wajah yang sudah berkeriput dan rambut beruban, tersenyum lebar pada kamera sambil merangkul wanita itu dari sebelah kanan.

"Itu ayah dan ibuku." Tutur Jongin.

Kyungsoo mengangguk – anggukan kepala sambil menatap foto itu teliti, entah kenapa ada sesuatu yang familiar dari wajah kedua orang tua Jongin, entah apa itu tapi Kyungsoo merasa kalau dia pernah melihat kedua orang ini.

"Aku merasa pernah-" Kyungsoo membelalakan matanya dan terkesiap kaget, dia sekali lagi menatap foto itu dan Jongin bergantian. "Oh Tuhan." Gumamnya masih dalam keterkejutan.

"Sudah aku katakan padamu bukan? aku harap kau tidak pingsan atau semacamnya."

.

.

To Be Continued

Author kembali harus menyampaikan kata maaf pada semua readers atau siapapun di luar sana yang menunggu FF ini. author udah mencoba untuk nulis cepet tapi apa daya baru bisa di update sekarang, mungkin masih ada typo yang ketinggalan karena cuman di baca sekali, tapi sebenernya Typo udah sebagian dari hidup author T.T

Terima kasih untuk semua yang masih setia, AKU TERHARU SEKALI MASIH ADA YANG NUNGGUIN FF INI. SUMPAH YA PENGEN NANGIS u.u

Mungkin ff ini tinggal 2 – 3 chapter lagi dan end. Jadi tunggu aja gimana kisah cinta empat orang ini pada akhirnya. *smirk

Well… sekali lagi TERIMA KASIH banyak pada semua yang masih setia menunggu ff lumutan ini, TERIMA KASIH BANYAK karena memberikan review yang sangat berharga buat author. Kaget banget lah waktu sadar kalau masih ada yang nunggu ff ini, tadinya udah ragu buat di lanjut tapi karena kalian… :')

AUTHOR JUGA MAU NGASIH TAU KALAU AUTHOR BIKIN SATU FF KAISOO, TAPI DI POSTNYA DI KAISOO FANFICT PROJECTI INA, JUDULNYA MEMORIES OF THE RAIN. Yang mau baca silahkan ^^

Setelah baca chapter ini, tolong jangan lupa, kasih author review, jangan cuman di follow dan favorite doang, walau sebenernya author engga keberatan tapi kalau ada masukan atau kritikan author silahkan kalian boleh muntahkan-apa ini? – kalian tuliskan di kolom review.

SEKALI LAGI MAKASIH BANYAK.

Love ya,

xoxo