Chanyeol bergegas keluar dari lift setelah meeting terakhirnya sore itu. Dengan promosi barunya, hari-harinya semakin padat, dari saat dia berjalan melewati pintu masuk sampai absen pulang. Untungnya sekarang ini hanya butuh setengah jam lagi sampai dia bisa pulang.

Dia berhenti di meja sekeretarisnya.

"Apa ada pesan Marylin?"

Dia menggelengkan kepalanya. "Tapi ada Ms. Baekhyun yang telah menunggu di kantormu."

Kemaluan Chanyeol berkedut begitu mendengar nama Baekhyun disebut. Terakhir kali Baekhyun berada di kantornya, mereka melakukan seks kilat. Dia yakin, dia sangat berharap bahwa Baekhyun kembali untuk itu.

"Terima kasih."

Dia menjilati bibirnya sebagai antisipasi dan membuka pintu kantornya. Apa pun harapan yang dia miliki untuk berhubungan seks seketika sirna, saat dia melihat Baekhyun tergeletak di sofanya, menangis histeris.

Tenggorokannya tersedak tampak mengerikan, dan dia berjuang untuk bernapas. Chanyeol sudah terbiasa dengan adegan seperti ini ketika dia tumbuh dewasa. Dengan saudara perempuannya, dia sudah sering melihat dan mendengar hampir semuanya.

Tapi biasanya setiap kali estrogen sialan seperti badai itu naik ke atas cakarawala, dia dan ayahnya menghindar dengan melarikan diri pergi keluar ke stadion baseball atau ke tempat pizza.

Tidak peduli seberapa sukses bisnisnya, tapi ada satu hal yang tidak bisa dia tangani perempuan yang sedang emosional.

Baekhyun mendongak lalu melihat Chanyeol berdiri di ambang pintu. Mata mereka bertemu dan dia menangis lagi. "Oh sial." gumam Chanyeol sambil menjalankan jari-jarinya di sela-sela rambutnya.

Dia ragu sebelum perlahan-lahan berjalan ke arah sofa. Saat Chanyeol menatap Baekhyun, dia bergerak bergantian di atas tumit kakinya. Akhirnya Chanyeol mengeluarkan sapu tangan bersulamnya dari saku jasnya dan menyerahkan kepada Baekhyun.

"Baekhyun, ada apa?"

"Aku baru saja mendapat haid."

Chanyeol meringis. "Um, maaf. Aku punya beberapa Advil di mejaku jika kamu mengalami kram atau sesuatu."

Baekhyun mengeluarkan ingusnya dan melotot ke arahnya. "Apa kau tidak paham? Aku menstruasi. Jadi aku tidak hamil."

"Oh," gumam Chanyeol, akhirnya memahami masalah utama yang membuat Baekhyun bertingkah aneh.

"Dan aku tahu untuk mendapatkan kehamilan pertama adalah sesuatu yang mungkin tidak langsung berhasil, tapi aku tidak bisa berpikir mengapa aku tidak bisa hamil? Maksudku dokter kandunganku sangat yakin waktu mengatakan aku sehat dan mampu, tapi bagaimana kalau dia salah?"

Chanyeol membuka mulutnya, tapi Baekhyun terus berbicara, suaranya naik satu oktaf.

"Atau bagaimana jika aku tidak bisa memahami menjadi satu sosok di mana aku tidak bisa hamil? Bagaimana jika aku sudah menyia-nyiakan masa suburku selama bertahun-tahun dan sekarang aku menjadi kering atau mandul dan sendirian selama sisa hidupku?"

Dia menangis lagi, dadanya naik turun karena isak tangis keras yang menyiksa dirinya.

Chanyeol berdiri terpaku di atas lantai. Diam-diam berdebat dalam hati apakah dia akan berbalik dengan cepat dan berlari keluar dari kantornya. Apa sih yang harus dia lakukan dengan kondisi Baekhyun seperti ini Dengan enggan, dia duduk di samping Baekhyun di sofa.

Bahkan tanpa ditawari, Baekhyun melemparkan dirinya pada Chanyeol. Pipinya yang basah oleh air mata ditekan ke leher Chanyeol, sementara tubuh Baekhyun gemetar menempel tubuh Chanyeol.

Untuk sesaat tubuh Chanyeol membeku, dan mungkin juga Baekhyun merasa nyaman pada tubuh Chanyeol yang seperti sebuah patung marmer.

Chanyeol berdeham dan mencoba untuk mendapat pegangannya. "Tidak apa-apa. Jangan menangis." katanya sambil menepuk-nepuk punggung Baekhyun.

Tampaknya hal itu menjadi dorongan semangat yang dibutuhkan Baekhyun karena setelah itu dia memperketat tangannya di leher Chanyeol. Karena dia tidak tahu apa sih yang harus dilakukan, Chanyeol hanya membiarkan Baekhyun menangis.

Keheningan tampaknya sudah berlalu sebelum Baekhyun kelelahan.

Napasnya terengah-engah karena frustrasi, dan tubuhnya gemetar.

"Apakah kau baik-baik saja sekarang?" tanya Chanyeol dengan ragu.

Baekhyun tersentak menjauh saat mendengar suaranya. Tiba-tiba ekspresi malu melintas di wajahnya.

"Ya Tuhan, aku begitu, begitu menyesal! Aku tidak percaya aku datang ke sini dan membuatmu panik!"

"Tidak apa-apa."

"Tidak, tidak. Sial! Ketika aku melihat ketika aku tahu aku tidak hamil, semua yang kupikirkan adalah menemuimu. Aku bahkan melewati kantor Irene." Dia bergidik.

"Ya Tuhan, aku sangat malu karena kau melihatku bertingkah seperti orang gila!" keluhnya, sambil membenamkan kepalanya di tangannya.

Mencoba untuk meringankan suasana, Chanyeol mengatakan, "Kau tahu, sepertinya kau memberiku sebuah kerumitan di sini."

Baekhyun mengangkat kepalanya. "Apa?"

"Aku berpikir dalam hati kau yang paling marah tentang prospek harus berhubungan seks lagi denganku."

Baekhyun terkikik. "Tidak sama sekali bukan itu." Sambil bercanda dia menyikutnya, lalu bertanya, "Bukankah kau pernah bilang padaku kalau kau sebenarnya bersikap merendahkan dirimu dalam urusan di tempat tidur?"

Chanyeol menyeringai. "Bukan seperti itu."

"Aku tidak berpikir begitu." Baekhyun membungkuk dan mencium pipi Chanyeol. "Tidak Chanyeol, berhubungan seks denganmu merupakan kejutan yang paling besar dari semua rencana gilaku."

"Sebuah kejutan? Kau yakin kau bukan orang yang bisa membelai ego kelaki-lakianku, kan?"

"Berhentilah memancing untuk mendapatkan pujian, Mr. Park." Baekhyun menangkupkan wajah Chanyeol dengan tangannya, ibu jarinya menyusuri sepanjang janggut di pipinya.

"Selain itu, kupikir aku melakukan pekerjaan yang cukup baik waktu membelaimu saat terakhir kali kita bersama." Ketika mata Chanyeol melebar, Baekhyun tertawa.

"Dan dalam tujuh sampai sepuluh hari saat aku kembali subur, aku berharap menemukan diriku kembali di tempat tidur dengan seorang dewa seks sepertimu asalkan kau bersedia."

"Oh aku akan bersedia sekali." Dia mengambil salah satu tangan Baekhyun dan mencium jari-jarinya. "Aku bersedia saat ini juga."

Baekhyun menggelengkan kepalanya. "Tujuh sampai sepuluh hari."

Dia mengerang. "Kau suka menyiksaku, bukan?"

"Maafkan aku. Aku berjanji akan menebusnya nanti." Baekhyun memberinya ciuman sayang di bibir Chanyeol.

"Aku sebenarnya ingin mengucapkan terima kasih terlebih dulu kepadamu. Aku bertingkah aneh hari ini itu bukan hanya tentang aku yang tidak jadi hamil."

"Bukan hanya itu?" tanyanya, dengan waspada.

Menarik napas panjang, dia berkata, "Hari ini adalah peringatan dua tahun meninggalnya ibuku. Hari-hari seperti ini selalu terasa berat, tapi kemudian saat menyadari kalau aku tidak hamil hal ini semacam pukulan ganda buatku."

Dia meremas tangan Baekhyun. "Aku ikut menyesal. Aku kehilangan ibuku lima tahun yang lalu. Ulang tahunnya, tepat hari ibu, hari di mana dia meninggal sangat menyebalkan."

Baekhyun menatap kagum ke arahnya dan Chanyeol merasa terkejut melihat dirinya juga. Dia tidak pernah membayangkan berbagi sesuatu yang sangat pribadi, tapi ada sesuatu tentang diri Baekhyun yang membuatnya ingin terbuka untuk berbagi sesuatu dengannya yang biasanya dia tidak pernah berani melakukan itu.

"Apakah kau dekat dengan ibumu?" tanya Baekhyun dengan lembut.

Chanyeol bergeser tidak nyaman karena ingatannya kembali ke kenangan indah seakan diputar di pikirannya seperti sebuah film.

"Yeah, aku dekat dengannya. Aku masih dekat dengan ayahku. Tapi ibuku." Senyum kecil melengkung di bibirnya.

"Dia berumur tiga puluh delapan tahun saat melahirkan aku. Aku adalah anak laki-laki yang telah lama ditunggu untuk meneruskan nama keluarga dan bayi terakhir dalam hidupnya."

"Aku bertaruh dia sangat memanjakanmu," renung Baekhyun.

"Ya. Dan ke empat kakak perempuanku." Dia menggelengkan kepalanya. "Oh Tuhan, sangat mengherankan aku bukan gay karena tumbuh di sekitar para hormon estrogen."

Baekhyun tersenyum. "Terima kasih telah memberi aku sandaran untuk menangis."

"Aku senang bisa membantu."

Mereka duduk diam selama beberapa detik, saling menatap mata. Akhirnya Baekhyun berdeham dan berdiri. "Kurasa aku lebih baik pulang ke rumah sekarang."

Ketika Baekhyun mulai melewatinya, Chanyeol menyambar lengannya. "Kenapa kau tidak pulang denganku malam ini?" Untuk sesaat, Chanyeol pikir ada orang lain yang berbicara.

Suaranya terdengar asing baginya, belum lagi apa yang telah disarankan merupakan gagasan yang sama sekali asing baginya.

Dia jarang mengundang wanita ke rumahnya selalu di tempat mereka atau kamar hotel. Hanya pasangan seksualnya yang sudah lama bisa menyeberangi penghalang itu.

Tapi Baekhyun telah mengubahnya menjadi seseorang yang benar-benar emosional dan membuatnya melanggar semua aturannya. Pertama, Chanyeol pernah menginap dengan Baekhyun dan dia sekarang meminta Baekhyun ke rumahnya.

Jika Chanyeol terkejut, Baekhyun terpana. "A-Apa?"

"Kau tahu, jadi kau tidak harus sendirian dengan semua kejadian hari ini."

"Apakah kau yakin?"

Dia mengangguk. "Aku bisa membuat steak di atas panggangan atau aku bisa membuat pasta atau udang scampi."

"Kau bisa memasak?" tanya Baekhyun dengan heran.

"Ya, aku yang sok pintar bisa memasak."

"Aku terkesan. Maksudku memiliki keterampilan kuliner, menjadi bos di tempat kerja dan tentu saja kita tidak bisa melupakan bakatmu di kamar tidur."

Chanyeol tertawa. "Aku penuh dengan kejutan, sayang."

Baekhyun menggigit bibir bawahnya dan Chanyeol yakin Baekhyun seakan berperang dengan dirinya sendiri tentang apakah dia harus menerima tawaran Chanyeol.

"Apa kau yakin tidak keberatan?"

"Aku yakin. Kita bisa nongkrong dan bersantai."

"Kedengarannya sangat menyenangkan."

"Aku akan menemuimu di luar di lantai sepuluh?"

Baekhyun mengangguk. "Mau memberiku arah rumahmu atau aku hanya mengikutimu?"

"Kau bisa ikut aku dan aku akan mengantarmu kembali ke mobilmu."

"Oh tidak, terlalu ruwet."

"Baekhyun, tidak apa-apa. Bagaimana kalau kau menemuiku di lantai bawah dalam lima belas menit?"

"Oke, kedengarannya bagus."

.

.

TBC