[9/15]
— Drums of War —
Previous chapter:
Jongin juga kembali berkutat dengan aktivitasnya tadi. Percuma saja kalau ia harus berdebat dengan ayahnya.
Sang ayah rupanya belum pergi dari kamarnya. Pria paruh baya itu berhenti di ambang pintu, lalu kembali bicara pada Jongin tanpa menoleh pada putranya itu. "Ingat, Jongin. Apapun yang terjadi besok, kau harus tetap bersikap baik. Jangan membuat keributan."
Dan setelahnya, Jongwoon benar-benar pergi meninggalkan kamar putranya. Ia meninggalkan Jongin yang tampak kebingungan. Sebenarnya apa maksud ucapan Jongwoon tadi? Jongin tak bisa memahami maksud ayahnya.
Hari ini adalah hari dimana Grup Jaehwa tepat berusia 45 tahun. Tanpa terasa, waktu 45 tahun sudah berlalu dengan begitu cepat. 45 tahun lalu Tuan Besar Kim merintis Grup Jaehwa dari nol, dan sekarang Grup itu menjadi grup adidaya di Korea, bahkan mungkin juga di Asia.
Begitu banyak hal yang terjadi selama periode 45 tahun itu, tapi semua hal yang terjadi harus dijadikan pelajaran untuk terus membangun perusahaan itu. Dari generasi ke generasi, perusahaan itu diharapkan semakin mampu mengepakkan sayapnya hingga ke seluruh penjuru dunia.
Hari ini adalah Hari Sabtu, dan beberapa anggota keluarga Kim disibukkan oleh rencana pesta besar perusahaan mereka. Jongwoon sibuk menyiapkan speech-nya, sedangkan Ryeowook sibuk berkoordinasi dengan event organizer yang bertanggungjawab atas penyelenggaraan pesta. Youngwoon dan Jungsoo tentu juga turut membantu mempersiapkan pesta itu.
Tapi hari ini Jongin dan Kyungsoo tidak sesibuk keluarga mereka. Ini adalah hari Sabtu, dan mereka berdua tidak perlu repot-repot pergi ke kampus untuk mengikuti kegiatan perkuliahan—kuliah mereka tentu saja libur di Hari Sabtu.
Kyungsoo sebenarnya ingin membantu Ryeowook maupun yang lainnya, tapi semua orang menolak bantuannya. Mereka berkata bahwa Kyungsoo tidak perlu ikut repot, karena ia masih belum lama menjadi bagian dari keluarga Kim, dan ia hanya harus terima jadi saja. Kyungsoo tidak bisa membantah hal itu. Ia memang belum terlalu mengenal tradisi keluarga Kim, jadi ia hanya bisa duduk manis menunggu semuanya selesai.
Lalu untuk Jongin, pemuda itu memang tidak memiliki niatan baik untuk membantu. Ia memilih tidur seharian tadi, seolah ia adalah orang paling santai sedunia. Atau memang itulah faktanya?
Kini malam sudah tiba, dan sebagian besar anggota keluarga Kim sudah lebih dulu bertolak ke hotel tempat pesta akan dilaksanakan.
Saat ini tinggal Jongin dan Kyungsoo yang masih bertahan di rumah. Jongin sudah siap dan kini berada di lantai dasar rumahnya, tepatnya ia berdiri di dekat tangga.
Tubuh atletis pemuda Kim itu kini terbalut oleh setelan jas formal berwarna hitam yang mewah dan sangat pas di tubuhnya. Rambut kecoklatan miliknya juga tidak dibiarkan menjuntai berantakan. Rambut itu kini tertata rapi dengan bantuan gel rambut.
Jongin berulang kali melihat ke arah jam tangannya. Ia sudah tidak sabar karena Kyungsoo belum juga turun dari kamarnya.
Tadi sebelum pergi, ibunya berkata bahwa Kyungsoo sudah siap dan hanya tinggal berpakaian saja. Kyungsoo tadi berdandan dengan bantuan beberapa stylist terkenal yang dipercaya oleh keluarga Kim. Acara malam ini benar-benar tidak main-main, jadi seluruh anggota keluarga Kim harus tampil sempurna, tanpa kurang suatu apapun.
Jongin baru saja akan menyusul Kyungsoo ke lantai atas, namun langkahnya terhenti secara otomatis ketika matanya menangkap sosok Kyungsoo tengah berdiri di anak tangga teratas. Diam disana sembari menatap malu-malu ke arah Jongin.
Kyungsoo tampak sangat mempesona sekarang. Gaun hitam hadiah dari Ryeowook dan Jungsoo kemarin melekat begitu sempurna di tubuh ramping gadis itu. Rambut hitam gadis itu kini digelung agak menyamping di sebelah kanan bawah, dan beberapa bagian rambut depannya dibiarkan menjuntai tapi tetap tidak memudarkan kesan rapi dan formal. Wajah gadis itu dipoles dengan make up yang elegan, namun tidak berlebihan.
Stylist yang disewa oleh ibunya benar-benar bekerja dengan baik, dan hasil kerjanya itu membuat Jongin menganga di titik pijakannya.
Bagaimana mungkin gadis cuek yang sehari-harinya tidak pernah memakai make up itu malam ini terlihat sangat cantik? Pertanyaan itu tanpa permisi hadir di benak Jongin.
"Ehm...Jongin?" suara Kyungsoo cukup untuk membuat Jongin mengatupkan bibirnya dan tersadar bahwa sejak tadi ia terpesona. Kyungsoo dalam hati terkekeh melihat ekspresi Jongin, tapi kemudian ia bicara lagi, "Aku tidak berani menuruni tangga sendiri. Gaun ini sangat panjang dan aku memakai high heels—oh, Tuhan, aku belum terbiasa dengan ini. Bisakah kau membantuku turun?"
Jongin berdeham sejenak. Berusaha mengembalikan ekspresi datar yang biasanya melekat di wajahnya yang rupawan. Bagaimana mungkin wajahnya tadi sempat berekspresi seperti orang bodoh? Entahlah, Jongin benar-benar malu karena hal itu.
Pria tinggi itu dengan kesal berdecak, namun ia mulai melangkah menaiki anak tangga mendekati Kyungsoo. Tapi tidak tanpa bibirnya mengomel sebal, "Kalau memang tidak bisa memakai gaun panjang dan sepatu hak tinggi, sebaiknya jangan memaksakan diri. Kau hanya menyusahkan orang!"
Kyungsoo merengut, tapi ia tidak protes. Ini semua memang salahnya. Sebagai wanita dari kalangan atas, seharusnya ia membiasakan diri memakai pakaian dan alas kaki seperti itu.
Setelah beberapa saat berjalan, Jongin akhirnya berdiri pada satu anak tangga di bawah anak tangga yang dipijak oleh Kyungsoo. Dengan gerakan kaku, pria berkulit kecoklatan itu mengangkat tangan kirinya, memberi isyarat pada Kyungsoo agar lekas meraih tangan itu supaya mereka bisa menuruni anak tangga bersama-sama.
Kyungsoo mengganti ekspresinya yang tadi merengut menjadi tersenyum, kemudian menyambut uluran tangan Jongin dengan anggun.
Dua orang itu lalu mulai berjalan menuruni anak tangga. Sebisa mungkin Kyungsoo berusaha berjalan dengan anggun, namun tiba-tiba saja Jongin berkomentar, "Tidak usah memaksakan diri untuk menjadi wanita anggun. Tingkahmu itu sangat tidak enak dilihat."
Dan kembali Jongin sukses memancing emosi Kyungsoo. Suasana diantara mereka berdua tadinya manis dan romantis, tapi semua pupus karena komentar Jongin yang terdengar sangat menyebalkan.
Ryeowook berdiri di lokasi pesta dengan ekspresi gugup yang sangat kentara. Wanita yang kini tampak cantik dalam balutan dress warna biru muda itu tampaknya sangat mencemaskan pesta yang sebentar lagi akan dimulai.
Para tamu memang belum berdatangan, tapi rupanya rasa gugup Ryeowook tak bisa dihindari begitu saja. Ia takut jika malam ini terjadi hal yang tidak diinginkan.
Minseok sedari tadi melihat gelagat aneh ibunya dari kejauhan. Wanita yang kini mengenakan gaun warna kuning emas itu merasa penasaran pada sang ibu, dan ia memutuskan untuk berjalan mendekati wanita yang telah melahirkannya itu.
"Kenapa Ibu tampak pucat begitu? Apa Ibu sakit?" Minseok bertanya saat ia sudah berada di samping ibunya.
Ibunya sedikit terlonjak kaget karena kehadiran putrinya yang sangat tiba-tiba, tapi ia berusaha untuk tetap tenang dan tersenyum pada putrinya. "Ibu baik-baik saja, sayang. Ibu hanya sedikit gugup. Malam ini akan ada banyak tamu penting yang datang, dan awak media juga akan ikut meliput. Ibu takut jika pesta ini tidak berjalan lancar."
Minseok mengerutkan dahi mendengar jawaban ibunya yang tidak membuatnya puas. "Bukankah setiap tahun juga seperti itu? Pesta ini akan berjalan lancar seperti biasa, Bu. Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan."
"Kau benar, sayang." Ryeowook tersenyum lembut sembari tangannya mengusap rambut putrinya dengan penuh kasih. "Sebenarnya Ibu juga mengkhawatirkanmu. Malam ini adalah pertama kalinya kau ikut memberi sambutan di pesta ulang tahun perusahaan. Ibu takut kau akan gugup. Lihatlah ruangan ini. Ini begitu besar, dan Ibu merasa sangat kecil disini."
Minseok akhirnya tersenyum kecil. Ia bisa memaklumi jika ibunya merasa tidak tenang. Ruangan ini memang sangat besar, dan itu bisa memberi intimidasi tersendiri untuk beberapa orang. Tapi Minseok tidak termasuk dalam kelompok orang yang mudah merasa terintimidasi. Ia terbiasa tampil di depan publik, dan kadar percaya dirinya sangat tinggi.
"Ibu tenang saja. Aku sudah membuat kata sambutan yang terbaik. Paman Seunghyun juga membantuku dalam menyusun kata sambutan itu."
"Apa katamu? Seunghyun membantumu? Apa sekarang kalian berhubungan dekat?"
"Kenapa Ibu terlihat kaget? Paman Seunghyun sudah seperti keluarga kita sendiri, 'kan? Lagipula, Paman Seunghyun sangat baik padaku. Jadi tidak apa-apa kalau aku berhubungan dekat dengannya."
Ryeowook terdiam. Hatinya semakin merasa resah saat mendengar jawaban putri sulungnya. Jadi ini yang dimaksud oleh suaminya tempo hari? Minseok tidak menjalankan rencananya sendirian, tapi ia memiliki sekutu, dan orang itu adalah Choi Seunghyun.
Minseok sendiri sekarang juga tidak berkata apa-apa lagi. Ia justru langsung berpamitan untuk pergi sebentar karena ada seorang bawahannya yang memanggilnya.
Ryeowook hanya memandang kepergian putrinya dalam diam. Ia merenung, kenapa putrinya menjadi seperti ini? Kenapa putrinya menjadi tamak dan haus akan kekuasaan? Apa ia telah gagal mendidik putrinya itu?
Wanita dewasa yang masih terlihat cantik itu berjengit kaget saat merasakan tepukan di bahunya. Ia menoleh, dan mendapati suaminya memberinya sebuah senyuman yang menenangkan. "Semua akan baik-baik saja. Tenanglah," ucap Jongwoon
"Bagaimana aku bisa tenang jika sebentar lagi genderang perang akan ditabuh? Setelah ini, semuanya akan sulit untuk anak-anak kita. Aku takut. Aku menyayangi Jongin dan Minseok, dan aku takut jika salah satu dari mereka terluka."
Jongwoon mengerti rasa takut sang istri. Jadi, ia memutuskan untuk tidak berkata apa-apa lagi. Sekarang yang bisa ia lakukan adalah mendekap erat tubuh istrinya itu, berusaha memberikan ketenangan tanpa harus berkata apapun.
Mobil Jongin secara perlahan mulai berhenti di depan lobby hotel megah yang menjadi venue pesta yang diselenggarakan oleh Grup Jaehwa.
Jongin dan Kyungsoo tadi menjemput Jinri, dan seperti biasa, gadis yang selalu membuat Jongin kesal itu kini duduk di bangku belakang.
Sama seperti dua malam lalu, kali ini Jinri juga tampil sangat seksi dengan balutan mini dress berwarna merah terang. Sepertinya pakaian itu lebih cocok jika digunakan untuk pergi ke klub malam terdekat.
Jongin tadi tidak memprotes pakaian Jinri. Ia terus-menerus menganggap Jinri tidak ada, dan ia juga terus menjalankan aktingnya dengan Kyungsoo. Mereka berdua sudah berakting dengan lebih baik sekarang. Mereka bisa mengobrol dengan normal dan juga tertawa dengan normal. Tidak ada raut terpaksa seperti saat kali pertama mereka beradu akting. Apa mereka sama-sama sudah bisa menikmati peran mereka? Entahlah.
Kini mobil Jongin sudah berhenti sepenuhnya di depan lobby hotel, dan beberapa petugas yang sudah bersiap disana langsung membukakan pintu untuk para penumpang mobil Jongin.
Tiga orang itu langsung keluar dari dalam mobil, dan Jongin segera menyerahkan kunci mobilnya pada salah satu petugas supaya mobilnya itu bisa diparkir di tempat parkir yang sudah disediakan.
Jinri langsung berjalan mendekat ke arah Jongin, lalu melingkarkan lengan kurusnya pada lengan kekar Jongin. Tapi ia justru mendapat kejutan karena secara cepat Jongin menepis tangannya dengan kasar. Menolak bersentuhan dengan si gadis Choi.
Jinri semakin terkejut ketika ia melihat Jongin justru berjalan mendekati Kyungsoo, kemudian meraih lengan Kyungsoo dan melingkarkan lengan itu pada lengannya.
Kyungsoo rupanya juga terkejut, dan ia berbisik lirih supaya hanya Jongin yang bisa mendengar suaranya, "Hey, bodoh. Disini banyak media. Kau mau membuat skandal, huh?"
Kyungsoo benar. Di tempat itu memang ada banyak sekali awak media. Mereka langsung mengambil gambar Kyungsoo dan Jongin setelah adegan mesra mereka tadi. Kilatan lampu blitz langsung membuat silau sepasang sepupu itu. Tak hanya itu, bisikan-bisikan riuh juga mulai terdengar disana.
Sebenarnya wajar kalau media sangat heboh melihat kemesraan Jongin dan Kyungsoo. Pasalnya, media tidak tahu kalau Kyungsoo sudah diadopsi oleh keluarga Kim. Keluarga Kim memang berniat merahasiakan hal itu dari publik untuk beberapa waktu.
Tapi kini media menjadi sangat liar karena mereka tidak tahu apa-apa tentang hubungan Jongin dan Kyungsoo. Barangkali sebentar lagi akan tersiar rumor tentang hubungan dua insan itu. Semacam dating rumor, mungkin? Rumor itu akan menghebohkan Korea Selatan, karena dua orang itu berasal dari dua keluarga pemilik dua perusahaan terbesar di Negeri Ginseng itu.
Namun Jongin ternyata tidak mempedulikan kemungkinan itu, dan ia juga tidak peduli pada bisikan Kyungsoo tadi. Ia malah langsung berjalan untuk memasuki hotel, lebih tepatnya menuju ballroom tempat pesta itu dilaksanakan.
Jinri mengepalkan tangannya karena kesal. Ia adalah calon tunangan Jongin, tapi ia ditinggalkan begitu saja oleh pria itu.
Si gadis Choi beberapa kali menghentakkan kakinya, kemudian berjalan cepat menyusul Jongin dan Kyungsoo yang sudah lebih dulu memasuki hotel.
Ballroom hotel itu sudah didekorasi sedemikian rupa sehingga menjadi tempat pesta yang mewah dan elegan.
Di bagian depan ballroom terdapat sebuah panggung rendah yang mungkin tingginya tak sampai 20 sentimeter, dan disana juga terdapat sebuah podium yang sudah dilengkapi dengan mikrofon.
Meja-meja bundar dengan taplak meja berwarna emas memenuhi ballroom itu, dan meja-meja itu sudah ditempati oleh para tamu undangan.
Sedangkan para awak media juga sudah stand by dengan kamera maupun alat rekam lainnya di bagian belakang ballroom. Mereka tidak ingin melewatkan satupun moment di pesta itu. Grup Jaehwa adalah grup perusahaan besar di Korea, dan berita tentang grup itu selalu menjadi hits di tengah publik.
Jongin menempati sebuah meja yang berada di deret depan. Ia berada satu meja dengan Kyungsoo, Jinri, Minseok, Luhan, dan juga Seunghyun. Kyungsoo dan Jinri duduk di samping kanan dan kirinya.
Acara pesta sudah resmi dimulai, dan satu persatu orang penting di perusahaan juga sudah memberikan sambutan di atas podium.
Minseok juga sudah memberikan sambutannya dengan sempurna. Sang Wakil Presiden mengajak seluruh awak perusahaan untuk terus bekerja keras demi mempertahankan kejayaan perusahaan, dan perkataannya itu dihadiahi tepuk tangan meriah dari seluruh tamu yang hadir. Tak dapat dipungkiri bahwa Minseok memang memiliki tempat tersendiri di hati publik.
Dan acara selanjutnya adalah saatnya bagi para tamu untuk menikmati hidangan. Satu persatu hidangan dikeluarkan oleh pelayan dan diletakkan di setiap meja. Hidangan yang disiapkan tentu bukan hidangan sembarangan. Hidangan-hidangan itu dimasak secara khusus oleh para koki kelas internasional yang bekerja di hotel megah itu.
Hidangan yang disajikan dimulai dari hidangan pembuka, dan para tamu tanpa ragu langsung mencicipi hidangan menggiurkan itu.
Jongin baru mengambil satu piring kecil berisi lemon cake ketika matanya melihat sosok ayahnya berjalan menaiki podium di panggung depan.
Para tamu berbisik-bisik saat melihat sosok Kim Jongwoon tiba-tiba berada di atas podium lagi, namun mereka tidak menghentikan acara makan mereka.
"Mohon maaf karena mengganggu acara makan para tamu sekalian," Jongwoon mulai berbicara dengan raut wajah serius, membuat para tamu menantikan kelanjutan dari ucapannya. "Ada hal penting yang harus saya umumkan, dan ini berkaitan dengan isi surat wasiat mendiang ayah saya, Kim Donghwan."
Suara bisik-bisik di ballroom itu terdengar semakin jelas. Namun diantara para tamu yang membuat suara berisik, ada pula beberapa orang yang kini menunjukkan raut tegang penuh antisipasi. Ryeowook, Youngwoon, Jungsoo, Minseok, dan Seunghyun adalah orang-orang yang kini menunjukkan raut tegang.
Ryeowook, Youngwoon, dan Jungsoo sudah mengetahui apa yang akan disampaikan oleh Jongwoon, dan mereka kini berdoa semoga semua rencana Jongwoon berjalan dengan lancar.
Lain lagi dengan Minseok dan Seunghyun. Selama beberapa saat mereka saling tatap dengan pandangan bertanya. Mereka berusaha menebak apa hal yang akan disampaikan oleh sang Presdir. Mereka sama sekali tidak tahu apa yang direncanakan oleh Kim Jongwoon.
"Hal yang akan saya sampaikan berhubungan dengan calon Presdir Grup Jaehwa yang dipilih secara langsung oleh mendiang ayah saya."
Suara ribut di ballroom semakin jelas terdengar. Para tamu dan juga awak media jelas kaget mendengar perkataan Presdir terkini Grup Jaehwa. Keluarga Kim adalah penguasa saham di Grup Jaehwa, dan keluarga itu memang berhak memilih pemimpin perusahaan asalkan mendapat persetujuan dari pemegang saham lainnya.
Setelah Kim Donghwan meninggal, keluarga Kim memilih Jongwoon sebagai Presdir baru, dan para pemegang saham menyetujui hal itu.
Tapi kenapa sekarang justru ada calon Presdir lagi? Apakah sebenarnya, Jongwoon bukan pewaris utama saham dan juga harta milik ayahnya? Pertanyaan-pertanyaan itu pasti hadir di benak para tamu.
Minseok kini terlihat mengepalkan tangannya di bawah meja. Kini ia tahu apa yang akan disampaikan oleh ayahnya. Ternyata ayahnya sudah mencuri start. Inikah yang membuat ibunya tadi terlihat begitu gugup? Minseok baru bisa memahami semuanya sekarang.
"Saya bukanlah pewaris utama saham dan harta milik ayah saya, begitu pula dengan adik saya, Kim Youngwoon. Ayah saya menunjuk pewarisnya sendiri, dan orang itu adalah..." Jongwoon menggantung ucapannya, dan itu membuat para tamu semakin merasa penasaran. Sadar akan hal itu, Jongwoon segera menyambung perkataannya, "Orang itu adalah...Kim Jongin, anak kedua saya."
Semua orang tampak terkejut, dan mereka segera mengalihkan fokus ke arah meja Jongin.
Jongin sendiri kini tersedak cake yang ia makan. Sejak tadi ia memang tidak menghentikan acara makannya meskipun suasana ballroom berubah menegangkan.
Jongin kaget. Ya, dia sangat kaget. Ia pikir, kakaknya lah yang dipilih oleh mendiang kakeknya untuk menjadi Presdir dan sebagai pewaris utama, tapi ternyata ia salah.
Jongin masih terus terbatuk, dan tiba-tiba ada seseorang yang menyodorkan segelas air putih di hadapannya. Ia menoleh ke kiri, dan ternyata Kyungsoo yang menyodorkan minuman itu pada Jongin.
Tanpa basa-basi, Jongin meraih gelas itu, lalu segera menghabiskan isinya dengan lahap.
Samar-samar telinga Jongin mendengar bisikan-bisikan di sekitarnya. Kini para tamu undangan sedang membicarakannya. Utamanya, mereka membicarakan hal yang tidak terlalu baik tentang Jongin.
Mereka bilang Jongin tidak berpengalaman, masih terlalu muda, tidak pandai, dan sederetan cemoohan lainnya yang membuat telinga Jongin panas.
"Sesuai dengan surat wasiat mendiang ayah saya, Jongin akan diangkat sebagai Presdir Grup Jaehwa setelah usianya 24 tahun. Dan sekarang, saya akan resmi memperkenalkan Kim Jongin pada kalian semua," Jongwoon kembali bicara, kemudian ia menatap ke arah Jongin. "Kim Jongin, silahkan maju ke depan."
Jongin tetap diam di tempatnya. Otaknya terasa kosong, ia masih belum percaya pada apa yang ia dengar. Ia memang sama sekali tak tahu tentang isi surat wasiat kakeknya, dan ia tak menyangka jika kakeknya memberikan banyak kejutan padanya.
Ia tempo hari sudah sangat terkejut saat tahu bahwa salah satu isi surat wasiat kakeknya adalah memintanya menikah dengan cara dijodohkan saat ia berusia 24 tahun, dan sekarang kakeknya kembali memberinya kejutan, bahkan kejutannya lebih besar dari yang sebelumnya.
Saat masih dalam kondisi blank itu, Jongin merasakan sentuhan lembut di lengan kirinya. Ia menoleh ke arah kirinya, dan ia mendapati Kyungsoo tersenyum lembut padanya. "Majulah, Jongin. Jangan membuat keluarga Kim malu," suara Kyungsoo melantun merdu di telinga Jongin.
Bagaikan terhipnotis, Jongin tiba-tiba mengangkat tubuhnya untuk berdiri, lalu dengan pelan ia melangkah menuju ke depan. Menuju tempat ayahnya berdiri.
Jongin masih terus mendengar perkataan negatif saat ia berjalan, tapi ia berpura-pura tuli. Kyungsoo benar, ia tidak boleh membuat malu keluarganya sendiri. Meskipun Jongin adalah anak yang tidak tahu aturan, tapi ia sebenarnya sangat menyayangi keluarganya. Ia hanya menutupi rasa sayangnya itu dengan perbuatan buruknya.
Jongwoon tersenyum lega saat melihat putranya kini sudah berdiri di sampingnya. Dengan segera, pria paruh baya itu merangkul pundak Jongin, berusaha menenangkan putranya yang seperti baru saja terkena serangan jantung.
"Ini adalah Kim Jongin. Usianya masih 21 tahun, dan ia masih perlu banyak belajar. Oleh karena itu, saya mohon pada kalian semua untuk membantunya, mendukungnya, dan menerimanya. Jongin tidak akan bisa tanpa bantuan kalian. Saya benar-benar memohon, tolong terima dan dukung Jongin." Jongwoon tiba-tiba saja membungkuk, seolah membuktikan pada semuanya bahwa ia benar-benar memohon.
Kondisi ballroom sekarang menjadi hening. Suara bisik-bisik sudah sirna entah kemana. Suara tepuk tangan juga tidak terdengar. Hal itu membuat dada Jongwoon berdebar kencang. Apakah putranya benar-benar tidak bisa diterima?
Tapi selanjutnya Jongwoon mendengar satu suara tepuk tangan. Ia kembali menegakkan badannya, dan ia melihat Kyungsoo bertepuk tangan sembari berdiri.
Semua mata tertuju pada gadis itu, tapi tak berselang lama, seluruh hadirin mengikuti jejak gadis itu. Semua orang bertepuk tangan, seolah menjadi tanda bahwa mereka menerima sosok Kim Jongin.
Jongwoon tersenyum lega, dan ia berulang kali membungkukkan badannya ke segala arah.
Lain halnya dengan Jongin. Pria itu menunjukkan ekspresi datar sembari terus menatap Kyungsoo yang juga sedang menatapnya.
Kyungsoo tersenyum padanya, seolah mencoba meyakinkan Jongin bahwa ia bisa memikul semua beban di pundaknya. Kyungsoo mendukungnya, hanya itu yang Jongin tahu.
Suasana ballroom hotel itu kini sudah sangat sepi. Pesta sudah usai sejak beberapa menit lalu, jadi wajar jika keramaian sudah tak terlihat di tempat itu.
Ada dua pria berpakaian formal yang berdiri berhadapan di ruangan itu. Pria yang lebih muda terus menatap pria yang lebih tua, seolah menuntut penjelasan dari sosok itu.
"Aku tahu ini mengejutkanmu, Jongin," sosok yang lebih tua—Jongwoon—membuka percakapan dengan putranya.
"Sebenarnya apa yang Ayah rencanakan? Kenapa melakukan semua ini secara tiba-tiba, bahkan tidak memberitahuku lebih dulu?"
"Kalau aku memberitahumu, pasti kau akan menolak dan tidak mau datang ke pesta ini."
"Tapi kenapa, Ayah?" Jongin mulai tersulut emosi sehingga ia menaikkan nada bicaranya. "Kenapa harus aku? Kenapa tidak Minseok Noona saja? Ia lebih pantas, Ayah!"
"Ini semua keinginan kakekmu, Jongin. Aku hanya menjalankan wasiatnya. Itu saja."
Jongin mengacak rambutnya frustrasi. Ia benar-benar tak bisa mempercayai semuanya.
Apa kakeknya begitu menyayanginya sehingga isi surat wasiat itu kebanyakan menyangkut dirinya? Tapi kenapa semua yang diwasiatkan oleh kakeknya merupakan hal yang tidak menyenangkan untuknya?
Jongin yakin, kakeknya sebenarnya pasti membenci dirinya.
"Aku tidak bisa melakukannya, Ayah. Tolong jangan memaksaku. Berikan semuanya pada Minseok Noona. Ia pantas menerima semuanya," Jongin akhirnya kembali bica dengan lemas. Ia benar-benar sudah merasa lelah.
"Kau masih memiliki waktu untuk memikirkan semuanya, Jongin. Kita bisa menyiapkan semuanya pelan-pelan."
"Ayah bilang pelan-pelan? Jika memang kita bisa menyiapkannya pelan-pelan, lalu kenapa Ayah nekat mengumumkan semuanya secepat ini?"
"Aku melakukan ini karena terpaksa, Jongin! Minseok memiliki niat buruk padamu, dan aku tidak bisa membiarkan hal itu terjadi!"
Jongin terdiam dengan mata yang membulat. Apa ia tidak salah dengar? Minseok? Maksudnya Kim Minseok? Memangnya apa niat buruk yang akan dilakukan oleh kakaknya itu?
"Minseok berencana merebut harta warisan, saham, serta jabatanmu di perusahan. Ia ingin menyulut perang saudara, dan aku tidak bisa membiarkannya begitu saja," Jongwoon menjelaskan, seolah ia bisa membaca pikiran Jongin.
"Apa? Minseok Noona menginginkan semua itu?" Jongin bertanya dengan nada tak percaya, dan Jongwoon hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Jongin benar-benar kaget. Setahunya, Minseok adalah seorang wanita yang selalu bersikap fair dan sportif. Meskipun ia tidak dekat dengan kakaknya itu, tapi ia menghormati sosok Minseok yang tegas dan berwibawa.
Tapi kenapa tiba-tiba Minseok menjadi berubah haluan seperti itu? Apa yang mempengaruhi Minseok sehingga Minseok mengubah arah langkahnya?
"Kalau begitu, kenapa tidak memberikan semua itu padanya? Aku tidak menginginkan semua itu, Ayah! Berikan semua itu pada Minseok Noona, dan masalah akan selesai!" Jongin kembali bicara dengan nada yang kembali meninggi.
Jongwoon dengan cepat menggelengkan kepalanya, menolak usulan Jongin. "Jika itu dilakukan, maka wasiat kakekmu tidak terpenuhi, Jongin. Apa kau tidak ingin berbakti pada kakekmu?"
"Cukup, Ayah! Aku sudah lelah dengan semua hal tentang surat wasiat itu! Urus saja semuanya sendiri! Aku tak peduli!"
Setelahnya, Jongin langsung pergi meninggalkan ayahnya seorang diri di dalam ballroom yang sepi. Jongwoon memejamkan matanya. Ia sudah menduga semua akan menjadi seperti ini. Sudah cukup baik karena tadi Jongin tidak mempermalukannya di depan umum. Entah mengapa, Jongwoon merasa ia harus berterimakasih pada Kyungsoo.
BUK!
Minseok memukul kemudi mobilnya dengan keras. Saat ini, ia berada di dalam mobilnya bersama dengan Seunghyun.
"Ayah sudah mendahuluiku! Ia pasti tidak ingin membiarkanku mengacaukan isi surat wasiat kakek!" Minseok berucap dengan setengah menggeram marah.
Seunghyun yang ada di sampingnya menghela nafas, kemudian ia bicara, "Kita harus segera menghancurkan Jongin kalau kau tidak ingin kalah darinya."
Minseok menatap serius pada Seunghyun. "Bagaimana caranya kita bisa menghancurkan Jongin?"
"Mudah saja," Seunghyun menimpali dengan ringan. "Aku tadi melihat Jongin dan Kyungsoo berjalan bersama dengan mesra. Aku yakin, besok berita mereka akan menjadi skandal terbesar di Korea."
Minseok masih menatap Seunghyun, tapi kini tatapannya dipenuhi oleh rasa tidak setuju. "Itu bukan rencana yang bagus. Gosip tentang kebersamaan mereka justru akan membuat para pemegang saham senang dan akan semakin mendukung Jongin. Mereka tentu melihat kemungkinan merger dengan Grup Ilsang jika Jongin dan Kyungsoo bersama," dengan tegas Minseok mengemukakan pendapatnya. "Lagipula, Kyungsoo sekarang adalah bagian dari keluarga Kim. Cepat atau lambat, Ayah akan mengumumkan hal itu pada publik, dan skandal mereka akan lenyap begitu saja."
Seunghyun merenung. Ia merasa takjub dengan kemampuan analisis Minseok yang sangat cepat dan akurat. Ia tadi bahkan tidak berpikir sejauh itu. Bersekutu dengan Minseok memang keputusan brilian.
Tiba-tiba saja Seunghyun melihat Minseok menyeringai. Sang Wakil Presiden sepertinya telah menemukan sebuah ide yang bagus. Sebuah ide yang membuat matanya semakin memancarkan kejahatan.
"Aku tahu apa yang harus kita lakukan, tapi kita membutuhkan sekutu lagi. Dan, aku tahu siapa yang bisa menjadi sekutu kita."
TBC
Glad's Note:
Halo~ saya update lagi di Minggu pagi ini :D
Moment Kyungsoo sama KangTeuk bakal ada lagi kok. Tapi di chapter 11 kalau nggak salah :p
Hari ini aku update pagi, tapi mungkin besok nggak bisa update pagi. Mungkin justru siang atau sore aku baru bisa update. Mohon dimaklumi yaa~
Happy holiday, semuanya! Semoga hari libur kalian menyenangkan!
With love,
Gladiolus92
