.

Hinata menatap beberapa tanaman tomat ceri yang dulu ditanamnya bersama Ayah dan Ibunya di halaman depan rumah. Dengan jari-jari mungilnya, Hinata mengelus-elus bayi tomat ceri yang masih hijau. Senyuman manis tersampir di bibir merah muda gadis mungil itu. Seingat Hinata, dulu dia menanam tanaman ini karena Pamannya, Uchiha Sasuke, mengatakan kalau dirinya manis seperti tomat ceri. Hinata suka perasaan hangat yang ada di dadanya ketika mendengar itu dari Pamannya.

Sejak hari itu, Hinata berharap Pamannya itu akan mengatakan hal yang sama lagi kepadanya. Bahwa dirinya semanis tomat ceri dan pipinya secercah warna merah tomat ceri. Ia selalu menunggu, saat-saat dimana Pamannya akan mengatakan hal itu lagi. Ah. Bukan. Bukan paman lagi. Tapi, Papa.

Ya. Papa.

Hinata tersenyum bahagia.

Ya. Pria itu adalah Papanya sekarang.

"Papa Cacuke."

.

Papa Cacuke © AzuraLunatique

NARUTO © Masashi Kishimoto

Genres are Family, Romance, Humor, Slice of Life

Rate is K+

Warning are AU. Adult!Sasuke. Chibi!Hinata. Kata-kata kasar(Gue-Elo). Alur berantakan. OOC-ness akut. Typos.

.

[It's a SasuHina Story]

.

Saya peringatkan, Don't Like, Don't Read.

Happy Reading! XD

.

Hinata's Special Chapter

.

Chapter 10

Seterang Mentari

Pagi itu, langit ditutupi oleh awan mendung. Udara terasa begitu dingin. Sepertinya, badai musim panas sudah di depan mata. Di samping penitipan anak, terlihat seorang gadis kecil yang berdiri dengan mata membulat kaget.

Hinata menatap perkelahian yang ada di hadapannya. Seorang anak laki-laki sedang dikeroyok oleh beberapa anak laki-laki lain yang lebih tua. Hinata mengenal mereka sebagai anak-anak kelas Anggrek yang tahun depan akan masuk SD. Hinata menggigit bibir bawahnya. Jari-jemarinya tergenggam erat. Ia tak suka perkelahian. Hatinya berdenyut sakit ketika melihat hal menyedihkan itu. Hinata menatap ke sekelilingnya. Kebun bunga matahari yang berada di samping bangunan penitipan anak terasa begitu sepi.

Hinata memejamkan matanya. Butiran air mata setetes demi setetes meluncur di pipi mulusnya. Hinata mencoba menahan rasa sedihnya dalam dada kecilnya. Namun, sebuah teriakan membuatnya terbelalak kaget.

"KAU, KAKAKNYA HANABI!" seru salah satu dari anak laki-laki yang tampaknya merupakan ketua geng pengeroyok.

Hinata mundur perlahan.

"Mau kemana?"

Hinata menggeleng pelan.

Anak laki-laki dengan rambut merah itu mencibir. "Padahal kalian bersaudara, tapi kalian berbeda sekali." Anak laki-laki itu mendekati Hinata. "Jangan bilang-bilang siapa-siapa ya? Awas aja kalau kamu ngomong."

Hinata terdiam sesaat lalu dengan hati perih mengangguk ragu-ragu.

"Bagus."

.

.

.

Hinata berjalan dengan gontai menuju kelasnya. Ia tak jadi piknik memandang bunga matahari. Hinata melihat sekelompok anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang sedang bersandiwara layaknya Power Ranger melawan musuh. Diantara kerumunan anak laki-laki itu, Hinata mendapati Naruto sedang berdiri di atas meja sambil mengenakan topeng Power Ranger Merah dan mengacungkan pedang yang terbuat dari kardus. Di kedua sisi Naruto, ada Kiba si Biru, Shino si Kuning, Shikamaru si Hijau dan Hanabi si Pink. Hinata tersenyum kecil ketika melihat kelimanya sedang menyerang boneka panda raksasa yang berperan sebagai monster.

Hinata tiba-tiba teringat perlakuan kasar yang dilakukan oleh kakak kelas tadi. hinata terdiam ketika dalam dirinya muncul pertanyaan, adakah orang yang mau menghentikan kelakuan jahat kakak-kakak kelas itu?

Ada nggak ya, yang berani? Tanya batin Hinata, sambil meringis betapa ia begitu lemah.

"Hinata!" seseorang memanggil Hinata, membuyarkan, lamunan sedih Hinata.

Hinata mendongak dan mendapati Hanabi sedang melambai padanya.

"Hinata ngapain bediri sendirian dishitu?" tanya Hanabi, sambil menggerak-gerakkan tangannya, menyuruh Hinata menghampirinya.

Hinata pun mendekati Hanabi sambil melirik Naruto dan kawan-kawannya yang juga menatap balik dirinya. "Hinata cuman nggak tau mau main apa," jawabnya.

"Oh, kalau gitu main sama kita aja!" seru Hanabi. "Naruto, Hinata main sama kita juga ya."

Naruto manyun. "Tapi Hinata payah. Beda ama kamu."

Hinata menundukkan wajahnya, sedih.

"Ih, Hinata nggak payah!"

"Payah! Dia nggak cocok jadi powel lenjel!" seru Naruto.

"Iya, dia lemah!" seru Shino.

"Ta-Tapi, dia bisa jadi temen kita kan?" ujar Kiba, tiba-tiba. Wajahnya sedikit memerah.

Semuanya menoleh pada bocah jabrik itu.

Kiba jadi blingsatan. "Ke-kenapa kalian ngeliat aku gitu?"

"Temen? Temen apaan?" tanya Naruto, heran.

"Dia jadi sumbel infolmashi kita aja!" seru Hanabi. "Itu loh, yang di malkas besal. Yang di depan komputel."

"Ide bagush." Shino menyetujui. Di samping Shino, Shikamaru hanya mendengus lelah.

Naruto tampak berpikir, sesekali ia melirik ke arah Hinata yang juga menatapnya balik dengan binaran penuh harap. Naruto akhirnya mengangguk. "Ya udah. Yuk Hinata, main ama kita!"

Senyuman Hinata merekah. "Em! Hinata cali dulu komputelnya ya."

"Kiba bantuin," ujar Kiba, tanpa menatap Hinata.

Hanabi langsung merangkul Hinata. "Hanabi juga bantu!"

"Shino juga deh!" seru Shino.

Shikamaru berjalan menuju salah satu banatalan dudukan. "Shika tunggu disini."

Naruto menatap teman-temannya yang dengan riang membantu Hinata. Sontak, pria kecil itu memberengut. "Hei! Tungguin aku!"

.

.

.

Hinata menatap takjub ketika penyihir cilik yang ada di televisi mengubah para penjahat menjadi kelinci kecil yang lucu. Di samping Hinata, Hanabi dengan ceria berteriak-teriak, mendukung si Penyihir cilik. Tak berapa lama, tayangan kartun penyihir cilik itu pun selesai. Hanabi dengan mata mengantuk menelungkup di sofa sambil menguap beberapa kali.

"Kurcaci Dua, tidurnya di kamar sana!" perintah Sasuke, yang sedari tadi juga berada di ruang televisi, namun sibuk dengan berkas-berkas kantornya. "Jangan tidur di sofa."

"Hmmmh." Hanabi malah makin menyamankan dirinya di sofa. Hinata cekikikan ketika melihat itu.

"Kurcaci Satu belum ngantuk?" tanya Sasuke, tanpa mengalihkan matanya dari layar notebook.

Hinata mendekati Sasuke lalu masuk ke pangkuan Sasuke, menggelungkan badannya dan meletakkan kepalanya di paha Sasuke. "Udah, Papa."

"Kalau gitu, tidur di kamar sana."

"Hinata mau dishini ama Papa."

Sasuke tak mengubris. Pria itu sudah fokus kembali ke kerjaanya.

"Papa."

Sasuke tak menyahut.

"Papa!"

"Hn?"

"Kalau Papa liat olang ada yang menjahati olang lain, Papa bakal ngapain?" tanya Hinata, mengingat kembali kejadian tadi pagi.

Sasuke kembali tak menyahut.

Hinata mulai sebal, dikacangin. "Ih, Papa!"

Sasuke menghela nafas panjang. "Aku lagi sibuk Hinata."

"Jawab dulu."

Sasuke menatap berkas-berkasnya lalu melirik Hinata. "Kalau Hinata melihat yang kayak begituan, jangan ikut campur. Pergi menjauh, oke? Bahaya."

Hinata terdiam sambil meresapi perkataan Sasuke. Pergi menjauh? Seperti yang dilakukannya tadi pagi? Jadi, Hinata nggak salah kan?

Apa benar nggak apa?

.

.

.

"Hinata! Aku udah cantik beluum?" tanya Hanabi, sambil berputar-putar, membanggakan rok renda-renda barunya yang berwarna biru muda. Begitu cantik dan imut.

Hinata mengangguk. "Cantik."

Hanabi berhenti berputar lalu mendesah sebal. "Hinata kenapa nggak beli juga?"

Hinata tersenyum simpul. "Hinata lebih suka celana."

Hanabi hanya mangut-mangut menddengar jawaban Hinata.

"Hanabi! Hinata! Ayo sarapan dulu." Temari tiba-tiba muncul di pintu kamar kedua gadis kecil itu.

Hanabi sontak merengut. "Hanabi malas makan."

"Hanabi! Sarapan! Ntar kamu sakit loh! Ayo!" Temari mendesak keduanya untuk segera ke ruang makan.

"Hanabi," panggil Hinata ketika keduanya sedang berjalan menuju ruang makan.

"Apa?"

"Kalau nggak salapan, kata Papa, ntal kita jelek loh."

Kedua mata Hanabi melebar. Tertampang jelas, kekagetan luar biasa di wajah bulat itu. "Benelan?" desis Hanabi, tak percaya.

Hinata mengangguk, sembari mengingat perkataan Papanya dulu yang sempat menusuk hatinya, juga.

Hanabi menundukkan kepalanya. Dengan terpaksa, ia pun berniat untuk selalu sarapan.

.

.

.

Hinata ragu.

Kedua kaki kecilnya terhenti pas semeter lagi, sebelum berbelok ke kebun bunga matahari. Jari-jemarinya terasa dingin. Ia gemetar. Apalagi, ketika ia mendengar samar-samar pekikan kesakitan dari kebun bunga. Hati Hinata makin menciut ketika suara-suara itu memasuki gendang telinganya.

Namun, entah kenapa, kaki Hinata dengan perlahan berjalan dan berbelok menuju kebun bunga. Hatinya ketar-ketir namun ia tak bisa berhenti. Suara-suara itu terhenti. Beberapa pasang mata yang ada di dekat kebun bunga menoleh menatap ke arah Hinata. Begitu pula, korban bully yang sedang terperosok di dinding gedung penitipan anak. Kedua matanya menatap Hinata penuh harap. Hinata cepat-cepat memalingkan wajah.

Sang ketua geng, yang terdiri dari empat orang anak laki-laki itu mendekati Hinata. Anak laki-lak berambut merah itu menghampiri Hinata dengan tatapan heran.

"Kamu, ngapain kesini?" Suara itu terdengar dingin.

Hinata menundukkan kepalanya. Tak satu pun suara keluar dari bibir mungil Hinata.

Anak berambut merah itu mendengus. "Pergi! Dan jangan bilang siapa pun."

Hinata tanpa berkata-kata lagi, langsung lari terbirit-birit menjauhi kebun bunga matahari, sembari menahan luapan panas yang berasal dari kedua matanya. Hinata berlari sembari memegang dadanya yang berdenyut sakit.

Hatinya terus bertanya-tanya, apakah ia benar untuk berlari? Apakah benar, jika ia membiarkan anak itu dijahati? Rasanya… rasanya… ada… yang salah.

Ya. Ada yang salah.

.

.

.

Hinata menundukkan kepalanya dan memeluk kedua kakinya di pojok ruangan yang biasanya dijadikan tempat untuk tidur siang. Hinata menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan gejolak yang ada di dadanya. Di kepalanya, kejadian tadi terus berulang, membuat kepalanya berdenyut sakit.

Hatinya terus menerus berteriak. Memohon seseorang melakuakn sesuatu. Hatinya menjerit. Ada yang salah! Ya. Anak itu harus di tolong! Gadis kecil itu tak bisa untuk tidak peduli.

Seseorang!

Siapa pun!

Tolong!

Greek! –suara pintu digeser terdengar.

Hinata mendongakkan wajahnya yang kini sudah dialiri butiran air mata.

"Hinata?" Suara itu terdengar heran. "Kamu nangis?"

Hinata menyeka matanya. "Nggak."

Anak laki-laki itu mendengus. "Itu ail mata apa? Kamu jelas-jelas nangis!"

Hinata menundukkan kepalanya kembali. "Ini… nggak papa kok."

"Aneh." Anak laki-laki itu bersidekap. "Panggil Hinata dulu deh."

"Jangan!" Hinata menahan tangan anak laki-laki berkulit coklat itu.

"Kenapa?"

Hinata hanya menggeleng.

Anak laki-laki itu menghela nafas panjang, merasa sangat heran juga kesal. "Kamu kenapa sih? Bilang ke aku! Kalau aku bisa, aku bakal nolong kamu!"

Kedua mata Hinata membulat. "Benarkah?"

Anak laki-laki itu mengangguk. "Tentu saja! Aku kan Powel Lenjel Melah!"

Bibir Hinata sontak merekah. Dan tanpa basa-basi lagi, Hinata pun menceritakan segalanya. Setelah selesai bercerita, anak laki-laki itu tiba-tiba berdiri dengan wajah penuh amarah. Dengan gesit, ia berlari keluar ruangan. Hinata yang kaget langsung ikut berlari menyusul anak laki-laki itu.

Dan tak berselang lama, kehebohan di dekat kebun bunga matahari pun terjadi. Anak laki-laki berambut kuning itu menerjang anak laki-laki berambut merah. Tak terima, ketiga teman anak berambut merah ikut menyerang anak berambut kuning. Hinata hanya bisa terdiam menatap perkelahian yang terjadi di depannya. Anak yang tadinya digencet juga hanya bisa menatap takjub anak berambut kuning.

Suara perkelahian tampaknya terdengar sampai ke dalam gedung, menyebabkan perkelahian itu memunculkan penonton-penonton yang lain. Para penjaga anak langsung berupaya menghentikan perkelahian tersebut, namun kalah kuat dengan anak berambut kuning yang dengan sangar menerjang anak bermabut merah.

"Keadilan harus ditegakkan!" teriak anak berambut kuning, jelas-jelas sedang marah.

"Diam bocah sok kuat!" balas anak berambut merah.

"Kalian! Jangan berkelahi!"

"Hajar! Hajar!"

"Kyaaa! Naluto-kun beldalah!"

"Gaara-kun hidungnya berdarah!"

Kehebohan itu berlangsung cukup lama. Hinata yang hanya berdiri tak jauh dari tempat perkelahian hanya bisa menatap Naruto yang lama-lama mulai bersinar di matanya. Dengan berlatar belakang, kebun bunga matahari yang lagi bermekaran, wajah Naruto yang tampak begitu berani menjadi lukisan berkilauan. Bahkan, langit pun tampak biru dengan cahaya matahari bersinar dengan lembutnya.

Bibir Hinata melengkung, membentuk siluet penuh kagum pada sosok bersinar disana. Hatinya kini telah tentram. Tak ada lagi gundah gulana. Hatinya telah meneriakkan suka cita. Ini benar. Inilah yang seharusnya dilakukan, batin hatinya.

Dan Naruto menjadi sosok seterang mentari di mata Hinata hari itu.

.

[To be continued…]

[+Extra]

.

1814 words.

March 29th, 2015.

.

Kolom cuap-cuap Author :

Muahahaha! Kemarin sudah muncul Sakura, kini saya bikin situasi yang bikin kesel lagi. Khekhe.

Membahas tentang Sakura, saya hanya bisa bilang, setiap karakter di fanfic ini memiliki peran masing-masing, termasuk Sakura dan seorang pria lagi, nantinya. Jadi, maafkan saya jika ada reader yang tak berkenan dengan kemunculan Sakura. Sekalipun, begitu. Saya tetap tak akan mengubah plot saya. ;p

SasuSaku ada nggak ya? Hmmm. Nggak tau deh. :p Ngomong-ngomong tentang gap umur, saya pernah mendengar cerita suami istri yang beda umurnya 30 tahun. Jadi… menurut saya, SasuHina di fic ini masih oke. hihi. Tenang aja buat para reader pecinta SasuHina, kalian nggak kesesat kok. Disini jelas-jelas SasuHina. Don't worry!

Oya, reader, siapa disini yang mau ngeliat Sasuke dinistain lagi? /ketawasetan

Anyway, thank you very much for everyone who read, rev, follow and fave! Muach, muach!

Buat reader baru, selamat datang!

Stay tune and see you! #bow

.

Extra

.

"Naluto-kun kelen kan, Pa?" celoteh Hinata, riang malam itu. Dengan menggebu-gebu, Hinata menceritakan kepada Sasuke kejadian di penitipan anak hari itu. Ruang keluarga terasa begitu gaduh.

Sasuke yang sedari tadi hanya diam kini mengangkat alisnya, tampak heran dengan luapan bahagia yang ditunjukkan Hinata.

"Naluto emang hebat!" seru Hanabi, sambil memencet remote televisi, berusaha mencari tayangan malam yang menarik. "Kata Naluto, ia mau belajal kalate ntal pas sd. Hebat ya?"

Hinata mengangguk penuh kagum. "Em! Hebat!"

Sasuke beranjak berdiri dari sofa sambil menurunkan Hinata dari pangkuannya.

"Papa mau kemana?" tanya Hinata, masih belum puas. Gadis itu masih mau membicarakan Naruto.

"Cari minuman."

Hanabi mengkerutkan keningnya. Cari? Kenapa minuman harus dicari?

Tiba-tiba, Sasuke menghentikan langkahnya. "Hn… Hinata…" panggil Sasuke. "Tampaknya kamu menyukai bocah kuning itu ya?"

Kedua mata Hinata membulat.

Suka?

Hanabi menoleh. "Waaah! Hinata suka Naluto ya?"

Tanpa bisa ditahan, wajah Hinata sontak memerah. Bibirnya mengkerucut dengan lucu.

Hanabi sontak tertawa melihat reaksi Hinata, sedangkan Sasuke hanya terdiam.

Malam itu, Sasuke sukses tak bisa tidur.

.