a/n: Assalamu'alaykum [Peace be to you], akhirnya bisa update juga ya, alhamdulillah [Thanks to Allah], apa kalian sangat menantikannya? #Geplaked# Ehehe.. Sebelumnya vea mau ngucapin makasih banyak ya atas dukungan kalian semua, mungkin ke depannya vea akan lama update, kenapa? Insya Allah, vea akan disibukkan dengan pelatihan olimpiade, kalau ngga matematika mungkin kimia, vea minta do'anya ya dari kalian semua juga^^ Vea usahakan nyicil deh fanficnya^^ Kalau oneshoot, akan vea usahakan, karena lebih mudah, tanpa lappie-chan pun insya allah, vea bisa^^

Shihui : Makasih, semoga yang ini bisa lebih memuaskanmu ya^^

Margaret'z : Wah, makasih banyak ya^^

Siron : Arigatou, semoga yang ini bisa lebih so sweet^^

karigold : Gomen, vea kurang bisa memahami reviewmu yang satu ini, karena vea ngga bisa bahasa spanyol, hehe #geplaked# selain itu, biasanya di googletranslate bisa ditranslatin tapi reviewmu yang ini entah kenapa saat ditranslate jadi aneh, heuheu hanya sedikit yang bisa vea pahami. Maaf kalau cerita kemarin kurang memuaskan, vea harap chapter ini bisa lebih so sweet dan juga memuaskanmu^^ Kemudian, saingan yang kau maksud itu saingan author lain? Atau saingan dalam hubungan Karin Kazune di fanfic ini? Kalau saingan hubungan Kazune, dia akan muncul di chapter ini (waa... spoiler deh)^^

Naomi : Terima kasih banyak, smoga kau menyukai chapter yang ini^^

Miki : Ah, terima kasih banyak, haha, kan dia mati-matian membuat masakan, walau ngga enak, Kazune ngga mau bikin kekasihnya itu sakit hati, jadinya ya dibilang enak #geplak#

Bella : Mksih bella^^

Lily : Makasih, ah, tapi sayang sekali, vea akan memunculkan seorang penganggu ke depannya sebagai penguji cinta mereka (yah.. spoiler lagi) meski begitu, vea harap kau akan tetap menyukainya..

Wah, ngga nyangka ada banyak sekali yang reviews, makasih ya buat semuanya, this chapter special for Riandi Abdurahman, ikhwan tangguh yang pernah ku kenal.. Hm, anemone, Rian..

X3


Amoris Abecedarium


Kamichama Karin © Koge Donbo*

Amoris Abecedarium © Invea


Warning : GaJe! Ngga Nyambung! Typo yang bertebaran, alur yang berantakan! OOC! OC! De eL eL


.

.

.

.

Alfabet 10 : J untuk Janji

.

.

Musim dingin kini telah tiba. Hujan salju kini sering turun tanpa diduga. Siswa-siswi Seiei Sakuragaoka pun kini tengah mengenakan pakaian seragam musim dingin mereka. Beberapa di antara mereka bahkan memakai mantel, syal, serta sarung tangan. Jalan kini terlihat putih. Asap tipis akan keluar setiap menghembuskan nafas. Suhu udara di sana turun dengan sangat drastis.

"Kazune-kun!" Seorang gadis yang memakai mantel beludru berwarna pink pupus berlari mengejar sesosok pria yang tengah memakai mantel birunya. Pemuda itu kemudian memalingkan mukanya untuk menatap wajah orang yang memanggilnya. Tak ayal lagi, ia sudah menduga bahwa orang yang memanggilnya adalah kekasihnya, Karin.

"Karin," Pemuda itu kemudian terdiam di sisi trotoar. Menunggu sampai kekasihnya itu datang menghampirinya. Salah satu tangannya dia masukkan ke dalam saku mantelnya. Sementara tangannya yang lain menjinjing tas hitamnya.

Karin berusaha mempercepat langkahnya. Gadis itu tak ingin membuat kekasihnya menunggu lebih lama.

"Mau bareng?" tanya pemuda bermata biru safir itu. Gadis itu kemudian menganggukan kepala. Kunciran rambutnya terlihat bergoyang saat kepala gadis itu mengangguk.

"Huf! Dingin ya," ujar gadis itu. Kabut tipis keluar dari mulutnya saat gadis itu mengeluarkan beberapa kata yang hendak ia sampaikan pada Kazune. Kekasihnya itu kemudian mengeluarkan tangan kirinya dari saku mantelnya. Ia kemudian memegang tangan kanan Karin dan lantas menggenggamnya dengan erat.

"Masih dingin?" tanya Kazune. Gadis bermata hijau bak permata green emerald itu kemudian sedikit tertunduk, menyembunyikan wajahnya yang kini tengah merona merah.

"Su─sudah lebih hangat," jawabnya. Kazune hanya tersenyum, namun ekspresinya masih terlihat dingin sedingin udara di pagi itu. Akhirnya mereka pun tiba di sekolah.

.

.

"Karin, besok kita pergi kencan yuk," ajak Kazune. Ia kini tengah berdiri di samping meja kekasihnya yang tengah membereskan alat-alat tulisnya.

"Kencan? Ke mana?" tanya Karin heran. Matanya membelalak, sedikit terkejut. Ia kemudian duduk menyamping agar bisa berhadapan dengan pemuda blonde hair itu.

Pemuda itu kemudian menyandar pada meja di sebelah meja gadis itu. Dia terlihat sangat cool dengan gayanya yang memasukkan salah satu tangannya ke dalam saku celananya.

"Toko buku bagaimana?" ujarnya memberi usul. Sebuah usulan yang─bisa dibilang─tidak romantis untuk berkencan. Karin menghela nafas, pelan. Ia hanya bisa pasrah dengan kepribadian kekasihnya yang kutu buku itu. Namun, ternyata, meskipun pelan, Kazune masih bisa mendengar helaan nafas dari pacarnya itu.

"Kau tidak suka?" tanyanya lagi, membuat gadis bermata emerald itu merasa tidak enak pada kekasihnya.

"Bukan begitu," bantahnya. Sejujurnya dalam hati, ia sangat berharap Kazune bisa bersikap romantis padanya. Walau harus ia akui juga bahwa surat yang berisi puisi yang diberi Kazune itu sangat romantis.

"Lalu? Kenapa kau menghela nafas tadi? Kau bosan padaku?" tanya Kazune. Kedua mata biru safir nya menatap dalam-dalam mata green emerald kekasihnya. Mencoba untuk mengetahui lubuk hati sang gadis.

"Tentu saja tidak," bantah Karin lagi. Ah, ia selalu terhipnotis oleh tatapan lembut dari mata biru safir pemuda yang sangat dicintainya itu.

"Baiklah, besok pagi jam 11. Aku tunggu di toko buku yang berada di pusat kota," seru sang pemuda. Karin hanya mengangguk takzim.

Tanpa mereka ketahui, pembicaraan itu terdengar oleh salah satu Kazuners yang memang sudah lama menyukai Kazune, Rika Karasuma. Ia tersenyum licik dan lantas pergi meninggalkan mereka.

.

.

Keesokan harinya, Karin sudah siap. Ia tampak sangat manis dengan mantel hangat putihnya. Tak lupa pula kunciran rambutnya yang selalu bercabang 2. Ia lantas mengambil tas mini nya dan langsung berlari menuju halte.

.

.

Setibanya di pusat kota, Rika tiba-tiba saja menghampirinya.

"Hai, Karin-chan," sapanya. Karin menolehkan pandangan mata zamrud nya ke arah Rika. Ia kemudian tersenyum lembut dan menghampiri gadis berambut indigo tersebut.

"Rika-chan, sedang apa di sini?" tanya Karin berbasa-basi.

"Ah, se─sebetulnya, aku disuruh membuat proposal kegiatan, daftar pengeluaran kas kelas serta membuat brosur untuk acara yang akan diselenggarakan liburan nanti. Ku mohon, bantu aku ya," Rika kemudian memegang kedua tangan Karin. Matanya memelas.

"Ah, ta─tapi aku harus─"

"Ku mohon. Semuanya harus selesai hari ini dan aku tak sanggup untuk mengerjakannya sendiri," Rika semakin memelas, membuat Karin tak tega untuk menolak membantunya.

"Ba─baiklah," jawab Karin seadanya.

"Benarkah? Terima kasih banyak, Karin-chan," Rika kemudian memeluk tubuh gadis bermata emerald itu. Dia kemudian tersenyum licik. Mata rubi nya menampakkan kebusukan rencana jahatnya.

"Kalau begitu, kita ke cafe net sekarang saja ya, ayo!" Rika kemudian menarik lengan Karin dan membawa gadis itu menuju sebuah cafe net.

.

.

Sudah hampir 3 jam Karin menemani Rika. Sebenarnya beberapa kali Karin selalu minta untuk pulang duluan, namun Rika terus memelas dan membujuknya.

"Ri─Rika, aku pulang dulu ya,"

"Jangan! Ini belum selesai, ku mohon, bantu aku,"

"Ta─tapi, ini sudah jam 2 siang,"

"Sebentar lagi saja, ku mohon, nanti aku traktir makan siang deh," bujuk Rika. Karin hanya menghela nafas. Ia kemudian kembali menemani Rika. Sebenarnya ia ingin sekali menghubungi Kazune, namun, ponselnya lowbat, ia lupa untuk mencharge ponselnya kemarin malam.

.

.

Dan akhirnya, tepat pukul 4 sore...

"Hore, selesai! Terima kasih sudah membantuku, Karin! Aku traktir makan sekarang ya," seru Rika.

"Ah, tidak perlu. Kalau sudah, aku pulang sekarang ya, dah!" Karin langsung berlari keluar cafe net. Ia kemudian mengembangkan payungnya. Hujan salju turun sejak 2 jam yang lalu. Dengan tenaga yang tersisa, ia terus berlari dan berlari secepat mungkin menuju toko buku tempat ia janjian dengan orang yang dicintainya.

.

.

'Apa Kazune masih menungguku? Atau mungkin dia sudah pulang? Apa dia akan marah? Atau jangan-jangan dia akan memutuskanku?'

Tetesan air mata sedikit-sedikit menetes keluar dari kedua bola mata Karin. Ia kemudian menghapusnya dengan jari-jari tangannya. Ia sudah bertekad, apapun yang terjadi, ia harus pergi ke tempat itu.

.

.

Karin terdiam, mematung. Kedua bola matanya membulat besar, menatap sesosok pemuda yang tengah berdiri dihujani butiran salju. Pundak dan kepalanya sudah tertutup salju yang menetes.

"Ka─Kazune..."

"Kenapa kau lama sekali, bodoh?"

"Hiks... Ma─maaf, a─aku... Hiks..." Karin mulai menangis. Greb─! Kazune langsung memeluk tubuh kekasihnya itu. Payung yang dipegang erat oleh Karin pun sampai terjatuh.

"Aku menunggumu," ujarnya pelan. Namun dapat terdengar jelas oleh telinga Karin.

"Maafkan aku..." Tangisan Karin semakin pecah.

"Hn, sudahlah,"

"Kazune, tubuhmu dingin sekali..." ujar Karin. Kazune menghela nafas. Desahannya terasa begitu hangat di telinga Karin.

"Itu karena aku menunggu orang bodoh yang tak jua datang selama 5 jam 31 menit 21 detik," sahutnya.

"Lalu, kenapa kau mau-maunya menunggu orang bodoh itu?" tanya Karin.

"Karena aku sudah janji padanya bahwa aku akan menunggunya di tempat ini," jawab Kazune. Betapa bahagianya Karin mendengar semua itu. Ia kemudian melepaskan pelukan Kazune.

"Hn?"

"Arigatou,"

Cup! Karin untuk pertama kalinya, mengecup pipi kanan kekasihnya itu. Membuat sebuah rona merah di wajah putih Kazune.

"Se─sekarang sebaiknya kita makan yuk, aku lapar juga menunggu di sini selama 5 jam 31 menit 21 detik tanpa makanan,"

"Umh, baiklah, aku yang traktir,"

"Sepuasnya?"

"Tidak, tapi semampunya aku membayar,"

"Ough, baiklah, ayo!"

Kazune langsung menggenggam erat tangan Karin. Dan mereka pun bergandengan tangan dengan mesra menuju rumah makan. Sebuah kepribadian Kazune kembali Karin dapati hari itu. Ia sekarang akan selalu mempercayai Kazune, karena Kazune adalah orang yang selalu menepati janjinya.

.

.

To Be Continued

.

.

Review Please?