Chapter 10

POV: Itachi

Aku sudah mencarinya di seluruh rumah teman-temannya, bahkan sampai rumah seniornya di klub memanah. Tapi aku tak menemukannya. Dan aku jadi putus asa sekali.

Saat jalanan kembali membawaku ke taman, aku memutuskan istirahat sebentar di ayunan seraya mengingat-ingat tempat lain yang mungkin dikunjungi Karin. Pokoknya aku tidak mau percaya bahwa gadis itu memutuskan bunuh diri. Bagaimana pun dia adalah gadis paling tegar yang pernah kutemui.

Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku. Aku tersenyum lebar dan langsung menoleh karena mengira yang melakukannya adalah Karin. Namun dugaanku salah. Ternyata yang berada di belakangku ini adalah Haruno Sakura, muridku yang sempat berpacaran denganku cukup lama.

Naruto ©MasashiKishimoto

Mondai ©VannCafl

Pairing: Itachi x Sakura

Genre: Romance

Rate: M

Warning: Dark Itachi, dark stories.

"Hai Sakura," aku memutuskan menyapanya lebih dulu. "Apa yang kau lakukan di sini?"

Sakura mengulum bibir sebelum bicara. Matanya juga tampak berkaca-kaca. Aku tahu sulit baginya untuk bertingkah biasa di depanku. "Aku sedang lari malam, Sensei.." jawabnya. Ia segera duduk di ayunan bersamaku.

Oh, iya. Kalau dipikir-pikir, Sakura tidak ada di rumahnya saat aku berkunjung tadi. "Sakura-chan, Apakah kau melihat Karin?" tanyaku pelan. Aku harap dia tidak merasa cemburu atau semacamnya.

Sakura menggeleng, kemudian menunduk menatap kakinya yang menendang-nendang pasir. "Ne, Sensei.. apakah aku masih bisa menarik perkataanku waktu itu? Aku menyesalinya."

Aku tertawa kecil. "Kata-katamu yang mana yang mau kau tarik?" tanyaku. Tapi sedetik berikutnya aku sudah bisa menduganya. "Kalau soal percakapan terakhir kita, tentu tidak bisa, Sakura-chan.."

"Kenapa tidak boleh, Sensei?" tanya Sakura tidak setuju. Namun bahunya tampak turun.

Aku mencoba tersenyum. "Memangnya kenapa bisa boleh?" aku membalik pertanyaan. Aku ini menyukai Karin, Sakura..

Sakura menjilat bibir sementara tangannya terkepal erat di atas lututnya. "Uhm, mungkin karena aku mengandung setelah.. uhm, begitulah."

Aku mengerjap kaget. "Apa?"

Sakura segera melambai-lambaikan tangannya di depan wajah. "Tentu saja aku bersedia menggugurkannya demi dirimu.." katanya cepat. "Tapi.. sebagai gantinya aku ingin kau meninggalkan gadis itu."

Aku menggeleng protes. "Sakura-chan, kau bohong kan?"

Sakura tersenyum tipis. "Tidak," bantahnya pelan. "Kita memang melakukannya waktu itu.. lebih tepatnya, kita sudah sering melakukannya."

Waktu kapan? Aku sama sekali tidak ingat. Dan terakhir kali kami berpacaran, bukankah itu nyaris sebulan yang lalu? "Sakura-chan, kau tahu kan kalau ini masalah serius. Mengapa kau tidak mengatakannya lebih awal?"

Sakura mengedikkan bahu. "Kau bahkan tidak berusaha menyangkalnya.. kau terlalu baik.." gumamnya. "Ne, Itachi-kun, bisa tidak hentikan sikapmu itu. Aku bukan muridmu. Kau tak perlu sok baik di depanku."

"Kau muridku, Sakura-chan," koreksiku. "Dan aku akan terus bertindak sebagai gurumu."

Gadis itu menunduk. Terlihat jelas ia mulai marah padaku. "Itachi-kun, kita terjebak dalam hubungan guru-murid ini baru sekitar setahun," bisiknya pelan dengan suara bergetar. "Tapi sebelumnya kita sudah berpacaran selama empat tahun.."

Lagi-lagi dia mengingat fakta itu. "Sakura-chan," aku berusaha melembutkan suaraku dan menatap matanya. "Bukankah kita sudah sepakat menganggap itu rahasia?"

Sakura menggigit bibir. "Rahasia, rahasia. Kau selalu saja membodohiku yang jauh lebih muda darimu.." gumamnya. "Bertemu di kafe, pustaka, bahkan hotel.. aku merasa sudah dimanfaatkan.."

Kalau tidak salah kami memang pernah beberapa kali ke hotel. Dan mungkin beberapa bulan lalu aku juga membawanya ke hotel. Entah lah, aku tidak ingat. Tapi setiap kali melihat wajahnya, aku bisa melihat sendiri akibat kebuasanku. Gadis itu juga pasti mengetahui setiap keburukanku. Karena itu lah aku merahasiakannya dari keluargaku. Dan aku siap memutuskannya saat sudah ada yang mengetahui hubungan kami. Salahnya sendiri karena sudah menanyakan rumahku pada Sasuke waktu itu.

"Ne.. Itachi-kun.. kau akan meninggalkan gadis itu atau tidak?" tanya Sakura. "Aku tak suka pakai cara kotor, tapi aku akan memberitahu orangtuamu apa yang terjadi padaku.."

"Hentikan, Sakura.." pintaku. Entah kenapa kepalaku jadi sakit. "Berhenti lah bertingkah seolah benihku yang ada di rahimmu itu tidak berharga."

Sakura mendengus. "Sekarang aku tahu apa saja yang ada di prioritasmu. Yang pertama Karin, kedua bayi ini, dan terakhir aku.. wah, aku semakin di bawah saja, ya.."

Tanpa sadar gigi-gigiku beradu saking marahnya aku pada gadis ini. "Salah. Saat ini yang kupedulikan hanya bayi itu. Tidak ada kau dan juga Karin!" aku mulai meninggikan suara. "Nah, Sakura. Aku akan melakukan apa yang kau inginkan.. Tapi kau juga harus jaga baik-baik dirimu dan juga dia. Karena jika dia kenapa-kenapa, tidak ada lagi arti dirimu bagiku."

Setelah itu aku mengeluarkan kunci mobil dan berdiri. Tanpa menatapnya aku bertanya, "Kau mau kuantar pulang?"

Dia mulai menangis. "Tidak.. aku tidak mau.." isaknya.

Aku berusaha mendinginkan hatiku. "Kau harus mau," kataku. "Aku hanya ingin memastikan kalian selamat sampai rumah."

"Kalau begitu baiklah," Ia masih terisak. Setelah itu dia berdiri dan kami berjalan sama-sama ke mobilku.

Mungkin aku berkata ingin melakukan apa yang dia inginkan. Tapi dia terlalu polos dan naif. Aku tak ingin dia kenapa-kenapa, jadi aku harus kembali mengaturnya.

.

.

.

Setelah jalan beberapa saat, Sakura tertidur. Dia pasti kelelahan karena jalan-jalan malam cukup jauh dari rumahnya. Wajah pulasnya mengingatkanku saat aku tidur bersamanya. Dia terlihat lebih manis daripada Karin.

Oh iya. Aku lupa tentang Karin. Dia kembali membuatku cemas. Aku pun mengeluarkan ponsel dan menelepon Sasuke untuk meminta perkembangan.

"Aku sudah menemukannya, Nii-san," kata Sasuke cepat. Entah kenapa suaranya terdengar gugup sekali. "Kami akan pulang sekarang. Ngomong-ngomong kau di mana?"

"Aku bertemu Sakura tadi, jadi aku mengantarnya pulang," kataku. "Karin baik-baik saja kan?"

"Uhm, baik-baik saja," jawab Sasuke. Kemudian suaranya berubah lesu. "Dia memang tak bermaksud bunuh diri, Nii-san. Tapi sepertinya Karin berniat ke Suna dalam beberapa hari."

Oh, jadi dia serius memutuskanku dan bertunangan dengan Gaara. Memang rasanya tak rela, tapi aku tak suka memaksa gadis itu untuk tetap bersamaku—sama sekali tak cocok dengan charaku. Lagipula bukankah dia lebih menyukai Sasuke daripada aku? Belakangan itu terlihat jelas sekali.

"Baiklah. Nanti katakan padanya untuk ke kamarku jam 11," kataku.

"Kau ingin dia menginap?" tanya Sasuke senang. "Ide yang bagus sekali. Nanti akan kutanyakan. Bye-bye, Nii-san."

Setelah itu ia memutuskan sambungan. Yah, lebih baik begitu karena sekarang aku sudah sampai ke perkarangan rumah Sakura. Kulihat orangtua Sakura segera membuka pintu rumah mereka, jadi aku cepat-cepat menggendong Sakura sebelum mereka menyusulku.

Saat aku menggendongnya, Sakura terbangun. Jadi dia memaksa diturunkan, dan aku menurutinya saat kami sudah sampai teras. Setelah itu dia masuk ke rumah tanpa mengatakan apa-apa padaku.

"Aaah.. dari dulu dia tak pernah berubah.." kata ayah Sakura setengah sebal setengah maklum. Kami baru saling mengenal setelah aku menjadi guru. "Maaf selalu merepotkanmu, Sensei."

"Tidak apa-apa," kataku lembut.

"Apakah kau sibuk, Sensei? Aku akan senang sekali kalau kau mau mampir. Aku akan membuatkan teh," kata ibu Sakura.

Aku tertawa kecil. "Aku juga senang kalau bisa mampir," kataku. "Ada yang ingin kubicarakan mengenai Sakura pada kalian."

Ibu Sakura tersenyum senang kemudian masuk ke dalam rumah untuk membuat minuman, sementara ayah Sakura tampak mempersiapkan mental entah karena apa. Mungkin karena sesama pria, dia langsung mengerti apa yang akan kukatakan.

Hah.. bagus sekali Itachi. Kau begitu percaya pada Sakura sebelum yakin dia mengandung atau tidak.

"Sejujurnya aku sudah menyentuh putrimu," kataku pelan. "Aku ingin menikahinya."

Wajah ayah Sakura tampak muram dan kecewa. "Yah.. wajar saja, ya. Kalian sudah pacaran empat tahun," gumamnya. "Uhm.. Soal menikah.. sepertinya kau sudah menghamili putriku, ya.."

Aku mengangguk. "Mungkin terlalu cepat, entahlah. Tapi usia Sakura sudah cukup untuk menikah, jadi kupikir tidak apa."

"Kau baik sekali, ya.. Seperti biasa." Kupikir dia akan marah. "Aku ingat waktu pertama kali kau mencium putriku. Kau datang padaku minta kupukul. Tapi kulihat kau samasekali tidak menyesal. Sekarang.. tanpa ragu kau ingin menikahinya. Kau lupa dulu aku pernah menolak permintaan yang sama darimu?"

Aku terdiam. Bingung dengan apa yang dia bicarakan.

"Kau pasti melupakan banyak hal ya, sejak kecelakaan itu," katanya lagi. "Putriku menangis di ruang tunggu selama kau dioperasi. Lalu setelah kau terjaga dan tidak mengingatnya samasekali, dia bersedih selama berminggu-minggu. Namun dia tetap berusaha menghubungimu dan memberitahu bahwa kalian pacaran. Dan kelihatannya kau menerima fakta itu begitu saja, namun hubungan kalian tidak sedekat dulu. Nak Itachi, kupikir kau dan putriku sudah putus beberapa waktu lalu."

Itu penjelasan yang panjang, tapi kurang lebih aku sudah mengetahui ceritanya. Tentang gadis asing yang menungguiku selama operasi, ibuku terus menanyakannya padaku saat itu. Dan ketika gadis itu mengaku sebagai kekasihku, aku menerimanya begitu saja. Kupikir, aku berpacaran dengannya karena tidak bisa melupakan Temari. Jadi kami pun berpacaran dengan syarat agar dia tidak memberitahu keluargaku. Aku tidak ingin berita ini bocor sampai ke telinga Temari.

Lalu aku pun menyadari Karin menyukaiku, dan kupikir bagus juga kalau aku lebih dekat dengannya. Tapi semuanya tidak berjalan lancar. Karin bertunangan dengan Gaara, belum lagi fakta adikku menyukainya diam-diam. Dia terlalu memberi banyak masalah. Lebih banyak masalah daripada yang diberikan Sakura selama 'sebulan' aku berpacaran dengannya.

Kurasa, jika gadis itu benar-benar hamil.. hamil oleh diriku yang dulu, aku tidak punya pilihan. Aku tahu betapa sukanya Itachi yang dulu pada Sakura, dan bahkan untuk diriku yang sekarang, aku sadar aku menginginkan bayi. Kuharap semuanya berjalan lancar, jika aku memberitahukan ini pada orangtuaku secepatnya.

To be continued