LeChi's project proudly presents
.
.
.
CAFEIN for CAFEE: Everyday
.
.
.
Kuroko no Basuke (c) Fujimaki Tadatoshi
Kuroko no Basket milik Fujimaki Tadatoshi. Kami tidak mengeruk keuntungan materil atau komersil sama sekali dalam membuat fanfiksi bersama ini.
Tenth Ever Drabble:
.
.
Loss (c) Light of Leviathan
.
.
Sekuel Longing for Loving You
.
.
Hal yang pertama menampar matanya setiba di taman, di sela celah antara gemersak rindang pepohonan di taman musim panas, adalah seseorang mencium Furihata Kouki.
Seseorang itu adalah cinta yang tak seharusnya nyata, karena tak menyambut cinta Furihata—dan ini seharusnya.
Belati berkarat menyayat bagian tertentu dalam dirinya. Mungkin, harga dirinya. Mungkin, mengiritasi matanya. Bisa jadi, luka menganga di hatinya.
"Kau mencintaiku."
Bibir mereka saling melepas, jarak sedikit terhempas, dan berbagi napas.
Dua kata, nyata. Seperti perasaan Furihata selama ini untuk orang itu. Senyum yang ia tahu Furihata mimpikan di setiap tidurnya, hingga digentayangi mimpi buruk. Kelembutan anomali dalam nada suara orang itu—yang ia tahu dulu tak pernah tertuju untuk Furihata.
"A-aku—"
"Ne?"
Furihata tergugu. Senyum lebar itu sepertinya lebih terang dari sinar remang matahari yang menghunjam ubun-ubun pohon. Tawa halus orang itu menelusup, ditolak ruang pendengarannya. Bahkan kendati suara itu selembut sepoi angin yang menjilati seluruh tubuh mereka kini, hatinya menggeliat—ini keliru. Hatinya memang digugut rindu.
Memalingkan wajah ke samping kanan, mata sepolos arakan awan itu dapat menjungkirbalikkan dunia—resolusinya. Sementara ia mengukuhkan diri untuk tak jatuh dua kali, tapi orang ini serupa medan magnet—dan Furihata termagnet dalam medan pesonanya. Mengerikan.
Tapi pada kenyataannya yang lebih mengerikan bagi Furihata adalah menemukan Akashi Seijuurou terdiam. Mata terbelalak, berdiri menatapinya dan objek afeksi dengan cinta yang (seharusnya) kandas. Pilu.
"Se-Se—"
"Hmmm?"
Furihata menggeleng, meski sama-sama berkonsonan dan vokal awal "Se", tapi hanya satu "Seijuurou" yang sudi disuarakannya, yang mengelupas jati dirinya, membangun lagi realita dengan mengenyahkan angan-angan tentang kebersamaan dengan orang itu.
"Maaf aku baru menyadari perasaanku selama ini. Ternyata aku salah saat memilih bersamanya. Tapi karena itu, aku sadar sebenarnya aku mencinta—"
Furihata terlanjur berhenti berharap, kenapa baru sekarang?
Di ujung jalanan rerimbunan hijau, Akashi menghela napas. Ekspresinya monotonis, hampa tak berjeda. Sudut-sudut bibir mengukir apa yang ia pikir senyum, atau ini seringai, atau sekadar lengkung tanpa makna.
Furihata tercekat, menggeleng keras. Berusaha lepas dari remasan tangan di bahunya. Mata merah itu yang menghidupkannya saat ia sekarat, dan perasaan tak berbalas (mulanya) berkarat. Menyiratkan tulus tak terucap. Lebih, lebih hangat, dan yang selama ini selalu di sisinya.
Ruang pandangnya memblurkan sosok Akashi yang mengucapkan sesuatu, berbalik—berjalan pergi. Tak kembali.
"SE—"
"Furihata?"
Akashi tidak butuh penjelasan. Siluetnya menyeruak dari bayang-bayang pohon yang bergoyang menarikan nyanyian riang burung musim panas. Tak menoleh lagi, kendati ingin-dan ia tak semasokis itu melunakkan dirinya.
"Seijuurou!"
Liuk bibir tak terdefinisi tersaput desau angin yang mengantarkan gema namanya dipanggil-panggil, oleh suara sepedih ringkik jangkrik yang memekakkan telinga.
.
.
.
Akashi melampaui air mancur, menatapnya rendah tanpa ekspresi terkucur. Percik hendak menggapai surya, tapi takkan pernah sampai walau telah mencumbui kaki langit.
Seperti dirinya.
"Seijuurou!"
Sayup imajiner, entahlah. Harapan kosongnya saja.
Mungkin Akashi Seijuurou beruntung sempat memiliki Furihata Kouki.
Saat ini, ah, kemarin hari. Besok, ia susun rencana. Lain waktu, ia akan merebut lagi Furihata yang (ia kira) sudah jadi miliknya.
Mungkin orang itu harus benar-benar ia bunuh.
Tangis melantun namanya, mengudara samar. Akashi tidak mendengar.
.
.
.
"Omodetou, Kouki."
Akashi terbangun. Terengah. Sepasang mata merah redup sampai sklera dalam remang. Gorden tak tersibak—matahari menyalak jendela. Apartemen sesunyi danau tak beriak.
Tangannya meremas seprai, kepala tertoleh samping. Mencelos, ulu hati ngilu.
Kehilangan.
Furihata tak ada di sisinya.
~Fin~
Special thanks: Light of Leviathan
Readers and Reviewers, mind to give review? ;)
