Hai yeorobun... sempet sedih kalau liat grafik pembaca yang tinggi banget tapi yang review sedikit #poorauthor

Well tapi aku gak mau mengecewakan siapapunjadi aku terus ngelanjutin fanfic ini

Jadi cahaa~~

Jangan merasa nyaman seperti itu karena kita masih begitu asing

Jangan mendesaku seperti anak kecil karena ini bahkan belum dimulai

Aku hanya gemetar sedikit, tapi aku baik baik saja

Tidak

Yang sebenarnya adalah

Aku masih membencimu, kau yang telah meninggalkan diriku

Hatiku mendingin

Jangan begitu terlihat cerah, karena bagiku ini gelap

Bagaimana aku bisa tersenyum?

Jika kau melihat lebih dekat,aku sebenarnya sedih karena aku tahu sebelumnya aku disana

Aku tidak suka cinta yang penuh perhitungan seperti cinta dewasa

Aku hanya lelah..

Tapi aku baik baik saja

Tidak

Yang sebenarnya adalah

Aku masih membencimu, kau yang telah meninggalkan diriku

Hatiku mendingin

Merindukanmu

Merindukanmu

Merindukanmu

Cinta dihari mudaku berakhir seperti ini

Kau pasti senang

Bahkan jika waktu yang lama berlalu,kita masih akan mengingatnya satu sama lain

Saat saat ketika masih ada "KITA"

Missing you By 2ne1

Luhan lebih dulu tersadar 'kuat luhan' batinnya meyakinkan dirinya, tampangnya kembali seperti biasa seolah tak terjadi apa-apa antara kai dan dia, dia tersenyum kearah kai yang sekarang juga balas tersenyum kearahnya, mereka tanpa sadar berjalan mendekat, saat tubuh kai hanya tinggal beberapa langkah darinya suasana menjadi akwward lagi, luhan jengah dengan kondisi ini, begitupula kai

"apa kabar?" kai menjulurkan tangannya pada luhan yaang sekarang mengeratkan genggaman pada belanjaannya, dia tersenyum berusaha senatural mungkin dan membalas jabatan itu

"baik" mereka tahu itu hanya basa basi formalitas, karena pada dasarnya mereka tak tahu topik apa yang akan dibahas setelah sekian lama tak bertemu, mereka kembali terdiam menatap mata masing masing, tangan mereka masih belum terlepas, seolah tak peduli dengan kondisi sekitar, luhan menatap dalam mata kai, mencari hal ganjil dari tatapan itu 'ani..kai jangan tatap aku dengan pandangan itu' luhanlah yang lebih mudah menguasai dirinya,dia melepaskan jabatan itu terkesan dipaksa karena tanpa sadar luhan sedikit menepisnya

"darimana oppa?" luhan masih memandang kai dengan senyuman palsunya, mungkin senyuman itu memang terlihat alami bagi orang yang tak mengenalnya, tapi tidak bagi mereka yang mengetahui luhan yang sebenarnya termasuk kai, luhan memang mempunyai pengendalian diri yang bagus dia selalu memakai topeng yang sangat sulit dibedakan, dia tersenyum sangat tulus tapi hatinya menjerit sakit, dia menangis tapi masih bisa tertawa renyah bersamaan seolah air mata yang keluar hanya sebab tawanya,bahkan jika hatinya benar benar terluka dan ketakutan jika itu ditempat ramai dia bisa menyembunyikannya dengan wajah datar, karena inilah banyak yang menganggapnya sekuat batu, tapi tidak.. luhan yang asli hanya gadis rapuh, gadis yang mencoba menghibur dirinya sendiri, memeluk dirinya sendiri sampai dia bisa menangis dan melepaskan semuanya dihadapan tuhan dan orang yang dia perbolehkan dapat melihat sisi lemahnya iya..orang orang itu termasuk sehun, chanyeol dan kai sendiri, kai tahu senyuman ini adalah kepalsuan luhan untuk yang kesekian kalinya

" dari toko buku ,membeli ini " akhirnya kai lebih memilih mengesampingkan senyuman palsu itu, dia mengoyang goyangkan kantung plastik yang berisi buku,tersenyum canggung, berbeda dengan luhan,bagi luhan kai adalah orang yang ekspresif sangat mudah ditebak apa yang dia rasakan, luhan bisa melihat sorot sedih,takut,sakit dan bersalah dimatanya,dan terakhir tatapan 'jangan pergi' yang membuatnya tertohok ... sangat jelas

"kau juga dari mana?" mereka hanya membalikan pertanyaan masing masing karena tahu keadaan mereka sekarang benar benar canggung

" dari tempat belanjaan ada beberapa barang yang harus di beli" luhan yang benar benar jengah dengan keadaan ini memutuskan untuk segera mengakhirnya

" kai.. ah mianhae aku ada janji dengan xiumin, eh kau mau ikut bertemu xiumin di taman?" yup 100% pernyataan ini hanya basa basi agar dia segera pergi dari hadapan kai, anio..harapannya bisa melihat kai memang tercapai,saat melihat namja itu dia ingin segera belari memeluknya menumpahkan kerinduan yang teramat padanya tapi tidak dengan rasa sesak yang semakin menjadi dihatinya, sakit yang membuat kedua tungkainya serasa lemah tak bisa menopang tubuhnya,tidak saat dia menatap arti tatapan kai, dia harus segera lari.., dia tak ingin roboh di hadapan namja ini, dia tak ingin kai melihatnya menangis, biarpun dia tahu kai pasti bisa menebak dirinya dengan baik, harga diri melarangnya melakukan itu, dengan senyuman yang sama dia menatap kai yang sekarang menatapnya sendu mencoba mengabaikan arti semua ini, otaknya langsung berputar menyusun segala kemungkinan yang sebenarnya terjadi.

"ani..lain kali aja" kai menggaruk tengkuknya "ehm.. aku pulang akhir minggu ini " kai menatap luhan penuh harap, luhan bukan gadis bodoh yang tak tahu maksudnya

"oh..haha..minggu ini? Cepat yah..aah.. aku sudah ditunggu.. bye bye oppa " luhan segera berbalik arah tak ingin menatap kai lagi, tepatnya tatapan kai itu ,langkahnya tergesa gesa matanya sudah memanas 'tahan luhan..tahan kau kuat ok kuat'

Kai menatap kepergian luhan sendu,merasakan sesak melihat luhannya yang berusaha tegar menutupi rasa sakit karena dia,dia yang dulu berjanji tak akan menyakitinya kini malah dengan jelas melihat bagaimana gadis itu menahan sakit akibat ulahnya, dia masih sangat menyayangi mawarnya itu, tapi dia tahu diri dia akan terus menyakitinya jika dia dan luhan masih berhubungan , dia tak mungkin durhaka memilih luhan dibanding ibunya, dia mencintai ibunya melebih apapun didunia ini bahkan melebihi cintanya untuk luhan bahkan dirinya sendiri, apapun akan dia lakukan termasuk menanggung sakit seperti sekarang asalkan itu diridhoi ibunya.. keadaan ini membuatnya mau tak mau harus segera menghapus perasaannya untuk luhan,termasuk menghindarinya meskipun akhirnya dia kalah karena kerinduannya terhadap luhan, dia sengaja datang ke mall ini, sengaja ke toko buku meskipun dia tak suka membaca hanya agar dia bisa melihat luhan,saat dia melihat chek in luhan segeralah dia melesat kesini, dia tahu kebiasaan luhan sehingga dia bisa memperkirakan kapan mereka akan bertemu, semua pertemuan tadi adalah rencananya tapi ternyata biarpun dia tahu luhan akan mengerti alasan terselubungnya mereka tak bisa apapun, dia tak ingin keadaan seperti tadi terulang sungguh dia merindukan luhan, tak apa jika dia harus kembali pada keadaan mereka dahulu saat mereka bersahabat saling mengejek atau curhat mencurahkan semua isi hati mereka sampai salah satu dari mereka menangis ,tak apa..asalkan jangan seperti tadi luhan dengan jelas menepis tangannya,menolak kehadirannya memilih memalingkan wajah darinya, dan yang paling membuatnya sesak tatapan luhan yang tak bisa berbohong seberapa banyak gadis itu menderita karenanya, seiring berjalannya waktu dia berharap dapat mencari wanita idaman ibunya berusaha mencintainya menggantikan posisi mawarnya dihatinya.. harus dia harus tegas pada perasaannya melepas luhan, dia tak ingin menyiak nyiakan pengorbanan luhan melepasnya, dia hanya ingin menjadi orang yang lebih baik sesuai dengan janjinya pada luhan, meskipun tanpa kehadirannya.

"mianhae.. I miss you myrose"

Luhan memandang kosong pemandangan taman didepannya, kini dia terduduk di kursi kosong taman yang lumayan sepi, tak dihiraukan handphonenya yang bergetar dari xiumin toh dia yakin xiumin pasti akan menemukannya disini.

Pikirannya tentu mengingat hal tadi, luhan tau itu semua rencana kai, pertemuan tadi bukan hal kebetulan dia tahu,tahu arti ucapan kai yang menahannya lebih lama, tapi dia sudah tak bisa menyambut rencana itu.. dia tak ingin lepas kendali , mereka sudah saling melepaskan, dia milik sehun sekarang dia mencintai sehun dia tak meragukan hatinya tapi kai.. kenapa hatinya masih sangat bergantung pada keberadaan namja itu ?

Dia ingin menangis kenapa hatinya sesesak ini, luhan tak mungkin membicarakan kejadian ini pada sehun dia tak ingin menyakiti pacarnya itu, sehun sudah terlalu lama menanggung sakit karenanya,dia tak harus tahu

"luhan kau kenapa?" xiumin memandang cemas luhan yang masih menatap kosong kedepan, dia sudah beberapa menit disini tapi luhan tak juga menyadarinya meskipun dia berdiri dihadapan gadis itu

" luhan hei.." xiumin mulai cemas, chen memandang luhan tak kalah cemasnya, luhan menoleh kearah dua orang itu, tatapnnya datar tapi matanya memerah, xiumin tahu luhan tak dalam keadaan baik

'dia kenapa?jangan jangan kesurupan' chen malah mulai berfikiran aneh aneh tentang luhan, xiumin memberinya kode untuk meninggalkannya dengan luhan hanya berdua, dia menghela nafas lalu memilih berjalan kearah mobil menunggu urusan dua yeoja ini selesai

" xiu.."

" kau kenapa? Jangan membuatku cemas seperti ini aigoo"

"kai" xiumin tahu maksudnya harusnya dia tahu kerapuhan luhan tak akan jauh jauh disebabkan karena namja itu, dia mendudukan diri disamping sahabatnya itu memandang prihatin

" aku bertemu dengannya" luhan tersenyum menatap xiumin

"dia lebih tinggi loh xiu" luhan terkekeh, kali ini xiumin semakin memandangnya khawatir

"kami bertemu tak sengaja, dia menyapaku xiu"

" tapi.. dia berubah..." xiumin memeluk sahabatnya itu

"kenapa memeluku..aku tak apa hei?" biarpun bicara seperti itu luhan tak melepaskan pelukan xiumin, sekarang bukannya luhan yang menangis tapi xiumanlah yang terisak, dia turut merasakan sakit sahabatnya ini, hatinya perih melihat luhan yang berusaha tegar, dia adalah saksi mereka berhubungan dari berkenalan,bersahabat,berpacaran sampai seperti sekarang dia yang paling tahu seberapa mereka saling mencintai dulu, saling menopang, saling membantu dalam hal apapun, membuat orang orang iri melihat keduanya, tak pernah sekalipun terpikir luhan dan kai akan berakhir tragis seperti ini, yang xiumin lihat dulu kai tidak bisa hidup tanpa luhan begitupan sebaliknya, sekarang semuanya seolah berbalik, dia sedikit membenci kai karena sikap namja itu yang seolah menarik ulur hati gadis ini, namja itu seolah hidup segan mati tak mau, dia melepas luhan tapi dia seolah selalu memberikan harapan pada luhan bahwa mereka akan kembali, pada akhirnya luhanlah yang menderita

" aku membenci kai" xiumin masih terisak, luhan tersenyum dipelukannya, ya jika boleh jujur seharusnya dialah yang membenci namja itu tapi dia tak bisa, bukan karena alasan perasaannya, dia hanya terlalu malas membenci seseorang.

"yak..dia temanmu juga.." luhan melepas pelukan xiumin tersenyum palsu berakting kalau dia baik baik saja

"aku tak ingin bertemu denganya" xiumin menatap luhan

" kenapa kau yang menangis? Mana bisa..reunian sma juga pasti kita bertemu dengannyakan haha" luhan masih saja berakting seolah dia terlihat baik baik saja

" kau pasti sakitkan lu? Kau tak bisa menangis , karena itu sahabatmu inilah yang menggantikanmu menangis" luhan tersentuh mendengarnya, dia bersyukur karena dia masih bisa memiliki sahabat setulus xiumin

" aku tak apa" luhan meyakinkan xiumin

"aku tau kau bohong...

"xiu"

"tapi aku tak bisa memaksamu..jadi biarkan aku yang menangis menggantikanmu"

"gomawo xiu"

" lu apa kau tak membenci namja itu sekarang"

"hei..jangan sebut dengan sebutan namja itu, dia temanmu juga"

" yah.. tapi dia memang sudah jadi orang yang berbeda, dia seperti bukan kai"

" dia hanya berubah tapi tetap masih kai teman sekelas kita..

"dan hazelmukan lu"

"I dont think so"

"wae?"

" well dulu kai dan hazel adalah orang yang sama,tapi sekarang mereka orang yang berbeda aku merasa sedikit asing" luhan terkekeh menyadari perubahan yang terjadi

" kau membencinya?" xiumin mengulang pertanyaannya, raut khawatr masih terlihat jelas di wajahnya

"ani..kau tau aku tak bisa membenci orang, menghabiskan waktu"

"lalu kenapa kau seperti ini"

"entahlah xiu, hatiku masih tergantung padanya tapi respect ku untuknya berkurang..kira kira begitulah aku juga tak tahu"

" lu.. kau harus melupakan namja jahat itu"

" dia bukan namja jahat xiu, keadaan yang membuatnya seolah jahat kau tau kai dikelaskan,, seberapa baik hatinya dia untuk ukuran cowo"

" kau bahkan masih membelanya"

"hah.. aku bilang mollayo.. aku hanya bicara fakta dia memang namja baik dan humoris ko"

" luhan.. fighting,,kau harus kuat"

" akkh gomawo baozii" luhan mencubit pipi gembul xiumin mereka tertawa berbarengan, suasana hati luhan sudah terkontrol lebih baik dari pada tadi, dia sudah kembali ceria seperti biasa meskipun itu memang hanya acting, dia tak ingin melihat sahabatnya ini khawatir.

" em..xiu, aku dan sehun jadian"

"jincayo?" xiumin memekik senang mendengarnya, membuat chen yang sedari tadi mengamati keduanya didalam mobil tersenyum melihat tingkah menggemaskan kekasihnya itu

"ne.. beberapa hari yang lalu"

" akhh,,tao harus tau.."

"nanti saja kalau di kampus"

"kau mencintai sehunkan lu?"

"ne..xiu aku mencintainya, aku merasa tenang jika mengingatnya"

"akhirnya kau menyadari perasaanmu lu, hiduplah bahagia dengan sehun lu"

"amin.. semoga sehun penantian akhir ya xiu...aku lelah mencari namja yang cocok haha" mereka tertawa melupakan kejadian beberapa saat yang lalu

'bersama sahabat adalah salah satu obat yang ampuh mengobati rasa sakit di hatimu'

Kris hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal tak tahu harus berbuat apa, saat dia pulang sepupunya ini banyak diam, niatnya ingin memberi kabar tentang hubungannya dengan tao yang berjalan lancar dia urungkan saat melihat keadaan gadis itu yang sepertinya kurang baik, dia ingin menanyakan pada sehun apa mereka bertengkar, tapi dia urungkan takut takut salah, mereka makan malam dalam diam sebnarnya hanya luhan yang makan kris sudah makan diluar de ngan tao, tapi tak ingin menambah buruk mood luhan jadilah dia makan lagi meskipun dengan sedikit ogah ogahan

" kalau tak enak tak perlu di makan" luhan dengan kalem berbicara tanpa melihat kearah lawan bicaranya

" ani..ani.. aku hanya sudah makan tadi hehe.."

"lalu kenapa kau makan?"

"aajllkk.. ah sudahlah jangan dibahas, kau kenapa?" kris gengsi juga kalau harus jujur dia khawatir pada sepupunya itu,

"kenapa apanya?" luhan sekarang telah selesai makan, pandangannya hanya terarah pada air putih digelas yang digenggamnya

"ada masalah dengan sehunkah?"

"ani.." kris menatap datar luhan yang masih asik melihat lihat air putih seperti orang idiot

"lalu kenapa?" luhan tak menjawab memilih pergi dari hadapan kris, dia butuh sendiri sekarang, tapi sebelum itu kris mencekal tangannya

" kau kenapa sih lu? Jangan bohong ah " nada suara kris melunak, dia bisa simpulkan ada yang tidak beres dengan sepupunya biarpun terlihat cuek tapi kris sangat menyayangi sepupunya ini

" gwanchana..aku hanya lelah" luhan menunduk tanpa menatap kris

"aku akan telephon sehun" kris berjalan kearah telephon

"jangan oppa..ini tak ada hubungannya dengan sehun" luhan segera menahan kris

" kalau begitu cerita" kris kembali duduk

"setelah aku cerita jangan ucapkan apapun pada sehun dan aku boleh langsung pergi tidur, deal.." luhan mengulurkan tangannya pada kris, kris memutar bola mata malas hanya bercerita saja mesti ada perjanjian konyol seperti ini

"..."

" jadi kapan ceritanya nih" kris jengah sedari tadi luhan diam menatap kosong meja

"aku bertemu kai" kris mengerang setelahnya 'si brengsek itu lagi'

" lalu apa yang membuatmu seperti sekarang? Kau masih mencintainya?"

" molla.." kris menghela nafas kasar mendengar jawaban luhan

" bagaimana perasaanmu untuk sehun?"

"aku mencintainya" luhan menjawab mantap pertanyaan kris

" harusnya kalau kau yakin kau tak seperti ini"

" aku hanya.. entahlah kai aku.. mungkin masih tergantung padanya"

"apa kau yakin dia masih mencintaimu?"

".."

"kau yakin dia masih menyayangimu?"

"ya.."

" berdasarkan apa?"

"entahlah.."

"lalu bagaimana sehun, kau sebenarnya menganggapnya apa hah?"

" dia pacarku"

"hanya pacar? Kau bilang kau mencintainya?"

"yak..kenapa kau malah seolah mengintrogasiku"

Kris mengerang untuk keberapa kalinya

" kau tak belajar belajar ya.. "

" membedakan keduanya itu sulit tau"

".."

" aku mau tidur ah.."

"sehun mencintaimu tetap mencintaimu dari dulu tak peduli statusmu bukan miliknya perasaannya tak pernah berubah, dan kai melepasmu merelakanmu tanpa memperjuangkanmu meskipun dia menyayangimu, itu cukup kontras sebagai pembanding dan aku tau kau tak sepenuhnya hidup dengan hanya menggunakan hatimu, kau cukup rasional untuk memilih kebahagianmu, kau punya hak melindungi hatimu"

".."

" aku memang tak pernah serius selama ini, tapi semua hubungan itu memberikanku pelajaran, kalau hati manusia tak mungkin mencintai lebih dari satu, hanya ada satu tempat untuk satu orang, kau bukan mencintai keduanya hanya tak bisa membedakan keduanya luhanah"

" aku janji tak akan memberitahu sehun" lanjutnya lagi, tatapannya mengiba melihat sepupunya seperti ini

" terimakasih"

"selesaikanlah secepatnya"

" gomawo oppa ya... jaljayo" luhan meninggalkan kris menuju kamarnya, merenungkan perasaanya pada kai dan sehun, dia mencintai sehun tapi dia bergantung pada kai, kedua lelaki itu memiliki tempat tersendiri dihati luhan, tapi ceritanya kini memang kai bukanlah orang yang pantas dia pilih, aku hanya akan terus menderita jika terus mengingatnya, berbeda dengan sehun yang selalu melakukan yang terbaik untuknya, dipikirannya mulai terbayng bayang bagaimana sehun memeluknya, mencium,mencumbu, dan memperlakukan hal hal yang membuatnya semakin mencintai namja itu " sehun.."

Sepertinya ikatan batin antara keduanya cukup erat , karena tak lama setelah itu sehun menelepon luhan

" oppa.."

"hei..deer"

" kau sedang apa?"

" berbaring..baru selesai mengerjakan tugas, kau sedang apa disana hm" suara lembut sehun menenangkan luhan

" same with you"

" kau mengantuk?"

" sedikit.. oppa.."

"hm"

" kapan kau berangkat ke rumah sakit itu?"

" besok pagi, wae?"

" apa disana ada sinyal?"

"molla..aku akan usahakan ko lu"

" jangan terlalu lelah, jangan telat makan dan tidur ya.."

" siap deer"

" jangan membuat aku khawatir dan jangan sakit lagi"

Senyum sehun mengembang mendengar semua nasihat luhan untuk dirinya,sederhana tapi membuat hatinya menghangat

" ada lagi?"

" jangan melirik wanita lain" kali ini sehun terbahak membuat luhan memberengut lucu meskipun dia tahu sehun tak akan melihatnya

"kenapa ketawa?"

" lucu.. kau yang cemburu lucu ya hahaha.." sehun masih saja tertawa mengabaikan luhan yang tambah kesal karena tingkahnya

" yak..berhenti tertawa oppa..itu sama sekali tak lucu"

Sehun masih tertawa meskipun tak sekeras tadi, tak ingin rusanya ini ngambek

" ara..ara..aku akan makan dan tidur teratur, aku tak akan sakit, dan tak akan melirik wanita lain"

Luhan tersenyum puas mendengar jawaban sehun

"deal.."

Sehun lagi lagi terkekeh lalu menjawab " itu juga berlaku untukmu chagi.."

" ok.." luhan terkekeh

" tidurlah..kau pasti sangat mengantuk sekarang" sehun berujar lembut, membayakan dirinya ada disamping luhan

"kau juga oppa"

"iya... saranghae lu" luhan tersenyum, kalimat itu terdengar sangat tulus ditelinganya, membuat aliran darahnya berdesir kembali

" nado sarange sehun oppa"

Telephon mereka akhirnya terputus, mereka sama sama langsung tidur setelahnya

Ini sudah hari kelima dari keberangkatan sehun ke daerah pinggiran seoul itu, ternyata daerah itu memang cukup terasing karena sulitnya mendapat sinyal, tak bisa dipungkiri sehun sangat tersiksa karena hal ini, begitupula luhan, dia sangat merindukan sehunnya, biasanya sehun akan menghubunginya di pagi pagi buta, dia bilang dia harus mencari tempat yang tinggi baru bisa menghubungi luhan itupun tidak bisa dilakukan di siang hari karena jaringan akan semakin sulit, dan tak bisa dilakukan dimalam hari karena terlalu bahaya untuknya pergi malam malam didaerah pegunungan, luhan senang dan memaklumi mendengar bagaimana sehun bekerja keras disana terutama bagaimana sehun berusaha keras menghubunginya meskipun suasana yang kurang mendukung, selayaknya sehun dia juga disibukan dengan kuliah, dia akan terbangun karena telephon sehun lalu pulang larut dan tidur, tak ada yang aneh karena memang kuliahnya membuat dia benar benar lelah.

Luhan sempat bersorak senang saat mendengar zitao memiliki kekasih, dia masih tak sadar sampai kris membawa zitao kerumahnya, luhan sempat berang menarik kris meninggalkan tao yang kebingungan dengan kelakuan dua sepupu itu, sebelum luhan sempat meledak kris bilang padanya jika kali ini dia serius, well luhan sangat khawatir zitao adalah sahabatnya, dia tak akan mengumpankan zitao yang polos pada kris si playboy itu, tapi setelah melihat kesungguhan dimata kris membuat dia melunak dan membiarkan zitao berpacaran dengannya, tentu dengan luhan mengancam kris untuk tidak menyakiti zitao, keputusannya terkadang membuatnya menyesal karena selama itu mereka akan berlovey dovey dirumah luhan tanpa menghiraukannya yang sedang dilanda galau karena sehun tak ada disisinya, saat subuh tiba luhan akan curhat tantang kekesalannya ini pada sehun, yang hanya dibalas kekehan oleh namjacingunya itu , penderitaannya menjadi kambing conge dirumahnya sendiri berakhir kemarin sore karena kris harus pulang ke canada, dia bersorak bahagia karena namja tiang itu tak akan menjadikannya pembantu lagi dirumahnya sendiri, setidaknya setiap dia pulang kuliah tak akan melihat rumahnya berantakan dan yang terpenting tak akan melihat zitao dan kris yang bercumbu panas diruang tengah rumahnya, berbeda dengan zitao yang menangis karena tak ingin ditinggal gege kesayangannya, xiumin yang melihatnya hanya bisa menenangkan zitao dibantu kris yang terus memeluknya

Hari ke-enam

Luhan terbangun dari tidurnya karena dering telephon, tak perlu dilihat id si caller dia langsung mengangkatnya dengan wajah tersenyum meskipun kedua matanya masih terpejam

" morning deer" suara serak namun jernih sehun menyapa indra pendengaran luhan, membuatnya membuka matanya tersenyum karena betapa sexynya suara sehun bangun tidur

" morning oppa" luhan langsung terduduk ditempat tidurnya, mengucek sekilas matanya, sehun yang mendengar suara sehun terkekeh,oh..dia sangat merindukan rusa manisnya itu

" kau kuliah hari ini?"

" anio..aku libur, aku mau tidur lagi"

" yak..dasar pemalas cepat bangun dan berolah raga sana "

" aish..malas tempat tidurku sangat posesif hari ini, tuh kan dia menariku lagi" luhan merebahkan dirinya lagi di tempat tidur

"ouh..aku cemburu pada tempat tidur mu itu lu"

"well itu bagus.. tapi sepertinya tempat tidur ini lebih perngertian sekarang"

" yak.." sehun mendengus mendengarnya

" aku bahkan bisa memeluknya seperti sekarang..ouh hangatnya" luhan terkekeh menarik selimut menutupi sebagaian besar tubuhnya menggoda sehun diujung line sana

" kau tak merindukan pelukan namja tampanmu ini lu"

" sejak kapan seorang oh sehun menjadi senarsisi ini eoh? "

"sejak dia menjadi pacarmu" luhan tertawa

" wkwk..itu bukan style mu bodoh" mereka tertawa kembali, terkadang sehun akan terus menggoda luhan, membuat rona kemerahan terus bertengger dipipi luhan, ada beberapa hal chessy yang sehun ucapkan, tapi tetap saja luhan senang mendengarnya, adakalanya memang hal hal chessy seperti tadi menambah rasa dihubungan mereka.

" aku merindukanmu" sehun berujar tiba tiba, luhan tersenyum sangat lebar mendengarnya

" aku juga..aku merindukanmu sangat merindukanmu, kau jadi pulang hari inikan oppa?"

" ya.. aku akan berangkat sore ini, mungkin besok shubuh aku baru sampai" luhan sangat sangat senang mendengarnya, akhirnya hari ini tiba juga

" hati hati dijalan.."

" ya.. sana cepat ke kamar mandi dan olah raga "

" anioo..malas.." luhan memberengut manja di teleponnya, dia benar benar ingin tidur lagi..

" hei.. " sehun sebenarnya ingin tertawa membayangkan bagaimana wajah rusanya itu memberunget manja padanya

" oppa" luhan masih memberengut

"paliwaa dear" meskipun malas akhirnya luhan menurut pada kekasihnya itu

" good girl.. aku tutup telephonnya ya.. hahaha"

" dasar menyebalkan"

" aku juga mencintaimu bye" tut sambungan line telephon itu tertutup, luhan mendengus sambil menyikat giginya didepan wastafel, dia memutuskan untuk menuruti nasihat sehun, pagi ini cuacanya cerah 'jogging tak akan buruk'

Luhan menghubungi tao untuk ikut jogging bersamanya, tapi gadis panda itu hanya menjawab dengan gumaman tak jelas, dia pasti mengangkat telephon saat tidur, xiumin juga bukan pilihan yang baik untuk diajak jogging karena dia pasti akan memilih tidur, jadilah dia sendirian berlari lari kecil di sepanjang sungai han, banyak pelari dan pesepeda yang juga melakukan hal sama seperti dirinya, mungkin karena ini hari libur juga,, nanti siang dia akan menyusup ke apartement sehun menginap disana, membuat tart ulang tahun untuk namja cingunya itu, rencananya dia akan memberi kejutan saat sehun pulang nanti, tersenyum senyum sendiri membayangkan rencananya.

Permata onik itu terus memperhatikan gadis yang sekarang berlari lari kecil , sesekali dia akan meregangkan tangannya, atau menggeleng gelengkan kepalanya mengikuti irama musik yang terpasang dari headset di telingnya, rambutnya yang hitam itu dia kuncir kuda, phoninya menutupi dahi, tampilannya santai dengan baju olah raga berwarna pink muda yang sangat cocok terlihat dibadan rampingnya, dia masih tak menyadari keberadaannya masih asik dengan dunianya sendiri

Dengan keberanian, kai mendekati luhan yang sekarang membelakanginya, tak menyadari tubuh kai sudah ada dibelakang gadis itu, gadis itu menunduk membenarkan tali sneakersnya yang terlepas tak menyadari kai telah beridiri dihadapan gadis itu

Luhan mendongak saat dirasa ada yang berdiri dihadapannya, dia sempat mebulatkan matanya saat tau kai ada dihadapannya menatapnya sambil tersenyum

" kau sedang jogging juga" kai dengan santainya mengulurkan tangannya pada luhan, dia tersenyum karena luhan menerima uluran itu, dia berdiri di hadapan jongin sambil mengibas ngibaskan celananya yang sempat kotor karena setengah berlutut tadi

" ya..kau juga?"

" ne.. mau bareng?" luhan ragu menerima ajakan kai, tapi melihat raut harap wajah kai membuatnya luluh dan memutuskan setuju, mereka sekarang kembali berlari lari kecil, kai menyesuaikan larinya dengan langkah kaki luhan, meskipun begitu mereka memilih diam tak banyak bicara, suasana memang tak banyak berubah sejak mereka bertemu seminggu yang lalu

" kau kembali kekampus kapan?" luhan akhirnya memutuskan memulai pembicaraan

" hari ini, nanti sore..besok shubuh aku sudah harus ada disana" kai menjawabnya dengan tersenyum meskipun mencelos karena luhan tak memanggilnya 'oppa' seperti biasa, luhan sendiri sebenarnya tak sadar jika panggilannya berubah

" oh..hati hati" luhan berujar datar tanpa menoleh meskipun dia tau kai sejak tadi menatapnya

"gomawo " luhan memilih mengabaikan tatapan itu karena dia terlalu takut perasaanya kembali keluar, mereka masih berlari berdampingan, lalu berhenti di kedai bubble tea di taman itu

" mau bubble tea?" kai menawarinya lembut, menatap mata yang selalu membuatnya tak bisa mengalihkan pandangannya pada yang lain

" ne.. ayo beli sama sama" luhan terlampau senang melihat bubble tea, dia haus bukan kepalang sekarang, kai terkekeh karena luhannya tak berubah, dia sangat senang melihat raut ceria luhan

" biar aku yang traktir kau duduklah disana,pasti kau lelah..bubble tea tarokan? kai menunjuk bangku kosong yang langsung berhadapan pada sungai han, luhan tak mau banyak bicara akhirnya hanya mengangguk menunggu kai dan duduk disana.

" ini.." kai menyerahkan segelas bubble tea kesukaan luhan, luhan menerimanya dan tersenyum pada kai

"gomawo" kai tidak menjawab memilih duduk disebelah luhan, dia menatap luhan yang sekarang terlihat rakus meminum minumannya, kai tersenyum melihatnya

Mereka terdiam untuk beberapa saat

" jangan melihatku terus" bubble tea itu kini telah habis setengahnya, luhan masih berusaha setenang mungkin mencoba biasa saja

" jangan biarkan luhan haus"

"ne?"

" ani.. aku hanya ingat kalau jangan membiarkan xi luhan kehausan" kai tersenyum memandangnya mengingat kenangan mereka dulu, luhan mengalihkan pandangannya langsung dari kai membuat kai menatapnya sedih

" yeah..dan jangan membiarkan seorang kim jongin kelaparan" luhan masih tanpa memandang kai berucap sendu, tatapnnya terpusat pada riak air di sungai han

" mianhae" kai berujar lirih padanya

" kau terlalu sering mengucapkannya tak bosan?" kai tersenyum mendengar luhan yang menjawabnya asal dan meminum bubble teanya lagi

" aku takan bosan untuk meminta maaf padamu"

" tapi aku bosan mendengarnya" luhan berujai santai, tak memikirkan perasaan kai yang tertohok mendengarnya

" well,, kata itu tak berfungsi sesuai dengan tempatnya karena kau terlalu sering mengucapkannya" lanjut luhan yang kini telah menghabiskan bubble teanya, kai berusaha tersenyum tapi raut wajahnya jelas semakin sedih mendengarnya

" jadi kau tak memaafkanku?"

" aku tak bilang seperti itu"

Mereka terdiam lagi, sibuk dengan pikiran masing masing

" apa kau membenciku?"

Kai bertanya memastikan sikap luhan padanya

" apa aku terlihat membencimu?"

"bisakah kau hanya jawab dengan ya atau tidak, berhenti menjawabku dengan pertanyaan?"

" itu kebiasaanku,kau seharusnya tahu itu" luhan kini berani memandang kai, tatapannya seolah mengatakan kalau dia merasa tertekan sekarang

" aku menyayangimu" kai berujar tulus menatap langsung mata luhan, gadis itu mengerang mendengar pernyataan kai

" berhenti mengatakan hal yang tak perlu" luhan menatap tajam raut wajah sedih kai, dia harus kuat meskipun tubuhnya berontak seolah ingin memeluk namja didepannya

" lu.."

" sayangmu bahkan terlihat semu" luhan tertawa sinis memandang kai, dia marah

" lu..kau tau kondisi membuatku seperti ini" ucapan kai semakin lirih

" ya..karena itu behentilah mengatakan aku sayang padamu sama seperti kau mengatakan aku ingin makan"

" aku serius dengan ucapanku itu"

" dan aku serius untuk mengatakan berhenti mengucapkannya"

" wae?"

" ani.."

"aku perlu alasan yang tepat"

" aku merasa tertekan mendengarnya... puas?" luhan meninggikan suaranya

" kau masih menyayangikukan aku tau"

"..."

" luhan mengertilah..." kai mengacak rambutnya frustasi

" aku mengerti kim jongin..sangat mengerti betapa meskipun kita yang saling menyayangi tak bisa bersatu, jadi berhentilah menyiksaku dengan ucapan yang semakin membuat aku sulit melepasmu"

" ok..aku takan mengucapkannya lagi, tapi kau harus tahu aku menyayangimu, dan itu takan berubah meskipun kita nanti telah memiliki pasangan lain" luhan tersenyum miris mendengar kai

" lalu apa maumu?" luhan memandang sinis kai

" menjalin hubungan lagi meskipun kita memiliki pasangan seperti dulu.. are you srs kim jong in?" lanjut luhan lagi

" lu..aku..." kai kelu untuk mengatakan ya..

" lihat siapa yang egois sekarang"

" aku minta maaf"

" kau mulai lagi" luhan menggeleng geleng lemah, dia berdiri mencoba beranjak dari situ tapi kai mencekalnya dan langsung memeluknya

" aku mohon jangan pergi dulu, biarkan seperti ini aku merindukanmu rose"

TBC

aku bikin fanfic ini sambil ngedengerin lagu missing you 2ne1 yang liriknya ngena banget sama kondisi kai dan luhan, sama satu lagi how can I nya dbsk itu lagu sedih banget artinya buat author hihihi...