mamoru.

Genre : Romance, and Drama

Pair : (main) NamJin, (side) SoPe

Rate : M

Warning : BrotherComplex, Little Incest

Disclaimer : The characters are not mine. I have not own anything except this story and idea.

(part ten : can't help fallin' in love)

Menurut ramalan cuaca yang Namjoon lihat tadi pagi, akan turun hujan pertama sore ini di awal bulan Maret pertanda musim semi segera datang. Tak terasa baginya yang seakan baru menyentuh salju pertama musim dingin. Sudah empat bulan lebih ia menikah dan tinggal bersama dengan Seokjin dalam satu atap, dan sudah lebih dari dua puluh hari mereka memutuskan berpacaran. Selama perjalanannya menuju rumah yang ia bagi bersama Seokjin, Namjoon berdiskusi dengan dirinya sendiri, mungkin sekarang adalah waktu yang tepat baginya untuk membagi masa lalunya dengan Seokjin. Sebagai tanda bahwa dirinya telah menerima sosok Seokjin dalam hatinya, ia merasa kalau dirinya harus lebih terbuka.

Dalam waktu yang singkat, tiap detik Namjoon menghabiskan waktu bersama pria yang lebih tua dua tahun darinya itu terasa menyenangkan dari sebelumnya sejak mereka memulai komitmen bersama. Namjoon semakin menyukai Seokjin dengan segala kebiasaannya, ia merasakan kalau eksistensi Seokjin bukan 'lah lagi sebagai orang asing baginya, Seokjin jauh lebih dari sekedar orang asing sekarang hingga terkadang membuat Namjoon merasa takut. Ia takut jatuh untuk seorang Kim Seokjin terlalu dalam dan akhirnya tidak bisa lepas sama sekali dari jerat pesonanya yang tak akan ia temukan dari orang lain.

Namjoon sendiri tidak yakin, entah sejak kapan ia begitu tertarik akan sosok seorang Kim Seokjin.

'Halte Hannam Hill'

Pengumuman pada pengeras suara dalam bis kota yang tergolong sepi itu menyadarkan lamunannya, Namjoon tak sadar bila hujan telah turun dan sialnya ia tak membawa payung, ia masih harus berjalan kaki sejauh enam ratus meter untuk sampai di rumahnya. Dengan sedikit tergesa, Namjoon turun dari bis tersebut, ia memutuskan untuk berteduh dulu di halte hingga hujan sedikit mereda dan akhirnya ia bisa berjalan menuju rumah.

"Namjoonie?"

Suara yang begitu familiar memanggil namanya, dan Namjoon sontak menoleh ke arah seseorang yang telah menyebutkan nama depannya dengan panggilan akrab itu. Kedua iris kelabunya melebar saat menemukan sosok Seokjin disana dengan dua buah payung dalam genggamannya. Apa Seokjin sengaja menjemputnya karena tahu kalau ia tak membawa payung?

"Hyung? Apa yang kau lakukan disini?" Namjoon tahu apa yang sebenarnya Seokjin lakukan, ia hanya ingin memastikan, wajahnya menghangat dan debaran jantungnya kembali berdetak tak karuan saat menyadari apa yang telah Seokjin lakukan untuknya. Namun ia menyadari, kalau Seokjin sendirian selama menunggunya karena hanya ada mereka berdua di halte ini, dan hal itu cukup berbahaya karena menurut Namjoon, orang seperti Seokjin bisa dengan mudah menjadi sasaran kejahatan.

"Bahaya menunggu sendirian disini." Ekspresi yang terpatri pada wajah Namjoon yang awalnya sumringah kini berubah menjadi khawatir, ia menggengham tangan pria yang dua tahun lebih tua darinya itu dan merasakan betapa dinginnya jemari Seokjin, hatinya yang semula berbunga sekarang menjadi nelangsa, ia merasa tak enak hati padanya, Seokjin tak seharusnya membawakannya payung dan menunggunya seraya menahan dingin seorang diri disini.

"Sudah berapa lama kau menungguku?" Namjoon dapat merasakan tangan dingin Seokjin yang membalas genggamannya, kemudian ia menangkup kedua tangan Seokjin dengan tangan besarnya dan membawanya ke depan bibirnya untuk meniup udara hangat disekitar jemari Seokjin seraya menggosoknya, berharap agar tangannya yang dingin menjadi lebih hangat.

Seokjin memperhatikan apa yang Namjoon lakukan dan tertawa pelan, ia mengklarifikasi apa yang Namjoon ucapkan, "Aku tidak sendiran, tadi ada seorang Nenek yang menunggu cucunya disini bersamaku, hanya saja cucunya datang lebih dulu beberapa menit darimu dan mereka pergi bersama tak lama sebelum akhirnya kau datang." Sesaat setelah perkataannya, Seokjin seakan menyadari sesuatu dan tangan kirinya segera merogoh sesuatu dari kantungnya, "Beliau memberikanku kue beras ini tadi, kau mau?" Dari telapak tangannya Seokjin memperlihatkan satu bungkus kecil berisi dua buah kue beras pada Namjoon yang tersenyum kembali karena tingkah manisnya.

Namjoon yang tadinya hendak memperingatkannya agar tidak menunggunya lagi menjadi tersentuh, sebaliknya ia berucap, "Terima kasih telah datang untuk menjemputku." Ia membelai pelan rambut hitam Seokjin yang terlihat sudah lebih panjang hingga rambut depannya sudah menutupi bagian mata. Namjoon menyukainya, Seokjin tampak lebih manis dengan tampilannya sekarang. "Mau makan sesuatu yang hangat? Aku yang traktir." Tawarnya dan Seokjin segera mengangguk cepat sebagai tanda bahwa ia setuju dengan ide Namjoon.

"Kurasa ada restoran samgyetang di sekitar sini." Namjoon masih belum mengenal betul kawasan elit tempatnya tinggal saat ini, namun ia merasa pernah melihat restoran yang ia maksud saat mencari jalan pintas menuju rumah barunya, seingatnya restoran itu tidak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang.

"Aku tahu tempat itu, aku pernah ke sana dengan Taehyung." Ucap Seokjin seraya membuka payungnya dan menyerahkan satu payung lagi pada suaminya, yang tanpa ia sadari telah memasang wajah masam kala mendengar nama Taehyung keluar dari bibirnya. Namjoon masih merasa tak mudah untuk 'menerima' Taehyung, karena ia pernah melihat pemuda itu mencium bibir Seokjin tepat di depan matanya, dan Namjoon berusaha untuk menghapus kenangan itu dari ingatannya. Ia baru ingat kalau dirinya belum mengenal Seokjin lebih dalam, Namjoon hendak menanyakan perihal Taehyung, tapi tidak sekarang. Untuk itu, ia hanya diam tanpa kata dan membuka payungnya dengan gerakan sedikit keras hingga tak sengaja merusaknya.

"Oops..."

"Yah! Namjoon-ah, kau merusak payungnya."

Melihat kecerobohan suaminya, Seokjin terus menggumamkan kata-kata kejengkelannya dan percuma bagi Namjoon untuk minta maaf, untuk itu ia hanya tersenyum kecut dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Payung yang hendak dipakai olehnya terbuka dengan arah yang terbalik dan gerigi penyangganya ada yang patah, mustahil untuk mengembalikan benda malang itu ke kondisi semula.

"Satu payung untuk berdua tidak akan muat karena bahuku selebar lautan." Diakhiri dengan helaan nafas pasrah, Seokjin menghentikan omelan kecilnya, ia menyodorkan payung yang telah ia buka sendiri sebelumnya pada Namjoon, "Kau yang bawa." Setelah gagang payung itu berganti tangan, Seokjin berdiri di samping Namjoon untuk meraih lengannya yang bebas dan memeluknya erat hingga mereka saling berhimpitan, "Berdoa saja agar sebagian dari tubuh kita tidak basah." Gumam Seokjin kembali.

"Bukan 'kah ini romantis?" Bisik Namjoon, ia mulai melangkah keluar halte dan gerakannya diikuti Seokjin, yang mempererat pelukannya pada lengan Namjoon. Rintik air hujan yang cukup deras menghujam alat pelindung satu-satunya yang mereka gunakan dan menimbulkan bunyi yang cukup keras diatas kepala.

"Apa maksudmu romantis?" Cukup mengejutkan bagi Seokjin karena bahunya tidak basah, lalu ia menyadari kalau Namjoon mengarahkan payung yang mereka berdua pakai sepenuhnya untuk dirinya, "Hei, bahu kananmu basah." Seokjin mencoba memperingati Namjoon saat melihat air hujan membasahi sebagian dari tubuhnya yang tanpa perlindungan apa 'pun hingga jaket yang ia kenakan basah kuyub.

"Coba kau perhatikan," Namjoon mengabaikan peringatan dari Seokjin, tidak masalah baginya untuk memberikan payung itu padanya karena memang sejak awal, benda yang sedang ia genggam itu adalah hak Seokjin. Namun terlepas dari semua itu, dibalik pengorbanan kecilnya, Namjoon menyadari kalau apa yang ia lakukan sekarang adalah bukti kalau dirinya mulai rela mengorbankan sesuatu untuk Seokjin, dimulai dari tindakan kecil, suatu saat nanti mungkin Namjoon akan rela untuk menyerahkan nyawanya demi seseorang yang telah ia nikahi itu, "kau, aku, hujan, satu payung untuk berdua, aspal basah dan jalan yang temaram, bukan 'kah itu romantis?"

"Iya, iya," Nampaknya Seokjin tak mengerti, atau pura-pura tak mengerti karena ia tak dapat menyembunyikan rona merah pada kedua telinganya. Namjoon telah mempelajari kebiasaannya tersebut, hal itu terjadi, ketika dirinya merasa malu, kertika ia menjadi pusat perhatian, dan ketika Namjoon mengucapkan hal manis padanya atau tentang dirinya, "apa 'pun itu, bahumu masih basah Namjoon-ah." Namjoon menyunggingkan senyumnya, ia akan membuat Seokjin jatuh kali ini.

"Aku harap hujan tidak akan berhenti dan kita tidak pernah sampai," Namjoon menghentikan langkahnya, tepat di bawah cahaya lampu yang menerangi jalanan, "karena jika seperti itu, kita akan terus jalan berdua, dengan kau yang menggenggam tanganku seperti ini, mencari kehangatan dari tubuhku di bawah hujan pertama di musim semi." Tatapan mereka bertemu sesaat setelah Namjoon mengutarakan isi hatinya, tak terbantahkan baginya kalau Seokjin memang telah mengubah hidupnya yang semula monokrom menjadi lebih memiliki warna, ia mengira akan sederhana pada awalnya, tapi jatuh cinta dengan Seokjin adalah pengalaman yang berbeda, belum pernah Namjoon merasakannya, rasa ingin membagi kebahagiaan hingga penderitaannya pada seseorang.

Dengan Seokjin, Namjoon merasa mampu menjadi dirinya sendiri.

"Kim Seokjin, aku mencintaimu."

Suara hujan tak menutupi ucapan tulus yang Namjoon utarakan untuknya, seolah apa yang terjadi disekitarnya berjalan lebih lambat. Saat Namjoon meraih pinggangnya untuk membawanya ke sebuah pelukan hangat sekali 'pun, Seokjin masih berusaha menelaah apa yang sebenarnya terjadi. Debaran di jantungnya seolah menulikannya dari hujaman air pada bumi pertiwi di sekeliling mereka, bisikan lembut Namjoon pada telinganya menyadarkan Seokjin akan sesuatu.

Namjoon telah menyelamatkannya, ia mengangkat Seokjin dari dasar jurang yang gelap untuk kembali melihat cahaya. Waktu yang semula telah terhenti kini kembali berjalan dengan awal yang baru. Satu tetes air bak kristal mengalir dari balik kelopak mata Seokjin kala ia berkedip, tanpa isakan, tanpa suara, ia Seokjin menangis karena ia akhirnya bahagia karena peneritaan yang selama ini membebaninya seolah telah terangkat, kini, ia memiliki harapan.

"Namjoon-ah, aku-" Seokjin membuka suara, tetapi Namjoon menghentikannya dengan satu kecupan kecil di kening seraya tersenyum lembut, dimple yang menjadi pesona Namjoon sejak dulu terlihat bersama dengan cekungan manis di bibirnya hingga Seokjin tak mampu memilih kata yang tepat untuk menyuarakan isi hatinya.

"Aku tahu ini terlalu cepat untukmu," Ucap Namjoon seraya mengusap lembut pipi kanan Seokjin dari jejak air mata, kemudian mengecup kelopak mata kirinya, "aku tahu kita harus lebih saling mengenal lebih dalam lagi," kembali saling menatap, dan tak ada sentuhan dan kecupan lagi dari Namjoon, hanya tatapan dalam yang ia berikan untuk Seokjin, seolah ia juga bicara dari pantulan iris kelabunya, dari pantulan itu ia hanya dapat melihat bayangan dari dirinya seorang, "tapi aku mau mengakhiri proses pendekatan ini dan menjadikanmu milikku sekarang, hanya untukku."

Tak ada yang bicara setelahnya, Namjoon masih pada kesungguhan hatinya, dan Seokjin yang mendadak ragu pada dirinya sendiri. Apa ia pantas mendapatkan cinta Namjoon? Seokjin melihat kedalam bayang masa lalunya, ia merasa bahwa dirinya tak layak untuk mendapatkan cinta yang tulus dari seseorang yang semula telah ia coba untuk manfaatkan demi kepentingan dirinya sendiri. Seokjin juga belum yakin akan perasaannya pada Namjoon, belakangan ini segalanya memang seolah telah berubah, Namjoon menjadi orang penting baginya yang ia butuhkan dan ia juga merasa lengkap bila didekatnya.

"Namjoon, aku tidak yakin apa aku-"

"Aku tahu apa yang kau pikirkan." Senyum lembut Namjoon belum menghilang dari wajah tampannya, ia meraih tangan kiri Seokjin dan membawanya untuk menyentuh bagian dari dada, tepat dimana jantungnya berdetak, "Kau pantas menerima kesempatan kedua, lepaskan apa yang membebanimu, dan jadi 'lah bagian dalam hidupku." Kembali, satu hingga dua tetes air mata mengalir dari balik kelopak mata Seokjin tak berkedip memandang pria yang tengah menyatakan perasaannya, ia merasa begitu dicintai dan perasaan itu membuatnya takut, ia takut jika kedepannya ternyata tak seindah dalam angan-angannya.

"Bukan 'kah kau yang memintanya?" Kini Namjoon memandangnya dengan sendu, dan Seokjin melepaskan satu isakan kecil saat menatapnya, "Kau telah meminta kesempatan itu padaku saat kau bilang kalau kau ingin membuatku jatuh cinta padamu dan sebaliknya di hari itu di apartemen lamaku." Bagaimana mungkin Seokjin bisa melupakan hari itu? Hari saat pertama kalinya ia berusaha untuk jujur pada seseorang tentang apa yang ia rasakan, di hadapan Namjoon, Seokjin tak perlu memasang senyum palsunya dan dapat menangis atau tertawa sesuka hatinya.

Kesempatan kedua itu memang ada, dan Seokjin memilikinya. Ia tak perlu takut untuk merasakan cinta lagi, dan kali ini, tidak ada kesalahan pada cinta yang akan ia bagi, karena hatinya akan ia berikan pada orang yang tepat. Kim Namjoon.

"Aku tak menerima penolakan darimu." Suara Namjoon terdengar lebih berat saat mengucapkannya, Seokjin belum pernah merasa begitu terintimidasi oleh sebuah pernyataan cinta, lagi pula tak terbesit dalam benaknya untuk menolak Namjoon. "Pikirkan 'lah dahulu, lupakan yang lain dan pastikan kalau kau hanya menginginkanku." Entah apa yang terjadi, Namjoon sedang memaksanya, tapi Seokjin menyukainya, ia menyukai tiap kata yang Namjoon gunakan untuk menyudutkannya agar ia tak menolaknya.

Seokjin memutuskan untuk menyimpan jawabannya nanti. Lagi pula, ia tidak bisa bilang 'tidak' 'kan? Ia hanya kembali menggenggam tangan Namjoon, menghapus jejak air mata di pipinya dan menggantinya dengan tersenyum, kemudian memberikan sebuah kecupan kecil di ujung bibir suaminya seraya membisikan kata, "Aku sangat bersyukur telah bertemu denganmu. Aku akan memikirkannya Namjoon-ah." Namjoon membalasnya dengan satu lagi ciuman di pipi kanan Seokjin, dan mereka kembali berjalan untuk makan malam berdua di sebuah restoran sederhana. Masih dalam kehangatan yang Seokjin dan Namjoon bagi lewat senyum dan tawa, mereka menghabiskan waktu berdua hingga hujan reda.

mamoru.

Sudah hampir malam dan Hoseok belum kembali entah dari mana. Sejak Sowon datang, ia lebih sering menghabiskan waktu dengannya, dan Yoongi mulai khawatir karena Hoseok yang selalu memberinya kabar kemana dan dimana dirinnya jika hendak pergi atau pulang terlambat, sudah mulai melupakan kebiasaannya dan tak pernah memberi kabar seperti itu lagi.

Pantas 'kah Yoongi merasa khawatir? Tentu saja, mereka berbagi satu apartemen, dan Yoongi sudah menganggap Hoseok seperti adik kandungnya sendiri. Namun lebih dari itu, kekhawatiran yang Yoongi rasakan berbeda, ada rasa takut yang lain, di lain rasa takutnya jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada sahabatnya itu, Yoongi juga merasa takut bila Hoseok 'mencampakannya'.

Yoongi menggelengkan kepalanya dengan cepat, ia tak seharusnya memikirkan hal seperti itu, ia merasa kalau apa yang sedang ia rasakan sekarang adalah sebuah lelucon. Hoseok hanya menganggapnya teman, dan begitu juga dirinya. Bukan 'lah urusannya jika Hoseok dimana, dengan siapa dan sedang apa malam ini.

"Pabbo..." Entah siapa yang Yoongi maki, ia hanya duduk terdiam di sofa ruang tengah dengan lampu yang telah padam. Dalam keheningan, Yoongi terus memandangi layar smartphone-nya yang hanya menampilkan wallpaper seekor anak anjing peliharaan keluarganya di Daegu yang ia beri nama Min Holly. Mendadak, Yoongi merasakan kerinduan yang amat dalam pada keluarganya, ia ingin sekali pulang ke Daegu, bertemu dengan orang tuanya, memasak bersama kakak laki-lakinya, dan mengajak Holly bermain. Hingga tanpa ia sadari, air mata telah menggenang di pelupuk matanya, dan akhirnya jatuh melewati pipi dan menetes tepat di layar ponselnya.

Yoongi tak biasa menangis, tak mudah baginya meneteskan air matanya karena ia terbiasa menutupi emosinya dengan bersikap seolah-olah ia tak peduli atau malas menanggapinya. Tapi malam ini, Yoongi merasa benar-benar sedih, ia kesepian.

"Oh!?"

Saat seseorang membuka pintu apartemennya dan Hoseok, Yoongi buru-buru menyeka air matanya, ia tak mau siapa 'pun melihatnya dalam keadaan seperti ini, dan benar saja, Hoseok akhirnya pulang dan ia nampak terkejut pada keberadaan Yoongi di ruang tengah dengan pencahayaan yang minim.

"Ya Tuhan, Yoongi hyung. Ku kira kau hantu!" Walau 'pun Yoongi hanya duduk dan memunggunginya di saat ruangan sedang dalam kondisi hampir gelap gulita, tapi Hoseok mengenalinya. Lantas, ia membuka sepatu dan menghidupkan lampu, lalu berjalan ke arah sahabatnya yang mulai berdiri dengan posisi masih memunggunginya, "Apa kau sedang menungguku?" Tanya Hoseok seraya melepas tas dan juga mantel untuk kemudian ia letakan di atas sofa. "Hyung?"

"Tidak, aku hanya tak bisa tidur dan akhirnya duduk termenung disini." Yoongi menjawab seadanya, ia sama sekali tak berbalik untuk melihat Hoseok yang berdiri di belakannya, Yoongi tahu pria yang lebih muda darinya itu menggumamkan sebuah permintaan maaf tapi ia seolah menulikan telinganya, setelah pergulatan batin yang dirinya alami beberapa saat lalu, Yoongi merasa begitu lelah. Ia mengabaikan panggilan dari Hoseok, dan hanya berjalan dengan langkah yang lemas menuju kamarnya, "Aku sangat lelah dan akan tidur kembali." Sebelum Yoongi menutup pintu kamarnya, Hoseok menahannya terlebih dahulu dan ikut masuk ke dalam.

"Hyung, kau marah padaku?" Yoongi segera menggeleng sebagai tanggapan dari pertanyaan Hoseok, ia tak ingin berdebat dengannya, untuk itu ia segera menoleh, mengangkat wajahnya agar mereka bertatapan, dan memasang wajah malasnya seperti biasa. Yoongi tak bohong soal rasa lelahnya, ia hanya berbohong tentang apa yang sebenarnya ia lakukan dan ia rasakan pada Hoseok.

"Keluar 'lah, aku benar-benar le-" Tidak sampai Yoongi menyelesaikan kalimatnya, ia merasakan bahwa tubuh lelahnya dipeluk dengan erat hingga dirinya hampir sesak nafas. Tetapi bukan itu yang tengah ia pikirkan, pelukan Hoseok yang tiba-tiba cukup membuatnya terbelalak karena terkejut dan tak mampu berkata apa-apa selain merasakan betapa eratnya rengkuhan pria itu.

"Kalau memang kau tidak marah, jangan abaikan aku." Hoseok benci diabaikan, bukan berarti ia haus akan perhatian, tapi ia akan merasa lebih baik bila Yoongi mencaci atau memukulnya dari pada mengabaikannya jika ia memang marah atau kecewa padanya. Ia sangat mengenal Yoongi lebih dari siapa 'pun, ia sangat tahu alasan dibalik sikap Yoongi meski 'pun yang bersangkutan tidak mau mengatakan hal yang sebenarnya. Rasa bersalah menyelimuti hatinya, Hoseok adalah orang yang peka, selain membuat Yoongi marah, ia juga membuatnya sedih.

"Kau yang lebih dulu mengabaikanku." Bisik Yoongi, ia tak bergerak dalam pelukan Hoseok, ia tak menerimanya atau menolak rengkuhan itu, ia hanya berdiri diam dalam pelukan eratnya, menyadari betapa sulit posisinya saat ini.

"Aku tak bermaksud mengabaikanmu," Hoseok berbisik lirih, tangan kirinya ia letakan di belakang kepala Yoongi hingga rambutnya yang halus menembus sela-sela jemarinya, sebelah tangannya lagi ia letakan di pinggang Yoongi, membuat pelukannya makin erat seolah Hoseok memang tak berniat untuk melepaskannya. "seharian aku disibukan dengan kegiatan kampus, kau tahu 'kan kalau aku yang menggantikan posisi Namjoon sebagai ketua pelaksana, belum lagi deadline di studio, setelahnya aku membantu Sowon di apartemennya. Aku ingin mengajakmu tapi kau terlihat lelah jadi aku pergi sendiri. Maaf kalau aku tak sempat memberi kabar."

"Aku tak meminta penjelasanmu." Lagi. Yoongi mengucapkan hal yang tak selaras dengan isi hatinya.

"Tapi prilakumu seolah kau memintanya dariku." Kata-kata yang Hoseok lontarkan menjadi bumerang bagi Yoongi, membuatnya hanya terdiam dan tak berkutik. Hoseok mulai tak nyaman dengan diamnya Yoongi, ia membelai surai kecoklatan milik pria yang ada dalam pelukannya, bermaksud membuatnya lebih tenang. "Berhenti 'lah bersikap seolah-olah kita ini orang lain. Maki saja aku jika kau memang menginginkan hal itu."

"Jung Hoseok bodoh..." Senyum Hoseok mengembang tulus, ia merasa lebih baik seperti ini dibandingkan dengan menghadapi diamnya Yoongi dan menerima ucapan dinginnya yang menutupi emosi yang sebenarnya. Hal itu akan sangat menyiksa bagi Yoongi, dan ia tak mau jika orang yang ia sayangi tersiksa karenanya.

"Ne, hyung. Maafkan aku karena sudah melakukan hal bodoh dan membuatmu khawatir." Satu kecupan kecil Hoseok berikan di pipi Yoongi yang terkejut menerima apa yang baru saja Hoseok lakukan padanya, "Min Yoongi..." Saat Hoseok hendak mencium bibirnya, Yoongi menghentikannya dengan menutup bibirnya dengan kedua tangan, wajahnya telah merah sempurna dan ia terlihat begitu panik.

"Ho-Hoseok! Apa yang mau kau lakukan!?" Dengan setengah berteriak Yoongi melepas mulut Hoseok dari kedua tangannya lalu melepas pelukan mereka, jantungnya berdebar tak karuan dan 'topeng' yang sejak tadi ia pakai telah terlepas sempurnya, kantuknya hilang, dan ia mendadak tak mampu mengendalikan deru nafasnya.

"Aku mau menciummu, memangnya kenapa?"

"Kenapa kau mau menciumku? Apa maksudmu!?"

"Apa aku salah mencium pacar sendiri?"

"Hah?! Pacar apa? Siapa?"

"Loh?"

"LOH???"

Malam itu, Hoseok dan Yoongi terus terjaga, dengan lampu yang menyala terang hanya di apartemen mereka, menelaah apa yang sebenarnya terjadi hingga subuh tiba. Keduanya memutuskan untuk tidak masuk kuliah keesokan harinya.

mamoru.

Satu dehaman canggung keluar. Jungkook tak menyangka hari seperti ini akan datang, ia memutuskan untuk bicara setelah sekian lama berdiam diri, berusaha mencari celah untuk mengetahui maksud dibalik semua ini.

"Jadi, kenapa kau membuat err... pertemuan ini?" Dengan sedikit jeda di hampir bagian akhir pada kalimatnya, Jungkook menatap aneh Jimin yang tersenyum ceria seraya mengunyah strawberry shortcake yang tersedia di atas meja, kemudian pandangannya beralih pada Taehyung yang dengan santai menyesap afternoon tea yang telah disediakan khusus tanpa gula untuknya.

"Kurasa ini akan menyenangkan, kau, mantan musuhku dan Jiminnie, teman baruku, duduk bersama dalam jamuan teh sore di kebun belakang rumah keluarga Kim." Taehyung menyahut, yang dibalas tatapan sinis oleh Jungkook. Ia sudah biasa ditatap seperti itu olehnya, jadi Taehyung hanya mengabaikannya dan terus menyesap teh beraroma camomile itu dengan santai.

"Musuh?" Jimin bertanya dengan ujung bibirnya yang penuh dengan krim, Taehyung yang gemas dibuatnya menyeka bagian itu dengan serbet yang ada di atas meja, membuat Jimin merona oleh tindakan manisnya.

"Ya, Jungkook dulu adalah musuhku, ia marah padaku karena aku berusaha merebut Jin hyu-aaww!" Taehyung mengaduh saat merasakan tendangan yang tak bisa dibilang pelan pada tulang keringnya, ia memandang Jungkook dengan tatapan seolah ingin membalas tendangannya dengan apa 'pun itu yang nampu membayar rasa sakitnya. Jungkook juga sama, ia memelototi pria yang masih mengaduh kesakitan itu dan menggumamkan sumpah serapah tanpa menimbulkan suara.

"Merebut Jin hyung?" Jimin tak menyadari 'pertengkaran sengit' antara Jungkook dan Taehyung, ia menghentikan menyuapkan cemilan sorenya ke dalam mulut, dan memilih untuk memfokuskan diri pada kata-kata yang Taehyung sampaikan padanya barusan.

Jungkook tak akan membiarkan informasi yang sensitif itu tersebar begitu saja, karenanya ia mengalihkan pembicaraan mereka, dan bertanya, "Kutanya sekali lagi, apa maksud dari pertemuan ini? Aku bahkan tak mengundang kalian ke rumahku."

Seperempat jam lalu, ia yang sedang mempelajari makalah bisnis yang ayahnya berikan untuknya analisa, mendapat panggilan dari nomor yang tak dikenalinya. Jungkook mengabaikannya. Hingga panggilan ke empat membuat Jungkook akhirnya menanggapi panggilan tersebut, dan ia mendengar Park Jimin mengenalkan dirinya lalu bicara dengan santai seolah mereka teman lama, Jungkook tak mengerti, ia hanya memberi tanggapan seadanya dan betapa terkejutnya dirinya saat Jimin memberitahunya kalau ia dan Taehyung akan segera menuju rumahnya.

Sejujurnya Jungkook tak keberatan akan kedatangan mereka, tapi untuk apa? Apa tujuannya?

"Aku sudah minta izin pada Ahjumma, kalau kita akan mengadakan perjamuan teh sore setiap hari minggu di rumah dari masing-masing kita bertiga, dan hari ini giliran rumahmu." Ucap Jimin, Jungkook bersyukur kalau ia mudah teralihkan perhatiannya, tapi ada sesuatu yang janggal pada ucapan pemuda mungil itu, membuat Jungkook menyilangkan tangannya di depan dada dengan dagu terangkat, seolah meminta penjelasan lebih jauh dari apa yang barusan Jimin ucapkan.

"Kenapa kau memutuskannya sendiri Jimin-ssi? Dan-tunggu dulu, aku bahkan tidak tahu kalau kau akrab dengan ibuku." Sebelah alis Jungkook naik, dahinya berkerut dan reaksinya itu mengundang Taehyung yang tak segan memukul lehernya seraya tertawa saat melakukannya.

"Hei~ sudah 'lah, santai saja, apa salahnya jika Jimin akrab dengan ibumu? Kalian kan bersaudara." Taehyung memang benar, mereka bersaudara berdasarkan hukum. Namun tetap saja, sedikit aneh bagi Jungkook kala mendengar kalau ternyata ibunya akrab dengan Jimin. Sejak kapan mereka berkomunikasi? Ibunya selalu sibuk dengan urusan bisnis di luar Negeri sejak pernikahan Seokjin dan Namjoon. Tetapi Jungkook memutuskan untuk mengesampingkan hal itu, dan bertanya kembal tentang arti dari pertemuan ini.

"Oke, oke. Tapi apa maksud dan tujuan dari pertemuan ini?"

"Tadinya aku mau agar perjamuan ini dihadiri tujuh orang selain kita bertiga. Namjoon hyung, Jin hyung, Yoongi hyung dan Hoseok hyung harusnya ikut tapi mereka sibuk dengan rumah tangga mereka masing-masing." Jimin kembali menyuapkan potongan kue yang sebelumnya tertunda, ia ingat kalau Namjoon selalu mengajarkannya untuk tak menyisakan makanan karena akan sayang sekali jika terbuang.

"Huh? Hoseok hyung dan Yoongi hyung sudah menikah?" Taehyung meletakan cangkir tehnya dengan suara yang sedikit kasar, ia tak menyangka bila dua orang yang kepribadiannya bertolak-belakang itu bisa menjalin kasih.

"Tidak sih, Ah! Maksudku belum~ Hanya saja mereka itu seperti pasangan di sinetron komedi, lagi pula mereka tinggal dalam satu atap." Jimin terkekeh pelan saat mendeskripsikan hubungan antara Hoseok dan Yoongi lewat pandangannya, ia sudah mengenal mereka sangat lama, untuk itu Jimin mengerti betapa 'payahnya' Hoseok mau 'pun Yoongi

pada perasaan tidak diketahui oleh mereka sendiri.

"Aah~ jadi tinggal kita bertiga? Sekumpulan pria lajang." Canda Taehyung.

"Yup!" Jimin menjawab dengan anggukan cepat.

Terbesit dalam benak Taehyung untuk segera melepas masa lajangnya, tapi ia harus berusaha lebih giat untuk membuat orang yang ia sukai 'melihatnya' dan menyadari eksistesinya. Helaan nafas perlahan Taehyung hembuskan, menyukai orang itu ternyata lebih melelahkan dari ekspektasinta.

'Kim Taehyung, kau harus bersabar. Penantianmu akan segera berakhir.' Taehyung berucap dalam hati untuk menguatkan dirinya sendiri.

"Jangan hitung aku." Protes Jungkook seraya membuang muka, ia tak mau jika wajah murungnya dilihat orang lain. Bagaimana 'pun ia masih merasa sulit untuk melepas Seokjin.

"Oh? Jungkook sudah punya pacar?" Jimin memiringkan kepalanya, ia hanya mengetahui sebagian kecil informasi tentang Jungkook karena mereka baru bertemu beberapa kali dan Seokjin juga jarang bercerita mengenai adiknya itu padanya. Mereka bersaudara dan Jimin ingin lebih akrab dan mengenal Jungkook jika diperbolehkan.

"Satu-satunya pacar Jungkook adalah kakaknya." Ledek Taehyung, ia sudah berantisipasi bila Jungkook kembali menendangnya atau balas memukulnya dan benar saja, pria yang lebih muda darinya itu hendak memukul lengannya tapi Taehyung lebih dulu menangkisnya.

"Bisa 'kah kau diam?!"

"Kalau begitu, buat aku diam."

"Hei, hei. Ayolah~ Kita bertemu bukan untuk bertengkar, lebih baik kita buat vlog."

mamoru.

"Hyung, apa kau sudah dengar? Jimin berkumpul dengan Jungkook dan Taehyung sore ini." Namjoon bicara dengan mulut yang masih penuh busa pasta gigi. Ia dan Seokjin sedang menggosok gigi bersama, dan pria yang tepat berada di sebelahnya itu menanggapi ucapannya dengan mengangguk ceria seraya masih menyikat gigi depannya.

"Aku sudah liat vlog-nya tadi. Kiyowo~" Ucap Seokjin setelah ia dan Namjoon membuang busa yang tersisa, lalu menghapusnya dengan basuhan air mengalir. "Aku senang melihat mereka akrab." Dengan hampir bersamaan mereka membasuh wajah untuk memakai facial foam. Seokjin menuangkan cairan beraroma susu itu pada telapak tangannya kemudian menyerahkan botol pembersih wajah itu bergantian pada Namjoon.

"Akrab? Yang kulihat mereka saling memaki saat berdebat tentang chocolate mint." Namjoon berucap sambil menggosokan foam lembut itu pada wajahnya, mengusapnya di bagian hidung dan philtrumnya. Gerakan tangan Seokjin pada wajahnya hampir seirama, untuk sesaat kemudian ia membasuhnya dan Namjoon turut melakukan hal yang sama setelahnya.

"Jungkook memang sangat menyukai chocolate mint, tapi aku sama sekali tak menyukainya." Seokjin menyeka wajahnya yang basah dengan handuk kecil yang telah tersedia, ia juga melakukan hal yang sama pada Namjoon setelah dirinya selesai. Melakukannya membuat dada Seokjin sesak karena debaran yang kian menderu. Sulit ia percaya bahwa pria yang sedang ia usap wajahnya itu telah menyatakan cintanya beberapa jam yang lalu padanya.

"Aku juga tak suka." Namjoon merasa kalau wajahnya sudah cukup kering, untuk itu ia menarik lembut handuk yang Seokjin gunakan untuk menyeka wajahnya dan menaruhnya di dekat washtafel. Kemudian Namjoon membawa kedua tangan Seokjin yang masih ada di dekat wajahnya untuk mengalungkannya di lehernya, ia meraih pinggang Seokjin dan merengkuhnya. "Aku belum menciummu hari ini."

"Harus 'kah kau melakukan itu?" Seokjin dapat merasakan debaran jantungnya kian menjadi-jadi oleh tindakan Namjoon, jarak antara mereka terlalu dekat, hingga dirinya tak mampu mengalingkan pandangannya dari iris kelabu Namjoon yang mebatapnya dalam.

"Bibir itu seolah mengundangku untuk selalu mengecupnya, seolah aku akan nelangsa bila tak menyentuhnya sehari saja." Bisik Namjoon tepat di depan bibirnya, Seokjin tak memiliki pilihan selain memberikan apa yang suaminya inginkan. Satu kecupan lembut saling mereka berikan saat akhirnya bibir Seokjin dan Namjoon bertemu.

Namjoon memanjakannya dengan lumatan dan hisapan kecil pada bibir plump-nya, Seokjin mengikuti iraman ciumannya, hingga mereka merasa cukup. Namjoon melepas ciumannya dan memberikan satu lagi kecupan kecil pada kening Seokjin, ia kembali membawa tubuh yang lebih pendek darinya itu kedalam sebuah pelukan hangat.

"Ah, satu lagi, hyung. Kali ini pastikan kalau matamu terbuka." Namjoon mengubah posisi berdirinya, ia memunggungi cermin dan membiarkan Seokjin bediri berlawanan arah hingga ia dapat melihat pantulan wajahnya dan punggung Namjoon. Kedua mata karamel Seokjin terbuka lebar saat Namjoon tiba-tiba menciumnya, hanya satu kecupan polos dan singkat. "Kau melihatnya?"

"Ciuman tadi untuk apa? Kenapa aku harus melihatnya?" Seokjin tak mengerti, kenapa Namjoon membuatnya melihat pantulan mereka yang sedang berciuman di cermin.

"Karena kau melihat kita berciuman di cermin itu, kuharap apa yang kau lihat tadi akan terbawa ke dalam mimpimu." Seokjin tak habis pikir dengan jalan pikiran Namjoon, ia tak mampu menebak apa yang Namjoon inginkan dan ingin lakukan. Seokjin harap ia memiliki kendali untuk menutupi rona di wajahnya dan kemampuan untuk menahan debaran yang terus menerus berderu tak menentu karena hal itu membuatnya sesak, tentu saja dalam artian menyenangkan.

"Ayo tidur." Namjoon tertawa pelan, ia merangkul Seokjin yang masih menahan malu dan berjalan menuju kamar mereka masing-masing. Untuk saat ini, kamar tidur mereka masih terpisah, Namjoon masih menempati kamar tamu yang terletak di depan kamar utama yang menjadi kamar Seokjin.

"Selamat malam, Jin hyung."

"Selamat malam, Namjoon-ah."

Kedua pintu tertutup bersamaan. Memisahkan Namjoon yang terus tersenyum penuh arti dalam tidurnya dan Seokjin yang masih berusaha untuk menenangkan diri dan segera terlelap.

"Kim Namjoon, kau membuatku gila..

to be continued

note...

Happy Yoongi Day!!

saya sisipkan momen sope di chapter ini untuk merayakan ulang tahun uri Yoongichi uwu~ Let's celebrate Our Inspirational Man's Birthday and shower him with a lot of love [insert purple love emoji here]

Hai~ minggu ini adalah giliran mamoru. update, minggu depan jatahnya Light on Me. Karena kerjaan saya mulai banyak lagi. Mohon maaf saya tidak bisa meng-update dua-duanya :'( saya hanya bisa ketik satu ff, biasanya saya ketik tiap malam sebelum saya tidur atau ada waktu luang, tergantung kapan idenya datang hahaha

saya ga nyangka kalau adegan 'nyuci' di chapter lalu ternyata sukses bikin baper banyak reader-nim xD saya lagi seneng ketik adegan manis dan fluff sih~ semoga reader-nim menyukainya uwu

massive thanks to :

YM01

saya juga senyum2 sendiri baca review kamu~ di tiap ff saya maknae line emang jadi tukang cockblock hahahay

monsterSJ

mereka masih berbunga-bunga sekarang ga tau ntar sore fufufufu

AppleCaramelMacchiato

kenapa sama otaknya Apple-san? Are you okay? uwu

loveiscurl

Punya Namjoon pas Jimin dateng langsung turun :( but, is okay~ bisa kapan-kapan 'kan udah pasangan suami-suami uwu chapter ini masih calm kok, saya masih mau NamJin menikmati kisah kasih mereka sebelum saya bikin mereka *sensor* Syukurlah~ berkembangnya saya dalam menulis itu berkat kalian~ ILY

deebul

wahahaha sejujurnya saya sendiri sering ngebayangin NamJin flirting di tempat tak biasa(?)

rayvin2529

Uri NamJin President enak ya bisa liat NamJin mesra-mesraan setiap hari... saya iri hahaha minggu ini jatah mamoru dulu~ minggu lalu saya ga begitu sibuk tp minggu ini kerjaan saya numpuk hikseu~

AngAng13

huhuhu maaf udah bikin kalian sedih *peluk satu-satu* hmm benar sekali~ perjalanan masih panjang~ pas NamJin lagi sayang-sayangnya, saya akan bikin mereka *sensor* lalu Jungkook akan *sensor* muuuhihihihi *ketawa jahat*

Rett Black

waaahh selamat datang~ saya juga jatuh cinta sama Namjoon, di real life dan ff hahaha saya juga lagi suka ngetik adegan manis sih hehe bagaimana dengan chapter ini? sudah lebih manis dari sebelumnya kah? Drabble NamJin? *miras* Saya akan coba buat kalau begitu~ Terima kasih sarannya, ILY ganbarimasu~

QnQueen

saya usahakan tidak membuat konflik yang terlalu berat tapi saya ga janji kalau konfliknya nanti akan membuat kapal kita 'baik-baik' saja uwu hahaha semoga uri Queen juga menyukai chapter ini~ ILY

und

JIMINNIEEEEEEEE~ dia harus bersuara soalnya kalo kaki kelamaan di rendam di air cucian bisa melepuh wkwkwkwk

Goldenaidakko

Goldenさんは今 どこに住んでいますか?日本ならすぐに会いたいです〜 armyの友人が欲しい (泣)

Guest

Hayati, pelase kuat 'lah~ aku padamu~ uwu

I PURPLE YOU GUYS SO MUCH

sampai jumpa~