Wa: ...
Aupu: ...
Wa: ...
Aupu: ...
Guava: *buka lampu, matiin TV* cepetan tulis ceritanya!
Wa: *gigit sapu tangan habis nonton R****t M*****e sambil nangis*
Aupu: cih... Malah diganggu...
Guava: balas review...
Scarlet 'n Blossoms:
Runi: U-Uni-can!
Wa: lumayan, keep saying!
Guava: sudah kukatakan jangan memberikannya sebutan nama nama aneh.
Wa: Itu bukan nama nama aneh! Anyway, besok wa mau ke kuburan Pohon-sama... *plak*
THANKS FOR REVIEW AND READING!
KuroragiUum:
Chapter8:
Wa: Jika sekolah bukanlah tempat untuk tidur, maka rumah bukan tempat untuk belajar!
Aupu: ngaco...
Chapter9:
Wa: yups, ntah ide apa itu nyangkut di otak wa, kalau latihan EVADE itu bukannya naik kuda ya? Bukan ditabrak kuda?
Aupu: kau yang buat ceritanya...
Wa: ah ya... Hem... Ya, wa juga seorang GAMER...
Aupu: banyak darah hanya membuat Guava cukup tertarik...
Guava: hmhmhm...
Wa: *dengar musik vocaloid di Youtube*
THANKS FOR REVIEW AND READING!
Aiko Ishikawa:
Zhao Yun: greget banget bukan? Hahaha
Wa: kok bangga, mau membahayakan nyawa Runi ya? *tendang Zhao Yun*
Zhao Yun: *sambit Wa pakai Tombak*
Wa: *sambit Zhao Yun pakai TNT, tekan tombol*
Aupu: ada kembang api...
THANKS FOR REVIEW AND READING!
Yukire mengambil busur dan meletakkannya di panahnya, dia mengarah lincah. Aku tetap tidak mengerti dia mau mengajak bertarung, lagipula dia Cuma satu orang. Bao Sanniang mengambil Yo-Yo berduri(?)nya dan melemparnya ke Yukire.
Guan Ping berlari sambil menyeret seret pedang besarnya dan menebas Yukire, Yukire segera mundur beberapa langkah, dan akhirnya pedang Guan Ping hanya menebas tanah. Dia mau Runi, apa yang dia ingginkan?
Aku membuka bukuku, dan membaca mantra disana. Entah buku-ku yang berubah atau memang kekuatan cincin ini... Dari dalam tanah yang tiba tiba bergetar hebat, muncul sebuah ular aneh dengan kalung daun, membuat semua terkejut termasuk aku.
Ular itu melesat ke Yukire mengulinginya, dan mengigitnya... Hebat, aku tidak tahu bisa jadi seperti ini. Ular itu tiba tiba menghilang dan menjatuhkan Yukire.
"Dia sangat lemah..." ucapku.
"Bu, bukan... Aku hanya terlalu capek..." ucap Yukire, dibalik layar, ia jatuh saat Guan Ping memukul pohon, dan ia dikejar monster monster yang dialihkanku.
"Ya, kita bahkan tidak tahu tujuannya" protes Bao Sanniang.
"Kenapa dia mau Runi ya?" tanya Guan Suo dengan nada binggung.
"Kau bisa tanyakan seseorang yang mengetahuinya" sahutku menunjuk Yukire.
"Oh... Aku tidak percaya kalian sangat serius..." ucapnya memegang pundaknya.
"Kamu yang mulai duluan!" ucap Bao Sanniang kesal.
"Tapi, tapi aku tidak mau menyerah!" ucap Yukire ganas.
"Uh..." Runi berjalan kearah Yukire dengan wajah kasar.
"Runi, kau tidak boleh mendekatinya" perintahku tapi dia tidak mau bergerak dari depan Yukire.
"Aku senang jika kau mau menyerhakan diri..." ucap Yukire.
"Ukh..." Runi mengeluarkan tatapan terkejam yang ia bisa.
"Aku tidak akan bisa takut oleh tatapan lucumu itu" ucap Yukire agak tertawa.
"..."
"Hah?"
"Uh..."
"Be, berhenti! Berhenti menatapku seperti itu! Aaaaagh!"
Yukire segera berdiri spontan dan lari dari sini. Wajahnya itu... Membuatku inggin tahu kenapa... Apa dia memang sudah gila ya? Datang dan mengajak kami untuk bertarung, dan akhirnya lari Cuma karena ditatap Runi.
"Runi, sudah kukatakan jangan, kenapa kau membantah?" tanyaku menghampiri Runi.
"Ukh... Uh..." ucap Runi meminta maaf.
"Ya, pada akhirnya kita tidak latihan" sahutku.
"Itu karena kamu terus menganggu..." ucap Guan Suo menghela nafas.
"Kita bisa lakukan ini lain waktu... Yaaawn... Saya mengantuk..." ucap Bao Sanniang menaiki kedua tangannya keatas dan menguap lebar.
"Ya, lebih baik kita kembali" ujar Xing Cai.
Kami segera turun dari gunung dan kembali ke Shu. Aku duduk di rumah dan menghela nafas. Kini aku juga mengantuk...
"Uh...?" sapa Runi.
"Maaf, Runi... Aku benar benar mengantuk... Biarkan aku tidur sebentar..." ucapku, mulai tidur.
"Uh? Ukh... Uh..." Runi mengoyang goyangi tubuhku.
"..."
"Ukh... Cheh..."
"Hosh... Akhirnya sampai juga..." sahut seseorang.
"Uh?"
"Kau pikir aku akan menyerah begitu saja?"
"Uh...?"
"Dengan begini, Kyuun dan aku... Hmhm..."
"Uh..." Runi terdengar sesuatu yang menyebalkan.
"A, apapun itu! Kau harus kubawa"
"Uh!"
"Jangan tatap aku begitu... Uh... Uaaah!"
Orang itu segera kabur lagi. Karena berisik, aku segera bangun dan melihat Runi masih berdiri didepanku.
"Oh, maaf Runi. Baiklah, kau boleh tidur..." ucapku.
"Ukh!"
.
-Nanzhong-
Kyousume dan Yukire kembali berjalan, disaat yang sama, Kyousume membalik badannya dan menatap ke Yukire.
"Bisakah kau berhenti mengikutiku?" tanya Kyousume dengan nada tenang.
"Anak itu... Pasti... Pasti akan kudapatkan... Ukh..." ucap Yukire terbata bata dan melewati Kyousume.
"Hah? Oh, sepertinya aku merasa sangat tenang saat ini... Mungkin aku harus berterima kasih kepada anak itu..."
.
Guan Suo berjalan ketempat pengobatan, disana ia melihat dua orang terbaring diatas kasur. Apa mereka masih hidup? Disana Zhuge iang dan Zhao Yun masih berpikir pikir kenapa ini bisa terjadi. Apa ada serangan dadakan? Apa mungkin ada jebakan.
"Apa mereka berdua baik baik saja Master Zhuge Liang?" tanya Guan Suo.
"Entahlah, sudah diberi pengobatan masih belum sadarkan diri..." ucap Zhuge Liang.
"Saya tidak percaya akan terjadi hal seperti ini..." ucap Zhao Yun melipat tangannya.
"Saya tidak punya pembicaraan disini..." sahut Guan Suo.
"Oh, mungkin sedikit terlambat, tapi saya mau melakukan rapat untuk perang di Jie Ting, jadi apakah Tuan Guan Suo mau memberitahu Saudaramu Guan Xing untuk ikut?" tanya Zhuge Liang.
"Tentu, saya tidak keberatan" ucap Guan Suo.
"Terima kasih, saya permisi... Saya harus menemui Istri saya..." ucap Zhuge Liang keluar ruangan.
"Tunggu! Kapan perang itu dimulai?" tanya Guan Suo.
"Tenang saja, masih lama..."
Zhuge Liang sudah keluar, kini ruangan ini Cuma terisi Zhao Yun dan Guan Suo.
"Kini saya iri" ucap Guan Suo.
"Saya tahu perasaan itu..." ucap Zhao Yun.
"Apapun itu, saya mau ke rumah Bao Sanniang..."
"Saya juga ikut"
"Apa maksudmu?"
"Saya tidak mau disini hanya untuk melihat orang sakit"
"... Baiklah..."
Guan Suo dan Zhao Yun keluar dari tempat pengobatan. Biarkanlah dua orang penjaga gerbang itu beristirahat dengan tenang. Akhir akhir ini semua jadi sangat berisik dari pada biasanya, benar benar akan perang. Padahal masih lama.
Guan Suo dan Zhao Yun telah sampai di rumah Bao Sanniang. Yup, aku juga disana... Disana untuk menghabiskan waktu sebelum Runi bangun.
"Ouh... Sangat tumben jika Tuan Zhao Yun mau datang ketempatku! Teehee~!" ucap Bao Sanniang senang, dia bisa sehat dan berenergi dalam waktu yang sangat tipis.
"Saya bosan, jadi mungkin lebih baik berkumpul dengan kalian" ucap Zhao Yun.
"Ya, sangat membosankan... Apalagi saat mendengarkan bahwa Kak Xing juga akan ikut perang..." ucap Guan Suo.
"Yay! Ada perang! Apa saya boleh ikut!? Untuk membantu Tuanku Suo!?"
"Nah, saya tidak ikut..."
"Akh, sangat membosankan~"
Seketika ditengah pembicaraan, pintu terbuka dan terlihat Guan Ping, membawa seseorang lagi. Orang itu berambut coklat pendek lurus, dan memakai ikat kepala berwarna hijau. Aku merasakan firasat sangat buruk.
"Kak Ping, kenapa membawa..." ucap Guan Suo.
"Dia memaksa..." ucap Guan Ping mengaruk kepala bagian belakangnya.
"Memaksa untuk apa?" tanyaku menghela nafas.
"Dia penasaran... Begitulah..."
"Uh... Akhirnya ramai, tapi menganggumkan!" sorak Bao Sanniang.
"Aku tidak percaya ini..." ucapku.
"A, apapun itu! Ini Guan Xing, saudaraku" ucap Guan Ping menunjuk orang disebelahnya.
"Kuharap ini mimpi..." sahut Guan Suo.
"Itu bagus jika ini mimpi" balas Guan Ping.
"Jadi? Membawa orang ke Shu, itu berbahaya! Siapa tahu dia itu adalah seseorang dari Wei" ucap Guan Xing melipat tangannya.
"Apa aku ini terlihat 'Berbahaya' bagimu? Itu kejam, aku hanya seorang perempuan..." sahutku tenang.
"Xing, karena kamu sudah memaksa, kini Kakak akan memaksamu untuk menjaga rahasia ini" ucap Guan Ping.
"Tentu, Kakak. Selama tidak membahayakan"
"Itu kejam..."
Kini, dengan Guan Suo, Bao Sanniang, Guan Ping, Zhao Yun, dan Xing Cai... Dan... Guan Xing... Jadi total enam orang, it's total chaos.
"Hei Kak Xing, Master Zhuge Liang memberitahuku bahwa Kak Xing harus ke medan perang juga" ucap Guan Suo.
"Eh? Kapan?" tanya Guan Xing.
"Belum tentu waktunya, hanya nanti akan diberitahukan... Dan dimulai dengan ikut rapat"
"Terima kasih untuk informasinya, Suo"
"Sama sama"
"Perang? Disini ada perang?" tanyaku.
"Tentu saja ada, apa kamu tidak tahu?"
Perang? Oh, menginggat masa lalu... Saat aku datang kesini, ada seseorang yang mengatakan, ada kejadian perang tahun lalu...
Ini menyebalkan, aku tidak tahu harus berkata apa kepada Runi.
.
.
.
Wa: Hem... Menurut Readers, wa berencana untuk membuat Pair GuavaxGuan Xing... Apa ada yang setuju?
Aupu: please, Rest in pieces...
Guava: kau tidak bisa menganggap bahwa ia sudah mati...
Wa: ditunggu jawaban, Readers sekalian!
