Kuroko menatap langit malam yang bertaburan bintang, mata merahnya menatap tajam bulan purnama yang bersinar dengan terang.

"Saa, bagaimana kita menyelesaikan semua ini."

Diapun masuk kembali ke kamarnya.

"Ayo kita bermain lagi..."

"King..."

CursE

A Kuroko's Basketball Fanfiction

Kuroko's Basketball © Fujimaki Tadatoshi

Curse © Kuroko Tetsuragi

Rate: T-M (T+)

Genre: Horror, Psycological, Thriller, Tragedy.

Chapter 09: The End of DeatH Game (Final Game)

Warning: Future story (a year after Winter Cup) OOC Yaoi, Shounen-Ai, de el el, anime lain, produk ataupun game yang tercantum disini bukan punya saia!

"Mulai hari ini dia akan menjadi bagian dari kelas ini."

"Yoroshiku onegaishimasu."

Akashi menatap apa yang di depannya ini dengan tatapan tidak percaya, ia benar-benar tidak percaya, melihat apa yang ada di depannya ini.

Kuroko Tetsuya.

"Nah kalau begitu Kuroko-san bisa duduk di meja paling belakang dekat jendela."

Kuroko berjalan menuju bangkunya, namun berbisik sesuatu ketika melewati bangku milik Akashi Seijuuro.

"Ayo kita main lagi, King."

Akashi kaget mendengar kata-kata Kuroko.

King?

"Oh my god, You win King... But, Goodbye..."

Akashi ingat dia...

Dia... Kuroko yang 'lain'

Kuroko yang ada di game itu, ya Akashi ingat percis orang itu... apa mungkin dia 'merasuki' tubuh Kuroko?

Atau itu seperti Bokushi miliknya?

Akashi hanya menatap langit biru lewat jendela kelas.

CuRsE

Akashi terdiam sejenak, ia meminum air yang ia bawa dari rumah sesekali memakan bento yang kini ada di depannya.

"Bagaimana cara menghentikan semua ini."

Akashi menutup matanya pelan.

"Bunuh saja dia—Tetsuya."

"Aku tidak mungkin membunuhnya, Bokushi." Akashi

Tidak ada jawaban lagi dari Bokushi, Akashi menghela nafas panjang. Lalu meminum kembali airnya.

"Apa kau tidak berpikir kalau Tetsuya itu sudah mati?"

BRUSHH!

"Ha?!" Teriak Akashi, semua orang lantas menatap kearahnya dengan tatapan 'dia-kenapa-?'

"Kau jangan keras-keras teriaknya bego! Bikin malu aja!"

"Gomen... abis aku kaget. Apa maksudmu?"

"Begini lo—"

"Ara Akashi-kun konnichiwa."

"Aku jelaskan nanti."

"Oh... hm Kuroko, konnichiwa."

Dia tidak membalas sapaan Akashi, dia kembali duduk di posisinya.

Nejireta shi no torikago sumi.
Kogoeta Tsubomi mo

Akashi dalam perjalanan pulang ke rumah, saat itu sedang hujan lebat. Akashi sih nggak kehujanan orang dia di jemput dengan mobil suver mewah.

Sesekali Akashi melihat kesamping... namun saat untuk kesekian kalinya ia melihat kesamping mata crimsonnya menemukan sosok berambut babyblue yang terdiam diri di tengah hujan.

"Pak bisa berhenti sebentar?"

Mobil lalu berhenti, Akashi turun dari mobil—dia yang memakai payung lantas menuju tempat Kuroko berdiri.

"Kuroko apa yang kau lakukan disini?"

"Aku sudah tidak punya tempat untuk pulang..." Akashi terdiam mendengar kata-kata Kuroko, Akashi kemudian berdiri disamping Kuroko agar dia juga tidak kena hujan (Payung yang Akashi pakai lumayan besar)

"Kalau begitu bagaimana kalau kau tinggal di rumahku untuk sementara waktu?"

"Apa kau yakin? Bukankah itu akan memudahkan ku untuk membunuhmu, king?"

'Dia memanggilku King lagi, aku lebih suka dia memanggilku Akashi-kun seperti dulu. Kuroko, sebenarnya ada apa denganmu?'

Akashi terdiam, ia menutup matanya pelan.

"Memang benar, namun tidak mungkin aku meninggalkanmu disini kehujanan kau tahu." Ia membuka matanya pelan. Menatap sosok babyblue yang ada disampingnya.

"Terserah kau saja, King."

"Aku lebih suka kau memanggilku Akashi-kun..."

"Itu bukan urusanku..."

Mereka berjalan menuju mobil Akashi lalu pulang.

Okizari go away.
Kurameita kioku no kage

Sesampainya Kuroko dan Akashi dirumah mereka langsung masuk dan ke kamarnya Akashi.

"Ni, keringkan dulu badanmu."

"Sankyuu." Kuroko menerima handuk dari Akashi lalu ia kembali terdiam.

"Kuroko kau sebenarnya kenapa? Kau jadi aneh?"

Kuroko tidak menjawab pertanyaan Akashi, mata biru mudanya menampakkan kekosongan yang mendalam.

"Kuroko kenapa kau hanya diam saja?"

Diam...

Kuroko masih tidak menjawab pertanyaan Akashi. Ia masih terdiam tanpa bergerak dari posisinya.

"Aku akan buat coklat hangat untukmu... tunggu sebentar ya?"

Sosok Akashi mulai menghilang meninggalkan Kuroko yang terdiam sendiri di kamar yang luas ini.

"Aku..."

Eh? Kuroko mulai berbicara—ia menatap langit-langit kamar Akashi yang bernuansa merah dan orange

"Aku sebenarnya tidak mau membunuhmu, Akashi-kun..."

Tiba-tiba Saika sudah ada ditangannya, ia menatap ke depan dengan tatapan yang kosong dan hampa.

I need your blood

You really like to writhe

Agaku red line.

Akashi kembali dengan nampan berisi coklat hangat, namun yang dilihatnya adalah Kuroko dengan sebilah pedang yang tergenggam erat ditangannya.

"Kau harus mati Akashi-kun."

Kuroko mengarahkan pedang itu ke Akashi—berniat menusuknya—namun Akashi dapat menghindar. Namun nampan yang Akashi bawa terjatuh, gelas yang berisi coklat hangat itu hancur dan mengotori lantai, namun Akashi tak perduli. Ia harus melindungi dirinya sendiri.

"Kuroko kau kenapa!?"

"Kau harus mati Akashi-kun."

Setidaknya Kuroko berada pada kesadarannya—ia tidak dikendalikan. Namun, kenapa tiba-tiba Kuroko ingin membunuhnya.

"Kuroko, hentikan ini—semua sudah berakhir bukan..."

Ya, semua sudah berakhir.

"Tentu saja semua sudah berakhir..." Kuroko menundukkan wajahnya, ia berjalan mendekati Akashi sementara Akashi mundur ke belakang.

"Seharusnya ini berakhir semenjak kematian Takao-kun..."

Kakiwaketa mihon to
Kojiageta REASON ga
Tada heikou ni narabu

"Ya, seharusnya game ini sudah berakhir semenjak Takao-kun mati, namun... kenyataannya, game ini belum berakhir."

Kuroko semakin mendekat...

"Kalau game ini sudah berakhir..."

Kuroko menghentikan langkahnya—Akashi sudah terpojok, punggungnya menatap tembok.

"Kalau game ini sudah berakhir..."

Kuroko mengambil ancang-ancang untuk menusuk Akashi.

"Seharusnya Aomine-kun tidak mati bukan? Ya bukan?"

Akashi terdiam, ia merasa ada yang hangat keluar dari perutnya, Kuroko sudah menusuknya.

"Nee... kau bohong..."

"Baik dirimu yang sekarang atau dua puluh lima tahun yang lalu, semua pembohong, game ini sudah berakhir ketika Takao bunuh diri, namun kenapa harus ada korban lagi!"

"Dan kenapa harus Aomine-kun?"

Akashi tahu akar dari permasalahan ini.

Game ini sudah berakhir... hanya saja Kuroko menganggapnya masih berlanjut.

Karena Kuroko masih tidak menerima kematian sang ace dari Touou.

"Jawab aku Akashi-kun."

Akashi mendekat ke Kuroko, ia tak perduli jika itu membuat tusukan pedang Saika Kuroko diperutnya semakin dalam, ia tak perduli dengan darah yang keluar dari tubuhnya, atau Bokushi yang panik. Ia hanya mendekat.

"Oi Oreshi apa yang kamu lakukan?! Kamu mau mati muda!? Oi!"

Dipeluknya tubuh sang babyblue, membuat sang babyblue itu tersentak.

"Akashi-kun?"

"Tenanglah Kuroko... kau harus terima semua ini, dia sudah meninggal apapun yang kau lakukan, ia tidak akan bangkit lagi."

.

.

.

"Masih ada aku disini, Kuroko. Jangan anggap kau sendiri di dunia ini. Aku akan selalu ada di sampingmu, bukankan aku sudah janji."

Come and break it down for me!
Remember where i'm from
Kiganai hoshi demo
Negai nasazu

Kuroko terdiam sejenak, ia menatap Akashi yang masih memeluknya.

"Bukankah aku sudah pernah mengatakannya padamu, apapun yang terjadi, aku tidak akan meninggalkanmu."

"Kita kan sohib... gimanapun elo, separah apapun kemampuan elo, gue bakal tetep jadi temen lo! Gue nggak peduli kalo lo nggak bisa main kayak KiseDai yang lainnya."

Air mata tiba-tiba mengalir dari mata sang babyblue, ia menangis sekuat-kuatnya.

"Hiks... hiks... gomenasai Akashi-kun, Gomenasai... aku telah menusukmu."

"Tidak apa-apa.. aku tak akan mati asal kau tidak mencabut pedangnya sekarang."

"Hiks..."

"Menangislah..."

Sementara pemuda bermata merah itu juga mengeluarkan Airmata. Kagerou maju mendekatinya lalu menepuk pundaknya pelan.

"Kau hanya ingin membalaskan kematian kakakmu bukan, Kuroko*."

"Kalau saja Aoi-kun tidak mati karena melindungi Makka, kau tak akan melakukan hal ini bukan?"

Pemuda itu hanya terdiam.

"Aoi-nii..." pemuda bermata merah itu terus terisak. Perlahan matanya kembali menjadi biru.

"Kau sudah membunuh banyak orang."

"Bunuh saja aku..."

"Jika itu ke inginanmu." Kagerou menebaskan pedang ke tubuh pemuda berambut babyblue itu. Tubuh itu menghilang perlahan.

"Arigatou..."

Zange sae kowaita
Yo, Doushiyou
Kanadeta oto nado
Komorebi no aka ga sawagu...

END

Akashi menatap sebuah makam yang ada di depannya.

Makam Keluarga Kuroko.

Ia lalu menaruh sebuket bunga mawar biru di makam tersebut.

"Nee, Kuroko—sudah tiga bulan sejak kau bunuh diri di hari itu."

Akashi menatap batu yang ada di depannya itu.

"Kau benar-benar bodoh Kuroko, aku berjanji tak akan meninggalkanmu..." angin sepoi menggerakkan helaian crimson Akashi.

Ia tidak ingat apapun.

Akashi masih ingat ia ditusuk Kuroko. Ia memeluk Kuroko.

Saat itu pandangannya mulai kabur, keseimbangannya mulai hilang.

Kuroko melepaskan pelukannya ia terjatuh ke lantai.

"Oi! Oreshi! Oreshi! Ore—" Yang ia ingat hanyalah suara Bokushi yang memanggil namanya lalu kesadarannya menghilang.

Ketika Akashi sadar ia sudah berada dirumah sakit—dan ketika ia bertanya dimana Kuroko mereka bilang kalau pemuda berambut babyblue itu tewas akibat bunuh diri.

"Padahal aku berjanji tak akan meninggalkanmu..."

"Namun pada akhirnya kaulah yang meninggalkanku... kau jahat."

Akashi hanya menatap batu yang ada di depannya.

"Aku mencintaimu Kuroko..."

"Selamanya."

'Suatu saat aku pasti akan bertemu lagi dengan mu—dilangit yang luas itu.'

"Ayo kita pulang, Bokushi."

"Ah..."

Kimi ga yume miru nara

Soba ni tatte onaji kanata e

Te wo nobasu yo

Kimi ga shinjita

Shizuka na sora ni

Itsuka boku mo todoku darou

Dokomade mo

Mabushii

Heavenly blue

Yosh! Akhirnya selesai juga ini fanfic! Gila sumveh! Baru nulis ini sehari jadi—udah berapa lama chap ini mendekam di lappie ane.

Oh iya buat yang udah baca en review aku ucapin terimAkashi sebanyak-banyaknya.

Sampai jumpa di ffku berikutnya

Sangkyuuuuu~~~~~~~~~~~~~~

Kuroko Tetsuragi.