Author Note: Update! Updaaaaaaaaaaaaateeeeeeee! (Tak tau harus ngomong apa lagi) read n review guys!
special note: reedit.
The Half Blood
Chapter 9
Sora terus berlari dan berlari sekuat tenaga dengan kecepatan yang sangat tinggi hingga mencapai batas kecepatannya. Selama berlari, air mata Sora terus mengalir dari matanya yang berwarna biru sapphire, dia terus berlari hingga dia meninggalkan batas Twilight Town. Ketika dia mulai merasa lelah, dia memperlambat larinya hingga dia berhenti berlari dan memutuskan untuk berjalan menuju Hollow Bastion.
Jarak Sora saat ini dengan Hollow Bastion masih sekitar beberapa puluh kilometer dan jika Sora memutuskan hanya berjalan kaki hingga dia sampai di sana, maka dia akan memakan waktu hingga satu hari penuh agar dapat sampai di sana…
Sora lalu mengeluarkan sesuatu dari sakunya, yang dia keluarkan adalah sebuah telepon genggam (Hand Phone/HP). HP itu bukanlah miliknya, melain milik Riku. Riku menyelipkan Hpnya ke dalam saku Sora ketika dia pingsan, Riku memasukannya ketika dia sedang memapahnya.
Sora lalu menghidupkan HP yang dimatikan itu. Ketika HP itu hidup, di layar HP itu terdapat foto Sora dan Riku. Foto itu diambil oleh keduanya sekitar setahun lalu, dimana Sora berulang tahun. Sora menyeka air matanya dan mencari nomor telepon Axel, dia langsung menghubunginya setelah menemukannya beberapa detik setelah mencarinya…
~ Di Hollow Bastion ~
Terlihat sebuah bar yang hendak tutup karena sudah larut malam. Seorang lelaki berambut merah panjang terlihat sedang merapikan meja dan kursi yang berserakkan, ada yang terbalik dan ada juga yang berada di atas meja, karena beberapa jam sebelum bar itu hendak tutup, terjadi perkelahian di dalam bar itu. Lelaki yang sedang merapikan meja dan kursi itu adalah Axel, pemilik bar itu…
"Dasar pengunjung bermasalah…" Kata Axel sambil menghela napas ketika sedang merapikan meja dan kursi yang tidak teratur. "…untungnya tidak ada satu pun meja atau kursi yang rusak. Jika ada satu saja yang rusak, kupastikan bahwa yang merusaknya akan memberikanku ganti rugi dua kali lipatnya!" Katanya dengan kesal.
Setelah semuanya dirapikan dan ditata dengan baik oleh Axel, dia berjalan keluar meninggalkan barnya dan mengunci pintu bar itu. Lalu dia berjalan menuju kesebuah apartemen yang tidak jauh dari lokasi bar itu. Begitu dia sampai di apartemen itu, dia segera menuju ke tempat tinggalnya dan masuk kedalam setelah mencari kunci pintunya di sakunya yang penuh dengan uang dan rokok. Dia langsung masuki kedalam kamarnya dan berbaring karena lelah…
"Akhirnya istirahat juga…," Keluh Axel dengan mata yang terasa berat dan dia hendak tertidur.
When you walk away…
'What the…' pikir Axel terkejut mendengar suara Hpnya berbunyi secara mendadak.
…You don't hear me say: Please…
Axel langsung meraih HP yang berada di sakunya dan melihat layar HPnya, di layar HPnya tertulis bahwa Riku memanggilnya. Dengan kesal, Axel lalu mengangatnya…
"ARG! Riku! Tahukah kau bahwa ini sudah tengah malam menjelang dini hari! Aku baru saja hendak tidur dan kau-"Teriak Axel dengan kesal dan sedikit memaki-maki saat menjawab panggilan telepon itu.
"Axel…," potong seseorang yang Axel kenal di balik telepon itu dan Axel tahu bahwa suara itu bukan milik Riku.
"Sora?" kata Axel sedikit terkejut ketika mendengar suaranya. "Mengapa kau meneleponku dini hari begini? Dan mengapa suaramu terdengar seperti sedang... sedih?" tanyanya sedikit cemas.
"Axel…" Kata Sora memanggil namanya sekali lagi dengan nada yang sangat sedih. Axel dapat merasakan kesedihannya meski saat ini dia tidak berada di dekatnya, dia dapat merasakannya hanya melalui suaranya dan dia tahu, bahwa saat ini Sora sangatlah sedih karena suatu hal. "…Bisakah kau menjemputku sekarang? Saat ini aku berada di dekat Twilight Town, kira-kira tiga per empat dari Hollow Bastion. Saat ini aku terlalu lelah untuk berjalan sampai ke Hollow Bastion tanpa sebuah kendaraan…," Katanya dengan nada datar dan itu membuat Axel semakin cemas.
"Kau sendirian? Dimana Riku saat ini?" Tanya Axel dengan cemas.
"Dia… telah meninggal…" Jawab Sora dengan datar, namun suaranya terdengar sangat sedih.
"…" Axel langsung membatu sejenak mendengar jawabannya. "…K…kau… tunggu di sana beberapa menit lagi, Sora! Aku akan segera menjemputmu!" Katanya dengan nada yang sangat panik.
"Ya…" jawab Sora datar, lalu dia mengakhiri panggilannya.
Setelah Sora mengakhiri panggilannya, dengan cepat, Axel berlari keluar dari kamarnya dan dengan cepat, dia langsung keluar dari apartemennya dan meninggalkannya tanpa dikunci. Dia langsung meluncur ke parkiran di dekat apartemennya, dimana dia menyimpan motor kesayangannnya di sana. Dia langsung menyalakan mesin motornya dan memanaskannya beberapa menit karena sudah beberapa hari dia tidak menggunakan motor kesayangannya itu.
Beberapa menit setelah memanaskan motornya, dia langsung meluncur keluar dari parkiran dan dia memacu kendaraannya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Hanya dalam beberapa menit, dia sudah meninggalkan Hollow Bastion dan menuju ke tempat di mana Sora berada.
Axel membutuhkan beberapa menit untuk mencari lokasi dimana Sora berada. Setelah satu jam berlalu dalam pencarian Sora, Axel lalu menemukannya. Dari kejauhan, Axel melihat Sora terus menundukkan wajahnya kebawah. Axel lalu menghentikan motornya beberapa meter dari Sora dan turun. Dia langsung mendekati Sora dengan wajah khawatir.
"Sora!" kata Axel sambil berlari kearahnya. "Kau baik-baik saja? Seluruh bajumu berlumuran darah…," katanya yang langsung memegang kedua bahu Sora.
Sora hanya diam dan terus menunduk…
"Sora?" kata Axel yang mencoba membungkuk untuk menatap wajah Sora -karena Axel lebih tinggi beberapa puluh senti darinya- dan dia terkejut ketika melihat wajahnya. "Kau… menangis…?"
"A… aku…" Sora hendak mengatakan sesuatu.
Sebelum Axel mendengar lanjutannya, dia langsung memeluk Sora dengan erat. Axel membiarkan Sora menangis dalam pelukannya tanpa bertanya apa-apa karena dia tahu apa yang hendak Sora katakan, dia pasti sangatlah sedih karena dia telah kehilangan Riku.
Sora pun menangis histeris di dalam pelukan Axel sambil memegangi bajunya dengan erat. Dia terus menangis dan menangis tanpa berkata apa-apa pada Axel dan Axel hanya terdiam sambil mengelus kepalanya, dia merasa sangat sedih juga.
Setelah Sora sedikit tenang, Axel mengajaknya pulang ke Hollow Bastion dan mengajaknya menginap di apartemennya itu. Sora pun setuju tanpa berkata apa-apa…
"Pegangan yang erat, Sora…," Kata Axel memperingatinya sebelum melajukan motornya.
Sora mengangguk pelan dan memeganginya dengan erat. Motor melaju dengan cepat menuju Hollow Bastion, kedua terus menerus terdiam sepanjang perjalanan yang diisi oleh suara motor yang melaju dengan cepat. Beberapa menit kemudian, mereka berdua sampai di Hollow Bastion. Axel memarkirkan motornya di parkiran yang letaknya sama seperti di tempat sebelumnya.
Sora lalu turun dari motornya Axel dan Axel turun setelah mematikan mesin motornya. Sora terus terdiam sambil mengikuti Axel berjalan menuju apartemennya. Sora terlihat sangat depresi dan dia menjadi diam bagaikan patung. Axel menatapnya dengan cemas, dia tidak tahu apa yang harus dia katakan untuk mengurangi rasa sedih Sora karena dia kurang begitu mengenalnya.
Axel mau pun Sora kurang begitu akrab karena keduanya jarang bertemu. Meski begitu, bagi Axel, Sora merupakan anak yang ceria dan menyenangkan ketika mereka pertama kali bertemu. Begitu pula bagi Sora, Axel adalah orang yang menarik karena dia mengetahui banyak informasi menarik karena Axel selalu bertukar informasi dengan informasi atau pun materi seperti uang.
"Silahkan masuk…," kata Axel mempersilahkan Sora untuk masuk kedalam apartemennya.
Sora masuk dan menuju sofa, dia lalu duduk sambil menundukkan kepalanya…
Axel langsung mengunci pintu apartemennya dan menuju dapur untuk mengambilkan segelas air untuk Sora. Dia lalu kembali keruang tamu dan duduk di sampingnya sambil memberikan air itu.
"Minumlah…," kata Axel sambil memberikannya dan Sora meraih gelas itu. 'Kurasa, lebih baik aku bertanya padanya besok saja…' pikir Axel sambil menatap Sora yang meminum air yang diberikan padanya.
Lalu Axel berjalan menuju kamarnya dan mengambil sepasang pakaian dan handuk baru. Dia kembali ke ruang tamu dan memberikan sepasang pakaian itu pada Sora…
"Gantilah pakaianmu dengan ini, di kamar mandi ada keranjang pakaian kotor, letakanlah pakaian kotormu di sana," Kata Axel sambil memberikan pakaian dan handuk itu.
"Terima kasih, Axel…" kata Sora sambil meraih pakaian dan handuk itu. "…Maaf aku telah mengotori bajumu karena terkena darah di bajuku dan juga maaf telah merepotkanmu, Axel," Katanya meminta maaf sambil menunduk.
Axel lalu menyentuh kepalanya dengan pelan. "Kau tidak merepot sama sekali…."
Sora lalu berjalan menuju kamar mandi dan melepas seluruh pakaiannya yang terasa sangat lengket akibat noda darah yang mengotori pakaiannya. Dia meletakan pakaian kotornya di atas keranjang pakaian kotor itu seperti yang Axel katakan padanya. Dia lalu menggantungkan pakaian dan handuk yang Axel pinjamkan padanya di gantungan baju, lalu menyalakan kran air untuk menghidupkan shower…
Air yang dingin menyentuh kulit Sora yang hangat. Air itu membasahi kepalanya dan dia memejamkan matanya sambil membasahi wajahnya juga. Dia mencoba melihat kemasa depan, dia mencoba mencari Riku di masa depan, tetapi yang dia lihat hanyalah kegelapan dan kekosongan. Tangannya gemetaran melihatnya, tetapi dia terus dan terus mencoba melihatnya lagi dan berharap dapat melihat Riku di masa depan. Tetapi, sebanyak apapun dia mencoba, yang dia lihat selalu kegelapan dan kekosongan. Tanpa terasa, air matanya mengalir dari wajahnya dan menyatu dengan air shower. Dengan perasaan kesal dan marah, dia memukul dinding kamar mandi dengan sekuat tenaga hingga dinding itu retak…
Axel yang menunggu Sora di luar kamar mandi terlihat sangat terkejut mendengar suara keras yang berasal dari dinding retak. "Sora? Apakah kau baik-baik saja?" Tanyanya dengan cemas, tetapi tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi.
'Jangan-jangan dia pingsan?' pikir Axel dengan cemas.
Axel mencoba membuka pintu kamar mandi itu, kamar mandi itu tidak dikunci dan dia segera masuk karena cemas. Dia lalu melihat Sora yang tanpa busana dengan tangan yang berlumuran darah. Dia juga melihat dinding kamar mandinya retak…
"What the...," kata Axel dengan terkejut melihat Sora terluka setelah membuat dinding kamar mandinya retak. "Sora! Mengapa kau melukai tanganmu!" tanyanya cemas.
"Maaf telah membuat dindingmu retak, Axel…"Sora mengatakannya sambil menangis, tetapi Axel tidak menyadarinya karena kepalanya tersiram air shower, sehingga air matanya terhapus oleh air. "…Aku akan memperbaikinya nanti."
Axel lalu mengambil handuk dan menarik Sora dari shower, dia menutupi tubuh Sora dengan handuk itu. Lalu dia membawa Sora keluar dari kamar mandi dan berjalan kearah ruang tamu. Dia menyuruh Sora untuk duduk di sofa dan dia berjalan pergi meninggalkannya untuk mengambil kotak obat. Axel mengeluarkan kain perban untuk membalut luka di tangan Sora. Dia menyadari bahwa telapak tangan Sora terluka juga, bukan hanya punggung tangannya saja. Setelah selesai membalut luka di tangan Sora, dia menyadari bahwa telapak tangan Sora yang satu lagi juga terluka dan dia memegangi tangan itu dan membalutnya…
Telapak tangan Sora terluka karena dia mengepalkan tangannya terlalu kuat ketika dia merasa sangat bersalah dan marah pada dirinya sendiri, dia sangat tidak berguna ketika dia tidak dapat menggunakan penglihatan masa depan dalam kondisi gawat darurat.
"Selesai…," Kata Axel yang selesai membalut tangan Sora dengan perban. "Pakailah baju ini dan setelah itu kau akan tidur di kamarku, bersamaku. Aku akan menyiapkan kasur lipatnya selagi kau mengganti bajumu di kamar mandi," Katanya memberitahukannya.
Sora langsung berjalan menuju kamar mandi mengatakan berkata apa pun setelah Axel memberitahukannya. Axel lalu menghela napas dan menuju kamarnya. Dia mengeluarkan kasur lipat yang tersimpan di lemari dan menggelarnya di lantai. Ketika Axel selesai menggelar kasur lipat itu, terdengar ketukkan pintu dan Axel menyuruhnya masuk. Sora masuk secara perlahan dengan baju yang dia pinjamkan padanya.
"Sora, apakah baju yang kupinjamkan padamu tidak nyaman? Jika tidak nyaman, aku akan mengambilkan baju yang lain…," kata Axel.
Sora menggelengkan kepala dengan pelan, expresi terlihat kosong. Axel memberikan selimut dan bantal padanya.
Sora langsung berbaring di kasur itu. "Axel…" Katanya sambil memeluk bantalnya dengan erat. "…maaf telah merepotkanmu dan maaf juga atas kelakuanku," katanya sambil menyembunyikan kepalanya di balik bantal.
"Tidak apa-apa…," kata Axel tersenyum. "Selamat malam…," katanya sambil mengganti lampu kamar dengan lampu tidur.
Kamar yang terang itu langsung berubah menjadi remang-remang gelap karena pencahayaan yang kurang…
'Aku takut gelap… aku takut sendirian… aku takut…,' pikir Sora dengan tubuh yang gemetaran. 'Riku…Riku…,' pikir Sora sambil memanggilnya dalam hati terus-menerus. 'Mengapa kau pergi meninggalkanku sendiri? Mengapa…,' pikirnya sambil menangis di tengah malam yang sunyi ini.
Axel yang belum sepenuhnya tertidur menyadari bahwa Sora sedang menangis. "Sora, kau baik-baik saja?" tanyanya cemas.
Sora memutuskan untuk diam dan tidak menjawab karena dia tidak ingin merepotkan Axel lebih dari ini.
Axel lalu menghela napas. "Jika ingin menangis, maka menangislah. Jangan di tahan karena itu hanya membuatmu tersiksa," Katanya memberitahukannya.
Maka, Sora menangis setelah mendengar kata-katanya, dia menangis, mencoba melepaskan semua kesedihannya sambil memeluk bantalnya dengan erat. Axel hanya bisa menatapinya dengan hati yang terasa sakit karena dia dapat merasakan kepedihannya. Axel tidak dapat berkata atau melakukan sesuatu untuk menghilangkan kesedihannya, dia hanya membiarkan Sora menangis hingga pagi hari. Ketika matahari terlihat menampakkan dirinya, Sora terlihat sangat lelah dan akhirnya dapat tertidur…
Setelah Sora tertidur, Axel tidak memutuskan untuk tidur juga karena hatinya terasa perih, tetapi air matanya tidak dapat keluar. Terlihat air mata yang mengalir keluar dari mata Sora dan Axel menyekanya…
'Memang sangatlah berat kehilangan orang yang sangat kita sayangi…,' pikir Axel sambil menatapnya.
To Be Continued…
Author Note: Arg! Setress dikejar dead line! Any review from my reviewer?
Note: oh, if someone asking when did Axel changing his cloth before sleep, he were changing it while Sora took a bath. hehehehe :3
