Terimakasih untuk:
Kyute EvilMagnae
AiiuRyeong9
aidagracilla29
raerimchoi
Suryeongwoon
choi Ryeosomnia
anchofishy
Guest
Fiewook
ryeosom41
amandhharu0522
Kira Hanazawa
Kim Sooyeon
Jongwookie
Iyyan
Lyndaariezz
Angela Kim
Anonymouss
Cho sahyo
cloud prince
ryeofha2125
Nana Kim
MissApple693
Anindacocta
lailatul magfiroh 16
y.s
love haehyuk
Devi AF
Kim Jongmi
casanova indah
Lee Chizumi
miss ming
yELFmyeolchi98
Dyathy
LQ
TabiWook
And Annother Guest
Pelurusan, Sungmin dan Zhoumi itu sepupuan, pernah aku sebutin di chapter 7. ZhouHyuk -aneh ni nama- itu kenal karena Sungmin.
..
Cast : Kim Ryeowook, Lee Hyukjae, Kim JongWoon(Yesung), Lee Donghae and other member SJ & DBSK
Pairing : YeWook, HaeHyuk
Genre : Frienship, Romance, Family
Rate : T
Disclaimer : Cast ciptaan Tuhan, milik diri mereka sendiri beserta keluarganya yang berbahagia, tapi Kim Ryeowook boleh lah dibagi untukku juga *ditendang*
Warning: Genderswitch, OOC miss Typo(s), romance sedikit, lambat, bahasa tak sesuai EYD, banyak kekurangan lainnya. Tapi sebelum memberi bash aku ingatkan untuk membaca kalimat bercetak tebal di bawah ini !
Don't Like Don't Read !
.
.
.
-/-
Ckckckck ckckck ckck
Ditengah merdunya suara cicak bersahutan, dimana makin malam bertambah nyaring. Sebuah kepala melongok dari salah satu pintu kamar yang terbuka secelah.
Sip! Sepi!
Ctek. Berbekal senter bolpoin seorang pemuda dengan rambut acak-acakan nekat berkelana menuju dapur. Langkah kakinya mengendap-endap, berusaha tak menimbulkan suara.
Sret!
Jduk!
Brak!
Pantat kenyal kebanggaannya sukses menghantam kerasnya ubin dengan kepala bagian belakang terkantuk kursi.
Kyuhyun meringis! Cobaan orang lapar ternyata berat!
Tangannya yang tadi mengelus pantat beralih mengambil sesuatu yang hampir merenggut batas sabarnya.
Siapa yang makan pisang ini? Kenapa kulitnya tak dimakan sekalian?
'Dasar monyet!' rutuk Kyuhyun meraba-raba lantai, mencari senter bolpoin yang entah meloncat kemana.
"Yeobo! Suara apa ya tadi?"
"Shht, jangan berisik nanti pencurinya kabur."
Kyuhyun berjengit. Mau tak mau ia ngesot kilat ke bawah meja makan, meringkuk disana.
Tap tap
"Yeobo, tak ada siapa-siapa. Kita tidur lagi saja."
"Tapi kau juga dengar suara tadi kan?"
"Pintu depan kan sudah dikunci. Paling cuma tikus."
Bibir Kyuhyun komat-kamit, ia meringis mencengkeram sisi perutnya, rasanya seperti ditusuk-tusuk jarum. Jelas saja, hampir seminggu si evil itu ritual puasa di depan orang istilah kerennya sih mogok makan.
Tap tap tap
Setelah beberapa menit Kyuhyun menarik nafas lega, 2 langkah kaki yang ia hafal sudah pergi menjauh. Hihihi lagi-lagi ia bisa lolos dengan gampang.
Tapi keberuntungan tak sepenuhnya berpihak pada si bungsu keluarga Lee. Kulkas yang diharapkan menjadi penyambung kelangsungan hidupnya kosong. Emm ralat! Masih ada isinya sih, tapi semua bahan mentah. Di rak bawah cuma ada tomat, brokoli dan wortel. Kyuhyun menggeleng, ia tak mau jadi marmut dadakan malam ini.
Di rak tengah ada 2 kripik bergedel, sayang cuma bungkusnya, ia yakin ini pasti kerjaan Eunhyuk. Dan rak paling atas cukup bersisa es batu. Brrrr.
Kyuhyun terduduk lemas di lantai, tega-teganya ia tak disisai secuil makananpun.
"Ehem! Sedang apa?"
Anak itu refleks menaikkan tangan, meminimalisir cahaya silau yang masuk retinanya. Di depan sana senter bolpoin yang ia cari berpindah ke tangan orang lain.
.
"Sudah makan saja!"
Kyuhyun menoleh, menatap orang yang duduk disampingnya.
"Apa ini belum expayet?" Lalu beralih pada roti yang ia genggam.
Orang disamping Kyuhyun memasang tampang berfikir. "Hehe roti itu sudah di tasku 3 bulan sih, tapi rasanya masih enak kok. Percaya padaku."
Yang ditakutkan, apa kau bisa dipercaya?
Dengan enggan, Kyuhyun mengendus roti tangkup pisang coklat bentuk gepeng didepannya. Ayolah Kyu, kau bisa menganggapnya donat bulat isi kacang _makanan kesukaan Kyuhyun-
"Daripada kau tak tidur karena kelaparan?"
Terpaksa, si maknae Lee menurut. Ia berdoa sekilas sebelum menggigit roti. Kyuhyun mengunyahnya dengan mata melotot dan wajah tak rela, hingga benda itu meluncur pelan masuk kerongkongan dan mengganjal lambungnya. Rasa roti itu tak jauh beda dengan penampilannya. Aneh dan lumayan alot. Tapi toh Donghae malah tersenyum bangga, bagaimanapun Kyuhyun menelan tak bersisa roti pemberiannya.
Yah meski dengan cara ajaib, setiap satu gigit yang tertelan, Kyuhyun akan menyelingi dengan minum. Begitu terus sampai habis.
"Sudah kenyang?"
"Lebih dari kenyang!"
"Syukurlah."
Eh? Dari samping Kyuhyun membatin, 'Awas besok perutku sampai sakit. Kau akan habis!'
Ini sudah jam 12 malam lebih tapi 2 namja ini masih betah duduk di depan teras rumah.
"Kenapa hyung ada di rumahku?" tanya Kyuhyun, ia baru sadar mengucapkan hal yang harusnya ia tanyakan dari awal.
"Kau tak tahu? Appamu memintaku menginap. Dari tadi kau dikamar terus sih."
"Lalu kenapa hyung tak tidur?"
"Kau sendiri kenapa mencari makanan semalam ini?"
Kyuhyun memutar bola mata. Seperti niat awal, pada siapapun itu Kyuhyun tak ingin bercerita panjang lebar. Saat Changmin yang heran dengan perubahan sikapnya dan bertanya, 'Kau kenapa?' Kyuhyun hanya menjawab, 'Aku ditolak Ryeowook!' Dan semua selesai, Changmin tak akan bertanya lagi dan Kyuhyun tak akan mengulangi ceritanya secara runtut dan detail. Menurut Changmin, sebuah kegagalan itu tak baik untuk terus diungkit.
"Karena aku lapar, makannya aku cari makanan."
Kini Kyuhyun paham, kenapa tak ada sedikitpun makanan tersisa dikulkas. Bukan! Bukan karena Donghae yang menghabiskan jatahnya melainkan nafsu makan appa Lee yang membesar karena ada Donghae. Beliau sedikit-sedikit tertawa dan sedikit-sedikit akan kelaparan.
"Hoahm, kau tak ngantuk hyung?" tanya Kyuhyun, mulutnya menguap lebar tanpa merasa takut akan ada benda asing masuk. Ia merenggangkan tubuh, merentangkan dua tangan hingga kepala Donghae tanpa sengaja ditempeleng.
"Hehe mian," cengir Kyuhyun. Tenaganya benar-benar tinggal 5 watt.
"Ya sudah pergi tidur sana. Besok masih sekolah kan!"
"Ne."
Kyuhyun mengangguk, ngeloyor masuk ke dalam rumah sendiri. Sedangkan Donghae kini juga mulai tertular uapan Kyuhyun. Tapi dia ingin tetap terjaga, setidaknya sampai seorang gadis yang ia tunggu pulang. Apalagi umma Lee yang juga memintanya langsung menunggu Eunhyuk. Tentu saja seorang ibu khawatir, anaknya pergi tanpa pamit, membawa ponsel pun tidak. Hanya meninggalkan pintu depan yang lupa ditutup.
Jika saja Donghae tahu kemana Eunhyuk dan Zhoumi pergi, ia malas lebih lama duduk seperti kakek kesepian disini. Alangkah lebih baik kalau ia mencari Eunhyuk dan menggeretnya pulang
Gadis itu hari ini beruntung, kebohongan yang dibuat umma Lee berhasil. Yang appa Lee tahu anak keduanya sudah damai bergulung selimut dikamar. Beliau pasti kaget jika melihat gundukan di bawah selimut itu hanya tumpukan bantal-guling
Beruntung lagi Kyuhyun yang terus bersembunyi dikamarnya. Kalau si evil tahu entah appa Lee akan bertindak lain, mungkin polisi sudah berkeliaran disini dan esoknya akan terbit surat kabar bertajuk, 'Monyet yang menghilang!' Kyuhyun kan seperti angin yang mengobarkan sepercik api.
"Mimi terimakasih sudah mau mengantar."
Seperdetik Donghae bangun dari perkiraan gilanya. Meski tak begitu jelas ia melihat 2 orang berdiri di depan gerbang dan ia mendengar suara Eunhyuk.
"Ne, cheonmaneyo. Aku sangat senang malam ini."
"Senang ya?"
Eunhyuk memutar kepala, di depan gerbangnya Donghae bersender angkuh dengan bersedekap dan satu alis terangkat.
"Tak usah urusi dia!" bisik Eunhyuk pelan.
"Kalau begitu aku pulang dulu ya!"
Donghae melengos, ia tak sedikitpun melirik saat wajah Zhoumi mendekati wajah Eunhyuk. Jangan tanya bagaimana perasaannya? Ia baru kembali menoleh begitu mendengar Eunhyuk berbisik, "Hati-hati Mimi!" sambil melambaikan tangan.
Donghae yang sebelumnya ingin melontar sindiran-sindiran pada Zhoumi terpaksa gagal, orang itu sudah berbalik dan menjauh.
Yang ada Eunhyuk mendorong tubuhnya tanpa perasaan, melewatinya begitu saja.
"Tunggu!"
Eunhyuk menatap lesu Donghae yang menghadang jalannya. "Dengar! Aku malas berdebat. Aku ngantuk dan lelah. Aku mau tidur!"
Didorongnya bahu Donghae, tetapi baru selangkah ia kembali dicegat. Donghae mencengkeram kedua bahu Eunhyuk. "Kau yang harusnya mendengarku. Kau fikir aku tak ngantuk? Tak lelah? Apa kau tahu dari tadi aku menunggumu di situ!" Pemuda itu menunjuk teras rumah Eunhyuk. "Dan bukan sebentar. Lihat! Aku jadi bulan-bulanan nyamuk disini," ujar Donghae menunjuk bentol-bentol di tangan dan dipipi -yang sebenarnya jerawat- lalu menggaruknya gemas.
Eunhyuk mengangkat satu sudut bibir, menyingkirkan tangan-tangan Donghae dari pundaknya.
"Haha. Siapa yang peduli. Sudah ah minggir!"
Lagi-lagi Donghae mencekal tangan Eunhyuk. "Apalagi sih Hae?" tanyanya malas.
Sejenak tatapan mata mereka bertemu. Meski hanya sebentar Eunhyuk melihat ada yang berbeda dari pria di depannya.
Donghae menarik paksa tubuh Eunhyuk, menyurukkan kepala gadis itu di dada bidangnya. Demi Eunhyuk tak terlalu menunduk pria itu berjinjit.
"Hae lepas," berontak Eunhyuk.
"Ssstt," bisik Donghae, tangannya menepuk kepala Eunhyuk pelan. "Selamat ya! Selamat!"
Hanya untuk beberapa patah kata pelukan tadi terlepas. Donghae menggaruk kepala cengengesan, entah mimik serius tadi lenyap kemana.
"Semua orang di dalam sudah tidur, jangan berisik. Ayo masuk!"
.
-()()()()()-
.
Brak!
Tap tap tap
"Wookie, kenapa masuk lagi. Tak jadi ke toserba?"
"Umm, tidak jadi umma tiba-tiba kakiku sakit!"
"Ya sudah biar umma nanti yang pergi, istirahatlah."
Ryeowook duduk di sofa masih terengah habis lari-larian dari teras rumah. Ia punya alasan sendiri untuk lari padahal kakinya belum sembuh. Di depan gang sana terparkir mobil hitam berikut anak pemilik Red coffe di dalamnya. Yesung. Kenapa dia bisa disitu?
Ryeowook menggeleng ragu. Ia tak perlu berfikir jauh kenapa Yesung ada disitu. Tak perlu besar kepala.
Tadi malam Ryeowook sudah resmi mengundurkan diri dari Red coffe seijin Leeteuk sang manager. Meski tanpa kata-kata perpisahan formal dengan yang lainnya. Sebenarnya ia masih betah bekerja di sana, tentu saja sebelum Yesung membawa Luna. Ryeowook mengerti tujuan utama ia disana hanya karena Yesung, hanya diwaktu awal ia pernah melihat Yesung dikafe itu. Sekarang tak ada alasannya untuk bertahan lebih lama, kecuali ia rela tersakiti atau mau menyakiti seperti saran Eunhyuk.
Toh semuanya sudah selesai. Mungkin hanya menunggu waktu bagi Ryeowook merelakan. Merelakan sang cinta pertama. Oke! Bicara selalu lebih mudah daripada prakteknya.
Tanpa sadar Ryeowook sudah berjalan membuka pintu dan keluar rumah. Kakinya meloncat-loncat diteras . Detik berikutnya Ryeowook memilih menarik kursi depan dan naik. Dia hanya ingin memastikan apa Yesung masih disitu?
Harapan Ryeowook tak terkabul, yang ia tangkap hanya seliweran mobil di jalan raya.
Belum puas ia memutuskan berlari sampai depan gang, dan sama seperti tadi mobil hitam yang ia cari tak ada. Jangan-jangan kau hanya berhalusinasi.
Jangan berharap? Nyatanya kau menelan kembali kata-katamu.
.
-()()()()()-
.
"Iya! Letakkan saja disitu."
"Tolong jangan sampai menghalangi pintu."
"Yang itu jangan ditumpuk."
"Kami tinggal disini ya tuan?!"
"Ne. Gamsahamnida!"
Pemuda bermata sabit kini tersenyum puas setelah memastikan barang-barang yang baru ia beli tertata rapi hampir memenuhi teras rumah orang.
Tangannya menaikkan dasi hingga lehernya hampir tercekik dan merapikan kemeja, sedikit cara mengurangi rasa gugup ia berkali berdehem. Yesung adalah nama orang yang kini jadi sorotan beberapa mata usil tetangga di luar sana.
Jujur ia merasa ada yang aneh dengan kostumnya. Yah bukankah ia harusnya memakai baju yang lebih santai daripada kemeja kotak-kotak dan dasi yang membuatnya terlihat seperti om-om penawar asuransi. Tapi bagaimana lagi, pakaian formal ini pilihan ummanya. Kata beliau sih Yesung terlihat dewasa dan tampan dengan stelan kemeja dan sepatu hitam mengkilap seperti sang ayah saat masih muda.
Tapi kok aish!
Sudahlah Kim JongWoon jangan bilang kau akan pulang lagi untuk mengganti kostum. Hari makin siang sekarang. Kalau nanti dia tak mengenalmu kau tinggal menunjukkan KTP. Kkkk
Yesung menggembungkan pipi lalu menghembuskan nafas perlahan.
Belum lagi ia memikirkan bagaimana reaksi gadis itu nanti. Senang, marah atau ~ Kim JongWoon kau itu pria kau harus berani apapun resikonya.
Tok tok tok!
Yesung buru-buru membalikkan badan, hingga 1 menit tapi pintu dibelakangnya belum dibuka. Ia berbalik lagi.
Tok tok tok! Mengetuk pintu dan memunggunginya lagi.
Seperti yang ia baca dimajalah Minho yang tertinggal di mobilnya. Artikel dengan titlle, 'Cara berkunjung dan memberi kejutan pada Doi' Yesung benar-benar mempraktekkannya, maklum jika sedikit wah dia cuma ingin memberi kesan pertama yang baik.
Cklek!
Tap!
"Nuguya?"
Pemuda itu baru ingin berbalik mendengar suara pintu terbuka, tapi sapaan orang yang baru datang dari arah depan mengurungkan niatnya.
"Kau siapa? Ini barang-barangmu?" Orang itu menunjuk barang bawaan Yesung heran. Pot bunga, boneka, parcel makanan, buah-buahan dan beberapa kardus yang tak tahu apa isinya. Oke! Mungkinkah keluarganya memenangkan undian atau semacamnya?
"Ng sebentar biar kusingkirkan." Yesung sigap memindahkan kardus yang menghalangi jalan ke arah pintu.
"Kangin oppa!"
Yesung terpaku, masih mengangkat kardus.
Suara Ryeowook? Yang membuka pintu tadi Ryeowook?
"Emm, oppa membeli semua ini?"
Tuh kan apa ia tebak, posisinya tak menguntungkan. Percuma dandanan Yesung serapi ini kalau hanya dianggap pengantar paketan oleh Ryeowook. Aish artikel bodoh!
Yang dipanggil oppa menggeleng mantab. "Bukan kok. Apa kau kenal orang ini Wookie?"
.
-()()()()()-
.
"Tehnya bisa diminum."
"Ne!"
Yesung cuma melihat teh yang ditunjuk Ryeowook dan suasana diantara keduanya kembali seperti kuburan. Ryeowook sebenarnya ingin bertanya ada perlu apa Yesung kesini dan memenuhi rumahnya dengan barang tak jelas yang ia bilang oleh-oleh?
Jangan tanya oleh-oleh apa? Darimana? Karena itu yang juga menjadi tanda tanya diotak Ryeowook.
"Ryeowook aku.. "
"Yesung kau.. "
Keduanya sama-sama terdiam lagi. "Aku apa?" tanya Yesung.
Ryeowook menggeleng. "Tidak jadi! Kau tadi mau bicara apa?" tanyanya balik dan Yesung menggaruk tengkuk. "Bukan apa-apa sih."
Ini ketiga kalinya mereka saling memotong ucapan, memutar balik pertanyaan yang sama dengan ujung, 'Tidak jadi!' Bukan apa-apa!' atau 'Lupakan saja!'
Contoh pertanyaan basa-basi yang ada di artikel, Yesung juga mendadak amnesia, daya ingat otaknya tiba-tiba menyusut. Kacau!
Mungkin mereka belum merasa lelah tapi 2 orang yang mengintip dari dapur sudah cukup jengah.
"Apa dia pacar Ryeowookie?"
"Molla umma, sepertinya bukan."
"Kanginnie, ini sudah jam berapa, waktu isrirahatmu tinggal 15 menit lagi lho!"
"Aigo! Umma kenapa tak bilang. Aku belum makan siang lagi!"
"Ya! Jangan salahkan orang tua!"
Yesung dan Ryeowook sama-sama menoleh kesumber suara gaduh. "Dia kakakmu?" tanya Yesung. Ryeowook mengangguk. "Lucu ya?!"
Ryeowook menoleh heran. Ups! Salah bicara? "Emm maksudku bukan lucu karena mirip badut, hanya.. "
"Haha, bagus juga. Ah itu bisa jadi julukan baru. Badut," ujar Ryeowook menjentikkan jari
"Eh kalian tak akur ya?"
"Habis dia selalu mengejekku cengeng."
"Cengeng?"
Aduh. Ryeowook menutup mulut. Kenapa membeberkan aib sendiri?
Yesung mengerlingkan mata. "Kelihatan sih kau memang orang cengeng."
"Ya! Apa maksudmu!" Gadis di seberang meja mengangkat dagu, pura-pura memajukan bibir. Sejenak pria didepannya malah terpana. Secantik inikah jika ia marah?
"Setahuku wanita cengeng artinya memiliki perasaan lembut dan butuh dilindungi. Harus ada seorang pria yang kuat untuk menopangnya. Kurasa aku.. "
Yesung meraih tangan Ryeowook. Nampaknya Ryeowook setengah bingung melihat tangannya digenggam erat. Debaran dadanya lebih tak teratur dari sebelumnya.
Kim Ryeowook! Bukankah ini seperti yang kau khayalkan? Kejadian ini seperti yang kau harap-harapkan sebelum berangkat ke Red coffe dan pupus melayang begitu kau pulang kerumah. Sedekat ini dengan Kim JongWoon!
Pria tampan itu menelan ludah. Dahinya mulai berkeringat sama dengan genggaman mereka yang agak basah karna terlalu lama. Sampai ia sadar ada Kangin yang berdiri termenung di belakang tempat Ryeowook duduk. Ia berniat lewat berniat lewat tapi takut merusak suasana saja.
Yesung reflek melepas genggamannya. "Ehem, kurasa aku haus. Haha"
"Haha. Dari tadi kan sudah kusuruh minum," jawab Ryeowook sama kikuk nya.
"Haha, iya ya! Minumannya sampai dingin."
Trak!
Hampir saja Yesung memecahkan gelas umma Ryeowook, selama menyesap minuman matanya tak lepas dari Ryeowook dan terus menerus tertawa aneh.
"Kanginnie. Kenapa masih disana? Katanya kau sudah terlambat!" Kangin yang sedari tadi menggaruk kepala memperhatikan gelagat aneh tamu adiknya buru-buru menengok jam tangan lalu memekik, "Mati aku!"
Tap tap
Brak!
Melalui ekor mata Yesung memastikan kakak Ryeowook benar-benar pergi. Berdua dengan Ryeowook saja membuat nyalinya ciut, dan saat ada Kangin ia bingung bagaimana harus bersikap. Padahal sedikit lagi.
Yesung kembali menyesap tehnya. Sampai kapanpun ia tak akan dan tak ingin lupa rasa teh ini. Teh yang ia yakini dibuat dengan penuh cinta oleh Ryeowook. Bolehkan ia berfikir seperti ini? Hehe
"Ryeowook, bagaimana keadaan kakimu?"
"Sudah membaik kok."
"Benarkah? Boleh kulihat!"
"Aniya! Aniya! Terimakasih. Tapi benar-benar tak apa."
Yesung membuang muka, jika tak dicegah tangannya pasti sudah meraba-raba kaki Ryeowook. Ehh? Tapi kan tujuannya bukan untuk meraba-raba. Tapi tak tahu wajah Yesung tiba-tiba merah. "Ah. Mian. Aku cuma khawatir. Semalam aku sampai sulit tidur."
Khawatir? Ah Ryeowook, ya iyalah. Yesung pasti juga sadar insiden kemarin gara-gara dia. Jangan-jangan kedatangan Yesung cuma formalitas permintaan maaf, karena merasa tak enak akhirnya membawa beberapa bingkisan. Tapi kenapa tadi dia bilang itu oleh-oleh? Dan apa maksudnya sulit tidur? Ayolah nona Kim, mana boleh kau berharap yang lebih-lebih, apalagi pada orang yang sudah punya kekasih.
Dreek!
Ryeowook yang bangkit dari duduknya membuat Yesung ikut berdiri.
"Maaf. Tiba-tiba kepalaku pusing. Maaf tak bisa menemani ngobrol lebih lama."
"Kau sakit? Bagaimana kalau kuantar periksa? Atau ke apotik beli obat?"
Ryeowook tetap tak mau membalas tatapan khawatir Yesung. Ia malah berbalik memunggungi. Kau salah. Sakit ini tak ada obatnya, tak akan ada yang menjual obatnya!
"Tak usah. Biasanya dengan tidur, rasa sakit itu akan hilang. Maaf. Tapi lebih baik kau pulang," lirih Ryeowook. Ia harap tak ada perlawanan dari Yesung jadi ia tak perlu susah-susah menahan embun tebal dimatanya.
"Emm. Baiklah. Kalau begitu istirahatlah. Aku pulang ya?"
"Ya."
Bodoh. Ini yang kuinginkan tapi aku merasa tak rela. Aku ingin dia ada disini tapi aku sendiri yang mengusirnya. Aku yang bosan menjadi penipu ulung tapi terus mengulangi hal itu. Bodoh! Benar-benar bodoh!
"Aku pulang ya!"
"Iya."
Ryeowook masih tak menoleh. Perasaannya terlalu labil saat ini. Satu bulir sudah lolos di pipi kanannya.
"Nanti malam kau datang kan?"
"..."
"Hari valentine biasanya Red coffe ramai. Kalau kau tak ada pasti repot juga."
"..."
Pergilah kumohon.
"Kuharap kau tak jadi berhenti. Anggap saja ini permintaanku yang pernah tertunda. Harusnya dulu aku menentang saat kau berhenti jadi manager klub bola dan seenaknya menyuruh orang lain masuk."
Yesung, dia ingat dulu? Ryeowook berusaha tak menyedot ingusnya.
"Dulu kau juga menghilang padahal aku belum sempat minta maaf. Aku selalu memberi kesan buruk, padahal kita sudah saling kenal lama. Kalau aku minta maaf sekarang apakah terlambat?"
"..."
Air yang terkumpul di dagu Ryeowook setetes demi setetes membasahi lantai.
"Mianhamnida. Mianhamnida!"
"..."
"Setelah ini kau masih mau kan kembali ke Red coffe? Aku tak memaksa tapi ijinkan aku datang kemari lagi besok, lusa dan seterusnya. Eottohke?"
Ryeowook menggigit bibir. Tidak! Tidak seharusnya begini!
"Baiklah. Aku pulang dulu! Aku benar-benar pulang!"
Yesung sempat tersenyum pada umma Ryeowook yang berdiri di pembatas ruangan dapur.
.
-()()()()()-
.
"Anak gadismu jam segini baru bangun?"
"Wae, dia juga anakmu tahu!"
Eunhyuk tetap menguap, menepuk-nepuk mulut seperti tarzan memanggil pasukannya. Kakinya berjalan malas menuju meja makan.
Appa Lee menutup koran hariannya, menggulung kesal dan~
Pluk!
Eunhyuk menggerutu sebal, memungut koran yang tadi menghantam kepalanya. Memperhatikan sekeliling berniat melempar balik tapi tak jadi saat matanya bertemu dengan tatapan tajam si appa.
"Cuci muka dulu! Kebiasaan!"
Eunhyuk menurut meski berjalan ke wastafel cuci piring dengan bibir mengerucut.
"Aigo! Cuci muka di kamar mandi, jangan disitu. Kau perempuan jangan jorok!"
"Aduh appa!" Eunhyuk mengerang lagi, kini sang appa menyabet pantatnya langsung dengan koran -senjata andalan-
"Cepat. Ke kamar mandi, jangan lupa gosok gigi. Kalau bisa sih mandi sekalian, ini sudah siang."
"Iya-iya~" Eunhyuk berbalik, melangkah gontai ke kamar mandi. Tau begini ia tidur saja sampai sore, sayang perutnya tak mau sejalan.
Si appa menggeleng sambil memijit pelipis. Apa yang salah dengan air, hingga anak keduanya itu mendumel setiap disuruh mandi?
"Sudahlah yeobo, hari istirahat jangan terlalu banyak pikiran," ujar sang istri yang mwmbereskan beberapa piring kotor di meja makan.
"Aku heran dengan semua anak muda yang tersisa di rumah ini. Anak-anak keras kepala!"
"Sadarlah. Keras kepala mereka menurun darimu."
Appa Lee mendengus.
Tap.. Tap!
Dalam hitungan menit Eunhyuk keluar dari kamarnya dengan baju berbeda. "Kau sudah mandi?"
Eunhyuk mengangguk.
"Mandi bebek eoh? Jangan-jangan kau cuma ganti baju?"
"Appa aku benar-benar sudah mandi. Anak sendiri tak dipercaya!
Masih merengut, Eunhyuk membalikkan satu priring tengkurap di atas meja. Ia makin sebal hanya menemukan satu lauk tersisa.
"Salah siapa bangunnya siang," celetuk appa Lee, beliau sudah dalam mode membaca koran lagi.
Eunhyuk heran, hari ini sang appa lebih-lebih cerewet dan rewel. Oke mungkin kalau jengkel pada Kyuhyun, jangan aku yang jadi pelampiasannya!
"Appa sengaja kan!" tuduhnya tetap mengunyah makanan. Kalau soal makanan jangan harap gadis ini mengalah.
"Tidak sopan Lee Hyukjae! Umma yang lupa kau masih tidur. Makannya semua sisa lauk umma bungkus buat Donghae."
Apa jadi dia dilupakan gara-gara Lee Donghae. "Umma itu jangan terlalu baik padanya, dia jadi semakin kebiasaan dan senang datang kemari kan."
Plak!
"Appa memukulku lagi?!" protes Eunhyuk mengelus lengan. Berlebihan karena memang tak sakit tapi dongkolnya itu loh.
"Harusnya kau senang. Dia tak akan datang ke sini lagi."
Ucapan appa Lee mendadak mengusir niat Eunhyuk melahap sendok nasi terakhir. Tak datang lagi?
"Maksud appa?"
"Kau tak tahu? Semalam saja dia menjemput appa untuk berpamitan."
Eunhyuk masih sulit mencerna, semalam ia bertemu Donghae bahkan sempat otot-ototan sebentar. Pemuda itu juga tak bilang sesuatu yang ganjal.
"Ke Amerika." sambung ummanya. Eunhyuk berganti menatap si umma. "Umma juga tak tahu kapan ia berangkat. Yang jelas tadi pagi Hae tergesa-gesa pergi. Makanya umma bungkuskan makanan."
Amerika? Donghae akan menyusul kakakknya?
'Selamat ya! Selamat!' Ingatan akan kejadian semalam berputar di otak Eunhyuk. Jangan-jangan benar, pelukan semalam adalah pelukan perpisahan.
"Kalau kau masih lapar umma buatkan ramen."
Eunhyuk tak menjawab tawaran ummanya. Baru kali ini ia rasa memikirkan Donghae lebih penting dari memikirkan makanan. Kenapa? Kenapa pergi diam-diam?
"Donghae juga menitipkan ini. Ia berpesan kau harus menjaganya baik-baik," ujar umma Lee, mengulurkan sebuah kunci berbandul hijau. Kunci Green Fanel.
"Iya!"
.
-()()()()()-
.
"Lee Donghae apa yang kau lakukan. Cepat kemari, sebentar lagi take off."
"Maaf hyung, aku tidak bisa."
"Wae? Kau sudah membatalkan kuliahmu disini. Kau bilang ingin lebih maju."
Orang di seberang sana tak mengubah nada marah ucapannya.
"Aku ingin tetap di Seoul."
Donghae berjalan pelan, menjauhi bandara tempat sang kakak menunggu gusar.
"Beri aku alasan yang pas? Jangan sampai nanti kau berubah pikiran dan ingin ke Amerika. Aku tak mau datang lagi menjemputmu!"
Senyum terkulum di bibir Donghae. "Aku tak bisa. Kalau aku pergi siapa yang akan melindunginya?"
.
-()()()()()-
.
Eunhyuk duduk lengkap dengan wajah pucatnya di belakang etalase. Menunggu pembeli sendiri, dan hari-hari kedepan mungkin ia tetap sendiri. Tapi ia masih berharap Lee Donghae datang. Pasti akan datang.
"Chagiya maaf menunggu lama ini minuman untukmu."
Satu teh botol terulur, Eunhyuk mengambilnya dan berucap, 'Terimakasih' lirih. Harusnya kau merasa lega Lee Hyukjae, sekarang dan seterusnya kau bisa berdua dengan namjachingu barumu tanpa gangguan. Atau kau bisa mematenkan Green Fanel ini sebagai tempat kencan tetap kalian.
"Chagi, sudah jam 5 kita pulang sekarang ne?"
Eunhyuk menggeleng.
Zhoumi mengulum senyum menarik tangan Eunhyuk hingga gadis itu berdiri. "Aku mau mengajakmu ke tempat istimewa, ini kan hari kasih sayang. Kau mau kan?"
Eunhyuk mendongak menatap Zhoumi lalu mengangguk. Begitu mudah niatnya goyah.
.
-()()()()()-
.
Ryeowook mengayuh pedal kuat-kuat, tanpa ragu ia menambah kecepatan laju sepedanya. Kakinya sedikit mengapit, menahan rok selututnya tak berkibar melawan arus angin malam. Di keranjang depan kotak warna pink berhias pita kecil biru masih tergeletak manis tapi tak mampu menyaingi manis wajah Ryeowook yang memerah entah karena sorotan lampu jalan atau hal lain.
Kalian bertanya Ryeowook mau kemana? Tentu saja ke Red coffe. Tapi bukan untuk bekerja melainkan ada kepentingan lain saja.
Sejak tadi sore, tepatnya setelah puas menangis lalu membuka satu persatu oleh-oleh Yesung, Ryeowook merubah pendiriannya. Pada bingkisan-bingkisan itu, Ryeowook selalu menemukan lembaran note dan di dalamnya tersurat kata-kata sama. 'I Love You!'
Meski polos tapi gadis itu tak perlu ke luar negeri dulu kan untuk tahu makna 3 kata tersebut.
Ryeowook sedikit menyesal kenapa baru sadar. Perasaannya bukan sebuah harapan lagi. Cintanya bukan cinta yang bertepuk sebelah tangan lagi.
Sejak SMP harusnya ia juga sadar, tatapannya, perhatiaannya, kebaikkannya hingga bertahun tahun lewat, bertemu lagi dan tak ada yang jauh berubah. Yesung! Dengan dalam berusaha mengungkapkan perasaannya. Lebih dari sekedar kata-kata dan sebuah janji.
Harusnya ia mendengar saran Eunhyuk. Sebuah cinta butuh pengorbanan. Kali ini biar Ryeowook mencoba memulainya.
Kring! Kring!
"Malam paman!" Penjual kacang rebus pinggir jalan membalas sapaan Ryeowook dengan senyum.
Kurang menyeberang, kafe besar dengan papan reklame warna merah di depan mata.
Selesai memarkir dan menggembok sepeda kesayangan. Ryeowook mengambil kotak di keranjang depan, menggenggamnya erat. Keputusan ini tidak salah kan? Aku tak mau menyerah, aku bosan menghindar dan terus diam ditempat yang sama.
Jemari Ryeowook mengelus lembut kotak yang sebenarnya berisi makanan. Awalnya ia berniat membuat coklat tapi waktunya tak keburu. Alhasil Ryeowook hanya membungkus chocochips kreasi 2 hari lalu.
.
Yesung mengangkat kepala, menatap protes pada Jonghyun yang sudah mengoyak bahunya. Padahal baru saja mimpinya datang. Sejauh jam sore Red coffe, namja itu hanya duduk di sebelah kursi kasir yang ditempati Jonghyun. Dibilang kerja tidak juga, kegiatannya hanya menyangga kepala selama 2 jam ini.
"Itu!" Jonghyun mengangkat dagu tinggi, mencoba memberi isyarat Yesung harus melihat sesuatu di pintu masuk sana.
Mau-tak mau Yesung ikut memutar kepala. Matanya yang tadi baru terbentuk segaris sukses membulat. Orang yang ditunggunya datang.
Di depan sana, di tempat yang dimaksud Jonghyun berdiri seorang wanita cantik bersurai coklat sebahu. Dan wanita itu melambai kearahnya.
Yesung mengusap wajah gusar membenahi rambut dengan jari. Harusnya ia siap-siap sisir di kantong. Pria itu juga sempat memastikan daerah sekitar mulutnya tetap terjaga kering sebelum menoleh ingin memberi lambaian balasan yang mungkin terlambat.
Ryeowook tersipu, ia malu untuk berjalan mendekat. Sampai sekelebat orang dari luar lewat, berhenti di depan tempatnya berdiri, melambaikan tangan semangat sembari memekik, "Sungie oppa!"
Luna?
Kau keduluan Kim Ryeowook!
Yesung terhenyak melihat kemunculan sang yeojachingu yang hampir seminggu ini tak ia temui. Luna berlari kecil dan langsung memeluknya. "Bogoshippo oppa! Mian aku jarang berkunjung kesini, harus fokus dengan tugas praktikum. Tapi hari ini aku menyempatkan datang, soalnya kan ini hari istimewa."
Dari balik pelukan Luna mata Yesung tiba-tiba kehilangan sosok gadis bersurai coklat tadi. Tak lama ia mendesah lega sosok itu ternyata duduk manis di meja nomor 1, meja yang cukup dekat.
"Bogoshippo oppa! Aku tak bisa berhenti memikirkanmu sekalipun saat belajar."
Yesung diam, ia tak tega untuk melepas pelukan rindu ini.
"Jangan begitu, kau harus banyak belajar kan sudah kelas 3," ujar Yesung menepuk kepala Luna, menyadarkan juga kalau pelukan mereka terlalu lama.
"Ihh oppa kenapa tak romantis. Apa oppa tak rindu padaku?"
Tak ada jawaban, Yesung memilih menengok tempat duduk Ryeowook. Gadis mungil itu sibuk dengan minuman dan cemilannya.
Luna mengikuti arah pandang Yesung dan menghela nafas. Dialihkannya wajah Yesung hingga mata mereka bertemu, hingga di pupil hitam Yesung hanya ada bayangannya. "Oppa tahu tidak. Aku punya hadiah istimewa. Taraa! Coklat buatanku!"
Mencoba tak peduli Ryeowook mengambil 2 potong chocochips, menyumpalkan pada mulutnya yang masih sibuk mengunyah, hingga isi kotak bawaan yang harusnya ia berikan pada Yesung hampir ludes. Kesal, dia merasa sangat kesal!
"Kenapa hanya dilihat, oppa tidak suka ya?"
"Emm.. Bukan begitu."
"Ah aku tahu oppa pasti minta disuapi. Kalau begitu sini kusuapi. Aaa..."
"Tapi aku.."
Jangan melihatnya Ryeowookie, jangan dilihat.
Brak!
"Oppa? Kenapa membuang coklatku? Kalau oppa tak suka harusnya bilang saja, semalam aku susah membuatnya!"
"Mianhe Luna," sesal Yesung. Ia tak sengaja membuat coklat besar milik Luna terlempar ke lantai dan tak mungkin dimakan lagi. Ia hanya terlalu kaget sekilas melihat Ryeowook mengusap pipinya.
Red coffe yang hari ini begitu ramai pengunjung meredamkan suara teriakan Luna. Orang-orang yang datang berpasangan masih sibuk dengan dunia mereka sendiri.
"Aku paham oppa!" Luna menunduk kecewa, masih mengamati coklat malangnya.
"Aku tak mau memaksa oppa. Aku tahu oppa tak pernah menyukaiku. Aku tahu.. " Luna menjeda kalimatnya. Ia berjalan kearah kanan tempat Ryeowook yang menunduk memainkan sedotan gelasnya. "Aku tahu siapa orang yang oppa sukai."
Sebuah rahasia tak mungkin selamanya menjadi rahasia.
Ryeowook kaget saat lengannya ditarik. Luna yang melakukannya. "Beri aku jawaban, apa kau juga menyukai Yesung oppa?" Di depan Ryeowook, Luna menangis.
"Iya, aku sangat mencintainya."
Genggaman Luna mengendur, ia mengulas senyum. "Seperti yang kuduga!" Luna melirik Yesung lagi. "Jangan khawatir. Aku tak meminta oppa memilih. Maaf!"
Set
Luna benar-benar pergi dan Ryeowook benar-benar menangis melihat Yesung menyusul kepergian Luna.
.
-()()()()()-
.
"Haha, geli Mimi. Cukup hentikan. Hahaha."
"Minta ampun dulu."
"Iya ampun, ampun!"
Eunhyuk meringis mencengkeram perutnya yang kram, terlalu banyak tertawa.
Sampai di petigaan sebelum berbelok menuju rumah Eunhyuk, sang namjachingu memaksa berhenti.
Zhoumi menarik 2 tangan Eunhyuk dan mencium punggung tangannya cukup lama. "Maaf ya chagi, aku tak bisa mengantar sampai dalam. Aku belum siap bertemu appamu."
Senyum Eunhyuk pudar. Biasanya Eunhyuk memang akan berpisah dengan Zhoumi di tempat ini, lalu memaksa Donghae untuk datang membantunya masuk ke rumah.
Donghae? Tapi dia~ Hanya disaat-saat genting Eunhyuk baru mengingatnya.
"Ya sudah ya chagi! Aku pulang dulu."
Zhoumi meninggalkan Eunhyuk tanpa menoleh lagi. Meninggalkan begitu saja gadis yang mungkin akan tidur di luar rumah malam ini. Aduh Donghae. Andai saha kau tak pergi.
Dulu Donghae hanya akan jadi harapan Eunhyuk saat gadis itu merasa butuh saja.
Lee Hyukjae membuka pintu pagar rumah pelan. Mungkin ia kemarin masih beruntung bertemu Donghae di depan rumah -ia tak tahu namja itu menunggunya- tapi sekarang dan seterusnya tak ada keberuntungan yang disengaja seperti itu.
Eunhyuk meringkuk dingin disudut teras rumah. Saat matanya mencoba terpejam saat itu pula gambaran tentang Donghae berkelebat. Sehebat apapun usahanya menggantikan sosok Donghae dengan sosok Zhoumi hari ini. Sepandai apapun tekadnya menginginkan Zhoumi nenjadi seperti Donghae. Mereka tak sama, bahkan mereka sangat berbeda.
Eunhyuk juga tak tahu tiba-tiba matanya panas dan perih, tanpa perintah bibirnya bergetar. Ia terisak.
"Ikan bodoh! Ikan jelek! Kenapa pergi sendiri? Kenapa tak mengajakku? Bodoh, pergi saja dan tak usah kembali, awas kalau datang kesini lagi. Bodoh," umpat Eunhyuk, umpatan yang ia tahan dari pagi. Ia masih meringkuk, menyembunyikan kepala diantara lutut.
"Donghae? Hiks Hae? Maafkan aku. Hae.. "
Eunhyuk terus meracau, menggesekkan kaki pada lantai tak tenang.
"Shht, aku disini sayang."
Yang terakhir Eunhyuk rasakan adalah dekapan hangat. Orang itu mengecup pipinya dan berlirih, 'Uljima.'
Menciumnya bibirnya dan berlirih, 'Uljima'
Mencumbunya masih dengan lirihan, 'Uljima'
Dan tak ada perlawanan.
.
.
.
TBC
.
AAAA, apaan ini? Fuhh *garuk2 kepala*
Maaf ceritanya jadi kayak gini u.u
Maaf aku hanya mengeditnya sekali, maaf kalo ada typo *bow*
Dan lagi lagi tak bisa membalas review, tapi percayalah review sodara-sodara sekalian benar-benar membuatku termotivasi *ceilahh* *gombal dikit*
Ada yang bingung mau manggil aku apa? Terserah chingudeul, via/pia boleh, atau yang lain, aku kelahiran tahun 93 hehe
Nama FB ku? -Via Choi Eunjae Ryeosom- add aja pasti di approve *iyalah hehe
Sampai kettem di chapter depan, akhir kata
RIPIU PLEASE~
