It is you
-Who Encourage Me -
.
.
.
Kalau lagi putus cinta tuh rasanya pengen denger lagu-lagu yang nadanya sedih, atau yang isinya patah hati, biar merasa ada yang senasib. Pokoknya paling nggak bisa ngeliat ada orang yang lagi seneng. Kalau sampai muncul orang yang tiba-tiba teriak dia baru dapet pacar, rasanya pengen langsung didorong dari tebing.
Hal yang sama juga berlaku untuk Hinata.
Dia datang ke sekolah dengan harapan tidak melihat pasangan yang membuatnya patah hati. Di depan dia nggak ada pasangan itu, cuma… Kayaknya banyak banget yang minta dilempar dari tebing.
Rasanya belum masuk gerbang sekolah udah ada yang gandengan tangan. Baru nyampe di lorong udah ada yang peluk-pelukan. Bahkan saat sampai di kelas, ada yang berani ciuman di depan umum! Daripada dilempar dari tebing, mendingan ditenggelemin ke Samudra Atlantik. Biar mereka merasakan keromantisan Leonardo Dicaprio dan Kate Winslet dari film 'Titanic'. Dan juga pengorbanan untuk dingin-dinginan berenang malem-malem.
Sejak kapan di sekolah Konoha mulai bermunculan banyak pasangan baru?
Entah kenapa saat ini Hinata merasa langit sangat tidak adil padanya. Di saat dia putus cinta, kenapa banyak orang yang cintanya bersambut?
Hinata pergi ke toilet perempuan dengan pikiran, satu-satunya tempat dimana ia tidak akan melihat pasangan yang bermesra-mesraan hanya disana. Dan memang, di deket lorong menuju toilet nggak ada pasangan sama sekali. Siapa sih yang mau pacaran deket-deket toilet? Nggak romantis tau. Kalau ditanya ciuman pertama dimana, masa' jawabnya di deket toilet? Nggak banget 'kan?
Tapi dengan banyaknya pemikiran seperti itu dan kenyataan bahwa daerah di sekitar toilet itu sepi, hanya memperjelas kalau sekarang 75% dari isi sekolah ini semuanya adalah pasangan. Hhh, daripada mikir jauh-jauh begitu, mending buru-buru masuk toilet deh.
Dan memang antara peruntungan bintang hari ini lagi nggak bagus atau emang Hinata yang sial terus dari lahir. Baru keluar selangkah dari toilet, ia sudah dikepung oleh cewe-cewe menyeramkan yang melotot ke arahnya.
"Umm… Ada yang b-bisa kubantu…?"
Dimana suasana 'Love and Peace' yang sejak tadi bertebaran di sekitarnya sejak ia masuk sekolah?
"Apa kau benar-benar berpacaran dengan Sasuke?"
Oh, iya! Dia lupa tentang gosip itu.
Karena terlalu banyak yang harus dipikirkan seperti Naruto, banyaknya pasangan bermunculan, atau Neji yang tadi pagi senyum-senyum sendiri, dia jadi bener-bener lupa tentang gosip itu. Kirain gosip itu udah lenyap dengan sendirinya tanpa perlu ia jelaskan panjang lebar.
Ternyata mereka ini fangirls Sasuke yang tersisa toh.
"Jauhi Sasuke! Atau kau akan merasakan akibatnya." Gadis berambut merah menyala yang Hinata kenal bernama Karin memandangnya dengan pandangan tajam dan menusuk. Kata-kata 'Aku bukan pacar Sasuke' jadi tercekat di tenggorokan Hinata. Padahal, hanya kalimat itu yang bisa menyelamatkannya di saat-saat seperti ini. Tapi seandainya keluar, memangnya mereka percaya?
Dan dimana para pengguna setia toilet di situasi begini?
"A-aku… aku…"
"Hei, hei, apa yang kalian lakukan pada Hinata?"
Wuitts! Siapa yang tadi bilang di depan toilet nggak bisa ada adegan romantis? Kalau belum pernah liat, sekarang perhatikan baik-baik.
"Mau apa kau, Naruto?" Karin dan kawanannya tidak gentar meski melihat Naruto datang. Cowo pirang itu terlihat tidak suka dengan cara mereka mengepung Hinata.
"Kalian ini kenapa sih? Di depan toilet berkumpul ramai-ramai seperti itu. Orang lain jadi tidak bisa lewat tahu."
Karin mengernyitkan alisnya. "Ini bukan urusanmu."
"Tentu saja urusanku. Kalau kalian berurusan dengan Hinata, berarti kalian berurusan denganku." Tuh 'kan, tuh 'kan. Romantis 'kan?
"Lagipula aku jadi tidak bisa ke toilet."
Coret. Lupain aja. Di depan toilet emang nggak ada nuansa romance-nya.
Jangankan Hinata. Karin aja sweatdrop dengerin Naruto. Nih orang niat nolong nggak sih? Yah, tapi setidaknya Karin dkk memutuskan pergi dari situ.
"Kalian penggemar Sasuke 'kan?" Karin menoleh. "Dengar, ya. Anak ini," Naruto menunjuk Hinata,"…bukan pacar Sasuke, tau. Jadi jangan berbuat macam-macam lagi padanya."
Dengan sebal, Karin meninggalkan tempat itu. Paling tidak ia sudah mendapatkan jawaban yang ia harapkan. Naruto 'kan sahabatnya Sasuke, jadi infonya bisa lebih dipercaya dibanding koran sekolah yang isinya cerita ngarang semua.
Naruto mengarahkan pandangannya ke arah Hinata. "Nah, Hinata, sekarang mereka sudah pergi. Kau sudah… Hinata?" Naruto bingung melihat air mata yang mengalir di pipi Hinata. Apa dia takut karena kejadian tadi?
Bukan. Hinata tidak menangis karena Karin. Hinata menangis karena dia benci. Dia benci karena Naruto yang menolongnya. Dia benci pada Naruto yang selalu datang di saat dia merasa butuh pertolongan. Dia benci pada Naruto yang baik hati. Karena hal itu… hanya membuatnya semakin sulit merelakan Naruto.
Padahal ia sudah memutuskan untuk berlapang dada. Padahal ia sudah berusaha memupuk perasaannya sejak semalam agar saat ia bertemu Naruto, ia bisa bersikap seperti biasa. Tapi ketika harus berhadapan dengan orangnya langsung, pintu hati yang sudah susah payah tertutup, dengan mudahnya terbuka lebar.
Naruto mengulurkan tangannya untuk menenangkan Hinata. "Hei Hina…" Tangannya yang besar justru ditepis oleh Hinata.
Naruto hanya dapat berdiri mematung melihat Hinata lari meninggalkannya.
.
.
.
Suara itu terbawa oleh angin. Tidak jernih dan tidak merdu. Terbata-bata dan tercampur oleh suara isakan.
Yume no tsubomi hiraku…
mabushi i sora o aogi…
mune ippai hirogaru yasashii kaori
Sejak tadi ia terus mengulang lagu itu. Lagu Gaara yang berisi tentang cinta yang manis.
Kikoeru wa koi no RIZUMU
kisetsu goe ai ni ki te ne…
Saat pertama melihat liriknya yang sederhana dan manis, ia jatuh cinta pada lirik itu dan sangat bersemangat untuk membuat nadanya, berusaha yang terbaik.
daisuki da yo… sasayai tara…
sekaijuu ni kikoe chau ka na…
hazu ka shiku te utsumui te ta…
Ia tak kuat, ia menangis. Ia menangis kalau memikirkan kisah cintanya tidak semanis seperti yang ada di lagu ini. "W-watashi no… te o tori…" Ia ingin melanjutkan lagu itu meski terbata-bata karena isak tangisnya. Biar saja, tidak akan ada yang melihatnya. Ia tetap melanjutkannya meski sudah tidak bernada. "H-hashiri… das-su…"
"Hoi!"
Hinata terkejut saat melihat siapa yang mendatanginya dan cepat-cepat menghapus air matanya. Ia tidak suka ada yang melihatnya menangis. "M-m-mau apa? A-ada perlu apa kesini?"
Sasuke mengetukkan tangannya ke meja. Cewe ini gampang ditebak. Tempat pelariannya selalu disini, ruang musik. Pasti dia selalu kalah kalau main petak umpet. "Kau itu menyebalkan."
Hinata kaget. Shock juga kalau langsung dibilang menyebalkan meski nggak tau penyebabnya.
"Tangisanmu menyebalkan," lanjut Sasuke. "Apa kau tidak bisa menghentikannya?"
Dibilang begitu juga…
"Oh, aku tahu," sela Sasuke tanpa memberi Hinata kesempatan untuk menjawab. "Kau menangis karena punya masalah 'kan?" Hinata mengangguk. "Kau menangis karena masalahmu tidak selesai?" Hinata mengangguk lagi. "Jadi kau akan berhenti menangis kalau masalahmu selesai?" Hinata menerawang… Mungkin?
"Ayo." Sasuke menarik tangan Hinata.
"Eh? K-ke mana?"
"Menyelesaikan masalahmu."
Hinata makin bingung. Apa maksudnya?
"Kita tidak akan tahu 'kan?"
Semakin banyak pertanyaan dalam kepala Hinata pada Uchiha yang tidak bisa ditebak isi kepalanya ini.
"Daisuki da yo sasayai tara." If I whisper 'I love you' "Sekaijuu ni kikoe chau ka na." will the whole world hear it? "Kita tidak akan tahu kalau belum mencoba 'kan?"
Hinata hanya menatap punggung Sasuke, lalu ke tangan mereka yang bertautan, dan menundukkan kepalanya hingga poni menutupi sebagian wajahnya. Ia kembali mengeluarkan air mata di sudut matanya. Air mata terima kasih.
hazu ka shiku te utsumui te ta (I lowered my head in embarrassment)
watashi no te o tori hashiri dasu (but you took my hand and run)
.
.
.
Sialan. Si Sasuke lama banget. Tadi dia disuruh nunggu sampai tuh orang balik, tapi kapan?
Naruto melihat ke luar jendela. Sudah banyak anak yang pulang, tapi dia masih diharuskan menunggu disini. Lamunannya berhenti ketika mendengar suara ribut-ribut di luar kelas.
"Sasuke, turunkan aku! Aku mau pulang!"
"Berisik! Bukannya tadi kau juga setuju?"
"Aku nggak pernah bilang begitu. Turunkan aku! Aku takut, aku mau pulang!"
Pintu terbuka dan yang berdiri di sana sangat mengherankan Naruto. Sasuke menggendong Hinata seperti menggendong karung beras. Dan Hinata hanya meronta-ronta minta diturunkan.
"Turunkan aku, Sasuke. Kamu mau ngapain sih…"
"Iya, iya, Nona. Nih, kita sudah sampai." Sasuke menurunkan Hinata dari pundaknya lalu membalik tubuhnya dan bertemu pandang dengan Naruto. Hinata yang melihat Naruto ada disana langsung membalikkan tubuhnya lagi dan berhadapan dengan tubuh Sasuke. Kalau berdiri sejajar begitu, jadi terlihat perbedaan tinggi badan mereka yang mencolok.
"S-S-Sasuke… K-kenapa Naruto ada disini…?" tanya Hinata gemetaran. Tangannya sudah meremas kemeja putih Sasuke. "A-apa yang mau kau—"
Sasuke dengan nyantainya cuma jawab," 'kan sudah kubilang, kita tidak akan tahu…"
Melihat wajah Hinata yang memerah dan mulut ternganga dengan penuh tanda tanya, Sasuke melanjutkan, "Katakan padanya dan kita akan tahu apa jawabannya," katanya sambil berbisik.
Hinata tak percaya pada Sasuke. Ia tidak mungkin melakukannya. Tanpa perlu bertanya pun ia sudah tahu jawabannya. "T-tidak bisa, aku tidak bisa mengatakannya. Aku tidak bisa…" Remasannya makin menguat.
Sasuke menaruh tangannya di atas kepala Hinata lalu membungkuk sedikit agar bisa menatap mata Hinata. "Kau pasti bisa." Ia mengacak-acak rambutnya. "Kita tidak perlu jawabannya. Kita hanya perlu tahu kalau kau mengatakannya, apakah seluruh dunia akan mendengarnya."
Hinata memandang Sasuke yang berjalan ke luar kelas. "Kalau butuh, aku ada di kelas sebelah."
Hinata kembali memandang Uzumaki yang memasang wajah bingung dan merasa terlupakan sejak tadi. Ia harus mengatakannya.
.
.
.
Di luar dugaan, seorang Uchiha Sasuke bisa menjadi orang yang penyabar. Yah, setidaknya kali ini meja dan kursi tidak menjadi sasaran pelampiasan kemarahannya karena disuruh menunggu. Buku sejarah yang ditinggalkan oleh seseorang di laci meja ternyata beguna juga untuk mengisi waktu.
Tidak butuh waktu lama sampai Hinata datang dengan wajah yang memerah dan mata berair. Wajah Hinata yang seperti ini sudah menjadi dugaan Sasuke, jadi dia nggak kaget.
"D-dia terkejut s-saat kubilang… aku menyukainya…" Hinata mulai terisak, pundaknya naik-turun.
"Hn."
"K-katanya… d-dia senang d-dan… dia bilang t-terima k-kasih…" Hinata melap air matanya yang tak berhenti mengalir dengan punggung tangannya.
"Lalu?"
Sasuke kaget saat Hinata menubruknya dan kembali meremas bagian depan kemejanya. "Hu- HUWAAAA…" Dia tidak kaget melihat Hinata menangis keras-keras di dadanya.
Sasuke menutup matanya dan menepuk kepala Hinata. "Kau sudah berjuang."
Hinata tetap menangis. Menangis dan menangis. Suara tangisannya bergema di ruangan itu. Sasuke hanya menepuk-nepuk kepala Hinata sambil membelai rambutnya sampai Hinata berhenti menangis, setidaknya sampai tangisannya reda.
.
.
.
To Be Continued
.:10 September 2011:.
.
.
.
.
.
A/N: Sebenarnya saya mau masukin bagian ini ke cerita, cuma temen saya bilang jadinya nggak cocok. Akhirnya saya masukin buat jadi bonus aja, deh.
.
.
.
Sasuke menutup matanya dan menepuk kepala Hinata. "Kau sudah berjuang."
Hinata tetap menangis. Menangis dan menangis. Suara tangisannya bergema di ruangan itu. Sasuke hanya menepuk-nepuk kepala Hinata sambil membelai rambutnya sampai Hinata berhenti menangis, setidaknya sampai tangisannya reda.
"S-Sasuke…" panggil Hinata di sela-sela tangisannya yang mulai mereda.
"Hm?"
"S-saat kau menggendongku tadi…"
"Hm?"
"Kau menyentuh pantatku, ya?"
.
.
.
A/N- Sekian dan terima kasih.
