"Families won't let you down."

Brothers;

CHAPTER IX


"Wah, mereka tidur."

Ten dan Taeyong baru saja masuk ke ruang tengah sehabis mengobrol seru di taman belakang, dan mereka disuguhi pemandangan manis dari sepasang kakak-beradik yang sedang tertidur dengan lucunya sambil berpelukan.

"Di rumahku tidak pernah ada yang lucu-lucu begini," keluh Taeyong mengingat anak-anaknya yang aktif dan enerjik, tidak seperti Haechan dan Jaemin yang tenang dan lembut.

"Ah, masa. Jisung kan masih imut-imut," balas Ten sambil tertawa.

Taeyong cemberut lucu, "Tidak lagi, sekarang Jisung mulai tertular kakaknya."

Ten terkikik gemas. Ah, mungkin bukan anak-anaknya yang imut di rumah Jung, melainkan ibunya.

"Ten, anakmu kuambil satu ya?" pinta Taeyong.

"Jangan, dong. Mereka kan punyaku," jawab Ten. "Makanya buat sendiri. Minta sana ke Jaehyun."

"Capek, tahu. Sudah punya tiga, tapi tidak ada juga yang seperti anak-anakmu," keluh Taeyong sambil kembali mencebik lucu.

Ten tertawa-tawa saja menanggapinya. Memang benar kata Haechan, tetangganya ini sudah tua pun masih imut seperti anak-anak saja. Siapa sangka usia Taeyong sudah hampir mendekati empatpuluh.

Setelah itu Ten mendekati sofa untuk membelai kepala anak-anaknya. Ia senang, sepertinya Jaemin bisa menjadi sangat tenang kalau ada Haechan. Bahkan, sampai mau tidur juga. Padahal akhir-akhir ini Jaemin sulit sekali dibuat tidur. Tapi lihat, saat bersama Haechan, anak itu tidur dengan tenang sekali.

Ia ingin lihat nanti, apakah Jaemin juga akan mau makan kalau bersama Haechan.

"Omong-omong, Jeno kemana ya? Apa sudah pulang ya," gumam Taeyong yang baru sadar kalau ia ke sini bersama Jeno tadi.

"Mungkin," sahut Ten.

"Baiklah. Aku pulang juga ya, Ten. Daah! Sampaikan salamku untuk dua anak manis itu ya, bilang kalau ada yang mau jadi anakku langsung ke rumah saja."

"Baik, sampai jumpa. Aduh, salamnya saja ya yang aku sampaikan, tawarannya tidak usah," balas Ten geli.

Ya ampun, ada-ada saja tetangga cantiknya yang satu itu.


"Jeno, temani Jisung sana."

Mark baru saja menyuruh adik sulungnya untuk menemani si bungsu yang sedang merajuk ingin ditemani main PS. Mark tidak bisa menuruti karena harus menyelesaikan tugas-tugasnya yang jadi menumpuk setelah sibuk menggantikan Haechan dalam kepanitiaan.

"Malas. Hyung saja," tolak Jeno enggan. Ia sedang enak-enaknya tiduran dipangku sang Ibu sambil menikmati belaian lembut di kepala dari ibu cantiknya.

"Jangan gitu, Jeno. Kasihan kakakmu tuh," nasehat Taeyong.

"Aduh, aku kan sedang menikmati quality time dengan Eomma. Aku tidak rela kalau harus meninggalkan Eomma di tengah acara kedekatan kita dong, Ma," kilah Jeno.

"Apa sih, Jeno. Eomma lebih senang kalau kamu menuruti kakakmu dan menemani adikmu, tahu," balas Taeyong.

"Dengar tuh," timpal Mark.

Inilah tidak enaknya jadi anak tengah. Harus menghormati kakak sekaligus menjadi dewasa untuk adik. Jadi kapan Jeno bisa bertingkah sebebasnya?

"Ah, kalau Jisung lucu seperti anak tetangga sebelah sih, aku dengan senang hati akan melakukannya," keluh Jeno.

"Siapa? Haechan maksudnya?" tanya Mark.

"Tidaklah, masa macan betina itu lucu. Adiknya dong," protes Jeno.

"Kalian juga tidak ada yang lucu seperti mereka, Eomma sebal deh. Maunya punya anak penurut, eh, malah nakal semua seperti kalian," cebik Taeyong.

"Jangan sedih dong, Eomma. Kan ada Mark yang selalu menuruti apa kata Eomma," hibur Mark.

"Bohong. Kalau disuruh pilih Haechan atau Eomma juga, Mark-Hyung akan pilih Haechan."

"Eomma juga bakal lebih memilih Haechan dan Jaemin lah, daripada kalian," balas Taeyong sadis.

"Yahh, Eomma jangan beginikan kami, kami janji deh akan jadi lebih penurut," ratap Mark sedih.

Taeyong tertawa geli dalam hati. Anak-anaknya ini lucu juga kalau dibercandakan. Seperti ayahnya saja.

"Begini saja deh. Suatu saat nanti Eomma akan punya anak seperti mereka. Tepatnya, Eomma akan punya Haechan dan Jaemin sungguhan. Tunggu saja, kami akan membawanya untuk Eomma. Atau minimal Eomma akan dapat satu, Jaemin, soalnya aku agak ragu Haechan mau dengan orang seperti Mark-Hyung," ujar Jeno.

"Hei! Katakan itu kepada seseorang yang sampai sekarang masih dibenci oleh Jaemin. Lagipula Haechan juga tidak akan memberikan Jaemin untukmu," sahut Mark.

"Sudah, tidak usah berdebat," lerai Taeyong. "Coba tunjukkan diri kalian masing-masing dan buktikan kalau kalian berhasil nanti."

Tiba-tiba sebuah suara berat yang familiar terdengar oleh Ibu dan anak-anak itu.

"Benar kata Eomma kalian."

"Jae!"

Gawat, ayah mereka sudah pulang. Artinya, ibu mereka akan direbut sampai besok sang ayah kembali pergi bekerja.

"Hai Sayang," Jaehyun merentangkan kedua tangan, menyambut Taeyong yang berlari ke pelukannya setelah menghempaskan Jeno begitu saja ke sofa.

Lalu, tanpa malu-malu, pasangan suami-istri itu berciuman— di bibir. Tidak peduli ada anak-anak mereka yang masih bisa dikatakan di bawah umur yang menyaksikan.

Tapi Mark dan Jeno menanggapinya dengan biasa saja. Sudah biasa juga.

Kecuali Jeno yang sedikit kesal karena sang Ibu langsung membuangnya begitu ada sang ayah.

"Kami tahu kalian saling mencintai, tapi bisakah kalian ingat kalau kami adalah hasil dari kehidupan cinta kalian," sindir Jeno, masih kesal setelah dibuang layaknya mainan usang.

"Memang benar. Kami tidak lupa kok," sahut Jaehyun.

"Tapi kalian bertingkah seolah hanya ada kalian berdua di dunia ini," runtuk Jeno.

"Begitulah kalau sedang jatuh cinta, Nak. Dunia serasa milik berdua," ujar Jaehyun norak.

Tepat setelah perkataan cheesy ayah mereka, Mark dan Jeno langsung kabur dari ruangan itu. Kadang-kadang mereka bingung kenapa sang ibu tahan dengan ucapan menggelikan yang sering sekali diucapkan oleh sang ayah.

"Akhirnya mereka pergi juga."

"Astaga, jangan terlalu jahat dengan anak-anakmu, Jae!" seru Taeyong sambil tertawa.

"Habis, mereka seperti mau merebutmu dariku saja. Aku kan tidak mau kalah dengan anakku sendiri, Sayang," kata Jaehyun sambil tersenyum dengan sangat lebar seperti orang gila yang dimabuk cinta.

Wajar, melihat Taeyong tertawa itu sama saja seperti melihat malaikat. Cantiknya luar biasa.

"Aduh, aku tambah mencintai istriku ini deh jadinya," ujar Jaehyun gemas, kemudian mencium Taeyong lagi dan lagi seakan bibir Taeyong adalah candu.


"Coba bilang, Nana maunya apa?"

Jaemin terdiam. Bibirnya terkunci rapat dan kedua tangannya menggenggam sendok serta garpu dengan telapak mengepal kuat. Ia takut.

"Sayangku, ayo beritahu Mama. Jaemin mau Mama buatkan apa supaya mau makan? Hmm?" Ten berusaha membujuk Jaemin agar mau bicara dan makan.

Kedua tangan Ten menangkup wajah putra manisnya agar Jaemin menatap matanya. Jaemin mendongak dan menunjukkan wajah sedih.

"Nana tidak mau Mama.. Mual.." rengeknya

"Sayang.." Ten berujar pasrah. Sudah berbagai cara ia lakukan agar Jaemin mau makan paling tidak beberapa suap. Tapi Jaemin terus-terusan menolak. Parahnya, Ten takut kalau terlalu memaksa Jaemin, anaknya itu akan panik dan ketakutan. Ingat, dosis obat penenang Jaemin sedang dikurangi sekarang, ia jadi mudah takut.

Johnny yang baru selesai mandi bergabung dengan ibu-anak itu di ruang makan. Ia melihat wajah sedih sang istri dan wajah murung putra bungsunya.

Johnny mengerti arti tatapan sedih Ten, ia mengangguk tanda paham. Kemudian ia berpaling ke Jaemin, berjongkok di hadapan anak itu dan mengusap surainya lembut.

"Hai Manis," Johnny memanggil Jaemin. "How's your day Sweetheart?"

Jaemin masih murung. "Papa.." lirihnya.

Johnny menggenggam salah satu tangan Jaemin yang memegang garpu, menaruh garpu tersebut di atas meja. Kemudian ia mencium punggung tangan sang putra seperti sikap pangeran terhadap seorang putri.

"Apa yang membuat Manisku ini sedih, hmm?" Johnny bertanya dengan lembut.

Tangis Jaemin pecah. "Aku tidak mau makan Papa.."

"Sshh.. Iya, iya. Kami tahu. Jaemin mual kan, makanya tidak mau makan?"

Jaemin mengangguk. Kecemasannya bertambah.

"Kami tahu, Sayang. Kami tahu bagaimana rasanya. Tapi, apakah Jaemin tahu akibatnya kalau tidak makan sama sekali?"

Jaemin takut. Ia cemas, Johnny bisa saja marah dan berteriak kepadanya. Ia pikir begitu. Lalu ayahnya itu akan benci kepadanya, lalu benci juga dengan ibunya. Lalu Haechan..

"Sayang, jangan takut. Papa tidak marah, oke? Papa hanya ingin Jaemin makan, ya? Bisa kan? Sedikit saja," bujuk Johnny.

Jaemin takut. Sekali lagi, ia benar-benar takut.

Kemudian ia pecah, lalu meledak.

.

.

PRANG!

.

.

"Nana/Jaemin!"

Jaemin melempar sendoknya ke seberang ruangan, mengenai beberapa gelas dan memecahkannya.

Setelah itu, yang Jaemin lihat mengabur, yang ia dengar menggema, yang ia rasakan melayang.

Lalu gelap.

.

.

.

.

.

END OF CHAPTER IX