Disclaimer : Bleach © Tite Kubo

Warning : OOC, Typo, perusakan karakter, tulisan berantakan *seperti biasa, author ga pernah meriksa ulang*, etc.

.

Desire

.

Jari-jari kapalan mengusap pipi yang begitu halus, dan tangan yang lain melingkar erat di pinggang mungil. Bibir yang begitu hangat sekali lagi turun menyentuh milik sang kekasih. Kurosaki Ichigo tidak membuang-buang waktu dengan ciuman lambat, tapi langsung menggigit bibir bawah si mungil dan memaksa mulutnya terpisah untuk serangan lidah. Kekasihnya mengerang indah ketika lidahnya mulai membolak-balik, menghisap, serta menikmati setiap bagian yang ditawarkan.

Rukia mengerang gelisah, merasa Ichigo tumbuh semakin agresif. Tubuhnya mulai bereaksi terhadap rangsangan dari posisi yang bgitu kompromi mengangkangi Ichigo di kursi pengemudi. Lengan Ichigo di punggungnya meluncur turun cukup jauh sehingga dapat masuk kedalam rok serta meraba-raba pantatnya. Rukia merasakan jari-jari yang kuat mulai meremas pantatnya dengan nafsu seorang pria kelaparan. Tangan yang sendari tadi sibuk membelai pipinya saja juga telah perlahan-lahan turun ke leher, mulai menarik-narik paksa pita seragam. Sialan, ciuman ini sepertinya tidak ada ujung dan pangkal.

Rukia cepat melepas ciuman, dadanya naik turun dengan upaya mengisi oksigen. Iris violetnya menatap geli Ichigo.

"Sialan, Rukia," kata Ichigo serak menghempaskan kepala ke sandaran kursi.

Rukia terkikik ringan. Rupanya ia sudah cukup banyak belajar trik memancing nafsu Ichigo hingga ketingkat sekarang.

Si rambut orange mendengus sebal, mengusap punggung Rukia tanpa indikasi apapun, "Yakin tidak ingin ikut aku ke Swiss?"

Rukia menggeleng, "Tidak bagus meninggalkan sekolah saat sudah memasuki semester dua. Kau kan cuma pergi seminggu."

"Hhh… oke. Aku memang tidak pernah bisa memaksamu. Ingat! Jangan—"

"Membawa atau menerima tamu laki-laki," potong Rukia bosan. Rasanya sudah beratus-ratus kali Ichigo menjejalinya dengan perintah yang sama.

"Satu lagi, Ashido Kano juga bukan pengecualian."

"Aku mengerti, Ichi…" Rukia tertawa ringan, memberikan kecupan kilat di bibir Ichigo. Entah kenapa, Ichigo sudah menjadi begitu protektif sejak kejadian Ashido yang hanya memakai handuk di apartemennya.

"Sekarang—" tangan gadis mungil bergerak menyisir rambut serta merapikan pita seragam. "—biarkan aku pergi sekolah."

Ichigo mengangguk pasrah, membukankan pintu mobil serta secara tak rela membiarkan Rukia turun dari pangkuan untuk turun dari mobil. Gadis mungil itu sekali lagi merapikan seagam setelah betul-betul menginjak tanah.

"Semoga perjalanan bisnismu menyenangkan. Sampai jumpa minggu di akhir pekan."

"Ya…" gerutu Ichigo mulai menjalankan mobil.

Meskipun sudah bergerak jauh, Rukia masih melambaikan tangan. Apartemen benar-benar akan sepi selama beberapa hari kedepan. Sedihnya…. Padahal Rukia telah terbiasa dengan kehadiran Ichigo yang setiap saat menyerangnya di tiap sudut apartemen. Ruang TV, dapur, kamar mandi, pokoknya tidak ada tempat yang berhasil membuatnya lolos. Ichigo selalu bisa menidurinya diamanapun laki-laki itu suka. Bicara soal dapur, Rukia pastikan tidak akan ada seks dalam waktu dekat yang melibatkan dapur. Dia sedang trauma karena beberapa hari yang lalu Ichigo nyaris membuat pantatnya terpanggang api kompor karena pemuda itu terlamapau bersemangat mendudukkannya di meja counter.

Sialan, rasanya kepulangan Ichigo akan terasa lama.

.

.

.

mmmmm

.

.

.

Orihime membongkar tas, melemparkan tiap pakaian didalamnya ke lantai.

"Ya ampun, aku lupa bawa baju tidur."

"Pakai saja punyaku," tawar Rukia. Gadis berambut hitam itu baru keluar dari kamar mandi dengan pakaian dalam lengkap, sebelah tangannya yang memegang haduk masih sibuk mengeringkan rambut.

Empat hari tanpa Ichigo sudah menjadi kebosanan total. Rasanya seperti nenek tua yang tinggal sendirian di desa terpencil. Apartemen begitu luas, tapi dia Cuma sendirian. Heran, apa selama ini Ichigo tidak jenuh tinggal sendirian? Pantas pemuda itu bersikeras membawanya kesini. Untung dia juga memiliki cara untuk mengusir kesendiran, dia sengaja mengundang Orihime menginap.

"Memangnya muat?"

"Ada beberapa yang kebesaran untukku," sahut Rukia sibuk membongkar lemari Ichigo setelah memakai celana pendek. "Masih baru kok, pakai saja."

Orihime berdiri bingung. Memandang pintu lemari satu per satu. Jujur, terlalu banyak pintu lemari hingga dia tidak tahu mana yang milik Rukia. "Di mana?"

"Cari di lemari paling pinggir. Disana banyak baju kebesaran. O ya—" Rukia sedikit menjulurkan kepala keluar dari lemari. "—kalau ada yang kau suka, ambil saja. Aku harus menunggu bertahun-tahun lagi kalau menunggu sampai muat dibadanku."

"Benarkah?"

Rukia mengangguk pelan. Orihime seketika berbinar-binar. Gadis berambut caramel itu tahu pakaian-pakaian yangk ebesaran pasti bagian dari merk terkenal dan mahal dari sang kekasih. Kapan lagi bisa mendapat barang bagus.

Tubuh jangkung si rambut caramel berjalan sebuah pintu lemari, memutar kunci lemari kemudian membukanya lebar. Orihime sedikit terkesiap.

"Ada apa, Hime?" Rukia menghampiri Orihime sambil sibuk menyarungkan kaos sederhana milik Ichigo ke tubuh mungilnya.

"I,itu…" Orihime kikuk menunjuk isi lemari.

Iris violet melirik sekilas pada isi lemari, mendadak dia tertawa rendah. Pantas Orihime menjerit, sepupunya ternyata menemukan koleksi sutra 'nakalnya'.

"Kau salah membuka lemari. Semua yang didalamnya adalah favorit Ichigo."

"Se,sebanyak ini?" jerit Orihime tak lebih dari dengungan kumbang. "Berapa banyak yang sudah kau pakai?"

"Yah…" Rukia menyelipkan sedikit rambut kebelakang telinga. "Baru beberapa. Sebagian sudah ada yang dibuang karena Ichigo begitu tidak sabaran sampai merobek sutanya menjadi dua bagian.

Wajah Orihime menganga total. Dia benar-benar berusha mengendalikan wajahnya agar jangan sampai memerah semua. Matanya mengerjap beberapa kali untuk mengembalikan kesadaran. Sungguh, tiap kali sepupunya bercerita tentang Kurosaki Ichigo, selalu ada kejutan.

"Kau yakin kekasihmu itu manusia, Rukia?"

Rukia tergelak. "Tentu saja, Hime. Kau ini ada-ada saja."

Orhime menggeleng-gelengkan kepala, menelan air ludah dengan susah payah. "Ini serius, Ruki-chna. Aku sudah banyak mengenal laki-laki ditempat tidur. Kebanyakan dari mereka tidak diragukan lagi membawa permainan ke tingkat liar, tapi selalu—akan berakhir lambat, sampai berhenti total."

"Lalu apa hubungannya dengan Ichigo?"

"Setiap kali aku mendengar ceritamu, dari awal hingga akhir permainan kalian berjalan terlampau liar. Kalau pacarmu tipe yang tidak pernah puas, okelah aku mengerti. Tapi, yang aku takutkan… kalau ternyata pacarmu memuaskan diri ditempat lain juga."

"Maksudmu—" Rukia mendorong beberapa helai rambut lagi kebelakang telinga, padahal rambutnya masih tersemat dibelakang telinga, nampak pikirannya sedang bercampur aduk. "—Ichigo punya kekasih lain?"

Orihime mengangguk enggan.

"Yah… apa boleh buat kalau begitu," ucap Rukia pasrah.

"Rukia… kau tidak boleh menerima begitu saja, kau harus mencari tahu. Bisa saja dia memiliki istri juga."

.

.

.

mmmmm

.

.

.

"Sejak aku pulang dari Swiss, kau terlihat sering melamun," cemberut Ichigo masih sibuk memasang dasi didepan cermin.

Rukia tersenyum sekilas, menghampiri Ichigo untuk membantu memasang dasi.

"Hei, hei… kau ini kenapa?"

Bibir Rukia mengerucut membentuk sebuah ekspresi, jari-jarinya sedikit memainkan untaian dasi yang sudah selesai terpasang rapi. Iris violetnya memandang ragu pada Ichigo. "Aku hamil."

"Heh?" alis Ichigo sedikit berkerut. "Kalau begitu, cepat gugurkan."

Ucapan Ichigo membuat tubuh Rukia terhuyung kebelakang, susah payah dia berusaha menahan diri jangan sampai pingsan. Tubuhnya terasa kehilangan nyawa hingga harus bersandar di meja rias.

"Kalau… aku tidak mau?"

Ichigo tersenyum simpul, maju selangkah hendak memberi kecupan, namun Rukia langsung menghindar. Akhirnya cuma helaan nafas yang menerpa pipi Rukia. Kekasihnya sedang mendesah berat sambil memijit ringat pundaknya.

"Pergilah, nanti kau terlambat."

"Kau mengusirku supaya bisa menangis sendiri?"

Wajah Rukia masih berpaling ke arah lain. Nafas tertahan ditenggorokan, hampir seluruh tubuhnya terasa dingin. Tidak peduli tangan Ichigo begitu hangat memijat pundak, dia hanya merasa dingin.

Tolong jangan biarkan air mata jatuh sekarang. Apapun yang terjadi, jangan sampai menangis.

"Rukia… aku mengerti kalau kau ingin melahirkan anak itu. Tapi… aku sedang berpikir," tangan Ichigo terasa sedikit tegang di pundak. Menbuat Rukia kebingungan menerka-nerka isi pemikiran si ambut orange.

Rukia menarik nafas dalam-dalam, betul-betul mempersiapkan diri untuk mendengar semua kemungkinan terburuk.

"Rukia…"

Si mungil memejamkan mata erat.

"Aku tidak ingin kau berhenti sekolah karena sedang hamil."

Mata Rukia tersentak terbuka. Heh?

Perlahan wajahnya memberanikan diri menatap Ichigo. Ekspresi pemuda itu masih tersenyum lembut, menjalankan tangan dari pundak merayap ke pipi.

"Aku tidak pernah keberatan kau melahirkan anakku, percayalah. Aku menyuruhmu menggugurkannya cuma karena ingin jangan sampai kau menyia-nyiakan kepintaranmu. Kau layak mendapatkan pendidikan tertinggi. Tapi—kalau kau berhenti sekolah, aku baik-baik saja dengan itu. Aku dukung semua keputusanmu."

Panik segera memudar dari tubuh Rukia, meninggalkan kehangatan yang indah antara dia dan kekasihnya.

"Benarkah?" gumam Rukia, masih setengah percaya dengan pendengarannya.

Ichigo mengangguk pelan.

Rukia tersenyum ringan, membenamkan wajah didada Ichigo, betul-betul meresapi aroma hangat sang kekasih. Jari-jari Ichigo perlahan mengusap punggungnya.

"Kalau begitu, besok temani aku kerumah sakit."

"Untuk melakukan yang mana? Memeriksa kandungan, atau—"

"Obat pencegah kehamilanku habis."

Wajah Ichigo yang semula santai mulai berkerut kecil. "Untuk apa kau beli obat itu lagi?"

"Aku tidak hamil, idiot. Aku berbohong."

"Sialan. Dasar iblis kecil," gerutu Ichigo. Lagi-lagi Rukia berhasil mempermainkannya.

Rukia terkikik ringan, ada sesuatu yang hangat merayapi hatinya. Sesuatu, sesuatu perasaan yang membuat perutnya seperti diisi ribuan kupu-kupu yang berterbangan. Apakah mungkin perasaan ini…

Tidak. Tidak mungkin.

Rukia menggelengkan kepala pelan, menjauhkan diri dari dada Ichigo. "Pergilah, kau sudah terlambat."

"Semua itu karena siapa sih," sindir Ichigo meraih ponselnya, buru-buru menelepon Ishida untuk menjemputnya dengan transportasi tercepat karena kalau berkendara sendiri dalam keadaan terburu-buru akan sedikit berbahaya.

.

.

.

mmmmm

.

.

.

Rukia bersenandung riangan menyusun beberapa baju didalam lemari. Lega rasanya mengetahui Ichigo sama sekali tidak keberatan kalau—seandainya—dia sedang mengandung. Soal kecurigaan Orihime bahwa Ichigo memiliki istri juga belum terbukti benar. Ichigo tidak mungkin selalu menetap di apartemen—bersamanya, apabila memiliki istri. Dan sejauh ini Rukia tidak menemukan tanda-tanda bahwa kekasihnya sedang tidurr dengan perempuan lain.

Drrt… drrt…

Ponsel Rukia yang bergetar di meja rias membuat perhatian gadis itu teralih. Sambil duduk di kursi meja rias, dia menjawab panggilan di ponsel.

"Ada apa, Hime?"

Rukia diam mendengarkan suara Orihime begitu panik berbicara diseberang.

"Aku tidak punya uang, Orihime. Seingatku, bulan kemarin kita sudah cukup mengumpulkan uang untuk pemeriksaan Bibi Yorouchi bulan ini. Masa sia-sia saja kita bekerja ditempat Rangiku waktu itu."

Rukia meringis menjauhkan telepon dari telinga. Orihime benar-benar ingin membuatnya tuli dengan teriakannya itu.

"Dengar, Hime. Ichigo tidak memberiku uang karena aku tidak ada meminta. Dan sekarang dia sedang pergi rapat. Aku tidak mungkin meminta uang secara mendadak, aku harus—"

Rukia tiba-tiba terdiam. Bukan karena Orihime menyela perkataannya, tapi matanya menangkap dompet Ichigo tergeletak di atas meja. Sepertinya dompet itu tertinggal.

"E-eh, nanti aku hubungi beberapa menit lagi ya," ucap Rukia cepat menutup telepon.

Matanya kembali terfokus pada dompet. Tidak diragukan lagi, isinya pasti melebihi satu juta, jumlah uang yang dia butuhkan sekarang. Well, apa sebaiknya ia ambil dari sana dulu ya?

Tangan Rukia gemetar perlahan menyetuh dompet Ichigo.

"Tidak boleh!" protes Rukia menggeleng-gelengkan kepalanya.

Kalau sekarang dia mengambil uang itu tanpa izin, itu sama artinya dengan mencuri. Ichigo pasti akan tahu kalau uangnya diambil. Tapi… kalau tidak diambil, bagaimana dengan Bibi Yorouchi? Bibinya itu baru selesai dioperasi, tinggal beberapa kali rawat jalan untuk membuat sang bibi sembuh. Bibinya pasti akan sulit sembuh kalau rawat jalannya terputus.

Gemetar tangan Rukia mendekati dompet Ichigo. Untuk kali ini, setidaknya biarkan dia mendapatkan uang secara tidak baik. Meskipun mencuri, dan meskipun itu diluar kebiasaannya—

'Maafkan aku, Ichigo,' batin Rukia membuka dompet Ichigo, menghitung lembaran uang sesuai yang dibutuhkan.

"Butuh uang berapa?"

Rukia terkesiap menjatuhkan dompet ke lantai. Bodohnya dia karena tidak mendengar suara orang masuk kekamar.

Itu Ichigo. Pemuda itu pasti kembali karena sadar dompetnya sudah tertinggal, dan sekarang—Ichigo menangkap basah dirinya yang sedang mencuri.

"I,Ichigo…"

Serius, Rukia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Seluruh sel otaknya beku untuk mencari alasan.

Ichigo membungkuk, memungut dompet yang terjatuh dilantai. Meskipun sudah melihat Rukia mengobrak-abrik isi dompet, laki-laki berambut orange itu tidak memeriksa ulang isi dompet atau memastikan jumlahnya tidak berkurang, sama sekali tidak bertindak seperti orang yang baru kecurian."

"Kau butuh uang berapa?" ulang Ichigo berwajah datar.

Marah kah?

"A,aku… aku…" wajah Rukia kian memucat.

Drrt… drrt…

Ponsel Rukia bergetar di meja rias.

"Jawab ponselmu," perintah Ichigo tapi hanya reaksi beku dari Rukia.

Ichigo menghela nafas meraih ponsel Rukia. Walaupun telah menekan tombol jawab, ia tidak berbicara apapun ketika ponsel ditempelkan ditelinga.

"Ruki-chan! Kenapa lama sekali? Uang satu jutanya sudah ada kan?"

Aaa… Ichigo menebak itu Inoue Orihime.

Tanpa mendengar lebih lanjut ocehan Orihme, Ichigo memutuskan panggilan. Tangannya langsung mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompet. Di sodorkannya semua uang itu bersamaan dengan ponsel ketangan Rukia.

"Aku akan pulang terlamabat," ucap Ichigo menyimpan dompetnya kesaku.

Hanya itu. Cuma itu saja yang Ichigo katakan, lalu pergi. Sedikitpun pemuda berambut orange itu tidak menyebut-nyebut tentang Rukia yang sudah tertangkap basah mencuri. Apakah karena sedang terburu-buru, jadi Ichigo tidak mengatakan sepatah katapun? Lalu, bagaiaman nanti—setelah pemuda itu pulang?

Tubuh Rukia merosot ke lantai. Sekarang harus bagaimana?

.

.

To be continued…

Yah, benar kan? It's cause money… uang, uang, uang… *author nyanyi gaje…

Sebenarnya Mey bingung ma kelanjutannya, tapi lihatlah nanti… siapa tahu waktu mau tidur memeluk guling tiba-tiba muncul ide…

Tolong tinggalkan review agar Mey bisa tahu isi kepala readers tentang chap ini..

n_n

Oke, kalimat copas chap kemarin :

Yang berbaik hati membaca dan memberi review, Mey ucapakan terimakasih…

Selalu, pereview adalah yang terbaik…

n_n

Mind to R & R?