Gundam SEED/DESTINY © Masatsugu Iwase, Yoshiyuki Tomino, Hajime Yatate SUNRISE
"Don't Take Him!"
By Setsuko Mizuka
Rate : T
Genre : Friendship and Romance
Pairing : CagalliAthrunXX and LacusKira
Warning : T semi M! Gaje, OOC (mungkin), AU, Typo(s)! Untuk komen di FB sengaja pakai kata-kata tidak baku dsb! Jangan lupa untuk siapkan oksigen sebelum membaca!
Summary : Ugh~, nggak biasanya –hik– sepusing ini setelah –hik– meminum sebotol sake. / Cag, hentikan! Aku tak mau melakukan hal yang membuat kau terluka nantinya! / Lalu kenapa kau tak melakukannya saat aku- / -karena aku tak mau melukaimu. / Kenapa... kau tak mau melukaiku? Apa... karena aku... perempuan yang lemah? / Karena aku menyukaimu.
~ Chap 10.1 : Special Chapter (Suki Desu) ~
Cagalli menaikkan sebelah alisnya. Bingung. Kenapa aku dibawa ke sini? Biasanya 'kan adegan penculikan itu yang diculik selalu dibawa ke gudang. Lalu kenapa aku ke... "kedai ramen?" gumamnya tidak percaya.
"Ada yang salah?"
"Kau menculikku ke kedai ramen?"
"Memang kau berharap aku menculikmu kemana?"
"Ke gudang?" sahut Cagalli ragu.
Athrun tertawa geli dibuatnya. "Oh astaga. Kau benar-benar lucu, Cag! Memang kau pikir ini salah satu adegan film laga?" Melihat gadis kembaran Kira itu mengangguk, Athrun kembali tertawa. "Haha, tentu saja tidak, Cagalli. Aku ini bukan penculik seperti yang kau lihat di film laga dan meminta uang tebusan. Aku menculikmu karena ingin dinner berdua denganmu, Nona Hibiki."
"Huh? Dinner?"
"Aku ingin menculik hatimu juga kalau bisa," gurau Athrun.
"Sayangnya, takkan semudah itu, Tuan Zala."
Laki-laki itu tertawa lagi.
"Terus saja tertawa sesukamu!" kesal Cagalli sambil masuk ke dalam kedai.
"Yaaah, ngambek dia." Athrun pun ikut masuk.
"Irrashaimase! Eh? Cagalli? Athrun?"
Iris mata amber Cagalli melebar. "Mwu-sensai!?" Sungguh, gadis itu tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Di hadapannya saat ini tengah berdiri seorang guru bahasa asing yang sangat terkenal dengan ke-easygoing-annya di sekolah. "Apa yang Mwu-sensai lakukan? Apa Sensai juga bekerja sambilan di sini?" tanya Cagalli beruntun.
"Duduk dulu, Cagalli," suruh Athrun tenang.
Gadis itu menurut lalu menatap sang guru yang tersenyum misterius.
"Oh, jadi selama ini kalian pacaran ya."
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Sensai." Cagalli cemberut.
"Baiklah, baiklah. Sensai memang kerja di sini, bukan sambilan kok."
"Kedai ini adalah warisan keluarga Mwu-sensai. Jadi, mau tak mau, Mwu-sensai harus meneruskannya," jelas Athrun tanpa diminta. "Lalu kau jadi pelanggannya?" Laki-laki itu mengangguk pelan.
"Mau pesan apa, Athrun, Cagalli?" tanya Mwu.
"Seperti biasa, Sensai. Kau mau pesan apa, Cag?"
"Pesan sepertimu saja, ditambah sake ya," jawab Cagalli acuh.
"Hah!? Sake!?" Athrun melongok mendengarnya.
"Ada sake 'kan, Sensai?"
Mwu tampak ikut melongok dan memandang Cagalli tidak percaya. Baru kali ini ia melihat salah satu siswi kebanggaannya ingin meminum sake. Lelaki muda berkepala tiga itu berpikir bahwa siswinya ini tak pernah berurusan dengan minuman tradisional berisi alkohol tersebut. "Kau mau minum sake?" Yang ditanya malah mengangguk mantap.
"Kau masih di bawah umur untuk minum sake, Cagalli!"
"Aku sudah sering minum bersama Tou-san dan Kira," balas Cagalli.
"Tetap saja tidak boleh!"
"Hanya satu botol, Ath!"
"Sama saja akan membuatmu mabuk!"
"Tidak! Satu botol saja aku masih kuat!"
Guru bahasa asing yang sedari tadi diam melihat pertengkaran sepasang pemuda-pemudi itu hanya geleng-geleng kepala. "Apa ini yang namanya pacaran zaman sekarang?" gumamnya sambil menahan tawa. Melihatnya membuat Mwu teringat masa lalu. "Sudahlah, jangan bertengkar begitu, nggak baik dilihat orang," lerai Mwu. Ia tersenyum. "Aku akan kasih sebotol saja karena Senin kalian ujian. Anggap saja ini hadiah."
"Waaah! Mwu-sensai memang guru terbaik sedunia!" girang Cagalli.
"Aaargh, Sensai! Seharusnya kau melarangnya!"
"Ye, ye, ye, ye! Sake, sake!"
"Hahaha, astaga, hahahaha!" Mwu memeras apron putih yang ia kenakan sambil tertawa karena perutnya terasa sakit. Pelanggan lainnya juga ikut tertawa melihat kejadian tadi. "Sungguh indah ya, masa muda." Begitulah komentar salah satu pelanggan yang sukses membuat kedua murid Mwu La Flaga itu tertunduk malu.
"Memalukan," desis keduanya bersamaan.
GUNDAM SEED/DESTINY
Athrun menghela napas berat seraya menoleh pada gadis berambut blond di sampingnya. Gadis itu tampak dengan santainya menegak segelas kecil berisikan sake tanpa memperdulikan wajahnya yang sudah memerah bak buah tomat. "Sudahlah, jangan dihabiskan. Kau hampir hilang kesadaran, Cagalli."
"Haha, tidak kok! Aku –hik– masih kuat –hik–, Tuan Zala."
"Kalau Kira tahu bagaimana ini?" keluhnya frustasi.
"A~h, sake –hik– memang enak!"
"Cag, berhenti minum. Kita harus pulang sekarang."
Cagalli cemberut. "Tanggung, belum –hik– habi~s."
"Kita harus pulang se-ka-rang. TITIK, dan jangan protes." Athrun tak peduli dengan tatapan memohon khas gadis yang tengah mabuk itu. Ia pun mengambil beberapa lembar dari dompet lalu menaruhnya di bawah mangkuk kosong. "Sensai, uangnya kutaruh di bawah mangkuk seperti biasa," katanya pada Mwu.
Mwu mengangguk. "Hati-hati ya!"
"Hai!"
Dengan terpaksa Athrun memapah Cagalli yang setengah atau mungkin sudah 100% hilang kesadaran. Begitu mereka berbalik ingin meninggalkan kedai, iris emerald itu membulat. "H-hujan? Y-yang benar saja!"
"Haha, hujan –hik– hujan! Aku suka –hik– hujan!"
"Biar aku panggilkan taksi," tawar Mwu, numpung kedai sudah sepi.
Athrun mengangguk.
Beberapa menit kemudian, Mwu La Flaga kembali masuk ke kedai. "Sekarang sudah agak malam, taksi jarang lewat sini, Ath," katanya sambil mengusap tengkuknya yang sedikit kedinginan.
"Lebih baik ke apartemenku saja dulu, kedai Mwu-sensai juga ingin tutup 'kan?" putus Athrun setelah melirik jam tangannya. Ia merasa tak enak jika berlama-lama di sana, walaupun Athrun sendiri adalah pelanggan tetap sejak seminggu yang lalu.
"Ke apartemenmu?"
"Jika hujan sudah reda, aku akan mengantarnya pulang."
Mwu mengangguk, ia percaya Athrun takkan berbuat yang macam-macam.
"Huh? Ayo pulang! Pasti –hik– Kira mengomel nanti!
"Iya, iya, cerewet. Sensai, aku titip motorku ya di depan kedai, besok aku akan ambil kemari." Athrun berjalan pelan sambil memapah Cagalli di samping kirinya. "Kupinjam juga payung ini," ijinnya seraya keluar kedai. Laki-laki itu melepas Cagalli sebentar kemudian berjongkok di depannya. "Naiklah. Aku susah jika terus memapahmu sampai ke apartemen," suruh Athrun tanpa menoleh.
"Huh? Nggak –hik– mau!"
"Cagalli...," geram Athrun.
"Ya, ya, ya! Kau menang –hik– Tuan Zala!"
Kedua tangan Cagalli memeluk leher Athrun perlahan. Kini laki-laki berambut dark blue itu bisa merasakan deru napas hangat dari mulut Cagalli, walau samar-samar tercium bau sake. Ia juga bisa merasakan detak jantung gadis tersebut yang hampir menyamai detak jantungnya yang kini berpacu cepat. Sejujurnya Athrun tak pernah berpikir akan sedekat ini dengan gadis yang menarik perhatiannya sejak awal (kalau bukan karena Cagalli mabuk juga nggak bakal ada momen beginian #Author dihajar masa#). "Cag, kau pegang payungnya," suruh si tunggal Zala.
Selama perjalanan menuju apartemen, tak henti-hentinya Athrun mengomel karena payung yang Cagalli pegang terus ia gerakan ke kanan dan ke kiri. Bukan itu saja, gadis kembaran Kira ini juga nyanyi-nyanyi tak jelas nadanya dan karena itu mereka harus kena omelan dari warga sekitar. "Benar-benar merepotkan," gerutu Athrun seraya tersenyum kecil begitu mendengar Cagalli bernyanyi.
Cklek.
Klik.
"Oh, jadi ini –hik– apartemenmu –hik–, Tuan Zala."
"Ya." Athrun mengambil remot pemanas ruangan yang tergeletak di atas meja setelah menurunkan Cagalli ke sofa panjang berwarna coklat. Terlihat tangannya sedikit bergetar begitu menyalakannya. Jaket hijau tosca dan jeans putih yang ia pakai tampak basah karena terkena air hujan. "Kuambilkan handuk dan obat sakit kepala."
Cagalli hanya diam sambil menyenderkan tubuhnya pada sandaran sofa. Kepalanya tampak berputar-putar di penglihatannya. "Ugh~, nggak biasanya –hik– sepusing ini setelah –hik– meminum sebotol sake," gumam Cagalli. Iris mata amber-nya ia edarkan ke tiap sudut ruangan. De javu, ia merasa de javu saat melihat ruang apartemen Athrun yang begitu rapi dan bersih. Harum kulit jeruk kesukaannya tercium dan itu membuatnya tenang. Ketenangan yang ia dapat membuat Cagalli perlahan menutup kedua matanya perlahan.
GUNDAM SEED/DESTINY
Sepuluh menit berlalu, Athrun keluar dari ruang kamarnya setelah ia berganti pakaian. Dengan sedikit tergesa-gesa, Athrun pergi menuju dapur untuk mengambil obat. Di lehernya terpasang dua handuk berbeda warna, biru dan kuning. Begitu dapat, ia pergi ke ruang depan, tempat dimana Cagalli berada.
"Cagalli, minum i-"
"-ni... dulu?
Athrun hanya menghela napas melihat gadis itu tengah tertidur bak seorang malaikat. "Dasar..." Sebuah senyuman tulus terpatri jelas di wajah laki-laki berambut dark blue tersebut. Ini yang kedua kalinya Athrun melihat Cagalli tertidur. Oh betapa beruntungnya dirimu, Ath.
Tap, tap, tap.
Athrun berjongkok di hadapan gadis tersebut.
Wajahnya yang tenang mengingatkannya pada sang ibu yang kini berada di luar negeri. Tanpa sadar, tangan putihnya bergerak mendekati pipi Cagalli. Pipi yang selalu membuatnya gemas dan ingin mencubitnya.
"Kau tahu, kau seperti seorang malaikat saat tertidur."
Tangan itu beralih menelusuri tiap lekuk wajah gadis di hadapannya. Dari mulai alis, mata yang kini tertutup rapat, kembali ke pipi dan berakhir di ... bibir. Glek! Athrun menelan ludah kemudian menggeleng pelan seraya memundurkan tubuhnya. Matanya melirik ke arah jam besar bergambar Gundam Justice di dinding (ciyus lo punya jam gambar Gundam Justice? #Author jawdrop#).
"Sebaiknya kau tidur di kamar daripada di sofa."
Ia pun menaruh obat yang dipegangnya sedari tadi ke dalam saku celana training-nya. Tanpa menunggu lama, Athrun menggendong gadis itu ala bridal style. Iris mata emerald-nya tak pernah lepas dari wajah Cagalli, bahkan sampai gadis yang ia sukai itu kini terbaring di atas kasurnya. Athrun menyelimuti Cagalli sampai yang terlihat hanya kepalanya saja, mengingat pakaian gadis itu masih basah terkena air hujan.
Begitu melihat Cagalli tampak nyaman di balik selimutnya, Athrun mengambil remot yang ada di sebelah kanan gadis itu. Sedangkan Athrun sendiri berada di kiri Cagalli. Ia mengambil remot pemanas ruangan tersebut dan tanpa diduga Cagalli bergerak. Si tunggal Zala sudah gigit bibir bawahnya sambil terdiam di posisinya. Melihat gadis itu kembali tenang, ia menghela napas lalu meraih remot tersebut. Athrun menengok lagi.
Glek.
Deg, deg, deg.
Wajah Athrun memerah bak kepiting rebus melihat wajah Cagalli sedekat ini. Hanya 5 centi, readers! 5 CENTI! (capslock jebol!) Ia merasa tubuhnya kaku dan napasnya pun tak beraturan. Iris mata emerald itu menatap Cagalli sayu seolah tanpa jiwa. Sedikit demi sedikit Athrun mengeleminasi jarak sampai kedua hidung mereka bersentuhan.
"..."
"!"
Mata Athrun berkedip sesaat sebelum bibirnya menempel pada bibir tipis Cagalli dan disusul pekikan kecil yang keluar dari mulutnya. A-apa yang kau ingin lakukan tadi, Athrun!? tanyanya dalam hati. Buru-buru ia ambil remot yang sudah digenggamnya lalu mengambil jarak dari Cagalli. Setelah mengambil oksigen yang cukup untuk menenangkan jantungnya, Athrun menyalakan pemanas ruangan seraya bangkit dari tepi kasur. Saat ingin berdiri, tangan kiri Cagalli menggapai lengan kirinya.
Greb!
"Ah!"
Bruk!
Chuuu~3
Iris mata Athrun membulat begitu tahu kelopak mata gadis berambut blond itu terbuka dan menampakkan iris mata amber-nya yang indah. Yang membuatnya lebih kaget lagi saat melihat kedua bibir mereka kini menempel. Bahkan sekarang Athrun bisa merasakan kepalanya ditekan untuk memperdalam ciuman maut tersebut. Detak jantung yang awalnya tenang kini kembali berdetak dengan keras, mungkin bisa dua puluh kali lipat dari sebelumnya.
Mata Cagalli kembali tertutup. Athrun yang melihatnya terdiam, tak membalas dan tak memberontak. Laki-laki itu tahu ciuman ini hanya salah satu dari pengaruh alkohol. Miris rasanya begitu ingat ciuman ini adalah ciuman pertamanya, ciuman pertama yang harus ia terima dari gadis yang disukainya saat gadis itu tengah terpengaruh alkohol.
Setelah tertahan beberapa menit, Athrun mencoba melepas ciuman itu.
Tapi sayang, Cagalli terus mempertahankannya.
Apa ini kekuatan dari seorang mantan karateka? tanya Athrun dalam hati. Laki-laki itu mencoba lagi dan kembali gagal. Iris matanya membulat lagi begitu ia merasakan lidah Cagalli memaksa untuk masuk. Athrun tak mengijinkannya karena ia takut nafsu dari tubuhnya akan menguasai dirinya.
"Mmmph~." Cagalli mendesah pelan.
Kewarasan Athrun hampir musnah mendengarnya.
"Mmph~ Ath... ru~n."
Lagi, gadis itu mendesah ditengah-tengah ciumannya yang semakin lama semakin memanas. Tangan kirinya mencengkeram lengan Athrun sementara tangan satunya lagi masih bertahan di belakang kepala laki-laki berambut dark blue itu.
Napas Cagalli memburu, begitu juga Athrun yang masih bertahan untuk tidak memberikan akses masuk lidah Cagalli ke dalam mulutnya. Ia terus berusaha menjauh namun yang terjadi justru sebaliknya. Laki-laki itu terus menggerutu dalam hati. Sungguh, saat ini ia tengah menahan nafsunya mati-matian untuk tidak melakukan hal yang 'iya-iya' pada gadis di –ehem– bawahnya ini.
"Cag, hentikan! Aku tak mau melakukan hal yang membuat kau terluka nantinya!"
Bentakan Athrun membuat atmosfer panas berubah menjadi hening yang mencekam. Ciuman mereka seutuhnya terlepas setelahnya. Cagalli yang dibentak hanya terdiam kaku. Matanya menatap Athrun dengan pandangan seolah tak memancarkan kehidupan sama sekali.
"G-gomenasai."
"..."
"B-bukannya aku ingin membentakmu, hanya aku..."
"Maaf."
Masih dengan tatapan kosong, Cagalli berkata 'maaf'. Athrun tentu saja jadi khawatir melihat perubahan gadis itu yang begitu cepat. "Seharusnya aku yang minta maaf karena membentakmu, bukan kau." Tanpa ragu Athrun mencium kening Cagalli lembut dan tulus. Suasana hening dan mencekam di sekitarnya berubah menjadi tenang. "Aku tahu kau berbuat seperti itu karena terpengaruh alkohol. Aku mengerti kok," katanya lembut sambil menyibakkan poni Cagalli yang menutupi sekitar mata.
Gadis itu tak merespon dan tak bergerak seperti sebuah robot tanpa baterai.
Drrrt! Drrrttt!
"Tidurlah, jika hujan sudah reda akan kubangunkan."
Lagi. Cagalli hanya diam membisu.
Athrun berdiri dari kasur lalu mengambil ponselnya yang bergetar di atas meja belajar. Kira's calling. Ia memilih untuk mengangkatnya di luar kamar. Begitu pintu tertutup, ia menekan tombol hijau. "Moshi moshi. Kira?"
"Athrun! Kau bawa kemana Cagalli, HAH!?"
"Tenanglah, Kira. Cagalli ada bersamaku."
"Iya, aku tahu dia bersamamu. Tapi sekarang kalian ada dimana!? Hari sudah larut malam, apalagi hujan turun deras. Kami mengkhawatirkan keadaan Cagalli, Ath!" Tampak terdengar di ujung sambungan tengah emosi dan panik.
"Cagalli baik-baik saja, Kira. Sekarang, kami ada di apartemenku menunggu hujan reda," kata Athrun kalem seperti biasa walau jantungnya masih dag-dig-dug karena kejadian tadi. Buru-buru ia menambahkan, "aku tidak akan berbuat macam-macam pada Cagalli, walaupun kau sudah mempercayaiku untuk menjaganya." Mungkin adikmu yang akan macam-macam padaku –lagi–, tambahnya dalam hati.
"Aku tak butuh ucapan itu, aku ingin bukti."
"Bukti apa?"
"Berikan ponselmu pada Cagalli. Aku ingin dengar suaranya."
Glek!
Entah sudah berapa kali Athrun menelan ludah. Bagaimana ini? Cagalli masih mabuk dan kalau kuberikan... "Berikan padaku." Mendengar suara dari adik Kira itu membuat Athrun menoleh ke belakang. Terlihat iris amber-nya menatap kosong ke arahnya. Dengan badan yang terhuyung-huyung, Cagalli mendekati si pemilik apartemen.
"Ya, Kira. Aku Cagalli."
"Kau benar ada di apartemen Athrun?"
"Ya."
Athrun menatap Cagalli tanpa berkedip begitu mendengar suara gadis itu yang terdengar seperti biasanya –tanpa cegukan–. Setidaknya ia bisa bernapas lega karena Kira tidak berpikiran yang 'iya-iya' selama mereka berdua berada di apartemennya.
"Kau tidak apa-apa?"
"Ya. Aku akan pulang jika hujan sudah reda."
"Baguslah. Suruh Athrun untuk mengantarmu."
"Hmm."
"Benar, kau tidak apa-apa?"
"Iya, cerewet."
Bahkan saat masih terpengaruh alkohol, masih bisa berdebat begitu, kata Athrun dalam hati dengan sweatdrop sebesar jagung(?). Ia tahu, Cagalli masih terpengaruh karena samar-samar terlihat rona merah di kedua pipinya.
"Baiklah, berhati-hatilah karena cuma kalian berdua di sebuah apartemen."
"Hmm."
"Ingat, per-"
Klik!
"Ini, ponselmu." Cagalli sengaja memutuskan sambungan karena kepalanya mendadak pening lagi lalu menyerahkan ponsel itu kepada pemiliknya. "Kurasa hujan akan turun dalam waktu yang lama atau mungkin tidak reda sampai besok pagi. Jadi, aku akan menginap di sini. Bolehkan?" Tanpa persetujuan, Cagalli sudah berjalan ke ruang depan, lebih tepatnya menuju sofa panjang berwarna coklat muda yang ada di depan televisi.
Melihat cara jalan Cagalli yang masih terhuyung ke samping kiri-kanan, Athrun menggendongnya dengan paksa ala bridal style. "Tidurlah di kamar, biar aku yang tidur di sofa," suruhnya sambil menggendong Cagalli.
Cagalli memberontak. "Tidak, kau itu 'kan yang punya kamar. Kena-"
"-kubilang di kamar ya di kamar. Jangan membantah, Cag."
"Tapi..."
"Kau itu perempuan, tak pantas kau tidur di sofa sementara aku tidur di kamar." (karena itu bukan lelaki! #Author ditimpuk kamus#) Begitu sampai di kamar, ia membaringkan Cagalli perlahan. Kemudian menyelimutinya seperti tadi. "Apa kepalamu pusing atau sakit?"
"Ya~, sedikit," jawabnya lemah.
"Minum obat ini, baru tidur." Athrun menyerahkan obat sakit kepala yang ia taruh di saku celananya pada Cagalli. Gadis itu menerimanya dan Athrun membantunya untuk minum segelas air putih. "Sekarang tidurlah, besok pagi akan kubangunkan." Athrun baru saja ingin berdiri dan lagi-lagi Cagalli menahannya.
"Tidurlah... di sampingku."
Tampak Athrun me-loading perkataan dari adik Kira itu.
"Tenang, aku takkan berbuat hal seperti tadi lagi."
"Bukan begitu, Cag. Kau tahu sendiri 'kan, aku ini laki-laki yang bisa kapan saja 'menyerangmu' sesukaku, bahkan ketika aku tertidur." Athrun berkata serius di balik nadanya yang lembut.
"Lalu kenapa kau tak melakukannya saat aku-"
"-karena aku tak mau melukaimu."
Suasana hening menyapa keduanya untuk beberapa menit.
"Tidurlah dan jangan membantah lagi." Athrun kembali bangkit seraya mengacak-acak rambut blond Cagalli. "Aku... takut." Laki-laki itu mengernyit. Ia tak yakin, seorang gadis cuek seperti Cagalli Hibiki takut akan sesuatu. "Jangan bercanda."
"Aku tidak bercanda. Aku takut karena tempat ini... terlalu asing." Bohong. Cagalli memang berbohong karena ia merasa tak enak jika Athrun –si pemilik apartemen– harus tidur di sofa sementara dirinya tidur di kamar. Walaupun baik di ruang depan dan kamar sama-sama dipasangi pemanas ruangan, tetap saja berbeda. Gadis itu menatap Athrun dengan pandangan serius sekaligus ya~ memohon. Cagalli sungguh merasa malu sekarang karena bisa-bisanya memohon pada teman –rivalnya– untuk tidur bersama di satu ranjang berukuran king size itu pula. Sejak awal Cagalli juga ragu jika Athrun punya futon di lemarinya.
"Baiklah, hentikan tatapan memohonmu itu, Cag." Athrun tampak membuang muka.
Salting. Cagalli tahu itu. Melihatnya membuat pusing di kepalanya menghilang, entah itu karena obat yang diminumnya atau karena tingkah Athrun. Tanpa ia sadari, senyum tipis terpantri di wajahnya yang memerah.
Namun sayang, Athrun tak melihatnya karena laki-laki itu sudah terbaring di samping kiri Cagalli tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya. Sekarang keduanya terbaring dengan saling memunggungi. (ngerti maksudnya Author? #Author digeplaked karena ganggu#) Detik demi detik, berubah menjadi menit. Dua puluh menit berlalu, Athrun yang sedari tadi tidak tenang mencoba melirik ke belakang. Begitu tak ada pergerakan dari Cagalli, ia pun berbalik dan menatap punggung gadis itu lama.
Sama seperti halnya Athrun, Cagalli juga tidak tenang. Ia hanya pura-pura tertidur. Pandangannya terus tertuju pada sebuah foto di dinding. Foto Athrun saat laki-laki itu kira-kira berumur lima tahun bersama kedua keluarganya dengan background sebuah rumah mewah bergaya Perancis. Athrun tampak bahagia di sana.
Tiba-tiba Cagalli merasa ada yang terus memerhatikannya, sontak saja ia memutar tubuhnya ke belakang. "Athrun...," gumamnya begitu tahu bahwa si pemilik nama itulah yang memerhatikannya. Terbesit sebuah pertanyaan untuk laki-laki yang tengah menatapnya intens itu. "Kenapa... kau tak mau melukaiku? Apa... karena aku... perempuan yang lemah?" tanyanya lirih.
Athrun tak menjawab. Bukannya bingung, ia hanya ingin terus lebih lama menatap gadis di hadapannya ini, menatap wajah cantiknya yang bersinar terkena pantulan lampu kamar.
"Athrun, jawab."
"Apa?"
"Jawab pertanyaanku yang tadi."
"Kau memang bertanya apa?" tanya Athrun pura-pura tidak tahu.
"Lupakan saja." Cagalli kembali berbalik memunggungi Athrun namun ditahan.
"Karena aku menyukaimu."
Tik, tik, tik.
Mata Cagalli berkedip beberapa kali sambil memandangi wajah Athrun yang terlihat tengah serius. "Hahaha, jangan bercanda, Athrun. Candaanmu itu tidak lucu!" Tertawa. Gadis itu tertawa garing untuk menutupi keterkejutannya.
"Sayangnya aku tidak sedang bercanda, Nona."
"..."
"Apa kau sudah lupa atau pura-pura tidak tahu kalau aku memfotomu tadi?"
"Memfoto? Aku?"
Athrun tersenyum. Entah kenapa rasanya lega setelah menyatakan perasaannya yang selama ini ia simpan akhirnya keluar juga dari mulutnya. "Ya, aku memfotomu saat kau dengan bayi harimau tadi dan masih banyak lagi. Kenapa kau tidak protes? Aku tahu, kau menyadarinya," tanya Athrun balik.
"Rasanya percuma juga jika aku melarangmu."
"Kenapa?"
"Kira pasti akan membagi foto itu padamu dan yang lainnya."
"Ah ya, kau benar."
Setelahnya, tak ada percakapan lagi. Athrun diam sambil memandangi wajah Cagalli sementara gadis itu terus bergelut dengan pikirannya. Sampai sebuah pertanyaan meluncur dengan leluasanya dari mulut si tunggal Zala.
"Bagaimana perasaanmu padaku?"
Cagalli tak menjawab, ia malah menutup mata.
"Cag, jawab aku."
Masih tak ada respon. Melihat tingkah Cagalli yang sepertinya sudah tertidur –mungkin karena efek obat– membuat Athrun menghela napas berat. Ia membalikkan tubuhnya, bermaksud untuk memunggungi Cagalli kembali. Jika tak begitu, Athrun takkan bisa tidur.
"Aku juga menyukaimu... Oyasumi."
Athrun kembali berbalik dan yang terlihat hanya punggung Cagalli serta dengkuran halus darinya. Laki-laki itu tersenyum simpul. "Apa ini berarti usahaku untuk mendapatkanmu tidak sia-sia?" tanyanya entah pada siapa.
GUNDAM SEED/DESTINY
Hujan deras yang terus mengguyur Kota ORB sejak semalam masih tak ada tanda-tanda akan berhenti. Cahaya matahari tidak tampak kala itu karena tertutupi awan hitam. Banyak aktivitas terganggu dan banyak pula orang-orang yang malas untuk terjaga dari mimpinya. Contoh saja kedua sepasang manusia yang kini tengah berpelukan dengan mesranya sambil berbagi kehangatan berupa selimut yang menutupi kedua tubuh mereka.
Tampak sang gadis membuka kelopak matanya perlahan. Disusul suara lenguhan khas orang yang baru saja bangun tidur. Mata itu tertutup lagi karena malas untuk bangun dan rasa nyaman serta hangat dari seseorang yang memeluknya.
Tunggu... Memeluk?
Uuups, perkataan Author terdengar ke telinganya ternyata.
Dengkuran halus terdengar diserta hembusan napas yang mengenai telinga dan leher di sebelah kirinya. Sensasi geli membuat tubuh Cagalli bergetar sekaligus merinding. Dengan slow motion, ia menoleh untuk mengetahui siapa orang yang sudah berani-beraninya memeluk di saat dirinya tengah tertidur. Bahkan gadis itu tidak sadar bahwa tangannya terus menempel pada dada bidang milik seseorang yang tidur semalaman di sampingnya.
S-sebenarnya... apa yang t-terjadi semalam? Gadis itu menutup matanya untuk mengingat namun tak ada yang diingat. Terakhir kali, ia dan Athrun tengah makan malam di kedai dan... entah apa lagi. Matanya terbuka kembali. Cagalli terdiam dan terpaku menatap pemandangan di hadapannya.
Seseorang yang sangat ia kenal –Athrun Zala– tengah tertidur pulas.
Blush!
Semua aliran darah kini terasa naik menuju kedua pipinya. Merona. Cagalli merona dengan hebatnya. Oh ayolah, siapa sih yang tidak merona plus malu begitu melihat seorang laki-laki setampan Athrun Zala tengah tertidur di samping kita. Mimpi apa aku semalam sampai terbangun dengan Athrun memelukku sambil tertidur di sampingku? tanyanya dalam hati.
Tangan kanannya yang sedari tadi berada di dada Athrun kini mencoba menggapai pipi laki-laki itu pelan. "A-Ath? Athrun?" panggil Cagalli sambil menepuk pipi Athrun pelan.
"Ng~h."
"Hari sudah siang."
Athrun membuka matanya perlahan. "Benarkah?"
"Hmm."
Maksud Cagalli membangunkannya yaitu ingin tubuhnya lepas dari pelukan Athrun tapi malah sebaliknya. Laki-laki berambut dark blue itu kembali memejamkan mata dan mengeratkan pelukannya. Sontak membuat Cagalli kalang kabut. "A-Ath, a-aku nggak bisa b-bernapas," keluhnya dan itu tidak bohong.
"Sebentar saja."
"S-sampai kapan?"
"Biarkan seperti ini untuk sebentar saja."
Entah Athrun tengah ngelindur atau apa, Cagalli hanya bisa pasrah di posisinya. Tak tahukah kau Athrun, gadis itu sedari tadi terus menahan napas sampai sekarang. Dengkuran halus kembali terdengar seperti lullaby penghantar tidur. Cagalli melotot begitu tahu Athrun tertidur lagi. "HEI, ATH! Bangun! Sudah siang nih!" serunya tanpa dosa.
Laki-laki itu tak merespon dan terus tertidur.
"H-hei!"
Tetap Athrun tak membalas.
Cagalli melepas pelukannya dengan susah payah. Ia tak menyangka ternyata kekuatan Athrun sama kuatnya dengan dirinya. Mungkin karena laki-laki itu memang lebih kuat dari perempuan. Cagalli memandangi wajah Athrun yang agaknya lebih pucat dari biasanya. Belum lagi keringat di sekitar kening terus meluncur sampai ke pipi. Hanya satu perkiraan Cagalli, Athrun sudah terkena penyakit demam.
"Ath, kau sakit?" tanyanya sambil menaruh pungguh tangan kiri ke kening Athrun dan ternyata perkiraannya benar. Dengan tergesa-gesa ia keluar kamar, namun sebelum itu ia menyempatkan diri ke kamar mandi untuk cuci muka dan kumur-kumur. Lalu ia pun pergi ke dapur mengambil sebaskom air serta handuk kecil untuk mengompres Athrun.
Begitu semuanya sudah lengkap, Cagalli menyempatkan diri menatap keluar apartemen lewat jendela dapur. Hujan masih turun walau tidak sederas yang tadi malam. "Mungkin karena kehujanan semalam, makanya dia demam," gumamnya dengan nada ragu. Ia pun kembali ke kamar dan menaruh baskom di samping ponsel Athrun. Dengan sabar dan perhatian yang tulus, Cagalli mengompres kening laki-laki itu.
Ia sibakkan sedikit rambut Athrun lalu mengompres lagi.
Athrun tampak tertidur dengan pulas walau keringat dingin terus mengucur.
Cagalli menaruh kompresnya untuk yang terakhir kali sebelum ia kembali pergi ke dapur. Gadis itu berniat untuk membuatkan semangkuk bubur seperti yang pernah ibunya buat untuknya ketika Cagalli sakit.
Lima belas menit kemudian setelah Cagalli keluar kamar, kelopak mata itu terbuka dan memperlihatkan iris mata emerald. Pandangannya memang sedikit buram dan tubuhnya seperti tengah dibekukan oleh es. Ia menarik selimutnya untuk menghangatkan diri. Sesaat laki-laki itu berpikir, kenapa rasanya ada yang beda ya? Matanya melirik ke jam dinding. 9.00. Athrun menengok lagi ke sebelah kanannya. Tak ada orang, tapi bukannya semalam... Mata itu melebar begitu tahu seorang gadis yang semalaman ini tidur di sampingnya sudah tidak tampak batang hidungnya.
"Cagalli?"
Suaranya yang serak menggema di kamarnya.
"Cagalli, kau dimana?"
"Cagalli!"
Buru-buru ia keluar kamar dan menghiraukan rasa pusing dan dingin yang menelusup ke tubuhnya untuk mencari Cagalli. Athrun berjalan ke ruang depan sampai-sampai ia melongokkan kepala di pintu apartemen. Karena di apartemennya hanya ada tiga ruangan yaitu ruang depan atau sebut saja ruang tamu, lalu kamar tidur dan terakhir adalah dapur. Kemungkinan kedua jika gadis itu belum pulang ke rumah pasti sedang berada di dapur.
Athrun tersenyum lega melihat Cagalli tengah berdiri di depan kompor.
"Apa yang kau lakukan, Cag?"
"Eh? Athrun!"
"Apa?" Athrun menatap gadis itu heran begiu melihat wajah kagetnya.
"Apa yang kau lakukan di sini!? Cepat kembali ke kamarmu! Kau itu sedang demam, Ath," jelas Cagalli panjang x lebar = luas segi empat(?). (#Author tepar dihajar masa#) Gadis itu juga mendorongnya secara paksa untuk kembali ke kamar. "Kau tenang saja, dapurmu akan aman di tanganku. Kau cukup kembali ke kamar dan menunggu buburnya yang sebentar lagi akan matang. Oh iya, dimana tempat kau menyimpan obat?"
Athrun yang masih tidak mengerti situasinya hanya menunjuk lemari atas tepat di paling pojok dimana obat-obatan yang biasa ia simpan.
"Baiklah, sekarang kembali ke kamar. Hush!"
"Kau mengusirku?"
"Ya, karena aku tak mau diganggu."
"Aku duduk di sini saja, aku janji tidak akan mengganggumu," kata Athrun sambil menarik kursi kemudian duduk di atasnya.
"Terserah kau sajalah. Dasar keras kepala!"
Laki-laki itu terkekeh pelan.
"Lima menit lagi buburnya siap, setelah itu kau harus minum obat!"
"Memang aku demam?" Melihat Cagalli mengangguk kecil sambil membelakanginya, Athrun langsung memeriksa keningnya sendiri. Panas. "Pantas saja kepalaku pusing sejak bangun tidur tadi," gumamnya. Harum bubur yang dibuat Cagalli tercium sampai ke hidungnya. Athrun menyangga dagunya seraya memandangi gadis berambut blond yang kini diikat satu dengan asal saja. (Kalau dipikir-pikir, mereka berdua seperti suami istri ya, Readers? #Readers ngangguk#)
Seperti yang diperkirakan Cagalli, bubur tersebut matang setelah lima menit kemudian. Dengan rapi dan teliti, ia mulai menuangkan bubur itu ke dalam mangkuk. "Ini buburnya. Mungkin rasanya sedikit hambar karena tambahan yang kutemukan hanya wortel, daun seledri, dan bawang goreng," kata Cagalli sambil menaruh mangkuk tersebut ke hadapan Athrun.
"Aku belum belanja minggu ini."
"Ya. Cepat dimakan dan minum obat."
Athrun tersenyum tulus kemudian memakan bubur buatan Cagalli.
"Bagaimana rasanya?" tanyanya setelah menaruh panci bekas bubur ke dalam cucian piring sambil menoleh ke arah Athrun.
"Mmm, enak. Bahkan lebih enak dari buatan Mama."
"Jangan bohong."
"Aku serius, tidak bohong kok." Athrun menyuap buburnya lagi. "Mau mencicipinya?"
"Tidak, terima kasih."
Lagi, laki-laki itu tersenyum sambil memandangi Cagalli yang kini sibuk mencuci peralatan bekas ia memasak bubur tadi. Sungguh, Athrun tak berbohong mengenai rasa buburnya. Ia sendiri juga tidak menyangka gadis itu bisa memasak, walau hanya semangkuk bubur. "Kukira kau tidak bisa memasak, Cag."
"Kau kaget? Begini-begini aku juga selalu membantu Kaa-san memasak makanya bisa."
"Kau tahu, kau itu istri idaman semua laki-laki, termasuk aku."
Deg!
Untuk beberapa detik, Cagalli berhenti mencuci. "Oh."
"Hanya 'oh'?"
"Lalu aku harus bilang 'waw' gitu?" kata Cagalli yang kelewat OOC. (==") Drrrt! Drrrttt! Cagalli langsung mengambil ponsel Android-nya dari saku celana jeans-nya yang berwarna biru tua. Begitu melihat nama yang menelponnya membuat Cagalli ijin sebentar ke luar dapur. "Moshi moshi. Stella?"
"Kaa-san! Kaa-san kemana? Minggu lalu, Kaa-san janji mau ke sini lagi saat pagi buta."
Cagalli menepuk keningnya. "Aduh, maaf, Stella. Aku lupa."
"Pokoknya Stella nggak mau tahu, Kaa-san harus datang tiga puluh menit dari sekarang!"
"T-tunggu, Stella. Aku-"
"-tut tut tut~."
Gadis yang dipanggil 'Kaa-san' oleh penelpon Stella itu mengacak-acak rambutnya. Bingung. Ia bingung di satu sisi Athrun masih sakit dan Cagalli harus merawatnya karena tak ada orang lagi selain dirinya di sini. Sementara di sisi lainnya, ia juga harus pergi menemui gadis bernama Stella itu. Cagalli memang sudah berjanji untuk datang seminggu yang lalu.
"Siapa, Cagalli? Kira?"
"Ah! B-bukan kok."
Athrun mengernyit. "Lalu?"
"Aku harus pergi sekarang karena ada janji. Kau tak apa-apa 'kan jika kutinggal sendiri?" tanya Cagalli sambil berjalan masuk ke dapur untuk menaruh apron milik Athrun yang lagi-lagi berwarna biru.
"Pergi kemana? Kau tidak pulang ke rumah?"
Cagalli menggeleng.
"Kuantar kau ke tempat itu."
"Eh? Tidak! Kau itu sedang sakit. Nggak boleh! Kau harus istirahat sampai tubuhmu benar-benar membaik!" tolak gadis itu dengan nada keras kepala. "Lagipula di luar masih hujan. Jika kau nekat, kujamin kau tidak bisa ikut ujian besok," tambahnya.
"Tidak. Kira sudah menyuruhku untuk mengantarmu sampai ke rumah 'kan semalam."
"Keadaannya berbeda, Athrun. Kau itu demam."
"Aku akan sembuh jika sudah meminum obat," kata Athrun keras kepala.
"Athrun... kau-"
"-tunggu di sini, aku akan cuci muka."
Cagalli hanya menghela napas berat sambil menepuk keningnya lagi. Sekarang, apa yang harus kulakukan? Kalau Athrun ikut, otomatis dia akan tahu rahasiaku ini, katanya dalam hati. Rahasia apa ya kira-kira yang selama ini disembunyikan Cagalli dari semuanya?
To Be Continued
AN : Masih ada lanjutannya lagi lho special chapternya... ;D Tekan Next di bawah ini aja, pembahasan review dsb juga di next chap (10.2)!
